
Kepenatan mulai terasa membekuk dirinya didalam tubuhku. Kantuk dan lapar saling berkolaborasi menjadi satu, sehingga membentuk suatu keletihan tersendiri. Terlebih, hari ini kami tidak ada jadwal pertemuan apapun. Dalam artian, semua pekerjaan secara penuh berlangsung didalam lingkup kantor saja.
Namun, semua sedikit terangkat tatkala denting jam sudah sampai dipertengahan hari. Itu artinya jam makan siang telah tiba. Aku dan Celvin menyudahi diskusi dan pekerjaan untuk sementara waktu.
"Fann," ujar Celvin memanggilku.
Aku menoleh kepadanya. "Ya? Kenapa?" tanyaku.
"Mau makan bareng?"
"Ehh... en-enggak. Maaf Vin, aku udah ada janji."
"Sama siapa? Temen kamu itu ya?"
"Bukan kok, sama calon suami hehe."
"Aihh... sudah nggak malu-malu lagi sekarang ya?"
"Hehe... begitulah. Maaf ya, Vin."
"Nggak apa-apa, santai aja Fann."
"Yaudah, aku duluan ya?"
"Silahkan Nona Fanni."
Kami saling melemparkan senyuman. Kemudian, aku berjalan menuju meja kerjaku dan mengambil tas. Setelah itu keluar dari ruangan ini, meninggalkan Celvin seorang diri.
Didalam perjalanan, aku berpikir tentang ajakan Celvin tersebut. Sebenarnya aku tidak enak menolak ajakannya. Namun, aku memang sudah ada janji makan siang dengan Mas Arlan, kekasihku. Seandainya tidak ada pun, aku pasti tetap akan menolak. Karena merasa tidak enak kepadanya. Selain itu, restoran yang akan dikunjungi Celvin pasti restoran mewah yang harganya selangit. Aku benar-benar tidak puas dengan makanan yang disajikan ditempat seperti itu.
Mungkin lain waktu, aku akan mengenalkan Celvin pada hal-hal baru yang tidak pernah ia temui atau lakukan. Itupun kalau masih ada kesempatan sebelum menikah. Siapa tau dengan begitu, Celvin semakin memahami hidup kalangan orang bawah. Sehingga bisa memberikan pengaruh besar dalam hidupnya sendiri. Dengan tujuan agar ia tidak lagi melakukan bullying seperti sedia kala.
Sepertinya, ketahanan hatiku sedang diuji lagi. Terbukti saat hendak masuk ke dalam lift, seorang Mita datang dari arah berlawanan dan aku rasa ia juga akan menggunakan alat penghantar ke lantai bawah ini. Haruskah aku mengalah dan menunda langkahku? Demi mencapai perdamaian untuk kami berdua.
Namun, saat Mita telah sampai didekatku, ia tidak menatapku sama sekali. Bibirnya terkunci rapat dengan wajah yang lesu. Ia tampak menggambarkan raut sedih yang tergambar di wajah cantiknya. Aku rasa, ia sedang dirundung masalah. Sehingga, ia sama sekali tidak menyadari keberadaanku. Meski begitu, aku masih merasa tegang sendiri.
Kuberanikan diri untuk menekan tombol disamping lift. Kemudian melangkah masuk ke dalam setelah pintu lift terbuka. Meski aku masih enggan, namun aku tetap tidak bisa menolak saat Mita mengikuti langkahku. Hanya kami berdua yang ada didalam kotak ini. Samar-samar kudengar isakan tangis yang dilakukan oleh Mita. Aku cukup penasaran dan iba, tapi tidak berani bertanya. Semua sikap diamku dikarenakan hubungan kami yang tidak baik.
Lantai demi lantai terus kami lewati. Dalam diam ini, aku sesekali melirik Mita yang tengah menangis. Kebencianku terhadapnya tidak membuat rasa ibaku terbuang. Kalau saja kami tidak bermusuhan, aku pasti akan menenangkan dirinya. Namun, apa daya, kami hanyalah dua makhluk yang tidak bisa rukun dan akur.
