
Fanni sibuk menimang Sella yang sejak tadi rewel. Mungkin, bayi cantik itu tengah rindu kepada sang ibu. Beberapa waktu terakhir, setiap malam Sella selalu diserahkan kepada Sima--selaku baby sitter yang mengurusnya. Hal itu membuat Fanni merasa sangat bersalah. Ia bak melupakan kedua putrinya, pun meski sebelum kedua putrinya tidur, ia selalu datang ke kamar di mana mereka berada. Hanya saja, ia tidak tidur bersama mereka.
Bukan hanya Fanni saja, juga Arlan--selaku ayah dari Selli dan Sella. Ia merasa kalap akan istrinya, mungkin bisa dikatakan serakah. Demi hasratnya, ia bak melupakan bahwa Fanni juga seorang ibu, bahkan dari dua anak sekaligus. Arlan merasa bahwa bulan ini adalah bulan madu, sesuatu yang bisa membuatnya semakin dekat dengan Fanni. Namun, mereka tetap orang tua dan tugas paling utama adalah ada untuk anak-anaknya. Arlan maupun Fanni benar-benar merasa bersalah, bahkan sangat.
"Hari ini kan hari terakhir, jadi biar anak-anak sama kami, Sus," ujar Arlan kepada Sima.
Tentu saja, ucapan dari majikannya itu membuat Sima terkesiap. Ia merasa bingung untuk jawaban yang akan diberikan. Jika Selli dan Sella berada di tangan Arlan dan Fanni, lalu ia akan melakukan apa? Ia tidak mungkin bersantai ria, sedangkan majikannya merasa kewalahan. Terlebih, hari ini dan esok adalah hari terakhir ia bekerja.
"Enggak apa-apa. Mumpung masih pagi, jadi Suster bisa jalan-jalan dulu," lanjut Arlan. Pria yang berusia hampir setengah abad, lebih tepatnya lima tahun lagi ini menangkap raut cemas dari Sima. Sampai akhirnya, ia berkata seperti itu.
"T-tapi, Pak? I-ini kan harinya Pak Arlan dan Mbak Fanni, jadi sudah tugas saya untuk menjaga Selli dan Sella," tukas Sima seketika. Berharap agar Arlan mengurungkan niatnya karena ia benar-benar tidak enak hati kepada mereka.
Fanni tersenyum. Ia yang sejak tadi terdiam sembari memberikan ASI kepada Sella, kini berjalan mendekati Sima. Ia menyentuh pundak Sima kemudian berkata, "Enggak apa-apa, Sus. Hari ini hari terakhir, jadi jangan sia-siakan kesempatan. Mungkin ada beberapa toko yang ingin Suster datangi, tapi karna kami, Suster enggak jadi ke sana."
"T-tapi, Mbak ...?"
"Enggak apa-apa, Sus. Lagian, ada petunjuk arah kok, pasti orang sepintar Suster enggak bakalan hilang. Yang penting HP jangan nyampe mati. Nanti hubungi kami kalau ada apa-apa. Buru, mumpung masih pagi banget ini."
Sima menghela napas dalam, lalu ia hembuskan di detik berikutnya. Ia berusaha menyunggingkan sebuah senyuman. Ia tidak munafik untuk menampik tawaran itu. Akan menjadi momen langka, ia bisa berjalan-jalan sepuasnya di negara asing ini. Baginya, kebebasan satu hari ini bagaikan emas yang mahal harganya. Ia bersyukur, jika boleh--ia ingin memperpanjang kontrak kerja bersama Fanni dan Arlan. Namun, sepertinya hal itu sangat mustahil.
Sima menatap Fanni dengan tajam tetapi masih berkesan lembut. Kemudian, diraihnya tangan Fanni. Hal itu membuat Fanni spontan terkejut. Pandangan matanya yang sejak tadi mengarah ke wajah Sella, kini beralih kepada Sima. "K-kenapa, Sus?" tanyanya kepada suster bayi itu.
"Terima kasih ya, Mbak. Sama Bapak, saya enggak tahu harus balas pake apa buat hal ini," jawab Sima.
"Lho, emangnya kami berbuat apa ya, Sus?" Fanni merasa bingung atas ucapan terima kasih dari Sima. Ia merasa tidak melakukan apa pun, justru dirinya yang merasa terbantu oleh keberadaan Sima.
