
Riris mendadak merasa curiga atas sikap Jelita yang semakin hari dirasa semakin berubah. Sang anak tiri tidak pernah menangis lagi dan menolak makanan yang ia berikan. Jelita memang tidak menolah secara terang-terangan, melainkan membuang setiap makanan apa pun yang ia berikan, bahkan tidak lagi meminum pil penggemuk badan yang ia sebut sebagai vitamin.
Riris berjalan mondar-mandir sembari menopang dagu di dalam kamar megahnya. Ada apa dengan anak itu? Batinnya. Ia tidak akan membiarkan sesuatu yang bisa merusak rencananya setelah sejauh ini. Namun, untuk melangkah lebih maju pun, ia belum mengetahui sebab apa yang membuat Jelita bisa berubah.
“Aku harus cari tahu,” gumamnya dengan mata yang menatap tajam ke arah tembok berwarna putih. Ia bergerak berbalik badan dan mengambil langkah untuk keluar.
Suasana rumah yang besar milik suaminya kayanya itu tampak sepi. Kedua anaknya, salah satu dari mereka yaitu Jelita sudah berangkat ke sekolah. Hal itu membuatnya bebas dalam melakukan hal apa pun, terlebih ketika suaminya sedang bekerja.
Riris berjalan menaiki tangga ke lantai dua, ia berencana untuk mengecek kamar Jelita. Semua dilakukannya agar mendapatkan alasan di balik perubahan gadis SMA bertubuh besar itu. Ia tidak peduli sama sekali jika sikapnya ini dianggap lancang oleh orang lain, juga tidak peduli dengan lalu lalang para pelayan rumah itu. Ia selalu berhasil membungkam mulut mereka dengan ancaman pemecatan. Ya, anggap saja dirinya gila.
“Kurang ajar!” Riris merasa kesal, lantaran pintu kamar Jelita yang di kunci rapat. “Sejak kapan gadis itu, mengunci kamar saat ke sekolah? Apa dia lupa dengan ucapanku?” Riris sudah tidak habis pikir lagi. Nasehatnya yang dulu pernah diucapkan kepada Jelita mengenai kamarnya, sudah tidak digubris lagi.
Ya, sebelum hari ini, Riris selalu memberikan wejangan agar Jelita tidak pernah mengunci pintu kamarnya. Alasan yang ia pakai, sebenarnya cukup sederhana, agar para pelayan tidak kesulitan dalam melakukan pembersihan. Padahal, di balik itu semua, ia hanya ingin mengetahui aktivitas apa pun yang dilakukan oleh Jelita. Wanita licik satu ini, terbilang sangat memuakkan.
“Hei, kamu?” panggil Riris kepada salah satu pelayan yang kebetulan melewatinya.
Pelayan tersebut berhenti, menghadap Riris dengan keadaan kepala yang menunduk. “Iya, Nyonya,” ujarnya.
“Kamu punya cadangan kunci kamar ini? Ah, bukan, maksud saya ada nggak cadangan kunci kamar ini?”
“Mohon maaf, Nyonya. Kemarin, Nona Jelita meminta semua kunci kamarnya yang ada.”
“Apa?! Terus kalian kasih?”
Pelayan itu mengangguk pelan, sedang di hatinya dipenuhi rasa takut yang tidak terkira lagi. “M-maaf, Nyonya. Nona Jelita bilang, sudah ada izin dari Tuan dan Nyonya.”
“Kurang ajar! Pergi sana, dasar pelayan tidak becus! Cepat pergi! Sebelum saya kasih sangsi!”
“B-baik, Nyonya.”
Ketika sedang marah seperti ini, Riris merasa sangat muak dengan siapapun yang berbuat kesalahan, bahkan jika sang pelayan tidak segera bergegas, bisa jadi ia melakukan pemecatan. Ya, wanita ini lebih kejam daripada yang diduga-duga. Namun, ia cukup lihai dalam menyembunyikan sikap aslinya itu, terlebih di hadapan sang suami.
Dengan hati yang dipenuhi rasa kesal, Riris kembali berjalan ke bawah. Ia menggigit ibu jarinya dengan geram, nyaris keluar darah dari bekas gigitan itu. Matanya memerah, napasnya memburu. Ia sudah benar-benar naik pitam dengan ulah Jelita yang tanpa sepengetahuan darinya. Ia merutuk gadis itu dengan kalimat kasar di dalam hatinya.