Sampai akhirnya kami telah berada di lantai dasar. Pintu lift pun terbuka. Aku bergegas keluar diiringi Mita. Namun, saat aku akan pergi lebih jauh, Mita menarik lengan tanganku. Sontak saja aku menoleh kepadanya. Air matanya mengalir deras membasahi pipi. Ada apakah dengan diri Mita yang selalu kuat dan jahat itu?
"Bisa nggak loe temenin gue, Fanni?" tanyanya kepadaku.
Aku membelalakkan mataku lebar-lebar, karena merasa terkejut dengan permintaannya. Baru kali ini, Mita memanggilku dengan nama bukan sebutan b*bi atau semacamnya. "Maaf Mit, tapi gue ada janji," jawabku.
Mita melepaskan lengan tanganku. Kemudian menjawab lagi, "Sorry kalau gitu."
"Emm... kalau loe mau, pulang kerja gue temenin."
"Bo-boleh."
Aku tersenyum kepadanya. "Maaf ya, untuk sekarang belum bisa."
Mita mengangguk dan menunduk tanpa melihatku. Tampaknya ia canggung dan juga malu. Disisi lain, entah mengapa hatiku merasa lega setelah mendengar permintaannya. Yah, sepertinya aku bukan tipe pembenci manusia lain. Aku rasa, aku harus menunda pembicaraan dengan orangtuaku sore nanti. Tak mengapa, kalau hal ini bisa memperbaiki hubunganku dan Mita yang tidak pernah baik.
Aku melanjutkan langkahku untuk menuju luar gerbang. Sepertinya Mas Arlan sudah menungguku. Aku menjadi tidak sabar untuk bertemu dengannya, karena rasa rindu lagi-lagi datang tanpa permisi. Terlebih wajah manis itu benar-benar tidak bisa hilang dari ingatanku.
Setelah aku sampai diluar, aku melihat mobil hitam milik kesayangan sudah menanti di seberang jalan. Tanpa pikir panjang aku segera menghampirinya. Lalu setelah dekat, kuketuk kaca mobil itu sebanyak tiga kali. "Hai sayang," sapaku kepada Mas Arlan.
Mas Arlan tersenyum manis sekali. Ia membuka kaca jendela mobilnya. "Hai juga Dekku sayang. Masuk gih, Mas udah laper," pintanya.
Aku segera memasuki mobil tersebut dan duduk tepat disamping Mas Arlan. Lelaki ini lagi-lagi menatapku, bahkan tanpa berkedip sama sekali.
"Hayuk, katanya laper?" ujarku.
"Laper karena rindu, Dek," jawab Mas Arlan.
Cup! Sebuah kecupan manis kudaratkan pada pipi Mas Arlan. Sontak saja Mas Arlan terkejut dengan rahang yang menganga. "Lagi dong," pintanya.
__ADS_1
"Udah! Itu bonus karena Mas Arlan udah jemput aku kesini, jadi jangan minta lebih. Inget janji kita tadi pagi kan?"
"Hmm... kan pipi, Dek?"
"Apapun itu! Jalan gih, aku udah laper. Kamu tau kan, Mas? Lambungku lebar."
"Haha... iya iya, sayang. Mas jalan nih."
Mas Arlan mulai melaju mobilnya kembali. Membawaku meninggalkan gedung kantor untuk sementara waktu. Saat kutengok kedalam sebelum melaju jauh, aku menangkap keberadaan Celvin yang berjalan bersama Mita. Aku rasa ia sedang menenangkan hati adik angkatnya tersebut. Yah, itu memang bukan urusanku. Setidaknya, aku tidak terlalu merasa bersalah karena meninggalkan Mita yang tengah bersedih.
Deru mobil mengiringi perjalanan kami untuk menuju sebuah tempat makan. Aku rasa calon suamiku tersebut akan membawaku ke rumah makan Jawa yang selalu menjadi incarannya selama ini. Aku sendiri tidak keberatan, karena memang lebih menyukai hidangan khas Indonesia tersebut daripada hidangan di restoran mewah yang super mahal.
