
Setelah puas menghabiskan waktu sehari penuh, sorenya Mas Arlan membantuku memindahkan beberapa barangku ke rumah orangtuaku. Kini ia tidak segan dan tidak perlu merasa khawatir lagi untuk datang. Sedikit demi sedikit, ibuku telah menerima kehadirannya. Bahkan semakin terlihat akrab karena Mas Arlan yang selalu usil dengan candaannya. Sehingga ibuku seringkali terkekeh karena ulahnya.
Dari hal itu, aku selalu bisa mengambil hikmah baik dari segala sesuatu. Kuasa Ilahi memang teramat besar, hati hamba-Nya pun bisa dibolak-balikkan dengan gampang. Sebagai tanda bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita yang senantiasa bersabar. Aku sendiri juga bersyukur karena bisa dipertemukan dengan Mas Arlan. Lelaki yang mencintaiku tanpa memandang kekurangan di fisikku. Yah, aku juga sangat mencintainya.
Lalu, pagi ini Mas Arlan menyempatkan waktu lagi untuk menjemputku. Deru mobilnya sudah terdengar memasuki pekarangan rumah orangtuaku. Sedangkan, aku masih bersantal sarapan bersama keluarga.
"Bukain pintunya, sayang. Ajak sarapan bareng," usul ayahku.
"Siap Papa," jawabku dengan penuh semangat.
"Hmm... calon pengantin baru mah auranya emang beda," celoteh ibuku.
Aku terkekeh setelah mendengar perkataan ibuku. Sedangkan, beliau melengoskan pandangan dari diriku lalu kembali pada santapan. Aku segera mengambil langkah untuk menuju pintu utama. Tentunya dengan langkah tergesa-gesa, karena tidak ingin kekasihku menunggu terlalu lama. Dalam arti lain, aku sudah tidak sabar melihat paras manisnya.
Sesampainya ditempat yang aku tuju, tanpa pikir panjang lagi, kubuka daun pintu tersebut sampai menimbulkan bunyi kriet. Mas Arlan masih tampak berjalan, namun sudah hampir sampai di teras rumah. Ia tersenyum cerah setelah menangkap keberadaanku. Tatanan penampilannya begitu rapih, sampai membuat jantungku berdebar-debar. Aku rasa nama pangeran yang sempat kusematkan untuk Celvin, kini sudah berpindah kepadanya. Oh... ataukah ini termasuk aura calon pengantin pria? Apapun itu, bagiku Mas Arlan selalu indah.
"Pagi sayang...," sapa Mas Arlan dengan lirih. Kini ia telah berada didepan pintu.
Kusunggingkan senyuman untukku. Lalu kubisikkan balasan untuknya, "Pagi juga, sayang..."
Mas Arlan menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Setelah itu berkata, "Tahan, tahan."
"Tahan? Kenapa, Mas?"
"Kamu terlalu imut, aku jadi pengen kecup...,"
"Dasar! Sabar dulu napa? Masuk yuk, sarapan bareng. Masih ditungguin noh."
"Jadi enak nih, baru dateng udah disuruh makan."
"Hari hoki, Mas."
"Hehe... makasih lho, Dek."
Kami berjalan beriringan untuk masuk dan menemui keluargaku.
Mas Arlan menyalami satu persatu anggota keluargaku sembari mengucap sapa pagi. Kemudian, ibuku mempersilahkan ia agar duduk disalah satu kursi kosong. Pemandangan ini adalah pemandangan yang selama ini aku impikan. Seperti, saat pertama kali bertemu Kak Febi, ibuku juga tak segan untuk menuangkan nasi serta lauk untuk Mas Arlan. Aku rasa, beliau tidak ingin aku berpikir macam-macam atau merasa tidak adil. Yah, tidak buruk juga.
"Anak mana, Bang? Nggak diajak?" tanya Kak Pandhu disela-sela santapannya.
"Baru saya anter sekolah tadi, Mas," jawab Mas Arlan.
"Ck... Pandhu ini, manggilnya bang beng bang beng. Dia calon adek kamu lho," sela ibuku.
Aku pun tak mau ketinggalan, "Tauk Kak Pandhu. Umurnya emang tua, tapi wajahnya lebih muda dari kakak."
"Hmm... mesra banget sih, Dek. Jadi pengen nikah lagi," celetuk Kak Febi.
Kak Pandhu tampak mengeryitkan dahinya. Lalu bertanya maksud dari perkataan istrinya, "Maksud kamu gimana, sayang? Nikah lagi?"
