
Belaian lembut terasa menyentuh wajahku. Antara sadar tak sadar, aku bisa merasakan itu. Namun, aku masih enggan untuk membuka mata karena dingin semakin menerpa. Selimut semakin kurekatkan pada tubuhku karena cuaca seperti ini.
Tiba-tiba sebuah kecupan jatuh didahiku. Mau tak mau, aku membuka mataku perlahan. Senyum itu, wajah itu dan mata itu. Ah... pagi ini aku sudah disambut dengan kehangatan perhatian dari suamiku.
"Selamat pagi, istriku sayang," ujar Mas Arlan.
"Pagi juga, sayang. Kok udah bangun, Mas? Jam berapa?" tanyaku kembali.
"Jam tujuh pagi, Dek."
"Ehh? Haaahh? Jam tujuh? Nggak subuh dong? Selli gimana sekolahnya?"
Mas Arlan malah terkekeh setelah mendengar pertanyaanku yang bertubi-tubi. Sedangkan aku, seketika saja membangunkan tubuhku. Sampai kusadari kondisi diriku sekarang. "Aaaaaa!" pekikku sembari meraih selimut lagi.
"Yaelah sama suaminya kok, ini kan hari libur," ujar Mas Arlan.
"Malu! Ayo pulang... Selli gimana, kalau rewel?"
"Maaf ya, Dek. Mas pun juga kesiangan hehe."
"Yaudah balik yuk."
"Nggak mau, disini berasa bulan madu nggak ada yang ganggu."
"Mas?"
"Dek?"
"Iiiiiihhh!"
Mas Arlan masih tak peduli. Ia menarik lagi lenganku, sampai aku terjatuh dipelukannya. Sepertinya, waktunya untuk memilikiku semalam masih belum cukup. Bisa dimengerti juga, karena jika di rumahnya, aku seperti sedang diperebutkan oleh ayah dan anak tersebut.
Aku yang masih dalam keadaan seperti ini, hanya bisa mendengus kesal. Mungkin, seperti ini rasanya memiliki seorang anak. Hatiku tak tenang barang sekali saja, aku khawatir Selli mencari kami dan bahkan menangis. Namun, saat ini aku harus melayani bayi yang besar. Tenaga Mas Arlan begitu kuat dan menandingi diriku yang besar ini.
"Mas? Pulang hayuk," pintaku.
"Mumpung libur lho sayang, mumpung masih ada tempat buat berduaan," jawabnya, dalam artian menolakku.
"Iya, aku tau. Tapi mandi dulu, bauk asem lho."
"Nggaklah, dingin kayak gini kok."
"Sayang, kasian anak kamu lho. Kok malah aku yang lebih khawatir sih?"
"Kan ada suster, sayang. Kalau nggak ada siapa-siapa, baru khawatir. Ayolah, kita jarang punya waktu berdua aja."
"Hmm... terus maksud kamu, sekarang mau apa lagi?"
"Tidur sepanjang hari tanpa keluar dari tempat ini."
"Hmm... baiklah."
Untuk saat ini, aku menuruti permintaan suamiku tersebut. Aku kembali merebahkan diri disampingnya, diatas ranjang dan juga ruangan yang masih gelap karena jendela apartemen tak terbuka. Aku rasa hujan pun masih turut melanda bumi ini, karena tiada sinar yang menembus gorden jendelaku.
Mas Arlan meletakkan satu tangannya diatas diriku. Kami saling berhadapan penuh kehangatan. Lalu, ia memejamkan matanya kembali. Kutatap keindahan paras manis yang ia miliki, tubuhnya yang kokoh bak seorang binaraga. Ah... suamiku memang sempurna. Aku menjadi berterima kasih kepada Nia, karena telah menyerahkan lelaki ini untukku.
Sepertinya, aku telah melewatkan banyak hal dalam satu bulan ini. Sungguh pengantin baru yang miris, hari izin yang kuambil juga sangat singkat, karena cutiku habis gara-gara sakit saat itu. Lalu, polemik kembali muncul di perusahaan keluarga Mas Arlan. Sampai, akhirnya aku tidak ngeh dengan senyuman semanis ini setiap paginya. Mungkin, hari ini adalah hari yang tepat untuk membayar hari-hari itu.
"Kenapa, Dek? Mas ganteng ya?" tanya Mas Arlan tiba-tiba, sepertinya ia menyadari tentang pandangan mataku terhadapnya.
"Biasa ajah," jawabku. "Kamu kan udah tua, Mas. Jadi, mungkin gantengnya udah luntur."