Tak lama kemudian, kami sampai ditempat yang dituju. Kami berdua beranjak turun, lalu masuk ke dalam. Kami mencari bangku yang nyaman dan juga sejuk. Setelah itu memesan makanan kepada salah satu pelayan.
"Dek, mama nanti mau bahas apa ya?" tanya Mas Arlan kepadaku.
Aku mengerutkan dahiku sembari berpikir tentang beberapa kemungkinan. "Kayaknya soal perlengkapan pernikahan kita deh, Mas," jawabku kepadanya.
"Iya sih. Kayaknya emang itu, Mas jadi deg-degan hehe."
"Kenapa emang? Ehh... oiya Mas, kamu nanti datengnya malem aja ya? Terus nggak usah jemput aku, soalnya aku ada janji sama temen. Kalau bisa bawa Selli, aku kangen sama anakku."
"Temen? Siapa?"
"Temen cewek, sayang. Kamu khawatir ya? Hehe."
"Bukan bosmu itu kan?"
"Bukan Mas, bukan. Tenang aja sih. Emang kamu cemburu kalau aku sama dia? Yang wajar kalau cemburu, nggak mungkin Celvin suka sama aku."
"Mungkin ajalah, Dek. Kan calon istri Mas ini, cantik dan sexy."
"Ihh!"
Kutepuk lengan tangan Mas Arlan diiringi cubitan yang lumayan keras. Bahkan sampai membuat kulitnya memerah, sehingga ia mengaduh kesakitan dan meminta maaf kepadaku. Aku sendiri merasa kesal dan sebal karena ledekan menjijikkan yang ia lontarkan.
Perbincangan kami terhenti pada saat seorang pelayan wanita datang. Ia menyajikan hidangan yang telah kami pesan diatas meja. Ia begitu ramah dan hati-hati dalam memberikan pelayanan kepada kami. Setelah selesai, pelayan tersebut kembali ke tempat kerjanya.
"Mas Arlan!" Tiba-tiba seruan seseorang terdengar di telingaku dan juga Mas Arlan. Terlebih, orang tersebut memanggil nama calon suamiku. Sontak saja, kami menoleh pada sumber suara.
Alangkah terkejutnya diriku, saat mendapati seorang wanita yang sempat kutemui beberapa bulan yang lalu. Tengkukku kaku seketika dan hanya bisa menelan saliva dengan ngilu. Sama halnya denganku, Mas Arlan pun kaget bukan kepalang. Bahkan ia berdiri seketika dengan rona merah diwajahnya. Namun bukan karena malu, melainkan marah, semarah-marahnya. Terbukti, saat urat hijau nampak ikut serta menghiasi wajahnya.
"Nia?!" ujar Mas Arlan.
Nia? Untuk apa dia datang kemari?
Batinku berkecamuk penuh tanda tanya. Apalagi wanita itu semakin dekat dengan kami. Dan akhirnya sampai dihadapan kami. Aku menunduk penuh ketegangan tersendiri. Sebenarnya, situasi macam apa ini? Lantas, aku harus berbuat apa?
Nia meraih tangan Mas Arlan saat kulirik sekilas. Namun, Mas Arlan langsung melempar kasar tangannya.
"Kamu?! Ngapain kamu kesini?" tanya tegas Mas Arlan.
"Maaf, Mas. A-aku sengaja ngikutin kamu, a-aku ingin minta maaf. Perkataanku kemarin sungguh-sungguh, Mas. Aku ingin kembali sama kamu, demi anak kita," jelas Nia.
Apa-apaan ini? Kemarin? Kenapa Mas Arlan tidak bicara padaku?
Aku benar-benar tidak mengerti dengan situasi yang tengah berlangsung. Aku rasa mereka sempat bertemu tanpa se-pengetahuanku. Kacau sekali, hatiku merasa terkhianati. Mengapa Mas Arlan tidak mengatakan apapun kepadaku?
"Mas, batalin pernikahan kamu sama dia. A-aku lebih cantik dan aku yakin kamu masih cinta sama aku," pinta Nia kepada Mas Arlan.
"Nia!!!" bentak Mas Arlan.
