
Senyum itu begitu tulus ditunjukkan padaku. Tatapan yang teduh, bahkan semua gemulai beliau sangat enak dipandang oleh mataku. Beliau tidak berucap sepatah katapun, hanya senyuman manis yang tergambar. Beliau tidak berada dihadapanku, melainkan di tempat dengan jarak yang teramat jauh. Namun entah mengapa, semua tergambar jelas. Bahkan ekspresi wajah beliau sangat jelas ketenangannya.
Ya, beliau adalah ibu mertua. Balutan dress putih yang panjang. Tidak! Bukan dress, entahlah apa. Yang pasti pakaiannya tampak bersinar begitu menyilaukan. Sedangkan bibirku benar-benar terkunci rapat. Tak bisa berucap, padahal aku ingin menanyakan sesuatu. Buliran air mata membasahi pipiku. Namun bukan kesedihan, melainkan keharuan. Entah apa, aku tidak mengerti sama sekali.
Aku dimana, dan sedang apakah aku disini?
Begitulah pertanyaanku yang sekelebat muncul dibenakku. Namun kini fokusku kembali pada ibu mertuaku. Senyuman beliau semakin terpancar penuh ketulusan. Satu langkah kakiku berupaya untuk mendekat, namun tetap tidak bisa. Cahaya putih, bukan! Melainkan awan-awan putih berada disekeliling kami, sangat indah. Seolah awan-awan tersebut tengah membalut tubuh ibu mertuaku.
"Ma-mama, ma ... Ma-mama...," ujarku sangat lirih, bahkan terkesan nyaris berbisik.
Beliau masih tersenyum. Semakin lama kejelasan wajah beliau semakin meredu begitu saja. Beliau melambaikan tangan lalu perlahan-lahan menghilang ditelan awan-awan putih itu. Aku terus berusaha mengejar beliau, namun langkahku seolah tidak sampai. Bahkan nyaris tidak bergerak dari posisiku. Sedangkan bibirku terus sibuk menyerukan nama ibu mertuaku, namun percayalah, suaraku tidak keluar sama sekali.
****
"Mama!!!" Aku terpekik sembari membuka mata. Atap putih terlihat didepan mataku, masih terlihat buram dipandangan bola mataku. Napasku tersenggal-senggal, seolah habis berlari kiloan meter panjangnya jalan. "Astagfirulladzim. Aku dimana?"
Aku berusaha membangunkan diriku yang masih lemas ini. Kulihat sekeliling ruang ini. Dan sangat tidak asing, bahkan beberapa kali aku sempat menginap didalam ruang medis semacam ini. Tampaknya aku baru saja tertidur di atas ranjang khas rumah sakit itu. Kosong, tidak ada orang sampai membuatku bergidik diam-diam.
"Mas Arlan dimana?" tanyaku. "Ah! A-anakku?!" Aku menyadari akan kondisi diriku yang tengah mengandung. Segera aku pastikan bahwa rahimku tidak terjadi hal apapun. Walau aku tidak tahu bagaimana memastikannya. Bahkan waktu saja aku tidak tahu.
Membuatku sangat ketakutan lagi. Ingatanku tentang ibu mertuaku kembali muncul. Apakah beliau baik-baik saja? Dimana Mas Arlan? Dan apakah anakku masih ada didalam rahimku? Keringat dingin mengucur di wajahku. Aku menelan ludahku beberapa kali, bahkan diiringi getaran pada tubuhku. Diriku bagaim dihempaskan badai kekhawatiran yang sangat besar. Tidak ada dokter, bahkan satupun perawat disini.
"A-aku harus memastikan semuanya!" Setelah mengatakan itu, aku berusaha turun dari ranjang rumah sakit ini. Tentu saja dengan badan yang masih bergetar hebat, pikiran kacau bahkan penuh rasa ketakutan. Namun aku harus menemui orang lain yang bisa menjelaskan.
"Eh! Nyonya mau kemana?!" tanya seseorang dari arah pintu. Selepas itu segera melangkah cepat untuk menghampiriku.
"Sus, ada apa dengan saya?"
"Nyonya tidak apa-apa kok. Semuanya sehat, janin anda juga sehat. Harus istirahat dulu. Sepertinya Nyonya kelelahan. Apalagi kehamilan di trimester pertama itu masih sangat lemah dan rentan. Terus jangan ada stress juga. Sepertinya daya tahan tubuh anda tidak terlalu kuat."
