
"Kalau Anda masih seperti ini, justru Anda tidak bisa membuat keputusan sebaik mungkin. Bukan seperti ini! Tolonglah, demi saya," ujar Mas Arlan di malam yang begitu dingin. Mungkin sekitar jam sebelas-an. Aku hanya bisa mendengarnya, meski samar. Tidak bisa aku pastikan ia sedang berbicara dengan siapa, yang pasti suaranya khas milik wanita. Yang pasti ia sangat kesal sekali, bahkan aku tidak berani untuk mengganggu. Setelah itu, sepertinya panggilannya dengan seseorang itu telah ia akhiri.
Mas Arlan berada di meja kerjanya. Kendati sudah kembali ke kantor, ia tetap bekerja keras di rumah. Terlebih, seminggu sebelum lebaran, sudah ada cuti bersama. Otomatis ia sudah mendapatkan libur lagi, namun tidak dengan pekerjaan yang menumpuk di rumah.
Beberapa kali, aku masih mendengar suamiku itu tengah menghela napas yang begitu berat, kemudian ia hembuskan lagi secara kasar. Aku tidak tahu perihal apa yang menyebabkan dirinya semarah itu, bahkan di malam hari seperti ini. Rasa-rasanya keadaan kantor begitu normal, aku masih datang disaat Mas Arlan sudah di sana untuk mengurus serah terima. Dan tidak ada masalah apa pun.
Lalu, tiba-tibw terdengar suara tangis dari Sella. Mau tidak mau, aku membangunkan diriku sembari berpura-pura tidak tahu. Aku khawatir jika diriku malah membuatnya semakin merasa kesal. Aku turun dari ranjang ini, di mana hanya ada aku sendiri, sementara suamiku duduk di tempat kerjanya.
"Hai, Sayang. Haus ya, eum." Sembari berkata demikian, aku mengangkat tubuh Sella yang bibirnya tengah menangis. Kemudian aku memberikan ASI untuknya. Aku duduk di tepian ranjang, tanpa sedikit pun menatap Mas Arlan.
"Hmm ... gadis cantik, malem-malem kok udah bangun sih?" Kuusap pipi Sella dengan lembut.
Tak lama kemudian, tapak kaki milik Mas Arlan terdengar berjalan menghampiri ranjang ini. Sampai akhirnya, ia benar-benar naik ke atas dan merebah di sana. Ia terdengar menghela napas untuk kesekian kalinya. Tampaknya suasana hatinya benar-benar sangat kacau. Aku tidak berani bertanya sama sekali.
Dalam beberapa menit yang habis setelah aku terbangun, Mas Arlan benar-benar tidak mengatakan sepatah kata pun, seolah keberadaan tidak dianggap olehnya. Aku pikir ia sudah memejamkan mata dan tertidur, namun suara lenguhannya masih saja terdengar. Kali ini aku sangat bingung, tidak mungkin kami saling berdiam dalam waktu yang lama.
"Bobo' lagi ya, Sayang." Setelah dirasa cukup, dan Sella kembali tertidur, aku menidurkannya lagi di dalam ranjang goyangnya. Jika bersamaku, aku takut kena timpa tubuh Mas Arlan yang pecicilan ketika tidur sekalipun.
Saat aku berbalik dan hendak merebau kembali, aku mendapati Mas Arlan yang tengah melamun. Ia menatap langit-langit kamar tanpa bersuara sedikit pun. Namun aku masih merasa takut ketika ingin bertanya. Tanpa kuperdulikan dirinya, aku kembali merebah di sampingnya dan membelakanginya.
"Emm ...." Tiba-tiba, Mas Arlan membelai halus pipiku. Bahkan di detik berikutnya, ia mengecup pipiku dengan lembut. "Tidur lagi, Sayang," ujarnya.
"Iya, Mas," jawabku sembari membalikkan badanku untuk menghadapnya. "Kamu juga tidur, ya?"
"Mas habis minum kopi, Dek. Seger banget matanya."
"Besok masih sahur, Mas. Nanti malah enggak tidur kamunya." Tanganku berbalik membelai pipinya.
"Besok libur, kan? Cuti bersama."
"Enak ya? Baru juga sehari masuk, udah libur lagi."
"Kalau enggak gitu, lebaran enggak sama Mas kamu dan anak-anak."