"Nggak apa-apa, yang penting istrinya bule."
"Mas, pake bajunya dulu."
"Nggak mau, kan ada kamu."
"Apa hubungannya?"
"Ya ada dong."
"Nggak jelas. Emm... aku gendut banget ya, Mas?"
"Kamu sexy, Dek."
"Halah! Ngeledeknya parah."
"Dibilangin kok yang, sayang."
Mas Arlan mencubit gemas pada pipiku. Setelah itu, ia merekatkan dirinya agar lebih dekat denganku. Seolah tak ingin aku meninggalkannya, barang sedetik saja. Ternyata, suamiku adalah lelaki yang lumayan manja. Namun aku bahagia. Bahagiaku yang tak terkira. Semoga saja, semua keromantisan keluarga kami bisa berlangsung lama dan selamanya.
Canda tawa dan gelagat usilnya, seringkali dilakukan kepadaku. Aku tidak menyangka, kini aku bukan gadis yang tak laku lagi. Aku Fannisa yang luar biasa beruntung. Disaat mengingat hal ini, aku selalu masuk ke dalam pelukan Mas Arlan. Karena bukan dirinya saja yang ingin dimanja, melainkan diriku juga.
__ADS_1
"Udah siang tau, Mas," ujarku.
Mas Arlan mengecup keningku, lalu berkata, "Biarin Dek, nggak apa-apa kali, sekali-kali seperti ini. Mumpung ada dan masih nganggur tempatnya."
"Emm... di rumah kan bisa, sayang. Terus ada Selli juga, kan jadi lebih rame."
"Kita kabur dari si cantik itu dulu hehe."
"Papa yang jahat kamu, Mas."
"Nggak dong, Dek. Mas kan melakukan ini demi kamu."
"Demi aku, gimana? Kamunya yang nggak sabar."
"Sebulan lho, Dek. Kurang sabar gimana? Kamu mau lagi nggak?"
Kukerutkan dahiku karena heran akan pertanyaan Mas Arlan. "Mau apa?" tanyaku kemudian.
"Kayak semalem."
Aku melepaskan diri dari Mas Arlan seketika. Lalu menolaknya, "No! Udah cukup, aku udah capek, Mas. Pulang yuk, udah siang nih. Aku laper lho. Tau sendiri lambungku besar."
Mas Arlan mengecap bibirnya karena kecewa atas penolakanku. Saat ia hendak menarik diriku lagi, aku langsung menghindar membawa selimut guna menutupi diriku. Kugelengkan kepalaku untuknya, setelah itu aku mengambil langkah untuk bergegas mandi. Sebelum itu, aku telah mengambil beberapa helai pakaian yang telah kurapikan dan diberantaki lagi oleh Mas Arlan semalam.
Langkahku terseok, aku tidak mengerti apa sebabnya. Mungkin, karena ulah Mas Arlan. Kalau dipikirkan lebih dalam lagi, rasanya sangat memalukan. Ya sudahlah, aku harus bebersih diri, karena ada anak yang sedang menungguku.
****
"Mas? Ayo pulang," ajakku kepada suamiku, setelah selesai bebersih dan mengepak beberapa pakaian.
"Hmm... masih pengen berduaan sama kamu lho, Dek," jawab Mas Arlan.
"Di rumah kan bisa, sayang. Jangan lebay deh."
"Di rumah beda."
"Mas?"
"Dek?"
"Ayookk ih!"
"Iya iya, sabar dong sayang."
Tanpa bersedia mandi terlebih dahulu, Mas Arlan langsung memakai pakaiannya dengan rapi. Ia tidak peduli penampilannya yang acak-acakan. Ia membawa barang-barangku dan kami lekas turun demi mencapai lantai dasar. Tentu saja, aku telah mengunci kembali apartemenku.
Berbicara tentang apartemen, kami masih bimbang, apakah harus dijual atau didiamkan. Apalagi sudah menjadi hak milikku. Dan kini, aku telah berada di kediaman suamiku. Jujur saja, aku tidak rela jika tempat tinggal tersebut dialihkan kepada orang lain. Hal itu dikarenakan alasan dibaliknya, sebuah jerih payah dari pekerjaanku dan juga ayahku. Aku ingin sesekali mengunjungi tempat ini, tapi tetap tidak pantas jika dibiarkan begitu saja. Yah, sepertinya nanti akan dibahas lagi dengan keluargaku.