"Demi Selli, Mas. Aku ibu kandungnya, dia bukan! Aku lebih cantik dari dia. Batalin Mas, batalin. Demi anak kita, demi Selli!"
Bagai disambar petir disiang bolong, aku terkejut bukan main. Hatiku seolah remuk redam mendengar ucapan dari Nia. Bahkan sekujur tubuhku kini gemetaran tidak menentu. Jantungku berdegup kencang, tidak beraturan. Aku ingin menangis, namun masih kutahan karena malu. Belum lagi, para pengunjung lain tengah menyaksikan. Dan jika aku melawan, pasti aku yang akan dihujat karena aku tidak lebih cantik dari Nia.
Tiba-tiba Mas Arlan mendorong kursinya menggunakan kaki ke belakang. Ia meraih tangan Nia dan menyeretnya keluar dari ruangan rumah makan. Sedangkan, Nia masih memelas ingin kembali pada sisinya. Sialnya, situasi seperti ini harus terjadi saat rencana pernikahan sudah didepan mata.
Aku mengurus pembayaran atas hidangan yang kami pesan tadi. Setelah itu, aku berjalan lunglai menerobos para pengunjung yang lain. Tak sedikit dari mereka yang menatapku sembari berbisik-bisik. Sampai akhirnya, aku tidak bisa menahan tangisanku. Hatiku terluka lagi, terluka untuk kesekian kalinya. Bagaimana bisa Mas Arlan menyembunyikan pertemuan itu? Meski aku tahu, ia tetap tidak bisa menerima Nia. Namun, tetap saja, aku tidak ingin ada kebohongan diantara kami.
__ADS_1
Saat sampai diluar, aku melihat kedua sejoli itu masih saling berdebat disisi kiri mobil Mas Arlan. Mas Arlan yang lumayan tampan dengan badan atletis dan gagah. Nia yang cantik, langsing dan sosialita. Rasanya, aku bukan apa-apa jika dibandingkan dengan mereka. Rasanya sesak sekali, saat aku menatap kedua manusia yang sempurna itu. Seandainya saja, Mas Arlan menerima Nia, aku rasa wajar karena demi Selli.
Meski aku tahu, didalam tubuhku ada hati yang bisa hancur lebur. Tapi, jika demi Selli, sepertinya aku bisa rela menerimanya.
Kulangkahkan kakiku meninggalkan rumah makan dan mereka berdua. Dengan membawa sejumlah luka perih walau tidak berdarah. Waktu makan siang yang semakin habis, memaksaku untuk segera bergegas. Aku mencari taksi di pinggir jalan. Namun, tak kunjung satupun yang datang. Sampai akhirnya, aku memilih naik angkutan umum biasa.
Tengah hari yang sangat panas tidak seperti pagi tadi. Hati yang begitu pedih tidak sebahagia seperti pagi tadi. Seakan membaur menjadi satu tanpa rasa iba untukku sama sekali. Apa ini juga termasuk ujian sebelum pernikahan? Haruskan separah ini?
"Neng? Kenapa kamu menangis?" tanya salah seorang penumpang didalam angkot yang kutumpangi. Aku menoleh kepadanya, beliau adalah seorang nenek yang tidak asing bagiku.
"Nenek? Ah... nggak apa-apa kok, Nek," jawabku sembari mengusap air mataku.
"Neng, yang itu ya? Yang dulu pernah beli pecelan saya?"
"Oh... mbah yang itu. Pantes saya merasa nggak asing. Tapi, Mbah masih ingat muka saya?"
"Masihlah, Neng. Mbah ingat terus, apalagi kamu satu-satunya yang membeli pecel Simbah, uangnya lebih banyak lagi. Mungkin tanpa kamu, Simbah nggak makan hari itu."
"Hehe... nggak seberapa kok, Mbah. Mbah masih jualan?"
"Ini baru mau berangkat, Neng."
"Boleh saya pesen lagi. Dua bungkus aja, Mbah."
"Boleh-boleh. Sebentar ya, sudah ada yang dibungkus ini. Alhamdulillah, sekarang hidup Mbah sudah lebih baik, Neng. Sudah dibikinin warung disebelah sana sama warga sekitar."
