Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Acara


__ADS_3

Baju brokat lengan pendek berwarna orange terbalut ditubuhku. Dipadu dengan androk span polos selutut berwarna senada. Tidak lupa flat sepatu cantik untuk kakiku.Tentu saja semua berukuran serba jumbo. Kalung indah dan cantik pemberian Mas Arlan pun turut menghiasi leherku.


Pilihanku akhirnya jatuh pada pakaian-pakaian tersebut. Biarlah, aku tidak mau memakai baju seragam yang super ketat dan bisa menampilkan tumpukan lemakku. Ibuku memang sempat memarahiku, namun sekali lagi aku mencari kenyamananku sendiri. Lagipula warna yang kupilih tetap sama. Meski dalam bentuk model yang berbeda.


Ya! Hari ini adalah hari yang akan diberlangsungkannya resepsi pernikahan Kak Pandhu dan Febi. Akad pun sudah terlaksana hari kemarin. Dan sesuai anjuran dari Celvin, aku bisa mengambil izin selama tiga hari sesuai prosedur perusahaan.


"Fanni, kamu yang nganter Febi ya," ujar ibuku padaku.


"No!" jawabku tegas.


"Anak ini, kamu kan udah jadi adik iparnya Febi."


"Nggak, nggak mau! Titik!"


"Fanni!"


"Aku nggak mau berantem sama Mama, jadi jangan maksa."


Tidak mungkin aku bersedia menjadi bridesmaid untuk Febi. Aku rasa Febi memiliki banyak teman, yang pastinya juga cantik-cantik. Jika aku bersedia, aku pasti merasa dipermalukan.


Lagipula aku tidak dekat dengannya. Dan mungkin akan sulit dekat walau telah menjadi kakak iparku. Entahlah, tidak ada keinginan untuk mengenal Febi lebih jauh. Mungkin, ia sangat cantik dan hal itu membuatku minder.


"Kamu kenapa nggak mau?" tanya Ibuku lagi.


"Aku jelek, gemuk dan nggak menarik Mama," jawabku.


"Emangnya yang mau nikah siapa? Kok kamu yang rempong sampe semalu itu?" tanya beliau lagi.


"Udah Tante nggak apa-apa, Febi udah minta tolong temen sama kakak sepupu kok," sela Febi.


"Nah good! Jadi Mama jangan maksa aku, temen Febi banyak yang cantik."


"Fann... Fann... Mama bingung sama kamu."


"Maaf Ma, maaf."


"Maaf mulu nggak pernah berubah!"


"Hehehe... yang penting aku sayang sama Mama."


Cup!


Kucium pipi Ibuku lalu berlalu pergi. Aku menuju kursi tamu dibagian paling belakang. Lagipula aku tidak berguna apa-apa. Catering sudah diatasi oleh para petugas catering yang dibentuk dalam satu paket bersama makanannya. Persiapan pernikahan pun telah selesai tinggal menjalankan.


Tamu-tamu undangan mulai berdatangan sebelum Febi dan Kak Pandhu dipajang. Aku pun berdiri dan membantu Ibuku menyambut mereka, bersalaman lalu mempersilahkan duduk.


Beberapa saat kemudian, pengantin mulai diantarkan oleh penggiringnya masing-masing. Sekali lagi Febi terlihat sangat cantik dengan wajahnya yang imut seperti boneka. Tubuh rampingnya terhias gaun pengantin warna putih dengan permata-permata kecil keemasan. Wanita yang lebih muda dariku tersebut, kini telah resmi menjadi kakak iparku.


Dan Kak Pandhu yang sangat gagah dengan setelan jas berwarna putih. Pernikahan ini tidak terlalu mewah namun cukup mengesankan. Sepasang pengantin pun begitu serasi, tampan dan cantik.


Tamu-tamu saling bercengkerama satu sama lain. Di titik inilah aku merasa kesepian. Bukan salah siapa-siapa, ini murni kesalahanku lagi. Aku yang tidak pandai berbaur, aku tidak bisa membuka pembicaraan. Kecuali seseorang mengajakku berbincang lebih dulu.


