
Masih tersisa rasa kesal dalam hatiku, mengingat tatapan sinis Kak Pandhu semalam. Terlebih Febi yang begitu sok kenal dan sok dekat. Rasanya muak saja melihatnya. Padahal sebentar lagi mau jadi pengantin, tapi sikap kakakku tidaklah sopan.
Disisi lain aku pun senang, aku punya alasan untuk menolak acara fitting baju sekaligus menjadi pengiring pengantin. Aku bisa bebas di hari itu, ambil cuti dengan alasan keluarga menikah. Dan liburan sementara waktu tanpa datang ke resepsinya.
Toh, pasti aku tidak dianggap nantinya. Buat apa juga jika Kak Pandhu seperti itu. Meskipun sedikit kesal aku sama sekali tidak memikirkannya. Lagipula tidak ada untungnya bagiku.
Pagi ini aku berangkat tergesa-gesa karena ada meeting dadakan. Padahal niatnya aku ingin berangkat agak siang, namun sialnya malah ada intruksi untuk datang lebih awal. Yah, mau tidak mau aku harus mengikuti aturan. Daripada menimbulkan masalah hanya karena hal sepele.
Aku mengendarai mobilku dengan kecepatan agak tinggi. Walau terkadang ada kemacetan di beberapa titik jalan. Aku tetap keras kepala dan mencoba menerobos rentetan mobil. Intinya aku ingin datang tepat waktu. Aku tidak ingin menambah citra buruk pada diriku sendiri.
Beberapa saat kemudian, akhirnya aku berhasil menerobos rentetan mobil. Dan sampailah di kantor tempatku bekerja. Dengan cepat ku parkir mobilku di sudut area parkir.
Kemudian beranjak dari mobil dan menutup daun pintunya sedikit kencang. Langkahku terlihat berlarian aku benar-benar panik karena waktu semakin cepat.
"Dugghhh!!!" Tiba-tiba kepalaku membentur sesuatu maksudku seseorang ketika memasuki lift.
"Aduhh maaf ya." Ujarku kepada orang tersebut.
Tampak seorang pria tampan dan putih. Ia sangat tampan dan berwibawa. Oh shit! Aku menabrak seorang pangeran. Siapa dia? Karyawan barukah? Bagaimana kalau dia marah? Begitulah segala kecemasan yang bermunculan di kepalaku.
"Iya gak papa santai aja manis." Jawabnya sembari tersenyum tampan. Yang pasti akan meluluhkan hati siapapun yang menatapnya.
Begitupun aku, ia memanggilku manis. Sampai aku diam tak bergeming sedikitpun. Aku tersontak dan menganga tanpa berkata-kata. Kurasakan leherku kaku seketika, aku menjadi sangat gugup dibuatnya. Aku harap lift naik lebih cepat agar tidak terlalu lama menahan gugup dan malu.
"Karyawan sini ya?" Ujar pria tersebut.
"I...iiyaa." Jawabku tergagap.
"Udah lama?"
"Lumayan sih."
"Pasti cerdas ya, manis juga hehe."
Lagi dan lagi rahangku dibuat jatuh menganga. Apa maksud perkataan pria tersebut? Mengapa ia mengatakan kata manis untuk orang sebesar aku?
"Sampai ketemu lagi ya manis." Ujarnya lagi yang berhasil membuatku semakin salah tingkah.
__ADS_1
Pria itu keluar lebih dulu dari lift kemudian aku. Aku sengaja melangkah lebih pelan agar tidak berbarengan. Lagi pula, apa kata orang nanti jika mendapati aku bercengkerama dengan seorang pangeran?
Segala pertanyaan-pertanyaan memang masih berputar di kepalaku. Aku cukup penasaran dengan siapa dirinya, mengapa ia ada dikantor ini. Dan lagi mengapa ia seramah itu, biasanya seorang pria tampan akan bergidik ketika menatapku yang bertubuh besar ini.
Ah sudahlah! Bukan siapa-siapa juga. Mungkin ia memang memiliki sikap ramah kepada siapapun. Atau mungkin hanya klien yang ada urusan. Jadi tidak mungkin aku akan bertemu lagi. Lagipula, ia tidak mungkin dan sangat mustahil jika tertarik padaku.
Lalu aku kembali mempercepat langkahku ke ruangan tempatku bekerja.
Sampainya disana, ternyata rekan-rekanku sudah berdatangan. Yah, meskipun masih bergerombol sembari bergosip. Aku sendiri memilih menghampiri bilik kerjaku.
"Eh si endutttt selamat pagiiiii." Ujar Tomi tiba-tiba dari arah belakangku.
"Pagi cesss jangan ngagetin kebiasaan, salam ke." Jawabku.
"Ih loe mah baper deh ah, siang banget sih cynn datengnya."
"Ehm, gue gak tau ada meeting dadakan tadi."
"Ohh gituu toh, eh tadi ada pengumuman tau."
"Ada CEO baru yang bakalan gantiin boss Ruddy."