"Iya sih. Kamu mau ajak kami kemana, Mas?"
"Maunya kemana, Sayang?"
"Nggak tahu, rasanya udah lama banget kita enggak jalan-jalan. Ada si kecil juga, aku masih takut bawa jalan jauh."
Ia hanya berdeham, kemudian direngkuhnya kepalaku ke dalam pelukannya. Mas Arlan-ku kembali, meski aku tidak tahu suasana hatinya yang sebenarnya. Untuk saat ini pun aku belum berani bertanya. Meski ia sudah kembali ramah, namun ia butuh waktu untuk kembali tenang, bukan?
Malam yang semakin dingin, membuat kantukku datang kembali. Rasanya tidak ingin meninggalkan Mas Arlan yang belum mengantuk. Namun sepertinya, mataku benar-benar tidak bisa bertahan. Aku ingin tidur.
****
"Sudah enggak ada waktu lagi. Mohonlah jangan begini, hargai saya. Seenggaknya datang saja, saya sudah buang banyak tenaga dan uang lho." Mas Arlan kembali berbicara.
Kukerjibkan mataku beberapa kali, aku menatap dirinya sudah tidak ada di sampingku. Kembali kuperbaiki penglihatanku. Aku mendapati Mas Arlan yang sedang menelepon lagi, sepertinya orang yang sama. Ia tengah berdiri di hadapan jendela. Sedangkan waktu masih menunjukkan pukul satu tengah malam.
Sejujurnya, aku sedikit terganggu. Aku juga merasa khawatir jika Sella kembali terbangun akibat suara sang ayah yang tengah marah itu. Belum lagi, sang ayah sepertinya belum tidur sama sekali. Lantas, apa dan siapa yang tengah membuatnya marah sampai terjaga di malam hari seperti ini?
Mas Arlan menghela napas dalam. "Tidak ada waktu untuk membuat keputusan lagi. Tolong, kasihani saya saja," ujarnya dengan ponsel itu.
Kini aku menatapnya, tidak tertidur lagi. Aku sudah tidak mengantuk. Kini rasa penasaran kian merasuk ke dalam hatiku. Sedangkan benakku benar-benar kosong, aku tidak bisa menduga siapa yang sedang berbicara dengannya.
"Saya tunggu! Besok dan lusa, tidak lebih dari itu. Semua biaya saya yang tanggung!" Ia masih berbicara dengan sangat tegas.
__ADS_1
Akhirnya, aku membangunkan diriku. Dalam diam, aku bersandar pada papan ranjang. Kedua kaki kulipat untuk menopang dagu. Sedangkan mataku tetap mengawasi Mas Arlan yang bahkan tidak menyadari diriku yang terbangun karenanya.
"Iya. Saya tahu, pasti. Saya akan lakukan sesuai permintaan Anda. Hmm ... tidak akan, tenang saya. Anda aman." Setelah itu ia mengakhiri panggilan itu. Ia menghela napas lagi, dalam beberapa saat ia termangu dan menatap jendela yang masih tertutup gorden.
Detik berikutnya, Mas Arlan membalikkan badan. Ia tersentak kaget pada saat mendapatiku yang terduduk sembari menatapnya dengan tajam. Tangan kirinya yang sejak tadi dimasukkan ke dalam kantong celana kolor, kini dikeluarkan dan mengusap tengkuknya. Ia menyengir. "Kok udah bangun, Dek? Masih jam satu lho," tanyanya kepadaku.
"Ada alarm yang enggak sengaja terdengar telinga, Mas," jawabku sembari membuang pandanganku ke arah lain.
"Ma-maaf, Dek. Suara Mas kenceng banget ya?" Mas Arlan berjalan menapaki lantai keramik berwarna cream untuk kembali ke atas ranjang.
Kemudian, setelah sampai ia menghampiriku. Dikecupnya lagi pipiku dengan lembut. "Maaf, Dek. Mas ganggu banget ya?"
"Emm ... tadi emang telepon sama siapa?" Akhirnya aku tidak bisa lagi menahan rasa penasaranku. Aku menatap harap pada wajah Mas Arlan. Aku ingin ia menjawabku.
Namun, ia hanya menelan saliva kemudian membuang pandangannya ke arah lain. Mas Arlan tidak lagi menghadapku, melainkan duduk di sampingku dengan posisi yang sama. Apa ini? Ia mau menyembunyikan sesuatu dariku?
