
Terlepas dari semua yang menimpa Nyonya Dahlia, hari-hariku dengan keluarga kembali normal seperti biasa. Meski masih ada satu hal yang membedakan, namun tidak mengapa. Ibuku kerap datang ke rumah tinggalku, mengurus keperluanku bahkan turut membantu meracik makanan yang diperuntukkan bagi ibu hamil seperti diriku.
Sedangkan ayahku, dimasa tua ini, beliau bisa merintis usaha kecil dengan membuka toko kue atau roti khas Belanda sesuai impian beliau sejak lama. Mungkin dulu sempat coba-coba usaha lain, namun belum berhasil berjalan dengan baik. Kali ini sungguh berbeda. Bahkan, beliau sudah memiliki dua pegawai yang turut membantu. Aku bangga, uang pensiun dari perusahaan bekas ayahku bekerja dan juga uang patungan dari Mas Arlan dan Kak Pandhu, bisa bermanfaat sedemikian rupa. Setidaknya tidak lagi bekerja dibawah tekanan orang lain pada usia saat ini.
Eits, tunggu dulu! Ini belum berakhir. Aku tidak akan muluk-muluk dalam menceritakan kisah hidupku. Meski banyak masalah yang terjadi, hidupku tidak terlalu dramatis seperti drama Korea yang sedang melejit saat ini. Diusia kandunganku yang akan memasuki tujuh bulan, membuatku kerap kali kelelahan. Bahkan, pinggang dan kakiku lebih mudah pegal daripada sebelumnya. Perutku semakin membuncit beserta badan yang semakin melebar. Oh, seandainya bukan demi si Dede' bayi, aku pasti sudah menangis tersedu-sedu karena hal ini. Tidak pernah aku merasakan badan ramping seperti para idol Korea, sedikit menyedihkan, bukan?
Untuk Celvin dan Riska, pada akhirnya mereka masih menunda pernikahan. Hal itu dikarenakan Nyonya Dahlia masih menjalani beberapa prosedur perawatan. Namun, aku sempat mendengar sedikit tentang pembicaraan Mas Arlan dengan seseorang tentang sebuah tanggal. Entah untuk pernikahan atau apa, yang pasti ada kata-kata mahar. Menarik, aku rasa sepasang kekasih itu akan melangsungkan pernikahan secara islam dan negara tanpa perayaan yang besar terlebih dahulu. Jika dugaanku benar, hal itu sungguh mulia dan bisa menghindari fitnah dan zinah lagi.
Baiklah, lupakan terlebih dahulu tentang semua yang aku pikirkan. Karena ada hal penting, bahkan jauh lebih penting dari semuanya. Soal, Nia. Ya! Nia. Terakhir wanita itu datang, kami sempat bertengkar hebat pada saat Mas Arlan telah berangkat bekerja. Aku rasa, sekitar satu bulan yang lalu. Tentu saja tentang Selli, kami beradu mulut saling mengejek dan menjatuhkan. Tidak ada yang berubah pada wanita tempramental satu itu pada kala itu. Beruntungnya, kami tidak sampai beradu fisik.
Dan apa yang terjadi saat ini? Pada akhirnya, aku membuat kesepakatan dengan Nia. Kuberikan izin dirinya untuk datang ke rumah ini diwaktu-waktu tertentu, dengan catatan Mas Arlan telah pergi bekerja. Dengan kata lain, kami menyembunyikan kesepakatan ini dari suamiku. Tentu saja untuk menemui sang putri, namun tetap dalam pengawasanku. Selli sendiri masih belajar secara home schooling karena aku dan Mas Arlan masih mengkhawatirkan banyak hal. Sebenarnya aku tidak tega pada saat melihat Selli berdiam diri lantaran kesepian, anak sekecil itu pasti sangat ingin berbaur dam bermain dengan anak yang lain. Namun apa daya, demi keselamatannya dari sang ibunda. Mungkin, aku mengundang putra dari Nike dan Mas Roni supaya datang kemari untuk menemaninya.
Syukur-syukur kalau mereka berjodoh nantinya, hihi.
Dan yeah, sejauh ini aku terus mengawasi gerak gerik Nia pada saat datang berkunjung. Di pojok ruang bermain, ia kerap bercengkerama dengan Selli bersama makanan yang ia belikan untuk sang putri. Beberapa kali aku merasa cemburu sekaligus tertegun. Sampai saat ini, tidak ada tanda-tanda kejahatan dari dirinya. Apa benar ia sedang merencanakan sesuatu? Aku tidak tahu. Yang pasti, senyum penuh ketulusan kerap kali ia tunjukkan ketika menatap Selli. Apa itu hanya sandiwara belaka? Aku rasa tidak, ia bukan artis yang pintar dalam ber-akting. Entahlah.
