Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Pengakuan Selli


__ADS_3

Siang harinya, aku duduk bersama Selli di balkon rumah ini. Sedangkan Mas Arlan sudah berangkat bekerja sejak tadi. Ya, Selli sedang mendapatkan libur sekolah. Ia bisa menemaniku untuk beberapa hari ke depan. Dalam pengawasanku dan khawatir adanya ancaman dari Nia. Namun apa benar seperti itu? Entahlah, mau bagaimanapun, aku wajib berhati-hati.


Berbincang sedikit mengenai keadaan sekolahnya. Ia pun begitu antusias dalam menceritakannya. Entah mengenai teman, guru atau bahkan cinta monyetnya. Masa-masa kecil yang bahagia, bukan? Namun bukan berarti aku selalu menyetujui semua ucapannya. Ada beberapa hal yang masih perlu diluruskan. Apalagi anak kelas satu SD ini sudah main taksir menaksir dengan bocah kecil ber-gender pria. Rasanya sungguh ambigu.


"Terus Rafif gimana, Sayang?"


"Kak Rafif kan kakak kelas Selli, Ma."


"Hihi ... dia kan ganteng, tapi ... nggak boleh ya main cinta-cintaan masih kecil. Belajar dulu."


"Enggak kok, Ma. Kan yang suka si Boy bukan Sellinya."


"Eh, eh, putri Mama emang cantik sih. Kayak orang Korea. Tapi tetep lho ya, enggak boleh cinta-cintaan. Selli mau janji sama Mama?"


Selli mengangguk pelan. Oh ... bahkan ia memberikan kecupan manis di pipiku. Tampaknya pengaruh Nia belum bisa membuatnya membenciku, dan jangan sampai! Beruntung pagi tadi, gertakanku berhasil membuat Selli melemahkan segala kebenciannya terhadap Mas Arlan. Apakah aku adalah ibu yang baik? Tentu belum bisa dibilang seperti itu. Aku masih banyak belajar.


Dan mendengar cerita Selli, ada rasa sedikit menggelitik. Benakku melayang, mencoba mencari-cari kilasan masa kecilku. Apakah aku pernah menyukai seorang bocah dikala itu? Dan siapa? Tampaknya masa kecilku masih bahagia. Belum ada luka bekas bulli dari mahasiswi nakal. Mungkin saat kecil kau terbilang cantik. Bagaimana tidak, parasku paling berbeda dan menjadi perhatian. Kiranya bisa bertahan sampai sekarang, mungkin aku tidak segendut sekarang.


Rasanya aku ingin kembali ke masa lalu. Mengubah semua kesalahanku, maksudku kelemahanku. Membungkam mulut-mulut julid para wanita kurang ajar itu yang telah menorehkan sejumlah trauma mendalam tentang berat badan, meski dalam bentuk bullying verbal. Ah ... namun hanya sosok doraemon saja yang memiliki mesin waktu, sosok animasi yang tidak bisa aku temui. Wajibku kini, aku hanya perlu memperindah hidupku. Lagipula pelangi sudah membentang indah didepan mataku. Mengemas segala kenangan buruk adalah pilihan yang paling tepat, demi pengalaman dan pembelajaran.


Ya, aku sudah bahagia bersama Mas Arlan, Selli dan calon anakku ini. Meski banyak masalah yang menghadang, aku yakin kami masih bisa melewati. Terbukti saat Selli masih mempercayaiku meski telah diberikan bujuk rayu dari sang ibu. Setidaknya Tuhan selalu berbaik hati padaku, selepas semua penderitaanku, aku menjadi pribadi yang lebih kuat dan bahkan percaya diri. Bukti bahwa kalimat "indah pada waktunya" memang benar adanya.


"Mama, kok nangis sih?" tanya Selli tiba-tiba.


"Eh?" Aku memastikan wajahku. Dan benar saja, tanpa aku sadari ada setetes air mata. Tampaknya aku merasa haru atas nostalgia benakku tentang kehidupan masa lalu. Kerap kali aku ingin bunuh diri, namun masih hidup sampai sekarang.


"Mama kenapa? Selli punya salah ya sama Mama? Maaf, Ma. Mama jangan jadi jahat ya kalau Selli nakal?"


Aku menggeleng. Kuusap mataku dan menggantinya dengan senyuman. "Mama bukan orang jahat kok. Tapi bukan berarti Mama nggak bisa galak. Jadi, Selli harus jadi anak yang baik. Harus pintar menyaring perkataan dari orang, bahkan dari Mama Fanni sendiri, Papa ataupun Mama Nia."


