Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Hilang


__ADS_3

Hari terus berganti begitu mudahnya. Sedang aku masih saja seperti ini. Mas Arlan tiba-tiba menghilang setelah pertengkaran kami di cafe saat itu. Dua minggu lamanya, dia tak tampakkan senyumnya padaku.


Aku rasa kami sudah benar-benar berakhir sekarang. Seperti saranku padanya. Tidak apa, jika ini yang terbaik. Meski hatiku sangat sakit dan begitu rindu pada Mas Arlan. Hubungan kami pun masih menggantung tanpa kejelasan.


Beberapa hari ini, aku juga sudah berusaha. Mendatangi beberapa tempat fitness di kota ini. Namun, hasilnya nihil. Meski badanku besar, fisikku terlalu lemah untuk berusaha. Beberapa pelatih gym pun sudah menyerah dengan diriku yang mudah lelah.


Jadi, untuk sekarang aku pun pasrah. Banyak orang yang bisa berhasil diet. Namun, harus aku yang mengalami kegagalan. Napasku selalu terengah-engah, padahal belum lama berolahraga. Tulang-tulangku seperti remuk, sakit sekali. Bahkan kaki sangat nyeri untuk berjalan.


"Sudahlah Nona Fanni, olahraga ringan saja. Jangan memaksakan diri. Lagipula anda tidak gemuk banget masih delapan puluhan mah," ujar pelatih fitnessku saat itu. Mungkin ia tidak tau harus membantuku bagaimana lagi.


"Saya ingin cepat kurus Sis," kataku padanya.


"Hmm... setiap orang pasti bisa, tapi butuh proses tidak semua bisa instan. Ayolah, sepertinya daya tahan Nona juga lemah. Saya tidak ingin ada yang sakit setelah melakukan gym ditempat saya ini."


"Maaf."


Begitulah, percakapan terakhir yang terjadi antara diriku dan pelatihku. Haruskah aku melakukan sedot lemak atau operasi plastik? Duit darimana?


Dan sekarang, aku sedang menggigil sendirian didalam kamar apartemenku. Merenungi nasib yang miris ini. Semua usahaku kacau dan tidak berhasil sampai aku jatuh sakit lagi sekarang. Sepertinya ini tuah dari kedurhakaanku pada Ibuku.


Aku rindu Ibuku, ayahku, kedua kakakku lalu Mas Arlan. Namun, aku cukup malu untuk bertemu. Diriku sendirilah yang memperburuk keadaan dengan emosi sesaat. Ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan membuat diriku kadangkala berasumsi yang tidak-tidak.


"Uhuukk... uhukkk... bbrrrrr...."


Dingin sekali rasanya, mungkin aku terlalu lelah. Bagaimana ini? Haruskah aku bicara pada keluargaku? Hanya mereka yang aku punya sekarang. Karena Mas Arlan hilang entah kemana.


Aku sudah tidak kuat lagi, tidak bisa tidur dengan nyenyak. Seolah banyak sekali kunang-kunang dalam pandanganku yang kabur. Untuk bangun tidur saja, aku tidak kuasa.


Sudah tiga hari aku terbaring lemah di ranjang ini. Tidak masuk kerja, dan mengambil cuti untuk sementara. Aku telah meminta maaf pada Celvin karena kondisi ini. Lemas sekali rasanya, seolah tulang-tulangku dirontokkan begitu saja.


Tiba-tiba getaran ponsel terdengar oleh telingaku. Lalu aku berusaha sangat keras untuk meraihnya diatas meja kecil disamping ranjangku. Segera kuangkat tanpa melihat siapa yang menghubungiku.


"Fanni!!! Kamu bisa jelaskan, kenapa ambil cuti? Kamu mau kemana? Mau kawin lari dari Mama???" Itulah sejumlah rangkaian pertanyaan yang Ibuku ucapkan secara tegas padaku.


Aku terkejut dibuatnya. Aku pikir siapa, ternyata beliau yang meneleponku.


"Fanni! Jawab Mama!" tegas beliau lagi.


"Maafin Fanni, Mama," jawabku pelan.


"Apa? Kamu kalau ngomong yang kenceng, kamu dimana sekarang haah???"


"Tolong Ma, Fanni... Fanni lagi sakit."


"Sakit? Kamu sakit apa?"


"Tolong Ma, Fanni nggak kuat bangun. Mama tolong datang kesini, Fanni mau minta maaf sebelum Fanni nggak ada."


"Eehh??? Sembarangan banget kalau ngomong. Ya Allah Fann... Fann... kamu kenapa? Aduuhh anakku. Papaaaaa... antar Mama ke apartemen Pa, anak kita Pa."


