Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Ada Lagi


__ADS_3

Hari dimana aku sudah memulai aktivitasku yaitu bekerja. Sudah lama sekali, aku tidak berangkat dengan semangat setinggi ini. Sepertinya dampak dari restu Ibu memang luar biasa. Memberikan sejumlah energi positif untuk diriku. Keberanian untuk bertemu calon mertuapun semakin terkumpul banyak.


Yah, semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi lagi. Amin.


Deru mobil terdengar bising, menyatu dengan suasana keramaian kota. Mengalunkan gema yang saling membalap satu sama lain. Mentaripun bersinar cerah, tiada satupun awan mendung yang menutupinya. Sebuah perayaan yang diberikan oleh alam untukku.


Tapi, jangan lega dulu. Karena masih ada satu misi yang belum terselesaikan. Demi pernikahan dengan kekasih tersayang. Demi memiliki sebuah keluarga kecil yang telah lama aku idam-idamkan.


Tak lama kemudian, sampailah aku bersama mobilku di kantor yang sekarang adalah milik Celvin. Sebenarnya, ada rasa tidak enak hati pada atasanku tersebut. Meninggalkan dirinya bekerja sendiri. Aku rasa ia telah mengalami pekerjaan yang kalang kabut. Karena jadwal perencanaan pun tidak aku buatkan.


Sepertinya, aku harus meminta maaf dan berterima kasih padanya. Seorang CEO yang bersedia menjenguk karyawannya. Aku rasa Celvin sudah begitu baik. Walau awalnya, ia hanya ingin memanfaatkan tenagaku dan juga penghilang rasa bersalahnya. Namun, aku malah merasa diuntungkan sekarang.


Sebelum aku beranjak turun dari mobilku, tiba-tiba ponselku bergetar. Memaksaku untuk menundanya dan mengambilnya didalam tasku. Saat kulihat diatas layarnya, Mas Arlan sedang memanggil suara padaku. Aku tersenyum kecil, hanya karena hal ini.


Kutekan tombol hijau untuk mengangkatnya. "Hai Mas, Assalamu'alaikum," sapa salamku padanya.


"Pagi sayang, Wa'alaikumssalam. Udah nyampe?" tanya Mas Arlan.


"Udah Mas, baru aja nyampe. Kenapa?"


"Nggak apa-apa kok, Dek. Kangen aja hehe."


"Halah... kan belum lama ini abis ketemu."


"Kangen terus, Mas juga heran."


"Jangan gombal masih pagi."


"Biar kamu semangat lho, Dekku sayang."


"Iya iya... makasih ya sayang."


"Malam ini kencan yuk?"


"Emm... kalau aku nggak lembur ya Mas."


"Semoga aja nggak, Dek. Yaudah masuk sana. Jangan aneh-aneh ya sama Bos kamu itu, semangat terus!"


"Siap Mas-ku sayang. Assalamu'alaikum."


"I love you, Dek. Wa'alaikumssalam."


Senyumanku merekah lagi. Seolah bunga-bunga bermekaran dihatiku. Kalau saja tidak terpotong waktu, pasti aku akan menahan Mas Arlan. Supaya ia bisa lebih lama berbicara padaku.


Astaga! Bagaimana ini? Aku benar-benar bahagia. Rasanya sudah tidak sabar ingin menikah.


Aku beranjak turun dari mobil merah kesayanganku. Kutinggalkan kendaraan tersebut dengan tenang diarea yang menjadi favorite bagiku yaitu sudut area. Menyusuri setiap pijakan menuju ruanganku dilantai atas. Sudah beberapa hari ini, aku tidak berada disini. Rasanya rindu juga.


Disetiap langkah kaki yang aku ayunkan, entah mengapa terasa begitu ringan. Senyum tipispun beberapa kali masih terhias indah diwajahku. Benakku lagi-lagi melayang, membayangkan segala situasi yang sempat menghadang.


Aku merasa diriku jauh lebih baik daripada dulu. Kepercayaan diri seakan telah melambung tinggi. Yang awalnya aku berjalan sembari menundukkan kepala. Kini, aku begitu mantap menghadap kedepan. Aku hanya berharap, semoga ini tidaklah bersifat sementara. Tapi, selamanya. Agar nantinya, aku juga bisa menghadapi calon mertua.


Namun, sialnya. Pertemuan awalku pagi ini adalah dengan Mita. Ia masih saja menatapku sinis, sembari masuk kedalam lift. Didalam kotak penghubung antar lantai ini, kami hanya berdua saja didalam. Sebisa mungkin aku tenang. Tidak boleh emosi ataupun takut lagi padanya.


"Heh... enak ya baru beberapa hari diangkat naik, udah minta izin seenaknya? Parah." Mita berujar seperti itu.


Aku menatapnya dengan senyuman setulus mungkin. Kujawab perkataannya, "Alhamdulillah."


