
****
"Hei?!" Suara itu membunyikan kata yang singkat, tetapi nada suaranya cukup tinggi. Kedua tangan bersedekap ke depan dan mata yang menatap tajam ke arah Jelita.
Gadis SMA itu, spontan terkejut. Gerak kakinya yang baru saja masuk ke dalam rumah, kini terhenti. Ia menunduk, belum ada satu pun keberanian untuk sekedar menatap wajah ibu tirinya itu.
"Kamu dari mana aja, hah?! Ini jam berapa?" Sang ibu sambung semakin naik pitam, karena panggilannya tidak dijawab sedikit pun oleh seorang Jelita. Ia yang sejak tadi berada sekitar lima meter dari gadis SMA itu, kini dengan cepat menghampiri Jelita. "Kamu itu punya mulut enggak, hah?!"
Jelit menelan salivanya dengan susah payah. Tubuhnya bergetar hebat, pun meski ini bukan kali pertama untuk ia alami. "S-saya tadi kecelakaan, Ma," jawabnya lemah.
"Halah! Alasan aja kamu. Gurumu telepon saya lho, katanya kamu membolos. Udah disekolahin elite, dibiayain, dikasih makan gratis, masih aja mau jadi anak seenaknya! Dasar anak tak tahu diuntung! Udah bengkak, bodoh lagi."
Tetesan air mata mendadak membasahi kedua pipi Jelita. Bengkak dan bodoh menjadi kata menyakitnya untuk didengar olehnya. Mengapa harus menggunakan kata kasar itu? Bahkan, semua yang terjadi kepada dirinya adalah akibat dari ulah ibunda tirinya yang bernama Riris.
"Habis dari mana?!"
"Uh!" Jelita sudah tidak bisa lagi menahan air mata. Ia menatap ke arah Riris dengan penuh kebencian, tetapi tanpa bisa melawan sama sekali.
Kemudian, setelah beberapa detik tatapan mereka beradu, Jelita memilih bergegas menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Tentu saja, Riris semakin dibuat kesal. Ia merasa tidak dihargai oleh Jelita. Ia terus meneriaki nama Jelita agar gadis SMA itu kembali turun dan memberikan penjelasan. Sialnya, keinginannya tidak dituruti oleh sang anak tiri.
"Udah mulai membangkang itu anak, jangan sampai dia berbuat sesuatu yang merugikan diriku," gemamnya. Sedangkan otaknya tengah berpikir keras, ia selalu ingin mendominasi rumah ini. Simpati dari sang suami telah ia dapatkan, ia tidak ingin ada yang merusak apa yang telah ia bangun dengan susah payah, pun harus mengorbankan Jelita.
Sementara itu, di dalam kamar bernuansa biru, Jelita tengah meringkuk diam di atas kasurnya. Tangisannya memang sudah berhenti, tetapi air matanya masih membasahi pelipis matanya. Di dalam rumah mewah bak istana ini, ia bagaikan sendiri. Bahkan, tidak ada yang perduli. Sang ayah sudah tidak bersimpati, lantaran menganggap Jelita tidak bisa merawat diri. Keberadaan dirinya bagaikan aib di dalam keluarga besarnya.
Ketika seseorang merasa kesepian, ia pasti akan menyalahkan orang-orang yang pernah berada di sekitarnya. Mengapa mereka harus pergi satu persatu? Menyisakan luka serta rindu, tidak bisa diobati sama sekali. Namun, bagaimana jika kesepian itu sudah menjadi makanan sehari-hari? Bahkan sejak usia balita, hanya beberapa pembantu yang mengurus keperluannya. Ya, itu Jelita. Ia tidak bisa menyalahkan siapapun, bahkan ibunya yang pergi entah ke mana, karena ia telah terbiasa dengan rasa sepi.
Melodi nan merdu terdengar dari kamar samping. Melodi yang bersumber dari sebuah piano milik adik tiri Jelita. Suaranya yang lembut dihasilkan oleh tangan nan lembut juga, milik Jane--adik tirinya. Ia bak terhipnotis, sampai akhirnya terlelap dalam tidurnya.
****
Fanni dan Mita saling memandang satu sama lain. Otak kedua wanita dewasa itu, kini dipenuhi oleh cerita hidup tentang Jelita. Miris sudah pasti menjadi rasa yang merasuk ke dalam masing-masing hati. Mereka pikir drama seperti itu hanya ada di dalam televisi, nyatanya tidak. Gadis SMA itu mengalaminya, kepedihannya tidak akan bisa dibayangkan oleh para kaum bahagia.
