
Lagi-lagi Selli tertidur oulas di Apartemenku. Sepertinya gadis kecil tersebut sudah sangat betah disini. Aku tersenyum kecil saat menatap wajah lucunya. Matanya sedikit terbuka saat terlelap seperti ini. Cantik sekali, sangat pas dengan kulit tubuhnya yang putih.
Aku sampai membayangkan bagaimana wajah anakku kelak. Jika lelaki setampan apa? Jika perempuan pun secantik apa pula? Aku hanya berharap nasibnya tidak seburuk diriku.
"Hayo ngalamunin apa Dek?" tanya Mas Arlan tiba-tiba. Ia kini tengah menyenderkan tubuhnya pada kusen pintu kamarku.
"Pengen tau aja kamu," jawabku cuek.
"Hmm... palingan bayangin anak kita nanti kayak gimana ya?"
"A-apaan sih? Enggak kok, lagian kita udah pasti jodoh apa?"
"Yakin banget."
"Kayak yang jadi Tuhan aja Mas... Mas..."
"Yee... dibilangin kok."
"Iya... iya... amin."
"Yaudah keluar yuk, nggak enak di kamar gini."
"Iya bentar ya."
Kukecup pipi Selli pelan. Kemudian aku beranjak dari ranjangku. Aku berjalan di belakang Mas Arlan untuk menuju ruang televisi. Mungkin Mas Arlan merasa tidak nyaman jika aku masih berada disana.
Jam masih menunjukkan pukul sepuluh pagi. Tidak terasa sudah dua jam sepasang ayah dan anak ini disini. Harapanku adalah jangan sampai Ibuku datang seperti tadi pagi.
Aku tidak mengatakannya pada Mas Arlan karena aku takut ia bergegas pulang. Tentunya karena tidak enak pada Ibuku, jika mengetahui larangan Ibuku pagi tadi. Aku tidak jujur pada Mas Arlan, karena masih merasa rindu dengannya. Itu saja.
"Mas udah laper? Mau makan nggak?" tanyaku kemudian.
"Ah... belumlah Dek, tadi juga baru makan lho," jawabnya.
"Iya sih."
"Makanya, masa' ditawarin terus?"
"Basa-basi doang hehehe."
"Kamu bingung ya mau ngobrolin apa?"
"Iya Mas."
"Ngobrolin pernikahan kita aja ya."
"Ehh?"
"Kenapa?"
"Nggak kok, tapi masih jauh banget deh."
"Ya nggak apa-apa lah Dek, rencana dulu."
"Nggak mau nanti aja deh."
"Hmm..."
Mas Arlan berpindah tempat yang awalnya berbeda sofa denganku kini beralih disampingku. Aku sedikit bergidik. Bukan ngeri atau takut. Hanya saja aku gugup, apalagi jika ia sudah mulai usil dengan tingkahnya. Selalu membuatku malu tentunya.
Kurasa dugaanku benar, Mas Arlan mulai mendekatiku lagi. Jari-jarinya menggenggam erat telapak tanganku. Aku berjaga-jaga dengan baik, jangan sampai kecolongan lagi.
"Agak jauh sih Mas!" ujarku memperingatinya.
"Kenapa emang Dek?" tanyanya kembali.
"Belum halal lho."
"Oh iya ya, hehehe."
"Kebiasaan deh kamu."
"Biarin sih sama calon istri sendiri."
"Halah... emm... ngomong-ngomong kamu punya rencana apa lagi soal Mamaku?"
Mas Arlan terdiam sesaat. Sepertinya ia sedang berpikir keras. Ia menjauhkan kepalanya dariku. Aku rasa aku cukup membuatnya terkejut.
Aku mengerti. Menjalani cinta yang tidak mendapat restu dari awal memang sangat sulit. Aku dan Mas Arlan hanya bisa berjuang berdua saja tanpa bantuan siapapun. Seolah dunia tak lagi ramah pada kami, pasangan yang dianggap payah.
Walau ada Ayahku dan Kak Pandhu serta istrinya yang mendukung kami. Mereka semua tak lantas bisa meyakinkan kerasnya hati Ibuku. Maafkan aku Mas Arlan, sekali lagi aku harus menyulitkanmu dalam cinta ini.
Namun, demi apapun aku telah menjatuhkan hatiku pada Mas Arlan. Meski sebenarnya, ia bisa mencari wanita yang lebih baik dariku. Lebih segala-galanya pula. Bagaimana mungkin, aku biarkan kamu berjuang sendiri. Aku sudah tidak mau lagi merasa sok cantik.
