
Suara adzan mulai berkumandang, saling bersahut-sahutan. Dinginnya subuh ini masih menusuk, melewati lemakku dan masuk ke dalam tubuhku. Aku mengerjibkan mataku karenanya. Sedang suara dengkuran suamiku terdengar sangat jelas, menambah kesyahduan pagi ini. Aku tengkurap dan memandangi wajah manisnya yang sedikit menganga. Ah... bagaimanapun ia berlaku, ia tetap rupawan, tak berkurang sedikitpun wibawanya suamiku itu.
Semoga kamu selalu bahagia saat bersamaku ya, Mas. Semoga kamu selalu sehat dan senantiasa memberikan kebahagiaan untuk kita dan anak-anak, nantinya. Begitupun aku terhadapmu.
Bola mataku tak lepas sedikitpun dari wajah Mas Arlan. Kupandangi dirinya dalam-dalam, sampai aku benar-benar hafal, bahkan sisi jerawatnya yang muncul sekalipun. Jari telunjukku bergerak dari dahinya, lalu turun mengikuti bentuk hidungnya. Aku mengusap perlahan bibirnya yang masih menganga. Ia terlihat lucu sekali. Nyatanya, perilaku tidurnya tidak sempurna seperti lelaki idaman di drama Korea. Ia juga bukan tipe manusia yang bisa tidur dengan tenang, ia banyak bergerak dan seringkali tak karuan.
"Emm...," gumam Mas Arlan dengan pelan, ia menyingkirkan tanganku dengan spontan.
Tentu saja, aku tersentak. Sepertinya ia mengira bahwa tanganku adalah serangga. Kini posisinya tak lagi menghadap atas, melainkan berganti menghadap kiri dan membelakangiku. Aku tertegun sebentar, lalu kutarik kembali badannya yang kokoh itu.
"Bangun, sayang. Subuhan dulu yuk," ajakku.
"Ehemm...," jawabnya lirih dan sekenanya.
"Mas, bangun."
"Lima menit lagi, Dek."
Kutarik kembali badannya agar kembali menghadapku. Namun, tenaga suamiku lebih kuat dariku. Sampai akhirnya aku geram, jariku memencet hidungnya dengan gemas. Sedangkan Mas Arlan mencoba menyingkirkan tanganku lagi sembari mengaduh kesakitan. "Aduduh, Dek. Sakit!" tegasnya.
Aku melepaskan jari-jariku dari hidungnya. Lalu berkata, "Yaudah bangun dulu, sholat subuh sayang."
"Jam berapa sih?"
"Udah setengah lima lebih lho. Ayok."
"Bentar ya? Lima menit lagi."
"Mas!!!"
"Iya, bentar lho. Ngantuk banget ini."
"Entar tidurnya disambung lagi, Ya Allah!"
"Duh... Dek, Dek."
"Dek apanya? Bangun cepet."
"Ngantuk tauk."
"Sholat dulu! Kamu ini imamku lho, masa' aku yang bawel sih???"
"Iya iya, sayang."
Mau tak mau Mas Arlan mulai membangunkan dirinya. Namun, dalam kondisi mata yang masih terpejam. Kini ia duduk diatas ranjang kami, tanpa bergerak sekalipun. Aku sendiri sampai menepuk jidatku karena tidak habis pikir akan kemalasan suamiku.
Kemudian, aku mencubit pangkal jari kakinya. Ia pun terkejut dan membuka matanya seketika, sembari mengaduh sakit dan membelai ibu jari kakinya tersebut. "Jahat banget sih kamu? Nyiksa suami mulu," omelnya.
"Yaudah bangun dulu, sayang."
"Ini juga udah bangun lho, sayangku."
"Bangunnya duduk doang, melek mah enggak. Sama aja bohong, Mas. Ayo!"
"Ngumpulin nyawa dulu lho, Dek. Kalau terkumpul aku OTW."
"Emang nyawa kamu ada berapa sih, Mas? Ke mesjid ke."
"Baru ada tiga, Mas sendiri, kamu dan Selli. Besok nambah lagi ya?"
"Dasar ih! Udah bangun, ambil air wudhu, terus ke mesjid sana."
"Iya iya."
Perjuanganku membangunkan suamiku akhirnya tidak sia-sia. Meski memakan beberapa energi karena jengkel dan juga kesal. Namun, kini Mas Arlan mulai beranjak turun dan keluar dari kamar. Aku rasa ia akan ke tempat wudhu dan bersuci. Setelah itu, ke masjid sesuai anjuranku.
Sedangkan aku mengikuti Mas Arlan dari belakang. Kami kearah yang berlawanan. Aku ke kamar putriku terlebih dahulu untuk memastikan sudah bangun belumnya si kecil tersebut. Karena, menurutku aku perlu membimbingnya dalam beribadah. Aku rasa Mas Arlan belum mengajarinya akan hal itu, karena kesibukannya.
