
Aku dan Mita yang telah turun dari mobil, kini sedang berusaha membuntuti mereka bertiga. Menggunakan masker dan topi untuk menutupi wajahku, namun tidak dengan Mita, ia hanya memakai topi saja. Yah, meski tidak akan berhasil menutupi secara penuh. Yang pasti kami berdua berusaha untuk tidak ketahuan oleh mereka bertiga.
Mas Arlan, Selli dan juga si Tante Nia itu sedang berjalan memasuki suatu area permainan anak. Sedangkan aku dan Mita terus berada di belakang dengan jarak beberapa meter dari mereka. Sesekali kami mampir di suatu kios untuk menyembunyikan diri. Intinya sudah seperti agen rahasia, namun dalam gaya yang amatiran.
"Loe mau ngapain, Mit ...?" tanyaku kepada Mita dengan nada berbisik. Sampai saat ini, ia belum mengatakan apapun kepadaku.
"Entar, gue cari bocah dulu," jawab Mita sembari melihat ke segala penjuru mall ini. "Nah! Hei kalian, adek-adek SMP ya?" tanya Mita kepada beberapa orang anak ABG yang sedang melintas. Ada tiga orang jumlahnya dan semuanya laki-laki. Bukan hal tabu untuk anak-anak kota bermain ke tempat seperti ini, meski tidak bersama orang tua.
Mereka menghentikan langkahnya dan menemui Mita. "Iya, Kak. Kenapa, Kak?" tanya salah satunya.
"Emm ... enggak bareng orang tua?"
Mereka menggelengkan kepala. Ada salah satu yang mengernyitkan dahi, pasti ia sedang keheranan atas pertanyaan yang dilontarkan Mita. "Kakak siapa ya?"
"Kakak ini seorang model. Emm ... boleh minta tolong nggak? Nanti Kakak bayar, banyak."
Model?
Pastinya, mata mereka berbinar-binar. Entah, apa yang direncanakan oleh Mita dengan menggunakan mereka bertiga. Aku sedikit sangsi lantaran mereka masih anak-anak. "Mita, jangan ah. Masih bocil semua," sergahku. Namun Mita hanya menatapku sekilas dan tidak peduli.
"Minta tolong soal apa dulu nih, Kak?" tanya salah satu dari ketiga remaja itu. Bahkan gayanya sangat tengil.
Mita menunjuk. "Loe lihat orang bertiga itu, 'kan? Yang ada adik kecilnya? Yang lagi main di tempat permainan anak?"
Remaja yang bertanya tadi lantas mengangguk. "Iya, iya tahu, Kak. Kenapa emangnya?"
"Samperin yang perempuan, terus loe bertiga teriakin dia dengan sebutan mama. Loe bertiga peluk dia tiba-tiba. Tapi, hati-hati kalian jangan sampe jatuh. Kalau dia nggak apa-apa. Loe bertiga langsung kabur kalau dia panggil security. Pokoknya loe bertiga recokin aja deh, sampe dia sebel dan malu!"
Apa? Apakah ini tidak keterlaluan?
Aku masih berusaha mencegah Mita, namun niat hati wanita satu ini memang benar-benar sangat kuat. Aku kalah dan memilih diam. Astaga! Tampaknya aku salah karena bermain-main dengan orang seperti Mita. Namun, semua sudah terlanjur. Kalau aku mencegahnya lagi, pasti ia tidak terima dan kami bisa saja bertengkar. Lebih parahnya jika sampai ketahuan oleh Mas Arlan dan Nia. Aku hanya bisa pasrah dan diam sembari menghela napasku.
Ketiga remaja yang tidak aku ketahui namanya itu, kini sedang berunding. Anak-anak SMP yang sangat nakal dan usil sepertinya. Padahal seusia mereka seharusnya sudah belajar ataupun beristirahat didalam kamarnya. Malah sekarang terlibat dengan Mita. Astaga!
"Bentar dulu, Kak. Kakak bayar kita berapa?" tanya sang remaja yang lebih berani tadi. Tentunya dengan sikap yang jauh lebih tengil seperti seorang preman kecil.
"Wow!" pekik Mita. "Calon preman loe, Dek. Tenang, duit gue banyak. Gue kasih enam ratus ribu gimana? Bagi tiga?"
"Mita!" sergahku. Sekali lagi, ia mengabaikanku. Siapa yang punya masalah, siapa yang geram dan ingin mengerjai. Aku menepuk jidatku seketika.
Remaja tadi mengangguk bersama kedua temannya. "Oke, Kak. Kita mau, tapi janji ya? Sekarang, 'kan?"
"Iyalah, sekarang. Masa' tahun depan. Tapi inget kalian jangan bilang kalau ini suruhan gue. Nih gue bayar cash. Gue tahu kalian nggak ada duit." Mita merogoh tasnya dan mengeluarkan enam lembar uang ratusan ribu.