"Menyaring perkataan itu yang gimana, Ma? Selli enggak tahu."


"Gini, jadi kalau ada orang yang berkata buruk. Misalnya enggak sesuai dengan hati Selli. Selli jangan percaya. Emm ... mi-misalkan seperti yang Mama Nia bilang sama Selli tentang Mama Fanni. Gi-gimana, emm ... Mama Nia bicara apa aja?"


Selli terdiam. Apakah aku terlalu mendesaknya? Sepertinya aku salah langkah. Terlalu terburu-buru dan tidak sesuai prinsipku beberapa saat yang lalu. Aku mengembuskan napasku, tak bisa kubayangkan jika Selli kembali kecewa terhadapku. Namun harapan tetaplah harapan, aku ia mengatakan yang sebenar-benarnya. Agar apa? Agar dugaanku tidak jatuh dalam jurang su'udzon.


"Mama Fanni? Mama enggak suka sama Mama Nia ya?"


"Kenapa kamu tanya gitu, Nak?"


"Kata Mama Nia. Terus katanya Mama Fanni yang merebut Papa dari Mama Nia."


"Ck! Jahat banget, masa' Selli nuduh Mama Fanni melakukan itu? Kan Selli yang suka sama Mama Fanni lebih dulu."


Selli menganggukkan kepala. "Iya, ya. Terus Papa yang duluan suka sama Mama Fanni kok."


"Jadi? Selli percaya sama siapa dong?"


"Emm ... Selli percaya sama Mama Fanni."


Ucapannya membuatku tersenyum. Maaf Nia, tapi kali ini aku yang menang. Kekhawatiranku kembali dipatahkan oleh si kecil yang pintar dan manis ini. Terima kasih kuucapkan karena ia masih mempercayaiku. "Makasih ya, Sayang."

__ADS_1


"Kok makasih, Ma?"


"Karna Selli percaya sama Mama dan Selli sayang sama Mama Fanni."


"Iya, Ma. Soalnya Mama Fanni yang selalu ada didekat Selli bukan Mama Nia. Tapi kan, Mama Nia tetap Mamanya Selli. Jadi, Selli harus menyayanginya juga."


"Uh ... Sayangku, pinter banget sih."


Kuraih tubuh kecilnya. Bahkan kukecupi hampir seluruh wajahnya. Aku sampaindibuat haru oleh ungkapan tulusnya itu. Seperti kata orang, bahwa anak kecil tidak pernah berbohong. Dan aku yakin, Selli berkata jujur. Ia lebih pintar, jauh dari bayanganku. Ia bisa mempertimbangkan ucapan buruk Nia tentangku dengan pertemuanku dengan Selli dan Mas Arlan. Terlebih, Selli adalah saksi atas cintaku dengan Mas Arlan. Merekalah yang menyukaiku lebih dulu. Dan hal itu yang bisa menyanggah perkataan Nia yang busuk.


Dan tidak lama kemudian, terdengar deru mobil yang memasuki pekarangan rumah ini. Aku menurunkan tubuh Selli lalu membawanya untuk memastikan siapa yang datang. Jangan-jangan Nia?


Oh ... bukan! Itu adalah mobil milik ayahku. Tampaknya beliau sedang rindu padaku. Pasti ibuku juga berada didalamnya. Senyumanku terlukis seketika. Semangat hatiku semakin membara. Selepas tujuh harian mendiang ibu mertuaku, kami memang belum pernah bertemu lagi. Bahkan kedua orang tuaku belum mendengar kabar akan kehamilanku. Jahat sekali diriku ini. Gara-gara Nia lagi, aku melupakan tentang ayah dan ibuku.


"Nenek dan Kakek, Ma," ujar Selli. Matanya berbinar. Ya, kedekatannya dengan kedua orang tuaku memang terbilang erat. Seperti cucu kandung sendiri.


"Ayo turun. Kita sambut Nenek dan Kakek, Sayang." Aku kembali menggandeng tangan mungil milik Selli. Kemudian kami mengambil langkah untuk turun. Jantungku berdebar ketika hendak menemui ayah dan ibuku. Pasti kalimat pertama yang ditujukan padaku adalah omelan yang teramat panjang. Namun itulah hal yang aku rindukan.


Tak lama kemudian, kami sampai di lantai bawah. Aku mempercepat langkahku menuju keberadaan pintu, bahkan Bi Onah sampai membatalkan niat beliau untuk membukanya. Tampaknya beliau tahu akan kerinduan hatiku pada keluargaku.


