
Waktu bergulir lagi, satu bulan berikutnya sudah datang. Kini, Fanni telah merintis usaha salonnya bersama Mita. Mereka berdua merintis usaha itu dari nol, mengabaikan latar belakang keluarga berada. Terlebih bagi Mita, itu adalah pengalaman pertamanya. Keluarganya lumayan kaya, bahkan ia bisa membuka usaha tanpa kesulitan terlebih dahulu.
Namun, Mita telah berubah. Ia bukan lagi wanita tengil yang jahat lidahnya. Pun meski, sisa-sisanya masih ada, tetapi prinsip hidupnya telah berubah. Kini justru ia sangat mengagumi sosok Fanni. Bukan karena rasa bersalah atas keburukannya kepada wanita itu di masa lalu, melainkan begitu baiknya hati, Fanni. Dendam pasti memang ada, tetapi Fanni tidak pernah menunjukkannya. Justru, korban ketengilannya itu selalu membantunya.
Mita tersenyum. Ia menatap wajah Fanni secara diam-diam. "Dia luar biasa," gumamnya.
"Eh, apa, Mit?" tanya Fanni ketika sedikit mendengar gumaman dari musuh yang telah menjadi sahabatnya itu.
"Ah, enggak kok, Fann. Haha."
"Gue pikir apaan."
"Hmm ... udah dua minggu buka, masih sepi aja, ya?"
"Namanya juga baru, Mit. Kalau langsung rame justru aneh."
"Bukan aneh, Fann. Tapi rezeki."
"Ya, tapi kita kan ditunjukkan kesulitan dulu. Nanti juga diberi rezeki itu."
"Emm ... iya, Fann."
Mereka menyesap kopi hangat bersama di dalam sebuah ruko yang disewa. Mengapa menyewa? Karena baru merintis usaha, bukan menjalankan usaha yang telah jaya. Bukan kios mewah yang berada di dalam mall besar. Herannya, tidak ada rasa gengsi sedikit pun di antara kedua wanita dengan paras cantik dengan level masing-masing itu.
Namun, Mita menambahkan AC. Pintu yang menutuo ruko itu adalah pintu kaca yang dibuka secara menggeser. Untuk udara panas, ia tidak pernah tahan. Sehingga, membeli AC meski dengan harga murah. Ya, karena tabungan miliknya dipakai untuk modal digabungkan dengan modal milik Fanni. Sedangkan, di lantai dua adalah bagian rumah. Tidak lebar, tetapi lumayan untuk bersantai. Di sana pula, Fanni sering menidurkan Sella. Karena belum terlalu ramai, mereka saling bergantian untuk menjaga salon itu dan menjaga Sella.
"Ngantuk, Fann," celetuk Mita. Kedua bola matanya berair, pun meski telah menyesap kopi hangat.
"Sama, Mit. Anak lagi tidur, enggak ada yang buat mainan," timpal Fanni.
"Tapi, sejauh ini anak loe aman kan di atas?"
"Udah bisa jalan, sebenarnya gue agak khawatir. Ya, walaupun tempat tidurnya ada pagar kayunya dan tinggi tetep aja khawatir. Tapi, enggak mungkin juga gue bawa ke sini. Banyak barang-barang salon."
"Ya sih. Kenapa enggak sewa baby sitter lagi aja?"
"Enggak mungkinlah, Mit. Kita aja baru buka usaha. Belum dapet untung apa-apa, udah tekor buat biaya baby sitter. Loe kan juga tahu, di rumah gue ada dua pekerja."
Mita manggut-manggut saja. Berbicara tentang anak, memang sangat rentan. Ingin seperti ini, ada resiko seperti itu dan sebaliknya. Dan baru Fanni yang memiliki bayi, bagaimana jika dirinya telah berhasil mengandung nanti? Urusan salon, apakah akan tetap berjalan sesuai rencana?
Bisa saja, Mita menyerahkan anaknya kepada orang tua ataupun mertua. Namun, apakah itu pantas? Fanni saja, yang sudah lama menikah tidak melakukan hal itu. Dan ia yakin bahwa Fanni juga merasa tidak enak hati.
"Emm ... kenapa enggak dititipin nyokap loe aja, Fann?" Pun meski, ia sudah menduga alasannya, ia tetap ingin mendengarnya dari seorang Fanni.