Aku meletakkan ponselku begitu saja. Dalam keadaan panggilan yang masih berlangsung. Segala kepanikan Ibuku pun masih terdengar. Tampaknya beliau benar-benar ketakutan. Suara isak tangis pun dikeluarkan oleh beliau.


Entah mengapa aku bisa tersenyum. Dalam kondisi yang lemah ini, aku masih samar-samar sadar. Ada kelegaan hati, mendengar Ibuku yang khawatir. Aku rasa aku masih tetap anaknya sampai kapanpun. Meski beliau sempat membenciku.


Seandainya aku mati sekarang. Satu inginku hanya bertemu beliau. Meminta maaf dengan benar. Serta membuat hubungan kami lebih baik sebelum aku meninggal.


Pikiran semacam ini selalu bergelayut dalam benakku mulai saat aku sakit. Badan besar yang ringkih sekali. Tenggorokan keringpun, tak kuasa aku siram dengan air. Karena letak dapur yang terasa jauh. Aku masih terkapar lemah diatas ranjangku.


Aku rasa, penyakit lamaku kambuh lagi. Dehidrasi serta magh akut menempel pada tubuhku. Karena rasanya hampir sama seperti dulu. Inilah wujud usahaku demi Mas Arlan, meski ia masih saja menghilang.


Mau bagaimanapun diriku menolak permintaan Riska. Nyatanya aku tetap berusaha diam-diam. Walau semua berakhir kacau balau.


"Mas Arlan, aku rindu kamu," gumamku lirih.


Pejaman mata terus kulalukan sepanjang hari. Sungguh sulit jika tinggal sendiri seperti ini. Namun, tak sedikitpun ada rasa sesal saat diriku melakukan segalanya untuk diet. Meski sudah menyerah dan pasrah.


Karena, ini semua demi cintaku pada kekasihku. Bukan untuk orang-orang yang hina.


****


Jam dinding terus berdetak seperti biasa. Menandakan bawa bumi masih berputar normal. Hari ini belum kiamat bagi umat manusia.


Namun, tidak tau untuk diriku. Seolah bayangan kematian telah berada diatas kepalaku. Mungkin, setelah aku bertemu Ibuku, aku baru bisa pergi dengan tenang nantinya.


Walau aku masih takut untuk mati sekarang.


"Fannniiii... Ya Allah Nak." Suara Ibuku begitu keras terdengar oleh gendang telingaku.


Apakah ini mimpi? Mataku begitu sulit untuk terbuka. Sekalipun terbuka, pandanganku kabur dan tidak jelas.


Hanya derapan kaki beberapa orang yang masuk kedalam kamarku. Jika ini bukan mimpi, berarti mereka adalah keluargaku. Rasa tenang bersemayam dihati. Akhirnya aku bertemu Ibuku. Meski keadaanku sedang sekarat seperti ini.


"Ini gimana Pa, Fanni sakit lagi. Pa, gimana pa huhuhu... Anakku, maafin Mama, Nak. Fanni bangun sayang."


"Tenang Ma tenang kita bawa putri kita ke rumah sakit dulu."

__ADS_1


"Iya Ma, Fanni pasti nggak apa-apa kok. Percaya sama Pandhu ya. Kita bawa ke rumah sakit dulu."


"Huhuhuhu... Fanni sayang, maafin Mama Nak."


Begitulah sekiranya, semua perbincangan yang aku tangkap dari mereka. Aku rasa ini kenyataan bukan mimpi semata. Terbukti isakan tangis dari Ibuku disertai gerakan tangan yang menggoyang-goyangkan tubuhku.


Sedang aku tidak bisa berbuat apa-apa. Karena masih terkulai lemas di pembaringan.


"Mama? Maafin Fanni," ujarku lirih dengan segala energi yang masih tersisa.


"Iya Nak, Mama maafin kamu sayang," jawab Ibuku.


"Ma, Fanni sayang sama Mama."


"Mama juga sayang sama kamu, Nak. Tapi kamu harus sembuh kita ke rumah sakit ya."


"Aku cinta Mas Arlan, Ma."


"Mama tau sayang."


"Kalau Fanni nggak ada, sampein sama Mas Arlan ya Ma."


"Fanniii... kamu nggak boleh ngomong gitu, Nak."


"Fanni capek."


"Hu... hu... hu... anakku sayang."


Setelah itu, aku diam kembali. Diriku berada dalam kondisi antara sadar dan tidak sadar. Yang kudengar hanyalah isakan tangis Ibuku yang menjadi-jadi.


Lalu beberapa orang terasa bergerak mengangkat tubuhku. Yang entah mau dibawa kemana. Semua seperti sebuah mimpi. Jiwa melayang terbang sendirian dan tentunya kesepian.