"Nikah sama kamu lagi lho, Mas hehe."
Ayahku yang sedari tadi memilih diam, kini pun ikut terkekeh mendengar celotehan kami. Perbincangan ini terus berlanjut dengan kehangatan yang hakiki. Sebuah keluarga yang bahagia sedikit tergambar dari sini. Diam-diam, aku tersenyum lega pada saat menatap Mas Arlan. Setidaknya, aku bisa memberikan kesempatan berkumpul keluarga lagi untuknya. Sehingga ia tidak kesepian seperti sebelum-sebelumnya.
Tak terasa, waktu semakin cepat berjalan. Kami menyudahi acara sarapan pagi ini. Dikarenakan waktu yang sudah siang, ibuku tidak mengizinkanku untuk membantu membereskan peralatan makan. Sehingga, beliau hanya dibantu oleh Kak Febi saja. Padahal, aku tidak enak hati kepada kakak iparku tersebut. Selain ia tengah hamil, aku yang sebagai seorang anak kandung, keterlibatanku dikeluarga ini malah lebih sedikit. Tapi, apa mau dikata, karena waktu juga semakin sedikit sebelum jam kerja dimulai.
"Om, Tante, kami berangkat dulu ya?" pamit Mas Arlan sembari menyalami kedua orangtuaku.
Ayahku menerima tangan Mas Arlan. "Hati-hati dijalan ya, Nak. Tolong jaga putri saya," jawab beliau.
Berganti ibuku yang menerima tangan Mas Arlan. "Hati-hati. Nanti, kalau bisa sepulang kerja kesini lagi. Tante mau bicara sama kalian, mengenai pernikahan kalian," pinta beliau.
"Siap Tante."
Setelah aku yang berpamitan, aku mengikuti langkah Mas Arlan untuk menuju mobilnya. Diiringi Kak Pandhu dibelakang kami.
Setelah sampai, di pelataran rumah. Aku dan Mas Arlan masuk ke dalam mobil hitam milik Mas Arlan. Sedangkan Kak Pandhu ke dalam mobilnya sendiri. Kemudian, mobil ini dilaju perlahan oleh Mas Arlan untuk menuju kantorku dan kantornya sendiri. Disusul Kak Pandhu bersama mobilnya dari belakang.
Aku bersyukur karena suasana jalan, pagi ini tidak terlalu padat dan macet. Oleh karena itu, kami tidak perlu tergesa-gesa dan bingung. Senandung lagu melankolis pun bisa dinikmati oleh telinga lebih dulu. Padahal, aku merasa lagu bergenre pop rock lebih menggugah semangat. Namun, Mas Arlan memang tidak menggemarinya. Sesuai permintaanku dulu, ia tidak lagi berpura-pura menikmatinya. Sehingga, mengganti kembali dengan alunan musik yang lebih soft dan terkesan membuatku mengantuk.
"Dek," ujar Mas Arlan, memanggilku.
__ADS_1
Kutolehkan kepalaku seketika. "Iya, sayang," jawabku.
"Kerja hati-hati ya?"
"Iya siap."
"Jangan nakal."
"Siap."
"Jaga hatinya buat Mas."
"Mas juga ya?"
"Siap selalu, Dek. Terus kamu jangan genit sama bosmu itu!"
"Iya, tapi ngomongnya biasa aja dong."
"Hmm... Mas masih gimana gitu kalau membahas keluarga mereka."
"Yaudah sih, semua udah berlalu. Kalau seandainya kerjasama nggak berlanjut, ya jangan ada dendam lagi."
"Mas juga berusaha, sayang."
"Itu baru calon suamiku yang baik hati."
"Jadi nggak sabar pengen satu bulan lagi."
"Hmm... sama kalau itu Mas."
Deru mobil mengiringi kebersamaan kami. Bahkan, tiba-tiba saja gerimis hujan ikut menyertakan diri. Pagi yang manis jika ditemani secangkir kopi. Namun, yang menemaniku saat ini bukan secangkir kopi. Melainkan semburat senyum manis yang mengalahkan kopi. Akan lebih indah jika kami lebih cepat melangkah satu bulan kedepan, pasti setiap hari tersedia senyuman itu untukku.
Gelora cintaku semakin menggebu. Menampik seluruh kerisauan yang masih tersisa. Menggantinya dengan harapan yang lebih tinggi. Aku dan juga Mas Arlan sudah sangat ingin bersama, demi membina rumah tangga kecil. Dan berharap kemesraan ini tak pernah padam sampai nanti dan selamanya.
