
Tentu, tamu itu adalah Jelita. Ia berhasil mengendap-endap dari rumahnya. Karena merasa pusing, Riris memilih pergi ke salon langganan dan menjadi kesempatan emas bagi Jelita. Para pelayan yang selalu memilih diam, tidak pernah menghalangi kepergian Jelita. Dan kini, ia telah sampai di sini--di rumah Arlan bernaung bersama keluarganya.
Fanni telah mempersilahkan dirinya untuk duduk di salah satu kursi ruang tamu. Lalu, ibu dari dua anak itu berjalan ke belakang untuk menyajikan minum dan beberapa cemilan.
Sepeninggalan Fanni ke dapur, membuat Jelita sedikit bergidik. Ada sebab di balik perasaan itu, ia harus berhadapan dengan Arlan yang sejak tadi menatapnya tajam. Bahkan, suami dari Fanni itu tidak mengatakan apa pun sejak beberapa menit yang lalu. Sehingga, Jelita memilih menunduk diam.
"Saya pikir tamu dari mana yang mau datang, ternyata bocah SMA toh," celetuk Arlan tiba-tiba.
Jelita memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. "Siang, Om," sapanya kepada pria yang sedang dianggap mengerikan olehnya.
"Kamu mau ngapain datang ke sini?"
Gadis itu spontan menelan salivanya. Untuk bertemu seorang Fanni saja, mengapa sulit sekali? Apa kedatangannya cukup mengganggu? Ia menyesalkan jika benar seperti itu. "S-saya ingin bertemu dengan Tante Fanni, Om."
Arlan menghela napas dalam, kemudian ia senderkan punggungnya pada badan kursi yang diduduki. Pasti, Fanni sudah mulai melibatkan diri, batinnya. Ia melirik ke arah Jelita, luka-luka memar beberapa saat yang lalu sudah sembuh, bahkan tanpa bekas sedikit pun. Sepertinya kondisi gadis itu semakin membaik.
Fanni sudah datang dengan nampan yang berisi minuman dan makanan. Karena hari yang masih terasa panas, ia sengaja menyajikan es jeruk agar tenggorokan bisa lebih segar. Ia meletakkan gelas-gelas itu di hadapan Jelita, juga Arlan. Lalu, dua piring makanan ringan sebagai pelengkap jamuan. Setelahnya, Fanni duduk di salah satu kursi, seperti biasa, ia memilih dekat dengan sang suami.
"Kamu enggak ada masalah ke sini?" tanya Fanni kepada Jelita.
Jelita menggeleng. "Enggak ada, Tante. Tapi e nggak tahu kalau nanti," jawab gadis itu sembari melirik ke arah Arlan dengan rasa takut. Apa Om ini masih marah sama aku? Batinnya.
"Semoga aja enggak ada. Kamu, kan, bisa pake alasan les kayak biasanya."
"Iya, Tante. Karna Kak Mita juga ada urusan, jadi saya ke sini."
"Emangnya enggak ada tempat lain selain di sini?" sahut Arlan di detik berikutnya.
Fanni mencubit lengan tangan suaminya itu, berharap agar Arlan bisa bersikap lebih sopan lagi. Sedangkan Arlan justru mengerucutkan bibirnya. Padahal, pria itu hanya khawatir jika sang istri terlibat lebih jauh lagi. Tidak peduli dengan ucapannya jika terdengar sangat pedas, ia hanya ingin melindungi Fanni.
Sikap Arlan yang terkesan tidak suka terhadap kedatangan Jelita, tentu saja membuat gadis itu tidak nyaman. Rasanya ingin pulang, tetapi sajian baru diberikan. Tidak etis, jika ia tiba-tiba buru-buru pamit pergi. Bukan untuk Arlan, melainkan Fanni. Terlebih, ia sudah mendapatkan banyak pelajaran berharga dari ibu dua anak itu. Sama-sama pernah mengalami bullying, mereka bisa klop satu sama lain.
"Jadi, kamu mau curhat apa, Lit? Enggak apa-apa bilang aja, suamiku emang begini," ujar Fanni lagi, dengan wajah penuh harap. Karena sifat kepenasarannya sudah keluar menyelimuti hatinya.
