
"Apa gunanya sebuah cinta? Jika tidak disertai dengan landasan kepercayaan?"
_____________________________________________
Kutekuk tubuhku diatas ranjangku. Aku menelungkupkan diri dan menunduk diatas kedua lengan yang menyilang. Air mataku lagi-lagi mengalir begitu saja, karena hati yang teriris sakit. Jiwaku seakan-akan melayang dan enggan untuk tenang. Suara sesenggukkan kerap kali bergema dalam kamar ini. Sebagai bukti dan tanda bahwa aku terluka cukup serius. Aku masih tidak tahu, bagaimana caranya untuk menghadapi Mas Arlan. Seolah tidak ingin mendengar sepatah katapun darinya, aku takut ia mengatakan sesuatu untuk membatalkan pernikahan nanti.
Mas Arlan sendiri masih berdiam diri, ia tengah duduk ditepian ranjang ini. Itupun, saat aku meliriknya sekilas beberapa saat yang lalu. Untuk sekarang, aku tidak tahu posisi dirinya dimana. Tapi, sepertinya ia masih disana. Karena helaan napasnya masih terdengar di telingaku. Aku hanya ingin ia pergi lebih dulu, sehingga aku bisa berpikir jernih dengan kesendirianku malam ini. Namun, apa mau dikata, ia tidak bisa diusir begitu saja.
Tak lama kemudian, aku merasakan ada belaian lembut di kepalaku. Aku rasa, pelakunya adalah Mas Arlan. Setelah membelai kepalaku beberapa kali, ia mengecup lembut disana.
"Dek, maaf...," ujarnya lirih. "Mas, sayang kamu."
Bukannya merasa senang, tangisanku malah menjadi-jadi. Bahkan kini disertai suara raungan yang memilukan. Entah mengapa, aku merasa ada sesuatu yang janggal dari perkataan Mas Arlan. Sebuah kata maaf dan sayang, tapi terdengar lirih dan ragu. Aku sampai menutup telingaku, karena terlalu takut mendengar perkataan selanjutnya. Bagaimana, kalau Mas Arlan benar-benar ingin kembali kepada Nia? Bagaimana, kalau pernikahan kami batal? Bagaimana, jika ia ingin menyudahi hubungan ini?
Segala pertanyaan buruk terus berkecamuk memenuhi benakku. Mungkin, tanpa aku sadari suara tangisanku semakin terdengar kencang. Mirisnya, semua sakit hati ini harus aku tanggung sendirian. Tiada tempat untuk mengadu, meskipun ada kedua sahabatku, Tomi dan Nike. Atau bahkan ada Celvin. Aku terlalu malu mengatakan semuanya. Akan ditaruh dimana wajahku nanti, jika ditertawakan? Oh... ujian kali ini benar-benar memberatkan hatiku. Rasanya ingin mati, belum lagi ingatan tentang ucapan Nia masih saja membekas. Aku telah dipermalukan didepan umum olehnya.
Mas Arlan mencoba mengangkat kepalaku, namun aku bersikeras untuk bertahan. Gilanya, tenaga yang ia miliki memang luar biasa kuat. Sampai akhirnya aku yang kalah. Kini kami saling berhadapan, aku tidak mau menatapnya. Mungkin, wajahku benar-benar terlihat kacau balau. Belum lagi tangisanku tiada henti dan rambut semu pirangku acak-acakan tidak menentu. Ah... malu sekali rasanya.
"Maaf," ujar Mas Arlan. "Mas, ngerti kamu marah."
Aku meliriknya sekilas. Lalu menjawab, "A-aku nggak marah kok."
"Bohong banget." Mas Arlan bergerak mengusap air mataku dengan jari-jarinya. Kemudian, ia merapikan rambutku. Ia menatapku lagi dengan tajam. Sedangkan aku masih diam bersama sisa sesenggukkan yang masih sesekali muncul.
