Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Merenung


__ADS_3

Kak Pandhu pulang lebih dulu setelah itu. Sedangkan aku memilih untuk kembali ke taman. Ku rasa tidak buruk juga menghirup udara sehabis hujan. Sangat segar, siapa tau aku bisa mencari jawaban yang pasti untuk diriku.


Aku duduk kembali di kursi panjang, namun berbeda dengan yang tadi. Walau dibagian yang masih sama. Aku menatap langit yang masih saja kelabu. Daun-daun tampak basah bekas air hujan. Jalan raya juga tidak terlalu bising. Mungkin karena waktu sudah pada pukul setengah sebelas.


Aku mengalihkan pandanganku pada danau kecil dihadapanku. Airnya mengalun sepertinya ada ikan kecil yang hidup disana. Mungkin hasil benih ikan yang sengaja ditaruh.


Di tempat ini banyak sekali kenanganku bersama mas Arlan. Beberapa kali kami bertemu disini, seakan sudah menjadi tempat favorit bagi kami. Mungkin karena keadaan kota yang tidak banyak tempat asri juga.


Benakku melayang mengingat pertama kalinya mas Arlan mengajakku ke tempat ini bersama Selli. Kami tertawa bersama sampai terlihat seperti sebuah keluarga. Senyum si kecil pun tak lepas dari ingatanku. Ya, Selli sudah seperti anakku sendiri. Rasa kesepianku seolah hilang saat bersamanya.


Dilanjutkan dengan memori saat aku terjebak mogok di samping kuburan. Mas Arlan tanpa ragu datang menolongku. Kala itu, aku tidak berpikir jauh tentang panggilan sayangnya padaku. Aku pikir mas Arlan hanya bercanda. Lalu kecerobohanku menceritakan pertengkaranku di kafe.


Aku berpaling dari hamparan danau. Ku tatap kursi tempat dudukku disisi kosong. Mas Arlan lagi, ia menyatakan perasaanku beberapa hari yang lalu. Dan saat itu, aku baru menyadari perasaanku pada Celvin. Miris sekali, kami saling jatuh cinta namun saling ditolak juga.


Tanpa kusadari, telah banyak waktu yang kuhabiskan bersama mas Arlan. Selama ini, aku tidak pernah memusingkan status duda dengan satu anak. Aku nyaman berteman dengannya. Bahkan aku siap melakukan apapun, saat pria tersebut membutuhkan bantuanku.


Nyatanya tidak. Mas Arlan terlalu mandiri, akulah yang selama ini merepotkannya. Aku bergantung padanya. Apa aku memang menyayanginya? Saat ini pun aku merasa membutuhkannya. Aku rindu, tidak! Mungkinkah ini rindu?


Jika benar perasaan ini rindu. Berarti aku juga sudah menyayangi mas Arlan. Lalu perasaanku pada Celvin? Mungkinkah rasa kagum semata?


"Uwaaah... apa-apaan ini???" ujarku geram sendiri.


Tentu saja orang-orang yang berada disini, spontan memperhatikanku. Segera kubungkam mulutku dengan kedua telapak tangan. Rona merah menghiasi wajahku. Aku menunduk menahan malu dan tawa sendiri. Aku gila!


Memangnya aku siapa, sampai berpikir seolah-olah sedang diperebutkan dua orang pria.


Mendung pergi, perlahan mentari tersenyum kembali bersama teriknya. Aku belum beranjak dari kursi. Aku terus menyusuri ia hatiku. Kutanyakan didalam sana apa yang sebenarnya aku rasakan.


Drrrttt... Drrrttt... Drrrttt...


Ponsel yang tak pernah kuaktifkan nada deringnya, kini bergetar ditanganku. Dengan segera kutekan tombol hijau tanpa melihat siapa yang menghubungiku. Karena fokusku benar-benar kacau.


"Halo Dek, kamu dimana? Sama siapa? Sibuk apa sih daritadi nggak bales Mas? Dek, ada apa?" suara mas Arlan terdengar di telingaku. Pertanyaan demi pertanyaan ia lontarkan. Mungkin rass khawatirnya padaku mulai bergelayut di hatinya.


"Hehe... pelan-pelan atuh Mas, aku nggak kemana-mana kok. Jangan khawatir gitu," jawabku.


"Nggak khawatir gimana, daritadi nggak bales pesan dari Mas kok. Kamu dimana sekarang?"


"Udah deh, jangan lebay."


"Kamu pikir gitu? Lebay? Kamu bilang Mama kamu dateng kan? Menurutmu apa yang bisa bikin aku khawatir?"


"Iya iya maaf."


"Maaf, maaf. Mas serius Dek, jangan selalu nganggeo semuanya enteng!"


"Mas kok marah sih? Mas... Mas... halo... Mas."