"Ck, gue penasaran muka emaknya kayak mana sih?" celetuk Mita kemudian. Ia menatap Fanni yang tengah memberikan memangku tubuh Sella. Sedangkan di samping kirinya ada Selli yang tengah menyantap makan siang.
"Kayak penyihir kali. Loe kalah pamor, Mit," jawab Fanni. Ia tidak menatap ke arah Mita sama sekali, karena sibuk mengurus kedua anaknya.
"Sini." Mita berdiri, ia mengambil alih tubuh Sella. Hal itu membuat Fanni lebih bisa mengurus Selli yang kesusahan dalam memotong ayam bakar sebagai lauk nasi.
"Loe sendiri mau bantuin kayak gimana, Mit?"
Mita menggelengkan kepala. "Kalau soal emaknya, ya kita enggak bisa bantu banyak, Fann. Tapi kalau soal diet, selama dia ada niat, ya gue bisalah. Lagian itukan misi kiat buat salon ini, sekali pun agak ekstrim enggak masalah sih."
"Emm ... ngomong-ngomong, kalau diet untuk badan Lita itu berapa lama, sampai turun beneran?"
"Tergantung. Tapi dietnya juga harus hati-hati, jangan langsung berlebihan. Misal di olahraga dari cara yang ringan dulu, buat adaptasi. Bisa nyampe dua tahunan kalau mau puluhan."
"Waow! Gue enggak berhasil lho dulu, malahan masuk rumah sakit gegara diet."
"Karna loe enggak belajar dari sumber yang bener. Pasti asal enggak makan aja ya?"
Fanni menatap Mita, kemudian mengangguk sembari cengengesan. "Gue malu."
"Ngapain malu? Kalau loe berhasil, gue juga enggak bakalan bully loe di kantor, Fann, haha. Bisa juga sama air putih dan diet sayur. Sebenarnya banyak caranya, tapi ya kembali lagi sama diri sendiri."
__ADS_1
Fanni manggut-manggut saja. Ia merasa kagum dengan pengetahuan yang dimiliki seorang Mita. Pantas saja, wanita itu begitu cantik dan awet muda, bahkan disebut kakak oleh Jelita. Sedangkan dirinya sudah seperti tante-tante dan memang itu adalah sebuah kebenaran. Bukan hal salah jika ia mengajak Mita dalam urusan bisnis salon ini, karena ilmu wanita itu tidak diragukan lagi.
"Yuk, kalau udah bobo' dulu di atas sama Dede', ya?" ujar Fanni kepada Selli selepas gadis kecilnya itu menghabiskan makanan untuk suapan terakhir.
Selli mengangguk pelan. "Iya, Mama," jawabnya.
Kedua pipi Selli dibersihkan oleh Fanni menggunakan tissu dengan penuh kelembutan dan perhatian. Selepas itu, ia mengajak Selli untuk membersihkan wajah dan kaki di dalam kamar mandi. Dengan gandengan tangan dan tangga yang mereka tapaki, akhirnya sampailah di lantai dua.
Selli langsung bergegas naik ke atas kasur di dalam ranjang yang telah dibeli oleh Fanni. Gadis itu terlihat kelelahan setelah menjalani kegiatan belajar di sekolah. Dengan sigap, seorang Fanni memberikan sentuhan halus di kening sang putri. Menyanyikan lagu khas untuk tidur, dengan penuh kesabaran.
Tapak kaki seseorang terdengar sedang naik ke lantai atas, di mana Fanni dan Selli berada. Pastinya ia tahu bahwa itu adalah tapak kaki Mita. Benar saja, wanita berparas cantik tersebut kini menampakkan diri di hadapan Fanni, bersama Sella di gendongannya. "Ada pelanggan, Fann," ujarnya.
"Gue aja, Mit. Loe istirahat dulu," jawab Fanni menawarkan diri. Ia merasa tidak enak jika Mita yang terus bekerja.
"Emangnya udah bisa?"
"Emang mau ngapain? Kalau ngelurusin rambut, gue bisa-bisa aja. Udah sering juga."
"Emm ... ya udah sana. Inget omongan gue yang kemarin tapi ya?"
"Oke."