Kalau begini caranya, gue punya hutang nih. Sabar Fanni, sabar anakku sayang.
Dibalik pilar yang besar yang tidak jauh dari tempat Mas Arlan, Selli dan Nia berada, aku dan Mita bersembunyi sembari mengintip aksi yang akan dilakukan ketiga remaja itu. Sedangkan mereka bertiga sudah berangkat kesana. Jatungku berdebar-debar tidak menentu, tubuhku bergetar luar biasa. Haruskah sampai sejauh ini? Sungguh, Mita adalah orang yang sangat menakutkan!
"Mamaaaaaaa!" teriak ketiga remaja itu secara bersamaan. Aksi pertama telah dilaksanakan. Mita menyeringai sembari mengintip. Aku menegang, dengan debaran jantung yang semakin kencang dan tidak beraturan.
Nia terkejut bukan kepalang, bahkan sampai tidak bisa melarikan diri ketika ketiga remaja itu memeluk erat dirinya. "Hei! Apaan sih?! Kalian siapa, saya bukan mama kalian. Hei lepasin, hei, hei! To-tolong, Arlan. Mereka siapa?!" Nia terus berusaha melepas pelukan ketiga remaja itu.
Mas Arlan tampak terbengong-bengong saja. Bahkan, Selli yang sedang menaiki suatu permainan sampai menganga lebar di bibirnya.
"Mama kok gitu sih? Mama kok ninggalin kami bertiga? Inget papa, Ma. Papa nungguin Mama pulang. Mama ayo kita pulang," ujar remaja tengil tadi.
"Iya, Ma. Kasihan Papa, ayo Ma pulang, Ma. Ayok. Jangan tinggalin kita," sambung salah satunya. Sedangkan yang satu lagi sedang berusaha mengecup pipi Nia yang cantik itu.
"Apa-apan sih?! Kalian ini siapa? Saya bukan Mama kalian, jangan ngarang deh!"
__ADS_1
Ketiga remaja itu terus merayu-rayu Nia bak anak yang tersakiti karena ditinggalkan oleh ibunya. Sampai-sampai, semua pengunjung berhenti dan menyaksikan, bahkan mengabadikan momen itu di ponsel masing-masing. Mas Arlan segera menggendong Selli untuk menjauh.
Nia tampaknya sedang panik parah sampai tidak terpikirkan untuk memanggil seorang security. Ia berusaha berkilah dan melepaskan ulah ketiga anak remaja itu. Tiba-tiba seorang wanita paruh baya datang mendekat dan menepuk bahu Nia. "Sudahlah, Bu. Saya saranin mendingan Ibu pulang. Kasihan anak-anaknya lho. Jangan jahat jadi orang tua," ujar wanita itu yang terdengar sampai ke telingaku.
"A-apa? Kalian percaya?! Bantu lepasin dong, mereka bukan anak saya! Hoe! Jangan rekam, saya bisa tuntut kalian," tegas Nia lagi. Namun usahanya tetap sia-sia, tidak ada satu orang pun yang mempercayainya. Hal itu membuat Mita semakin senang dengan seringai sinis dari wajahnya.
"Ya udah! Kalau Mama nggak mau pulang, nggak apa-apa. Kami bisa hidup sendiri, kami akan cari makan sendiri. Tapi, ingat ya, Ma. Semua orang akan tahu kalau mamaku adalah mama yang jahat," celetuk remaja tengil tadi dengan sandiwara kesedihannya. Wanita paruh baya tadi sampai mengbelai pundaknya dan memberikan kata-kata untuk menenangkan. Cerdas dalam sesuatu yang tidak benar, bukan?
Lalu, setelah mengatakan itu, ketiga remaja tadi melepaskan pelukannya dari Nia. Mereka bertiga meninggalkan Nia yang saat ini terduduk lemas di atas lantai mall. Si remaja tengil menatap Mita dari kejauhan dan mengerjibkan mata beserta jempol kesuksesan. Aku menghela napas panjang untuk mencairkan keteganganku. Ini sudah berakhir, bukan?
"Tontonan yang bagus 'kan, Fann?" tanya Mita kepadaku sembari tersenyum dan pasti sedang berbunga-bunga hatinya.
"Hobi loe buruk banget, Mit. Astaghfirllah," jawabku.
"Tenang aja ini baru permulaan, karna masih ada lagi."
"Apa?!"
"Pelan aja, Fanni ...! Nanti kita ketahuan, gue sih nggak apa-apa, mereka nggak kenal gue. Lah, loe?"
"I-iya, tapi. Tapi, udah cukup ah. Tadi udah bikin gue puas kok."