Seandainya Mas Arlan disini, pasti ia bisa menemaniku. Nike pun tidak hadir karena harus bekerja, mungkin sore nanti baru datang.


"*Eh... bisa gitu ya, anak lakinya gagah bener, adeknya malah gemuk jeng."


"Sssttt... biarin, jangan kenceng-kenceng. Adiknya juga belum dapet pasangan katanya."


"Biasanya cewek ya yang nikah duluan."


"Makanya jeng kalau punya anak, pola makannya sebisa mungkin diatur."


"Iya jeng, bener banget. Jaman sekarang laki juga nyarinya yang cakep, percuma bule kalau gede gitu."


"Udah ah... nggak enak kalau ada yang denger*..."


JLEB!


Bisik-bisik tamu yang hadir tepat sekali menusuk jantungku. Suara seorang ibu-ibu dari arah depanku sedang menggosipkan diriku dengan sesamanya.


Sial! Seharusnya aku tidak disini. Seharusnya aku masuk kedalam kamar saja dan mengunci pintunya. Persetan dengan pernikahan ini. Aku sudak muak dengan orang lain yang membanding-bandingkan diriku dengan Kak Pandhu.


Namun, aku harus tetap tenang. Jangan membuat masalah yang bisa membuatku semakin hancur. Tutup telinga, menjauh pergi dan tinggalkan acara indah ini.


Aku memutuskan untuk masuk kedalam rumahku. Meninggalkan pekarangan rumah yang sudah berdekorasi itu. Mataku menatap kosong kearah depan. Aku tau aku memang tidak pantas.


Jangan konyol dan jangan menangis lagi karena ocehan orang lain tersebut. Aku sudah semakin tua, waktunya bahagia. Apalagi aku sudah memiliki Mas Arlan yang bisa menerimaku apa adanya. Kami akan berjuang keras. Lihat saja nanti!


Sampai terlintas keinginan untuk berdiet lagi dalam benakku. Rasanya ingin sekali kutebas mulut-mulut julid dengan kecantikanku nanti. Namun, bayang-bayang rumah sakit masih saja menghantui. Aku khawatir, program dietku gagal dan masuk ke ruang suntik tersebut. Jangan sampai!


Aku duduk ditepian ranjang kamar lamaku setelah kututup pintunya. Lalu kukirimkan sebuah pesan singkat, bertanya sedang apa kekasihku saat ini, di kejauhan sana. Aku rindu padanya, sudah beberapa hari tidak bertemu. Selain Ibuku melarang, aku juga sibuk membantu. Segala tindakanku dirumah ini benar-benar diawasi ketat oleh beliau.


Drrttt... Drrrrttt... Drrrrrtttt...


Tak disangka tak dikira, Mas Arlan begitu gesit. Tidak sampai satu menit kukirim pesan, ia langsung peka dan menghubungi. Dengan segera kutekan tombol hijau untuk bisa bercengkerama dengan kekasihku tersebut melalui via suara.


"Assalamu'alaikum Mas, halo," sapa salamku padanya.


"Wa'alaikumssalam Dekku, halo juga sayang," jawabnya genit seperti biasanya.


"Lagi apa?"


"Lagi kerja Dek, kok kamu bisa main ha-pe?"


"Aku bete Mas."


"Bete kenapa lho Dek?"


"Bosen aja Mas, pengen pulang."


"Pulang kemana lagi?"


"Ke apartemenku lah Mas."


"Hmm... jangan gitu Dek, inikan acara spesial kakak kamu."


"Iya sih, tapi aku sebel aja."


"Sebel kenapa sayang?"


"Ada yang ngomongin aku, ada yang bandingin aku sama Kak Pandhu. Kata mereka aku gemuk, belum laku dan lain-lain, ya walaupun emang bener sih. Tapi aku kan sebel jadinya."