"Karna ... karna Mbak Fanni dan Pak Arlan sudah kasih saya pekerjaan hehe. Dan ... bonus liburan ke Belanda lagi, malah dapat bonus jalan-jalan sendiri."
"Oalah! Kirain apa, ya ampun, Sus. Justru saya yang harusnya berterima kasih, karena ada Suster Sima, saya enggak harus kewalahan ngurusin para bayi. Apa lagi, bayi besarnya sedang manja-manjanya."
Arlan berdeham, ia merasa tengsin atas ucapan Fanni, terlebih kepada Sima yang merupakan orang lain. Selanjutnya, Fanni hanya terdiam. Sedangkan Sima cekikikan. Ia undur diri dan hendak bersiap untuk berjalan-jalan di hari terakhir ini. Semua persiapan memang sudah rapi. Tiket pulang pun sudah diurus oleh Arlan. Ia bisa merasa tenang. Memang, ada beberapa toko yang sangat ingin ia kunjungi dan tidak jauh dari sini. Karena sejatinya ia bekerja bukan berlibur, sehingga, ia hanya bisa menuruti ke mana sang tuan pergi.
Fanni menghela napas dalam. Ia merasa lega lantaran si kecil telah berhasil ditidurkan. Ia menaruh tubuh Sella dengan sangat pelan di atas ranjang. Sudah mau pulang, si kecil malah rewel sekali. Membuat hatinya, justru bimbang. Bagaimana jika di dalam pesawat nanti? Waktu tempuh bukanlah waktu yang sebentar, bahkan bisa memakan waktu sekitar dua puluh jam.
"Sakit, Dek? Badan dia panas enggak?" tanya Arlan, ia menghampiri sang istri yang masih merebah di samping Sella. "Mau dipanggilin dokter, Dek?"
Fanni menggeleng. "Enggak sakit kok, Mas. Cuma lagi rewel aja. Kayaknya karna aku enggak sama dia beberapa malam terakhir. Si bayi enggak bisa jauh dari mamaknya ini," jawab Fanni.
"Hmm ... Mas yang salah, Dek. Harusnya Mas enggak egois." Arlan hanya bisa menunduk dengan murung. Semua yang terjadi memang karena dirinya, begitu yang ada di dalam hatinya. Namun, semua sudah terjadi dan tinggal bagaimana ia meredakan apa yang menimpa Sella.
"Mama! Papa!" Seruan Selli terdengar dari arah kamar mandi. Ya, gadis kecil bak anak Korea itu, baru saja selesai mandi. Air hangat di dalam bak yang besar menjadi tempat favoritnya di hotel ini, bahkan ia bisa menghabiskan waktu sangat lama. Hal itu, membuat Arlan selalu mewanti-wanti agar tetap berhati-hati dan mengawasinya hampir di setiap menitnya.
"Sssttt! Dede' lagi tidur, Sayang." Dengan sigap, Arlan menuruni ranjang dan menghampiri anak pertamanya itu. Balutan handuk yang menutupi tubuh Selli ia lepas untuk mengeringkan tubuh sang putri.
"Pa, kita mau jalan-jalan lagi ya?"
Arlan sejenak menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap Selli dengan kerutan di dahinya. "Kata siapa?"
"Kata Mama, Pa."
Arlan menatap Fanni seketika. Sedang si istri yang selalu ia anggap sexy itu, kini hanya menatap keduanya dengan penuh tanda tanya. Justru, ia tidak mengetahui rencana jalan-jalan yang diungkapkan oleh Selli. Bahkan, ia sempat berpikir bahwa Arlan yang menjadwalnya. Namun itu tidak mungkin, bukan? Esok hari, mereka akan melakukan penerbangan. Mana ada kelelahan dan Sima sudah diizinkan untuk bepergian sendiri.
"Mama enggak tahu, emang Selli tahu dari mana? Kok fitnah Mama sih?" tanya Fanni kepada anak sambungnya itu.
Selli seketika tertawa. "Hanya bercanda," jawabnya selepas cekikikan.
"Hmm ... siapa yang ajarin begitu?" Tatapan mata Arlan begitu tajam ke arah Selli. Namun ....
__ADS_1
"Papa marah, ya?"
"Emm ... enggak, hanya bercanda."
"Papa!"
Arlan tertawa lebar. Ia bangga bisa membalas keusilan Selli yang sudah semakin besar. Setelah sisa-sisa air di tubuhnya berhasil dibersihkan, ia berlari menuju kursi sofa di mana pakaian gantinya berada.