"Wah! Kapan-kapan saya mampir ya, Mbah."
"Silahkan, Neng. Terus jangan nangis lagi ya, kalau sedih ingat hidup Mbah yang kayak gini. Biar kamu merasa lebih beruntung terus."
"Hehe... iya Mbah. Terima kasih."
Dunia memang sempit sekali. Sosok tua ini masih saja mengingat diriku, padahal sudah cukup lama kami tidak bertemu. Tapi, setelah mendengar nasehat dari beliau, aku sedikit tenang. Sepertinya, aku memang kurang bersyukur dan cepat menyerah. Aku rasa pertemuan tak terduga inipun, sudah direncanakan oleh-Nya supaya aku tetap kuat.
Beberapa saat kemudian, aku telah sampai kembali di kantor. Aku dan simbah penjual tersebut berpisah. Beliau menolak uangku untuk membayar dua bungkus makanan tersebut. Sampai aku tidak bisa menghalanginya, kecuali dengan ucapan terima kasih. Kubayarkan ongkos angkot kemudian turun.
****
Aku telah berada didalam ruang kerjaku. Kemudian aku menghampiri Celvin yang sudah disibukkan dengan pekerjaan.
"Nih, aku bawa oleh-oleh buat kamu," ujarku.
Celvin menatapku keheranan. Lalu ia meraih dua bungkus pecel tersebut. "Apa ini?" tanyanya.
"Itu namanya pecel sayur."
"Ohh... pernah lihat sih. Tapi, nggak pernah makan.
"Cobain deh, enak tauk."
"Oke, makasih ya. Sebenarnya nggak perlu repot-repot, Fann."
"Enggak kok, Vin. Tenang aja."
Aku duduk dihadapan Celvin demi menyaksikan respon Celvin setelah menyantap hidangan tersebut. Ia mulai membuka bungkus kertas dan daun pisang yang digunakan. Ia masih menatapku dengan ekspresi ragu-ragu. Bahkan, Celvin mengendusnya terlebih dahulu. Sedangkan aku berharap ia bisa menyukainya.
Celvin mulai mengambil makanan tersebut menggunakan sendok plastik yang sudah tersedia. Ia mulai mengunyahnya perlahan-lahan. Dan bom! Wajahnya memerah padam. Seketika ia panik mencari air minum. Aku sampai terpingkal-pingkal karena ulahnya. Sepertinya Celvin tidak menyukai makanan pedas. Baru sekali kunyah saja, buliran keringat mengucur deras di wajahnya.
"Fanniiiiii!!!" serunya kepadaku. "Kamu ngerjain aku?! Gilak! Pedes banget! Mana aer???"
"Hahaha... haha.. hahaha... sorry, Vin. Gue ehh aku nggak tau, kalau kamu nggak suka pedes. Maaf ya maaf," ujarku.
Kemudian aku bergegas mengambilkan sebotol air mineral yang selalu tersedia di ruangan ini. Kuberikan air tersebut kepadanya.
Kejadian tak terduga yang terkesan lucu. Niat ingin mengenalkan tentang makanan orang kecil, malah jatuhnya mengerjai atasanku. Gilanya, aku seberani itu. Bahkan tawaku tidak bisa tertahan lagi. Konyolnya, Celvin pun ikut tertawa karena ulahku. Ia tidak marah sama sekali. Bos yang baik bukan? Mantan pembully yang akhirnya berteman baik dengan mantan korban bully. Tidak ada yang tahu akan rencana Tuhan.
Kekonyolan ini masih berlangsung hingga beberapa menit lamanya. Celvin tidak kapok dan masih mencoba makanan tersebut. Tentunya, diselingi dengan tegukan air minum untuk mengurangi rasa pedas. Sampai aku lupa akan masalah Mas Arlan dan Nia. Bahkan ponsel yang bergetar sejak tadi, aku abaikan begitu saja.
Yah, setidaknya Tuhan selalu berbaik hati kepadaku. Aku selalu diberikan hiburan untuk menenangkan hatiku yang terluka.
__ADS_1
Bersambung...
Budayakan tradisi like+komen...