Mereka bergantian tempat. Bagi Mita tidak ada salahnya membantu mengurus anak-anak, anggap saja sedang belajar. Supaya ketika ia hamil dan memiliki bayi, tidak merasa kaget lagi.
Sesampainya di bawah, Fanni segera bergegas melayani seorang tamu dengan satu teman yang tengah duduk di belakang. Karena sudah berjalan selama dua minggu, ia pun tidak lagi merasa bergetar. Ia melayani setiap pelanggan dengan baik sesuai prinsip dasar pelayanan. Pun meski tidak sedikit pelanggan yang banyak bicara dan justru meragukan kemampuan salon baru ini. Ia tetap bersabar.
****
Lalu, di dalam kediaman megah di mana Jelita tinggal. Setelah satu jam melelapkan dirinya, ia membuka mata perlahan. Ia menilik waktu pada jam dinding yang baru pukul dua siang. Pantas saja Riris marah, karena belum waktunya para remaja pulang sekolah. Terlebih sekolah elite di mana ia belajar, belum lagi ada beberapa khursus yang ia jalani.
"Sebenarnya papa itu sayang sama aku apa enggak?" gumam Jelita. Sedangkan pikirannya menerawang ke langit-langit kamarnya. "Ah, aku laper."
Ia menurunkan dirinya dari ranjang berwarna biru itu. Mengerjibkan matanya kemudian bergegas keluar. Ia hanya ingin makanan karena perut terasa kosong, tidak peduli jika nanti ibunda tirinya justru memarahinya. Rasanya hal itu juga tidak mungkin karena Riris menginginkan dirinya menjadi besar.
"Ah ... Kak Jeli." Jane hampir saja menabrak Jelita yang tiba-tiba keluar dari kamar. "Kakak udah pulang?"
Jelita masih terdiam. Ia menghela napas dalam dan mengembuskannya di detik berikutnya. Rasa malas menggelayuti hatinya pada saat harus berhadapan dengan adik tirinya. Gadis cantik bermata bulat bak boneka itu, benar-benar membuatnya jengkel setiap kali berada di hadapannya. Namun kembali lagi kepada Riris yang membuatnya selalu ketakutan.
"Ya," jawab Jelita singkat.
"Ayo, Kak. Kita makan di luar."
"Enggak."
"Kenapa? Jane juga pengin jalan-jalan sama Kak Jeli sekali aja."
"Enggak, mama kamu bakalan marah."
"Kita sembunyi-sembunyi aja."
"Please ... jangan bawa aku ke dalam masalah."
"Tapi, Kak ...?"
__ADS_1
"Menjauhlah dariku, Jane."
Jane melemah. Keinginan hatinya untuk berjalan bersama Jelita mendadak pupus seketika, bahkan hampir setiap hari ia menerima penolakan itu. Gadis lugu itu, kini hanya bisa mengalah dan berangsur pergi dari hadapan sang kakak. Pun meski ia adalah anak kandung dari Riris, sifatnya sangat berbeda dengan ibundanya. Ia lembut dan baik, terkesan lugu dan polos sekali.
Sebenarnya, ia pun merasa terkekang berada di dalam rumah ini. Ia dituntut menjadi sempurna oleh Riris. Statusnya yang hanya sebagai anak tiri, dipaksakan agar bisa diterima dengan baik oleh ayah Jelita, dan itu juga menjadi sebab di mana Riris merencanakan sesuatu agar ia lebih baik dalam segala aspek dibanding Jelita.
"Maaf," gumam Jelita pelan. Ia memandang punggung Jane yang berangsur menjauh. Rasa kesal karena cemburu, memang kerap kali bercampur iba. Sebenarnya, ia menyadari kesulitan Jane di dalam rumah ini. Hanya saja, kesulitan yang dialami oleh Jane justru membuat adiknya itu mendapatkan segala perhatian, bahkan dianggap jenius karena pandai dalam segala bidang. Hal itu yang membuatnya kerap cemburu, apa yang seharusnya menjadi miliknya seolah direbut oleh Jane yang notabene-nya bukan anak kandung dari ayahnya.
"Ck." Tiba-tiba saja, Riris sudah berada di samping Jelita yang tengah mengambil porsi makanan di dapur. "Kamu harusnya bersyukur, sesalah apa pun kamu, saya selalu izinan makan enak."
Jelita menelan salivanya dengan berat. "T-terima kasih, Ma," jawabnya pelan.
Satu alis milik Riris terangkat, diiringi sunggingan senyum sinis. "Makan yang banyak ya, Nak."