Mungkin saja, Tuhan memberikan segala cobaam ini. Agar kami tau apa artinya setiap kesulitan. Hingga suatu saat nanti, kami bisa berpikir ulang ketika terlibat pertengkaran. Yakin saja semua akan indah pada waktunya. Walau butuh waktu puluhan tahun, aku siap menghadapinya. Ibarat kata.
"Dek demi apapun aku sayang kamu," ujar Mas Arlan kemudian.
"Aku tau kok," jawabku.
"Kamu tau?"
"Enggak. Apaan tuh?"
"Kamu semalem keren banget, yah sebenarnya Mas tetep merasa nggak enak sama keluarga kamu terutama Papa kamu Dek."
"Kan udah aku bilang kita hadepin semuanya bareng-bareng Mas."
"Mas semakin yakin Dek, kita bener-bener saling mencintai. Walaupun masih ada rintangan yang menghadang."
"Iya Mas."
"Makasih ya sayang."
"Sama-sama Mas."
Mas Arlan kembali lagi dengan sikap usilnya. Ia bergerak untuk mengecup pipiku, namun segera kudorong wajahnya. Aku belun terlalu siap untuk ini. Jika tidak kecolongan pasti akan kuhindari sebisa mungkin.
Jari telunjukku bergerak ke kanan maupun kiri beberapa kali. Mengisyaratkan agar Mas Arlan berhenti bertingkah konyol. Terlebih kami hanya berdua saja karena Selli tengah tertidur. Aku takut setan datang dan menyebabkan hal-hal yang tidak terduga.
Apalagi Mas Arlan menyandang status duda dalam beberapa tahun. Pernah menikah dan kini kosong. Pastinya aku tau hasrat lelaki bagaimana. Tetap saja, bisa timbul kapan saja. Bukan karena diriku memiliki rasa percaya yang ketinggian namun berusaha menghindari hal-hal buruk.
"Jangan coba-coba lagi, aku nggak mau!" seruku padanya.
"Kenapa sih emang? Mas kan pacar kamu Dek," balas Mas Arlan.
"Mas Arlan pernah menikah kan?"
"Iya, apa hubungannya."
"Berarti malam-malamnya sekarang kesepian kan?"
"Terus kenapa emang?".
"Ya ya siapa tau, udah lama nahan."
"Nahan apa?"
"Ah... pikir aja sendiri deh."
"Hahaha... Ya Allah Dek... Dek... emangnya Masmu ini cowok apaan sih? Emang udah keliatan kayak Om-Om genit apa?"
"Ya siapa tau Mas, kalau masalah Om-Omnya emang iya."
"Ya Allah Dek, Mas masih bisa berpikir sehat sayang. Cuma pipi doang kok ya, boleh kan?"
"Enggak!"
"Hmm... pelitnya."
__ADS_1
"Biarin, lagian sama aja dapet dosa. Pegang tangan aja dosa kok, gimana sih?"
"Iya sih, Mas masih jadi hamba Tuhan penuh dosa Dek."
"Ya sama kalau itu Mas."
"Hahahaha Dek... Dek... kamu lucu deh."
"Hmm."
Begitulah hari ini kulepas rinduku pada Mas Arlan dan Selli. Kami masih memiliki prinsip berpacaran sehat. Faktor usia juga menuntun kita berpikir lebih jernih sebelum bertindak yang tidak benar. Apalagi belum tentu jodoh.
Jika bersama Mas Arlan, aku bisa melupakan tentang kondisi badanku yang besar. Tidak ada rasa minder lagi kini. Hanya saja rasa malu memang tetap ada pada saat ia terus menggoda dan mengusiliku. Atau saat ia menatap wajahku dengan tajam beberapa kali.
"Dek?" panggil Mas Arlan.
"Emmm...." jawabku tanpa membuka bibir sama sekali.
"Mata kamu kayak berlian tauk warnanya."
"Cantik ya? Tapi matanya doang."
"Kamu itu sebenarnya cantik Dek, gendutnya juga nggak parah-parah banget lho."
"Halah."
"Nggak percaya?"
"Aku gendut Mas, kalau nggak gendut nggak bakalan kena bully. Apalagi kulitku putihnya kayak b*bi."
"Jangan gitulah sayang, itu kan masa lalu. Jangan diinget lagi, lagian orang jaman sekarang pasti lebih bisa berpikir sehat buat nggak ngelakuin body shaming lagi."
"Halah... pasti masih ada yang kayak gitu. Pas aku pergi meeting diluar bareng Celvin aja, banyak yang kaget ngliat sekretaris si Celvin gendut banget."