"Selli sayang?" panggilku kepada si kecil.
"Celamat pagi, Mama Fanni," jawabnya.
__ADS_1
Aku pun bergegas masuk tanpa berpikir panjang lagi. Kemudian duduk ditepian ranjang imut miliknya. "Udah bangun toh? Sholat yuk," ajakku.
"Sholat lagi ya, Ma?"
"Iya dong, lima waktu dan setiap hari ya?"
"Bial pahalanya banyak ya, Ma?"
"Betul sekali. Yuk?"
"Ayo Ma."
Kubimbing Selli untuk melalukan rutinitas wajib ini. Sedangkan Mas Arlan sudah tidak nampak batang hidungnya, sepertinya ia sudah berangkat. Kami bertiga termasuk Bi Onah menunaikan ibadah subuh. Karena pengasuh Selli, selalu pulang dan tugasnya hanya siang hari. Mulai dari hari kemarin.
****
Selang waktu berlalu, aku sudah menyiapkan baju kerja suamiku. Kami juga sudah sarapan pagi, sebelum berangkat ke kantor, Mas Arlan lebih dulu mengantarkan Selli ke sekolah karena jam pelajaran dimulai dari pukul tujuh. Kemudian, ia mengantarkanku ke kantor setelahnya.
Yah, setelah menikah, kini aku malah berangkat lebih awal dari sebelumnya. Tentu saja, untuk menghemat waktu dalam perjalanan untuk kami bertiga. Sebenarnya, aku bisa saja mengendarai si merah milikku. Namun, lagi-lagi Mas Arlan melarang. Akibatnya mobilku hanya teronggok diam. Aku sudah diberikan saran agar menjualnya, namun kutolak mentah-mentah lantaran kendaraan itu adalah hadiah dari ayahku. Aku ingin memilikinya selamanya, bahkan sampai rusak sekalipun.
Dalam perjalanan kami bertiga saling melemparkan kelakar seperti biasanya. Sejumlah kehangatan yang mampu memberikan energi semangat yang luar biasa. Dan akhirnya, kami telah sampai ditujuan pertama, yaitu sekolah tempat Selli mengenyam pendidikan. Aku turun dan mengantarkan putriku sampai gerbang.
"Belajar yang baik ya, sayangnya Mama," ujarku.
"Oke, Mama," sambut Selli sembari memberikan ibu jarinya kepadaku. Aku tersenyum. Lantas berlalu, setelah ia masuk lebih dalam.
Perjalanan pagi kami berlanjut untuk ke kantorku. Kini hanya berdua saja, mengikuti likukan jalanan aspal yang memanjang bak sirkuit balapan. Dengan mesranya, aku menyenderkan kepalaku diatas bahu Mas Arlan. Aku ingin menunjukkan bahwa aku wanita yang tak begitu mandiri, dan masih membutuhkan perhatian lebih darinya. Meski, masih sedikit segan, namun harus kulakukan.
Sedangkan suamiku memberikan kecupan manis beberapa kali di dahiku, tatkala ada waktu akibat kemacetan. Kuakui, ia memang sangat pandai memanfaatkan waktu, meski sempit sekalipun.
"Udah kerja lagi, Dek. Kita siap-siap buat capek lagi," ujarnya kemudian.
"Yang namanya kerja ya capeklah, Mas," jawabku.
"Nggak bisa minta, kalau kamu kecapekan."
"Minta apa?"
"Nggak, nggak jadi."
"Kebutuhan, Dek."
"Iya iya, bisa diatur hehe."
"Bener ya?"
"Iya dong, sayang. Tenang aja."
"Duh... istri udah mulai berani nih."
"Haha... biar suami nggak bosen."
Kami terkekeh bersama. Namun, tak berselang lama, karena Mas Arlan harus kembali memfokuskan matanya pada jalanan yang padat.
Beberapa saat kemudian, sampailah ditujuan kedua yaitu kantorku, kantor milik perusahaan Sanjaya. Setiap kali ditempat ini, Mas Arlan sama sekali tak pernah mau melirik ke dalam barang sekali saja. Sepertinya dendam kesumat dihatinya masih belum sirna. Sampai sekarang pun, aku tidak tahu cara apa yang bisa aku gunakan untuk mencairkan kebencian Mas Arlan kepada keluarga Sanjaya.
