Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Time to Fanni & Arlan.


__ADS_3

Selang waktu berlalu. Ibuku telah kembali dan dijemput ayahku, tepat pukul sembilan malam. Selepas pulangnya beliau, Mas Arlan kembali manja seperti biasa. Bahkan, kini lebih berani lagi. Tak jarang, ia memainkan lipatan lemakku. Karena terlalu keras kepala, aku sampai jengah dan membiarkannya saja.


Beberapa saat yang lalu, Mas Arlan mengikutiku dari belakang. Saat aku menanyakan apa maksudnya, ternyata ia ingin bergabung denganku. Lagi-lagi aku pasrah, karena sikap dan rayuan maut suamiku tersebut. Beruntungnya, Selli telah tidur dengan belaian dari ibuku. Sehingga, terjadilah suatu ritual diantara aku dan Mas Arlan tanpa merasa khawatir.


Suamiku memang luar biasa tangguh. Jujur saja, aku sampai kewalahan. Setelah selesai mandi, ia masih melanjutkannya didalam kamar. Yah, aku hanya diam mengikutinya saja. Memberikan kesempatan melepas rindu untuknya. Mengingat kesibukan di hari mendatang masih akan menyerang. Mungkin kesempatan emas akan jarang didapatkan.


Setelah semua itu, kini kami berbaring bersama. Mengatur napas dan saling berpandangan. Mas Arlan tersenyum penuh makna. "Makasih ya, Dek," ujarnya.


Aku tersenyum. Lantas menjawabnya, "Iya sayang."


"Nanti kalau punya anak, mirip siapa ya?"


"Mirip salah satu dari kita dong, Mas. Yang penting badannya jangan kayak aku."


"Nggak apa-apalah, Dek. Biar imut, kamu kan cantik dan sexy hehehe."


"Nggak mau. Nanti anakku kena bully sama orang lain."


"Ya, jangan sampai sayang."


"Amin."


Mas Arlan merubah posisinya dan menatap langit-langit kamar. Aku tertegun. Sepertinya ada sesuatu yang ia pikirkan. Aku rasa mengenai keuangan atau permintaan ibuku tentang seorang cucu. Jika saja Mas Arlan bersedia menggunakan tabunganku, pasti ia tidak akan se-pusing sekarang ini. Kami sudah saling bicara, namun ia tetap menolak saranku.


Padahal, aku bukan tipikal manusia yang suka perhitungan. Lagipula, aku paham akan kesulitan ekonomi yang sedang suamiku alami. Resepsi pernikahan kami memakai dananya pribadi. Tanpa bantuanku ataupun keluargaku, lantaran ia menolak. Belum lagi, biaya sekolah Selli yang tidak sedikit. Lantaran, sekolah si kecil itu, lumayan bagus dan lebih mahal dari sekolah pada umumnya.


Aku paham apa yang dirasakan Mas Arlan. Ia masih belum bisa beradaptasi menjadi orang biasa secara sepenuhnya. Memang benar, ia telah mundur dari jabatan sejak lama. Namun, sebelum menikah denganku, tentunya ia hanya memikirkan Selli. Kebiasaannya memanjakan Nia pun masih sering terbawa. Sampai rela membelikan barang-barang yang tidak murah untukku. Seperti beberapa perhiasan, misalnya. Padahal aku tidak pernah memintanya sekalipun.


"Mas? Kamu kenapa?" tanyaku.


"Nggak apa-apa, Dek. Hehe," jawab Mas Arlan.


"Jangan suka ngumpetin masalah dari istri lho."


"Enggak sayang. Mas bingung aja, baru kali ini uang Mas hampir habis. Tidak sampai 10 juta malah."


Kuhela napasku perlahan-lahan. "Kan ada uangku, Mas. Kalau ada keperluan, kamu bisa pake kok."


Mas Arlan menggelengkan kepalanya. Ia kembali menghadapku. Matanya menyipit, entah karena lelah pikiran atau lelah karena tingkahnya barusan. Ia meletakkan tangannya diatas diriku. Kami saling melempar pandang yang meyakinkan.


Aku pernah mendengar, kalau salah satu cobaan pernikahan adalah masalah keuangan. Kemudian dilanjutkan dengan emosi dan ego masing-masing insan. Entah mitos atau fakta, yang pasti namanya masalah pasti selalu ada. Apalagi didalam rumah tangga. Semua tergantung bagaimana manusianya yang bersikap. Jika lebih dewasa, semua akan segera tuntas dan indah pada waktunya. Namun, jika mudah putus asa, maka akan berakhir pada waktunya.