"Kenapa harus dengerin orang lain Dek, tapi Celvin nggak bikin kamu kenapa-napa kan?"
"Ya enggak Mas."
"Ya sudah, stop mikirin kata orang Dek."
Mudah saja untuk orang lain. Tapi sulit bagiku. Mas Arlan yang berfisik bagus di usia kepala empat, pasti tidak akan mengerti. Ia bisa populer dimana pun berada. Tidak sepertiku. Boro-boro populer, yang ada dihujat habis-habisan karen kegemukan badanku.
Bagiku dunia seakan tidak adil bagi orang-orang sepertiku. Aku tidak tau lingkungan menengah bawah bagaimana. Di lingkunganku ini, sungguh sangat sulit untuk mengnumbuhkan rasa percaya diri. Mulai dari rekan-rekan kantor yang fashionable, orang tua berada, lulusan universitas nomor satu dan tentunya cantik dan tampan.
"Emang Mas bisa suka sama aku karna apa Mas?" tanyaku.
"Emmm... nggak tau," jawab Mas Arlan.
"Kok nggak tau sih?"
"Kata orang cinta itu nggak butuh alasab Dek, tapi kenyamanan."
"Gitu ya? Tapi kamu pacar pertama aku Mas."
"Oh ya?"
"Iya aku nggak pernah menjalin hubungan sama siapapun. Hanya sekedar naksir-naksir aja."
"Mas beruntung dong? Emm... kamu besok masih libur kan?"
"Iya masih Mas."
"Ikut Mas ya?"
"Kemana?"
"Ke rumah Mas."
"Ehh..."
Ke rumah Mas Arlan? Aku belum siap soal itu. Apalagi dengan kondisi tubuhku yang besar seperti ini. Akan seperti apa ekspresi orang tua Mas Arlan nanti? Setelah tidak mendapat restu dari Ibuku, bisa-bisa Ibu Mas Arlan juga begitu.
"Ya Dek?" tanya Mas Arlan lagi demi mendapat kepastian dariku.
"Bi-bisakah kita tunda dulu Mas?" tanyaku kembali.
"Tunda? Kenapa?"
"Ya a-aku belum percaya diri."
"Mas serius sama kamu lho Dek."
"Aku tau Mas."
"Terus kenapa nggak mau?"
"Aku belum PD."
"Karna apa? Karna fisik lagi? Hmm... sampai kapan kamu kayak gini Dek?"
"Mas, please. Maaf tapi tunda dulu ya?"
"Terserah kamulah, diajak serius malah kayak gitu."
"Bukan gitu Mas."
"Terus gimana Dek? Mas kan selalu bilang jangan mikirin fisik terus, Mas nggak pernah lho minta kamu buat secantik artis."
"Itu kan kamu Mas."
"Kamunya aja yang selalu minder, padahal Mas yakin yang nilai fisik orang pasti berawal dari kamu. Kamu liat mereka yang cantik terus dibandingin sendiri sama diri kamu, abis itu kamu yang minder sendiri. Padahal nggak ada diantara mereka yang menganggap kamu begitu buruknya."
"Enak Mas kalau ngomong doang, Mas nggak pernah ada diposisi aku."
"Emang nggak pernah, tapi Mas paham. Lalu sampe kapan kamu akan merasa kayak gitu terus?"
"Seterusnya."
"Oh ya? Yasudah terserah!"
Helaan napas panjang dilakukan oleh Mas Arlan. Lagi-lagi aku mengecewakannya. Ia beranjak dari duduknya dan berjalan kearah pintu. Sepertinya akan pergi.
Padahal saat ini, sebenarnya akulah yang ingin di mengerti. Tapi sepertinya Mas Arlan juga ingin dipahami. Tetap saja, aku belum cukup berani untuk itu. Masalah tentang Ibuku saja belum usai. Kalau aku bersedia, pasti akan ada masalah baru.
Mas Arlan benar-benar keluar dari Apartemenku. Aku tidak tau ia akan kemana. Mungkin menghilangkan rasa kesal sejenak. Rasa bergelayut pun mulai menggerayangi hatiku.
"Duhhh.... gimana nih?" gumamku lirih.
Aku cemas. Padahal niatku menunda karena ingin berbenah diri menjadi lebih pantas dulu baru bertemu. Meskipun aku tau pasti akan memakan waktu yang lama.
Aku hanya tidak mau ada masalah baru lagi. Apalagi jika sampai memisahkan kami. Sialnya, memang semuanya sangat rumit.