Aku terdiam sejenak mendengar kabar dari Tomi. CEO baru? Berarti orang baru? Benakku melayang mengingat kejadian di lift beberapa saat yang lalu. Mengingat pria tadi, ia tampan dan berwibawa. Mungkinkah ia CEOnya yang akan mengganti Pak Ruddy?
"Ngegosip baee!" Celetuk Nike yang tiba-tiba datang.
"Sini ikutan cynn kita ghibah bareng hahaha." Jawab Tomi.
"Gak Ke gue nanya pengumuman hari ini." Tambahku.
"Iyaaa cynn anaknya Boss Ruddy yang katanya ganteng itu loh."
"Hmmm belum tau sih Fann kita tunggu aja yah.
Tak lama kemudian si setan cantik yang tak lain dan tak bukan adalah Mita berjalan memasuki ruangan kerjaku. Ia memberitahukan dan mengintruksikan agar semua karyawan berkumpul di ruang training. Serentak kami semua menuju kesana.
Aku melihat kondisi ruangan yang sudah kosong hanya ada panggung kecil dengan dua tangga. Ada tulisan "Selamat datang CEO" di sebuah baliho yang bergaya kaligrafi alfabeth. Dan semua karyawan berkumpul disini dari divisi manapun.
__ADS_1
Kami semua menunggu beberapa menit sampai acara dimulai. Sampai datanglah Pak Ruddy dan beberapa petinggi perusahaan. Dan tentu saja disambut hormat , salam sekaligus tepuk tangan.
"Selamat pagi semua karyawan yang saya cintai, masih semangat semua kan?" Ujar Pak Ruddy memulai pidatonya.
"Selamat pagi semangat!!!" Jawab kami serentak.
"Dengan segala rahmat Tuhan sehingga saya bisa berdiri disini berkumpul dengan kalian semua, tanpa kata panjang dan menyingkat wakti saya akan mengumumkan tentang pergantian CEO baru untuk perusahaan. Mengingat usia saya yang semakin bertambah, saya harap pergantian ini tidak mengurangi rasa semangat bagi kita semua. Saya akan di gantikan oleh Celvin Hariawan Sanjaya yang tak lain dan tak bukan adalah putra pertama saya. Kebetulan ia baru saja lulus dari studynya di Sidney beberapa bulan yang lalu. Semoga kalian semua bisa menerima dengan baik dan betah dengan CEO baru. Begitulah kiranya yang saya sampaikan. Untuk Celvin silahkan masuk. Terima kasih. Semangat!!!" Begitulah kiranya isi pidato dari Pak Ruddy
"Semangat!!!" Jawab kami serentak.
Sosok pria yang tidak asing bagiku berjalan menuju altar panggung. Seperti dugaanku sebelumnya, ia adalah pria yang sempat aku tabrak di lift beberapa saat yang lalu. Ia berjalan dengan didampingi oleh Mita sebagai pemandunya. Tentu saja Mita sangat bangga.
Aku masih terdiam. Jujur saja aku masih sangat malu atas kejadian tadi pagi. Bahkan untuk menatapnya berpidato pun aku sungkan. Bagaimana tidak, aku sempat mendengar ucapan manis dari sosok hebat itu, pangeran itu. Terlebih kini banyak karyawan wanita yang saling berbisik mengagumi parasnya.
Aku hanya berharap tidak ada yang menyaksikan dan mendengar percakapanku dengan Celvin ketika di lift atau setelah keluar lift. Kalau sampai ada, aku pasti akan panen hujatan dan akhirnya mengarah ke bullying.
"Selama pagi semuanya, perkenalkan saya Celvin saya yang akan menggantikan ayah saya mulai hari ini. Dan harapan saya, saya bisa bekerja dan memimpin dengan baik. Saya tidak ingin kebanyakan bicara jadi begitu saja yang saya sampaikan terima kasih." Ujar Celvin.
Tampaknya ia tipe orang yang tidak suka banyak bicara terbukti ia hanya menyampaikan pidato yang sangat singkat dan terkesan dingin. Akhirnya aku memberanikan diri meliriknya karena penasaran.
Celvin berjalan menuruni dua tangga panggung. Dan yang membuatku tersentak adalah saat ia melirikku dengan sunggingan senyum manis. Oh Tuhan! Hatiku terasa meleleh. Benarkah ia mengarahkannya padaku? Ataukah aku yang kege-eran saja?
Bersambung...
Ayo dong yang baca yang dukung novel ini tetep lanjut. Sisakan bekas jempol kalian untuk like, komen, bintang, atau favorit.
Gratiss!!!
Biar aku semangat nulisnya, kemaren sempet down dan males nulis karena sepi jadi berasa gak ada yang baca.
Hmmm... Gak maksa sih.
Tapi gak janji juga bakalan rajin up nya. 😁😁
Maaf ya karena manusia kadang malas dan jenuh.
Dan terima kasih juga yang masih setia, meskipun hanya segelintir orang ☺️☺️
__ADS_1