Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Extra Part]-Belum Berhasil


__ADS_3

Fanni sedang sibuk menata beberapa barang yang hendak dibawa pulang. Terdapat lima koper yang dua hari lagi hendak dibawa ke tanah air, belum lagi beberapa tas berisi oleh-oleh untuk para kerabat. Sialnya, mereka hanya bertiga termasuk Sima sebagai orang dewasa. Yang pasti akan sangat melelahkan dalam membawanya.


Fanni menghela napas dalam. Ia menjatuhkan dirinya di samping ranjang milik hotel itu. Lelah, sudah pasti menjadi rasa yang mendominasi seluruh tubuhnya. Begitu susah payah, ia menutup koper satu persatu. Sedangkan sang suami, masih mengurus beberapa hal di luar sana. Sebenarnya, ia bisa menunggu Arlan sampai kembali, akan tetapi ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada. Terlebih, kedua putrinya sudah tertidur pada pukul delapan waktu Amsterdam tadi.


"Dek? Ngapain?" Tiba-tiba, suara Arlan terdengar oleh telinga Fanni. Saat ia menoleh ke arah pintu, maka terlihatlah suaminya itu.


Fanni menggeleng lalu tersenyum. "Habis beres-beres, Mas," jawabnya sembari mengibaskan tangannya yang basah karena keringat di wajah.


Arlan menghela napas dan ia hembuskan di detik berikutnya. Ia berjalan lebih dalam. Tak lupa, ia mencuci tangan di wastafel dapur hotel sebelum menghampiri Fanni. Matanya menatap segala ruangan yang telah bersih dan rapi. Mungkin cleaning service juga membantu membersihkannya, tetapi Fanni pasti ikut andil di dalamnya. Belum lagi, ia melihat koper-koper yang sudah tersusun rapi, mungkin tinggal beberapa helai pakaian yang akan digunakan selama dua hari sebelum kepulangan.


Arlan mengambil posisi untuk duduk di samping Fanni. Ia menatap wajah Fanni yang basah oleh keringat, pun meski ruangan ini tersedia AC yang menyala. Menandakan bahwa sang istri benar-benar bekerja keras. Ia merasa tidak enak hati karena meninggalkan Fanni untuk urusan lain.


"Kenapa enggak tungguin Mas aja tadi, Dek?" tanya Arlan sembari mengusap wajah Fanni dengan lembut.


"Aku keburu gatel, Mas. Pengen beres-beres, biar pas berangkat enggak ribet," tandas Fanni. Ia merasa bahwa dirinya membuat risih sang suami, sehingga ia memutuskan untuk mundur lebih jauh dari Arlan.


Dahi Arlan mengernyit, ia merasa heran karena Fanni menjauh darinya. Bagaimana jika istrinya itu merasa kecewa lantaran ia tidak membantunya? Ah, rasanya itu tidak mungkin. "Kok pindah, Sayang?"


"Aku bau asem, Mas. Belum mandi, habis keringetan banyak banget. Aku malu sama kamu. Kasihan kamu nanti malah jijik sama aku, Mas "


Arlan terkekeh seketika. Mana ada seorang Arlan jijik kepada Fanni, itu tidak mungkin terjadi. Bahkan, apa pun kondisi sang istri, ia selalu menerimanya dengan baik. "Kalau Mas jijik sama kamu, Mas enggak bakalan samperin kamu, Dek. Ada-ada aja!"


"Tapi ... ini bauk banget tauk!"


Arlan tersenyum. Ia tidak memperdulikan keluhan Fanni yang baginya terdengar lucu. Bukannya bergegas mandi, malah menjauh darinya. Oh, mungkin Fanni merasa sangat lelah, sehingga ia tidak segera mandi, terlebih masih ada keringat yang menempel di tubuhnya.


Arlan mendekati Fanni, ditangkapnya kepala Fanni. Pun meski, Fanni meronta-ronta minta dilepaskan, ia tetap bersikukuh ingin mengecup wajah istrinya. Ya, pada akhirnya ia mendapatkan apa yang ia mau. Sedangkan Fanni hanya bisa berdecak, bagaimana kalau aku bau sekali? batinnya. Tetapi, yang namanya hasrat seorang Arlan memang tidak bisa dikalahkan oleh apa pun.