"Cihh! Nggak tau diri! Iihh... ini lama banget sih nyampenya, gue udah nggak tahan bau busuk."


Helaan napas yang panjang aku lakukan. Aku tidak ingin terlibat masalah lagi dengan siapapun. Termasuk Mita yang menurutku tidaklah penting.


Jangan terpancing! Jangan takut! Aku bisa! Senyum saja!


Ya! Senyum adalah penenang dari segalanya. Emosi menjadi tidak ada, rasa takut juga bisa diusir pergi. Seperti kata orang dan agama, senyuman merupakan ibadah. Dan aku tau ibadah bisa membuat hati tenang dan nyaman.


"Selamat bekerja," ujarku pada Mita.


"Nggak usah sok akrab! Loe nggak penting!" jawabnya sengit.


Saat pintu lift telah terbuka, ia melangkah keluar dari lift untuk mendahuluiku. Kami berjalan yang berbeda arah. Menyisakan sedikit perih pada hatiku. Sepertinya Mita memang tidak bisa membuang rasa benci dan irinya padaku. Sebenarnya, sah-sah saja. Namun, sikap sengit dan perkataan buruknya padaku kadangkala membuat hatiku tersinggung.


Lupakan itu. Toh, aku bisa mengendalikan diriku. Tidak sampai marah ataupun gemetar takut padanya. Lanjutkan langkah saja, menemui Celvin dan bekerja bersama.


Saat sampai didepan ruang kerjaku, aku masih saja ragu-ragu. Seolah seperti seorang siswa yang takut menghadapi guru BK. Aku hanya tidak enak hati. Seperti kata Mita tadi, aku sangat tidak tau diri. Padahal pengangkatan jabatan ini belum lama terjadi. Meski liburku masuk dalam hitungan cuti. Tapi, tetap saja.


Sudahlah, masuk saja. Lagipula Celvin sempat menjenguk diriku, pasti ia bisa mengerti. Lalu, untuk aku sendiri aku masih menjadi bagian dari perusahaan ini. Masih banyak tangungjawab dan tugas yang harus aku emban.


Kubuka gagang pintu ruang kerjaku. Tidak ada orang didalam, sepertinya Celvin belum datang. Tidak biasanya, ia datang terlambat. Sembari menunggunya, aku mulai mengotak-atik komputerku. Banyak sekali laporan yang menumpuk. Sepertinya Celvin memang kewalahan. Aku rasa ia tidak meminta bantuan siapapun saat aku tidak ada. Wajar saja, ia pun masih enggan berbaur. Sama sepertiku.


"Fanni?" ujar seseorang setelah membuka pintu.


"Pagi Pak Celvin," jawabku.


"Sudah sembuh, Fann?"

__ADS_1


Aku diam tidak menjawab. Menatap wajah Celvin dengan rasa heran dan penasaran. Wajahnya memar seperti bekas pukulan. Ada apakah gerangan? Pradugaku bermunculan satu persatu dari dalam hatiku.


Lalu, tanpa ia minta. Aku beranjak dari dudukku, menghampiri atasanku tersebut. Dan kuamati lebih dalam. Celvin tampak bingung, ia mengerutkan dahinya karena melihat tingkahku.


Sontak saja, aku mundur dan memalingkan pandanganku darinya. Merasa salah tingkah sendiri karena spontan seperti ini. Jujur saja, aku merasa khawatir. Mau bagaimanapun ia tetap atasan dan aku sebagai sekretaris pribadinya. Orang yang ditugaskan untuk menjaga nama baiknya juga.


"Kenapa Fanni?" tanya Celvin.


"En-enggak kok, ma-maaf," jawabku gelagapan.


"Kamu penasaran soal luka ini ya?"


"I-iya, emang kamu kenapa Vin?"


"Duhh... perhatian banget sih."


"Apaan sih? Nggak jadi kalau begitu."


"Haha... bukan begitu Fann, ini pukulan dari Papa."


"Haah???"


Rahangku jatuh menganga. Terkejut dengan jawaban dari Celvin. Bagaimana mungkin, Pak Ruddy yang terkenal ramah dan halus itu bisa berbuat demikian? Tiba-tiba saja, ingatan tentang perkataan Celvin mengenai bersembunyi dibalik kebaikan muncul dibenakku. Jadi, Pak Ruddy bukanlah orang selembut itu?


Sulit dipercaya!


Sebenarnya aku ingin sekali menggali lebih dalam tentang masalahnya. Namun, aku takut dianggap ikut campur dan kepo. Lagipula bukan masalahku. Tunggu saja sampai Celvin berbicara, dan kalau bisa, aku berikan beberapa saran padanya.


"Maaf Fann, acak-acakan ya? Aku belum sempet bereskan semua," ujar Celvin.


