Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Yakin


__ADS_3

Hari sudah semakin sore, terbukti saat jarum jam berada di setengah empat pada lingkaran jam dinding. Mentari pun perlahan berjalan kearah barat, menuju singgasananya. Sedang aku dan Mas Arlan masih saja di rumah orang tuaku. Bukan tidak ingin pergi. Hanya saja Ayahku masih meminta kami tinggal lebih lama.


Walaupun Ibuku masih tidak bergeming sedikit pun. Aku juga belum punya keberanian sama sekali untuk menghampiri beliau. Mungkin Ayahku berencana meluluhkan hati Ibuku dengan membuat kami untuk makan siang bersama. Namun, apalah daya Ibuku masih keras hatinya. Beliau sama sekali tidak keluar dari kamar.


Sampai saat ini, akhirnya aku berencana untuk pulang.


"Pa aku mau balik dulu," pamitku pada Ayahku.


"Arlan juga ya Om, sudah sore," sambung Mas Arlan.


"Ya sudah, yang penting hati-hati dijalan. Jangan mikir yang enggak-enggak," jawab Ayahku.


"Iya Om, terima kasih sebelumnya. Salam buat Tante, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumssalam Nak, Fanni hati-hati di jalan."


"Siap Papa."


Aku maupun Mas Arlan menyunggingkan senyum simpul sesaat setelah bersalaman dengan Ayahku. Kemudian aku memapah tubuh Mas Arlan menuju mobilnya.


"Mas kamu masih pusing?" Tanyaku pada kekasihku tersebut.


"Enggak kok Dek, cuman lecet aja kan?" Tanya ia kembali.


"Bukan lecet lagi, kulit kepalanya ngelupas dikit makanya darahnya netes. Untung nggak bolong lho."


"Ya janganlah Dek."


"Maaf ya Mas gara-gara aku."


"Sssstttt ah... jangan di bahas lagi."


"Yaudah aku yang bawa mobilnya aja."


"Mobil kamu?"


"Ditinggal disini dulu."


"Sebenernya Mas nggak enak sih, tapi nggak apa-apa deh. Dimanjain calon istri hehe."


"Hmm... dasar!"


Mas Arlan memberikan kunci mobilnya padaku. Setelah itu kami masuk kedalam mobil mewah tersebut. Sebenarnya cukup canggung juga. Namun, tidak ada pilihan lain.


Aku merasa khawatir pada Mas Arlan. Takut jika ia merasa pusing ditengah jalan. Apalagi ia terluka tepat di kepala bagian belakang. Memang tidak terlalu serius, hanya saja darah yang keluar lumayan, beruntungnya sudah berhenti. Apalagi cukup riskan jika di kepala.


Kupacu perlahan namun pasti, mobil mewah milik Mas Arlan. Jujur, saja ada rasa bangga tersendiri. Aku bisa mengendarai mobil seperti ini, dan itu milik kekasihku. Membuatku semakin yakin jika Mas Arlan bukanlah orang sembarangan.


Namun, aku masih menahan rasa penasaranku tentangnya. Aku masih belum siap jika dibawa ke rumahnya nanti. Maklum saja, ini awal kalinya aku menjalin kasih dengan pria. Dan itu adalah Mas Arlan yang sudah serius tanpa main-main lagi. Aku rasa wanita lain juga akan demam jika dikenalkan pada keluarga sang kekasih untuk pertama kalinya.


"Mau mampir tempatku Mas?" Tanyaku lebih dulu.


"Kamu kan katanya mau anter Mas pulang Dek?" tanya ia kembali.


"I-iya tapi aku belum berani untuk sekarang Mas."


"Belum berani kenapa Dekku sayang?"


"Emm... ya gitu deh."


"Jangan khawatir sayang, orang tuaku baik kok. Apalagi Mas cuman punya ibu aja sekarang."


"Oh ya?"


"Iya Dek, Ayah Mas udah lama meninggal dunia."


"Maaf Mas."


"Nggak apa-apa, tapi jangan khawatir ya. Mas udah tinggal sendiri kok."


"Lho Selli dimana?"