Ironisnya, Mas Arlan malah berbuat tidak benar. Ia mengecup lembut bibirku secara tiba-tiba. Aku yang merasa tidak menyangka, hanya diam dan sampai tidak bisa berbuat apa-apa. Kecuali menerima perlakuannya tersebut. Kupejamkan mataku dan mengikuti gerakan itu. Sialnya, aku tidak bisa melawan situasi ini, aku menerimanya sebelum ada penjelasan apapun darinya. Mungkin ini yang dinamakan budak cinta seorang duda. Tapi, apakah ini kecupan terakhir sebelum berpisah?
Jika benar, baiklah ikuti saja permainan ini. Aku menjadi larut dalam keromantisan. Perlakuan Mas Arlan begitu lembut namun masih dalam batas wajar seperti biasanya. Ia hanya menyentuh wajahku bukan bagian tubuhku yang lain. Sehingga, aku tidak terlalu mengkhawatirkan hal ini. Kami jengah, lalu saling menarik kepala masing-masing. Lelaki ini menatapku dengan tajam.
"A-apa?" tanyaku disertai gelagat malu-malu.
Mas Arlan tersenyum begitu manis. "Udah tenang?" tanyanya kembali.
Oh sial! Aku malu sekali mendengar pertanyaannya tersebut. Rasanya, aku seperti perempuan murahann. Padahal, aku habis meraung-raung dan kecewa kepadanya. Namun, aku malah menerima kecupan itu dengan senang hati. Aku benar-benar sudah tidak punya muka dihadapan Mas Arlan. "Ka-kamu kok, yang bi-bikin nggak sadar" ujarku. "Jadi, sejauh mana hubungan kamu sama Nia?"
Mas Arlan menatapku. Kemudian, ia meraih kedua telapak tanganku. "Maaf, Dek. Demi Selli-" katanya terhenti.
"Ya, cukup. Aku ngerti, Mas." Tetesan air mata kembali muncul, meski hanya sekali. Namun, hatiku bagai tersayat parang bukan lagi belati. Aku sudah menduga-duga tentang hal ini.
Demi Selli! Ya, aku juga harus kuat!
Seketika saja, Mas Arlan merangkul diriku dengan kedua lengannya yang besar. Ia membelai lembut kepalaku. Mungkin ini yang terakhir, begitulah pikirku. Aku menekankan diriku untuk membalas pelukan itu. Kucuran air mataku kini membasahi pakaian yang dikenakan oleh Mas Arlan. Namun, aku berusaha menahan suara agar tidak menggema dan memalukan lagi.
Nyatanya, semua memang sangat sulit kulakukan. Bagaimana, aku akan melanjutkan hidupku tanpa Mas Arlan nantinya? Aku tidak menyesal tentang perjuangan kami selama ini. Yang aku sesalkan adalah, mengapa bukan aku yang menjadi ibu kandung dari gadis kecil yang bernama Selli? Uh... napasku hampir habis pada saat Mas Arlan semakin mengeratkan pelukannya.
"Mas, lepas. Aku nggak bisa napas," pintaku kepadanya.
Ia pun menyanggupinya. Lalu, ia melepaskan pelukannya dariku dan menatapku lagi. "Kamu cinta banget ya sama, Mas?" tanyanya.
Kuraih kedua telapak tangannya. Lalu, menjawabnya, "I-iya Mas, aku cinta dan sayang banget sama kamu."
"Hmm..."
"Lakukan semua yang terbaik buat Selli, Mas. Apapun keputusanmu, aku menghargainya."
Mas Arlan tersenyum lagi. Bahkan gigi putihnya sampai terlihat. Ia menggenggam erat kedua telapak tanganku. Dan tiba-tiba mencuri pipiku untuk dikecup olehnya. Sontak, saja aku bingung, penuh tanda tanya.
"Demi Selli, kita harus menikah dengan megah," ujarnya.
__ADS_1
"Ehh?" balasku. "Gi-gimana maksudnya sih?"