Aku menghela napas yang sangat lega. Ya, aku senang lantaran anak didalam kandunganku masih dalam keadaan baik-baik saja. "Emm ... boleh saya tahu, suami saya dimana?"
"Sepertinya ke ruang rawat yang lain, Nyonya."
"Apa saya sudah boleh keluar? Menyusul beliau?"
Perawat tersebut hanya tersenyum. "Kami perlu memastikan lagi keadaan Nyonya, sebelum keluar. Lagipula kami telah dipesankan untuk menjaga Nyonya."
"Tapi, ibu mertua saya, Sus. Beliau dalam keadaan kritis. Saya ingin bertemu."
Seketika itu sang perawat terdiam. Mungkin tengah galau, apakah mengizinkan atau tidak. Namun yang namanya rumah sakit, pasti memerlukan banyak prosedur tertentu. Sebisa mungkin aku menampilkan wajah yang teramat memelas, berharap ia mengabulkan permintaanku.
"Mohon tunggu ya, Nyonya. Saya perlu memanggil dokter terlebih dahulu. Silahkan istirahat disini sebentar lagi, sampai dokter datang."
Perawat itu berlalu. Aku yang tengah duduk bersender di atas ranjang hanya menatapnya pasrah sembari berharap disetujui. Sebenarnya bisa saja aku kabur dan mencari keberadaan Mas Arlan beserta keluarga besar. Namun aku tidak mau gegabah untuk kedua kalinya, yang ada aku malah semakin merepotkan mereka semua.
Bayangan tentang mimpi yang baru saja hadir, membuatku gelisah tidak tertahankan. Apa maksudnya? Tidak ada satu ucapan pun yang dikatakan ibu mertuaku didalam mimpi itu. Beliau hanya tersenyum teduh. Tapi mengapa muncul dalam tidurku? Ataukah hanta bunga mimpi semata? Namun hati ini meyakini bahwa ada sesuatu yang telah terjadi.
Krek! Pintu dibuka. Bukan dokter melainkan Riska. Ia masuk menghampiriku. Aku menatap wajahnya yang sendu. Ia habis menangis? Matanya sembab, ujung hidungnya memerah.
"Maafkan aku, Kak," ujarnya setelah sampai dihadapanku. "Seharusnya aku nggak memaksa Kak Fanni buat cari Om Arlan."
"Lupakan, itu kewajibanku. Aku nggak apa-apa, Ris. Emm ... nenek kamu?"
Riska menunduk, bahkan terisak lagi. "Nenek kritis, sampai sekarang belum stabil. Beliau udah nggak sadar, tekanan jantung beliau sangat lemah. Penyakit orang yang sudah tua, banyak banget. Jantung, bahkan stroke. Separuh tubuh beliau mati rasa."
"A-apa?"
"Kami udah ikhlas, Kak. Hiks .... udah waktunya Nenek beristirahat. Kami hanya menunggu ajal itu menjemput beliau dengan tenang."
__ADS_1
"Oh... Mama mertuaku, ma-maafkan Fanni. Hiks ...."
Air mataku sudah tidak bisa dibendung lagi. Bahkan Riska pun berderaian air mata. Betapa tidak, selama satu tahun kami tidak menampakkan diri dihadapan beliau. Aku sangat menyesal. Begitu bodohnya kami mementingkan diri sendiri sampai melupakan tubuh yang sudah semakin merenta itu. Aku terhenyak sampai tidak bisa berkata apapun lagi. Pikiranku dipenuhi wajah beliau yang selalu tersenyum tatkala kami pertama kali bertemu.
Ya, ibu Darsi--ibu mertuaku adalah orang yang baik. Aku sangat yakin, semua anaknya sangat hebat. Meskipun aku tidak banyak mengenal beliau. Namun aku sangat yakin beliau sangat menyayangiku seperti anaknya sendiri. Terbukti saat beliau hadir didalam mimpiku seolah sedang pamit. Senyuman tulus itu, lambaian tangan yang terakhir adalah untuk diriku dan anakku. Dalam beberapa saat, aku menangis sejadi-jadinya. Menyesal, frustasi bahkan aku merasa bahwa diriku ini tidak tahu diri. Seolah aku tengah kehilangan ibu kandungku sendiri.
"Ris, Riska bawa aku, aku butuh bertemu. Kalau ini harus terakhir kalinya."