Keluarga itu, semakin manis saja di setiap harinya. Pun meski, banyak masalah yang datang menerpa, tidak menorehkan luka yang disimpan dalam waktu yang lama. Suatu kebahagiaan yang sangat ingin dipertahankan oleh Arlan. Terlebih, ia pernah mengalami masa lalu yang kelam. Mendapatkan Fanni, memiliki dua putri cantik sudah seperti hadiah yang bahkan bernilai melebihi emas. Pun meski, Arlan bak tidak menyangka bisa membangun keluarga ini. Setelah perceraiannya dengan Nia, ia nyaris tidak ingin merajut rumah tangga lagi. Namun, kembali lagi pada takdir Tuhan yang berkata lain. Arlan bahagia.
****
"Mas, kamu bawa Sella dulu, ya? Aku mau beres-beres sama Selli," pinta Fanni kepada sang suami yang manisnya bak madu yang membuat candu.
Dahi Arlan mengernyit seketika. "Beres-beres apa lagi, Dek?" tanyanya.
"Ada pokoknya. Mumpung anaknya enggak rewel nih. Lagian kamu juga jarang gendong Sella. Jangan ke kamar itu, ada barang-barangnya suster, enggak baik. Mending ke taman cari udara sejuk."
"Iya, iya." Kemudian, Arlan mengambil alih tubuh Sella dari Fanni. Ia menatap Selli, kemudian berkata, "Kakak mau ikut Papa dan Dede' Sella enggak?"
Selli menggeleng. "Enggak, Pa. Selli mau bantuin Mama aja."
"Anak pinter!"
"Mas, jangan lupa bawa HP. Nanti, kalau belum aku kabarin jangan balik!"
Ya, siang hari telah tiba. Sima belum juga kembali, namun tidak membuat Fanni marah lantaran wanita yang berprofesi sebagai baby sitter itu sudah mengabari dirinya untuk pulang setelah petang menjelang. Fanni hanya mewanti-wanti supaya Sima bisa menjaga diri dan juga tidak menghabiskan tenaga karena esok akan pulang ke tanah air. Dan kini, ia sibuk menata sesuatu bersama Selli. Sedangkan Arlan sedang mengajak keluar Sella demi menikmati udara segar di taman hotel.
Fanni menghela napas dalam. Rencana akan dijalankan. Ya, tentang rencana sebuah kejutan untuk Arlan. Ulang tahun? Tentu bukan, melainkan tepat tiga tahun pernikahan mereka. Meski bukan hasil masakannya sendiri, tetapi ia berusaha mengatur semuanya menjadi indah. Ia belum berhasil dalam meningkatkan kemampuan memasaknya, ia lemah dalam mengkombinasikan rasa masakan. Kata orang memasak bukanlah perkara yang sulit, tetapi Fanni benar-benar tidak bisa dalam urusan mencampurkan bumbu-bumbu sesuai takaran. Rasanya selalu aneh.
"Pesanan sudah siap, Nona," ujar petugas hotel dengan kereta yang berisi makanan pesanan Fanni. Tentu saja dalam bahasa inggris sebagai bahasa internasional.
"Ya, terima kasih," jawab Fanni. Ia mempersilahkan masuk pria itu.
Ya, hanya sebuah kue cantik berwarna putih bergambar bola basket--olahraga yang begitu disenangi oleh Arlan. Tidak banyak orang tahu tentang kegemaran Arlan mengenai itu, bahkan Fanni belum lama ini mengetahuinya. Kue dihias sedemikian rupa, tidak cantik melainkan gantleman. Lalu, minuman berupa kopi yang katanya paling enak di hotel ini.
"Thank you," ujar Fanni kepada pria bule yang bertugas itu.
Ia tersenyum. "You're welcome, Miss," jawabnya kemudian berlalu membawa kereta pembawa kue tersebut.
"Selli boleh makan ini enggak, Ma?" tanya Selli sembari menunjuk ke arah kue itu.
"No, ini buat papa kamu, Sayang. Nanti ya sabar, kalau papa kamu udah balik pasti dikasih."
"Oke, Mama."
"Bantu Mama beresin meja, ya? Kita buat kejutan indah buat papa-nya Sella dan Dede'."
"Iya, Mama!"