"Kalau Mas belum pulang, Selli maen ke tempat neneknya sama susternya."


"Owalah."


"Jadi mau ya? Gantian dong."


"Ta-tapi."


"Dek... please ya. Mas lagi sakit nih."


"Halah... jadiin alasan doang."


"Hehe... enggak, ini serius kok. Kamu maen ya?"


Aku tidak langsung menjawab. Masih ada rasa bimbang dalam hatiku. Jika Selli dan susternya tidak ada, jadi aku akan berdua saja dengan Mas Arlan nanti? Memang sih, bukan pertama kalinya. Hanya saja ini bukan di Apartemenku. Aku malu.


Sedangkan Mas Arlan terus saja berharap. Sesekali ia iseng padaku, menunjukkan bekas lukanya yang sudah terbalut kapas dan perban melingkar di kepalanya. Pasti sakit sekali, sehingga membuatku iba juga.


Sudahlah, tidak apa. Anggap saja sebagai balas budiku. Aku akan mampir sebentar untuk mengurus Mas Arlan. Terlebih ia tidak menyantap makan siang banyak, mungkin sungkan juga malu pada Ibuku. Toh, tidak ada salahnya bukan? Jika aku mampir di rumah kekasihku.


"Gimana Dek?" Tanya Mas Arlan lagi untuk memastikan jawabanku.


"Nggak mau," jawabku jual mahal terlebih dahulu.


"Dek kamu tegas sama Masmu ini?"


"Nggak tega sih."


"Terus?"


"Ya nggak enak aja Mas, belum halal."


"Iya Mas tau sih, tapi kan sebentar lagi kita mau nikah."


"Kan belum dapet restu Mamaku, belum juga dari Ibunya Mas Arlan."


"Kan Mas udah yakin, sangat yakin."


"Terus kenapa Mas Arlan tadi mau nyerah?"


"Ehh..."


Mas Arlan terdiam sejenak. Ia hela napas panjang lalu dihembuskannya kembali. Aku tau, ia sedikit merasa bersalah padaku. Apa yang sempat ia katakan, hampir saja ia ingkari sendiri.


Sebenarnya aku juga sedikit kecewa. Tapi rasa maklum pada hatiku lebih besar. Mas Arlan pasti merasa kesulitan. Belum lagi aku sebagai anak dari Ibu yang tidak memberinya restu, terlibat dalam pertengkaran. Dan yang pasti, akulah yang paling merasa bersalah atas semua ini. Sampai Mas Arlan harus menderita dan terluka.


"Maaf Dek, Mas cuman nggak tega liat sepasang anak dan Ibu bertengkar. Apalagi cuman gara-gara Mas yang seorang duda ini," jelas Mas Arlan kemudian.


"Aku Mas yang minta maaf atas nama Mama aku," jawabku.


"Mama kamu nggak salah Dek, Mas emang duda nggak tau diri. Udah ditolak selama berhari-hari, masih aja nekat gini."


"Jadi Mas Arlan nyesel?"


"Ya nggak, nggak enak aja gitu."


"Halah..."


"Maaf ya, tapi Mas tadi hampir nangis lho denger kamu ngomong sayang. Pertama kalinya tuh, semangat Mas jadi muncul lagi. Hmm... kayaknya kamu harus sering-sering ngomong sayang sama cinta deh Dek. Biar Mas tambah semangat setiap harinya."

__ADS_1


"Lebay Mas, itu juga terpaksa kok."


"Jahat banget pake terpaksa lagi."


"Hehe... eh by the way ini arah jalannya kemana ya Mas ke rumah Mas. Aku mah jalan terus lho daritadi."


"Jadi kamu mau ke rumah Mas?"


"Iya mau, tapi arahnya kemana?"


"Kamu nggak tau Dek?"


"Nggaklah Mas, gimana sih?"


"Ini udah kelabasan jauh, harusnya tadi belok kiri di jalan Merpati sono."


"Haaaah??? Kenapa nggak ngomong dari tadi? Mas Arlan ngerjain aku, jalan itu jauh lho."


"Mas aja nggak sadar hehe... maaf Dek."


