Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Malam yang Tertunda


__ADS_3

Welcome back to My Novel


Aku GENDUT!!!


SEASON 2


 


____________________________________________


Namaku Fannisa Oktaviani Geraldine, anak kedua dari pasangan Ibu Sarita Dewi dan Bapak Hendrick Van Houten Geraldine. Kakakku bernama Pandhu Yanuar Geraldine, serta beristrikan seorang wanita imut, bernama Febianti Wity. Seperti yang sudah aku jelaskan sebelum-sebelumnya, kami keluarga yang menyatu dengan darah Belanda. Keluarga kecil nan bahagia.


Yah, semua baru kurasakan sekarang. Karena kala itu, aku masih menyimpan dendam kesumat pada masa laluku yang kelam. Sampai, aku menarik dan mengucilkan diri dari lingkup keluargaku. Seorang wanita berbadan gempal, dengan berat badan 84 kilogram dan tinggi 157 centimeter. Sifatku, mudah sekali minder, putus asa, khawatir berlebihan dan mungkin beberapa sifat buruk lainnya.


Tapi, itu dulu. Karena saat ini hidupku jauh lebih mujur, tentunya dengan berbagai proses dan lika-liku kehidupan. Aku sudah menikah diusia 30 tahun. Suamiku memang seorang duda dan memiliki anak gadis yang masih kecil. Meski duda, ia bahkan lebih manis dari para perjaka. Sifatnya lembut, dewasa dan juga pengertian. Hanya saja, ia sedikit usil dan nakal. Ya! Arlan Mahendra Suharsono, itulah namanya. Sedangkan sang putri baru kuketahui belakangan ini, ia bernama Selli Zhahira Putri Mahendra. Panjang sekali, bukan? Bagaimanapun itu, gadis itu memang sangat cantik dan cocok dengan nama tersebut.


Kini, sudah sebulan usia pernikahanku dan Mas Arlan. Namun, ada satu hal indah yang belum juga kami alami. Malam pertama! Apakah kalian percaya, jika selama satu bulan kami tidak melewati itu? Mungkin akan terdengar absurd, namun memang benar adanya. Aku merasakan gemetar hebat setelah selesainya resepsi pernikahan pada saat itu. Banyak sekali pikiran rumit dan kacau sampai aku menggigil takut. Dan sialnya, aku datang bulan. Bisa dibayangkan betapa kecewanya suamiku?


Bagi seorang wanita, rutinitas bulanan tersebut memang tidak berlangsung lama. Mungkin, antara lima hari sampai satu minggu sampai bersih secara tuntas. Lalu, setelah itu apa kendalanya? Yah, banyak sekali kendala. Mulai dari Selli yang merengek ingin tidur bersamaku, atau bersama kami berdua. Kesibukan atau munculnya polemik antar perusahaan yang membuat suamiku sering pulang malam. Begitupun aku, jabatan sekretaris yang aku sandang, memberikan berbagai kesibukan yang semakin padat setiap harinya. Beruntungnya, aku masih bisa membagi waktu untuk mengurus keperluan suami dan anakku. Meski, aku harus mengorbankan jam istirahat malamku.


Apalagi untuk wanita, maksudku pengantin baru sepertiku, pasti pernah mengalami yang namanya kaget. Dalam artian, belum terbiasa menjalani aktivitas sebagai ibu rumah tangga. Lelah, lemas, kurang tidur dan pusing pasti menjadi resiko yang harus ditanggung. Apalagi, untuk wanita pekerja sepertiku. Namun, aku tidak pernah mengeluh sedikitpun dihadapan Mas Arlan. Karena, ini sudah menjadi kewajibanku.


Sampai tibalah malam ini, esoknya adalah hari libur bagi kami. Menjadi suatu kelegaan tersendiri, akhirnya aku bisa bersantai tanpa adanya lembur atau pekerjaan berlipat ganda. Sehingga, waktu istirahatku bisa sedikit bertambah. Oh... tidak! Aku masih harus mengurus barang-barangku yang berada di apartemen. Karena belum sempat membawanya pindah ke rumah Mas Arlan. Sepertinya, aku memang harus berjuang dulu untuk mencapai tidur.


Seorang gadis kecil datang tiba-tiba, saat aku masih sibuk membersihkan kamar. "Mamaaa!" serunya kepadaku.


Aku menyambut tubuh mungil gadis itu. Lalu kupeluk penuh kasih sayang. "Hai cantik," ujarku diiringi kecupan manis dipipinya.


Kemudian Mas Arlan menyusul masuk ke dalam kamar ini. "Hai Ladies!" ujarnya.


