
Suasana di pernikahan Riska kemarin seolah menjadi ajang reuni bagiku, Mita dan Riska. Aku juga tidak menyangka bisa bertemu dengan mereka di sana. Namun, Tomi justru ditarik para suami untuk berbincang sendiri. Tidak mengapa, itu justru bagus karena akan membantunya menjadi suami yang gagah perkasa. Di akhir acara, aku dan Mas Arlan juga kedua putriku tidak melewatkan acara foto bersama sepasang pengantin, bahkan keluarga besar. Setelah itu, kami pamit pulang.
Hari kembali berganti. Senin telah tiba lagi, tentu saja aku ditinggalkan Mas Arlan dan Selli sesuai kebiasaan mereka di sekolah dan kantor. Aku hanya bersama Sella, termasuk Bi Onah yang setiap siang aku beri waktu istirahat. Terkadang beliau menggunakannya untuk tidur siang, atau berbincang dengan Pak Edi di luar. Sedangkan aku menjadi kaum rebahan bersama si kecil--Sella.
Lalu, sekarang, aku tengah menatap langit-langit kamar, sembari berpikir keras mengenai usaha yang ingin aku geluti. Uang dari Mas Gunawan harus kami pergunakan sebaik mungkin. Namun usaha apa yang bisa aku lakukan?
"Mama!" Suara milik Selli terdengar. Ia tengah memanggilku dari balik pintu. Sepertinya, ia baru pulang dari sekolahnya. "Boleh enggak Selli masuk?"
"Boleh, Sayang. Enggak dikunci kok," jawabku.
Setelah itu, terdengar handle pintu tengah dibuka. Detik berikutnya, Selli berlari masuk ke dalam kamar ini. Ia sudah berganti baju, hal itu membuatku tenang ketika ia menghampiri Sella. Ya, tentu saja ia ingin menghampiri adiknya daripada ibunya.
"Kakak kangeeen banget sama Dede'."
"Masa' sih? Sama Mama kangen enggak?"
Selli menggeleng. "Enggak hehe."
"Heh?!"
"Iya, Selli kangen semuanya, Mama."
"Hmm ... gitu dong. Padahal Mama kangen terus sama Selli lho. Ya udah tidur dulu, ya? Capek, kan? Tadi ada les juga, kan?"
"Iya, Mama. Capek banget!" Setelah mengatakan itu, Selli bergegas merebah diri di samping Sella. Ia memandangi wajah sang adik. Biasanya, jika seperti ini, ia bisa tertidur sendiri.
Kegiatan Selli memang bertambah. Harus ada les belajar berbahasa Inggris. Pak Edi bersedia menjemputnya dari sekolah maupum tempat kursus. Beliau yang notabene-nya mantan sopir sebuah toko, tentu bisa menyetir sendiri menggunakan mobil kami yang sedang menganggur. Sehingga, aku tidak terlalu khawatir lagi, jika Mas Arlan tidak bisa menjemput.
Tiba-tiba dering ponsel mengejutkan diriku. Aku segera mengambilnya dari atas meja kecil di samping ranjangku. Kumainkan ibu jariku di atas layarnya. Aku menelan saliva seketika, Nia menghubungiku. Awalnya bimbang, namun kemudian aku segera menerimanya.
"Halo, Mbak Nia. Assalamu'alaikum," sapaku kepadanya.
"Hai, Fann. Wa'alaikumssalam," jawab Nia dari kejauhan sana.
"Kenapa, Mbak? Selli masih sekolah."
"Oh, enggak apa-apa sih. Aku ada di Indo."
"I-indo?" Aku spontan membangunkan diriku dari posisi rebahanku.
"Iya, aku ingin bertemu dengan kalian. Tapi di luar, aku mengundang makan malam kalian nanti malam."
"Emm ... ta-tapi, Mas Arlan."
"Iya, aku tahu. Aku harap kamu bisa bujuk Arlan, Fanni. Kali ini aja, please. Aku enggak ada maksud buruk kok."