Dengan getir, Jelita mencoba tersenyum. Setelah itu, ia berkata, "Hanya main aja kok, Tante."
"Jangan bohong. Bicara aja," sahut Arlan dengan raut muka yang lebih datar daripada sebelumnya.
"B-beneran kok, Om."
"Kamu takut sama saya, ya?" Arlan memajukan dirinya, lalu menopang dagunya menggunakan kedua tangannya. "Saya hanya ingin tahu, silahkan bicara. Enggak mungkin saya usir tamu."
"Bicara aja, Lit. Mubadzir pelarianmu hehe," timpal Fanni.
Jelita memikirkan permintaan mereka. Apa tidak apa-apa jika ia mencurahkan isi hatinya? Sedangkan, ia masih merasa tidak enak hati terhadap Arlan. Kedatangannya ke sini pun sepertinya sudah mengganggu. Namun, tatapan Arlan dan Fanni seperti sedang menunggu. Ia menelan saliva, mungkin tidak apa-apa, tetapi rasanya sulit juga.
"Jadi, tadi, jadi, tadi," ujarnya ragu-ragu.
Daho sepasang suami istri itu kompak mengernyit. Jadi dan tadi menjadi dua kata yang muncul dari bibir pink milik Jelita.
"Kamu ini udah besar, yang tegas dalam bersikap. Jangan selalu ragu," ujar Arlan memberikan peringatan.
__ADS_1
Jelita menatap Arlan, kali ini dengan sedikit rasa sebal. Om ini, nyebelin banget sih? Batinnya. Namun, ia tidak bisa menunjukka. rasa kesal itu, karena perasaan takut masih ada dan enggan berlalu. Ia menata duduknya menjadi lebih nyaman. Menatap es jeruk buatan Fanni, membuat tenggorokannya mendadak dahaga. Ia mengambilnya dan mohon izin untuk minum terlebih dahulu.
Baru setelah itu, Jelita mencoba menghela napas untuk menenangkan dirinya. Ia berdeham sedikit kencang untuk membenarkan pita suara. "Anu ...." Masih saja sulit untuk berkata.
"Masih bocah kok tahu anu, kamu ini," timpal Arlan.
"Sabar dong, Mas. Kamu ini ih! Dia justru takut sama kamu. Mending kamu ke atas deh, aku minta tolong cek Sella juga Selli, siapa tahu udah bangun."
"Hmm ... iya, Sayang." Arlan tersenyum dan menuruti permintaan sang istri. Namun, sebelum berdiri, ia memberikan kecupan manis di pipi Fanni tanpa rasa malu sama kali. Ya, hanya seorang Fanni yang bisa meluluhkan tegasnya sikap seorang Arlan Mahendra, bahkan merobohkan hati beku pria itu ketika berniat tidak akan menikah lagi.
Jelita menatap sepasang suami istri itu dengan tatapan yang membelalak. Bagaimana bisa om kasar itu, bersikap semanis madu? Ia tidak habis pikir, seorang om galak bisa bersikap romantis dan terkesan takut dengan istri. Bertambah satu lagi penilaian bagus dari dirinya terhadap Fanni. Sosok luar biasa yang mungkin tidak bisa ia samakan dengan dirinya.
"Suamiku udah pergi, jadi nyamanin aja, Lita." Fanni memberikan senyuman yang terlihat sangat tulus. Pancaran matanya yang berwarna biru abu-abu seakan mampu menembus dinding kokoh pada diri Jelita.
Gadis itu merasa semakin kagum saja. Seingatnya, wanita berparas Belanda di hadapannya ini merupakan seorang ibu tiri. Anak yang memiliki posisi sama dengannya pasti beruntung sekali. Lalu, mengapa dirinya justru mendapatkan ibu tiri yang jahat sekali? Bahkan, berbanding terbalik dengan diri Fanni.
"Tadi, aku agak gegabah, Tante." Setelah sepersekian detik, Jelita memulai ceritanya.
"Gegabah gimana maksud kamu?" Dengan rasa penasaran yang semakin menggebu, Fanni memberikan penekanan pada kalimat tanya itu.
"Tadi, mama aku minta bicara. Terus aku tolak, dia ngajak makan bareng, aku bilang aku udah kenyang."
"Emm ... terus gegabahnya di mana?"