“Siapa yang buat kamu berubah seperti ini, Jelita? Saya enggak akan pernah membiarkannya. Lihat saja nanti, kamu dan orang itu akan hancur lebur seperti kertas yang habis dibakar oleh api.” Setelah menggumamkan hal mengerikan itu, ia merogoh ponsel dari kantong celana jeans yang ia pakai. Setelah mendapatkannya, ia menekan nomor milik seseorang dan melakukan panggilan keluar.
“Halo, saya butuh bantuan kamu,” ujarnya setelah teleponnya diterima oleh orang tersebut.
“Baik, Nyonya, akan saya lakukan.” Suara berat milik seorang pria terdengar dari ponselnya.
“Selidiki apa aja yang dilakukan oleh si gendut Jelita, dan orang-orang yang kini ada di sekitarnya.”
“Baik, Nyonya. Itu hal yang mudah.”
“Saya harap kamu enggak hanya mudah dalam berbicara. Seret orang itu, kalau benar ada dan mendapatkannya.”
“Itu bukan hal sulit, Nyonya. Serahkan sama saya.”
Riris tidak ingin banyak bicara lagi, ia menutup panggilan itu. Kini, ia tinggal menunggu hasil dari upaya si pesuruhnya. Pesuruh yang selama ini selalu dapat ia handalkan dan … merupakan selingkuhannya. Ya, wanita seperti Riris, meski sudah terbilang berumur tidak akan puas dengan apa yang sudah ia miliki sekarang. Sang suami yang kerap melakukan perjalanan bisnis ke luar kota maupun luar negeri, kerap membuatnya kesepian. Sudah terhitung lima tahun, ia tidak bisa menunggu lama dan tetap setia ketika sang suami tidak ada. Herannya, meski telah terkikis oleh umur, ia tetap cantik di usia lima puluh tahun.
Lebih gilanya lagi, tidak ada orang yang mengetahui keburukannya itu. Ketika pria itu datang ke rumah, Riris menjadikannya sebagai tangan kanannya. Ia meminta agar semua pelayan tidak mengganggunya ketika ia sedang melakukan pertemuan di suatu ruang khusus yang di-kamuflase sebagai ruang kerja pribadi.
Ruang kerja pribadi atas bisnis online seputar kecantikan dan suaminya memang tahu. Namun ketika suami dan anak-anaknya tidak ada, ia melakukan sesuatu di luar batas dengan pria itu. Memang gila, bahkan lebih gila daripada iblis.
“Ah, pusing! Saya butuh sesuatu.” Ia merogoh ponsel miliknya lagi. Menekan tombol hijau untuk melakukan panggilan dengan nomor yang sama seperti sebelumnya.
Tidak butuh waktu yang lama, sang pria pesuruh, pemuas juga kaki tangannya itu untuk menerima panggilan darinya. “Halo, Nyonya,” sapanya dari kejauhan sana. “Ada perintah tambahankah?”
__ADS_1
“Saya butuh kamu, segera. Tubuhku bergetar.”
“Di mana? Saya ke rumah?”
“Iya, di luar banyak mata suami saya.”
“Siap, Nyonya. Ditunggu, ya? Saya akan berikan pelayanan terbaik."
Panggilan itu dimatikan. Wanita gila ini tersenyum lebar. Cukup mudah untuk mendapatkan apa yang ia mau, bahkan seorang pria sekali pun. Apalagi, suaminya sedang di luar kota sana.
Lalu, ia memerintahkan agar para pelayan menjauhi ruang kerja pribadinya karena akan ada pertemuan. Dan para pelayan yang notabene-nya para gadis desa tidak ada satu pun yang menyadari keganjilan atas sikap sang nyonya. Mereka sangat lugu dan mudah dibodohi. Riris juga tidak akan membiarkan pelayan yang pintar masuk ke dalam rumah ini, ia hanya perlu pelayan yang rajin bebersih saja.
Riris sudah sangat gelisah. Sedangkan sang pria belum kunjung sampai. Padahal ia sudah mengganti pakaiannya dengan gaya yang cukup menawan. Ia berharap prianya tidak datang terlalu lama, khawatir jika kedua anaknya telah pulang dari sekolah.