"Kok malah gimana? Emang kamu tadi mikir apa sih Dek, nyampe terharu banget?"
"Haah? Ihhh... kamu apa-apaan sih, Mas? Daritadi kamu ngerjain aku?"
Kucubit lengan Mas Arlan sampai ia mengaduh kesakitan. "Aduduuuuhh... sakit sayang," katanya.
Aku menarik tanganku, lalu menyilangkannya didepan. Raut wajahku mungkin saat ini tergambar kesal. Ya! Aku memang benar-benar kesal kepada Mas Arlan. Setelah semua tangisan dan raungan yang aku lakukan dengan kepedihan, ia malah memberikan pernyataan tidak terduga. Meski begitu, aku merasa sangat bahagia. Namun, mencoba menguasai diri agar tidak terlihat gembira.
Mas Arlan sendiri terkekeh dengan girang. Ia hanya memberikan godaan-godaan mautnya kepadaku. Bahkan tanpa rasa bersalah sedikitpun. Padahal, ia masih memiliki hutang penjelasan tentang Nia. Sepertinya, aku harus mendesaknya lebih tegas supaya ia berterus terang kepadaku. Aku berhak tahu untuk itu, karena aku juga terlibat dalam masalah ini. Belum lagi, aku sempat dipermalukan oleh Nia yang tidak tahu diri itu. Ah... aku sampai berpikiran macam-macam.
Maaf Tante Nia.
Waktu semakin gelap dan aku belum mandi sama sekali. Kepenatan karena pekerjaan dan tangisan kini saling beradu didalam tubuhku. Karena, Mas Arlan belum juga bicara, akhirnya aku memutuskan untuk pergi bebersih diri. Lagipula, masih ada beberapa helai pakaian di apartemen ini. Sehingga, aku tidak perlu khawatir dengan pakaian ganti. Setelah itu, aku mengambil langkah menuju kamar mandiku yang tidak pernah berpindah posisi.
Didalam aktivitas penyegaran ini, aku tersenyum-senyum sendiri. Ada perasaaan malu, senang, dan sedikit khawatir yang masih tersimpan. Beberapa kali aku mengusap wajahku dengan kasar, karena mengingat tangisanku tadi. Aku benar-benar merasa terbodohi oleh ulah Mas Arlan yang seenaknya saja. Bahkan, aku membalas kecupannya dengan gaya amatiran yang lebih dari sebelum-sebelumnya. Padahal, aku adalah pembuat perjanjian agar hal itu tidak terulang lagi sebelum pernikahan digelar. Dan tadi, aku malah melanggarnya sendiri.
Gila nggak sih, gue???
Sudahlah, lupakan itu. Lagipula semua sudah terjadi, tiada gunanya untuk meratapi. Aku harus bergegas keluar sebelum malam semakin gelap. Apalagi jika ibuku sudah mengeluarkan jurus maut demi kepulanganku. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera keluar dari kamar mandi setelah aktivitasku selesai. Rambutku terlilit handuk karena basah keramas.
Setelah sampai di kamar, Mas Arlan masih berada disana. Ia tengah merebahkan tubuhnya diatas ranjangku. Ia segera membangunkan dirinya pada saat menangkap keberadaanku. Aku rasa, ia masih merasa canggung untuk memakai sebuah ranjang milikku. Tanpa memperdulikannya, aku melangkah masuk begitu saja. Kududukkan diriku diatas bangku rias.
"Udah mandi, wangi banget," celetuk Mas Arlan.
"Iyalah," jawabku sekenanya. "Keluar gih."
Mas Arlan menurunkan dirinya dari atas ranjang. Ia datang menghampiriku. Setelah tepat dibelakangku, Mas Arlan merebut sisir yang aku pakai. Ia menyisir rambutku dengan hati-hati dan serius, layaknya pegawai salon. "Aaaaaaarrrrgggg!!!" teriaknya tiba-tiba.
