Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Extra Part]-Terkuak Sudah!


__ADS_3

Baru saja membuka pintu rumah mewah itu, langkahnya sudah dihadang oleh sang ibu tiri. Namun, kali ini, ia tidak peduli sama sekali, bahkan rasa takut sudah benar-benar hilang dan menjadi muak. Jelita sudah mendapatkan dukungan penuh dari sang ayah, Arlan, Mita dan Fanni. Semua rasa takut kini terkikis habis, sedangkan keberaniannya semakin membesar.


Meski tatapam mata Riris menatapnya dengan nanar, Jelita sama sekali tidak bergetar. Ia justru menerobos masuk daun pintu berwarna perak itu. Tubuhnya yang masih besar berhasil membuat sang ibu tiri nyaris terjatuh ke belakang, tetapi ia tidak peduli dan berlalu begitu saja.


"Jelita!" Riris yang dibuat naik pitam, akhirnya berteriak lantang menyebut namanya.


Langkah gadis itu sontak terhenti. Ia memutar badannua dan memberikan tatapan nanar kepada sang ibu tiri yang kini datang menghampirinya. "Apa?" tanyanya dengan wajah yang datar, tepatnya ketika Riris sampai di hadapannya.


"Kamu ini semakin hari kenapa enggak ada sopan santunnya sama sekali, hah?! Ini berkat kamu bergaul sama cewek bar-bar itu, kan?!" Suara Riris tidak juga melemah, dan memang sudah marah, sehingga suaranya nyaris merobek gendang telinga.


Dengan santainya, Jelita menyedekapkan kedua tangannya ke depan dengan cibiran kecil di bibirnya. "Maaf, aku capek."


Namun, ketika ia melanjutkan langkah pergi, Riris justru menarik lengannya dengan kuat sekali. Terpaksa, gadis itu berhenti, menatap sang ibu tiri dengan semakin nanar.


"Jangan merasa sudah diperhatikan sama bapak kamu, jadi semakin kurang ajar ya kamu! Inget kamu, siapa yang urusin kamu sejak kecil. Ibumu mati, aku yang dateng samperin kamu, kasih kamu makan, semuanya!"


"Udah ngomongnya?"


"A-apa?"


"Tante, Jelita udah besar, ya. Jadi tahu mana yang bener mana yang salah."


"Justru kamu yang salah! Dan apa-apaan, tante kamu bilang?"


"Ya, begitu diri Tante, selalu menang sendiri. Tapi, ya, Jelita ini bukan orang bodoh lagi. Makasih buat vitamin penggemuk badannya, sekarang udah enggak perlu. Dan ... jangan seenaknya lagi sama aku, kalau enggak mau diusir dari rumahku."


Plak! Tamparan keras Riris jatuhkan di pipi Jelita. Kesabarannya sudah benar-benar habis. Ia tidak menyangka jika Jelita akan berani mengancam tentang pengusiran kepada dirinya. Sementara gadis itu, masih diam, meski merasa sakit di pipi, ia sama sekali tidak mengusap pipinya.


Riris mundur ke belakang. Kemudian, meninggalkan Jelita sendirian. Sedangkan, gadis itu memilih pergi dari rumah ini terlebih dahulu. Riris masih menangkap sosok Jelita yang berjalan menjauhi rumah. Ia merasa sudah salah langkah, bagaimana jika Jelita justru pergi mengadukan perbuatannya itu kepada Nur Imran? Rasa khawatir itu kian meninggi ketika mengingat kedatangan sang suami ke dalam kamar Jelita.


Ia tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang. Satu pukulan pada pipi Jelita, bisa jadi akan menimbulkan semacam malapetaka. Namun tidak, tidak ada bukti mengenai perbuatannya. Sifatnya yang gemar memanipulasi keadaan, kini muncul seketika. Masih ada banyak cara untuk menghindari kemarahan sang suami.


Ia melenguh cukup keras, setelah sebelumnya ia menghela napas dalam. "Benar! Nur Imran, kan, bodoh. Enggak pernah peduli sama keluarga, enggak mungkin dia percaya sama kata-kata si gendut itu. Lagian, aku rasa dia datang ke kamar itu buat marahin si gendut." Dengan penuh keyakinan, akhirnya bibirnya bisa menorehkan senyuman.