"Aku ucap kata enggak sopan sama nenek sihir itu, Tante. Ngeyel loe! Gitu."
Fanni terkejut ketika mendengar pengakuan dari Jelita. Ia tersenyum, sampai akhirnya berubah menjadi tawa. Sebenarnya memang sangat gegabah, tetapi justru lucu ketika didengar dari cerita itu. "Lain kali hati-hati, ya? Kamu cukup santai dan tenang aja. Dia orang yang licik, kan? Kalau kamu belum nemuin kelemahan, jangan bersikap aneh-aneh lagi."
"Iya, lucu sih. Kamu nyebut loe ke orang tua, ya ampun, Dek, segegabahnya aku enggak nyampe kayak gitu. Pasti yang ngajarin Mita, ya?"
Jelita menyeringis. "Iya, ambil dari sikap Kak Mita hehe."
"Aku paham. Usiamu masih tahap belajar dan gampang terpengaruh sama orang-orang. Kamu boleh belajar dari Mita, juga padaku. Tapi kamu perlu ingat kalau kami juga manusia biasa yang banyak dosa, Lit. Ambil aja yang baik-baik, jangan yang buruk. Ucapan Mita, peringainya emang kasar, tapi dia baik. Aku berharap kamu enggak niru cara bicara dia. Meskipun dalam keadaan terdesak, hindari kata enggak sopan, ya."
Mendengar nasehat dari Fanni, Jelita mendadak menjadi malu. Misal ia bercerita kepada Mita, pasti wanita cantik itu akan mendukungnya. Namun, apa yang dikatakan Fanni memang benar dan ia sadar betul dengan karakter Mita yang seenaknya saja dan kasar. Pun meski, wanita bak selebriti itu sudah baik hatinya, tetap saja sikap kasar tidak boleh dicontoh sama sekali.
Demi menghilangkan rasa malunya, Jelita meneguk es jeruk miliknya. Melihat beberapa cemilan yang tersaji sebenarnya ia sangat tergiur, tetapi ia masih menjalankan aturan diet dari Mita. Tidak boleh makan makanan yang berlemak atau berminyak, juga es. Sayangnya, Fanni tidak mengingatnya. Sedangkan, gadis itu tidak enak hati untuk memberitahu. Demi menghargai upaya Fanni, mau tidak mau ia mengambil satu potongan kue kering.
Tapak kaki diiringi suara nyanyian dari arah tangga, tiba-tiba terdengar. Fanni dan Jelita kompak menatap sumber suara. Arlan di sana bersama kedua putrinya. Ketika Selli melihat kedatangan tamu yang tidak asing, ia segera melesat cepat. Disalaminya Jelita oleh gadis kecil yang duduk di kelas tiga SD itu.
"Halo, Kak Lita," sapanya dengan ekspresi cantik menawan hati.
"Halo, Adek Selli," jawab Jelita. Karena sering datang ke salon Fanni dan Mita, mereka menjadi saling mengenal satu sama lain. Lalu, Selli datang menemui Fanni.
Arlan kembali duduk di samping Fanni. Ia memberikan Sella agar diberi ASI oleh Fanni, beserta celemek pendek sebagai penutupnya. Sedangkan Selli diambil ke dalam pangkuannya.
"Om dengar, kamu ini anak orang kaya. Sebenarnya anak orang kaya yang mana?" tanya Arlan, siap dengan bahan-bahan interogasinya terhadap Jelita.
Jelita menatap netra hitam legam milik pria paruh baya itu. "K-kalau aku bilang, Om sama Tante percaya enggak?" tanyanya kembali.
Dahi Arlan mengernyit seketika. "Apa maksud kamu? Apa pentingnya buat enggak percaya? Kamu bohong juga enggak ada ruginya, Nak."
__ADS_1
"Selama ini, setiap ada orang yang tanya begitu, mereka justru tertawa dan bilang saya ini mengada-ada. Sepertinya saya enggak pantes jadi anak orang kaya."
"Manusia enggak bisa memilih buat lahir di mana, Nak. Enggak perlu dengerin kata buruk dari orang lain."
Kenapa, Om ini tiba-tiba jadi baik? Jelita benar-benar bingung dengan sikap Arlan. Namun, sepertinya Arlan memang orang yang baik, hanya saja cara penyampaian berbeda. "Saya anak dari pengusaha besar, Om."
