Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Bantuan


__ADS_3

Langit perlahan menunjukkan jingga indahnya. Jika menjelang maghrib seperti ini suasana kawasan memang cukup sepi. Hanya satu dua kendaraan yang lewat itupun orang bersepeda motor. Sialnya, mereka tidak peduli sama sekali.


Aku berjalan mondar-mandir sambil menggigit jari. Kalau berjalan keluar masih lumayan jauh. Dan juga aku tidak rela meninggalkan mobil merahku sendirian. Takutnya ada orang jahat seperti perampok misalnya, melucuti segala benda di mobilku. Jangan sampai deh, amit-amit.


Suara jangkrik mulai bersahut-sahutan. Hingga beberapa menit kemudian alunan merdu adzan mulai terdengar. Dan aku masih belum menemukan jalan keluar. Aku berharap ada sosok malaikat yang membantu sekarang. Tapi itu mustahil kan? Yang ada malah hantu datang dari kuburan disampingku.


"Fyuuuuhhh." Kuhela nafas pasrahku.


Aku kembali masuk kedalam mobil. Tanganku meraih ponsel di ranselku. Setelah itu, jariku bermain diatas layarnya. Aku bimbang akan meminta bantuan siapa.


Jika Aku meminta tolong Nike pasti tidak enak. Kalau ibuku atau ayahku, nantinya malah akan diceramahi panjang kali lebar kali tinggi. Tomi! Tidak-tidak, selain bawel ia selalu mencari alasan-alasan untuk menolak permintaanku.


Lalu siapa? Apakah harus orang tuaku. Kalau dimarahi bagaimana? Lebih parahnya lagi, jika aku diharuskan kembali kerumah. Tentu saja, aku tidak mau. Apalagi harus serumah dengan Kak Pandhu yang sebentar lagi akan menikah dengan Febi. Membayangkannya saja aku sudah muak.


"Aaarrrrrggghhh gimana dong mana gak punya nomer bengkel lagi." Geramku sendiri.


Kepalaku tertunduk pasrah diatas bulatan setir. Sedangkan bibirku tidak berhenti membaca do'a selamat. Nyaliku sangat kecil tidak sepadan dengan badanku yang besar. Aku sangat takut jika berhubungan dengan hantu dan tempat-tempat astral.


"Mas Arlan!" Ujarku ketika terlintas wajah Mas Arlan dibenakku.


Tak apa-apa kan? Jika aku meminta tolong padanya. Hanya Mas Arlan yang akan mengerti situasiku sekarang. Aku rasa ia tidak akan keberatan dan pastinya tidak akan mengomel seperti ibuku.


Semoga saja Mas Arlan bisa membantuku. Aku pasti akan membalas budi padanya dilain waktu.


Dengan sedikit tidak enak hati, akhirnya jariku berkelana di atas layar ponsel mencari keberadaan kontak bernama Mas Arlan. Aku menekan tombol panggil di sebuah aplikasi chatting yang saat ini sedang booming. Aku berharap ia bisa membantu dan tidak menolakku. Kalau sampai ia tidak bisa, mau tidak mau aku harus menelepon ibuku.


"Tuuuttt... tuutt... tuutt." Bunyi panggilan keluar dari ponsel menunggu sang pemilik nomor mengangkat.


"Halo Assalamu'alaikum dek." Jawab seseorang dari kejauhan yang tidak lain adalah Mas Arlan.


"Wa'alaikumssalam mas." Jawabku.


"Tumben dek telpon duluan. Kenapa?"


"Anu mas itu ehmm..."


Ternyata ekspetasi tidak sesuai kenyataan. Jika tadi aku sangat yakin ingin minta tolong. Sekarang, rasanya berat sekali mau mengutarakan niatku. Suara Mas Arlan yang lembut membuat nyali menciut. Namun, aku tetap meyakinkan diri untuk bicara. Hanya ini pilihan yang tepat.


"Dek?" Panggil Mas Arlan lagi.


"Ii... iyaa mas." Jawabku dengan tergagap.


"Kamu kenapa? Kok kayak panik gitu?"


"Anu mas gimana ya."


"Ngomong aja yang santai gak papa."


"Ii... ini mas ban mobil aku kempes parah."


"Ya ampun dek kirain kenapa. Kamu dimana sekarang? Biar mas samperin."


"Emang gak papa mas?"


"Santai aja sih hmm..."


"Aku di kawasan industri deket pabrik garment pas disamping makam umum."

__ADS_1


"Aduhh maghrib gini maennya di kuburan dek dek, ati-ati lho ya jam segini ka..."


"Mass jangan nakutin napa!"


"Hehe iya udah kamu disitu bentar lagi mas nyusul."


"Iya mas makasih sebelumnya."


Mas Arlan mematikan panggilannya. Syukurlah, ia bisa membantu. Aku bisa bernapas lega sekarang.


Mataku tetap waspada mengamati sekitar jalan sambil menunggu kedatangan Mas Arlan. Sepi sekali, penerangannya pun minim. Hanya lampu-lampu pabrik yang menyala benderang. Menandakan karyawannya sedang bekerja di shift dua, yang biasanya dimulai dari jam tiga sampai jam sebelas malam.


Aku menelan ludah ngilu ketika melihat seseorang tampak berjalan-jalan di area pemakaman pada saat waktu maghrib seperti ini. Tubuhku gemetar, benakku melayang memikirkan hal yang tidak-tidak.


Mungkinkah ia manusia? Tapi kenapa manusia ada di kuburan jam segini? Sial, kalau hantu gimana?


Deg.. Deg... Deg...Deg...


