Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Pura-Pura


__ADS_3

DISARANKAN MEMBACA SEMBARI MEMUTAR LAGU GALAU, BIAR MAKIN NYES DIHATIMU


_____________________________________________


Aku tidak sadar, setelah kepulangan Mas Arlan dari rumah orang tuaku. Aku tertidur pulas selama kurang lebih satu jam lamanya. Kini aku kembali terbangun.


Aku mengusap mataku yang lelah dan membangunkan badanku yang berat. Tak kusadari juga, bahwa pintu kamar lamaku ini masih terbuka lebar. Padahal seingatku sudah aku tutup rapat.


Mana mungkin aku membukanya sambil terlelap. Atau mungkin seseorang telah masuk kedalam kamar ini. Mungkinkah Ibuku?


Aku saja tidak tau orang tuaku pulang atau belum. Lagi pula jika benar ibuku, tidak mungkin beliau selalai itu. Membiarkan badan besarku yang tengah tertidur dan terekspos dari luar. Sudahlah, itu tidak penting juga jika dipikirkan terlalu serius.


Kuraih ponselku untuk menatap jam. Masih pukul sembilan kurang lima belas menit. Berarti benar seperti dugaanku, aku tidur selama satu jam. Beruntungnya, aku tidak melupakan kewajiban ibadah isya' tadi. Adapula pesan dari Mas Arlan. Mungkin kini ia sudah tertidur pulas atau sedang asyik bersama Selli, putrinya.


"Uhukk... uhukk... aaalaah," aku terbatuk.


Tenggorokanku terasa kering. Baru kuingat lagi, sejak tadi aku belum menyentuh air dan makanan sama sekali.


Aku beranjak dari ranjangku untuk menuju ke dapur. Suasana begitu sepi. Aku rasa semua orang yang tinggal disini sudah tertidur. Dan aku belum bertemu Ibu ataupun Ayahku sama sekali. Tak apa, besok sebelum kembali ke apartemenku masih bisa menjumpai orang tuaku tersebut.


Setelah sampai di dapur, aku mengambil air mineral dalam botol kecil. Kuteguk dengan rakus. Dinginnya air mampu membuat tenggorokanku segar kembali. Mungkin jika bernyanyi bisa saja merdu seperti "Avril Lavigne" idolaku. Yah, itu hanya kemungkinan yang tidak benar.


Kuarahkah langkah kakiku untuk menuju ruang televisi. Sembari menenteng beberapa cemilan kemasan ditanganku. Aku lapar sekali, malam ini belum kusentuh nasi sama sekali.


"Pandhu, kalau udah ngomong ijab jangan kaku kamu lho. Harus jelas dan satu kali napas kalau bisa," suara ibuku terdengar oleh telingaku saat diriku semakin mendekati ruang televisi.


"Semoga aja Ma, Pandhu deg-deg'an kalau inget itu," jawab Kak Pandhu.


"Santai Dhu, Papa dulu juga gitu waktu nikahin Mama kamu," sambung Ayahku.


"Begini ya rasanya mau jadi pengantin baru? Nggak karuan Ma, hati Pandhu."


"Haha... itulah nggak enaknya jadi cowok, Mama sih tinggal terima jadi enak."


"Hmm... bener Ma, tapi cewek mah agak rempong persiapannya."


"Soalnya cewek mau bikin acara istimewa jadi seindah mungkin."


"Hmm... dulu Mama kamu lebih-lebih rempongnya Ndu... Ndu... Papa nyampe kewalahan lho."


"Udah keliatan sekarang Pa hahaha."


"Dasar para cowok!"


Deg!


Aku menghentikan langkahku seketika. Semua isi perbincangan mereka terdengar begitu hangat. Aku tidak mau jadi perusak kebahagiaan itu. Apalagi membahas pernikahan yang sebentar lagi akan digelar.


Jika aku masuk pasti Mama akan langsung bungkam seketika. Uuhh... rasanya kenapa sesakit ini? Semua ulahku sendiri. Seandainya saja aku tidak memutuskan tinggal sendiri, pasti aku pun ikut bahagia. Tidak! Bukan itu! Hanya saja aku terlalu malu. Meski mereka semua adalah keluargaku.


Banyak masalah yang aku buat kepada keluargaku. Mulai dari kasus bully yang kualami, penyakit yang sempat menderaku, tubuhku yang super besar lalu aku tidak bisa mencarikan seorang menantu seperti yang diinginkan. Di usiaku yang sudah menginjak tiga puluh tahun, aku belum membahagiakan orang tuaku sama sekali.


Aku terduduk lesu dibalik dinding pembatas antara ruang keberadaanku dan ruang televisi dimana anggota keluargaku berada. Beruntungnya lampu sedang dimatikan.