Arlan tetap melakukan hal manis itu, cukup lama. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya selalu menerima apa pun keadaan sang istri. Ia tidak mau ada batas di antara dirinya dengan Fanni. Satu kecupan manis masih diterima oleh Fanni, bahkan dibalas dengan layanan terbaik.


Namun, ... pada saat, Arlan mulai membuka kancing pertama di bajunya, Fanni langsung melepaskan dirinya dari Arlan. Ia menunduk dan mencengkeram kancing bajunya dari Arlan. "Mas, aku masih belum mandi dan ... ini udah malem banget. Jangan dulu, ya?" ujarnya.


Arlan mengecap bibirnya. Tentu, ia merasa kesal. Sudah kepalang tanggung, tetapi dihentikan begitu saja. "Enggak masalah lho, Dek. Jangan dihalangi dong," bujuknya. Ia mengenggam tangan Fanni yang masih sibuk mencengkeram kancing bajunya.


Fanni tetap menggeleng. "Keringet aku tadi banyak banget, Mas! Lima ember ada kali."


"Hmm ...." Arlan melepaskan tangan sang istri. Ia merasa gelisah sendiri. Namun, mau bagaimana lagi? Fanni tetap tidak mau.


"Nanti aja ya, Mas? Hehe."


"Harus sekarang, Dek! Dosa lho, enggak mau kasih apa yang suami mau."


"Mas, tiap minta kan dikasih. Malam ini doang, aku capek dan badan aku bauk banget!"


"Mas enggak peduli. Lagian, Mas kan enggak minta kamu kerja terlalu berat. Lagian, malem-malem juga packing padahal masih dua hari lagi."


"Biar enggak ribet, Mas."


Arlan semakin mengerucutkan bibirnya. Ia mendengkus kesal secara diam-diam. Namun, ia terus berpikir--cara apa yang bisa digunakan agar sang istri bersedia memberikan pelayanan manis itu? Ia sudah kepalang tanggung dan sangat menginginkannya.


"Oke, mandi dulu sana. Tapi ...."


"Tapi apa, Mas?"

__ADS_1


"Mas ikut, Mas bantuin kamu."


"Eh?!"


"Ya, please, Dek."


Fanni hanya bisa menatap wajah Arlan yang bagaikan kucing meminta makan. Sebenarnya, ia merasa iba dan tidak enak hati. Ia berpikir cukup lama, sampai akhirnya ia mengangguk pelan sebagai tanda setuju.


Mata Arlan berbinar-binar bak baru mendapatkan emas secara gratis. Ia segera membantu Fanni bangun dari duduk dan menghalau sang istri untuk menuju kamar mandi. Dan pasti, akan ada sesuatu yang romantis akan terjadi. Hal yang paling indah bagi setiap pasangan. Hal yang selalu bisa menghilangkan segala masalah.


Arlan menang lagi, pada akhirnya Fanni hanya bisa pasrah dan memberikan kewajibannya sebagai seorang istri.


****


Satu jam berlalu dan kini mereka telah berpindah tempat di dalam kamar sembari tiduran. Saling mengeratkan pelukan demi menghalau rasa dingin akibat AC yang sengaja dinyalakan dengan suhu paling dingin. Tentu saja itu adalah ulah Arlan. Ya, lelaki yang tidak ada habisnya dalam berbuat sesuatu. Supaya ia bisa semakin dekat dengan sang istri dengan berbagai alasan yang sengaja ia buat sendiri. Terlebih, Fanni memiliki badan yang gempal dan justru mampu memberikan kehangatan baginya.


Dengan suara parau, Arlan menyanyikan lagu romantis bernada mellow. Hal itu membuat Fanni sampai tersenyum-senyum sendiri. Akhirnya, tinggal dua hari lagi mereka berada di negara ini. Rasa rindu terhadap tanah air sungguh tidak terkira lagi, terlebih ketika mengingat orang tua mereka. Keinginan Arlan untuk membawa keluarganya berlibur pun sudah terbayar tuntas. Kini tinggal menanti hasil yang akan tumbuh di rahim Fanni. Meski sejauh ini, Fanni belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan.


"Mas ...?"


"Iya, Dek?" Arlan menghentikan suara nyanyiannya dan menjawab panggilan dari sang istri. Kini mereka saling melemparkan pandangan sayu satu sama lain. "Kamu belum ngantuk, Dek?"