Kususul Selli yang tengah tertidur di kamarku. Kubelai rambutnya dengan halus layaknya anakku sendiri. Parasnya begitu cantik, mirip Ibunya mungkin.
Bagaimana jadinya nanti, jika keluarga Mas Arlan melihat diriku? Aku masih jauh jika dibandingkan dengan Nia yang fashionable dan lumayan cantik. Bukankah untuk seorang yang pernah terluka, harus mencari pengganti yang lebih baik? Dan Mas Arlan malah mendapatkan diriku yang bertubuh gemuk.
Ahh... sudahlah! Semakin dipikirkan akan semakin miris. Aku rasa keputusanku sudah tepat. Biarlah, Mas Arlan merasa kesal sejenak. Ketika ia kembali, aku akan meminta maaf padanya dan memberikan alasan yang pasti.
"Dek!" seru Mas Arlan padaku. Ia telah kembali dari perginya.
Aku turun dari ranjangku. Dan tanpa menjawab aku menghampirinya. Mas Arlan kembali duduk pada sofa milikku lagi. Ia menggenggam kedua telapak tangannya.
"Maaf Mas," ujarku.
"Mas yang minta maaf Dek," jawab Mas Arlan.
"Enggak Mas, semua kesalahan datang dari aku."
"Jangan gitu, jangan selalu merasa bersalah Dek."
__ADS_1
"Iya Mas."
"Sayang Mas cuman pengen kita cepet resmi, ya Mas tau usia pacaran emang belum ada satu bulan."
"Aku tau Mas."
"Kamu pasti udah paham lah Dek, Mas udah nggak muda lagi. Mas juga punya Selli yang haus kasih sayang seorang ibu. Lagipula kita kenalnya udah lumayan lama."
"Iya Mas, tapi gimana sama Mama aku? Beliau belum bisa luluh sama sekali."
"Mas bakalan datang lamar kamu secepatnya."
"Haah? Tapi Mama?"
"Yakin aja Dek, kata orang jaman dulu menolak lamaran itu pamali katanya. Jadi Mas yakin kalau Mas udah datang langsung lamar pasti Mama kamu nggak bisa nolak."
"Oh gitu ya? Haha."
Mas Arlan belum tau saja Ibuku segarang apa. Rencananya memang bagus, tapi kalau secepat itu? Aku tidak bisa membayangkannya. Bisakah aku menjadi istrinya kelak?
Respon keluarganya padaku saja aku belum tau. Nekat sih nekat, tapi ini?
"Ta-tapi Mas, aku kan belum pernah tau siapa kamu dan keluarga kamu," ujarku lagi.
"Makanya Mas pengen ngajakin kamu ke rumah Mas, Dek," jawab Mas Arlan.
"Maaf Mas, tapi aku masih takut."
"Hmm... wajar kok, tapi Mas nggak bisa terima kalau alasannya karna fisik ya."
"Ta-tapi kan-"
Mas Arlan mendekati diriku yang berada di sofa yang berbeda. Ia duduk dilantai seperti bersimpuh. Tangannya lagi-lagi meraih kedua telapak tanganku. Aku terkesiap dibuatnya. Bisa dibayangkan, Mas Arlan duduk bersimpuh dilantai dan tepat dihadapanku sekarang mau apa lagi dia?
Ia melepas satu tangannya dariku. Lalu merogoh sesuatu didalam kanton celananya. Benda kotak berwarna merah telah ia ambil. Aku terpana sampai tidak tau harus berbuat apa. Aku rasa itu sebuah kotak perhiasan.
"Dek, will you marry me?" ujar Mas Arlan sembari menodongkan sebuah cincin yang menyala indah dari dalam kotak.
Sontak saja, aku terbelalak hebat. Aku tidak menyangka ia melamarku secepat ini. Melamarku dalam situasi yang belum stabil dari Ibuku. Dan aku juga belum tau siapa dia dan keluarganya.
Lalu apa yang bisa menjadi jawabanku sekarang?
"Dek?" panggilnya lagi sehingga aku tersadar dari rasa keterkejutanku.
"Ahh... maksudnya gimana ini Mas?" tanyaku.
"Kamu mau kan jadi istri Mas?"
"Ma-mau ta-tapi kan kita?"
"Mas tau, pakai ya cincinnya sebagai pengikat kita. Mas janji Mas bakalan selesein semuanya dan menikah dengan resmi sama kamu."
"Mas apa ini nggak berlebihan?"
"Hmm... sayang kalau kamu bersedia rentangkan jarimu, Mas bakal pasang. Seperti yang Mas bilang tadi, ini lamaran pertama dari Mas buat ngikat kamu."