Sesampainya di lantai dasar, kami berjalan menuju area parkir dimana mobil Mas Arlan berada. Setelah itu, kami masuk ke dalam mobil tersebut. Tanpa pikir panjang lagi, Mas Arlan segera memacu mobilnya. Kami meninggalkan gedung apartemen ini dengan menyisakan keindahan malam pertama.
Sepertinya dugaanku pagi tadi memang benar, hujan masih sempat melanda kota. Terbukti saat jalan aspal yang kami lewati tampak basah dan terdapat air yang menggenang di beberapa tempat. Sungguh cuaca yang ekstrim sedang terjadi, hujan semalam suntuk tak mau berhenti. Yah, semoga saja ini merupakan berkah bukan bencana.
"Dek, mau nyari makan dulu nggak?" tanya Mas Arlan.
Aku menoleh kepadanya. "Makan? Apaan?" tanyaku kembali.
"Kok apaan? Ya makananlah, Dekku sayang."
"Enggaklah, Mas. Di rumah aja, mungkin Bi Onah udah masak kok."
"Hmm...."
"Kenapa?"
"Mas ini bukan orang yang miskin-miskin amat lho, Dek. Mas juga pengen ajak kamu makan diluar terus mewah gitu. Kamu kan istri Mas."
"Buat apa sih, Mas? Lagian makan di rumah lebih sehat. Aku malah pengennya diajak ke taman bermain lagi kayak dulu, sama anak kita juga tentunya."
"Mas beruntung banget deh, dapetin kamu."
"Aku yang beruntung, Mas. Tanpa kamu, aku pasti belum juga laku."
"Oke... jadi kita ini simbiosis mutualisme ya? Saling menguntungkan dan mencintai."
"Hehe... bisa aja. Emm... ma-makasih ya, Mas. Kamu udah terima aku apa adanya."
Mas Arlan mengangguk dan menoleh kepadaku sekilas dengan senyuman manisnya. Sedang laju mobil semakin melesat cepat, karena jalanan juga cukup lenggang. Kami juga ingin segera bertemu si gadis kecil yang mungkin telah menanti.
Beberapa saat kemudian, aku dan Mas Arlan telah sampau di kediaman. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera bergegas turun dari mobil. Aku menuju pintu utama dan mulai mengetuknya. Tak lama kemudian, Bi Onah yang merupakan pembantu rumah tangga disini telah membukakan pintu rumah untukku.
"Makasih, Bi," ujarku.
"Sama-sama, Mbak Fanni," jawab beliau.
__ADS_1
Aku tersenyum. Segera kuambil langkah lebih cepat untuk ke lantai dua, guna menghampiri putriku berada. Bahkan Mas Arlan sampai terlupakan begitu saja.
Sesampainya di kamar si kecil, suara rengekan tangisnya terdengar sangat memilukan. Rasa bersalah dalam hatiku pun mulai datang menerpa. Ini salahku, andai saja aku menolak ajakan Mas Arlan lebih dulu, pasti Selli tidak rewel seperti ini. Aku masuk ke dalam kamarnya, sang suster terlihat sedang menenangkan hatinya. Sedangkan di meja kecil terdapat piring makanan. Aku rasa Selli tidak mau menyantap hidangannya
"Sayang?" panggilku kepada Selli. "Maafin Mama Fanni ya?"
Gadis itu menoleh seketika, ia segera turun dari ranjang imutnya dan menghampiriku. "Mama sama Papa tadi malam kemana?" tanyanya.
"Maaf, tadi malam kan hujan gede. Jadi, Mama sama Papa nggak bisa pulang, soalnya takut. Udah nggak boleh nangis lagi ya, nanti cantiknya ilang. Makasih ya sus."
"Iya Bu, tadi si Non belum mau sarapan, Bu."
"Nanti saya aja yang urus, suster istirahat dulu. Kayaknya semalam begadang ya."
"Hehe... iya Bu, si Non-nya rewel."
Sang pengasuh berlalu meninggalkan kami. Aku mengusap air mata yang ada di pipi Selli. Matanya sembab, sepertinya tadi malam ia tak tidur dengan nyenyak. Ini benar-benar kesalahan Mas Arlan. Pria itu sungguh tidak sabar, sampai mengorbankan hati sang putri.
Aku mencoba membujuk Selli untuk menyantap hidangan sarapannya. Beruntung, gadis kecil ini bersedia menurutiku. Sesendok demi sesendok kusuapkan kepadanya dengan telaten dan sabar. Menurutku menjadi seorang ibu, bukanlah hal yang sulit namun sangat membahagiakan. Dan Nia tidak akan mengerti perasaan seperti ini. Ia telah menyia-nyiakan putri kecilnya yang cantik. Sungguh sangat disayangkan.