"Nggak, rencana gue bukan ini aja. Gue harap laki loe, bisa jaga anak loe. Karna yang satu ini lebih ekstrim lagi."
Deg! Apa lagi? Aku sudah merasa bahwa hal tadi sudah teramat luar biasa. Sedangkan kata Mita itu baru permulaan saja. Apa yang ada didalam otak wanita ini? Aku menelan salivaku dengan susah payah. Khawatir dan takut. Kutilik lagi ke arah Nia dan Mas Arlan. Suamiku tampak kebingungan dengan bukti ia sedang menggaruk kepalanya. Sedangkan Selli masih ada didalam gendongannya.
Perlahan, Nia mulai berdiri lagi. Raut kemarahannya belum juga sirna. Ia tampak menghela napas dalam, mungkin untuk menenangkan diri kemudian merapikan pakaiannya yang berantakan akibat ulah ketiga remaja tadi. Orang-orang yang tadi berkerumun sudah pergi.
"Dasar, bocah-bocah nakal!" tegas Nia sembari membuang wajahnya dari Mas Arlan. Disitu, aku tahu bahwa suamiku diam-diam sedang menertawainya.
"Kalau punya anak yang diurus. Biar nggak menyebabkan hal yang memalukan ini. Aku dan Selli jadi ikut terlibat, Nia," ujar Mas Arlan menyindir sang mantan istri itu.
"Mana kami tahu. Siapa tahu anak-anak tiri dari suami tersayangmu itu. Dan mereka udah nganggep kamu seperti ibu kandungnya."
"Nggak! Nggak ada, aku nggak kenal sama mereka! Eh, bentar ... jangan-jangan ini ulah kamu, Arlan? Kamu berusaha menjatuhkan aku, 'kan?!"
"Dih, mana ada aku begitu. Kayak kurang kerjaan aja. Jangan sembarangan, dari tadi aku disini.
Kurang kerjaan? Berarti kamu pikir istrimu ini kurang kerjaan, Mas! Asem!
Mas Arlan terlihat terus tertawa. Puas sekali. Hal itu membuat Nia benar-benar kesal. Semoga tidak ada kecurigaan darinya kepadaku. Kalau dipikir-pikir lagi, hal ini memang sangat kentara bahwa hanya setting-an belaka. Namun, jangan sampai Mas Arlan yang menyadari akan hal itu.
"Mas, mas ...!" Tiba-tiba saja, Mita memanggil salah satu cleaning service di mall ini. Dan orang itu datang menghampirinya. Mita memastikan letak cctv terlebih dahulu. "Mas, bantuin saya. Nanti saya bayar."
"Bantuin apa ya, Mbak?"
Apa lagi, Mita?! Gue pengen nangis sumpah!
Mita mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya yang berukuran lumayan besar. Aku sudah pasrah atas semua yang akan ia lakukan. Beruntung ada pilar ini menyajikan tempat duduk yang melingkarinya dan terbuat dari bahan bangunan. Aku lekas duduk karena sudah merasa pegal di kakiku. Yah, tentu saja dengan memastikan apa yang akan dilakukan Mita dan juga mengintip ke arah Mas Arlan dan kedua orang yang bersamanya.
"Nih, botol ini tolong tumpahin ke perempuan itu," ujar Mita sembari menunjuk diam-diam ke arah Nia yang masih menunggu Selli yang asyik bermain. Aku rasa, Mas Arlan tidak ingin diajak pergi atas kemauan Selli yang belum puas bermain wahana yang tersaji.
"Ta-tapi, Mbak. Saya nggak berani," jawab pria cleaning service ini.
"Tenang, gue bayar ... gue tanggung jawab kalau ada apa-apa."
"Tapi, Mbak sa-"
"Lima ratus ribu, gimana?"
__ADS_1
Mita, gue harus berhutang lagi. Ya Allah!
Pria itu tampak sedang mempertimbangkan tawaran dari Mita. Aku hanya bisa mengaduh pasrah dalam hati. Tujuan Mita memang untuk membantuku, namun hal itu sebenarnya sangat berbenturan dengan perasaanku. Jika bukan karena tidak ingin bertengkar aku pasti sudah mencegahnya. Sudah pun, ia tidak mendengarkanku sama sekali.
Ya, siapa sih yang tidak mau uang dalam waktu yang cepat dan mudah. Tentu saja, pria itu bersedia. Ia mengangguk pelan, meski masih agak ragu. Lalu, Mita tersenyum penuh kemenangan. Ia memberikan botol minuman tersebut kepada pria itu.
Oh, Tante Nia. Hari ini tampaknya nasib anda sangat malang. Maaf.
"Pokoknya orang itu harus basah. Terus jangan bilang kalau gue yang suruh. Nanti kalau udah, loe minta maaf dan balik ke sini buat ambil duitnya."