"Maaaaasss!!!"


Jalan Merpati katanya, itu sudah lumayan jauh dari keberadaan kami sekarang. Sebal juga rasanya. Aku segera putar balik lagi, kearah jalan tersebut. Demi menemukan arah yang benar menuju rumah Mas Arlan. Benar-benar menghabiskan waktu saja, menurutku.


Mas Arlan menunjukkan rute berikutnya. Aku tidak meladeni lagi celotehannya yang kadang muncul. Tidak ingin terulang dua kali, kelabasan seperti tadi.


"Depan dua rumah lagi ya Dekku sayang," ujar Mas Arlan sembari menunjuk jalan.


Aku mengikutinya, kami masuk kedalam salah satu komplek perumahan elit. Kemudian berhenti di salah satu rumah milik Mas Arlan.


Aku tertegun sebentar dan menghentikan mobil. Nuansa gerbangnya saja sudah begitu indah dengan nuansa keemasan. Jauh sekali jika dibandingkan dengan rumah orang tuaku yang bernuansa klasik jawa yang hanya satu lantai saja. Di perkampungan kota pula.


Rumah milik Mas Arlan ini memiliki dua lantai saja. Meski begitu terlihat sangat mewah dan tentunya besar. Indah sekali yang pasti. Membuatku sedikit minder untuk masuk kedalam.


"Kenapa Dek? Ayo masuk, bunyiin klason aja entar Mang Edi bukain gerbangnya," ujar Mas Arlan sehingga membuyarkan pandangan terpanaku.


"Ehh i-iya Mas," jawabku.


Aku kembali menjalankan mobil milik Mas Arlan ini. Kemudian kubunyikan klaksonnya.


THIIIINNN!!!


Seorang bapak-bapak paruh baya pun tampak dari dalam. Beliau membuka gerbang tersebut. Mungkin beliau bertugas sebagai tukang kebun di rumah ini. Dengan nama Mang Edi.


"Makasih Mang," ujar Mas Arlan setelah membuka pintu mobilnya.


"Sama-sama Den," jawab Mang Edi.


Kumasuki pekarangan rumah Mas Arlan. Tampak asri dengan taman kecil disudutnya. Lalu kuparkir mobil tersebut, kami beranjak turun.


"Ini beneran rumah kamu Mas?" tanyaku.


"Menurut kamu?" tanya Mas Arlan kembali.


"Ya iya sih, emang rumah kamu Mas."


"Haha... rumah kita Dek nanti."


"Apaan sih Mas?"


"Hihh... serius Mas tuh, duuuhhh."


"Ke-kenapa Mas?"


"Enggak kok, nggak apa-apa Dek hehe."


"Serius? Ke dokter yuk?"


"Kenapa sih? Nggak mau mulu daritadi."


"Ya pokoknya nggak mau Dek."


"Takut sama jarum suntik ya?"


"Hehe..."


"Yaelah Mas, kayak anak kecil aja lho kamu ini."


"Ngeri Dek, tajem banget."


"Dimana-mana juga tajemlah Mas."


"Iya makanya nggak mau, belum lagi harus minum obat pasti. Mas paling nggak bisa minum obat, kalau ditelen pasti keluar lagi. Muntah."


"Hmmm... horang kaya."


"Bukan gitu Dek, Mas sendiri juga heran kok. Padahal udah setua ini. Kamu aja obat buat Mas ya Dek hehe."


"Yaudah ayok, masuk lewat pintu mana Mas?"


Kupapah tubuh Mas Arlan untuk berjalan menuju pintu masuk. Sebenarnya aku sangat khawatir dan takut. Namun, lagi-lagi ia menolak ajakanku untuk ke rumah sakit. Tentunya dengan berbagai macam alasan.


Semoga saja tidak menjadi luka yang serius. Tampaknya, Mas Arlan benar-benar takut pada jarum dan obat. Aku tidak bisa memaksanya lagi. Biarlah, mungkin keputusanku untuk mampir adalah hal yang tepat. Toh, aku bisa mengurusnya untuk beberapa saat.