"Neneeeeeek!" Selli berseru pada saat menemui ibuku. Namun, ada hal yang melebihi ekspetasiku. Bukan hanya ayah dan ibuku, melainkan Kak Pandhu beserta istri dan anaknya. Apa ini? Akankah mereka memarahiku beramai-ramai? Astaga!


"Selli sama Kakek dulu ya?" ujar ibuku. Lalu Selli mengangguk pelan dan menemui Bapak Hendrick tersayang. Aku merasakan atmosfer tidak biasa, bahkan sampai membuatku menelan saliva seketika. Netra hitam di mata ibuku begitu tajam menatap seorang Fanni. Benar saja, beliau sudah memberikan tanda-tanda untuk meledakkan omelan terpanjang sedunia.


Mati gue!


"Fanni! Diam aja kamu?! Salam kek sama orang tua. Suruh masuk kek, bikin minum kek," lanjut ibuku sembari berkacak pinggang.


Nah, kan!


"Heran aja nih. Sama anak satu ini. Ck! Ck! Ck!"


Aku menyeringis. " Maaf, Madam. Saya lupa, silahkan masuk semua," jawabku.


Ibuku hanya bergeleng-geleng kepala. Seolah tidak percaya akan responku yang malah menggoda. Mungkin, sampai saat ini diriku masih dianggap sebagai anak yang tidak dewasa. Namun begitulah tingkahku dihadapan beliau, entah mengapa, rasanya lebih seru. Apa ini termasuk durhaka? Oh ... jangan sampai, aku menyayangi kedua orang tuaku. Bahkan seluruh keluargaku.


Kemudian, satu persatu keluargaku masuk ke dalam rumah ini. Mereka duduk di ruang tamu. Sedangkan Bi Onah sudah bergerak cepat untuk menghidangkan minuman dan cemilan yang ada. Aku sangat berterima kasih. Lalu, mataku tertuju pada sosok balita kecil di gendongan Kak Febi. Lantas, aku mengambil alih si Pandhu kecil tersebut. Parasnya tampan membuatku berfantasi akan sosok anakku nanti. Sudah tidak sabar rasanya.


"Fanni, kenapa kamu enggak bilang kalau udah isi? Mama dan Papa kamu anggap apa? Masa' calon cucu malah nggak dikasih tahu? Terus jangan sok jago ngurus diri sendiri kamu, Fanni! Ya Allah, Gusti, anak ini udah mau jadi ibu masih aja begini. Susah, maunya hidup sendiri terus. Sampe ngelua dada ibumu ini, Nak, Nak."


Nah, kan! Dimulai dah!


Aku menelan saliva sesuai irama dari suara ibuku. Kuserahkan si Pandhu kecil pada Kak Febi kembali serta memintanya untuk membawa anaknya ke dalam kamar tamu di pojok kanan rumah ini, karena aku pikir Kak Febi perlu memberikan ASI. Lalu Kak Febi berlalu bersama Selli juga. Dan tentu saja, aku tidak ingin berdebat dengan ibuku dihadapan anak-anak.


"Maaf, Ma. Tahu sendiri, Mama mertuaku baru saja meninggal. Terus aku enggak boleh kemana-mana sama Mas Arlan," jawabku sembari menahan perasaan tidak enak hati.


Ayahku ikut berdeham. "Jangan marah-marah, Ma. Kan Fanninya sedang hamil," ujar beliau.


Ibuku menghela napas dalam-dalam. "Lagian, anak ini kalau nggak ditegasin selalu aja kayak gini."


"Fanni kan udah punya rumah tangga sendiri, Ma," sela Kak Pandhu.

__ADS_1


"Ck! Kalian mah selalu aja belain Fanni. Hmm ... maaf, Mama terlalu khawatir. Tadi kebetulan lagi telepon Arlan. Gegara HP kamu nggak aktif. Ya, ya, Mama khawatir. Kirain kenapa lagi. Terus usia kandungan kamu berapa bulan?"


"Eh, HP ya?" Aku berpikir sejenak. "Maaf, Ma. Belakangan ini aku nggak main HP. Kayaknya mati deh, aku lupa isi dayanya. BTW makasih lho, Ma. Mama masih khawatir sama Fanni hehe."


"Nggak ada seorang ibu yang nggak khawatir, Sayang."


"Baru bulan pertama, Ma. Alias sebulan memasuki trimester pertama."


Ibuku manggut-manggut. Beliau menatap perutku. Tak lama kemudian, beliau tersenyum cerah. Lega sudah hatiku, mungkin beliau tengah bahagia lantaran akan mendapatkan cucu ketiga yaitu calon anakku. Beliau berdiri dan berjalan menghampiriku. Sesampainya disampingku, perutku dibelai halus.