Mencari-cari dimana Mas Arlan didalam sana. Dalam kondisi seperti ini, aku masih sangat merindukannya. Kini aku menyadari, bahwa aku tidak bisa kehilangan dirinya. Namun, malah berujar yang tidak-tidak padanya.


Aku menyesal tentang itu, tidak menyesal dengan perjuanganku untuk kurus. Meski tetap tidak berhasil dan malah jatuh sakit.


Sebuah langit-langit yang tidak asing tertangkap oleh bola mataku. Saat aku berusaha menyadarkan diriku sendiri. Suara khas ambulance juga di telingaku. Mungkin aku telah berada didalamnya.


Hingga beberapa saat kemudian, tubuhku didorong masuk kedalam sebuah ruangan. Aku tidak tau itu apa.


Yang pasti kulitku terasa nyeri tertusuk sesuatu. Sampai akhirnya membuatku terlelap tidur.


****


"Kondisinya memang belum stabil Bu, tapi saya bisa jamin tidak terlalu membahayakan. Nona Fanni mengalami sempat kekurangan cairan dalam tubuhnya. Sepertinya beliau sempat melakukan aktivitas yang tidak biasa dilakukan ya?"


"Aktivitas?"


"Ini hanya perkiraan saya, Bu. Ada beberapa lebam biru pada tubuhnya seperti bekas dari aktivitas yang berlebihan. Bisa jadi faktor kelelahan dan strees, sampai daya tahan tubuhnya menurun drastis Bu. Saya sarankan agar pola makan dan minum diatur dengan baik, begitu juga dengan istirahatnya. Untuk sekarang Nona Fanni masih sangat lemah, tapi tidak perlu khawatir. Kalau istirahatnya diatur dengan baik dan minum obat, bisa segera pulih."


"Yasudah Dok, saya ucapkan terimakasih."


"Sama-sama Bu. Saya menyarankan Nona Fanni dirawat inap selama tiga hari sampai maksimal satu minggu. Saya permisi keluar dulu."


"Silahkan Dok."


Itulah percakapan yang aku dengar dari Ibu dan salah seorang dokter yang menanganiku.


Ternyata aku tidak jadi mati. Padahal aku sudah pamit tadi. Entah berapa lama aku tertidur di rumah sakit ini. Rasanya sedikit membaik, mataku pun bisa terbuka dan melihat dengan jernih.


Hanya Ibuku yang berada disini. Mungkin keluargaku yang lain masih diluar atau pulang lebih dulu. Keadaan ini mengingatkan diriku pada masa lalu. Dimana aku terbaring sakit keras dan bulimia saat itu.


Aku iba pada Ibuku yang tiada hentinya khawatir padaku. Beliau masih menyisakan sisa air mata beberapa saat yang lalu.


Apa sebenarnya aku ini tidak bisa sedikit saja memberikan kebahagiaan kepada beliau? Jika tidak, untuk apa aku dilahirkan di dunia ini?


"Kamu udah bangun sayang?" ujar Ibuku padaku. Beliau menatapku dengan teduh. Seolah mampu menyirnakan sakit yang aku dera. Hatiku terasa tenang bak tersiram air dingin dari Kutub Utara.


"Iya Ma," jawabku lirih.


"Mau makan?"


"Nanti aja sesuai jadwal Ma. Se-sekarang jam berapa Ma?"


"Jam empat sore, sayang."


"Jadi, aku disini udah seharian dong?"


"Iya sayang, kamu tadi dibius biar bisa istirahat."


"Maaf ya Ma."


"Mama yang harusnya minta maaf sama kamu, Nak."


"Fanni yang selalu bikin Mama susah."

__ADS_1


"Sayang, boleh Mama bertanya sesuatu?"


"Boleh, Ma."


"Apa kamu diet keras lagi?"


Aku diam seketika. Pandanganku beralih pada tempat lain untuk menghindari Ibuku. Masih ada resah untuk berkata jujur kepada beliau. Aku khawatir kami bertengkar lagi. Apalagi saat ini, hubungan baik baru terajut kembali.


Terlebih, jika beliau mengetahui akan alasan dibaliknya. Aku tidak ingin Ibuku semakin membenci Mas Arlan, itu saja.


"Jujur aja sayang, Mama janji nggak akan marah lagi," pinta Ibuku dengan lembut.


Pandanganku kuarahkan kembali kepada beliau. Namun, masih ada sedikit keraguan dalam hatiku untuk berbicara. " I-ya Ma."


"Untuk apa lagi? Untuk Arlan?"


"Bukan Ma, Mas Arlan nggak pernah minta itu kok."


"Kamu yakin?"


