Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Berontak


__ADS_3

Hari terasa panjang sekali. Setelah berjibaku dengan kertas dan komputer yang membosankan, akhirnya jam makan siang tiba.


Aku bernafas sangat lega. Aku bisa terbebas untuk sementara waktu dengan tatapan dingin para wanita yang masih iri kepadaku. Yah, meski tidak semua namun banyak juga. Mereka bak seorang fansgirl yang fanatik terhadap idolanya. Seolah-olah akan membuatku babak belur hari ini ataupun hari-hari berikutnya.


Dan untuk menghindari orang-orang seperti mereka. Aku berencana mengajak Nike dan juga Tomi untuk makan diluar kantor. Tidak bisa dipungkiri atas rasa takutku. Jika masih mendengar ocehan dari rekan satu divisi mungkin aku mampu. Namun, jika divisi lain. Aku pasti langsung mati kutu.


"Nike makan diluar hayu," Pintaku kepada Nike sambil memundurkan kursi dan menengok dari balik bilik pembatas tempat kerja kami.


"Aah mau naktir yaaa?" Jawab Nike.


"He'eh gue kan naik jabatan."


"Ashiap boleh nih. Siapa aja?"


"Maybe, Tomi sama Nike aja."


"Hmm..."


"Tomm!!!"


Dengan suara agak kencang aku memanggil nama Tomi. Ia tengah berdiri di tempat kerjanya sendiri. Beruntung ruang telah sepi, makanya aku berani. Aku tidak akan menjadi pusat perhatian tentunya.


Tomi tampak berlenggak-lenggok kemayu, ia berjalan kearahku. Perilaku satu pria fiminim itu memang sangat lucu meskipun hanya melangkahkan kaki saja.


"Kenapa ndut?" Tanya Tomi kemudian.


"Makan diluar hayu," Ajakku.


"Ihh males, ehh loe mau traktir yaaa?"


"Emm... jangan brisik ikut aja."


"Hehehe asyiiiikkk!!!"


Bagaikan anak TK yang sedang dibelikan mainan, Tomi begitu girang. Mungkin tanggal tua membuatnya kekurangan makanan enak, sampai segembira ini.


Aku, Nike dan Tomi beranjak keluar meninggalkan ruang tempat kami kerja.


Dengan candaan dan gurauan dari mereka, mampu membuatku bersikap cuek dengan orang-orang sekitar. Aku tidak peduli dengan tatapan wanita-wanita yang sedang bergosip.


"Aaaaaaaaaa!!!" Ujarku berteriak.


Aku hampir terjatuh kedepan, beruntung Nike dan Tomi memegangi lenganku bersamaan. Sehingga aku tidak sampai terkapar.


Seseorang sengaja menjegalku disalah satu lorong perkantoran yang aku lewati. Posisiku berjalan berada disamping kanan, membuat orang tersebut mudah melakukan aksinya.


"Maksud loe apa???" Geramku.


Mita disana, ialah dalangnya. Ia hanya menatapku dingin dan tersenyum sinis. Kedua tangannya terlipat didepan. Sombong sekali.


"Eeehhh," Jawab Mita. Harusnya loe tu sadar diri dong, udah kayak gajah gitu. Oh iya ya, kaca gak bisa memuat seluruh badan loe yang besar!" Lanjutnya.

__ADS_1


"Sadar soal apa ya buuu???"


"Sekretaris! Kalo loe tau diri dan tau malu, pasti nggak bakalan loe terima! Dasar kuman!"


Aku terdiam sambil mengepal jari dengan geram. Nike dan Tomi tidak berkutik, mereka mencoba menenangkanku.


"Udah ndut, jangan diladenin. Hayu pergi," Bisik Tomi.


"Iya sabar aja Fann. Hayu," Tambah Nike.


Tidak! Ini sudah keterlaluan. Mita berusaha menjegalku tadi. Aku sudah tidak bisa bersabar lagi menghadapinya.


Amarahku sudah memuncak, Ubun-ubunku terasa mendidik melihat raut wajahnya yang picik. Aku menghela nafas begitu dalam, mencoba mengatur detak jantung agar lebih teratur. Aku juga mengatur kata dengan cepat dari dalam otakku untuk membalasnya.


"Ooooooooo...." Ujarku panjang sekali. Merasa kalah ya sama orang jelek? Orang nggak menarik kayak saya bisa jadi sekretaris, hebat kan bu? Oohh, saya ingat kata Pak Celvin, mau tau tidak?" Lanjutku.


"Jangan sok berani loe!" Jawab Mita.


Senyum sinis kini berpindah pada wajahku. Aku tidak menghiraukan lagi ajakan Tomi dan Nike untuk berlalu. Aku belum puas, aku ingin mempermalukan Mita. Ia harus tau diri juga.