Aku tidak mengerti, tiba-tiba Mas Arlan menghentikan mobilnya dipinggir jalan yang berdampingan dengan pagar tembok milik seseorang. Tak banyak orang lalu lalang disini, mungkin karena hujan dan juga area sepi. Entahlah, apa sebenarnya maksud Mas Arlan. Padahal jarak kantorku tinggal sedikit lagi.
"Mau apa kamu, Mas?" tanyaku untuk memastikan.
"Kecup dulu dong Dek, sebelum masuk kerja," pintanya.
"Biar semangat lho, Dek. Curi kesempatan nih, mumpung nggak di rumah kamu."
"Nggak mau, gimana kalau diliat orang? Lagian kemarin kan udah seharian bareng, Mas."
"Mas kan kangen terus sama kamu, Dek. Kacanya nggak tembus pandang kok."
"Ini nih, susahnya pacaran sama duda."
"Ya maklum, Dek. Tapi kan Mas nggak pernah berbuat macam-macam lho."
"Nggak pokoknya! Pamali lho, kita baru mau nikah."
"Ciuumm dikit aja."
"Nggak!"
Nyatanya aku selalu kalah dengan si duda satu ini. Tenaga lelaki memang sangat kuat, ia meraih wajahku. Setelah itu, ia menyentuh bibir tipis yang kumiliki. Aku pasrah bukan karena ingin, tapi akan sia-sia jika menolak. Selalu keromantisan seperti ini yang Mas Arlan gunakan untuk melampiaskan rasa rindunya kepadaku.
Ia bahkan tidak memperdulikan riasan lip gloss yang sudah kupakai. Duda memanglah duda. Mas Arlan masih saja mengecup bibirku dalam durasi yang tidak singkat. Keromantisan ini benar-benar tidak bisa kuhindari. Dalam posisi yang masih sama, aku berusaha mengeluarkan ponselku dan melirik waktu didalam layar.
Udah jam segini, harus berhenti!
Aku memaksa diri agar terlepas dari pelukan Mas Arlan. Saking kuatnya, aku beberapa kali tidak bisa menghindar. Sampai akhirnya kukerahkan tenagaku untuk mendorong diri Mas Arlan.
"Aneh ih! Udah siang lho!" tegasku sembari merapikan rambut dan wajahku.
"Emang jam berapa sih, Dek?" tanya Mas Arlan tanpa rasa berdosa.
"Setengah delapan, sayang! Kamu juga harus berangkat sendiri kan?"
"Hehe... biarinlah sekali-kali telat. Kan buat kamu, Dek."
__ADS_1
"Buat aku gimana? Perasaan ini ulah kamu, terus buat kamu juga. Jalan lagilah, Mas. Masa' iya, aku pake alasan tadi untuk keterlambatan"
"Iya iya sayang."
Mas Arlan akhirnya bersedia mendengar ucapanku. Napasku sendiri hampir terengah-engah karena kesal. Kalau sampai telat, apa yang harus kukatakan kepada Celvin? Mana mungkin kuberikan alasan romantis tadi untuk menjelaskan.
Belum lagi, aku harus berpikir tentang waktu yang tinggal sedikit lagi untu Mas Arlan. Sebenarnya, jika ini waktu senggang, aku tidak menolak untuk lebih lama bersama Mas Arlan. Namun, sebentar lagi adalah jam kerja normal akan berjalan. Sehingga, mau tidak mau kami harus berpisah untuk sementara waktu.
"Please jangan diulangin lagi dong. Nikah dulu," ujarku.
"Iya iya, ini yang terakhir sebelum menikah ya," jawab Mas Arlan.
"Harus tepati janjinya. Lagian kalau udah nikah, sepenuhnya buat kamu Mas."
"Hehe... iya Dek iya. Yaudah masuk sana, inget pesen yang Mas bilang tadi."
"Iya, Mas. Aku masuk dulu ya, inget sama janjinya. Oke?"
"Oke, sayang. Semangat ya kerjanya, i love you. Pakai payung nih."
Aku tersenyum kepada Mas Arlan sembari menerima payung berwarna hitam darinya. Kemudian beranjak turun dari mobilnya setelah membuka payung. Kulambaikan tanganku kepadanya sembari menunggunya berlalu. Setelah itu, aku memasuki gerbang kantor. Sudah cukup ramai karena sudah siang. Tidak mengapa, asal jangan sampai kesiangan. Kuambil langkah lebih cepat, karena hendak mampir ke toilet karyawan. Aku memilih naik terlebih dahulu keatas lalu masuk ke dalam toilet yang paling dekat dengan ruanganku.