Aku beranjak turun dari mobil, sesaat sebelumnya aku mengecup punggung tangan suamiku dan ia dikeningku. Lalu, Mas Arlan berlalu, meninggalkan aku untuk sementara waktu. Kemudian aku melangkah masuk melewati gerbang kantor ini. Aku menyusuri lantai, koridor, dan juga lift yang sama. Namun, sesampainya didepan pintu ruanganku, aku terhenti seketika lantaran ragu-ragu serta takut akan sikap kecewa Celvin kepadaku.
Apa dayaku, tak mungkin aku berdiam saja seperti ini. Aku harus masuk dan meminta maaf kepadanya. Perlahan-lahan, kubuka gagang pintu ruangan ini sampai menimbulkan bunyi kriet. Lantas, aku masuk ke dalam dengan hati yang was-was. Sesuai sifat Celvin selama aku mengenalnya, ia sangat rajin dan sudah sibuk dengan laptopnya.
"Se-selamat pagi...," ujarku lirih sekali. Sampai tak ada jawaban sama sekali darinya, aku rasa Celvin tidak mendengar sapaanku.
Kucoba lagi untuk kedua kalinya, namun sebelum itu aku sudah menghela napas panjang dan menghembuskannya kembali demi ketenangan. "Se-selamat pagi," sapaku.
Celvin menoleh kepadaku. Lalu menjawab, " Oh... hai, pagi juga."
Itu saja? Ah... sepertinya ia benar-benar kecewa kepadaku. Setelah menjawabku, Celvin kembali pada pekerjaannya tanpa memperdulikan diriku lagi. Ini memang harus aku terima. Aku berencana menunggu intruksinya tanpa berucap lagi, karena khawatir jika Celvin malah semakin marah. Aku pikir, aku bisa minta maaf jika ia sudah mulai ramah kembali.
Dengan perasaan yang masih tidak enak, akhirnya aku memutuskan untuk duduk ditempat kerjaku sendiri. Meskipun, jam mulai kerja masih lama, namun aku berinisiatif untuk mengerjakan tugas yang bisa aku lakukan sekarang. Saat membuka beberapa file didalam komputer, sepertinya seseorang telah mengerjakan beberapa. Sontak saja, aku langsung menoleh kepada Celvin.
Mampus! Kayaknya dia kalang kabut beneran.
__ADS_1
Astaga! Aku telah benar-benar mengecewakannya. Hatiku semakin tak tenang. Aku belum berani menyapanya lagi, bahkan sekedar minta maaf saja aku tak punya nyali. Oleh karena itu, aku beranjak berdiri, kemudian keluar dari ruangan ini. Sepertinya aku membutuhkan secangkir kopi agar tenang dan bisa meminta maaf kepada atasanku tersebut.
Aku berjalan dengan langkah cepat sembari menggigit jari. Gelisah, galau, takut, dan juga ngeri, semua kurasakan sampai bercampur-aduk didalam relung hati, seperti seorang karyawan biasa yang takut akan pemecatan dari atasan. Sesampainya di fasilitas umum kantor ini, aku menghampiri sebuah dispenser dan menyalakan tombol untuk menghangatkan air. Keadaan masih sangat sepi, para office boy pun belum ada yang datang. Yah, karena memang masih sangat awal. Bisa dibayangkan, betapa rajinnya Celvin.
"Hei!!!" Seseorang menepuk pundakku dan berseru kata sapaan itu.
Aku membalikkan badanku dan memastikan siapa yang datang. "Mita! Kaget gue," ujarku.
"Sorry, lagian loe ngapain bengong?"
"Si-siapa yang bengong?"
"Loe lah, siapa lagi? Masa' pengantin baru udah galau?"
"Sebenarnya bukan gara-gara suami sih, galaunya."
"Terus?"
Aku diam sesaat sembari menuangkan sachet kopi susu ke dalam gelas, lalu menuangkan air yang telah hangat dan mengaduknya.
Ya! Hubunganku dengan Mita memang sudah semakin membaik. Ia bahkan tak gengsi lagi untuk berbaur bersamaku, Nike ataupun Tomi. Secara, Mita memang tak memiliki seorang teman pun di kantor ini. Hal itu dikarenakan sifat buruknya dimasa lalu. Namun, entah mengapa aku begitu mudah memaafkan dirinya begitu saja.
Yah, aku hanya tidak mau memiliki musuh. Padahal, niat memaafkan bukan untuk mendekat, tapi untuk menghindari perdebatan. Nyatanya, Tuhan berkehendak lain, kini kami malah saling berbincang layaknya kawan lama. Meski begitu, sifat Mita tidak sepenuhnya menghilang, ia masih tahap berubah sepertiku.
"Kenapa loe, Fann?" tanyanya lagi.
"Emm... gue, gue kemaren disuruh masuk. Tapi, nggak masuk gegara suami nggak kasih izin," jawabku.
Mita membelalakkan bola matanya yang cantik. Aku rasa ia tidak habis pikir, "Begoo, loe Fann!"