"Hahaha."


"Kok malah ketawa sih?"


"Kenapa harus dengerin orang sih Dekku sayang, kan kamu udah punya Mas. Kamu udah laku kok, kamu cantik bule banget, mata kamu biru kayak berlian."

__ADS_1


"Halah... itu mah yang ngomong kamu doang Mas."


"Hehe... udah sana gabung lagi. Abaikan yang julid, tenang ya sayang. Mas bakal bikin kamu dibilang laku."


"Iya Mas, makasih ya Mas. Uda-"


TOK! TOK! TOK!


Perbincanganku dengan Mas Arlan terputus seketika. Seseorang sedang mengetuk pintu kamarku.


"Mas udah ya aku takut Mama yang ngetuk," kataku pada Mas Arlan.


"Iya iya, yaudah sana Dek bukain," jawab Mas Arlan.


Tanpa kuucap salam, langsung ku matikan panggilan kami yang berlangsung. Aku merapikan pakaianku dan segera datang menghampiri pintu.


Beruntungnya bukan ibuku yang melakukannya. Namun, salah satu ibu-ibu tetanggaku yang membantu acara ini.


"Kenapa Tan?" tanyaku.


"Dihh... Fanni, dicariin Emak kamu lho Neng," jawab beliau.


"Iyakah?"


"Iya, sono ah keluar gih gabung sama yang lain. Entar kamu dimarahin kalau ada didalem kamar gini."


"Iya udah, makasih ya Tante."


"Iya sama-sama Neng."


Memang bukan Ibuku yang melakukannya. Namun Ibuku yang menyebabkannya. Malasnya, pasti aku akan jadi bahan gosip perbandingan lagi. Mau tidak mau aku melangkah keluar dari kamar. Lalu mencari keberadaan Ibuku.


Kulihat Ibuku tengah berbincang dengan temannya. Sedangkan aku kembali duduk di kursi tamu paling belakang. Di sudut yang paling sepi. Guna menghindari julidan dari manusia yang merasa paling sempurna lagi.


Tamu-tamu undangan terus datang lalu bergantian pulang. Saling bergiliran foto bersama dengan sepasang pengantin. Aku ngilu karena jenuh. Coba saja yang di pelaminan adalah aku dan Mas Arlan. Pasti hatiku bahagia sekali.


Apalah dayaku, restu saja belum aku dapatkan dari ibuku. Kami harus bersabar. Terutama untuk diriku, yang pasti akan menyandang banyak gelar. Gendut tidak laku, perawan tua dan tidak menarik sebagai contohnya.


Sampai saat ini, aku belum mengucapkan sepatah kata pun pada Kak Pandhu maupun Febi. Yah, karena mereka terlihat sangat sibuk. Ibuku dan Ayahku saja sebegitu sibuknya. Mungkin hanya diriku saja manusia paling bebas. Oh tidak! Manusia tidak berguna maksudku. Seperti yang ku katakan tadi. Aku tidak bisa berbaur dengan sendirinya.


"Neng kenapa sendirian disini, nggak nyamperin tamu tuh," tegur ibu-ibu tetanggaku tadi.


"Nggak Tante Heni," jawabku pada salah satu tetanggaku tersebut yang bernama Tante Heni.


"Kenapa?"


"Nggak ada yang kenal, lagian semua temen Mama, temen besan Mama dan Papa, temen Febi dan Kak Pandhu kok."


"Hmm... nggak gitu juga Neng, Neng Fanni kan juga yang punya rumah to."


"Bukan Tan, aku cuma punya apartemen. Itu pun dari Papa juga duitnya."


"Ya Allah Neng... Neng..."


"Aku aneh ya Tante?"


"Iya dikit, ya Tante tau sih."


"Tau soal apa?"


"Tante juga denger kamu jadi gini karna apa Neng."


"Tapi itukan masa lalu Neng, padahal Neng Fanni dulu kecilnya ceria banget lho."