Tiba-tiba bel pintu rumahnya berbunyi. Hati Riris berdesir, tetapi senyumannya kembali
merekah. Ia akan mendapatkan apa yang ia mau. Dan memang, ketika sedang pusing, ia melampiaskannya dengan hal itu.
“Hai, Nyonya? Anak-anak belum pulang?” sapa prianya setelah masuk ke dalam ruang kerjanya.
Riris menghampirnya, merekahkan senyumannya hingga semakin menawan. “Kalau mereka sudah pulang, saya enggak akan panggil kamu. Saya butuh kamu.”
“Perintah siap dilaksanakan.”
Tidak peduli lagi panasnya siang ini, mereka benar-benar sudah tidak waras. Entah sampai kapan kebusukan itu bisa disembunyikan. Namun, karma tidak akan melarikan diri dari para pengkhianat.
Ya, Riris dan pria itu tinggal menunggu saatnya nanti. Ketika kedok sudah terbongkar, semua orang pasti akan merasa geli, bahkan enggan mengenal lagi.
“Apa kamu bisa berjanji untuk menyelesaikan tugas pertama dari saya?” tanya Riris dengan ucapan berbisik di sela keromantisan itu.
Prianya mengangguk. “Akan saya buat dia jera.”
Prianya menggeleng. “Tapi, secepatnya akan tahu.”
“Saya akan menunggu hasil dari janjimu, Sayang.”
“Tentu saya akan menepatinya, Nyonya kesayangan.”
Hari ini, mereka masih belum tahu siapa sang lawan. Sosok cantik dan tangguh—istri dari seorang perwira kepolisian. Waktu yang akan menentukan siapa pemenangnya nanti, Mita atau Riris. Preman atau polisi, Tuhan tidak akan membuat sang pembela kebenaran menjadi kalah.
****
“Uhuk!” Entah bagaimana bisa Mita dan Fanni tersedak dalam waktu yang bersamaan ketika sedang menyantap makanan. Hal itu membuat mereka kompak saling bertatapan.
“Lama-lama kita sehati ya, Fann?” ujar Mita setelah itu.
“Hmm … mungkin. Tapi kok bisa, ya? Perasaan gue malah jadi enggak nyaman,” jawab Fanni. Ia merasa ada ganjalan di dalam hatinya dan ia tidak tahu tentang apa.
“Alah! Jangan gaya kayak sinetron loe.”
Fanni menggelengkan kepala dan menatap netra hitam legam milik Mita dengan serius. “Beneran, Mit. Perasaan gue tiba-tiba enggak enak.”
“Kangen suami kali.”
“Gue harap juga begitu.”
Sebenarnya, Mita sendiri merasakan hal yang sama, hanya saja ia tidak ingin membuat Fanni semakin cemas. Ia merasa seolah akan ada sesuatu buruk yang terjadi, tetapi sikapnya yang selalu realistis berhasil menghalau itu semua dengan segera. Ia hanya berharap agar semua akan baik-baik saja.
__ADS_1
Hari ini, Fanni menitipkan Sella ke rumah ibunya. Itupun atas permintaan sang ibu sendiri, alasan yang dipakai karena tidak ingin jika sang cucu berbaur dengan bahan-bahan kimia yang berada di salon. Sehingga, Fanni tinggal mengurus Selli yang tidak terlalu merepotkan. Namun, meski sudah ada kerelaan dari ibunya, Fanni tidak terlalu sering menitipkan anaknya di sana. Ia tidak ingin dianggap kurang ajar, itu saja. Ada hari-hari tertentu, ia menitipkan, juga membawanya ke tempat kerjanya.
“Eh, Mit. Dietnya Jelita gimana?” tanya Fanni sembari berupaya memecah kesunyian di antara mereka berdua.
“Masih proses awal, Fann. Tapi, kata dia, dia udah bisa nolak cemilan dan obat yang dikasih ibunya sih. Soal olahraga, gue belum terlalu kasih tekanan, biar dia adaptasi dulu,” jelas Mita.
“Oh … gue curiga emaknya curiga sama dia.”
Mita tersenyum tipis. “Loe curiga sama orang yang curiga?”
Fanni mengangguk. “Emang enggak boleh?”
“Ya boleh sih. Tapi, dengernya agak aneh.”
“Gue mah takutnya kalau emaknya itu enggak terima, Mit. Apalagi kalau mengingat sikap jahat dia ke Jelita.”