"Do-dokter belum dateng, Kak."
"Masa bodoh soal dokter, aku udah nggak apa-apa. Bawa aku."
"I-iya, Kak."
Lantas, Riska membantu tubuhku yang berat ini untuk turun dari ranjang rawat. Beruntung aku tidak sampai di infuse, jadi cukup mudah untuk berjalan. Meski pening dan lemas masih teramat banyak aku rasakan.
Kami berdua keluar dari kamar rawatku. Dengan dibantu Riska, aku terus berusaha melangkah sembari menopang perutku menggunakan tangan. Sedangkan air mata terus menyertai langkah kami. Dalam hati kecilku, aku sangat berharap ada sebuah keajaiban. Meski itu sudah teramat tipis sekarang. Lalu bagaimana perasaan suamiku sekarang? Pasti ia hancur. Boleh saja ia mengatakan ikhlas, namun seorang anak tidak akan kuat kehilangan orang tua.
Hingga beberapa saat kemudian, kami telah sampai didepan ruang rawat ibu mertuaku. Mas Gunawan bersama istri, Robi pun bersama sang istri. Beberapa anak yang sudah cukup umur untuk masuk ke dalam rumah sakit. Bahkan Mas Dian dengan pengawasan dua polisi, disisinya ada seorang istri, namun bukan Ibu Leni.
"Masuklah, Fanni. Arlan di dalam. Hanya kamu yang belum menemui ibu kami," pinta Mas Gunawan. Namun beliau menunduk, tidak menatapku.
"Ba-baik," jawabku tergagap.
Lagi-lagi dengan bantuan Riska, aku berusaha mencapai pintu. Saat sudah berhasil, aku membukanya dan masuk. Sedangkan Riska sudah tidak mengikutiku. Mas Arlan tampak disana. Ia duduk disalah satu kursi sembari menggenggam telapak tangan sang ibu.
Disini aku kembali menangis, namun berusaha tidak mengeluarkan suara isakku. Bibir ibu mertuaku sedikit terbuka lantaran ada bantuan selang pernapasan. Beliau sedang tidak sadar, atau bisa dibilang koma. Aku benar-benar tidak sanggup menatap keadaan beliau. Entah apa jenis penyakit yang diderita ibu mertuaku, sampai beliau dirawat se-intensif ini.
"Ma-mas..."
Mas Arlan menoleh ke arahku, buliran air mata membasahi wajah suamiku. "Dek, Mama, Dek. Mas ternyata nggak bisa kehilangan Mama, Dek. Mas belum bisa membahagiakan Mama."
Aku berjalan lebih mendekat. Setelahnya merangkul tubuh suamiku. "Kalau kamu nggak ikhlas, Mama akan kesulitan dalam perjalanannya, Mas. Aku tahu ini sulit. Tapi semua anggota harus ikhlas supaya beliau lebih mudah dalam perjalanan menuju surga Yang Maha Kuasa."
"Mas, aku tahu soal itu. Yakinlah, Mas. Mama akan mendapatkan tempat yang lebih indah. Yakin ya, Sayang."
Suara tangisan Mas Arlan pecah sudah. Ia memeluk erat tubuhku dalam posisi duduk yang sama. Hatiku semakin teriris-iris dibuatnya. Kami menangis sejadi-jadinya. Sedangkan, ibu mertuaku masih terdiam diantara hidup dan meninggal. Untuk dikatakan hidup, beliau sudah tidak ada daya untuk bergerak. Sedangkan jika dikatakan meninggal, beliau masih memiliki detak jantung.
Tak lama kemudian, aku berusaha lebih tenang. Aku pikir, kalau diriku tidak tenang, bagaimana aku bisa menenangkan suamiku. Ya, diantara kami harus berlaku sebagai penguat hati. "Mas, bicara sama Mama, Mas," ujarku.
"Mas nggak bisa, Dek. Mas nggak sanggup," jawab Mas Arlan diiringi erangan tangis dengan suara khas prianya.
"Kasihan Mama, Mas. Jangan diperlakukan sedemikian rupa. Kalian harus ikhlas supaya Mama pergi dengan tenang."
"Tapi, Mas nggak bisa, Dek."
"Yakinlah, tempat indah akan diberikan Sang Maha Kuasa kepada Mama, Mas. Aku malah semakin nggak sanggup lihat Mama seperti ini, Mas. Ayo bantu Mama, Mas."