Tak terasa tetesan air mata berlinang membasahi pipiku. Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Sebisa mungkin tangisanku kutahan agar tidak mengeluarkan suara isakan.


'Mama Papa maaf, mungkin yang terbaik untuk Mama dan Papa emang Kak Pandhu dan juga Febi,' gumamku dalam hati.


Aku tau tidak ada seorang pun keluargaku yang menyakiti hatiku. Hanya saja, aku terlalu minder pada mereka semua. Aku gagal, aku tak berguna. Aku merasa dikucilkan karena ulahku sendiri. Dan kini aku kembali mengecewakan hati Ibuku. Anak macam apa aku ini?


Padahal selama aku bekerja, beliau tidak pernah meminta uangku sepeser pun. Begitu juga dengan Ayahku. Apartemen yang kubeli pun, masih memakai separuh uang beliau. Karena aku egois, selalu memikirkan diriku sendiri.


Memalukan sekali.


"Ma?" ujar Kak Pandhu pada ibuku yang masih terdengar di telingaku.


"Iya sayang," jawab Ibuku.


"Boleh nggak Pandhu minta satu hal aja?"


"Minta apa sayang?"


"Mama baikan ya sama Fanni."


Deg!


Jantungku hampir loncat keluar. Permintaan Kak Pandhu yang berisi tentang aku. Sialnya, ibuku tidak langsung menjawabku. Seketika kuhentikan isak tangisku dan memasang telinga baik-baik seperti yang kulakukan saat Kak Pandhu berbincang bersama Mas Arlan.


"Emang Mama berantem lagi sama Fanni?" tanya Ayahku kemudian.


Oh! Ayahku tidak tau menahu ternyata. Membuatku sedikit terkesiap. Kemudian aku masih melanjutkan mencuri dengar percakapan tentang aku tersebut.


"Hmmm..." jawab Ibuku singkat.


"Ma ayolah, Pandhu mau nikah lho. Masa' kalian berantem sih?" tanya Kak Pandhu lagi.


"Ada apa lagi Ma, kok Papa malah nggak tau sama sekali ya?"


"Kalian tau?"


"Enggak."

__ADS_1


Kak Pandhu dan Ayahku menjawab pertanyaan Ibuku dengan berbarengan.


"Kompak amat ya."


"Kenapa Ma? Pandhu nggak pengen lho Mama sama Adik Pandhu kayak gini."


"Pandhu, Papa... coba pikir deh. Anak putri kita, satu-satunya lho. Masa' dapet duda cerai."


"Emangnya kenapa Ma? Papa nggak masalah selama Fanni bahagia terus dapet calon yang bisa bertanggung jawab."


"Eeee... bertanggung jawab gimana? Kalau lelaki tanggung jawab nggak mungkin bisa cerai lho."


"Ma mana ada sih orang yang mau cerai? Arlan baik kok tadi..."


"Tadi? Tadi apa?"


"Ta-tadi Fanni cerita Ma."


"Fanni cerita? Mama heran deh, Fanni kesini sama siapa? Mobilnya kok nggak ada? Sama Arlan?"


"Ma, ayolah jangan gitu. Anak laki kita mau nikah lho, jangan terlalu keras sama Fanni, Ma."


"Sudahlah, Mama males bahas mereka."


Apa-apaan? Ibuku malas membahas tentang diriku. Ok, baiklah! Aku harus tenang. Ibu punya hak untuk itu. Toh, seperti yang kukatakan tadi. Aku tidak memberikan efek apapun, kebahagiaan apapun. Jadi, tidak ada gunanya aku protes tentang itu.


Jangan sampai emosi, sabar harus sabar. Seperti kata Mas Arlan, aku tidak boleh terlibat pertengkaran dengan Ibuku lagi sekarang. Demi Kak Pandhu, demi pernikahannya lancar. Lagipula, Kak Pandhu terus membantuku sekarang.


Walau sedikit sakit hati dan masih menangis, aku terus menguatkan diriku. Jangan sampai aku membenci ibuku. Ingat saja, semua kenangan kecil kami yang bahagia. Ingat saat ibuku menangisi diriku yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Ingat juga saat beliau senantiasa membawakan sarapan dari rumah ke apartemenku.


Ya! Itu hanya perasaan jengkel yang Ibuku alami sekarang. Tak perlu terlalu dipikirkan.


Namun, mengapa aku terus menangis?


Dengan kondisi hati yang kacau, aku berusaha berdiri. Aku ingin kembali ke kamar lamaku diam-diam lalu berpura-pura tidur. Esok harinya aku berencana seperti tidak mendengar apapun malam ini.