"Bahaya, Dek."
Rasa panik tiba-tiba datang. Aku bertanya lagi, "Bahaya apa? Jangan becanda lagi!"
"Bahaya banget, jantung... jantung Mas nggak kuat liat kamu abis mandi gini."
"Haah??? Lebay amat sih! Mau bikin aku jantungan berapa kali sih?"
"Hehe... tapi ini serius lho, Dek. Kamu terlalu sexy."
"Jangan bikin aku takut sama tampang badboy yang kamu pasang. Udah ah... kamu keluar dulu, daripada terjadi hal-hal tidak baik."
"Iya Dek, iya. Kayaknya Mas emang harus keluar hehe."
Mas Arlan segera mengambil langkah untuk menuju ruang sofa. Sedangkan aku kembali merapikan rambutku dan memakai pelembab wajah yang selalu aku bawa. Tak lupa kusemprotkan sedikit parfum guna mengurangi aroma baju yang sudah lama tidak aku pakai.
****
Disaat aku sibuk sendiri, ternyata Mas Arlan sudah memesan satu porsi pizza berukuran sedang serta dua gelas minuman bersoda. Ia memintaku untuk bersantap bersamanya. Dikarenakan perut lapar, tanpa pikir panjang lagi aku menuruti permintaannya.
"Jadi, Selli dimana? Kan aku tadi bilang bawa dia," tanyaku.
"Nggak dibawalah, kamu aja ngambek gitu. Kalau Selli liat kamu nangis tadi gimana?"tanya Mas Arlan kembali.
"Iya sih. Emm... jadi penjelasan anda bagaimana Bapak Arlan Mahendra?"
"Memangnya tadi Nona Fanni berpikir bagaimana?"
__ADS_1
"A-aku pikir, kamu bakal balik sama Nia, Mas. Apalagi demi Selli."
Mas Arlan menghentikan santapannya. Ia mengambil tissu untuk membersihkan jari jemarinya yang kotor. Setelah itu, ia meraih wajahku kembali. Tatapan matanya begitu tajam, seakan-akan mampu menembus jantung dan hati. Namun, tak lama kemudian ia mengambil satu tissu lagi. Ia membersihkan wajah dan bibirku.
Tiba-tiba saja, Mas Arlan kembali berbuat tidak benar. Lelaki ini selalu ada cara untuk mencari kesempatan. Bahkan, ia tidak peduli situasi bersantap ini. Ia mengecupku dengan serius. Namun, aku segera menarik wajahku. Aku tidak ingin terlalu lama. "Apa-apaan sih, Mas?" tanyaku tegas.
"Nggak apa-apa, sayang. Gemes aja, kamu belum percaya sama Mas ya?" tanyanya kembali.
"Kamu yang nggak percaya sama aku. Kalau percaya, kenapa kamu nggak ngomong soal pertemuan kamu dengan Nia?"
"Mas cuman nggak mau merusak situasi hati kamu yang sedang bahagia, Dek. Dan Mas sebenarnya udah bilang sama mama kamu. Terus beliau ngasih saran, jangan bilang dulu sama kamu. Soalnya, khawatir kamu berpikir macam-macam dan down sebelum hari H."
Ibuku? Sejahat itukah mereka? Sampai hal semacam inipun, aku tidak diizinkan untuk mengetahuinya. Padahal, aku adalah pelaku utama didalam cerita ini. Hanya dengan alasan seperti itu? Bahkan, Nia sendiri sampai membuntuti Mas Arlan dan mempermalukanku. Apakah aku memang sebodoh itu?