"Iya Mas ta-tapi..."
"Jadi gimana?"
"Iya aku mau Mas, tapi kamu harus janji bisa luluhin hati Mama. Dan aku juga akan berusaha buat tampil terbaik dihadapan keluarga kamu Mas."
"Kamu cerdas Dekku sayang, i love you."
"Kembali Mas."
"Kok jawabnya gitu doang?"
"Ya intinya sama aja kan? Udah cepet pakein kalau nggak cepet, entar aku berubah pikiran lho."
"Hehehe."
Kurentangkan jari-jariku di tangan kiri. Mas Arlan memasangkan cincin berlian putih tersebut padaku. Indah sekali. Taburan bunga sakura seakan menghujani ruang apartemenku. Kami saling jatuh cinta ditempat ini. Saling berjanji akan berusaha sebaik mungkin demi hubungan ini.
"By the way kok Mas tau ukuran jari aku yang gede?" tanyaku lagi.
"Mas kan emang sengaja sering pegang jari kamu hehe," jawabnya.
"Ohh... pantes."
Cara yang unik juga. Tanpa bertanya sedikitpun padaku, Mas Arlan bisa memperkirakannya. Ia sangat jenius. Sepertinya memang bukan orang sembarangan. Hanya saja ia tidak mau memberitahukanku sebelum aku bersedia berkunjung di rumahnya.
Sebal sih. Tapi mau gimana lagi.
"Papaaa!" seru gadis kecil sembari berjalan menghampiri kami.
Wajahnya masih sangat lesu karena baru terbangun dari tidurnya. Menggemaskan sekali.
"Sini sayang, putri Papa udah bangun ternyata," jawab Mas Arlan.
"Papa kenapa duduk dibawah Tante Fanni?"
"Papa tadi abis minta Tante jadi Mama kamu sayang."
"Apaan sih Mas? Nggak harus dijelasin juga kali, malu."
"Biarin Dek hehe."
"Horeeee... jadi Selli mau punya Mama jumlahnya dua ya Pa."
"Hmm... iya sayang."
"Tante nanti kalau udah jadi Mamanya Selli, Tante jangan pergi ninggalin Selli ya Tante. Jangan sama sepelti Mama kesatu, padahal Selli udah kangen banget sama Mama kesatu. Tapi Selli nggak bisa beltemu."
"Tante siap melayani tuan putri!"
Perkataan Selli membuatku trenyuh. Aku menatap wajah Mas Arlan yang menunjukkan ekspresi sesal setelah mendengarnya. Ku belai bahu Mas Arlan untuk tenang.
Memberikan pengertian pada mereka, bahwa aku sudah ada disini.
Bersambung...
Budayakan tradisi like+komen yaaa...
Sedikit tambahan nih DAMPAK BULLY, baik sepele maupun serius :
#Depresi.
#Gangguan kecemasan.
#Penyendiri/Mengucilkan diri.
#Ketakutan berlebihan atau bisa disebut traumatik terhadap sesuatu.
#Gangguan pola makan.
#Kepercayadirian menurun.
#Selalu merasa was-was dan tidak aman.
#Berimbas pada keluarga lain.
#Paling parahnya bunuh diri.
Dan yang sudah dialami oleh Fanni adalah kurang percaya diri, traumatik, bulimia, kekhawatiran pada suatu hal yang belum pasti. Jika ada yang lain bisa disimpulkan sendiri.
Maka dari itu ya kakak, mbak, mas, adik, tante dan semua readers selalu hati-hati dalam menjaga lisan. Karena semua manusia tidaklah sama. Ada yang mudah baper ada yang tidak. Kadang kita lupa kata-kata kecil seperti gendut, pendek, kurus, item. Bisa membuat orang lain tersinggung. Tapi semua juga kembali lagi, pada pribadi masing-masing orang. Ada yang menganggap biasa adapula yang selalu kepikiran sampai bingung harus bagaimana. Semua itu masuk dalam kategori bully ringan.
Jujur saja saya sebagai penulis pun pernah mengalaminya. Sewaktu masih di jenjang sekolah dasar. Karena anak dari keluarga berekonomi rendah, pasti sering dikucilkan. Dan sampai sekarang masih membekas dalam ingatan, bahkan saya ingat semua kejadian di masa itu. Sesak rasanya, selalu bermain sendiri kala itu.
__ADS_1
JADI TEMAN-TEMAN MARI KITA STOP BULLY APAPUN BENTUKNYA. MULAI DARI HAL RINGAN SAMPAI BERAT SEKALIPUN.