"Hehe... sekarang masih kok Tante."


"Hmm..."


Tante Heni akhirnya duduk di kursi sampingku. Beliau menatapku penuh rasa iba. Sepertinya gosip tentang pembullyan yang pernah kualami sampai terdengar oleh beliau.


Lalu di peganglah telapak tanganku oleh Tante Heni. Sembari menarik napas dalam, beliau ingin mengatakan sesuatu padaku.


"Lupakan yang udah lalu Neng, jalan kamu masih indah," kata beliau lagi.


"Aku udah lupa kok Tan hehe," jawabku diiringi tawa kecilku.


"Kamu belum lupa Neng, kamu berubah banget lho. Mama kamu sering curhat sama Tante, Mama kamu takut kamu masih nyimpen trauma."


"Ma-mama cerita?"


"Iya tapi ke Tante doang, beliau kan deket banget sama Tante."


"Ohh."


"Kamu tau Neng, Tante juga punya masa lalu. Mantan suami Tante dulu kasar banget."


"Kasar gimana Tan?"


"Tempramental, kekerasan fisik sering dilakukan. Bahkan perut Tante ditendang habis-habisan sampai sekarang Tante nggak bisa punya anak."


"Ma-maaf Tante."


"Tante denger dari Mama kamu, kamu juga deket sama seseorang ya?"


"Iya Tante."


"Hmm... duda kan?"


"Iya."


"Asal kamu tau Neng, Mama kamu khawatir kamu berakhir seperti Tante yang jadi janda cerai. Mama kamu takut, pacar kamu itu sekasar mantan suami Tante, walaupun semua orang emang nggak sama. Tapi setiap kemungkinan itu ada Neng, makanya kamu harus hati-hati ya?"


"Aku selalu yakin pacarku adalah orang baik dan bisa luluhin hati Mama."


"Amin, setiap punya niat baik pasti ada akhir yang baik juga. Yasudah ya, Tante ke belakang dulu."


"Iya Tan, makasih sebelumnya."


Tante Heni memang seorang janda hasil perceraian. Beliau tidak memiliki anak satu pun. Sama sepertiku, sepertinya beliau masih merasa trauma untuk berumah tangga lagi. Apalagi di usia yang tidak muda lagi.


Seperti yang Tante Heni katakan. Beliau adalah tetangga yang paling dekat dengan Ibuku. Namun, tidak kusangka Ibuku bisa menceritakan sampai sedetail itu kepada orang lain. Sampai-sampai tentang diriku dan Mas Arlan.


Namun, kini aku tau apa alasan dibalik kerasnya hati Ibuku dalam menentang hubungan kami. Karena melihat dari pengalaman pahit yang dialami oleh tetangga yang sudah menjadi sahabatnya tersebut. Beliau mungkin khawatir bahwa Mas Arlan adalah seseorang yang kasar karena telah menceraikan istrinya.


Boleh saja berprasangka. Aku juga boleh saja berhati-hati. Namun bagiku, Mas Arlan bukan orang jahat bukan pula orang kasar. Sikapnya berbanding terbalik dari itu semua. Mas Arlanku adalah orang yang supel, pemberani, romantis dan tentunya juga lembut.


"Fanni!!!" seru seseorang memanggil namaku. Sehingga aku menolehkan kepalaku kepadanya.

__ADS_1


"Nike?" jawabku ketika melihat Nike berjalan menghampiriku dengan balutan pakaian kerja dan hijab biru membungkus tubuh dan rambutnya.


"Aduhh maaf aku telat Fann."


"Nggak apa lagi, kok bisa? Bukannya kerja?"


"Kan setengah hari Fann, tapi aku izin pulang cepet tadi."


"Sama siapa? Oh udah jam siang juga ya ternyata."


"Sendiri hehe."


"Lah? Naik apa? Suami?"


"Taksi online, suami lembur, Tomi masih kerja juga."


"Nggak perlu lagi, kan yang nikah Kak Pandhu bukan gue."