Pagi tadi, Nur Imran berpesan agar dirinya bisa menjaga rumah dengan baik, katanya--pengusaha besar itu hendak keluar kota lagi. Membuat Riris semakin mendapatkan banyak kelegaan hati. Namun tubuhnya tetap bergetar, membutuhkan asupan cinta. Ia sudah sangat kecanduan dengan romantisme nafsu belaka, mengganggap sebagai obat paling mujarab ketika sedang naik pitam.


Diambilnya ponsel dari kantong bajunya. Nomor yang masih sama--bernama asisten Dery, kini telah ia pencet tombol hijau untuk memanggilnya.


"Saya butuh kamu, Sayang. Secepatnya," ujarnya tanpa basa-basi lagi kepada asisten juga pacar selingkuhan itu.


Dery tersenyum dari sana. Kepuasan didapat, uang pun dapat. "Baik, Nyonya. Siap cus ke sana. Di tempat yang sama? Kantor?"


"Ya, ada banyak mata di sini. Ingin sih di kamar, tapi banyak pelayan yang lihat."


"Di mana pun itu, asal sama Nyonya, saya pasti puas."


"Ah, bisa aja kamu."


Senyuman Riris mengembang di bibirnya yang sensual. Hanya sosok Dery yang bisa menggantikan tugas Nur Imran sebagai seorang suami. Butuh waktu lama untuk membuat suaminya lebih peka atas keinginannya, jika didapat pun ia tidak pernah merasa puas. Dery adalah pria nomor satu yang tidak akan bisa menandingi kemampuan Nur Imran, atau apakah karena Riris dan Dery ada dua orang yang sudah gila?

__ADS_1


Ketika seseorang sudah masuk ke dalam perangkap nafsu setan, ia juga harus bersedia masuk ke dalam lubang neraka yang maha dashyat. Di dunia saja, sudah pasti ada karma, bagaimana nanti di akherat. Namun, Tuhan tetap akan memberikan pengampunan kepada orang yang bersedia bertobat.


Lantas, apakah Riris dan Dery akan mendapatkan hidayah itu? Atau bisa jadi mendapat karma sebelum kebaikan terjadi? Entahlah, tidak ada yang tahu kecuali sang maha segalanya.


****


Tubuh Nur Imran mendadak bergetar. Bagaimana tidak, sesuatu yang sangat kejam kini hadir di depan matanya. Rekaman yang menunjukkan perbuatan hina yang istrinya lakukan. Tangisnya pecah, rasa sesal sudah mencuat dari dalam dirinya. Ia hampir gila, seandainya tidak berada di kantor, sudah pasti ia mengamuk dan menghancurkan segalanya.


Entah mengapa--tadi pagi muncul ide untuk membohongi Riris. Perihal kepergiaannya ke luar kota, padahal sejatinya hanya sebuah tipuan untuk menangkap bukti akurat. Kini, ucapan Arlan dan Anhar sudah terbukti. Tamparan keras di pipi Jelita yang terekam kamera menjadi bukti atas pernyataan dari Arlan, juga perbuatan zina istrinya bersama Dery.


"Kenapa?" Nur Imran menekan rahangnya kuat-kuat, berupaya agar emosinya menjadi stabil. Ia tidak boleh mencoreng nama baik sendiri hanya gara-gara perbuatan hina sang istri. Jika itu terjadi, gosip akan meluas dan membuat para partner kerjanya terpaksa mundur. Ia pun masih harus menjaga hati Jelita dan Jane.


"Tapi, kenapa dia setega itu padaku? Ya Allah!" keluhnya. Meski berupaya untuk tetap tenang, kenyataannya air matanya jatuh bercucuran. Nur Imran telah dihancurkan oleh istrinya sendiri. Ia benar-benar tidak kuat menyaksikan perbuatan zinah itu.


Ingatan tentang Jelita muncul di benaknya, juga Jane. Kedua putrinya sekarang ada di mana? Segera ia mengusap air matanya dan bangkit. Membatalkan semua pertemuan, lalu bergegas pergi. Bahkan, kali ini ia tidak menggunakan sopir pribadi.


"Aku harus cari anak-anakku. Mereka enggak boleh sampai tahu, terutama Jane."