Dibukalah pintu rumah Mas Arlan. Setelah itu, kami masuk. Lagi-lagi aku dibuat terkejut. Ruangan rumah ini sangat luas. Nuansa emas membuatnya seperti istana. Ornamen, hiasan serta perabotannya begitu menawan dan tentunya mahal. Udaranya pun begitu sejuk karena AC juga terpasang.


Membuat diriku semakin ciut untuk masuk lebih dalam. Tidak menyangka bahwa aku mendapatkan kekasih sekaya ini. Apa ini mimpi? Atau kehaluanku, yang tiba-tiba masuk kedalam drama Korea?


Tapi ini nyata!


"Hei ayok!" seru Mas Arlan padaku yang tengah terpaku.


"Hehe iya Mas," jawabku sembari mempercepat langkahku.


"Mas sekaya ini ya ternyata?"


"Biasa Dek, ini rumah juga rumah patungan sama orang tua dulu. Dibangun sebelum Mas nikah, pas nikah berapa bulan gitu baru jadi."


"Ohh..."


"Kenapa?"


"Enggak apa-apa kok."


"Nggak enak didenger ya kalau ngomongin masa lalu Mas?"


"Nggak juga Mas, toh itu kenyataan yang udah lalu."


"Makasih ya Dek."


"Buat apa Mas?"


"Kamu udah nerima dan merjuangin duda anak satu kayak Mas ini."


"Iya Mas, sama-sama. Kayaknya hari kemerdekaan kita emang belum diproklamasikan."


"Haha... bisa aja kamu."


"Iyalah Mas, dulu bangsa Papaku yang menjajah Indonesia. Sekarang Ibuku yang dari Jawa yang menjajah cin..."


"Nggak dilanjutin?"

__ADS_1


"Nggak jadi, geli aku."


"Lah ngomong sendiri kok, lanjutin coba?"


"Nggak mau, lama-lama deket sama Mas Arlan. Aku jadi ketularan lebay."


"Lah kok Mas yang disalahin Dek?"


"Iya emang Mas yang salah kok."


"Lelaki selalu salah ya?"


"Nah itu tau."


"Dasar..."


"Auu... sakiiittt!"


Dicubitlah pipiku dengan gemasnya oleh Mas Arlan. Aku pun mengaduh kesakitan. Sedangkan Mas Arlan malah tertawa girang. Itulah yang terjadi jika kami saling berkelakar satu sama lain.


Semua rasa maluku seolah hilang jika bersama dengan Mas Arlan. Kuakui semenjak aku mengenalnya, sifatku bisa berubah secara perlahan. Mungkin masih minder tentang kondisi badanku, namun aku bisa melangkah lebih maju. Aku sudah tidak terlalu kepikiran tentang masa kelamku. Hatiku mulai terbuka untuknya. Mungkin untuk siapapun juga, dalam hal pertemanan.


Mas Arlan mempersilahkan aku duduk di ruang keluarga. Ruangan ini semacam ruang lesehan dengan alas kasur lantai yang halus. Diisi oleh banya boneka yang mungkin milik Selli. Serta televisi, AC dan masih banyak lagi.


"Kamu mau minum apa Dek?" Tanya Mas Arlab kemudian.


"Mas udah nggak pusing? Aku belum haus kok," jawabku.


"Udah nggak kok Dek. Tenang aja ya sayang."


"Yaudah deh, aku air putih aja."


"Masa' air putih doang?"


"Nggak apa-apa Mas, tapi kalau boleh yang dingin ya."


"Siap sayang."


Mas Arlan berlalu, ia mengambilkan minuman untukku di dapur yang letaknya tidak aku tau.


Beberapa menit kemudian ia kembali bersama nampan berisi dua gelas air dan cemilan. Wajahnya terlihat segar, mungkin sudah membasuhnya dengan air.


"Anggap rumah sendiri ya Dek," ujarnya.


"Iya Mas makasih minumnya," jawabku.


"Dek, kita nikah yuk?"


"Selesein dulu semuanya Mas."


"Mas bakalan selesein, tapi kamu mau ya Mas ajak ketempat orang tua Mas?"


"A-aku takut."