"Hai juga, sayang," jawabku.


"Kalian lagi pada sibuk ngapain?"


Selli melepaskan diri dari pelukanku. Kemudian menjawab pertanyaan sang ayah, "Selli mau tidul baleng Mama Fanni."


Tenggorokan Mas Arlan tampak bergerak naik turun. Tampaknya ia sedang menelan salivanya. Aku mengerti tentang perasaannya saat ini. Mungkin, memang harus tertunda lagi. Aku pun tersenyum kecil sembari menggodanya. "Sabar ya, hehe," ujarku.


"Masa' nikah udah satu bulan, kamu masih gadis aja, Dek," ujar Mas Arlan lirih sesaat setelah menghampiriku.


Aku semakin dibuat terkekeh olehnya. Apalagi raut wajahnya begitu kecewa. Ada rasa iba yang menjalar didasar hatiku, sekaligus rasa bersalah. Namun, mau bagaimana lagi? Anak kami masih sekecil ini, mau menolak pun akan susah. Yang ada tangisannya semakin kencang. Terlebih Selli adalah gadis peka, saat ditinggal sebentar saja, tidurnya sudah tak nyenyak dan terjaga. Aku sangat paham akan hal itu, selama ini Selli tak memiliki figur ibu secara sempurna. Mungkin, ia tengah bahagia sampai tak bisa melepaskan diriku sedetik saja. Kecuali saat ia sekolah dan aku bekerja.


Mas Arlan menyenderkan tubuhnya pada dinding kamar sembari duduk lesehan dilantai. Ia tampak frustasi, selama satu bulan ini, hasrat sepinya harus tertunda lagi. Namun, aku tidak bisa berbuat apapun karena lebih iba kepada Selli. Sedangkan gadis kecil ini, sangat sibuk dengan bonekanya diatas ranjang kami. Ia sama sekali tak mengerti akan rasa kecewa yang ayahnya alami. Rasanya aku seperti sedang diperebutkan dua tokoh ini. Betapa bahagianya diriku, karena makna diriku begitu berarti bagi mereka.


Kuhampiri tubuh lunglai suamiku. Kemudian aku duduk tepat disampingnya. "Capek, Mas?" tanyaku.


Mas Arlan mengangguk. Lantas, ia menatapku penuh harap sembari menggenggam satu telapak tanganku. "Gimana nih?" tanyanya.


"Apanya?"


"Itu lho...."


"Apa sih?"


"Halah, Dek. Kamu mah gitu."


"Lah? Kok jadi aku?"


"Ya gimana dong?"


"Apanya sayang? Ngomong yang jelas dong."


"Hmm...."


"Pft... hahaha."


Aku terkekeh girang saat mendapati wajah Mas Arlan yang semakin sendu sembari mengeratkan genggamannya. Sedangkan ia, wajahnya memerah padam karena malu. Aku rasa ia sudah sangat putus asa.


Kutatap wajah sayu suamiku. Lalu berkata, "Maaf ya, Mas. Sampai saat ini, aku belum menjadi istri secara tuntas."


"Iya, Dek. Bukan salah kamu kok, tapi kalau udah punya anak emang agak susah," jawab Mas Arlan.

__ADS_1


"Enggak sih. Kan aku jadi punya banyak waktu lebih, buat mempersiapkan diri hehe."


"Oh... jadi kamu mau memperpanjang gitu?"


"Bu-bukan gitu, Sayang."


"Emangnya kamu masih takut sama, Mas?"


"Ya, ka-kalau itu masihlah!"


"Masa'?"


Mas Arlan bergerak mendekati diriku. Ia menangkup wajahku menggunakan kedua telapak tangannya. Hembusan napasnya semakin dekat, sampai aku memejamkan mata. Tapi...


"No! Ada Selli, jangan sembarangan!" seruku kepadanya.


Sontak saja, Mas Arlan menarik dirinya menjauh dariku. "Aaaarrrgggg!" Ia berteriak lalu menunduk.


"Ada saatnya, Sayang," ujarku lagi.


Setelah itu aku berdiri dan membereskan aktivitasku tadi. Yah, sebenarnya ada satu asisten rumah tangga. Namun, aku memilih untuk belajar menjadi istri yang baik. Aku membantu bersih-bersih. Namun, belum bisa membantu memasak karena belum belajar. Semoga saja, aku memiliki waktu luang untuk itu. Sehingga suami dan anakku bisa menikmati hasil masakanku suatu saat nanti.