"Mama Fanni, kok tadi mayam nggak bilang cama Selli, sih?" tanya Selli.
"Maafin Mama ya, Sayang. Mama kan ada pekerjaan dadakan," jawabku.
"Pekeljaan apa? Kok mayam-mayam"
"Pekerjaan menyenangkan, sayang." Mas Arlan tiba-tiba saja sudah sampai di kamar ini dan menyeletukkan sesuatu yang menurutku ambigu.
Ia datang menghampiri kami berdua dengan penampilan yang masih acak-acakan. Aku sampai menepuk jidat karena tak habis pikir dengan kemalasan yang melekat dalam diri suamiku. Langsung saja, aku membawa Selli menjauh darinya, guna menggoda serta membujuknya agar bersedia mandi.
"Ehh? Kenapa menghindar?" tanya Mas Arlan.
Aku mencibirnya dengan ekspresi konyol. "Mandi dulu, baru deketin kami," jawabku.
"Emang Papa belum mandi ya, Ma?" tanya Selli.
"Belum, sayang. Papa kamu jorok. Kalau Papa nggak mau mandi, kita jauh-jauh ya."
"Oke Ma. Selli juga nggak mau deket cama Papa yang bauk."
"Gadis pintar!"
Mas Arlan menggelengkan kepalanya. Setelah itu, ia membalikkan badan seolah akan pergi.
Namun, tiba-tiba saja ia berbalik kembali dan melesat cepat untuk menangkap kami. Aku dan Selli yang tidak menduga akan hal itu, sampai tidak bisa menghindar lagi. Mas Arlan berhasil menangkap kami berdua dan mengecup kami secara bergantian. Suara tawa kami pun menyeruak mengisi ruangan kamar ini. Bahkan, Selli sampai tertawa terbahak-bahak karena ulah sang ayah.
Candaan kami terhenti, akibat ponselku yang tiba-tiba berdering. Aku menatap Mas Arlan terlebih dahulu, dan ia menganggukkan kepalanya dengan arti menginzinkanku untuk mengangkatnya. Aku meraih ponselku yang berada didalam kantong celanaku sejak tadi. Kutatap isi layar dan tercantum nama atasanku. Ada apakah gerangan, sampai ia berani menghubungiku diwaktu libur seperti ini?
"Ha-halo...," sapaku lirih.
"Hai Fann. Sibuk nggak?" tanyanya.
"Enggak sih. Kenapa...?"
"Dateng ke kantor ya? Ada pekerjaan dadakan yang harus selesai."
"Ke kantor? Sekarang?"
"Iya Fann. So-"
Mas Arlan merebut ponselku tanpa persetujuanku. Aku tidak mengerti tentang apa yang akan suamiku itu lakukan. Namun, raut kesal terpancar di wajahnya.
"Maaf Bapak Sanjaya yang terhormat. Istri saya memang asisten anda, namun bukan berarti anda bisa memperlakukan dia dengan seenaknya saja." ujar Mas Arlan kepada Celvin melalui ponselku. "Ini waktu liburnya setelah satu bulan, saya harap anda tidak mengganggu waktu kami yang sedang berbahagia."
Setelah mengatakan itu, Mas Arlan segera mematikan panggilan tersebut. Aku terpaku seketika karena benar-benar tak menyangka dengan perbuatannya. Berbeda denganku, ia malah melempar ponselku secara sembarangan. "Mas! Haruskah kayak gitu? Nggak profesional sama sekali!" kataku.
"Mau belain dia?" tanya Mas Arlan.
"Nggak! Tapi, bukan begini cara kamu. Aku masih bekerja dibawah perintahnya lho."
"Lupakan dan lebih baik jangan bertengkar didepan Selli."
"Tapi Mas. Ini nggak be-"
Tatapan mata suamiku begitu tajam dan nanar, sampai mampu membungkam mulutku seketika. Aku diam tanpa bisa berbuat apa-apa lagi atas rasa kesalku. Selain karena sikapnya yang tegas, aku juga harus memperhatikan Selli yang masih kecil. Benar kata Mas Arlan, tidak baik jika kami bertengkar dihadapan anak.
Tapi, bagaimana dengan Celvin? Mau bagaimanapun aku tetap sekretarisnya. Bagaimana jika ia kecewa kepadaku, karena sikap suamiku?
Bersambung...
Budayakan like+komen+poin, jikalau berkenan saja.
Maaf ya kemarin nggak up, ada sesuatu soalnya hehe..
__ADS_1