Sedikit demi sedikit, Mas Arlan mulai melunak. Ia menarik dirinya dari pelukanku. Setelah itu ia menghela napasnya lebih dulu. Aku menangkup wajahnya menggunakan kedua telapak tanganku. Aku mengusap air mata suamiku sembari memberikan tatapan yang sangat meyakinkan. Soal usia memang tidak ada yang tahu. Bahkan bisa saja ada keajaiban yang turun kepada ibu mertuaku. Namun kondisi beliau sudah sangat kritis.
Kemudian Mas Arlan bangkit dari duduknya. Ia berjalan menghampiri wajah sang ibu. Setelah sampai ia sedikit membungkukkan badan. Ia tampak memejamkan mata sejenak, mungkin tengah menguatkan hati. Satu telapak tangannya membelai rambut sembari memandangi paras sang ibu.
"Ma, Arlan disini. Ma-mama masih kuat nggak...?" bisik Mas Arlan, namun masih terdengar oleh pendengaranku. Tentu saja hening, tidak ada jawaban dari ibunya. "Ma, kami sudah ikhlas kalau Mama mau pergi. Tapi kalau Mama masih kuat, Mama harus bangun sekarang."
Hati siapa yang tidak berkecamuk tatkala mendengarkan kalimat pelepasan itu. Tampaknya hari ini menjadi hari penuh kepiluan bagi kami. Tidak ada semburat senyum yang terlukis dimasing-masing wajah. Bagaimana tidak, sosok yang paling dihormati dalam keadaan seperti ini. Aku saja sebagai menantu yang tidak banyak terlibat, begitu perih dalam merasakannya. Apalagi anak-anak kandung ibu mertuaku. Pasti sakit sekali.
"Mama menangis, Dek. Ada tetesan air mata yang keluar. Apa Mama sedih ya, Dek?"
"Aku yakin itu adalah air mata haru, Mas."
__ADS_1
"Mas harap begitu, Dek."
Mas Arlan kembali mendekati wajah sang ibu, lebih tepatnya telinga beliau. Ia berucap lagi, "sudah waktunya Mama istirahat. Arlan dan kakak-kakak beserta adik sudah ikhlas. Kami sudah bahagia, Ma."
"Eergh." Hanya suara itu yang terdengar dari ibu mertuaku.
"Dek, Mas minta tolong panggilin Mas Gun, Robi dan Mas Dian."
"Iya, Mas."
Aku mencoba mengambil langkah untuk sampai ke pintu ruangan ini. Kemudian, aku membukanya. Aku meminta kedua kakak iparku untuk masuk ke dalam. Beruntung mereka menurutiku, bersama seorang Dokter yang ternyata sudah hadir di tempat ini.
"Arlan, Mama nggak apa-apa, kan?" tanya Mas Gunawan sesaat setelah beliau masuk.
"Mas Gun, Mas Dian. Kita harus ikhlas," jawab Mas Arlan. "Mama butuh keikhlasan dari hati kita supaya bisa melalui sakaratul maut dengan tenang."
Mas Dian tampak membelalakan mata. "Apa maksud kamu, Arlan? Mama masih bisa sembuh. Sampai si pendosa seperti diriku bisa meminta maaf dengan baik."
"Tidak, Mas Dian. Kita memang harus ikhlas," sela Roby--adik iparku.
Mereka semua terdiam dalam beberapa saat. Menatap ibu mertuaku dengan tatapan sendu. Dokter pun seperti sudah menyerah, ia hanya menunduk dan memasrahkan semuanya kepada kami. Dan disini yang paling terpukul adalah kakak ipar keduaku. Bagaimana tidak, beliau sudah menghancurkan hidup sang adik bahkan perusahaan dan hidup orang lain.
Lalu satu persatu dari mereka datang menghampiri sang ibu. Mereka membungkukkan badan, kemudian membisikkan sesuatu di telinga sang ibu. Kepiluan semakin terasa pekat. Sebagai wanita yang berada disini sendiri, tentu saja aku paling tidak bisa menahan air mata. Bahkan aku lupa, seharusnya aku keluar dari ruangan ini sejak tadi.
Namun ketika hendak pergi, Mas Arlan merengkuh diriku. Ia menjatuhkan kepala di atas bahuku. Seolah sedang meminta agar aku menguatkannya.