"Duh... gue juga bingung. Dan sekarang Celvin marah banget kayaknya."
"Yaiyalah marah. Setau gue kemaren tu sibuk banget, bahkan gue dan beberapa bawahan ada yang masuk."
"Iyakah?"
"Iya, loe tau kan, Fann? Bulan ini tuh sibuk-sibuknya. Secara, proyek ada yang mangkrak, belum sengketa dengan perusahan keluarga suami loe. Mau nggak mau, semua harus diberesin. Eh... kemaren tiba-tiba banyak banget komplain dari konsumen. Nilai saham dan penjualan perusahaan ini anjlok. Makanya ngadain promo besar-besaran dibeberapa unit properti."
"Gue tau. Ya gimana, gue pun nggak bisa berbuat apa-apa."
"Fann, gue curiga perusahaan Harsono yang berada dibalik semua masalah disini. Yah, gue ngingetin loe aja sih, loe kan masih kerja disini. Jadi, harus tetap ada tanggung jawab. Jangan mentang-mentang suami loe keluarga ono, terus melalaikan kewajiban."
"Nggak gitu, Mit. Gue emang istri salah satunya, tapi tetep suami gue kerjanya di kantor cabangnya bukan pusat."
"Yah, nggak tau dah. Tapi, gue rasa Kak Celvin juga mulai was-was ama loe, sekarang. Yaudah, gue duluan."
Mita berlalu dengan menorehkan beberapa pemikiran tidak jelas dibenakku. Benar apa yang ia katakan, sepertinya Celvin juga mulai waspada terhadapku. Lantaran, aku adalah istri dari anggota keluarga Harsono. Namun, demi Tuhan! Aku tidak pernah berniat untuk berkhianat. Lagipula, Mas Arlan tidak lagi menjabat sebagai orang penting di perusahaan keluarganya. Jadi, untuk apa aku berkhianat?
Dengan langkah gontai dan penuh kecemasan, aku kembali ke dalam ruanganku. Aku hanya bisa menelan saliva kelu untuk beberapa kali. Jika, Celvin ingin memecatku tak apa. Namun, aku menyesalkan jika Celvin memutuskan hubungan pertemanan denganku. Ah... seperti inikah rasanya jadi anggota keluarga orang terpandang? Penuh dengan persaingan dan tentu saja permusuhan. Sepertinya menjadi orang biasa jauh lebih membahagiakan.
Aku membuka kembali gagang pintu ruang kerjaku. Menilik sekilas kepada Celvin yang sama sekali tidak bergerak dari meja kerjanya. Dengan ragu-ragu, aku memutuskan untuk menghampirinya. Sialnya, ia sama sekali tidak memperdulikanku. Kuhela napasku terlebih dahulu sebelum memulai pembicaraan.
"Emm... ma-maaf, so-soal kemarin," ujarku kemudian.
Celvin menghentikan gerakan tangannya seketika. Lantas, ia menatapku dengan tajam. "Duduk," katanya.
Kuturuti intruksi yang ia berikan. Kini, tak hanya sorot matanya yang tajam, namun juga urat hijau mulai terlihat di wajahnya yang tampan. Sampai aku tidak berani mengangkat wajahku lagi. Hanya helaan serta hembusan napas kasar, yang terdengar. Celvin sudah naik pitam terhadapku. Lantas, aku harus bagaimana?
"Apa anda sudah, oh... maksud saya, apa anda sudah ingin keluar dari perusahaan ini? Apa anda sudah bersedia dan siap membayar pinalti sesuai dengan perjanjian, Nona Fanni?" tanya Celvin.
Glup! Tengkukku kaku seketika. Aku bingung sekali harus menjawab apa. Ternyata Celvin memang tidak main-main lagi. Masalah yang menjerat perusahaan ini sudah sangat besar. Aku mengerti, sampai ia tidak pandang bulu dengan siapapun yang melanggar peraturan perusahaan.
Ini gila! Mana mungkin aku sanggup membayar pinalti yang luar biasa fantastis itu. Tidak mungkin aku merepotkan suamiku, karena ia pun banyak menanggung hidup seseorang. Dan kondisi keluarga kami saat ini, bukanlah orang yang kaya. Title keluarga Mas Arlan sama sekali tak berpengaruh pada perekonomian kami.
"Nona Fanni, bisakah dijawab sekarang?"
"...."
Bersambung...
Budayakan tradisi like+komen.
__ADS_1
Sorry ya guys ,kalau season 2 ini rada membosankan, membingungkan, atau ambigu. Aku pribadi belum tega ngasih masalah untuk pengantin baru hehehe.
Hayo suami siapa yang susah kalau dibangunin??? hehe