"Denger-denger dari Pak Celvin sendiri kalau ibu Mita ini anak sahabat dari Pak Ruddy ya? Emm, wajar deh kalau gitu bisa naik jabatan. Padahal ya kata Pak Celvin, bu Mita ini masih harus dibawah..."


"Cukuuupp!!!"


"Cukup bagaimana yaaa? Masih ada lagi lho, soal hubungan ibu sama maneger..."


"Cukuuupp!!!"


Wajah Mita memerah, tampaknya ia benar-benar marah sekarang. Dan dengan spontan tangannya hendak menamparku.


"Heiiii! Segini irinya ya sama orang jelek, emm... Jadi mikir, mungkin gue bisa minta Pak Celvin yang budiman buat ngajuin kenaikan posisi gue. Supaya loe jadi bawahan gue segera hahaha," Ujarku sambil menangkis tangannya sebelum mendarat di pipiku.


"Siiiiiaaaallll!!!" Umpat Mita kesal.


Aku menabrak bahu kirinya sampai ia mengaduh sakit. Aku mengajak Tomi dan Nike yang masih terbengong-bengong untuk melanjutkan tujuan. Kami bertiga meninggalkan Mita yang masih merasa terhina.


"Pake mobil siapa nih?" Tanya Tomi.


"Gue aja," Jawabku.


"Kamu bisa nyetir Fann? Kondisinya lagi nggak stabil," Sambung Nike.


"Biar Tomi aja Ke."


"Woke."


Sejujurnya aku tadi sangat gemetaran dan gugup. Ini pertama kalinya, aku membalas hinaan orang. Entah setan darimana yang merasukiku, sampai seberani itu.


Yasudahlah, aku tidak mau memusingkan hal tersebut. Aku ingin makan enak dan kenyang bersama kedua sahabatku. Kami menuju ke sebuah resto steak cukup terkenal dengan mobilku yang dikemudikan oleh Tomi.


Enam menit kemudian, sampailah kami disana. Seorang pelayan menyerahkan buku menu, dan kami memesan makanan yang diinginkan.

__ADS_1


"Fann enggak papa nih emm... mahal tauk," Ujar Nike.


"Haha santai Ke. Bentar lagi gue naik jabatan makan aja sepuasnya," Jawabku.


"Wahh si endut baik hati banget," Sambung Tomi.


"Ya dong,"


"By the way loe tadi berani banget ndut?"


"Emm... nggak tau Tom spontan aja. Yah, jujur aja gue gemeteran tauk,"


"Eke kaget ndut ama Nike nyampe bengong nggak kedip. Emm... loe nggak takut dia bales?"


"Biarin Tom. Lagian dia bentar lagi jadi bawahan gue, yang gue nggak abis pikir sampe sekarang kenapa tu makhluk sebenci itu sih sama gue?"


"Lho loe nggak tau ndut?"


"Nggak."


"Dia kan dari dulu iri sama loe, karna loe sering dapet pujian Pak Ruddy. Mungkin banyak kalimat loe yang bikin sukses proyek, desain dan beberapa strategi yang loe kerahin buat perusahaan. Semua orang juga tau itu ndut."


"Masa'? Tapi gue sebenarnya nggak pede Tom, Ke kayak yang dibilang Mita gue nggak cocok jadi sekretaris."


Obrolan kami terhenti sejenak ketika sang pelayan datang mengantar pesanan. Dengan sigap dan memang sudah kelaparan kami bertiga meraih menu masing-masing. Kami melahapnya dengan cepat.


"Fann kalo kata aku sih Pak Celvin nyari orang yang bener-bener bisa kerja buat bantuin dia. Makanya dia pilih kamu Fann," Celetuk Nike disela aktivitas menyantapnya.


"Yuppss... Bener ndut gue denger Pak Celvin orangnya serba rapi dan bagus. Dia nggak mau ada kesalahan sedikitpun dalam berbisnis makanya pilih loe yang udah jelas prestasinya," Tambah Tomi.


"Loe tau banget sih gosip Tom?" Jawabku.


"Hahaa gue kan Nona up to date."


"Iihh Tomi, kamu kan cowok masak nona sih? Nggak baik lho, abang dong biar ganteng dan baik gitu."


"Hahaa tuh dengerin nasehat nona ustad."


"Becanda lho gaes eke. Gini-gini pacar gue juga cewek."


"Woooowwww."


Kami terkekeh bersama, hanyut didalam percakapan yang hangat. Tentunya gigi masih asyik mengunyah makanan yang lezat. Untuk sejenak aku pun melupakan peristiwa beberapa saat yang lalu.


Tak lama kemudian hidangan telah ludes. Kami bergegas kembali ke kantor karena waktu istirahat juga sudah hampir habis.


Bersambung...


Like dan komen yaaa saayyy... jangan baca doang !


Nih Visualnya Mita yaaa

__ADS_1



__ADS_2