Aku berpikir sejenak, mencoba mencerna setiap penjelasan yang tidak terduga ini. Dan atas keterlibatan ibuku didalamnya. Sejujurnya, aku merasa kecewa karena telah dianggap bodoh secara tidak langsung. Meski aku tahu, ini semua demi diriku. Hanya saja, tetap tidak pantas. Apalagi hal gila sempat terjadi secara tiba-tiba. Ketidakjujuran semacam ini akan berdampak lebih mengerikan, jika tidak segera dibicarakan. Terlebih, aku sempat berpikiran sempit dan macam-macam. Dan, bagaimana jadinya, jika aku benar-benar menyerah hanya karena salah paham?
"Mas," ujarku. "Kamu tau kan? Kalau didalam sebuah hubungan harus ada kejujuran dan kepercayaan?"
"Mas tau, Dek," jawab Mas Arlan.
"Aku kecewa, Mas atas semua ini. Gara-gara hal disembunyikan seperti ini, hatiku sempat kacau dan menangis kayak tadi. Gimana jadinya kalau aku udah benar-benar nggak percaya sama kamu, Mas?"
"Ya janganlah, Dek. Mas kan juga posisinya bingung, makanya minta saran sama mama kamu, sebelum bertindak. Lagipula, Mas juga khawatir kalau kamu sampe down lagi."
"Yaudah lupain itu. Jangan diulangi lagi ya? Sekarang, aku mau tanya soal hubungan kalian?"
"Ya kayak tadi sianglah, Dek. Gila apa? Mana mungkin, Mas masuk lubang hitam untuk kedua kalinya. Demi Selli? Demi Selli, ya sama kamu, bukan dia. Mas cuman ngasih izin ketemu anaknya aja. Ketemu Celvin Sanjaya aja, Mas nggak suka. Apalagi Nia yang jelas-jelas biang keladinya."
"Celvin Hariawan Sanjaya?"
"Ya itulah, siapapun namanya."
Senyumku mengembang lebar. Bukan bangga karena Mas Arlan mengatai Nia, namun cara pandangnya terhadap segala sesuatu. Kalau jujur dalam hati, aku merasa senang karena ia tetap memilih diriku yang tidak secantik mantan istrinya itu. Satu ujian selesai, mungkin masih ada beberapa hal lagi karena waktu satu bulan akan terasa lama.
"Tapi, Dek. Nia itu keras kepala, mungkin beberapa kali ke depan, dia bisa datang lagi," jelas Mas Arlan.
Aku sendiri sudah menduga akan hal itu. "Terus kamu mau gimana, Mas?" tanyaku.
"Hadapi sampai dia jengah."
"Kamu yakin nggak tergoda cintanya lagi?"
"Yakin banget. Ada gadis bule yang ternyata cintanya nggak main-main sama, Mas. Sampe nangis tidak karuan demi, Mas. Ngapain Mas harus peduliin orang yang udah berkhianat itu?"
"Hmm... itu gara-gara kamu nggak ngasih penjelasan dengan cepat!"
"Kamu yang motong mulu, Dek. Tapi nggak apa-apa, Mas jadi semakin yakin akan cinta kamu, Dek. Terima kasih ya, sayang."
Senyuman lega dan tulus akhirnya bisa tergambar lagi di wajahku. Yah, aku memang benar-benar mencintai pria ini. Dan seandainya Nia hadir lagi, aku siap memberanikan diri untuk memperjuangkan cintaku dihadapannya. Lagipula, kini aku adalah pemilik yang baru dan akan disahkan sebentar lagi. Untuk Selli, aku bisa melepas sedikit, meskipun masih tidak rela jika gadis kecil tersebut bersama ibu yang jahat. Namun, apa boleh buat, tidak ada mantan ibu di dunia ini. Selli juga harus mengenal sosok ibu kandungnya.
Begitulah malam ini berakhir dengan penjelasan yang melegakan. Pizza yang menemanipun perlahan habis. Karena kekenyangan, aku memilih menggelar kasur lantai dibawah dan merebah disana.
Bersambung...
Budayakan tradisi like+komen...
hayukk guys ,bantu vote aku pakai poin. Biar bisa masuk 20 besar sekali-kali hehehe
__ADS_1