"Yeee... sama aja kalian kan orang yang aku kenal."


"Iya deh, yaudah ambil makan sono. Laper kan?"


"Temenin."


"Oke."


Akhirnya kejenuhanku bisa terhenti untuk sementara waktu karena kedatangan Nike. Kutemani dirinya mengambil hidangan yang disajikan di pesta ini. Kami menyiduk nasi dalam tempat pada deretan prasmanan dan lauk diberikan oleh petugasnya.


Kami bersantap bersama untuk menghilangkan rasa lapar. Saling berbincang tidak jelas tanpa memperdulikan tamu-tamu lain yang datang.


"Mas Arlan mana?" tanya Nike.


"Sssttt... jangan sebut nama," jawabku memperingatinya.


"Kenapa?"


"Panjang ceritanya."


"Apaan?"


"Kapan-kapan gue ceritain ya, tapi do'i emang nggak dateng."


"Okelah, tapi kakak ipar kamu cantik kayak boneka barbie Fann."


"Iya cantik banget."


"Kamu gih nyusul buru."


"Ikutin alur dari Tuhan aja Ke."


"Jangan gitu dong, harus berjuang juga lho."


"Lagi proses hihi."


"Cieee... aku udah duga dari awal kalian bakalan jadi."


"Emang loe cenayang ya?"


"Hihi... ya gitu deh."


"Dasar..."


Perbincangan kami terus berlanjut sampai akhirnya Nike pamit pulang. Ia mengucap selamat kepada Kak Pandhu dan juga Febi. Tak lupa juga pada Ayah dan Ibuku.


Hari semakin sore, Tamu sudah mulai sepi. Diakhir-akhir acara seperti ini aku baru berani. Kami sekeluarga berfoto ria. Yah, walaupun aku hanya bisa berpose biasa saja. Tak apa, setidaknya ada gambar diriku di buku album nanti.


"Selamat ya Kak Pandhu, selamat Feb emm... Kak Febi," ujarku.


"Makasih ya Fann," jawab Febi.


"Dek," ujar Kak Pandhu sembari merangkul tubuhku yang besar. Ia memelukku dengan kasih sayang sampai membuatku menangis haru.


"Berjuanglah sama dia, Kakak yakin akan indah pada waktunya. Kakak sayang kamu, sekarang Kakak udah nggak bisa jagain kamu lagi. Tapi Kakak akan selalu dukung kamu Dek," bisik Kak Pandhu Pandhu.


"Hiks... makasih Kak."


"Jangan nangis dong, cengeng amat."


"Halah... kakak juga mewek kok."


"Hihi... kalian pada cengeng sih?"


"Lah loe juga juga nangis Feb, anu Kak Febi maksudnya."


"Hiks... hikss... abis kalian juga gitu."


"Jangan nangis entar make up luntur lho."


"Fanniiii..."


Astaga! Mengapa kami bertiga menjadi banjir air mata. Awalnya aku hanya terharu mendengar nasehat Kak Pandhu padaku. Tidak disangka isak tangisku mampu membuat Kak Pandhu dan Febi maksudku Kak Febi bisa tersugesti.


Kakak iparku tersebut memelukku sembari sesenggukan yang seirama denganku.


"Mama do'ain kamu cepet nyusul ya Fanni," ujar Ibuku.


"Amin Ma," jawabku.


"Papa juga selalu berdo'a buat putri tersayang," sambung Ayahku.


"Semoga kamu dapet laki-laki yang bertanggung jawab ya Fanni sayang. Seperti Mama dan Papa sayang sama kamu."


"Amin Ma. Tapi Mas Arlan ya Ma?"


"Halah! Nggak jadi."


"Mamaaaa..."


"Udah sana bantuin beresin belakang."


"Lah kok jadi disuruh."


"Hukuman!"


"Mamaaaaa..."


Bersambung...

__ADS_1


Budayakan tradisi like+komen saaayyyy....


__ADS_2