Dan Mas Gunawan malah mendapatkan giliran paling terakhir. Suara beliau yang berat membuatku mendengar dengan jelas apa yang beliau bisikan, "kami sudah ikhlas, Ma. Terima kasih untuk kasih sayang yang teramat banyak untuk kami. Maafkan kami yang penuh salah dan berlumur dosa, Ma. Kami berjanji akan berubah lebih baik lagi. Ma, Mama pergi dengan tenang ya? Tunggu Gunawan di surga sana."
"Eerrggh." Suara itu lagi yang muncul dari bibir ibu mertuaku. Sampai Dokter memutuskan untuk melepas selang yang berada di bibir beliau.
"Ma, dengarkan Gunawan. Kalau tidak bisa mengikuti, maka ikutilah dari dalam hati. ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH, WAASYHADUANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH ...."
Tangisku semakin menjadi-jadi tatkala mendengar kalimat syahadat itu. Bahkan Riska sampai mendobrak masuk pintu dan masuk. Sebagai cucu pertama, pastinya ia sangat terpukul. Terlebih setelahnya monitar yang menampilakan detak jantung menunjukkan garis lurus dan bunyi yang memekikkan telinga.
Mas Gunawan jatuh terduduk di sisi ranjang rawat. Mas Arlan menekan pelukannya dengan erat pada tubuhku. Riska menangis meraung-raung. Sedangkan Mas Dian menangis sembari memeluk tubuh sang ibunda. Mas Dian terus menuturkan kata maaf yang tidak bisa dihitung lagi jumlahnya.
"Maafkan Dian, Ma. Maafkan, Maaf, Ma. Maaf, huaaaa."
"Neneeek, Riska baru kembali. Cucu Nenek baru kembali. Maafkan Riska."
"Maafkan Gun, Ma."
"Dek, Mama, Dek."
Suara mereka semua terus bersahut-sahutan menyesalkan setiap perbuatan yang dilakukan kepada Ibu Mertuaku. Hanya seorang Roby yang masih bersikap setenang mungkin, meski ia juga teramat sedih. Entah, aku juga tidak terlalu mengenalnya. Kepiluan semakin memekatkan dirinya. Dokter sudah mengiyakan atas kepergian ibu Darsi. Pada Hari Kamis pukul 11.00 WIB, Ibu Darsi telah berpulang ke rahmatullah.
Bersambung ....
Ya, pada akhirnya manusia akan kembali kepada Sang Maha Kuasa. Untuk kita yang masih diberikan kesehatan dan hidup, semoga semakin bisa memperbaiki sikap dan perilaku. Aku selalu bilang seperti ini, karena pada dasarnya manusia adalah pelaku dosa paling banyak. Bahkan setiap hari, setidaknya satu dosa kecil bisa kita lakukan. Tapi, selalu ada kesempatan untuk berbenah diri. Intinya kita wajib mengingat Sang Pencipta dan Pemberi Hidup, agama dan banyak hal lainnya dalam konteks kebaikan. Selalu berpeganglah pada iman. Pokoknya iman itu harus ada.
SO, AKU JUGA MAU MENGUCAPKAN TERIMA KASIH. KARENA SEMUA PEMBACA TELAH MEMBANTU NOVEL INI SAMPAI MENDAPATKAN 1M(SATU JUTA PENGUNJUNG) .TANPA KALIAN, APALAH AKU INI HEHE.
Yah, walaupun jumlah like dan komennya belum setara dengan 1M itu. Tapi percayalah, cari view dari angka 1 ke 10ribu itu susahnya minta ampuuuun. Bahkan aku gampang banget nyerah.
Tapi alhamdulillah karya ini memang sudah mendapatkan kontrak dari MANGATOON/NOVELTOON.Membuktikan bahwa pihak Mangatoon sangat mengapresiasi setiap karya penulisnya ya.
Saat itu juga ada seseorang yang membantuku dengan sarannya, aku sangat berterima kasih sampai sekarang.
Terima kasih yang selalu mengikuti kisah Fanni dan Arlan. Jadi, kalau ada kritik dan saran. Dipersilahkan untuk ditulis di kolom komentar, tentunya dengan kalimat yang sopan ya. hehe.
__ADS_1
OH IYA, STAY SAFE Ya semuanya. Kalau mau mem-posting sesuatu, tetap hati-hati dalam memilah kabar-kabar yang beredar itu ya. Takut kabar HOAX yang bisa memperkeruh keadaan.
Vhy'dHeavy