Karena ia berlaku seperti itu, akhirnya aku membiarkannya saja. Aku turun dari ranjang. "Nitip Sella, Mas. Aku mau ke kamar kecil."
"Iya, Dek."
Aku berbalik badan lagi, kutatap keadaan Sella secara sekilas lalu melangkah keluar. Suasana di luar masih sangat gelap karena lampu yang belum dinyalakan, terkadang sampai membuatku bergidik ngeri. Terlebih tengah malam seperti ini. Namun bukan hanya ingin membuang hajat, aku juga merasa haus yang tiada terkira. Akhirnya, amu tidak mau aku turun menapaki anak tangga.
Sesampainya di bawah, aku bergegas menyalakan lampu ruangan supaya suasana lebih terang. Kamar tidur milik Bi Onah juga masih tertutup, menandakan penghuninya masih terlelap. Aku mengedarkan pandanganku ke arah dapur, agak takut namun harus tetap melangkah maju.
Sesampainya di sana, aku kembali menyalakan lampu. Setelah itu, menuju kamar kecil.
Segelas air dingin berada di hadapanku, sembari duduk aku menyesap air itu. Rasanya malas kembali, terlebih harus melihat Mas Arlan yang suasana hatinya sedang tidak nyaman. Entah sebab apa yang membuatnya seperti itu, bahkan rela tidak tidur sama sekali. Lagi pula, malam seperti ini siapa yang menghubunginya? Wanita mana yang tidak curiga, coba? Malah, benakku membayangkan banyak hal negatif yang tidak ada ujungnya dan jawabannya.
"Sebenarnya, siapa dan apa yang buat Mas Arlan marah, terlebih cemas kayak gitu sih?" gumamku bertanya pada angin lalu yang pasti tidak tahu jawabannya.
"Lho?" Bi Onah tampak berjalan dari ruang tengah. "Mbak Fanni kok udah bangun?" tanya beliau kepadaku.
"Iya, Bi. Haus. Bibi sendiri?" tanyaku kembali.
Bi Onah tersenyum. "Kebelet hehe."
"Owalah."
"Mau sekalian masak sahur ini, Mbak."
"Enggak kecepetan apa, Bi?"
"Ya, enggak, Mbak. Ngiris-iris dulu. Numisnya jam dua, kalau tidur lagi takut labas."
"Emm, gitu. Pantes tiap Fanni mau bantuin, Bibi udah kelar masak. Ternyata begitu."
Bi Onah hanya terkekeh kecil. Kemudian, beliau melanjutkan niatnya ke kamar kecil. Aku menghabiskan sisa minumanku di gelas belimbing ini. Kemudian, berdiri lagi. Meski masih enggan untuk kembali, aku tetap merasa khawatir kepada Sella. Takut jika ia bangun dan menangis, belum tentu Mas Arlan sanggup menanganinya.
Kakiku kembali melangkah menuju lantai atas. Waktu masih menunjukkan pukul setengah dua dini hari. Masih lama sekali menuju sahur. Biasanya aku bangun ketika alarm di ponsel berbunyi, dan itu di jam tiga. Lalu, ketika sampai di hadapan tangga, aku terdiam sejenak. Gusar, aku masih malas naik.
"Hah! Sebel!" Aku melenguh. Sampai akhirnya aku tetap naik ke atas, semua demi Sella. Lagi pula, siapa tahu Mas Arlan akan mengatakan yang sebenarnya.
Anak tangga ini, kutapaki satu persatu. Entah apa jadinya jika ia manusia, pasti akan merasa kesakitan karana setiap waktu diinjak seperti ini. Meski berjumlah lima belas buah, tetap saja ia tidak bisa membuatku lebih kurus. Mungkin karena diriku, juga malas berolahraga. Sesuatu yang tidak boleh ditiru. Aku terlalu sibuk dengan kedua anakku, ketika lelah maka akan ikut tertidur. Rasanya waktu luangku lebih banyak ketika masih hamil, bahkan setiap sore hari, aku rajin berolahraga jenis yoga.
Ya sudahlah.
Pada saat aku berada di hadapan pintu kamar yang masih terbuka setengah, aku kembali mendengar suara Mas Arlan yang kembali berbincang dengan seseorang.