Duh! Mas Arlan marah. Mungkinkah aku sudah keterlaluan? Aku kan hanya ingin sendiri dulu.


Waktu terus berjalan sebagaimana mestinya. Aku beranjak dari dudukku dan menuju tempat parkir. Sebelum menghampiri mobilku, aku mampir ke sebuah toilet guna memenuhi panggilan alam.


Setelah selesai, ku tatap diriku yang memantul pada cermin panjang kebawah yang dipasang. Seluruh badanku terlihat disana, bahkan tidak terpantul penuh. Karena cermin tidak terlalu lebar.


Berat badanku yang tak pernah bisa turun meski sudah kujalani berbagai macam program diet. Ataukah semua program memang tak cocok. Dan untuk seseorang seperti aku, mengapa harus disulitkan dengan pilihan hati? Sungguh ironis.


Ku hampiri mobilku yang terparkir anteng, diantara mobil yang lain. Aku masuk kedalamnya. Karena waktu sudah siang dan menjelang dhuzur. Aku berencana mampir ke sebuah masjid sebentar. Untuk menjalankan ibadahku dan juga menghilangkan kerisauan hatiku.


Aku bersama si merah menyusuri jalanan aspal yang menghampar memanjang. Tidak butuh waktu lama kutemui sebuah masjid di samping kiri jalan. Aku kembali memarkir mobilku di sudut halaman dari masjid.


Setelah adzan berkumandang, aku mengambil air wudhu untuk bersuci. Setelah itu menunaikan ibadahku.


Lima menit kemudian, aku masih duduk di teras masjid. Masih merenungkan hal yang sama, hari liburku habis untuk melamun saja. Semua bayang mas Arlan selalu hadir dalam benakku. Aku mencari-cari jawaban yang sebenarnya dari dalam hati.


Dan ya! Akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Daripada terlihat seperti orang hilang, sendirian seperti ini. Ku pacu kembali mobilku meninggalkan area masjid. Kembali menyusuri jalan yang sama menuju apartemenku.


Suasana setelah hujan lebih terlihat segar. Mungkin karena sudah lama air tidak mau jatuh dari langit.


Beberapa saat kemudian sampailah aku di apartemenku. Aku berjalan naik menggunakan lift seperti biasa. Rasanya rindu sekali dengan ranjangku. Aku ingin tidur kembali setelah lelah berpikir.


Namun, apa dikata. Aku melihat seseorang tengah duduk dilantai depan pintuku sembari menunduk. Aku cermati lagi, dan ia adalah mas Arlan.


"Astaga! Mas?" seruku.


Mas Arlan masih tak bergeming. Dengan langkah cepat kuhampiri dirinya. Ku tepuk pundaknya. Ia tertidur dalan posisi itu.


"Mas bangun, aku Fanni udah pulang," ujarku sembari mengusap halus di rambut mas Arlan.


Mas Arlan terlihat bergerak. Kemudian menatapku dengan mata yang masih sembab dan memerah. Ia mengusap-usap wajah dan matanya dengan kedua telapak tangannya.


Lagi-lagi aku merasa bersalah. Sampai membuat pria tersebut sekhawatir itu. Aku tidak tau jika mas Arlan tengah menungguku sampai tertidur. Beruntung, tidak ada petugas keamanan yang mengusirnya.


"Ayo masuk Mas," ajakku padanya yang masih setengah sadar.


Aku pegangi lengan tangannya dan kupapah berjalan. Kami berdua masuk setelah kubuka pintu dari apartemen tempat tinggalku. Setelahnya, tubuh mas Arlan kugiring menuju sofa. Agar ia bisa lebih nyaman.


Kemudian, aku sendiri segera mengambil air minum untuknya. Jujur saja, aku merasakan panas pada tubuh mas Arlan. Seperti demam. Mungkinkah ia sakit?


Tanpa pikir panjang, aku kembali padanya. Aku mengecek lagi kondisi tubuhnya. Wajahnya tampak frustasi dan memerah. Benar seperti yang aku duga, mas Arlan demam.


"Dek?" panggilnya sembari meraih telapak tanganku sebelum aku melangkah pergi ke dapur.


"Iya Mas," jawabku.


"Kamu mau kemana lagi?"


"Aku mau ambil handuk sama air hangat buat kamu Mas, kamu demam lho."

__ADS_1


"Udah nggak apa-apa, Mas nggak sakit kok. Kamu kemana aja?"


"Aku cuman keluar sebentar Mas."


"Jangan ngilang nggak jelas lagi, Mas mohon."


Ya tuhanku, pria ini seolah trauma dengan kepergian orang terkasihnya. Aku duduk disamping mas Arlan. Ia meletakkan kepalanya di bahuku sembari memegang erat jari jemariku. Meski awalnya sedikit malu, akhirnya aku mulai membiasakan diri.