"Baik, Mbak."
Pria itu berlalu demi melaksanakan tugasnya. Aku terdiam disini, terduduk dan mengintip ke arah target berada. Mita masih bertahan dengan posisi berdirinya sembari tersenyum sinis.
"Aaaaaaaaaa! Kurang ajar kamu! Bisa kerja nggak sih, basah jadinya baju saya!" Pekikan Nia terdengar lagi oleh telingaku. Ya, tepatnya saat pria cleaning service tadi berhasil mengguyur tubuhnya dengan air dari dalam botol yang ia bawa.
Pria itu bergegas membantu membersihkan pakaian Nia. "Ma-maaf, Nyonya. Saya tadi terpeleset," jawabnya.
Nia mengibaskan tangan pria tersebut. "Jangan pegang-pegang saya. Lagian ngapain sih, kok kamu bisa masuk ke sini?!"
"Mama Nia, jangan marah-marah lagi. Kakaknya nggak sengaja!" teriak Selli memperingatkan sang ibunda.
"Tahu apa kamu, anak kecil!"
"Mama Nia kok gitu ngomongnya?"
"Eh, ah, a-anu ma-maaf, Sayang. Ma-mama hanya emosi."
"Selli nggak tahu emosi itu apa. Tapi, Mama Nia nggak boleh marah-marah lagi! Papa, ayo kita pulang. Selli udah kangen sama Mama Fanni."
Mas Arlan menggendong tubuh Selli lagi, kemudian mengangguk pelan. "Iya, Sayang."
Aku menganga lebar sembari membelalakkan mataku sama seperti yang Nia lakukan. Selli mengajak Mas Arlan untuk pulang sedangkan aku masih disini. Bisa mati aku, jika suami dan anakku tidak mendapatiku didalam rumah. Aku berdiri dari dudukku dengan tubuh yang bergetar. Bingung, itulah yang aku rasakan. Bahkan, aku sudah tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Mita saat ini.
"Ck!" Tiba-tiba Mita mengecap kesal melalui bibirnya yang cantik itu. Tanpa memperdulikan diriku ia mengambil langkah untuk pergi.
Aku tercengang luar biasa, saat kupastikan ternyata Mita hendak menghampiri Nia, Selli dan Mas Arlan berada. Apa yang akan ia lakukan? Dan ... tiba-tiba saja, Mita menarik rambut Nia dan melemparkan telapak tangannya ke wajah Nia. Aku semakin tercengang, bahkan tubuhku kaku tidak bisa bergerak pada saat mendengar pekikan dari Nia. Mas Arlan memeluk dan menutupi wajah Selli.
"Kamu siapa?! Tiba-tiba tarik rambut saya dan memukul pipi saya?!" tanya tegas Nia.
"Kamu kan yang menggoda papa aku?! Kamu wanita nggak bener itu, 'kan?! Kamu tante-tante tidak tahu diri itu, 'kan?!" balas Mita dengan pertanyaan yang tidak aku mengerti sama sekali. Orang-orang kembali berdatangan menyaksikan pertengkaran mereka. Bahkan yang sedang berada di tangga escalator melakukan hal yang sama.
Apa maksud loe, Mit?
Nia tampak mendorong Mita. Beruntung, tidak sampai terjatuh. "Saya tidak kenal kamu. Kamu melantur ya?! Bisa-bisanya nuduh orang dengan sembarangan!"
"Enggak! Bener, kamu orangnya yang menggoda papa aku. Kamu harus tanggung jawab atas penderitaan ibuku. Tanggung jawab!" Mita menggoyangkan tubuh Nia, bahkan ia sampai mengunci pergerakan Nia. Ia sedikit menoleh ke arahku dan memberikan suatu intruksi disela perbuatannya.
A-apa? Oh, gue tahu!
Aku berbalik badan dan pergi dari tempat ini. Tampaknya Mita sedang mengalihkan perhatian Mas Arlan supaya tidak pulang sekarang lantaran aku masih berada disini. Namun, bagaimana dengan Mita sendiri? Untuk saat ini, aku hanya bisa menuruti permintaannya itu. Aku tidak mau menyia-nyiakan usahanya supaya aku bisa pulang lebih cepat.
"Makasih, Mita. Maaf, nanti gue bales budi ke loe. Untuk saat ini gue belum bisa. Gue harap loe baik-baik aja dan nggak masuk ke dalam masalah," gumamku. Aku terus mengayunkan kakiku untuk keluar dari gedung mall yang besar ini.
Sesampainya diluar, aku menyetop taksi yang lewat untuk sampai di rumah. Tentunya dengan sejuta perasaan tidak enak. Nanti malam, aku akan menghubungi Mita dan memastikan semuanya.
Bersambung ...
Please . like+komen.
__ADS_1