Fanni menggeleng. "Enggak, gue udah banyak bikin repot bokap sama nyokap, Mit. Mereka juga ada anak dari kakak gue. Mana ada gue kirim Sella ke sana. Belum lagi si Selli nantinya." Begitulah jawaban yang diucapkan oleh Fanni atad pertanyaan dari Mita dan ternyata sama dengan dugaan wanita bertubuh ramping itu.
"Ya udah, loe lihat sana. Takut anak loe bangun."
"Belumlah, biasanya dia nangis, kan?"
"Sama tahu. Takutnya udah bisa manjat pager tidurnya."
"Emm ... iya juga sih. Ya udah, gue naik dulu, ya?"
__ADS_1
"Iya, santai aja, Fann."
Fanni meninggalkan Mita sendiri. Di sela-sela langkahnya, ia menghela napas beberapa kali. Urusan anak memang sulit, ia merasa tidak enak jika harus merepotkan Mita. Namun, ia juga tidak bisa menitipkan Sella kepada orang lain. Ini hanya usaha salon yang kesibukannya tidak terlalu berat seperti penjual makanan yang harus memasak dan berbelanja. Sudah sejauh ini mereka melangkah bersama, ia tidak ingin ada masalah di dalam usahanya, hanya itu.
Sesampainya di lantai dua, Fanni menengok Sella yang masih tertidur pulas. Ranjang berpagar kayu itu begitu tinggi dan kokoh, ia merasa kali ini masih bisa melindungi Sella. Lantas, bagaimana nanti jika Sella sudah tumbuh semakin pintar berjalan serta bertingkah? Belum lagi, jika salon yang ia dan Mita urus semakin ramai. Fanni tertuduk kemudian, tepatnya di sebuah kursi sofa yang ada di sana. Ia memikirkan macam hal, misal; apakah ia akan menyewa seorang pengasuh lagi? Pun meski di dalam hatinya ia tidak menginginkan hal itu.
Baru berjalan sekitar beberapa minggu, Fanni sudah dirundung kebingungan. Begini jadinya jika ia berkerja sama dengan orang lain, ya, sulit untuk memutuskan apa pun. Walau, sampai sekarang Mita tidak menunjukkan wajah keberatan atau terganggu. Namun, ia tetap tidak enak hati.
Sementara itu, di lantai bawah, Mita telah mendapatkan seorang pelanggan. Ingin meluruskan rambut katanya. Dengan perasaan gembiri, Mita segera melayani pelanggan tersebut.
"Wah! Saya baru lihat kalau di sini ada salon, Mbak," ujar pelanggan itu.
Mita tersenyum dengan tangannya yang sibuk memberikan pelayanan pada rambut wanita itu. "Iya, Kak. Kami baru buka dua minggu yang lalu," jawabnya kemudian.
"Wah, pantes aja ada promo ya? Ngomong-ngomong hasilnya bagus enggak, Mbak?"
"Bisa dilihat nanti, Kak. Saya jamin akan bagus dan sesuai ekspetasi, Kakak."
"Yang bener nih? Saya enggak mau kalau malah jadi kusut dan rusak lho. Apa lagi, salon baru begini."
Mita menghela napas dalam, lalu kembali ia hembuskan. Tipe pelanggan satu ini mungkin terbilang cerewet dan banyak maunya. Jika biasanya ia langsung memberikan penegasan pedas kepada orang kurang ajar, kini ia hanya bisa diam sembari bersabar. Mungkin hanya senyuman yang ia berikan. Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan dan berupaya sebaik mungkin.
Andai loe tahu, gue ini kerap perawatan mahal, Mbak!
Tatapan wanita itu begitu tegas, beberapa kali menghela napas, seolah sedang mengkhawatirkan sesuatu. Namun, reaksi Mita masih dengan senyuman manisnya itu. Sedangkan, di dalam hati wanita pelanggan itu sangat memuji kecantikan dari Mita. Bahkan, sangat mengagumi rambut panjang Mita yang terurai indah, serta wangi. Hal itu yang membuatnya berani mencoba mendatangi salon baru ini. Terlebih, sedang ada promo khusus.
"Yang bagus ya, Mbak. Saya enggak mau rambut saya jadi rusak pokoknya!" tegasnya lagi.