"Iya, Ma."
"Bagus! Kalau kamu nurut kan Mama enggak bakalan marah. Kalau kamu berbohong lagi, Mama enggak akan segan-segan kasih hukuman ke kamu."
"Iya, Ma."
Riris semakin melebarkan senyumannya. Ia selalu menang dan akan selalu menang. Ketika anak tirinya jatuh, anak kandungnya yang akan semakin bersinar. Ia tidak akan menyingkirkan Jelita dengan terang-terangan, tetapi perlahan ketika gadis SMA itu sudah merasa malu berada di dalam keluarga ini karena kebodohan juga fisik yang bagaikan aib.
Kamu dan ibumu itu bodoh, tapi memberi keuntungan besar bagiku dan anakku. Lihat saja nanti, kamu pun akan pergi seperti ibumu karena kebodohan itu, batin Riris. Setelah itu, ia pergi meninggalkan Jelita yang sedang menyantap makanan. Ia memberikan waktu tenang dan bebas ketika anak sambungnya dalam aktivitas bersantap, selain itu tidak akan.
Meski gigi tengah sibuk mengunyah makanan, mata Jelita kembali menitikkan air mata. Bahkan, tetesannya tercampur ke dalam hidangan yang disantapnya, ia tidak perduli sama sekali. Hidupnya sudah hancur dan ketika badannya semakin besar, justru ibundanya akan merasa senang. Pun tidak dengan ayahnya yang selalu menatapnya dengan dingin. Balutan seragam SMA yang belum ia lepas sejak tadi, kini terlihat berantakan. Ia terlihat bukan seperti tuan putri, melainkan gelandangan.
Di balik dinding, ada Jane yang mengintipnya diam-diam. Gadis cantik itu pun turut menangis karena melihat kondisi sang kakak yang semakin tidak karuan, terlebih banyak sekali luka yang menghiasi kaki dan tangan. Ia ingin sekali membantu mengobati, tetapi Jelita pasti menolak mentah-mentah.
"Kamu ngapain, Jane? Berlatihnya sudah?" tanya Riris tiba-tiba.
Hal itu membuat Jane terkejut bukan kepalang, dengan spontan ia mengusap air matanya yang keluar membasahi pipinya. Sama seperti Jelita, ia pun merasa takut kepada ibundanya. "E-enggak kok, Ma. Aku mau makan tapi ...."
"Kenapa? Jijik ya sama kakak kamu yang macam gajah itu? Jangan makan berlebihan dan jangan makan selain sayur dan jangan minum selain air putih. Jaga bentuk tubuhmu agar tetap bagus dan cantik. Kamu anak Mama, Mama bimbing kamu demi masa depan kamu. Jadi nurut sama omongan Mama, ya?"
Jane mengangguk pasrah. Setelah itu ia berbalik dan meninggalkan tempat itu untuk kembali ke dalam kamarnya.
****
"Mit?" Fanni menyusul Mita setelah menutup salon karena sudah sore hari. Tiga jam menjadi waktu untuk melayani pelanggannya itu. Kemudian, ia merebahkan diri di samping Mita, sembari menunggu sang suami datang.
Mita menatapnya. "Udah?" tanyanya.
Fanni mengangguk pelan. "Udah kok. Udah tutup juga."
"Sorry ya, harus tutup awal. Karna gue ada urusan, Fann. Setelah ini pun, gue enggak bisa temenin loe nunggu suami. Atau mau gue anter pulang aja?"
Fanni menggeleng. "Enggak perlu. Suami gue bentar lagi juga dateng. Lagian, arah acara loe sama tempat gue kan beda. Yang penting loe hati-hati. Gue di sini aman kok."
"Thanks, Fann."
Mita tersenyum. Kemudian bergegas turun, ia menunjuk Sella yang sedang bermain di atas ranjang.
Beberapa menit kemudian, ia benar-benar pamit. Ada hal yang harus diurus perihal Jelita. Ia perlu memeriksa beberapa hal untuk melancarkan aksinya. Kali ini bukan hanya perihal diet, juga kasus pembullyan. Ia tidak peduli bayaran apa pun, entah mengapa ia merasa tertantang dan sangat tulus ingin membantu. Namun ia tidak bisa memberitahu Fanni, lantaran mengarah pada sesuatu yang sensitif, ia tidak ingin melibatkan partner kerjanya itu.
__ADS_1
****