Aku tidak tau, berapa lama ia menungguku. Atau jangan-jangan sejak ia meneleponku tadi. Aku juga tidak tau, apakah ia sudah makan atau belum. Bahkan aku sendiri melupakan itu.


"Mas udah makan?" tanyaku dengan segala keberanian.


"Belum," jawab mas Arlan singkat.


"Aku cariin makan dulu ya?"


"Nggak, jangan. Mas nggak apa-apa kok, nggak selera, lidahnya pahit."


"Jangan gitu, mas Arlan sakit lho kamu Mas."


"Nggak apa-apa Dek, Mas beneran nggak apa-apa. Mas khawatir tadi kamu nggak ada di rumah."


"Kenapa Mas Arlan khawatir? Kan aku udah bilang sibuk."


"Sibuk ngapain libur gini? Pesan dari Mas juga nggak dibales, belum lagi kamu bilang tadi Mama kamu kesini, kamu masih nanya Mas khawatir kenapa?"


"Iya iya maaf Mas."


Mas Arlan membangunkan dirinya. Ia terdiam beberapa saat sama sepertiku. Tampaknya ia benar-benar kesal denganku saat ini. Memang sih tidak wajar, jika sibuk di hari minggu. Lalu aku mengatakan itu setelah ibuku datang.


Aku terlalu egois, selalu memikirkan diriku sendiri. Tanpa menyadari perasaan mas Arlan yang tengah bingung, dan terombang-ambing oleh sikapku. Tidak ada kata lain kecuali meminta maaf padanya. Semua yang terjadi memang karena aku.


"Mas khawatir Dek, Mas takut kamu bertengkar lagi sama Mama kamu. Apalagi kalau gara-gara Mas," kata mas Arlan kemudian.


"Kalau iya, aku juga masih baik-baik aja kok Mas. Aku nggak mungkin kan bunuh diri?" balasku.


"Sembarangan kalau ngomong kamu! Mau gimana pun kan kalian anak dan ibu, masa' hubungannya hancur gara-gara Mas."


"Aku... Aku mau dijodohin Mas."


"Apa???"


"Makanya aku langsung pergi dari apartemenku sendiri, ninggalin beliau."


"Mama kamu beneran nggak suka sama Mas ya?"


"Aku nggak tau. Setau aku Mama nggak pernah banding-bandingin orang, beliau orang baik Mas."


"Tapi-"


Hingga beberapa saat, aku terus menunggu apa yang akan dikatakan mas Arlan. Tanganku asyik memijit lengannya, agar lebih baik. Ia pun hanya membalasku dengan senyuman. Tingkah konyolnya tidak muncul sedari tadi melainkan raut frustasi serta sendu. Entah karena sakitnya atau hatinya.


"Kalau gitu, biarlah Mas yang pergi Dek," ujarnya kemudian.


Tentu saja aku kaget bukan kepalang. Rahangku jatuh menganga dan bola mata seakan ingin meloncat dari tempatnya. Seolah-olah hatiku tertusuk parang bukan lagi belati. Ini baru seminggu dan mas Arlan akan menyerah begitu saja.


Pijitan tanganku pun berhenti dengan spontan. Tidak boleh! Aku sendiri bingung. Seharusnya aku senang bukan? Karena perasaanku padanya bahkan belum tumbuh padanya.


Namun, mengapa aku merasa sesakit ini?


"Ke-kenapa?" tanyaku.


"Aku tau kamu capek Dek, Mas pun sama," jawabnya sembari mengalihkan pandangannya padaku.


"Ini baru seminggu Mas."


"Tapi ini udah menyangkut keluargamu yang nggak suka sama Mas, Dek."


"Apa Mas nggak sayang lagi sama aku?"


"Tidak mungkin Dek, rasa sayang nggak mungkin hilang begitu aja. Mas tetep sayang sama kamu."


"Tapi kenapa Mas nyerah gitu aja?"


"Kamu belum juga sayang sama Mas kan?"


Aku diam kembali. Mencoba mengorek apa yang ada dalam hatiku. Aku terus membayangkan memori kebersamaan kami. Aku nyaman bersama mas Arlan.


Tetesan air mata mulai membasahi pipiku lagi. Aku terlalu jahat padanya. Sampai akhir, mas Arlan selalu bersabar. Aku tidak rela dia menghilang dari sisiku.


"Jangan nangis dong Dekku sayang," katanya lagi, mas Arlan mengusap lembut pipiku.


Aku yang sesenggukan seperti ini tidak mampu berucap apapun. Sedangkan jemariku begitu kuat mencengkeram lengan mas Arlan.


Lagi-lagi mas Arlan begitu sabar menungguku tenang. Hal itu, membuatku kikuk dan akhirnya menyudahi tangisanku.