Malam semakin menggelapkan suasana, aku rasa jam dinding sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB. Selli yang sedang bermain diatas ranjang kami, kini tertidur dengan pulas. Aku dan Mas Arlan menunaikan ibadah sholat isya' yang sempat tertunda. Sebagai imam yang baik, ia senantiasa membimbing diriku untuk beribadah. Rasa bahagia seperti ini terus memupuk kepercayaan diriku setiap harinya.


Setelah selesai, aku merapikan mukena. Lalu keluar dari tempat beribadah dengan Mas Arlan.


"Mas, balik apartemen yuk? Kamu masih capek nggak?" tanyaku.


"Nggak sih. Tapi nggak lebih baik besok aja, Dek?" tanyanya kembali.


"Emm, ... kalau bisa sekarang sih. Yah, ambil beberapa barang aja, sambil jalan-jalan mumpung Selli tidur dan nggak rewel."


"Mending jalan-jalan ya, daripada Mas?"


"Ya nggak gitu, Mas."


"Kita ke kamar tamu aja, yuk?"


"Hmm ...."


"Ya? Ambil barang dulu bentar aja. Mumpung besok ada libur, Sayang. Aku butuh barang-barangku."


"Ya udah iya."


"Makasih, Sayang. Hehe."


Cup! Kecupan manis kudaratkan pada pipi Mas Arlan. Aku mengambil langkah cepat untuk bersiap diri. Blazer jumbo kukenakan untuk menutupi lemak tubuhku lagi. Sama halnya denganku, Mas Arlan juga sudah bersiap diri.


Sebelum berangkat, aku menemui pengasuh Selli terlebih dahulu. Kemudian, aku menitipkan anakku tersebut kepadanya. "Saya, mau keluar sebentar ya, Sus," ujarku kepada wanita pengasuh tersebut.


"Baik, Bu. Hati-hati dijalan, jangan lupa oleh-olehnya hehe," jawabnya sembari tersenyum ramah.


"Terima kasih, Sus. Siap sedia hehe."


Begitulah hubunganku dengan setiap pekerja di rumah ini. Seperti awal kali kujelaskan, aku lebih mudah berbaur dengan orang-orang yang notabene bukan pegawai kantor atau kalangan atas. Meski, seorang baby sitter bisa digolongkan sebagai orang berpendidikan. Tapi, karena seringnya kami bertemu, hubungan kami sudah seperti teman lama. Yah, tak buruk, akhirnya aku bisa memperluas lingkup pertemananku.


Aku mengambil langkah menuju luar bersama Mas Arlan. Setelah sampai disana, suamiku tersebut mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam mobilnya. Ia melaju perlahan mobilnya, meninggalkan rumah ini. Kami akan menuju apartemenku guna mengambil beberapa barang.


Rintikan hujan turun lagi menerpa kota ini. Air hujan mengiringi laju kendaraan yang kami tumpangi. Sampai menyebabkan kemacetan dibeberapa ruas jalan. Mas Arlan sangat kesal dalam situasi seperti ini. Beberapa kali ia mengecap bibirnya karena perasaan tersebut.


"Jangan sebel gitu, Mas," ujarku.


"Udah malem, sayang. Masih semacet ini, nanti gagal lagi," jawabnya.


"Gagal? Emang kamu mau apa?"


"Rahasia."


"Oh ... sekarang mainnya rahasia ya?"


"Lagian kamu, udah jadi istri tetep aja nggak peka."

__ADS_1


"Ya, maaf. Aku salah."


Aku menunduk lemah. Memang benar, apa yang dikatakan Mas Arlan. Mungkin perhatianku lebih tertuju kepada Selli, sampai ia belum sempat aku urus dengan benar. Sejujurnya, aku masih takut dan belum siap. Lipatan lemakku masih mengikis rasa keberanianku untuk bertindak lebih jauh dengan suamiku. Bagaimana, jika ia malah geli melihatnya? Begitulah pertanyaan yang sering muncul dalam benakku.


Ah... penyakitku kambuh lagi.


Tiba-tiba saja, Mas Arlan menggenggam tanganku saat mobilnya terhenti karena macet. "Nggak gitu, Sayang. Maaf ya Mas rada' egois, padahal kamu udah melakukan yang terbaik. Terutama buat Selli," ujarnya.


"Maaf, Mas. Aku masih tahap belajar, kamu tau kan? Aku pengantin baru dan juga nggak pernah pacaran selain sama kamu."


"Iya, Mas ngerti kok."