Fanni menggeleng pelan. "Kayaknya, gegara minum kopi jam tujuh tadi bareng Suster."


"Jangan kebanyakan minum kopi, Dek."


"Iya, Mas. Cuma sekali itu doang kok. Suer!"


"Emm ... aku mau minta maaf, Mas."


Dahi Arlan mengernyit seketika. Ia merasa heran tentang permintaan maaf yang terlontar dari bibi manis Fanni. "Minta maaf buat apa, Sayang?"


Fanni terdiam. Ia merasa ragu untuk memberikan jawaban. Ia takut jika suaminya malah kecewa. Namun, ia tetap harus mengungkapkannya. Ya, tentang sesuatu yang terus diidam-idamkan oleh Arlan. "Aku belum berhasil hamil lagi kayaknya, Mas. Kamu tahu kan, tiga hari yang lalu aku baru selesai datang bulan. Aku belum bisa kasih kamu anak laki-laki."


Memang benar, tiga hari sebelum malam ini, Fanni baru selesai dalam mengalami jatah bulanan. Hal itu juga yang membuat Arlan tidak bisa menahan hasrat lagi beberapa saat yang lalu. Fanni juga tidak tahu bagaimana perhitungan masa suburnya.


Arlan tersenyum, ia semakin mengeratkan pelukannya kepada sang istri. Ia tidak menyangka jika permintaannya justru membuat Fanni merasa terbebani, terlebih masih memiliki balita berusia satu tahun kurang satu bulan. Padahal, meski belum mendapatkan momongan lagi, Arlan merasa tidak apa-apa. Memang ada keinginan untuk memiliki bayi laki-laki, tetapi itu hanya sebatas keinginan saja. Ia dan Fanni juga telah berusaha, selebihnya adalah Tuhan yang mengaturnya.


Arlan mengusap kepala Fanni dengan lembut. Ada suatu rasa bersalah yang kini hinggap di hatinya. Sampai akhirnya, ia kembali berkata, "Justru Mas yang minta maaf sama kamu, Dek. Karna Mas malah kasih beban ke kamu."


"Beban gimana, Mas?" tanya Fanni kembali sembari menatap mata sang suami.


"Ya, candaan Mas pengin anak cowok malah bikin kamu kepikiran, Dek. Lagian, mana ada asal pesen gitu aja. Semua kan Allah yang atur, Dek."


"Tapi, kalau aku gagal kasih kamu anak laki-laki gimana, Mas? Bukan sekarang aja, mungkin nanti juga?"


"Ada cara kok, Sayang. Nanti, misal Sella udah besar dan udah pantas punya adik, kita program lagi. Banyak konsultasi sama dokter dan tetap berdo'a, Sayang."


"Hmm ... iya, Mas."


Fanni melemahkan tatapannya. Pun meski, Arlan telah mengatakan hal itu, tetap saja ia merasa tidak enak hati. Namun, kembali lagi pada takdir Tuhan, hanya Tuhan yang bisa mengatur segalanya. Lagi pula, anak bukan sebuah barang pesanan yang bisa diatur sesuai keinginan. Terkadang, menginginkan anak perempuan justru lahir seorang anak laki-laki dan begitu pun sebaliknya. Tugas mereka hanya berusaha dan berdo'a. Namun percayalah, dalam kondisi seperti ini justru pihak istri yang merasa paling terbebani.


Arlan paham dan sadar tentang hal itu. Maka dari itu, ia sangat menyesalkan sikapnya dahulu. Padahal hanya sebuah canda untuk merayu Fanni, justru membuat Fanni benar-benar kepikiran. Lagi pula, jika istrinya berhasil hamil sekali pun dan melahirkan anak perempuan lagi, ia tetap akan menerima dan menyanyangi sang buah hati. Arlan tidak ingin terlalu menuntut ini itu, karena ia sangat mencintai dan tidak mau berpisah dengan Fanni. Pengalamannya tentang perceraian membuatnya sangat berhati-hati dalam bersikap saat ini.

__ADS_1


"Dek, jangan mikirin itu lagi ya? Mas enggak maksa kamu buat itu kok. Mas kan cuma bercanda. Lagian, Sella masih kecil. Seandainya kamu belum berhasil hamil lagi, berarti kita disuruh jaga Sella dan Selli lebih baik lagi, Sayang," ujar Arlan.