"Tak apa, tapi kenapa kamu nggak minta bantuan orang lain saja Vin, kemarin?A-aku jadi merasa bersalah karena itu. Maaf," jawabku.


"Bukan salah kamu kok Fann, aku hanya tidak nyaman bersama orang lain saja. Sudah lama, aku menutup diri setelah kasus itu. Jadi lebih baik dikerjakan sendiri."


"Ya sudah, aku selesain semuanya dulu."


"Fann?"


"Ya?"


"Makasih ya, tanpa ada kamu. Mungkin aku tidak bisa seperti ini. Karena kamu, aku merasa bisa sedikit menebus kesalahanku pada gadis itu."


Senyuman kurekahkan untuk membalas perkataan Celvin. Kemudian aku berbalik badan dan kembali ke meja kerjaku. Begitu juga Celvin. Aku rasa ia masih ingin memendam masalahnya sendiri. Tak apa, itu sudah menjadi haknya. Lagipula aku hanya bawahannya, tidak pantas untuk mengetahui masalah keluarganya.


****


Dengan membawa beberapa berkas dan file, aku berjalan kearah meja Celvin. Ia tampak menopang dagunya menggunakan satu tangannya diatas meja. Memar biru diwajahnya masih saja terlihat dari pandanganku. Aku rasa masalah yang ia hadapi begitu pelik.


Hal ini menyadarkanku. Bahwasanya setiap manusia yang masih hidup pasti memiliki masalah tersendiri. Mengeluh adalah hal yang lumrah. Lelah juga sudah pasti. Tinggal bagaimana setiap insan itu menyelesaikannya. Aku berharap siapapun yang dirundung masalah, tidaklah sama sepertiku. Diriku yang mudah putus asa dan terbawa emosi.


Beruntungnya, Tuhan masih berbaik hati padaku. Memberikan orang-orang yang baik disekitarku. Sehingga aku tidak terlalu terpuruk begitu jauh.


"Maaf Vin," ujarku. "Ini tinggal menandatangani."


"Ohh... baik Fann, taruh saja," jawabnya, melihat sekilas lalu kembali pada laptopnya.


"Jangan terlalu memaksakan diri kalau capek."


"Enggak kok Fann, tinggal dikit lagi. Terus makan siang, kamu bisa ikut aku kan?"


"Kemana?"


"Makan siang bareng Riska."


"Ri-riska?"


"Iya, kamu tenang aja. Katanya, Riska ingin kamu ikut. Ada hal pribadi yang perlu dibicarakan."


"Hal apa? Lalu, kenapa dicampuradukkan dengan masalah pekerjaan?"


"Duduklah dulu."


"O-oke."


Aku mengikuti intruksi Celvin yang mempersilahkan aku duduk dihadapannya. Ia membiarkan laptopnya terlebih dahulu. Mengepal kedua telapak tangannya untuk menopang dagu.


Menatapku dalam lalu tersenyum manis. Seolah bisa melelehkan hati wanita manapun. Untung saja, hatiku sudah terpaut pada sosok Mas Arlan. Sehingga tidak luluh dengan senyuman Celvin lagi. Namun, semua yang dilakukannya malah membuatku risau.


"Vin?" ujarku. "Ada apa?"


Celvin kembali tersenyum. Kini gigi-giginya yang putih ikut terlihat. Kuakui dia begitu mempesona. Meski menderita luka disudut kiri bibirnya. "Bolehkah aku sedikit menceritakan sesuatu?" tanyanya.


"Silahkan."


"Luka ini dari Papa. Beliau marah karena aku berhasil menggagalkan kerja sama perusahaan ini dan perusahaan milik Riska yang telah terajut."

__ADS_1


"Kok bisa tau?"


"Mungkin ada pihak keluarga Harsono yang menghubungi Papa. Aku rasa orang tersebut marah besar dan berkata yang tidak-tidak sama, Papa."


"Tapikan bukan salah kamu, Vin."


"Tapi aku yang sedang memegang kendali perusahaan ini, Fann. Maaf Fann, sepertinya Om Arlan yang mengatakan itu pada keluarganya."


Deg!


Jantungku tiba-tiba berdebar tidak karuan. Seperti dugaanku sebelumnya, sepertinya Riska pun sudah dihukum. Semua kekacauan ini semakin meluas. Belum lagi ada orang yang memanfaatkan situasi buruk ini, untuk menggelapkan dana perusahaan milik Riska.


Ini semua salahku. Seandainya saja, waktu itu aku tidak meminta Mas Arlan untuk menjemputku. Pasti situasi tidak akan seburuk ini. Rahasia antara Riska, Celvin dan Pak Ruddy pasti akan baik-baik saja.


Astaga! Aku harus berbuat apa?


"Maaf, se-sebenarnya ini kesalahanku Vin," ujarku.