Ya, jika Jane mengetahui perbuatan Riris, sudah pasti jiwanya terguncang hebat. Bagaimana tidak, ia adalah anak kandung dari wanita kejam satu itu. Pun meski bukan darah daging Nur Imran, pengusaha besar itu sudah menyayanginya seperti anak sendiri.


Nur Imran menghentikan mobilnya, tepat di depan sebuah gedung besar. Gedung yang digunakan untuk khursus piano bagi Jane. Ia bergegas masuk. Sambutan hangat beberapa orang, ia terima, tetapi tidak direspon sama sekali.


"Di mana anak saya?" tanyanya kepada salah seorang pelatih pria yang kebetulan menangani anaknya.


"Mohon maaf, Pak. Tapi baru saja pulang sama sopir pribadinya," jawab pelatih itu.


Ia memutar setir dengan cepat. Sayangnya, terjadi kemacetan di beberapa titik jalan. Bibirnya bergetar, hatinya tidak tenang. Ia mencari ponsel dan mencari nomor milik putri keduanya. Sayangnya, hal itu digagalkan oleh bunyi klakson dari mobil di belakangnya.


Nur Imran menggeragap, segera dipacu mobilnya. Meski pada akhirnya terpaksa berhenti karena macet. Ia menghela napas dalam, sudah menyerah. Keadaan ini sudah tidak bisa ia atasi lagi, berharap agar Riris bisa menyembunyikan perselingkuhan itu dengan baik dari sang putri. Entah apa yang akan ia gunakan sebagai alasan perceraian nanti, intinya Jane jangan sampai tahu saja.


Namun sepertinya, takdir berkata lain. Tiba-tiba saja ada panggilan masuk dari rumah. Nomor rumah? Ada apa?


"Halo?" sapanya untuk sang pemanggil itu.


"T-tuan, N-nona Jane, N-nona Jane." Salah satu pelayan yang merupakan sang pemanggil kini berucap sembari menggeragap.


"Ada apa?!" Hati Nur Imran kian tidak menentu.


"Nona Jane jatuh pingsan."


"Apa?! Kenapa bisa?"


"Ada pertengkaran, Tuan. A-asisten nyonya, a-asisten nyonya mendorong Nona. Nona baru saja dibawa ke Rumah Sakit."


Nur Imran mengumpat tidak menentu. Bahkan, ia membunyikan klakson beberapa kali. Bibir bawahnya sampai berdarah karena rasa tidak tenangnya itu. Nama Arlan yang mendadak muncul di benaknya, Anhar--sudah pasti tidak bisa menyusul karena arah yang mereka tempuh akan sama. Anhar akan terjebak macet sama seperti dirinya. Entah apa yang terjadi di depan sana, sampai para mobil tidak bisa bergerak sama sekali.


Mengingat kantor Arlan yang berbeda arah, ia memutuskan untuk menghubungi suami dari Fanni itu. Jam makan siang juga hampir tiba, sepertinya tidak akan menganggu.


"Tolong, Pak Arlan. Tolong putri saya, tolong bawa Jelita juga. Saya terjebak macet, jangan sampai wanita itu menyentuh putri-putriku," ujar Nur Imran tanpa sapaan sama sekali.

__ADS_1


"Tenang, Pak Nur. Ada apa? Dan di mana saya harus menolong putri Anda?" Dengan wajah kebingungan, Arlan membalas ucapan Nur Imran.


"Rumah sakit, sepertinya rumah sakit kusuma karna yang paling dekat dengan rumah saya. Tolong."


"Baik, baik, saya akan ke sana." Mendengar ucapan Nur Imran yang sangat mengkhawatirkan, Arlan tidak ingin lagi membuang waktu untuk bertanya. Ia segera mematikan panggilan itu dan bergegas pergi.


****


Di rumah sakit Kusuma, Riris malah terlibat pertengkaran dengan Dery, tetapi di area parkir. Ia tidak habis pikir, mengapa pacar selingkuhannya itu begitu tega mendorong sang putri. Entah apa yang membuat Jane pulang lebih awal daripada biasanya. Seharusnya, ia bisa lebih hati-hati lagi, seharusnya ia sadar jika Jelita saja pulang lebih awal. Sialnya, nafsunya justru menghancurkan semuanya.


