Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Wow!


__ADS_3

Aku mengingat kembali tentang apa yang belakangan ini aku rasakah. Mood yang berantakan, mudah lelah dan juga gampang sekali kesal. Namun, dibalik semua yang kualami itu, rasa lidahku ingin terus mengunyah makanan dihadapanku. Bahkan mudah sekali merasa lapar. Apa benar aku telah ...? Mana mungkin, beberapa hari yang lalu aku dan Mas Arlan masih melakukan hubungan itu. Memangnya orang yang tengah mengandung diperbolehkan?


Dan kini, aku masih terduduk gusar di tepian ranjang tadi. Sendiri, lantaran Mas Arlan berlalu pergi. Setelah ibadah maghrib tadi, ia pamit untuk mencari sesuatu. Aku tidak tahu akan tujuannya itu. Aku sibuk memandangi buncitnya perutku. Kubelai begitu halus. Sejujurnya, aku sangat berharap bahwa ada ruh yang hidup didalamnya. Aku ingin harapan kami tercapai saat ini juga. Aku tidak peduli meskipun masalah keluarga dan perusahaan masih saja banyak.


Ya Allah, aku benar-benar ingin memiliki momongan.


Hal ini sedikit membuatku gelisah. Sampai aku harus berdiri dan berjalan kesana kemari. Menatap jendela yang masih terbuka. Hamparan langit hitam terlihat dari sana. Sembari bergelisah hati, aku pun masih memanjatkan do'a. Ya, aku benar-benar ingin memiliki seorang anak lagi. Apapun yang terjadi, aku tidak peduli. Toh, Mas Arlan telah bekerja. Seandainya aku benar-benar diberikan berkah ini, aku tidak akan menunda pemberhentian kerjaku.


Berbalik pada setengah tahun yang lalu, sebenarnya aku sudah ingin berhenti dari pekerjaanku sesuai dengan perjanjianku dengan Mas Arlan dan orangtuaku. Namun, karena belum juga mengandung, aku kembali memutuskan untuk memperpanjang kontrak kerja lagi. Aku telah membuat kesepakatan dengan Celvin bahwa kontrak baru tidak harus menggunakan uang penalti, lantaran aku ingin keluar kapan saja ketika aku sudah hamil. Mungkin kedengarannya sangat keterlaluan, dan nyatanya Celvin pun setuju. Ia masih membutuhkan tenagaku sampai mendapatkan penggantiku.


Aku adalah si gendut yang beruntung, bukan? Alhamdulillah hidupku semakin membaik. Aku sangat bersyukur, lebih bersyukur lagi kalau aku benar-benar diberikan keturunan.


"Sayang," ujar Mas Arlan. Ia melangkah masuk sembari tersenyum tidak jelas.


"Apa?" tanyaku dengan raut yang masih saja masam.


Perlahan namun pasti, ia semakin mendekatiku. Sampai akhirnya sudah dihadapanku. Aku menghela napas dan menghembuskannya kembali. Entah mengapa rasa hati masih saja sebal terhadapnya. Namun, saat kulihat sesuatu di tangannya, akhirnya aku merasa penasaran juga. "Kamu bawa apa, Mas?" tanyaku.


"Nih, kamu coba ya?" pintanya sembari memberikan benda tersebut kepadaku.


Aku menerimanya. Kubuka bungkus plastiknya perlahan. Apa ini? Alat tes? Seketika saja, aku menatap wajah Mas Arlan. Ia kembali tersenyum diiringi sebuah anggukan. Sedangkan diriku malah menelan saliva dengan kelu. Bahkan jantungku ikut berdebar tidak menentu.


"Be-besok aja, Mas."


Mas Arlan membuang senyumannya digantikan dengan kernyitan di dahinya dan menatapku heran. "Coba sekarang, Dek. Mas pengen tahu."


"Aku takut."


"Kenapa takut, Sayang?"


"Aku takut kalau hasilnya nggak sesuai harapan. Pasti aku bakal kecewa banget, bahkan kamu juga. Aku belum siap."


"Hmm ...."


Mas Arlan merengkuh diriku, ia memelukku. Aku sampai menangis hari, air mata menetes di pipiku. Mungkin haru sekaligus gelisah. Aku masih belum siap melakukan tes itu. Bagaimana kalau aku belum berhasil memberikan keturunan? Pasti bukan diriku saja yang kecewa, melainkan Mas Arlan. Setelah satu tahun usia pernikahan kami, aku belum berhasil mengandung. Aku sangat khawatir, benar-benar khawatir.