"Ini buncit lemak apa hamil?" Pertanyaan beliau sungguh tidak terduga


"Ya Allah, Ma. To the point banget. Dua-duanya, Ma. Mama lagi bulli aku ya?" tanyaku kembali.


Sedangkan ayahku dan Kak Pandhu hanya tertawa. Benar-benar kehangatan yang sudah lama tidak aku rasakan. Berikut, karena kerja dan lain sebagainya, aku sampai lupa untuk sekedar mampir. Aku menyesal, mungkin bisa masuk ke dalam kategori durhaka. Tampaknya, aku perlu meminta maaf dengan baik nantinya.


"Enggak bulli, ngetes aja. Masih cengeng nggak Fanni-nya Mama. Bukan! Fanni-nya Arlan," lanjut ibuku.


Aku tersenyum bangga. Akhirnya beliau bisa mengakui Mas Arlan secara terang-terangan, bukan gengsi seperti dulu. "Mungkin karna udah jadi emak-emak, aku jadi lebih kuat, Ma. Berani bahkan percaya diri hehe."


"Ya, syukur, Alhamdulillah. Yang penting jangan sombong. Jangan galak-galak kayak Mama-mu, Fann," goda ayahku.


"Apaan sih? Mama itu tegas bukan galak. Enak aja," sergah ibuku. Hal itu membuatku dan Kak Pandhu tersenyum diam-diam. "Jadi, kamu mabokan enggak?"


Aku mengangguk pelan. "He'em. Sering banget kalau pagi. Enggak bisa kena bau bumbu, Ma. Lemes, jadi belum bisa belajar masak hehe."


"Astaga! Udah setahun lebih jadi istri masih belum bisa masak. Hmm ...."


"Ya gimana, aku kan wanita karir hehe."


"Ya belajar to, Nduk. Kamu tu wanita, istri dan calon ibu. Seenggaknya baca-baca buku masakan. Internet udah canggih. Heran aja sampe belum bisa masak gitu. Pokoknya kalau keadaan udah stabil, harus masak.


Aku mengangguk pelan. Oh ... seharusnya aku tidak perlu mengatakan tentang hal ini. Bodohnya diriku malah mempermalukan diri sendiri. Namun itu faktanya, daripada berbohong. Jika suatu saat dipinta untuk memasak, pasti kedokku akan terlihat. Bahkan omelan dari ibuku akan lebih panjang dari ini.


Dan waktu bergulir, perbincangan kami berlanjut. Yang mengherankan adalah Kak Pandhu, apa ia tidak bekerja? Sepertinya sedang cuti. Aku enggan untuk bertanya. Malah nantinya akan menorehkan rasa iri di hatiku karena Mas Arlan sudah tidak bisa mengambil cuti lagi. Meskipun ia adalah seorang atasan, tetap saja ia adalah bawahan dari Pak Ruddy.


"Terus ada masalah yang bikin kamu kesulitan enggak? Masalah dari luar misalnya?" Pertanyaan ibuku sedikit membuatku terganggu. Tampaknya perasaan beliau sebagai seorang ibu, tetaplah peka dan perasa seperti saat aku belum menikah. Namun bukan berarti aku bisa menceritakan semua yang sempat terjadi.


"Ma, nggak boleh ikut campur lho," sela ayahku.


"Ya, enggak. Siapa tahu aja, Fanni pengen cerita. Kalau enggak ya nggak apa-apa. Mama tanya aja. Gimanapun kan Fanni tetap anak kita, Pa."


Aku berdeham. "Enggak ada, Ma. Sejauh ini baik-baik aja kok. Mas Arlan sangat baik dan bertanggung jawab. Dan nggak ada masalah dari luar juga. Alhamdulillah."


"Ya, syukur kalau begitu."


Betapa hati ini ingin mencurahkan semua beban. Namun aku tidak boleh sembarangan untuk mengucapkan. Apalagi jika menyangkut Nia--mantan istri dari suamiku. Yang ada ibuku tidak bisa meredam emosi. Pastinya beliau akan membelaku habis-habisan. Akan lebih parah lagi, jika beliau malah menyalahkan Mas Arlan.


Tahan Fanni, kamu harus menjaga nama baik suami kamu. Jangan sampai orang lain tahu, walau bahkan orang tuamu sendiri!


Bersambung ...

__ADS_1


Guys enaknya diadain tokoh pelaaakkor enggak yaaaa? heheheheeeeeeee


Budayakan tradisi like+komen


__ADS_2