"Kenapa? Setiap kali saya datang kesini, kamu selalu duduk disitu dan memandangi kami dengan tajam?" Pertanyaan dari Nia sungguh membuatku terkejut. Aku sampai salah tingkah dibuatnya. Sehingga aku membuang pandanganku ke arah lain dan pura-pura tidak mengerti.
"Jangan GR, Tante. Sekalipun saya memandangi kalian, pasti saya sedang mengawasi anda, jikalau sampai berbuat jahat lagi," jawabku kemudian.
Nia tampak memutar bola matanya, ia merasa konyol atas ucapanku. "Akan sampai kapan kamu dan suamimu terus-terusan berpikiran negatif tentang saya?"
"Sampai kami tahu, akal busuk anda."
"Nona Fanni, jaga bicara anda!"
"Baiklah, sepertinya saya melanggar kesepakatan. Tapi waspada itu tetap penting, 'kan?"
Nia tidak lagi tersenyum, ia melengos dan memilih berbincang dengan Selli lagi. Aku masih duduk di sebuah kursi yang sengaja aku bawa ke tempat ini setelah membuat kesepakatan dengan Nia. Lalu apa yang membuatku membuat kesepakatan demikian? Aku terlalu lelah untuk bertengkar setiap kali wanita itu datang. Terlebih ia kemari pada saat Mas Arlan telah pergi. Sampai saat ini pun, aku belum mengetahui motif apa yang ada dibalik keinginannya untuk merawat Selli.
Sejauh ini pun tidak ada gerak-gerik mencurigakan darinya seperti yang aku katakan. Lantas, apakah Nia telah berubah? Hal itu bisa saja terjadi. Ya, mungkin naluri keibuannya baru muncul pada saat ini. Meskipun banyak hal positif yang aku temukan, hati dan benakku tetap menyuruhku untuk terus waspada. Hari Senin, Rabu dan juga Kamis, ia datang ke rumah ini demi Selli. Kisaran jam bertemu pun tidak lama, mungkin sekitar dua sampai tiga jam. Aku rasa, Nia juga telah memiliki pekerjaan.
"Hei!" ujarnya memanggilku dengan sedikit tidak sopan. Aku hanya menatapnya saja. "Kenapa kamu berlaku demikian?"
"Maksud anda? Kalau soal mengawasi, itu sangat perlu seperti yang saya jelaskan tadi, 'kan?" balasku.
Nia menggeleng. "Bukan itu."
"Lalu?"
__ADS_1
"Pikiranmu berbeda dengan Arlan yang bersikeras menghindarkan Selli dariku. Tapi kenapa kamu berani mengambil keputusan seperti sekarang?"
Aku menghela napas dalam, kemudian kuembuskan kembali. "Sebenernya ini bukan keputusan yang mudah, Tante."
"Bisakah kamu tidak memanggilku dengan sebutan tante?"
Banyak minta, ih!
Kupandangi sekilas ke arah Selli yang tengah asyik menyantap cemilan dari sang ibunda kandungnya. Tampaknya, ia sangat asyik melihat video animasi melalui ponsel milik Nia. Sejak tadi ia tidak berucap sedikit pun, aku rasa tidak ada salahnya aku memberikan jawaban kepada Nia.
Aku kembali menatap Nia yang berada tiga meter dari tempat dudukku. Ia bersimpuh di sebuah karpet yang ada di ruang bermain khusus milik Selli ini. "Saya bertemu Selli jauh sebelum menikah dengan Mas Arlan. Tidak pernah terbayangkan bagi saya untuk mencintai anak itu seperti anak saya sendiri. Bahkan sampai menjadi ibunya."
"Heh! Maksudmu, kamu ingin memamerkan kemesraan kalian lagi?"
Aku menggeleng. "Bukan seperti itu. Seandainya ada, maka jadikan bumbu cerita belaka. Pada saat itu, saya baru mengetahui bahwa Selli adalah korban dari broken home. Anak sekecil itu, begitu kuat menghadapi kenyataan yang menyakitkan," jelasku. "Bahkan, beberapa kali dia menyebut nama anda untuk sebuah kerinduan tanpa rasa dendam dan benci sedikit pun. Anak yang sama sekali belum menginjak bangku sekolah dasar pada saat itu, tidak ada rasa benci sedikit pun didalam hatinya."