Aku terdiam bingung. Selama ini, Nia jarang menghubungiku. Hanya sesekali saja, ketika Selli meminta maka aku meminta izin kepadanya untuk menelepon. Memang, hubunganku dengannya sudah lebih baik. Namun, bagaimana dengan Mas Arlan? Apakah, suamiku itu bersedia mendatangi acara makan malam yang dipinta oleh sang mantan istri?
"Fanni?"
"Ah, iya, Mbak. Tapi, aku enggak janji."
"Ayolah. Aku perlu bicara dengan kalian."
"Apa itu mengenai Selli?"
"... iya, ada kaitannya dengan Selli. Ta-tapi, aku enggak ada maksud buruk kok. Aku enggak bakalan macem-macem lagi. Hanya sekali ini aja, Fann. Tolong datang ya, sama Arlan juga."
"Tapi, Mbak. Mas Arlan kan sulit kalau berkaitan dengan Selli."
"Aku tahu. Pokoknya kami tunggu, nanti alamat restoran aku kirim ke kamu. Udah dulu, ya. Kami tunggu!"
"M-mbak ...?"
Panggilan pun dimatikan secara sepihak oleh Nia. Aku merasa getir sekarang. Mana bisa aku membujuk Mas Arlan. Terlebih, berkaitan dengan Selli. Rasanya seperti mustahil saja. Waktu memang sudah berselang lama, namun apakah Mas Arlan telah memaafkan Nia? Aku tidak tahu.
Aku merebahkan tubuhku lagi. Mataku kembali menatap langit-langit kamar. Bingung. Namun, Nia seperti memaksa. Bagaimana jika ia menunggu kami dan kami tidak datang? Selama ini, ia juga sudah tidak mengganggu lagi. Seharusnya, Mas Arlan sudah memberikan maaf. Namun, aku tidak tahu isi hati suamiku itu, apa lagi jika tentang Nia.
"Mbak, ada tamu, Mbak." Suara Bi Onah terdengar dari balik pintu. Setelahnya, beliau mengetuk pintu kamarku. Lalu, tamu?
Sebaiknya, aku bergegas membukakan pintu terlebih dahulu.
"Siapa, Bi? Tamunya kok dateng siang-siang?" tanyaku kepada Bi Onah setelah membuka pintu kamar ini.
"Emm ...." Beliau tampak berpikir. "Orangnya cantik, Mbak. Pernah ke sini juga, tapi Bibi lupa namanya."
"Cantik? Emm ... iya, aku turun segera, Bi. Minta tolong buatin minum ya, Bi."
"Baik, Mbak."
Bi Onah kembali turun mendahuluiku. Aku menatap putriku yang masih terlelap dalam tidur siang. Sepertinya tidak apa-apa, aku meninggalkannya sementara waktu. Aku akan membawa tamu itu ke balkon yang lebih dekat dengan kamar dan akan terdengar jika Sella menangis.
Aku memindahkan Sella ke dalam tempat tidurnya sendiri dengan sangat hati-hati. Alasanku, agar lebih terlindungi oleh penghalang yang memang terpasang dan agar tidak tertimpa tubuh Selli jika ia menggeliat. Terlebih, ia sudah bisa merangkak. Akan lebih bahaya jika ia tidur di ranjang yang tidak ada penyekat apa pun.
__ADS_1
"Bobo' dulu ya, Nak ...."
Setelah berhasil memindahkan tubuh Sella, aku bisa bernapas lega. Setelah itu, aku bergegas keluar. Namun pintu kamar, aku biarkan terbuka sedikit agar nantinya tangisan Sella bisa terdengar.
"Mi-mita?!" Aku sedikit terpekik, pada saat mengetahui tamuku itu. Ia sedang duduk di salah satu kursi di ruang tamu.
Ia tersenyum. "Hai, Fann," sapanya kepadaku.
"Emm ... ke balkon aja yuk. Anakku tidur."
"Boleh."
Kami segera mengambil langkah ke balkon rumah ini. Sejujurnya, aku sangat terkejut atas kedatangan Mita. Rasanya seperti tidak terduga. Lagi-lagi, aku membawanya ke balkon rumah seperti pada saat ia terakhir datang sebelum ini. Aku juga merasa penasaran. Namun, nanti saja aku menanyakan maksud kedatangannya.