Mas Arlan melepas genggaman tangannya dariku. Kemudian melaju kembali mobilnya pada saat kondisi kemacetan sudah berkurang. Hujan pun turun semakin deras bahkan bunyi petir beberapa kali terdengar sangat keras. Benakku melayang, memikirkan keadaan Selli di rumah. Aku khawatir gadis kecil itu terbangun dan mencari kami. Ada rasa sesal dalam hati karena telah mengajak Mas Arlan keluar semalam ini. Akibatnya rasa gelisah terus saja muncul dari dalam hati.


Selli, duh... semoga nggak bangun deh.


Karena rasa khawatir, aku meraih ponselku dari dalam saku blazer. Aku menulis pesan singkat untuk menanyakan kondisi anakku tersebut kepada pengasuhnya.


Beruntungnya, pesanku langsung dibalas olehnya. Ia mengatakan bahwa Selli masih tertidur pulas dan ia telah membawanya ke kamar sendiri. Aku rasa, ia tidak punya nyali untuk masuk ke dalam kamarku dan Mas Arlan. Sehingga memutuskan seperti itu. Selanjutnya, aku merasa sedikit tenang.


Beberapa saat kemudian, kami telah sampai di apartemenku. Mas Arlan memarkir mobilnya dan kami turun secara bersamaan. Ia menggandeng tanganku pada saat kami akan melangkah keatas. Disepanjang langkah, rasa rindu dengan istana kecilku pun menyeruak masuk ke dalam kalbu. Apalagi masa-masa sendiri, galau, sedih, dan juga senang tersisa didalamnya. Kadangkala, aku ingin sekali saja tidur di ranjang lamaku. Namun, apa daya? Itu tidaklah pantas dilakukan dengan statusku sekarang.


Mas Arlan membuka pintu apartemenku dengan menekan password yang sudah ia ketahui. Kami melangkah masuk.


"Mau bawa barang yang mana aja, Dek?" tanyanya.


"Pakaian, Mas," jawabku.


"Dimana? Mas bantu."


"Di lemari dalem kamar."


Ia pun segera mengambil langkah ke dalam kamarku.


Namun, bukannya membantuku melipat beberapa pakaian berantakan, Mas Arlan hanya menyaksikan. Padahal kami tengah duduk berdua saja, di tepian ranjang. Aku kesal sendiri dan meliriknya, berharap ia sedikit peka. Bukannya peka, Mas Arlan malah menatapku tajam. Untuk beberapa saat, aku membiarkannya. Karena pikiranku tertuju kepada Selli. Aku ingin lekas menyelesaikan aktivitasku dan segera pulang.


Tiba-tiba hal tak terduga terjadi. Mas Arlan menggeser pakaianku sampai berjatuhan di lantai. Saat aku ingin memarahinya, ia malah menatapku semakin tajam. Seketika saja, aku menelan salivaku dengan kelu. Debaran jantungku terdengar tak menentu. Sekujur tubuhku dingin dan gemetar. Sedangkan, suamiku tersebut terus mendekatiku.


Jangan-jangan?!


Hembusan napasnya semakin dekat. Mas Arlan mendorongku, sampai terjatuh dan merebah diatas ranjang. Ia tidak peduli dengan diriku yang masih gemetar hebat. Ia bahkan sudah mengecup bibirku beberapa kali. Bahkan lebih gila dari sebelum-sebelumnya.


"Ma-mas? Jangan se-sekarang," ujarku.


Mas Arlan mengangkat kepalanya. "Kapan lagi? Disini nggak ada yang ganggu," jawabnya.


"Se-Selli, kasihan. Hujan petir lho."


"Ada suster dan Bi Onah, Sayang. Ini waktu kita."


"Ta-tapi...?"


"Jangan bawa nama Selli sebagai alasan buat hindarin, Mas. Kamu tenang aja, jangan takut ya."


"Ma-Mas ... belut di perutku banyak!"


"Eh?! Hahaha ... memangnya Mas peduli?"


"Ya, aku kan malu!"


"Bodo amat!"


Akhirnya Mas Arlan tak ada ampun lagi kepadaku. Malam ini, aku tidak bisa melepaskan diri darinya. Hal yang luar biasa terjadi sampai aku tidak bisa berkata-kata. Namun, kuakui Mas Arlan begitu lembut dan sabar membimbingku. Aku tidak bisa menjelaskan semuanya, karena memang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Malam-malam yang tertunda akhirnya terlaksana. Hasrat sepi suamiku sebagai seorang duda, sudah terbayar.


Bersambung...


Selamat membaca kembali kisah si gendut satu ini ya guys hehhee.


Jangan lupakan budaya like+komennya yaaa...

__ADS_1


__ADS_2