__ADS_1
"Oke, saya atur. Jadi, gimana? Sudah buat? Saya akan senang sekali, enggak sabar bertemu." Seperti itu, aku rasa ia juga tersenyum.
Apa-apaan sih?!
Ia tidak lagi terdengar sedang marah, bahkan tertawa. Bak baru mendapatkan sesuatu dari orang itu. Ia juga berterima kasih atas perhatian dan pengertian dari orang itu.
Siapa sih?!
"Ah ya, hehe. Siap tunggu ya. Hmm ... istri saya akan baik-baik saja kok. Tenang saja, dia juga belum tahu."
What?
"Hmm ... entahlah, mungkin kita bisa atur besok. Soal biaya, tenang saja."
Biaya?
Perhatian, pengertian, ketidaktahuanku lalu biaya. Apa itu? Bahkan ia tetap tidak tidur sampai sekarang. Aku pikir ia akan terlelap ketika aku pergi ke dapur. Ternyata malah asyik-asyikan dalam bercengkerama dengan seseorang yang tidak aku ketahui.
Untuk wanita gendut seperti diriku, tentu saja takut. Apa lagi godaan wanita cantik zaman sekarang sangat mengerikan. Ketika membayangkan kemungkinan itu, membuat jantungku berdegup kencang. Bahkan, aku sampai terduduk lemas di depan pintu kamar. Bibirku bergetar, aku cemburu, namun tidak tahu cemburu kepada siapa. Terlebih, ketika Mas Arlan mengakhiri panggilan itu dan bersenandung dengan merdu.
"Oke! Gue enggak boleh cengeng dan berprasangka buruk. Lagian, Mas Arlan enggak bicara aneh-aneh kok. Nggak ada kalimat mencurigakan lebih dari itu ...," gumamku lirih demi menenangkan hatiku sendiri.
Setelah itu, aku bangkit. Dengan gerak yang masih kaku, aku kembali masuk ke dalam kamar. Sungguh, bahkan leherku sulit sekali digerakkan. Aku gugup bersama dengan rasa gelisah. Sedangkan Mas Arlan kini melempar ponselnya di samping bantal. Ia menatapku.
"Kenapa lama sekali, Sayang?" tanyanya kepadaku. Ia merebahkan diri dengan senyuman sekarang, bukan emosi seperti tadi.
"Bu-bukan urusan kamu!" tegasku meski gugup.
Dahinya mengernyit. "Kok gitu, jawabnya?"
Aku tidak memberikan jawaban. Kembali kurebahkan diriku di sampingnya, namun membelakanginya. Sedangkan kedua bola mataku masih berputar-putar bak menyapu seluruh ruangan. Jantungku berdebar tidak karuan.
"Dek?" Tangan Mas Arlan menyentuh lenganku yang besar. Ia kembali mengecup pipiku dan tanpa persetujuan dariku, bahkan tengkukku. "Kenapa sih kamu? Sakit perutnya?" tanyanya.
"Enggak!" jawabku tegas dan sekenanya.
"Hmm ... terus kenapa?"
"Nggak apa-apa, dah tidur aja. Sahur masih lama."
"Nggak mau, takut labas."
"Masa' kamu enggak tidur semaleman, Mas?"
"Besok aja tidurnya, Dek. Kan libur."
"Ya udah, terserah."
"Ih, kenapa sih?"
Ketika Mas Arlan terus mencercaku dengan pertanyaan yang sama, Sella tiba-tiba menangis lagi. Memberikan alasan bagiku untuk menghindarinya terlebih dahulu. Aku turun dari ranjang ini lagi, dan menimang Sella. Tampaknya gadis buleku terganggu dengan suara kami. Aku menyesal karena sempat berbicara.
Namun rasa kesalku semakin bertambah pada saat Mas Arlan begitu asyik dengan ponselnya. Ia masih tetap bersenandung, membiarkanku yang sibuk dengan anakku. Aku hanya bisa mendengkus kesal tanpa bisa berbuat apa-apa. Malam ini, detik ini, rasanya suamiku sangat menyebalkan.
Lalu orang itu siapa? Samar, aku mendengar bahwa itu suara wanita. Rasanya ingin menjerit kencang.
Bersambung ....
__ADS_1