“Kita bakalan hati-hati kok. Berharap sih enggak ada apa-apa.”
Fanni termangu begitu lama. Kekhawatirannya semakin mencuat ketika sudah mengetahui keadaan baru Jelita. Dengan menolak makanan-makanan di rumah, bukankah akan mempersulit posisi gadis itu sendiri? Terlebih jika sikap jahat sang ibu tiri memang benar adanya.
Namun, Fanni tidak bisa berbuat apa pun. Sejauh ini, Mita yang banyak bertindak, juga perihal kasus pembullyan yang dialami oleh Jelita. Fanni yang juga seorang ibu dari dua anak harus lebih waspada, Mita sangat menolak ketika ia hendak melibatkan diri. Ya, partner kerjanya itu cukup tahu kehidupan Fanni. Hal itu juga yang membuat Mita enggan memberitahu semuanya perihal penyelidikannya.
“Mama!” Suara Selli tiba-tiba terdengar dari arah pintu masuk salon itu. Si gadis cantik berlarian kecil untuk menghampiri sang ibu.
Dahi Fanni mengernyit. “Kok udah pulang? Terus sama siapa?” tanyanya sembari menyambut tubuh sang putri.
“Para guru ada urusan, Ma. Terus aku dianter sama Ibu Nancy, itu tuh, katanya mau sekalian nyalon.”
“Hmm … pantes, Mama enggak dihubungi sama guru kamu.”
“Selamat siang, Mbak Fanni.” Guru muda yang bernama Nancy masuk bersamaan dengan ucapan salamnya.
“Selamat siang, Bu. Terima kasih sudah mengantar anak saya,” timpal Fanni.
Mita segera bergegas, ia membereskan makanannya dan segera membuang bungkusnya. Dengan gerak cepat, Mita mencuci tangannya. Kali ini, ia yang mendapat giliran untuk melayani pelanggan.
Nancy sudah duduk di salah satu kursi pelayanan. Ia hanya ingin creambath saja. Tentu saja, hal itu adalah hal yang cukup mudah dilakukan oleh Mita. Dengan gerakan tangan yang sudah semakin lihai, ia memberikan pijatan pada kepala Nita.
“Ngomong-ngomong, kalau guru ada urusan, kok Ibu Nancy bisa ke sini, ya?” tanya Fanni untuk membuang rasa penasaran yang menerpa hatinya.
Tanpa menatap Fanni, Nancy berkata, “Iya, Mbak. Beberapa guru aja sih, dan emang sebagian besar, jadi anak-anak dipulangkan. Kalau saya enggak termasuk.”
Fanni manggut-manggut saja. “Begitu ….”
Lalu, ia berdiri dari duduknya. Karena Selli sudah pulang, ia bergegas keluar dan hendak mencarikan makan siang. Namun, sang putri justru merengek ingin ikut. Ya, yang Namanya seorang ibu tidak akan menepis tentang hal itu. Mereka berjalan Bersama mencari restoran terdekat dan akan membeli untuk dibungkus saja.
Setelah, berhasil mendapatkan makanan yang disukai sang putri, ia kembali lagi.
“Ini, Bu. Ada pelayanan minuman gratis,” ujar Fanni kepada Nancy.
“Terima kasih, Mbak Fanni,” jawab guru tersebut.
Lalu, Fanni mulai menyuapi sang putri. Anak pertamanya yang cantik itu begitu lahap dalam menyantap makanannya, mungkin memang sudah lapar sejak beberapa saat yang lalu. Setelah itu, ketika sudah tengah hari, ia akan menuju rumah ibunya untuk memberikan kewajiban kepada putri keduanya.
Diam-diam, Mita mengamati mereka dari pantulan kaca. Melihat kedua orang itu yang selalu diliputi kebahagiaan, membuatnya semakin yakin untuk beraksi sendiri. Tidak akan ia biarkan Fanni masuk ke dalam masalah ini. Ia telah mendapatkan macam-macam informasi yang cukup akurat. Juga Jelita yang merupakan putri pertama dari seorang konglomerat kedua setelah Sanjaya, yang bernama Nur Imran.
Ya, seorang bapak hebat yang sempat berhasil Fanni tangani dan masuk sebagai seorang investor di perusahaan yang suaminya pimpin. Namun, Mita tidak mengetahui tentang hal ini.
__ADS_1
****
Karma apa yang pantas buat si Nyonya?