"Mbak minumnya?" Dengan membawa nampan berisi jus jeruk, Bi Onah bertanya kepadaku yang sudah menaiki tangga rumah ini beberapa buah.
Aku dan Mita lantas menghentikan langkah. Aku menoleh ke arah Bi Onah. "Kami mau ke balkon, Bi. Sini Fanni bawa." Aku kembali berbalik dan berjalan menuju Bi Onah.
"Hmm ... Bibi bisa antar kok, Mbak."
"Enggak apa-apa, Bi. Istirahat lagi aja. Masih jam rehat ini."
"Terima kasih, Mbak."
"Terima kasih kembali, Bi."
Setelah itu, aku kembali melanjutkan langkahku bersama Mita. Sungguh, rasanya sedikit canggung. Mungkin karena beberapa bulan terakhir, kami tidak saling bertemu. Dan ... Mita semakin cantik saja, aku justru malu. Aku begini-begini saja, bahkan aku hanya menggunakan kaos oblong nan besar dan celana kolor panjang nan besar pula. Sedangkan Mita, ia tampak cantio dengan dress bermotif bunga.
Sesampainya di balkon rumah, aku meletakkan nampan berisi minuman tersebut ke atas meja. Setelah itu, aku menata meja dan kedua kursi yang posisinya tidak benar. Mita membantuku. Astaga! Aku malu sekali, karena tampak berantakan di sini, meski tetap bersih.
"Wah! Udah ada tirai penghalang sinar matahari ya, Fann. Dulu belum ada," celetuk Mita. Ia menatap tirai kayu yang dipasang oleh Mas Arlan agar aku dan Sella bisa bersantai tanpa takut kepanasan.
"Iya, gue kan sekarang punya anak kecil, Mit," jawabku.
"Mana bayimu? Ah, tidur deng ya. Gue penasaran gimana rupanya."
"Tentu cantik dong. Anak Belanda, Mit. Tapi, gue harap enggak bengkak kayak gue."
"Aish ... masih aja loe begitu, Fann."
"Hehe ... kan harapan seorang ibu, Mit. Ngomong-ngomong ada apa dateng ke sini?"
"Mau main aja, jenuh di rumah. Pengangguran sekarang gue, Fann. Belum ada panggilan."
"Kan ada suami yang kerja, Mit."
"Oh, gitu. Eh iya, silahkan diminum."
"Makasih, Fann."
Mita menyesap jus jeruk tersebut. Melihatnya yang tampak merasa segar, membuatku ingin menyesap minumanku juga. Siang hari nan panas seperti ini, memang paling cocok dengan jus dingin. Segar sekali.
Setelah itu, Mita menghela napas lega dan tersenyum. Ia menatapku. "Ayo," ujarnya.
Dahiku mengernyit seketika. "Ayo? Ayo apa?" tanyaku kembali.
"Kita bikin usaha bareng!"
"Eh?!"
Mita melesu. "Enggak ada panggilan sama sekali. Udah seminggu ini, Fann. Gue BT banget. Apa lagi, suami jarang di rumah. Makanya, resepsi juga belum dilaksanain."
"Boleh sih. Tapi apaan? Emm ... emangnya suami loe, kerjanya apaan? Kantoran juga?"
Mita menggeleng. "Polisi, Fann."
"Wah! Pantes. Tapi, Mit. Bukannya polisi masih bisa ambil cuti nikah?"
"Bisa sih. Cuman ya ...."
"Oke, oke, gue paham. Ribet juga katanya ya? Bukan cuma dokumen kalian berdua yang dibutuhin, tapi orang tua juga katanya. Harus ada SKCK masing-masing juga, kan?"
"Betul! Tapi, dia baik banget, Fann. Bisa ngeyakinin hati bokap gue juga." Mita tersenyum-senyum.