"Iya, Mas. Aku cuma takut kamu kecewa, Mas," jawab Fanni. Bahkan, ia belum berani mengangkat kepala untuk menatap Arlan lagi.


"Asal bukan sesuatu yang salah, Mas enggak akan kecewa kok, Dek."


"Tetep aja, aku belum bisa kasih apa yang kamu mau."


"Allah belum kasih, Sayang. Bukan kamu, kita masih disuruh jaga anak-anak dulu. Jangan merasa kayak gitu, Dek."


"Aku takut kalau nanti juga enggak bisa kasih."


"Hmm ... kembali lagi sama do'a dan usaha kita, Dek. Pasti dikasih sama Allah. Mas yakin!"


"Tapi, Mas. Harusnya liburan ini bisa kasih hasil buat kamu. Tapi ...."


"Dek, Mas juga enggak sejahat itu. Kamu udah pasti lelah karna ngurus dua anak. Selli dan Sella. Kalau kita punya anak lagi di saat ini, belum tentu kamu sanggup mengatasinya. Dan mungkin itu juga kenapa Allah belum kasih hasil positif. Jadi, jangan sedih lagi, jangan kepikiran lagi."


"Tapi, Mas--"


"Mas ngajak liburan bukan karna hal itu kok, Sayang. Tapi, niatnya buat bikin bahagia kalian. Kamu dan anak-anak. Selama tiga tahun pernikahan kita, Mas belum bisa kasih apa-apa buat kamu. Hal yang berkesan juga belum ada. Makanya, Mas ajak kalian ke sini."


Fanni terdiam, ia tidak menyanggah lagi. Ia merasa keberadaan Arlan sudah suatu keberuntungan baginya, bahkan jika Arlan tidak membawanya ke tempat ini. Asal bersama Arlan dan anak-anak itu sudah sangat cukup. Ia tidak menginginkan sesuatu berlebihan, apa lagi jika menguras uang dan tenaga. Ia merasa sangat senang ketika Arlan menghadiahi liburan ke Amsterdam, Belanda kepadanya dan anak-anak. Ia menerima karena ingin menghargai segala usaha dari suaminya, bukan karena ingin menghambur-hamburkan uang.


Namun tetap saja, sebagai seorang istri, ia merasa gagal karena selama satu bulan, ia belum berhasil hamil lagi. Ia terus-terusan kepikiran dan seandainya berhasil pun, ia masih tetap khawatir jika yang ada di kandungannya bukan anak laki-laki. Pun meski, Arlan sudah mengatakan segalanya, beban itu masih tetap ada.


"Hayo, jangan mikir aneh-aneh lagi." Arlan menyentil hidung mancung Fanni, sampai membuat istrinya itu terkejut.


Fanni mencubit lengan Arlan dengan kencang, bahkan memerah. Pria itu hanya bisa mengaduh kesakitan. "Makanya, jangan ngagetin!" tegas Fanni.


"Lagian, malah ngalamun."


"Enggak kok!"


"Udah, pokoknya kamu enggak boleh mikirin yang enggak-enggak lagi, Dek. Mas itu sayang banget sama kamu, Mas enggak mau kamu kenapa-napa gara-gara ulah Mas sendiri."


"Iya, Mas."


"Jangan iya doang. Tapi ya didengerin kata-kata Mas. Biar kamu juga fokus ngurus anak-anak."


"Iya!"


Arlan tersenyum. Ia berbisik, "Yang penting layanan tetap jalan. Ya, Mas enggak bakalan kecewa, Dek."


Fanni mengecap bibirnya. Merasa sedikit geli atas bisikan dari suaminya. Memang, selama satu bulan ini tenaganya bak dikuras habis. Hanya jeda satu minggu lebih karena datang bulan itu. Dan anehnya, kehamilan juga belum terjadi. Ya, mungkin karena Tuhan belum memberikan apa yang mereka mau.


Kini, Fanni hanya bisa menghela napas dalam-dalam. Ia berusaha membuang segala pemikiran macam itu. Suatu saat, pasti ia bisa mengabulkan permintaan suaminya. Saat ini, ia perlu berfokus kepada keluarganya. Terutama kepada Sella yang masih balita.


****


Hai guys. Apa kabar? hehe. Maaf aku ambil liburan terlalu lama ya?


Jangan lupa jempolnya ya!

__ADS_1


__ADS_2