Nia terdiam, bahkan ia menunduk tanpa menyanggah ucapanku lagi. Entah merasa tersinggung, atau sedang menahan amarah. Aku tidak tahu. Namun, hal itu semakin membuatku ingin menceritakan pertemuan awalku bersama Selli. Setidaknya agar ia tahu betapa menderitanya sang putri. Dengan begitu, bisa saja ia mundur alon-alon dari ambisinya untuk merebut Selli.
Lalu, pelan-pelan kuambil napasku lagi dan mengembuskannya kembali. Aku memposisikan dudukku agar badanku bisa sedikit lebih tegak di kursi empuk ini. Oh, baru aku sadari, diriku bak seorang ratu disini. Astaga! Apa aku keterlaluan tidak sopan? Untuk beralih duduk dibawah, aku masih enggan dan tentunya gengsi. Lebih baik menjaga image terlebih dahulu supaya harga diriku tidak jatuh dan tidak membuat Nia memperolokku lagi.
"Saya pikir, saya tidak akan bertemu dengan Selli lagi. Karena pertemuan kami sungguh tidak sengaja. Namun, takdir Tuhan berkata lain. Pada akhirnya aku mendapatkan suami dan anak sekaligus dalam sekejap waktu. Terima kasih karna telah melepas mereka untuk saya, Tan, emm ... bukan, Nyonya Nia."
Aku menggeleng. "Tidak, saya ucapkan sekali lagi tidak. Saya masih menghargai anda sebagai ibu kandung yang melahirkan Selli. Tapi, saya masih harus menghormati keputusan suami saya untuk menjaganya dari anda."
"Lalu, mengapa kamu membuat kesepakatan ini tanpa sepengetahuan dari Arlan?"
"Saya hamil, saya terlalu malas untuk bertengkar lagi. Badan saya sudah besar, akan sangat menguras tenaga jika saya memperdebatkan masalah anak yang tidak berdosa. Masih banyak cara sehat untuk berdiskusi, Nyonya. Bukankah lebih baik dengan cara damai, daripada dengan cara licik dan kasar? Tidak pernahkah anda menyadari kejahatan anda dimasa lalu? Dan semua imbas sudah terjadi didepan mata anda. Sekarang anda sendirian tanpa suami tanpa anak, Nyonya. Hukum karma masih berlaku sampai kapanpun."
Jawabanku mungkin sangat panjang, bahkan bisa saja membuat telinga Nia menjadi panas. Namun saran dari Mita ada baiknya juga diterapkan, serang musuh secara halus namun menusuk. Benarnya, Nia tidak menjawab atau bertanya dalam beberapa saat setelah mendengar ucapanku. Ia tampak tertegun sebentar, lalu berceloteh pelan bersama Selli.
Melihat kedekatan keduanya, sebenarnya kerap kali sakit hatiku. Bak ditinggalkan kekasih dengan gebetan barunya. Perih. Namun apa daya, semua telah aku putuskan demi sebuah perdamaian. Jikalau ucapan dan niatku tidak bisa mempengaruhi Nia, tak apa. Yang terpenting ia tidak berbuat hal aneh kepada Selli ataupun Mas Arlan.
"Terima kasih ...." Aku terbelalak lebar, perkataan pelan itu terdengar dari bibir Nia. Namun untuk siapa? Diriku atau Selli?
"Ma-maaf, tadi berbicara dengan siapa ya?" Kupastikan dengan segala keberanianku.
Lantas, Nia menatapku. "Lupakan, anggap saja tidak dengar," jawabnya.
"Hah? Oke, oke, baiklah. Saya mengerti."
__ADS_1
Nia berdeham, terlihat ia sedang menenangkan diri atas rasa malu. Entah mengenai hal apa, namun aku bisa menangkap perasaannya. Suasana setelahnya menjadi hening seketika, kecuali audio dari film animasi yang sedang diputar oleh Selli. Sejenak waktu, aku menjadi kikuk juga pada saat mengingat ucapan pelan dari bibir Nia tadi. Tidak mungkin 'kan, jika aku salah dengar?