Melihat raut wajahnya yang sedang kasmaran itu, membuatku lebih tahu jika Mita benar-benar menyukai Richard. Seorang Mita yang sempat membenci laki-laki, kini telah menikah. Terlepas dari semua kesibukan sang suami, Mita pasti memiliki alasan sendiri untuk menerima seorang Richard. Hanya saja, proses menikah dengan seorang polisi memang agak rumit, aku rasa hal itu yang membuat mereka belum melangsungkan resepsi.
Aku kembali menyesap jus jeruk yang dingin ini. Aku memberikan waktu kepada Mita agar ia berkhayal tentang rasa cintanya yang sebenarnya sudah tercapai itu. Tampaknya, proses pacaran mereka juga tidak terlalu lama. Oh, atau mungkin pacaran setelah menikah. Bisa dibayangkan betapa romantisnya hubungan seperti itu?
"Fanni, kalau loe mau berbisnis sama gue, hayuk. Mumpung ada modal hehe."
"Boleh sih. Gue juga mikirin soal usaha akhir-akhir ini, Mit. Tapi bingung apaan. Dan gue nggak punya pengalaman, bokap gue doang jadi penjual roti. Alhamdulillah makin lancar, tapi gue enggak punya ilmu dan nggak tahu soal makanan. Bisanya makan doang."
Mita terkekeh. "Sesuatu yang kita bisa aja, Fann. Modal jangan terlalu gede dulu. Sesuatu yang bermanfaat juga boleh."
__ADS_1
"Emm ... ah, gue pikirin nanti ya. Soal bokap loe?"
"Kita udah baikan kok. Tenang aja. Hehe."
Baiklah, Mita tampaknya tidak ingin membahas masalahnya dengan sang ayah. Dan aku juga tidak berhak memaksanya. Tentang usaha yang bermanfaat katanya. Sejak kapan ia memiliki kepedulian seperti ini. Namun, itu adalah hal bagus. Kami harus memikirkannya baik-baik. Menguntungkan dan bermanfaat. Apa itu?
Perbincangan kami terus berlanjut. Perihal rumah tangga, aku juga membagi beberapa tips yang aku tahu seputar mengurus anak. Memang, Mita belum memiliki bayi, namun untuk pedoman saja. Jika ia berhasil hamil, maka tidak akan kaget lagi.
****
"Ah, udah mau jam tiga nih. Laki loe bentar lagi balik, kan? Gue juga baliklah," ujar Mita sembari menilik jam tangan yang ia pakai.
Tidak terasa, waktu memang begitu cepat berjalan. Sudah dua jam kami berbincang. Aku juga tidak bisa memaksa Mita untum tetap tinggal. "Mau lihat anak gue dulu?"
Iya juga. Sella sejak tadi tidak menangis sama sekali. Memangnya ia tidak terbangun sama sekali? Aku segera bergegas masuk ke dalam, bahkan sampai mengabaikan Mita. Aku khawatir karena belum ada suara tangisan dari Sella. Sepertinya aku lupa diri karena berbincang dengan Mita.
"Ah." Aku menghela napas lega ketika melihat Sella berada di dalam gendongan Bi Onah. Aku segera menghampiri beliau yang tengah berdiri di depan pintu kamar Selli. "Duh, maafin Mama, Mama hampir lupa sama Sella," ujarku sembari mengambil alih tubuh Sella.
"Tadi, saya ngurus Neng Selli, Mbak. Terus denger celotehnya Neng Sella. Maaf, Mbak. Saya masuk kamar sama Neng Selli karna kasihan dan enggak mau ganggu Mbak Fanni. Saya juga udah suapin mereka.
"Emm ... makasih, Bi. Oh iya, Selli di mana?"
"Abis makan langsung lihat TV, Mbak. Habis bangun tidur tadi."
"Oh, ya udah, Bi. Makasih, Bi."
"Iya, Mbak. Saya permisi dulu."
Bi Onah segera turun. Aku merasa bersalah kepada putriku ini. Bisa-bisanya aku asyik sendiri dan melupakan dirinya. Meski begitu, aku merasa bangga, ia bisa bangun tidur tanpa menangis sama sekali.