"Kesalahan?" tanya Celvin.


"Seandainya kala itu, aku nggak minta Mas Arlan buat dateng. Pa-pasti situasi tidak seperti ini. Aku minta maaf, aku siap kena sangsi apapun dan seandainya aku diturunkan jabatan. Emm... tidak! Seandainya aku dikeluarkan, aku bisa terima."


"Hmm..."


Celvin menghela napasnya. Kedengarannya sangat berat. Seolah ada rasa sesak didadanya. Aku berhasil membuat dua perusahaan kesulitan. Bagaimana jika Ibu dan kerabat dari Mas Arlan tau? Apa aku bisa diterima?


Uhh... padahal sudah sejauh ini.


Untuk beberapa saat, Celvin masih saja diam. Hatiku semakin risau dan gusar. Kuku ibu jari kugigit beberapa kali, menandakan sebuah kebingungan besar tengah aku alami.


"Fann, jangan pernah mengatakan itu pada siapapun," ujar Celvin kemudian. "Aku nggak pernah bawa-bawa nama kamu dalam masalah ini."


"Ta-tapi aku yang salah Vin," jawabku. "Aku penyebab dari semuanya."


"Cukup diam saja. Jangan mengatakan apapun pokoknya. Aku dan Riska butuh waktu buat nyelesain semuanya. Kamu tenang."


"Tapi."


"Fann, bagiku kamu adalah orang yang penting sekarang. Tidak mungkin kubiarkan kamu terlibat masalah perusahaan hanya karena hal kecil yang tidak kamu tau."


"Tidak perlu sebaik itu, Vin. Mau bagaimana pun, aku tetap bersalah."


"Tapi kamu tidak mau kan hubungan kamu dan Om Arlan jadi rusak? Kamu juga masih butuh pekerjaankan? Jadi ikuti perintahku!"


Aku diam. Tak bisa berkutik. Ucapan Celvin begitu tegas terdengar di telingaku. Namun, ia tetap membiarkan diriku bebas. Dan akan mengatasi semuanya sendiri. Harus berterima kasih bagaimana lagi, aku padanya? Bukan hanya pekerjaan dan gaji melimpah yang ia berikan. Kini ia juga melindungiku dan melindungi hubunganku dengan Mas Arlan.


Celvin benar-benar menepati janjinya untuk menebus kesalahannya dimasa lalu melalui aku. Tapi, tetap saja. Aku tidak tega, membiarkan Celvin dihajar oleh Ayahnya sendiri. Lantas, apa yang bisa aku lakukan?


Sepertinya aku harus meminta Mas Arlan untuk membantuku kali ini. Ada beberapa hal yang bisa ia pengaruhi. Yah, semoga saja bisa.


"Fann, kita akan bertemu dengan Riska. Tidak perlu membawa berkas apapun karena diluar pekerjaan," ujar Celvin.


"I-iya," jawabku.


"Kamu nggak usah takut ya?"


"Nggak mungkinlah, kalau nggak takut."


"Hehe... demi cinta kamu sama Om Arlan, Fanni."


"I-iya sih. Tapi, Vin. Apa benar salah satu kerabat kamu berselingkuh dengan mantan istri Mas Arlan."


"Benar, mereka sudah menikah. Saat itu aku nggak di Indonesia, jadi tidak tau tentang itu. Aku kan sempat berhenti setelah kasusku itu, makanya Riska lebih dulu memegang kendali perusahaannya. Dia pintar dan lulus lebih cepat."


"Parah!"


"Yah, Fann. Keluargaku emang nggak ada yang benar. Makanya Ibuku memilih pergi. Sedangkan aku tumbuh dengan pribadi yang buruk. Meski menyesal, ada rasa terima kasih tersendiri. Gadis itu bisa bawa aku kearah yang lebih baik. Dan kamu juga."


"Aku? Aku kenapa?"


"Harus berterima kasih sama Tante Nia, tanpanya, kamu nggak akan bersatu dengan Om Arlan."


"Aku nggak segila itu, Vin. Jalan takdir tidak ada yang tau, Selli anak Mas Arlan dan Nia malah menjadi korbannya."


"Maaf aku hanya bercanda."


"Jangan lagi membuat candaan dari sebuah masalah, Vin."


"Hehe... iya Fann. Ya sudah mari bersiap, kita berangkat."


Aku beranjak berdiri. Kuambil tas diatas meja kerjaku. Setelah itu, kuikuti langkah Celvin. Bersama debaran dijantung yang belum stabil. Ada kekhawatiran disana. Apa yang hendak Riska katakan ataupun tanyakan padaku? Aku takut ia membenciku karena aku dalang dibalik kekacauan ini.


Bersambung...


Budayakan like+komen yaaa...

__ADS_1


NB : Gadis itu \= korban bully Celvin beberapa tahun yang lalu.


__ADS_2