Debaran jantungku seakan merontokkan semua tulangku. Aku berharap Mas Arlan cepat datang. Aku sangat ketakutan. Dan kini hanya bisa memejamkan mata gelisah. Aku ingin pergi dari sini. Aku bersumpah tidak akan melewati jalan ini lagi setelah ini.


"Tokk... Tokk... Tokk..." Seseorang mengetuk jendela mobilku. Dengan hati yang masih ragu-ragu aku memberanikan diri membuka mataku dengan harapan orang tersebut adalah Mas Arlan.


"Wuaaaaaaaaaaaaaaaaa mamaaaaaaaaaa!!!" Ujarku sangat kaget melihat si pengetuk jendela mobilku.


Dia bukan Mas Arlan. Wajahnya putih pucat menempel di jendela mobilku sembari melirik seram. Aku panik seketika dan menutup wajahku dengan ransel.


"Pergi... pergi... pergi... setan aku gak ganggu pergi!!! Aku mohooon!!!" Ujarku ketakutan tanpa mau melihatnya lagi.


Aku terus seperti itu hingga si pengetuk berhenti dan menghilang. Bahkan aku benar-benar tidak berani meski sekedar meliriknya.


"Dek... dek... ini mas lho dek buka." Terdengar suara tidak asing memanggilku.


Aku menatapnya segera. Mas Arlan terlihat disana. Aku mengatur napas terlebih dahulu sebelum menemuinya. Setelah itu aku membuka pintu mobil perlahan dan waspada.


Kakiku melangkah keluar dari mobil. Aku mendapati Mas Arlan yang cengengesan sembari menatapku. Dan disisinya ada seorang kakek-kakek berkulit putih memakai blangkon khas suku jawa.


Astaga! Jangan-jangan kakek itu yang mengetuk jendelaku tadi. Apa yang aku lakukan, aku merasa takut dengan manusia? Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku salah tingkah sekaligus tidak enak hati karena mengganggap kakek tersebut hantu.


"Dekk... Dekk kamu kenapa? Hahaa." Ujar Mas Arlan yang masih saja terkekeh girang.


"Apaan sih mas, udah kali ketawanya. Gak lucu tau." Jawabku geram.


"Aduhh maaf ya neng kayaknya kakek ngagetin kamu. Kirain nengnya kenapa jam segini berhenti disini. Ternyata bannya kempes toh hehe." Kata kakek tersebut.


"Saya yang minta maaf kek sudah mikir yang enggak-enggak."


"Gak papa neng kakek tadi ambil barang yang ketinggalan di makam, saya juru kuncinya disitu. Lain kali hati-hati ya jalanan sini banyak paku sama beling. Kakek permisi dulu."


"Makasih kek."


Rasa takutku sirna seketika dan kini berganti dengan rasa sebal. Mas Arlan masih saja terkekeh girang. Aku menyilangkan kedua tangan diatas dadaku. Menunggunya tenang kembali. Sepertinya ini lelucon baginya.


"Mas Arlan udah sih." Ujarku geram.


"Lagian kamu aneh-aneh aja dek dek. Mana ada hantu, adanya jin didunianya sendiri kita gak bakalan bisa liat haha." Ujarnya


"Yaudah ihh namanya juga panik mas."

__ADS_1


"Hehe iya-iya sayang."


"Haaah?"


"Enggak maksudnya dek maaf mas kebawa manggil Selli hehe."


"Ohh."


Aku pikir apa. Ternyata salah panggil saja. Hampir saja jantungku meloncat mendengar ucapan sayang dari Mas Arlan. Namun tidak sampai membuatku berpikir lebih, lagipula kami teman. Dan aku tidak pernah membayangkan sejauh itu seperti penilaian Nike ataupun ibuku.


"Ayo masuk ke mobil mas." Ajak Mas Arlan.


"Haah masuk?" Tanyaku tersontak.


"Iyalah kamu mau pulang gimana coba?"


"Tapi si merah gimana?"


"Tenang aja mas udah panggil pihak bengkel kesini."


"Terus ditinggalin disini gitu?"


"Iya dek, entar montirnya kesini kok."


"Ihh gak mau aku mau nungguin sampe montirnya dateng."


"Hmmm... emang kenapa sih?"


"Gak mau aja, aku gak tenang kalo ninggalin si merah sendirian."


"Iya-iya adek cantik."


Mendengar perkataan terakhir Mas Arlan aku menjadi sedikit malu. Aku merasa sikapku sangat manja dan keterlaluan padanya. Namun disisi lain aku tidak rela meninggalkan mobil kesayanganku sendirian disini. Aku tau ini tidak benar, sudah minta tolong tapi banyak maunya.


Kecanggungan merasuk kedalam hatiku. Kini aku maupun Mas Arlan sama-sama terdiam. Mungkinkah ia kesal padaku? Duhh, bodoh sekali aku sangat kekanak-kanakan seperti itu.


Bersambung...


Hayooo siapa yang kepikiran Celvin yang bakal nolongin???? πŸ˜†πŸ˜†


Masa' seorang CEO lewat jalan tikus sih sis, kalo pun mendesak sepertinya CEO akan memilih sewa aparat kayak pejabat negara biar ngebuka jalanan macet deh 😁😁


So, jangan lupa like+komen+fav+bintang.


GRATISS!!!


Dan ini visualnya FANNISA OKTAVIANI GERALDINE



Maaf ya kalo agak maksa.soalnya nyari visual sesuai karakter Fanni yang blasteran indo belanda susahh guys. cantik tapi gemuk..


Aku sampe begadang lho πŸ˜†


tetep stay ya eps selanjutnya akan ada visual MAS ARLAN, CELVIN dan tokoh lainnya.


Biar ngebentuk sebuah film di imajinasi kalian masing2 😁😁

__ADS_1


__ADS_2