"Mamamamama," celetuknya dengan sangat menggemaskan.
"Serius?" tanya Mita. Ia beralih ke hadapanku. Tatapannya tertuju kepada Sella. Kemudian menatapku lagi. "Cantik banget. Anak loe?"
"Iyalah, loe pikir anak siapa, Mit?"
"Iya sih, bulenya sama." Mita manggut-manggut. Kemudian, ia mencubit gemas pipi Sella.
"Mau gendong?"
Mita menggeleng. "Gue enggak berani. Takut, nggak pernah pegang baby."
"Belajar, Mit."
"Nanti aja, Fann. Hehe. Ya udah, gue balik ya, udah sore."
"Ya udah. Hati-hati di jalan nanti. Gue anter nyampe bawah yuk."
Mita mengangguk. Setelah itu, kami berjalan turun, menapaki lantai dan anak tangga rumah ini. Aku merasa sangat senang ketika Mita telah kembali dan ia tidak melupakan diriku. Ia yang pernah menjadi musuhku. Namun kini menjadi temanku, rasanya masih sulit dipercaya. Sungguh!
Sesampainya di depan rumah, kami berhenti sejenak. Mita kembali menggoda Sella. "Kita pikirin bisnis kita ya, Fann. Gue serius!"
"Oke. Hati-hati di jalan, Mit."
"Siap? Dadah, Baby."
Minta menghampiri mobilnya yang terparkir di sisi kanan halaman rumah ini. Tak lama setelah itu, ia masuk kedalam dan melaju mobilnya perlahan. Setelah itu, giliranku yang kembali masuk ke dalam rumah untuk mengurus kedua putriku karena Bi Onah akan lebih sibuk di dapur.
****
"Nia?" tanya Mas Arlan setelah aku memberitahukan perihal Nia kepadanya.
Aku mengangguk pelan. "Iya, Mas. Nia ingin kita menghadiri makan malam," jawabku.
"Tapi, Dek."
"Kenapa, Mas? Kamu masih belum maafin Nia? Mas ... kamu sendiri yang bilang jangan ada dendam di hati kita terlalu lama, kan?"
"Mas tahu." Mas Arlan duduk di sampingku. Sebenarnya, kami berada di ruang keluarga sembari menyaksikan televisi setelah ia pulang dari kantor. "Tapi, kalau soal Selli."
"Mas, Nia udah janji enggak bakalan macem-macem lagi. Ayolah, Mas. Kita kasih kesempatan di bertemu Selli. Dia udah dateng jauh dari luar negeri lho. Masa' kamu tega sih?"
Mas Arlan menatapku, namun hanya sekilas. Kemudian, ia memandang tempat lain dengan raut wajah yang penuh dengan keraguan. Ya, aku mengerti atas kekhawatiran mengenai Selli. Ia takut jika Nia mengambil anak itu darinya. Namun, cukup sampai di sini saja dendam yang ada di hatinya untuk mantan istrinya itu. Aku ingin mereka juga berdamai, sehingga Selli tidak seperti sedang diperebutkan lagi. Selli bukan barang.
Lalu, untuk hal lain, aku juga seorang ibu. Aku juga merasa sangat tertekan jika harus berpisah dengan anak-anakku. Ketika menggantikan Mas Arlan sebagai direktur saja, aku seperti frustasi karena meninggalkan kedua putriku di rumah ini. Dan aku hanya mengalami itu. Lantas, bagaimana dengan Nia? Aku tidak ingin kami menjadi orang jahat karena memisahkan dirinya, bahkan sangat membatasi pertemuannya dengan Selli.
Aku menghela napas dalam. "Mas ...?"
Mas Arlan menatapku. Ia gusar sekali.
"Jangan berani memberikan saran, kalau kamu sendiri enggak bisa nerapin, Mas. Percaya sama aku, enggak bakalan ada apa-apa kok."
Mas Arlan semakin bingung, terlebih pada saat mendengarkan ucapanku. Aku mohon, jangan seperti itu, Mas!
__ADS_1
Bersambung ....
Satu bab lagi deng