Mita menghela napas perlahan-lahan. "Baik, Kakak. Uang kembali jika sampai rambut Kakak rusak," timpalnya sudah hampir habis kesabarannya. Karena ia seorang Mita, bukan Fanni yang memiliki kesabaran tiada terkira.
Tahan, Mit. Salon ini bukan punya loe doang, ada Fanni. Jangan merusak keadaan!
Rasanya, Mita ingin sekali menarik rambut pelanggan itu. Terlebih, sangat kusam dan berminyak. Sudah begitu, banyak maunya! Ia heran akan sifat dari pelanggannya itu. Namun, tetap tidak bisa berbuat apa pun kecuali tersenyum dan bersabar. Ya, bersabar, hanya itu yang bisa membuat salonnya tetap diminati.
Selanjutnya, Mita terus memberikan pelayanan terbaik. Bukan perkara sulit baginya untuk mengatur setiap helai rambut seseorang. Selama ini pun, ia selalu mengurus mahkota kepalanya sendiri dan hanya membeli beberapa vitamin dengan harga yang tidak murah. Diam-diam, ia sangat menikmati tentang keahlian ini. Bahkan, di masa dulu, ia sempat ingin menjadi beauty vlogger. Namun, ayahnya sangat melarang. Mita harus menjadi istri dari Celvin Hariawan Sanjaya! Begitu permintaan ayahnya, tetapi Mita ataupun Celvin tidak pernah saling mencintai.
Pun meski, Mita ini adalah seseorang yang tengil dan judes, sebenarnya ia memiliki prinsip hidup sendiri selama ini. Ia tidak akan bersedia menikah dengan pria yang tidak ia cintai dan tidak mencintainya. Ia sangat menghindari sesuatu yang bisa menghancurkan hubungan cinta orang lain. Ia adalah orang yang judes sekaligus dingin. Lalu, mengapa ia sampai membenci Fanni di masa lalu? Karena semua permintaan ayahnya, justru Fanni yang mendapatkan. Tanpa ia sadari, rasa iri itu muncul. Kekurangan Fanni dibuat menjadi sebuah olok-olok baginya untuk menjatuhkan Fanni.
Namun, ketika ia sudah pulang, ia justru menjadi manusia pendiam, bahkan penuh derita. Sang ayah, sejak dulu menginginkan anak laki-laki bukan perempuan seperti dirinya. Sampai akhirnya, Mita ditekan untuk menjadi wanita yang sempurna. Mendapatkan suami seorang pria kaya macam Celvin Hariawan Sanjaya dan berkedudukan sebagai CEO. Akan tetapi, Mita menolak habis-habisan. Baginya, Celvin sudah seperti kakak sendiri. Lagi pula, pria berparas tampan itu sudah memiliki wanita idaman. Kala itu pun, sifat Celvin luar biasa buruk. Mita tidak mau, sekalipun Celvin seorang pewaris tunggal dari Sanjaya Group.
"Mari saya antar untuk keramas dulu, Kak," ujar Mita kepada sang pelanggan. Meski sebelum itu, ia harus menghela napas dalam karena masih sungkan.
"Di mana? Tempatnya bersih enggak? Ini kan salon kecil yang di ruko biasa, bukan wah seperti di mall-mall kota," jawab pelanggan itu dengan tatapan mata sinis. Meski, sebenarnya ia merasa iri akan kecantikan yang dimiliki oleh Mita.
"Mari, dijamin bersih, Kakak!"
"Eh! Jangan meninggikan nada bicara ya kamu sama pelanggan."
Fanni yang sudah turun, kini berdeham keras. Ia mendengar perbincangan sengit antara Mita dan pelanggan itu. Ia tahu bahwa kali ini Mita mendapatkan pelanggan dengan sikap yang sulit dilayani dengan baik. "Mari, urusan keramas sama saya aja," ujar Fanni.
"Tidak mau! Kayaknya, kamu enggak jauh lebih baik sama Mbak ini." Jawaban dari pelanggan ini seolah menusuk hati Fanni. Namun, ia hanya menelan saliva tanpa berkata lagi. Setelah itu, ia menyerahkan segala urusan kepada Mita.