Persiapan di mulai. Ketika Arlan tidak ada, Fanni lebih leluasa dalam menjalankan rencananya cantik. Ia menghias meja makan dengan pernak-pernik seputar basket. Bahkan gelas yang akan digunakan pun, bergambar tentang basket. Hampir semuanya. Kejutan ini mungkin terlihat sederhana, namun Fanni berharap bisa membuat sang suami terkesan. Hanya itu yang bisa ia lakukan, tidak lebih. Sebagai seorang istri pastinya gerak lajunya terbatas, keuangan yang ia pegang pun kerap kali sayang untuk digunakan, pun meski Arlan tidak melarangnya dalam berbelanja. Malah, ada uang khusus untuk Fanni dan terserah akan digunakan untuk apa. Tidak banyak, tetapi lumayan. Fanni selalu menyimpannya sebagai tabungan dan kali ini ia gunakan untuk hadiah kali ini.
Sementara itu, Arlan hanya bisa mendengkus kesal beberapa kali. Ternyata, mengurus bayi bukanlah perkara mudah, bahkan untuk seorang lelaki. Meski Sella tidak rewel, tetapi bayi cantik itu ingin selalu digendong daripada berada di dalam stroller. Hal itu yang membuat Arlan sedikit kewalahan, meski begitu ia tetap berusaha menjaga Sella dengan baik, ia berusaha mengabaikan rasa pegal yang menerpa bahunya. Sebenarnya, ia ingin kembali ke kamar sejak tadi, akan tetapi ia merasa malu kepada sang istri. Ia tidak mau dianggap sebagai suami yang lemah. Menjaga anak sebentar saja sudah mengeluh--misalnya.
"Jangan rewel ya, Sayang. Mama lagi repot," ujarnya sembari meringis-ringis kepada Sella.
"Mamamama," jawab Sella seolah ingin memberitahu sang ayah untuk mengantarkannya kepada ibunya.
__ADS_1
"Uluh, anak Papa cantik banget enggak boleh rewel, ya? Oke! Aduh, Dek. Lama sekali ...."
Sesekali, Arlan mengembalikan Sella ke dalam strollernya. Namun, tidak berapa lama kemudian, Sella kembali merengek minta digendong. Dan itu terjadi terus menerus. Sungguh, rasanya ia ingin menangis saja. Namun, mau bagaimana pun Sella adalah anaknya. Ia sangat menyayanginya, akan tetapi kekuatannya tidak bisa mengalahkan kekuatan Fanni selama ini. Ya, itulah seorang ibu, maka dari itu ibu adalah yang paling utama. Namun bukan berarti seorang ayah tidak harus dihormati, intinya orang tua adalah sosok yang penting begitu pun seorang anak.
Selang waktu berjalan, akhirnya pesan dari Fanni datang. Mata Arlan spontan berbinar, ia segera membawa Sella bersama kereta bayinya menuju kamar mereka. Rasa dan napas lega bisa ia hirup dengan bebas.
****
"Taraaa!" Seruan dari Fanni dan Selli membuat Arlan benar-benar terkejut. Terlebih, kedua wanita kesayangannya itu telah membalut tubuh mereka dengan gaun yang sangat cantik dan indah.
"A-apa ini? Kalian mau ke mana?" tanya Arlan dengan ekspresi penuh tanda tanya. Bahkan, ketika Sella diambil oleh Fanni dari gendongannya, ia benar-benar tidak menyadarinya.
"Happy third anniversary, my Husband," jawab Fanni dengan senyuman paling manis bagi Arlan. Wajahnya yang sudah terpoles make up natural kini terlihat sangat memakau. Rambutnya yang dibiarkan terurai halus, kini membuatnya bak bidadari yang turun dari khayangan. Ya, bidadari gendut!
Setelah mengatakan itu, Fanni maju satu langkah tepat di hadapan Arlan. Ia mengecup pipi suaminya dengan manis. Sedangkan Arlan masih saka terbengong-bengong. Sampai kemudian, ia benar-benar telah sadar. Ia menutup pintu kamar hotel itu. Kemudian, ditariknya Selli dengan perlahan dan ditutupnya kedua mata Selli menggunakan telapak tangannya. Tanpa peduli, Sella yang berada di dalam gendongan Fanni, Arlan mengecup bibir Fanni. Untuk kali ini, Fanni meladeni sebagai hadiah. Asal kedua putri mereka tetap dijaga dengan baik, mata mereka ditutup sampai benar-benar selesai.