Sedangkan suamiku ini masih setia memperlakukan diriku dengan lembut. Ia membelai rambutku dengan beberapa kalimat yang menenangkan. Ia tidak mendesak diriku terlalu keras. Dan seharusnya aku bisa mencoba tes tersebut. Demi membayar keingintahuan suamiku. Apakah aku siap, jika pada akhirnya belum juga membuahkan hasil?


Uuh!


"Dek, tenang aja. Yang Maha Kuasa pasti tahu yang terbaik buat kita. Seandainya masih negatif Mas juga nggak bakalan kecewa kok," ujar Mas Arlan kemudian.


"Tapi udah satu tahun, Mas. Gagal terus, aku takut," keluhku.


"Nggak usah takut, Sayang. Mas disini, Mas akan selalu mendampingi kamu. Yang terpenting kita sama-sama yakin. Toh, kamu mengalami beberapa tandanya, kan? Tapi kalau belum siap sekarang, besok pagi juga nggak apa-apa."


Aku menarik diriku. Kutatap wajah suamiku, ia kembali tersenyum. Tidak ada siratan dendam disana, meskipun sedari tadi aku terus bersikap dingin terhadapnya. Mas Arlan tidak pernah gagal dalam menguatkan diriku. Baiklah, aku akan mencobanya. Semoga hasilnya positif dan ada calon bayi didalam kandunganku.


Aku memejamkan mataku sejenak sembari berucap do'a dalam hati. Setelahnya, aku mencoba menampilkan senyumanku. "Aku akan coba, Mas. Semoga kali ini berhasil."


Mas Arlan tersenyum. "Ya, Dek. Amin, Mas temani ke belakang yuk."


"Enggak, biar aku aja."


"Yakin?"


"Iya yakin. Lagian ini bukan persidangan kriminal kok."


"Apapun hasilnya percayalah akan ada hikmah dibalik semuanya, Dek. Tapi, kali ini Mas yakin, kamu benar-benar telah mengandung."


"Iya, Mas."


Kuambil langkah untuk keluar dari kamar ini. Jantungku kembali berdebar, aku menelan salivaku beberapa kali. Sedang lantai, bahkan tangga rumah yang tidak pernah berubah terus aku susuri. Kepalaku tertunduk sembari mengucap permohonan kepada Sang Maha Kuasa. Aku ingin berkah yang baik dari yang paling baik dari-Nya. Seorang anak untuk suamiku, seorang adik untuk Selli--putriku dan juga seorang cucu untuk kedua orangtuaku.

__ADS_1


Dan tak lama kemudian, aku sampai dihadapan pintu kamar mandi rumah ini. Apa yang sedang aku lakukan sekarang benar-benar terlihat dramatis bak sebuah film di televisi. Aku menarik napas dalam-dalam, kemudian membuangnya perlahan-lahan. Kemudian masuk ke dalam.


Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg!


****


Selang waktu berjalan, kini malam kian meninggikan kegelapan. Suara bising dari binatang malam yang kecil mulai terdengar. Dingin AC bercampur dengan suhu udara diluar. Putri kecilku tampaknya sudah terlelap tidur. Aku merasa bersalah lantaran tidak mengurusnya seharian ini.


Sedangkan bola mataku masih saja jernih tiada kantuk yang menghadang. Bahkan suamiku, ia terus menyunggingkan sebuah senyuman bermakna. Ia tidak berhenti bertingkah konyol seperti biasanya. Tentang hasil tes? Aku belum memberitahukan kepadanya. Aku masih menyembunyikan alat itu. Dengan tujuan, apakah ia benar-benar tidak akan kecewa dengan hasilnya. Dan ternyata ia tidak kecewa. Namun, entah apa yang ada didalam hatinya.


"Mas?"


"Iya, Sayang."


"Kenapa kamu nggak penasaran?"


"Mas nggak mau bikin kamu merasa resah, Dek."


Aku tersenyum. Sudah satu jam, aku menyembunyikan alat tes tersebut. Karena tidak enak hati, akhirnya aku memutuskan untuk memberitahukannya. Aku menarik wajah suamiku. Kemudian kukecup pipinya terlebih dahulu. Ia malah membalasnya lebih dari itu. Sial! Ia memang sangat pintar dalam mengambil kesempatan.


Kuberikan waktu bebas untuknya dalam memperlakukan diriku. Keromantisan terjadi penuh kasih sayang. Sampai disatu kondisi, aku memaksanya untuk berhenti.


"Kenapa, Dek?"