Mita memutar bola matanya, terus berusaha untuk mempertahankan kesabarannya. Ia tetap melayani sang pelanggan dengan hati-hati, pun meski ia sudah hampir emosi seperti tadi. Dengan gerakan tangan yang lembut tetapi lincah, ia membasahi rambut pelanggannya.
__ADS_1
****
Tiga jam berlalu, sesi pelurusan rambut itu, akhirnya selesai. Mita bisa bernapas lebih lega sekarang. Ia bisa menyelesaikan dan melewati kesulitan atas sikap pelanggannya dengan baik sampai akhir.
"Nih! Sesuai promo, ya? Tapi, kalau besok udah rusak, berarti uang kembali," ujar wanita pelanggan itu.
Fanni tersenyum. "Baik, Kak. Mohon untuk tidak berkeramas selama tiga sampai lima hari, ya? Dan jangan diikat. Kakak bisa memakai waring ketika mandi. Mohon patuhi aturan ini supaya rambut Kakak bisa lembut dan cantik," jawabnya kemudian.
"Iya, saya tahu. Emangnya saya sekuno itu apa?"
"Ya udah, bentar lagi tutup, Kak. Jadi mohon pulang," timpal Mita. Hal itu membuat Fanni terpaksa mencubit tangannya karena dirasa perkataannya kurang sopan untuk didengar.
"Oke, oke. Saya pulang."
Wanita pelanggan itu pun pergi. Mita benar-benar bisa lega sekarang. Ia menjatuhkan dirinya di sebuah kursi empuk yang ia beli sebagai tempat pelanggannya duduk. Ia memijat keningnya karena rasa pening setelah bekerja.
Fanni tersenyum. "Kenapa loe? Pelanggan galak, ya?" tanyanya kepada partner kerjanya itu.
"Bukan lagi, gilak! Udah mah, rambutnya lepek banyak ketombe. Enggak cantik, tapi banyak maunya. Heran gue." Perasaannya yang sempat ditahan sejak tiga jam lalu, kini meluap-luap. Ia mencurahkannya kepada Fanni yang tidak tahu secara menyeluruh tentang kejadian itu.
"Tipe pelanggan kan banyak banget, Mit. Ada pasti orang yang kayak gitu. Tapi, gue rasa dia cuma iri sama loe."
Mita menatap Fanni heran dengan dahi yang mengernyit. "Kenapa bisa gitu? Iri apanya?"
"Loe cantik."
"Haha ... mana ada begitu. Tapi, iya sih, dia enggak cantik."
"Heh! Jangan begitu!"
"Ya ... habisnya, ngeselin banget sih."
"Inget kita buat usaha ini biar semua orang bisa tetep cantik meski punya kekurangan. Jadi, jangan bawa-bawa soal fisik lagi, Mit. Cantik itu relatif dan orang di depan loe sekarang juga enggak cantik, malahan gendut banget."
Mita menciut. Sebenarnya, ia begitu malas mendengar ceramah dari Fanni. Namun, apa yang dikatakan Fanni memang benar. Ia melupakan tujuan awal membangun salon yang masih kecil itu. Ia bertekad akan tetap hati-hati menjaga lidah, ia tidak mau menjadi pembulli fisik orang lagi.
"Mana si bule kecil?"
"Habis kasih minum, tidur lagi tadi, Mit."
"Tumben, Fann?"
"Kalau udah kena dingin AC, dia mah betah merem. Tapi nanti malemnya pasti melek."
"Si bocil demen begadang ya ternyata."
"Emm ... begitulah bayi, Mit. Salah gue, enggak biasain dia buat tidur awal sih."
"Nanti juga berubah sendiri, Fann. Oke! Bentar lagi tutup, laki loe juga udah mau balik ini. Beres-beres yuk."
Fanni mengangguk. Kemudian, mereka segara bangkit dari duduk. Setiap pukul jam empat sore, mereka sudah menutup salon itu. Terlebih, masih sangat sepi, sehingga keputusan itu diambil oleh mereka berdua. Beberes pun di mulai.
Setelah selesai, mereka pulang ke rumah masing-masing dengan suami masing-masing pula. Hanya saja, suami Mita kerap dinas dan hal itu membuatnya pulang pergi dengan mengendarai mobil sendiri.
__ADS_1
****