Setelah sampai di toilet, aku tidak berencana untuk masuk kedalam bilik. Melainkan bercermin dan membenahi riasanku yang berantakan. Meski hanya make up natural, setidaknya harus rapih. Kutatap wajahku yang terpantul di cermin panjang. Aku menyentuh bibirku yang telah kering akibat perbuatan Mas Arlan.
Seperti hari-hari sebelumnya, aku sangat menyesalkan hal romantis itu terjadi. Meski hanya sekedar berkecup saja, aku masih merasa tidak pantas sebelum pernikahan kami digelar. Namun apa daya, semua penyesalanku selalu saja sia-sia karena selalu terulang lagi. Yah, semoga saja kali ini Mas Arlan menepati janjinya.
Setelah kurasa cukup, aku segera keluar dari tempat ini. Lalu berjalan lagi menuju ruang kerjaku.
"Selamat pagi, Bapak Celvin," sapaku kepada Celvin yang tengah berdiri didepan jendela sembari memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam kantong celana.
Ia membalikkan badan lalu tersenyum. Ia tampak berjalan menghampiriku. "Pagi juga, Fanni," jawabnya.
"Kamu apa kabar, Vin? Kok pagi-pagi udah melamun?"
"Sehat Fann. Kamu sendiri gimana? Lamaran lancar?"
"Iya lancar, Vin. Aku sehat juga kok."
"Alhamdulillah, Fann."
Aku terkejut karena kalimat syukur islam itu diucapkan oleh Celvin yang bahkan tidak pernah mengatakannya sama sekali. "Ehh? Alhamdulillah?"
"Hehe... aneh ya?"
"Ng-nggak sih, nggak biasanya aja."
"Hmm... sama aja, aneh namanya. Aku sudah menemukan seseorang untuk mengajarkan ilmu agama Fann."
Mataku berbinar-binar karenanya. Aku ikut bangga dengan apa yang telah dilakukan dan didapatkan oleh seorang Celvin Hariawan Sanjaya. "Oh ya? Bagus dong."
"Hehe... agak malu sih. Sudah setua ini,baru belajar agama dengan benar."
"Nggak apa-apa, Vin. Kita sama kok, masih tahapan belajar. Masih sering melakukan kesalahan juga."
"Thanks ya Fann. Mungkin kalau nggak ketemu kamu, aku nggak bisa seberubah sekarang."
"Emang apa pengaruh aku buat kamu, Vin? Aku sendiri saja, belum bisa lepas dari belenggu masa lalu."
"Tanpa kamu sadari, kehadiran kamu itu bisa memberi manfaat untuk orang lain, Fann. Aku sendiri juga bingung buat jelasin sih, intinya aku banyak belajar sama kamu."
"Aku rasa, karena kamu terlalu sempurna. Jadi kamu bisa sedikit mempelajari perasaan hati orang yang tidak sempurna seperti aku, Vin. Makanya kamu pikir, aku adalah orang yang memberikan pengaruh buat kamu."
Celvin tersenyum dengan ketampanannya. Ia tidak menampik lagi tentang ucapanku. Dan aku rasa, aku memang benar. Kehadiranku sebagai manusia gendut dan tidak menarik ini, bisa memberikan sedikit pemahaman tentang hidup yang orang seperti diriku, untuk Celvin. Meski tanpa aku sadari sama sekali.
Semakin hari, banyak yang berkembang dari hidupku. Mulai dari pandangan hidup, pekerjaan, pertemanan, hubungan, ego dan juga kedewasaan. Meski, aku masih harus mengembangkan lagi rasa percaya diriku. Tapi aku yakin, sedikit demi sedikit aku bisa melompat lebih jauh ke depan. Sehingga suatu saat nanti, aku bisa berkata dengan lantang bahwa seorang Fanni bukanlah Fannisa yang lesu seperti dulu.
Baiklah, mari bekerja! Tuntaskan hari ini dengan semangat membara.
Aku maupun Celvin kembali mendiskusikan pekerjaan yang akan kami jalani hari ini.
Bersambung...
__ADS_1
Budayakan tradisi like+komen..
makasih buat readers yang luar biasa kalau kasih poin sampai beribu-ribu. makasiihh bangeeeettt pokoknya.. hehe