BRUUKKK!


Oh shit! Aku melupakan cemilan yang kubawa dan masih terpangku diatas pahaku. Barang tersebut jatuh tepat saat aku berdiri. Mungkin Ayah, Ibu dan Kak Pandhu mendengarnya.


Dengan cepat kuusap air mataku dan mengembangkan senyum. Aku akan menampakkan wajah biasa saja. Lalu keluar. Uhh... mengapa harus serumit ini hidupku Ya Allah!


"Fanni!" seru Ayahku sembari melongokkan kepala padaku.


"Hai Papa," jawabku sesantai mungkin.


"Kamu kok bangun malem-malem gini sayang?"


"Belum makan? Mata kamu kok merah sayang?"


"Belum Pa, kan baru bangun Pa hehe."


"Ma, makan malem tadi masih?"


Kuberanikan diri menatap wajah Ibuku. Beliau tidak langsung menjawabnya. Mungkin saja memang benar beliau sedang malas terhadap diriku.


Lebih baik aku segera pergi dari sini. Aku tidak ingin bertengkar. Belum lagi jika beliau menyadari bahwa aku sempat menangis pasti akan lebih malas lagi.


Kutinggalkan Ayahku dan yang lain secara diam-diam. Langkahku begitu cepat menuju kamar lamaku. Sesekali tetesan air mata masih saja mengalir. Aku ingin sekali kembali ke apartemenku. Tapi itu mustahil untuk sekarang.


Sesampainya di kamar, kututup dan kukunci pintunya. Lalu berbaring lagi. Aku habiskan semua air mata yang sudah membendung di pelupuk mataku. Perih.


"Mama... hiks... hiks... hiks... Mama... Mama... maaf, hiks... hiks... Mamaaa."


Kata "Mama" terus kusebut secara pelan-pelan. Kutahan semua rasa lapar. Aku hanya ingin menangis dan menangis sampai puas.


Mungkin jika Mas Arlan disampingku sekarang, aku pasti akan memeluknya dengan erat. Namun, jika aku berani dan tidak malu. Jika bersamanya aku bisa melupakan segala masalahku hanya dengan celotehnya yang tidak jelas. Meski begitu terasa lucu bagiku.


Apakah ada seseorang yang pernah mengalami hal seperti ini? Atau hanya aku saja? Jika ada, apakah mereka juga menangis? Atau hanya aku saja yang berlebihan?


Entahlah. Aku terus menanyakan hal aneh pada angin tanpa mendapat jawaban apapun. Bahkan paras Kak Pandhu terbayang dalam benakku. Mengapa ia tampan? Mengapa ia menawan? Mengapa ia selalu saja menang dan unggul daripada aku? Perih sekali rasanya, jika mendengar orang lain membanding-bandingkan kami.


Mungkin hal tersebut yang membuat hubungan kami merenggang. Bukan salah Kak Pandhu, tapi salahku yang selalu iri.


TOK... TOK... TOK...


"Fanni... ini Mama, buka pintunya," ujar Ibuku sesaat setelah beliau mengetuk pintu kamar lamaku.


"I-iya Ma," jawabku.


Segera kuhapus sisa air mataku. Kutatap cermin yang terpasang. Mataku bengap memerah, hidungku pun memerah juga dibagian ujung.


Aku mondar-mandir kesana kemari. Bimbang mulai menggerayangi, aku bingung. Jika aku buka, pasti Ibuku tau tentang kondisiku. Jika tidak, pasti akan terlihat lebih mencurigakan lagi. Masalah baru lagi saja!


"Fanni??? Kamu lagi ngapain?" tanya beliau lagi.


"I-iya bentar Ma, bentar," jawabku.


Ok! Baiklah! Tenang dulu. Kuhela napas panjang lalu menghembuskannya kembali. Aku meraih sebuah consealer didalam ransel yang kubawa. Lalu memakainya untuk menutupi bengap dan rona merah dihidungku. Walau tidak sepenuhnya berhasil, setidaknya mengurangi.


"Fanniii?"

__ADS_1


"Iya Ma, pake baju dulu."


Selesai. Aku segera menghampiri pintu kamar lamaku. Setelah itu membukanya.


Ibuku tampak disana. Beliau membawa nampan berisi makanan. Lalu masuk kedalam.


"Makan dulu," ujar Ibuku kemudian sembari menyerahkan nampan tersebut padaku.


"Makasih Ma," jawabku dan menerimanya.


Aku harus terlihat baik-baik saja. Selera makanku harus bangkit kembali. Jangan sampai beliau tau kalau aku usai menangis.


Kubawa makanan tersebut keatas meja rias yang sudah kosong. Aku duduk pada kursinya. Ku pikir Ibuku akan segera berlalu. Nyatanya tidak.