"Nggak apa-apa, Mas. Tapi kali ini kamu harus lebih berhati-hati."


"Maksud kamu? Kenapa harus begitu? Mas kayak biasanya kok."


Aku menarik wajah Mas Arlan lagi. Kemudian kubisikkan sesuatu, "kita akan memiliki anak kedua, Mas ...."


"Hah?" Mas Arlan membelalakkan matanya seolah tidak percaya. Bahkan rahangnya terjatuh menganga. Sedangkan aku tersenyum penuh makna.


Tiba-tiba saja, ia bangkit dari posisi rebahannya. Ia turun dari ranjang ini sembari melompat. Hal ini membuatku terkejut, tingkahnya benar-benar konyol seperti anak muda. "Yeeeeeeeeees! Arlan akan jadi ayah untuk dua anak lagiiiiiii!"


"Mas bahagia, Dek. Alhamdulillah, ini berkah paling indah. Ini anugerah, Dek. Sesuatu yang nggak bisa diucapkan dengan kata-kata lagi. Makasih, Sayang."


Ia menghentikan kehebohannya dan kembali menghampiriku. Memelukku penuh rasa bahagia. Do'a kami terkabul. Penantian selama satu tahun akhirnya terbayar sudah. Semoga anak didalam kandunganku selalu sehat sampai ia dilahirkan, sampai kami membesarkannya nanti.


Akhirnya seorang Fanni yang sempat menyandang status sebagai jomblo akut, kini akan memiliki seorang anak dari rahimnya sendiri. Benar kata suamiku, perasaan bahagia ini sangat sulit diucapkan dengan kata-kata. Bahkan kami belum menjalankan program kehamilan, tapi Tuhan sudah mempercayakan satu ruh suci didalam rahimku. Aku sangat bersyukur, aku bahagia. Bahkan air mata haru tidak terbendung lagi.


"Huaaaaaaa."


"Kok malah nangis sih, Dek?"


"Aku te-terharu, Mas."


"Hmm ... Sayang, terharu boleh. Tapi jangan meraung kayak kesakitan. Senyum dong."


"Ma-makasih ya, Mas. Selama ini kamu selalu sa-sabar dampingin aku. A-aku sayang kamu, Mas. Sayang ka-kamu dan Selli juga."


"Uluh ... dasar cewek cengeng. Tapi Mas, juga sayang."


Terima kasih, Ya Allah.


Hingga beberapa saat kemudian, aku kembali tenang. Mas Arlan telah mengusap wajahku yang basah oleh air mata. Ia mengecup keningku beberapa kali. Rasanya malam ini adalah malam hanya milik kami berdua. Mungkin kami adalah salah satu pasangan terbahagia.


Semua keharuan sudah usai. Kami saling merebahkan diri. Perutku senantiasa Mas Arlan belai dengan kasih sayang. Dalam kondisi ini, aku menjadi lebih berhati-hati lagi dalam bergerak. Apalagi, untuk orang yang pertama kali mengandung, tentunya aku merasa lebih takut daripada orang yang sudah mengalami. Sepertinya besok aku akan konsultasi dengan Dokter, ibuku ataupun Kak Febi yang sudah melahirkan keponakan lelakiku yang bernama Brian Abraham Geraldine.


Berbicara tentang Brian keponakan kecilku, ia tampak mewarisi paras Kak Febi namun berbola mata biru keabuan seperti Kak Pandhu. Intinya ia sangat tampan dan imut. Semoga anakku nanti sama imutnya, bahkan lebih imut darinya.


"Dek, boleh Mas minta sesuatu?"


"Ya, boleh, Mas. Soal apa?"

__ADS_1


"Mari kita jaga anak kita dengan baik, Dek. Mas sayang kalian dan Selli. Emm... Dek, nanti tolong jangan lupakan Selli ya?"


"Lupa? Selli? Haha, ada-ada aja kamu, Mas."


"Mas bahagia. Disisi lain Mas punya kekhawatiran. Mas takut nantinya Selli cemburu dan merasa disisihkan. Secara Selli bukan anak kandung kamu, Dek. Maaf banget ya Mas harus bilang ini."


Aku terdiam. Mencerna setiap kata dari Mas Arlan. Bukan merasa tersinggung atau apa, melainkan merasakan hal yang sama. Bagaimana kalau Selli merasa disisihkan nantinya? Tapi tidak! Kami telah bersama selama ini. Aku bukan ibu tiri yang buruk, bukan? Apapun keadaannya, aku selalu bisa menyanyangi putriku itu. Prinsip hati tetap sama, aku tidak peduli bahwasanya Selli bukanlah anak kandungku. Karena aku menyayanginya dengan ketulusan bukan kemodusan. Mungkin akan terdengar angkuh, namun aku merasa bahwa aku jauh lebih baik daripada Nia, bahkan ia tidak pernah mengunjungi Selli sampai sekarang.