Detik jam yang berbunyi turut mengisi kebersamaan kami di ruangan ini. Tidak ada lagi pertanyaan yang terlontar dari masing-masing insan. Aku pun sudah beberapa kali mengubah posisi dudukku dikarenakan pegal di pinggang. Satu jam lamanya aku berlaku demikian. Dan saat ini jam baru menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi. Sebentar lagi guru Selli akan datang dan Nia akan pulang.
"Mama Nia, filmnya udah habis. Selli udah bosen," celetuk Selli tiba-tiba. Pada saat aku menatapnya, ia menyerahkan ponsel kepada sang ibunda. Hal itu membuat Nia tersenyum. Ya! Senyum itu, belakangan ini terlihat berbeda. Lebih lembut dan penuh makna. Aku rasa, itu bukan perasaanku saja. Semoga saja dugaanku sebagai hal positif memang benar adanya.
Kemudian, dirangkullah tubuh Selli oleh Nia. Ia mencubit gemas pipi sang putri yang chubby. Paras kedua orang itu terlihat hampir serupa. Sampai pada akhirnya, bibirku ikut tersugesti untuk tersenyum. Pada saat Nia menoleh ke arahku, aku langsung membuang muka dan menghapus senyumanku. Aku tidak akan kalah darinya.
Tapak kaki si kecil terdengar sedang menghampiriku. Hal itu membuatku kembali menatap ke arah mereka, Selli sedang datang ke arahku. Dari langkah pelan menjadi sebuah gerak lagi. Sesampainya dihadapanku, ia tidak langsung memelukku karena kondisi perutku yang sudah buncit lumayan besar. Tidak kusangka lagi, ia membungkuk dan mengecup bulatan perutku.
"Aku lupa belum sayang Dede' bayi, Mama Fanni. Maaf ya, Ma," ujarnya yang membuatku jatuh terharu.
Dengan lembut kuraih wajah Selli lebih dekat. Kuberikan hadiah kecupan lembut didahi. Ia tersenyum, berbalik badan sejenak dan memandang Nia. Wanita itu hanya tersenyum sekilas saja. Sedangkan diriku memberikan jawaban untuk Selli, "terima kasih, Kakak cantik. We love you."
"I love Mama Fanni dan Mama Nia, terus Papa, terus Dede' bayi, terus Bi Onah, terus Pak Edi."
"Ya ampun, anak Mama ternyata anak pinter yang penyayang ya?"
"Hehe ... iya dong, Ma. Biar Selli disayang sama semua orang."
"Ya udah, siapin buku belajarnya dulu. Bentar lagi, Bu Guru dateng tuh. Jangan lupa pamit sama Mama Nia kalau mau balik ke kamar."
"Oke, Mama Fanni."
Selepas itu, Selli berbalik badan lagi. Diambilnya langkah untuk menghampiri Nia yang sudah berdiri dari duduknya. Wanita itu agak membungkuk demi meladeni celoteh lucu dari sang putri. Meskipun hubunganku dengannya tidak terlalu baik, setidaknya Selli tidak terlibat didalamnya.
"Mama Nia, Selli mau siap-siap sekolah dulu ya? Mama Nia pulang dulu, terus istirahat." Begitulah kiranya kalimat yang digunakan Selli setiap kali ia hendak berpisah dengan ibu kandungnya.
"Iya, Sayang. Belajar yang rajin, biar jadi anak pintar," jawab Nia sembari membelai halus rambut Selli. Setelah itu, ia memberikan kecupan manis di dahi Selli.
Setelah melakukan ritual pamitan tersebut, Selli langsung bergegas pergi. Tampaknya ia akan kembali ke kamar demi mengambil beberapa buku pelajaran khusus untuk anak kelas satu sekolah dasar. Sedangkan diriku, aku mencoba berdiri dengan susah payah demi menyusul Selli. Tanpa kuperdulikan Nia lagi, aku mulai melangkah pelan sembari memegangi pinggang.
"Tunggu!" Nia terdengar sedang menghentikanku. Entah untuk apa, yang pasti berhasil membuat langkahku terhenti. Lantas, aku berbalik badan dan menatapnya. Ia tampak sedikit gelisah. "Saya ingin, emm ... ingin berbicara dengan kamu, Nona Fanni."
Aku mengernyitkan dahi seketika lantaran merasa heran. Namun segera kuhapuskan perasaan tersebut. "Emm ... ya boleh, masih ada sisa waktu sebelum waktu pulang anda datang."
Bersambung ...
Budayain lagi tradisi Like+komen ya
__ADS_1