Beliau malah duduk santai diatas ranjangku sembari menatapku. Aku mengetahuinya dari pantulan cermin rias dihadapanku sekarang.


"Abisin makanannya," ujar Ibuku lagi.


"Iya Ma," jawabku.


Kemudian beliau tak bergeming sedikitpun. Ada rasa kikuk tersendiri dari dalam hatiku. Saat ini kami sedang dekat namun terasa jauh. Aku bahkan tak berani berkelakar sedikitpun.


Sesekali kuintip wajah ibuku dari pantulan cermin sembari menyantap makananku yang telah beliau bawakan. Wajah beliau yang sudah menunjukkan tanda penuaan, begitu datar tanpa ekspresi. Sepertinya banyak yang telah dipikirkan.


Mungkin tentang aku, Mas Arlan dan juga pernikahan Kak Pandhu. Mau bagaimana pun aku tetap seorang anak yang lahir dari rahim beliau. Walau masih enggan dan malas, pasti ibuku tetap tak akan tega.


"Fanni?" panggil beliau lagi.


"Iya Ma," jawabku.


"Kamu inget Nak, kamar ini banyak kenangan tentang kita."


"Inget banget Ma."


"Mama sedih banget pas kamu bilang mau tinggal sendiri."


"Fanni tau."


"Mama selalu kangen tidur sama kamu Nak, rasanya kamu cepat sekali tumbuh dewasa. Sampai-sampai Mama kewalahan, karna tidak bisa mengatur kamu lagi."


Ku hentikan aktivitas menyantapku. Lalu membalikkan badan untuk menatap Ibuku. Aku beranjak dari kursi dan menghampiri beliau.


Aku duduk disamping beliau lalu kuraih tangan beliau yang sudah menua pula. Baru kali ini kulihat secara gamblang wajah ibuku. Ekspresi datar yang menjadi sendu. Keriput yang menghiasi semakin bertambah pada wajah beliau.


Waktu memang sangat cepat berjalan. Pahlawan wanita ini, di masa mudanya begitu manis dengan kulit kuning langsat. Bagiku saat itu dan sekarang Ibuku tetaplah manis, cantik dan juga menawan. Sampai-sampai orang Belanda seperti Ayahku bisa luluh dan masuk agama yang dianut Ibuku.


"Kamu abisin dulu makannya," ujar Ibuku.


"Entar Ma," jawabku.


"Kenapa?"


"Mama masih marah sama Fanni?"


"Kalau boleh jujur kesal masih, kamu lebih bela orang lain daripada Mama."


"Maafin Fanni Ma."


"Kenapa kamu tolak usaha Mama buat kamu sayang?"


"Aku... aku dan Mas Arlan udah saling sayang Ma."


"Apa kamu nggak mikirin kedepannya gimana? Dia seorang duda hasil cerai lho."


"Ma... please kita skip dulu soal ini, Fanni nggak mau merusak acara indah Kak Pandhu nanti."


"Hmm..."


Maaf Ma. Aku tidak akan meninggalkan Mas Arlan apapun yang terjadi. Meski aku tidak tau pria tersebut jodohku atau bukan. Seperti yang Mas Arlan katakan, tidak ada yang tidak mungkin selama kami berniat baik, ikhtiar dan berdo'a.


Mungkin hati ibuku masih tertutup begitu banyak kekhawatiran. Namun, aku yakin suatu saat nanti beliau bisa membuka hati. Aku tau aku bukan anak yang baik dan tidak bisa menuruti kemauan beliau. Serta egois. Tapi do'a-do'aku tidak akan pernah berhenti untuk ibuku.


"Baiklah, kamu makan dulu abisin. Jangan sampe sakit, takutnya nggak bisa hadir di acara kakakmu nanti," ujar Ibuku.


"Iya Ma, jadi soal Mas Arlan?" jawabku.


"Jangan berharap banyak. Mama tetap berpendirian seperti awal, tidak akan merestui hubungan kalian."


"Mamaaaa..."


"Udah diem, jangan bikin masalah lagi."


"Iya iya."


Dan begitulah keras hatinya Ibuku. Tidak akan ada yang bisa menentang, bahkan Ayahku sekali pun. Semoga Mas Arlan menyusun rencana lebih baik lagi nantinya.


Pasti akan lebih lama lagi untuk kami bersatu secara resmi. Silahkan saja, aku pun tetap sama dengan pendirianku. Aku tidak akan meninggalkan Mas Arlan untuk kedua kalinya.


Bersambung...


Budayakan tradisi like+komen wooooeeeeyyyyyy...

__ADS_1


__ADS_2