"Kalau kamu takut, inget aja perjuangan kita didepan Mama kamu. Please..."


"Hmm... aku pasti akan kesana Mas, cuman emang masih butuh waktu. Apalagi ini pertama kalinya aku pacaran dan langsung diajak nikah."


"Mas beruntung ya?"


"Iya Mas, aku masih suci. Terus sekarang berkurang karna dipegang mulu sama kamu, Mas."


"Hahaha... dikit lho Dek, mau ya."


"Minta waktu ya?"


"Berapa lama?"


"Seminggu aja kok."


"Tiga harilah, Dek."


"Please... seminggu ya?"


"Yaudah, tapi kamu janji ya."


"Iya janji Mas."


Kuteguk air minum yang disuguhkan padaku. Rasa khawatir mulai bergelayut kembali, saat membayangkan hari nanti. Hari dimana aku akan menemui orang tua dari Mas Arlan.


Aku harus bagaimana nantinya? Lalu bagaimana pandangan keluarga Mas Arlab tentang kondisi fisikku? Huhh... sebal. Aku ingin diet!


"Dek?" ujar Mas Arlan.


"Iya Mas," jawabku.


"Mas sayang banget sama kamu lho."


"Masa'?"


"Iya Dek, yakin banget."


"Kenapa Mas bisa suka sama aku yang kayak gini, padahal dengan semua yang Mas miliki sekarang. Mas bisa cari yang jauh lebih cantik dan nggak perlu berjuang keras."


"Mas udah tertarik sama kamu sejak awal ketemu, Dek. Mas nggak tau alesan pastinya, yang pasti perasaan suka itu tumbuh terus."


"Oh ya? Padahal kebanyakan orang atas kalau liat aku pasti jijik emm... nggak peduli gitu."


"Itu kan orang lain, bukan Mas. Toh kecantikan seseorang kan dari hati."


"Iya sih."


"Makanya kamu jangan suka minderan kalau diajak kemana-mana. Terus nggak usah peduliin orang lain, kamu harus bisa lupain masa lalu kamu. Buktiin sama Mama kamu, kalau kamu udah bebas dari trauma itu."


"Iya Mas, makasih ya buat semuanya. Tanpa aku sadari, ternyata aku juga udah jatuh daj bergantung sama Mas. Cuman aku selalu nganggep semua itu sebatas rasa kagum aja, aku juga nggak cukup percaya diri buat jatuh cinta. Maafin aku saat itu, Mas."


"Nggak apa-apa Dek. Toh, semua nggak terlambat kok, kita jadi tau kekuatan hubungan ini."


Cup!


Keningku dicuri oleh Mas Arlan. Ia menatapku dalam dengan kedua telapak tangan menopang daguku.


Aku diam tak bergeming. Seolah ada irama musik yang mengisi keadaan ini. Jantungku pun berdebar tak menentu. Mungkin rona merah juga menghiasi seluruh wajahku, karena telingaku terasa panas. Sampai akhirnya aku terpejam dengan kakunya badan.


Aku terlena, s*ntuhan lembut jatuh pada bibirku. Kecupan manis telah terjadi. Kami terjatuh dalam keromantisan dalam durasi kurang lebih satu menit lamanya.


"S-stop!" ujarku sembari menarik diri.


Sontak saja Mas Arlan mengangkat wajahnya. Sedangkan aku, segera menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Malu sekali rasanya. Jantungku hampir copot tak kuasa lagi menahan debaran. Begitu pun dengan ubun-ubunku yang seakan meledak.


Ketika kulirik Mas Arlan dengan sekilas. Ia pun menunduk, dengan daun telinga yang memerah pula. Kami sama-sama malu satu sama lain. Saling kikuk dan salah tingkah tentunya.


'Ya Allah, maaf hamba yang khilaf,' gumamku dalam hati.


Bersambung...


Budayakan tradisi like+komen ya...


2020 sudah tiba juga... Semoga kehidupan kita semakin baik ya kedepannya...


Buat Fanni dan Arlan, semoga saya nikahkan juga hhehehe..

__ADS_1


Maafkan daku jika banyak typo


__ADS_2