"Siapa?"
"Bapak Nur Imran."
"Siapa?!" Fanni dan Arlan kompak bertanya demi memastikan hal itu. Suara mereka yang cukup tinggi, berhasil mengejutkan kedua putrinya dan juga Jelita. Bahkan, sampai membuat Sella menangis karena kaget.
Fanni yang merasa bersalah kepada Sella, langsung berdiri dan menimang balita berparas bule itu. Sedangkan sang kakak, kini mendekap tubuh Arlan karena degupan jantungnya menjadi kencang.
"Maafin Papa, kamu kaget ya?" tanya Arlan kepada Selli sembari memeluk erat tubuh sang putri.
"Tuh, kan, bener kata saya, Om dan Tante enggak bakalan percaya. Dan identitas saya enggak pernah terkuak, tapi yang sering muncul itu justru adik saya."
"Kenapa identitasmu disembunyikan?" Arlan merasa aneh pada hal ini dan berupaya menggali cerita lebih dalam lagi. Tampaknya, penyakit penasaran sudah menular dari sang istri.
"Itu karna saya bodoh dan gemuk. Dan ibu saya enggak mau kalau kehadiran saya malah mencoreng nama keluarga. Saya, kan, gendut, dan orang tua saya kurus-kurus. Mungkin nanti saya bakal dibilang sebagai anak pungut."
Arlan kini hanya bisa manggut-manggut. Rasanya memang sulit dipercaya jika Jelita adalah anak dari salah satu investor terbesarnya. Hal itu, pasti akan membuat Fanni semakin sulit ketika ingin membantu, juga Mita sekali pun. Herannya, orang sebaik Nur Imran juga memiliki latar belakang keluarga yang seperti itu. Bagaimana bisa mereka tidak menganggap Jelita? Dan malah menampilkan anak sambung?
Tunggu! Batin Arlan. Ia mencoba mengingat-ingat tentang sesuatu. Ada momen di mana ia tengah berbincang dengan Nur Imran di salah satu gedung apartemen milik perusahaannya.
"Sayangnya, anak saya tidak sepintar Nona Fanni, Pak Arlan," ujar Nur Imran pada saat itu. Pria berusia hampir kepala enam itu cukup mengagumi kinerja Fanni dan menyampaikannya kepada Arlan ketika memiliki kesempatan.
"Akan ada waktunya, Pak Nur. Istri saya juga melalui banyak pelajaran," jawab Arlan.
"Hmm ... andai anak saya bisa seperti istri kamu, mungkin akan baik jadinya."
"Mungkin nanti bisa belajar bersama Fanni."
"Ya, tinggal atur waktu saja hahaha." Gelak tawa Nur Imran menyudahi perbincangan mereka. Dan apa yang diucapkan oleh Arlan hanyalah sebuah kelakar.
Namun, siapa sangka, Jelita benar-benar belajar dari istrinya. Kadang setiap kata bisa menjadi do'a yang akan dikabulkan kapan saja. Kini, Arlan sangat yakin bahwa anak yang dimaksud oleh Nur Imran adalah sosok Jelita. Secara tidak langsung, pengusaha besar itu sebenarnya memikirkan anak pertamanya, mungkin hanya tidak tahu dengan cara apa ia mengubah Jelita.
"Ayah kamu itu investor besar di perusahaan saya." Akhirnya, Arlan mengakui status dirinya juga ayah Jelita bahwa mereka saling mengenal dalam hal berbisnis.
"O-oh, kebetulan sekali," timpal Jelita. Ia tidak menyangka bahwa om galak di hadapannya cukup mengenal ayahnya.
"Seingatku ayah kamu itu orang yang baik lho, Lit," sela Fanni.
Gadis itu menunduk. "Ya, baik, tapi bukan sama aku."
Sepasang suami istri itu memilih diam terlebih dahulu. Fanni dan juga Arlan memberikan waktu agar Jelita bisa lebih tenang. Ia pasti merasa terkejut dengan hubungan Arlan dan ayahnya. Rasa khawatir datang, takut jika Arlan memberitahukan segalanya kepada Nur Imran--ayah kandungnya.
****
Kasih Vote dong, Kakak.
__ADS_1