"Makasih, Dek. Makasih, Kakak dan Dede' Sella. Papa enggak nyangka sama kejutannya," ujar Arlan setelah melepaskan Fanni. Mata Selli pun sudah ia buka kembali.
"Sama-sama, Papa," jawab Selli.
Fanni tersenyum. "Sama-sama, Sayang. Yuk duduk di sana. Tadi kan kita udah makan siang, jadi sekarang makan dessert-nya."
Arlan mengikuti langkah Fanni dan Selli. Ditariknya satu kursi khusus untuk Arlan, akan tetapi Arlan segera menepis gerakan Fanni karena istrinya itu sudah kewalahan dalam menggendong Sella.
Pemotongan kue dilakukan. Pertama untuk Fanni lalu kedua anaknya. Arlan benar-benar bahagia. Bahkan, ia sangat menyesalkan sikapnya tadi. Ia begitu tidak sabar dalam menjaga Sella, ternyata sang istri merencanakan ini semua.
"Maaf, Mas. Aku enggak bisa kasih apa-apa sama kamu. Dan ... mumpung masih di sini, aku mau tuntasin rasa terima kasih aku sama kamu. Makasih karena kamu udah jadi suami yang baik dan penuh perhatian buat aku dan anak-anak selama ini. Aku bahagia banget hidup sama kamu dan maafin aku karna aku masih banyak kekurangan yang mungkin ada beberapa yang enggak bisa termaafkan," ujar Fanni sembari menggenggam tangan Arlan menggunakan satu tangannya.
Arlan menatap Fanni penuh makna yang berarti. "Begitu pun sebaliknya, Dek. Mas juga bahagia hidup sama kamu dan anak-anak. Mas belum bisa jadi suami dan ayah yang baik. Malahan, baru aja ngeluh karna enggak sesabar kamu dalam menjaga Sella. Mas minta maaf ya, Dek," jawab Arlan.
"Ya, namanya cowok pasti begitu, Mas. Hehe. Enggak apa-apa kok. Nanti belajar lagi bantuin jaga anak, ya?"
"Siap, Sayang."
Fanni berdiri dari duduknya. Ia meletakkan Sella di dalam strollernya, kemudian ia menuju meja yang memiliki laci dan mengambil sesuatu di dalamnya. Ia kembali lagi menghampiri Arlan dan duduk seperti semula.
"Aku ada hadiah kecil buat kamu, Mas," ujar Fanni sembari menyodorkan hadiah itu kepada sang suami.
Arlan tertegun. Kemudian, ia menerimanya. "Ini apa, Dek?" tanyanya.
"Buka aja, Mas."
Tanpa pikir panjang lagi, Arlan membuka kado tersebut. Sebuah jam tangan berwarna perak dan emas tampak di dalam kotak kado tersebut. "I-ini, kan?"
Fanni tersenyum. "Iya, itu jam yang waktu itu kamu lirik di samping restoran. Aku bohong kalau mau beli sesuatu buat Sella, aku beli ini buat kamu, Mas. Dan hampir dua tahun, kamu enggak ganti jam sama sekali. Kasihan banget, demi liburan ini kamu nyampe menyiksa keinginan diri."
"Sayang, Mas enggak tahu harus bilang apa kecuali terima kasih."
Mata sepasang suami istri ini saling bertatapan penuh cinta. Jika bukan seorang pria, Arlan sudah pasti menangis sesenggukan karena haru. Ia berusaha tetap tegar atas rasa bahagianya itu, ia tidak mau terlihat lemah meski dalam keadaan bahagia sekali pun. Luar biasa! batinnya bak berteriak kencang karena perasaan bahagia itu.
"Pa, Papa, ini dari Selli." Tiba-tiba putri pertamanya datang menghampirinya sembari membawa sebuah kotak hadiah pula.
Arlan kembali tertegun, lalu segera menerimanya. Tanpa meminta persetujuan dari Selli, ia lantas membukanya. Sebuah gambar di kertas terlipas di sana. Sama dengan beberapa tahun yang lalu, Selli menggambar setiap anggota keluarganya saat ini. Namun, kali ini jauh lebih bagus daripada sebelumnya.
"Papa, sayang kalian semua," ujar Arlan sembari memeluk mereka berdua. Sedangkan Sella berceloteh riang dari dalam strollernya bak mengerti keadaan bahagia itu.
****
__ADS_1