"Yakin Ma, Fanni cuman pengen terlihat pantas buat dia Ma. Mama jangan benci sama Mas Arlan ya?"


"Terlihat pantas? Apa kamu udah tau siapa Arlan?"


Sontak saja aku terkejut dengan pertanyaan Ibuku yang terakhir. Sepertinya beliau sudah mengetahui tentang identitas Mas Arlan yang sebenarnya. Entah darimana dan dari siapa. Bisa jadi beliau mencari info tentang kekasihku tersebut.


"Udah tau, Ma," jawabku.


Beliau menghela napas berat kemudian mengembuskannya kembali. "Itu kenapa Mama nggak pernah kasih restu buat kalian, Fanni. Pertama dia duda, kedua karna dia orang kaya raya. Bukan orang sembarangan."


"Tapi Fanni cinta sama Mas Arlan, Ma."


"Sayang, sebenarnya Mama nggak tega memisahkan kalian. Tapi selalu berusaha agar kalian terpisah. Mungkin Mama yang egois, tapi lihat sekarang. Kamu sakit lagi setelah tau siapa Arlan kan? Mama udah prediksi ini akan terjadi. Kamu anak yang gampang sekali minder dan Mama yakin kamu akan berusaha tampil baik seperti saat dulu. Saat kamu ingin tampil cantik demi bisa dekat dengan teman-temanmu yang lain."


"Fanni hanya berusaha, Ma."


"Boleh saja berusaha sayang. Tapi jangan memaksakan diri, jangan berlebihan. Sudah cukup saat itu saja. Jangan pikirin orang lain lagi."


"Tapi Mama tau darimana soal Mas Arlan?"


"Sudah tau sejak lama, memangnya siapa yang tidak kenal keluarga kaya Harsono. Para pemimpin perusahaan terdahulu pun namanya tercantum dibeberapa artikel. Dan salah satunya Arlan. Jadi Mama sambungin nama dia dengan beberapa barang mewah yang selalu dia bawa ke rumah. Mamamu ini tidak bodoh Fanni."


"Tapi, apa Mama tetap tidak mau kasih restu sama kami?"


"Mama nggak tau untuk sekarang. Belum apa-apa saja, kamu sudah sakit. Gimana kalau kalian menikah, Mama takut kamu dipandang rendah oleh keluarga mereka nantinya. Apalagi mereka bukan keluarga sembarangan, Mama juga curiga perceraian Arlan dengan mantan istrinya ada penyebab ikut campurnya keluarga itu."


Ada benarnya juga apa yang dikatakan Ibuku. Bisa digabungkan dengan penuturan Riska kala itu. Sebuah aturan masih berlaku disana. Apalagi wanita cantik itulah yang mendesakku untuk menurunkan berat badan.


Sampai sekarang pun Mas Arlan belum juga datang untuk mengunjungiku. Sepertinya ada hal yang membuatnya menjauhiku. Mungkinkah keluarganya? Apa benar, kami memang telah berakhir? Tapi hatiku tidak munafik, aku rindu pria itu sangat rindu.


Aku belum rela. Sangat tidak rela! Penyesalan memang selalu menyusul. Harusnya tidak kukatakan untuk menyudahi hubungan ini.


"Ma, restui kami," pintaku lagi. Padahal aku masih belum tau status hubungan kami. Namun, aku tidak bisa berhenti untuk meyakinkan Ibuku.


"Sayang, bisakah kamu cari pria yang lain saja?" tanya beliau.


"Tidak!"


"Apa begitu cintanya kamu sama Arlan?"


"Iya Ma. Fanni mohon."


"Apa kamu siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi didalam keluarga mereka yang kaya itu?"


"Semoga saja."


"Putri Mama sudah dewasa sekali rupanya. Tapi jujur, Mama belum bisa merelakan kamu sama Arlan."


"Tapi kami saling mencintai, Ma."


"Hmm... nanti saja kita bahas, jika Arlan sudah datang kesini maupun ke rumah. Saat kalian ada."


Sebuah titik terang mulai terlihat. Tampaknya hati Ibuku mulai melunak. Namun, yang membuat hatiku gelisah sekarang adalah Mas Arlan.


Apakah ia bisa segera datang nantinya? Atau ia pun juga sudah menyerah. Padahal momen ini yang selalu kami tunggu sejak dulu.


'Mas Arlan cepatlah datang, aku mohon.'


...Bersambung...


Budayakan tradisi like+komen.


Sorry ya kalau berbelit-belit... karna semua masalah itu nggak bisa diselesaikan dalam waktu singkat. semua butuh proses say..


Agar kita tau apa arti berjuang.. Dikomik-komik pun begitu heheeheee

__ADS_1


__ADS_2