Ketika Jane hendak memberikan laporan tentang peningkatan kemampuannya, ia justru melihat perzinahan yang sang ibu lakukan. Semua terjadi karena Dery menganggap enteng keadaan. Tidak ada suami dan anak, untuk apa pintu ditutup rapat-rapat? Juga karena ia malas bergerak, sudah kepalang tanggung untuk meninggalkan sajian hangat.


"Kenapa kamu dorong anak saya, hah?!" tegas Riris.


Dery bingung. "M-maaf, Nyonya, saya tidak sengaja. Anak itu yang datang duluan memukul perut saya," jawabnya getir.


"Jadi, kamu mau menyalahkan anakku, hah?!"


"B-bukan begitu, Nyonya. Saya hanya bicara apa adanya."


"Dia anakku, dia putri, aset paling berharga, Dery!" Riris meraung di dalam tangisannya. "Kenapa kamu tega, Dery? Kenapa?"


"Seharusnya, Nyonya juga lebih berhati-hati lagi! Tidak hanya menyalahkan saya! Orang kaya sialann semua!" Dery yang sudah merasa kesal karena terus-terusan disalahkan, kini mengayunkan kakinya untuk pergi.


Tubuh Riris berangsur ke bawah dan akhirnya jatuh terduduk. Ia menyesal atas apa yang terjadi kepada sang putrinya. Gilanya, ia tetap menyalahkan Jelita atas apa yang menimpanya. Jika gadis itu tidak membuatnya marah dan gelisah, ia pasti tidak melakukan hal gila demi ketenangan batinnya bersama Dery.


"Si gendut, kurang aja!" tegasnya. Meski pada suasana sepi di parkiran itu.


Setelah itu, ia berusaha bangkit. Berjalan menuju dalam rumah sakit. Langkahnya begitu gontai, sudah pasti akan membuat orang lain iba ketika melihatnya. Tangisannya memang sudah usai, tetapi hatinya masih merintih. Takut jika kemungkinan buruk terjadi kepada Jane.


Ada Arlan yang sudah duduk di kursi panjang depan ruang rawat Jane. Namun, keberadaannya tidak membuat Riris terganggu, karena keduanya memang belum pernah mengenal sama sekali. Pria itu menatap Riris dengan perasaan iba. Pasti sanak saudaranya sedang sakit, kasihan nyampe sekacau itu, batinnya.


"Anakku ...," gumam Riris. Air matanya kembali jatuh. Ingatannya kembali pada kejadian beberapa saat yang lalu, ketika Jane amat terkejut dengan perbuatannya. Ketika Jane mendatangi Dery dengan marah. Meski polos dan lugu, gadis itu masih bisa membedakan keadaan mana yang benar dan mana yang salah.


Dery yang sudah muak dan kesakitan, mendorong tubuh Jane seketika. Kepala belakangnya terantuk kusen meja dan mengeluarkan cairan merah yang banyak, dan ia pingsan. Hal yang paling dikhawatirkan oleh Riris adalah kematian, paling ringannya adalah gegar otak.


Tiba-tiba, seseorang menderapkan kaki melalui lorong ruangan itu. Nur Imran akhirnya sampai setelah melewati kemacetan yang luar biasa. Kehadirannya membuat Riria terkejut bukan kepalang. Bagaimana bisa suaminya datang jika berada di luar kota?


"Mas ...?" ujarnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak karena hal yang tidak terduga-duga itu. Apa yang bisa ia pakai sebagai alasan?


Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Riris dari tangan Nur Imran. Mata pengusaha besar itu menatap tajam seakan bisa menusuk jantung. "Dasar perempuan hina!" tegasnya dengan emosi yang sudah tidak terbendung. Ketika hendak mendaratkan pukulan keras untuk kedua kali, tangannya di tangkap dengan sigap oleh Arlan.


"Pak, marahnya nanti saja. Ini rumah sakit, kasihan anak Anda," ujar Arlan kepadanya.


Ia menjatuhkan tangannya. Berjalan ke sana ke mari dengan perasaan campur aduk. Sementara itu, mata Arlan justru tertuju pada sosok Riris yang masih menangis. Ia menelan saliva karena baru menyadari siapa wanita itu. Maaf, Ya Allah. Enggak jadi kasihan sama dia boleh, kan?


****


hay semua. jempolnya manaaaaa

__ADS_1


__ADS_2