"Kita kan masih bisa ketemu Dek," ujarnya lagi.


"Ketemu dalam hubungan yang udah nggak bagus gitu maksudnya?" tanyaku


"Kenapa emangnya? Bukannya kamu belum jatuh cinta sama Mas?"


"Aku-"


"Maaf selama ini Mas terlalu gegabah dan terkesan maksain kamu, Dek. Padahal Mas tau kamu nggak suka sama Mas."


"Bukan gitu!"

__ADS_1


"Terus gimana? Setelah ini kamu nggak perlu berantem lagi sama Mama kamu cuman gara-gara Mas."


"Aku pikir Mas punya tekat yang lebih besar dari ini lho."


Hembusan napas terdengar dari diri mas Arlan. Wajahnya yang memerah semakin sendu. Beberapa kali, ia terlihat menggigit bibirnya.


Mungkin mas Arlan bingung menyimpulkan sikapku yang tidak jelas. Mungkin ia juga merasa dipermainkan oleh diriku. Namun, aku tidak pernah berniat seperti itu dari awalnya.


Mas Arlan melepaskan tangannya dari tanganku. Ia mengusap kasar pada wajahnya. Kemudian kembali menatapku dengan tegas.


"Mau kamu gimana?" tanyanya kemudian.


"Aku... Aku-"


"Mas cuma mau yang terbaik buat kamu."


"Aku tau kok."


"Tau? Makanya jangan bikin Mas, susah pergi lagi, kamu tau kan selama ini Mas-"


"Aku tau, aku tau itu! Aku tau Mas orang baik yang aku sia-siain, aku minta maaf. Tapi jangan nyerah dalam waktu sesingkat ini dong!"


"Mas nggak pernah nyalahin kamu Dek, tapi Mas nggak tau harus gimana lagi sekarang. Hubungan kamu sama Mama kamu semakin hancur gara-gara aku. Seharusnya kamu ikuti saja perjodohan itu!"


"Gilak! Mas pikir aku mau diatur kayak gitu? Dan ninggalin orang yang udah berjuang banyak buat aku? Mas pikir aku sejahat itu? Kalau bukan karna Mas, aku udah setuju tanpa harus berantem sama Mama! Ini semua buat siapa? Buat kamu Mas, aku udah jatuh cinta sama kamu!!!"


"Apa kamu bilang?"


Derai air mataku semakin mengucur deras. Ya! Mungkin terlambat aku sadari. Namun, aku telah jatuh cinta pada mas Arlan. Mungkin sudah dari dulu, namun tidak pernah aku pikirkan.


Benar kata Kak Pandhu, tidak mungkin aku begitu suka rela membantunya menjaga Selli. Kalau bukan ada sebuah rasa sayang untuk kedua orang tersebut.


Mas Arlan yang masih tak menyangka, terus saja menatapku. Ia diam seperti patung dengan bibirnya yang menganga tak percaya.


"U-ucapin lagi Dek," pintanya.


"Nggak mau!" jawabku.


"Dek?".


"Makanya kuping tuh dipasang."


"Maaf, tapi kaluarin semua perasaan kamu. Mas mohon."


"Nggak mau, katanya Mas mau nyerah."


"Nggak jadi deh, tapi kamu ngomong lagi."


"Nggak mau ya nggak mau, pergi sana."


"Ayolah sayang, katanya jatuh cinta sama Mas."


"Ihh... Apaan sih."


Sikap mas Arlan berubah jauh setelah mendengar pernyataanku. Ia terus menyudutkanku untuk mengatakannya lagi sembari mencubit-cubit bahuku atau hidungku yang panjang.


Akhirnya aku lelah sendiri dan menjatuhkan kepalaku di bahunya.


"Jadi kalau benar, Mas bisa mulai berjuang dari sekarang," ujar mas Arlan.


"Katanya mau nyerah?" tanyaku.


"Nggak jadi, kan perasaan Mas nggak sia-sia akhirnya."


"Dasar labil!"


"Hehe... kalau nggak gitu kan kamu nggak mau jujur Dek."


"Jadi sengaja kayak gitu?"


"Enggak sih."


"Jadi beneran mau nyerah?"


"Udah sih jangan dibahas, kita mulai dari awal dengan lebih serius tanpa menunggu dua bulan ya."


"Emm."


"Janji ya, kalau ada apa-apa kamu harus bilang."


"Iya janji."


"Pinter pacar resmi Mas."


"Hmm."


Begitulah kuakhiri hari libur ini. Semua berubah dalam waktu tidak sampai satu hari.


Bersambung...


Budayakan like+komen


Sorry kalau banyak yang typo, aku nggak edit lagi soalnya.


Bonus visual buat yang kangen mas Arlan,, dia cukur kumis.. 😊😁😆


__ADS_1


__ADS_2