Banyak ibu yang bisa melahirkan, namun tidak semua ibu bisa membesarkan. Begitupun dengan banyaknya ibu yang bisa membesarkan, namun tidak semua ibu bisa membimbing dengan cara yang benar. Bagiku, seorang ibu harus mampu menjadi suri tauladan meskipun masih dalam tahapan belajar. Yang terpenting niat dan juga penerapannya benar. Diriku ini juga masih perlu beberapa koreksi lagi.


Baiklah, apapun keadaanku, Selli tetaplah putri untukku.


"Mas, jangan kamu merasa ragu akan rasa sayangku pada putrimu. Aku menyayangi, mencintainya sepenuh hati. Aku nggak akan pernah membuangnya begitu aja. Suatu saat nanti, kita pasti bisa berlaku seadil mungkin terhadap kedua anak kita."


Mas Arlan tersenyum. "Makasih, Dek. Kamu adalah istri yang luar biasa. Emm... baiklah, jadi apa kemauan kamu, Dek? Mas akan turuti. Dan besok kita harus periksa ke dokter. Kamu juga harus urus pengunduran diri kamu."


"Pe-pengunduran diri?"


"Iyalah. Kamu kan udah janji, kalau udah isi harus keluar. Lagian kamu udah tambah kontrak lagi lho. Mas rasa, Celvin udah punya pengganti kamu."


Aku berpikir sejenak. Lalu berkata lagi, "iya, Mas. Aku akan urus. Tapi, aku punya satu permintaan."


"Apa, Sayang? Bilang aja."


"Mas, soal pertemuan kamu dan keluarga besar. Aku ingin ikut."


"Haah? Jangan ngaco deh! Aneh-aneh aja kamu, nggaklah. Kamu dalam kondisi hamil sekarang. Mas nggak akan izinin. Kamu cukup berangkat ke kantor urus pengunduran diri dan diam di rumah."


"Ini terakhir kok, Mas. Mas ... ayolah. Kata orang kamu harus turuti kemauan orang hamil lho. Maaaas?!"


Mas Arlan membuang pandangan. Apa yang salah? Aku hanya ingin mendampinginya saja, sebagau satu bentuk terakhir sebelum aku jadi pengangguran. Lagipula aku ingin tahu saja, hanya itu.


Karena terlalu lama diam, akhirnya aku yang berbalik kesal. Aku mengubah posisiku dan membelakanginya. Bahkan aku menggerutu sebal dan kecewa terhadap penolakan Mas Arlan. Dan kini, aku memiliki senjata untuk membuatnya merasa bersalah. Pada akhirnya, ia terdengar menghela napas dalam.


Perlahan bahuku terasa disentuh olehnya.


"Maaf, Dek."


"Nggak mau, pokoknya aku mau ikut!"


"Iya, oke. Tapi ada syaratnya."


Kubalikkan badanku lagi dan menatapnya. "Syarat apa?"


"Jaga anak kita sepanjang jalan dan pertemuan nanti. Dan ajak Celvin sebagai atasanmu."


"Celvin? Bukannya kamu masih kesel sama dia."


"Iya sih. Tapi itu sebagai alasan kamu bisa ikut, yaitu mendampingi atasan kamu. Dan syarat terakhir, setelah itu kamu benar-benar harus mengundurkan diri."


"Iya, Mas. Aku bisa melakukannya."


"Hmm ... istri yang keras kepala. Makin hari, kamu makin bandel ya? Sekarang bawa-bawa ini lagi kalau ngambek."


"Ya, maaf. Aku cuma mau bersamamu, Mas. Dalam kesulitan apapun. Apalagi setelah ini, aku udah nggak boleh kerja lagi sama kamu. Jadi, bentuk terakhir aku mendukung kamu secara langsung."


"Iya, Dek. Mas tahu, tapi kamu harus bisa jaga diri juga. Jangan mikirin Mas terus, pikirin anak kita juga ya? Yuk, tidur. Udah malem."


Aku mengangguk saja. Kemudian, mulai kupejamkan mataku. Mungkin mimpi malam ini akan indah sekali. Terlebih rengkuhan tangan suamiku tidak terlepas dari tubuhku.


Mimpi yang indah, Mas Arlan-ku tersayang.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2