Sedangkan diriku selalu berharap, apapun masalah kami, semua bisa segera selesai dengan baik. Tidak ada pertikaian yang besar antara aku dan suamiku. Boleh saja, untuk perdebatan kecil sebagai bumbu pelengkap. Setelah itu, berakhir dengan keromantisan seperti biasa. Lagipula, Mas Arlan sudah memiliki pengalaman dalam rumah tangga. Aku yakin ia banyak belajar dari pengalaman.


Mas Arlan membelai pipiku dengan lembut. Ia memandangi mataku yang biru keabu-abuan. Lantas, ia tersenyum, seolah sedang memberikan pujian kepadaku secara tidak langsung. Sama sepertinya, aku juga memandangnya. Matanya bernetra hitam legam, wajahnya sangat manis seperti madu yang membuatku candu. Ia lelaki pertama yang bisa mengangkat derajatku, dari si gendut jomblo akut menjadi si gendut yang laku.


Bentuk fisikku sama sekali tidak membuatnya terganggu. Meski sering menggodaku dengan sebutan sexy sekali. Tak jarang pula, ia memainkan lipatan lemakku seperti tadi. Katanya menggemaskan. Entah, bagaimana aku harus bersikap akan kelakarnya itu. Yang pasti Mas Arlan selalu membuatku tersenyum. Ia cukup manja dalam bercanda, bagaikan anak SMP yang baru memasuki masa pubertas. Namun, ia cukup dewasa dalam berpikir dan menyelesaikan berbagai masalah. Ia hanya terlalu bodoh, karena selalu mengalah.


"Ya Mas?" tanyaku.


Mas Arlan masih menggelengkan kepala. Lantas menjawabku, "Nggak Dek. Kata orang, uang suami adalah uang istri. Uang istri adalah uang istri juga. Lagian Mas yang punya kewajiban mencari nafkah sayang. Kamu tabung aja uang kamu, buat kamu sendiri."


"Nggak gitu juga kali, Mas. Banyak kok, jaman sekarang istri yang bekerja. Bahkan jadi tulang punggung keluarga."


"Itu kan orang lain, sayang. Mas nggak mau kayak gitu."

__ADS_1


"Ya aku tau. Tapi juga harus liat situasi lah sayang. Lagian aku nabung, juga buat masa depanku. Nah masa depan aku kan kamu dan anak."


"Makasih sayang hehe. Tapi, selagi Mas bisa, Mas nggak akan minta. Mungkin, kalau udah kepepet."


"Hmm... jangan terlalu terbiasa memanjakanku Mas. Aku juga pengen berperan dalam hidup kamu."


"Iya sayang. Makasih ya, i love you."


Kata orang, wanita diuji ketika pria sedang tidak punya uang atau harta. Sedangkan, pria diuji pada saat bergelimang harta. Aku rasa, aku bisa lolos dari ujian tersebut. Apalagi aku tidak cukup cantik untuk berkhianat. Kalaupun aku cantik, aku pasti akan tetap bertahan bersamanya. Semoga saja suatu saat, jika Mas Arlan kembali bergelimang harta, ia berlaku sama sepertiku. Bertahan bersama si gendut dalam keadaan apapun.


Ah... aku menjadi gemas sendiri, kalau berkhayal tentang hal itu. Kupeluk erat diri Mas Arlan. Erat sekali, sampai ia meronta ingin melepaskan diri. Kulepaskan jeratanku dan kukecup habis wajahnya. Ia gelagapan dan tertegun, setelahnya. Mungkin heran atas sikapku yang tidak seperti biasanya. Lantas, menatapku penuh tanda tanya di wajahnya.


"Apa?" tanyaku.


"Nggak apa-apa, Dek. Akhir-akhir ini, kok kamu agak berani ya?" tanyanya kembali.


"Aku gemes sama kamu, Mas. Kalau boleh digigit, aku pengen gigit kamu hehehe."


"Jangan dong. Ntar kalau lecet gimana, kulit Mas?"


"Ih... kemayu banget. Emm... ngomong-ngomong mantan kamu ada berapa, Mas? Kecuali Nia?"


"Apa sih, nanyain mantan. Mantan Mas cuma nenek sihir itu doang. Udah, jangan bahas masa lalu nggak penting."


Aku memanyunkan bibirku, tanda kecewa. Padahal, aku hanya ingin tahu se-populer apa suamiku saat masa mudanya. Namun, Mas Arlan enggan menjelaskan. Entah karena apa. Kalau seperti ini, aku mulai menerka.


Jangan-jangan, Mas Arlan mantan playboy? Jangan-jangan, Mas Arlan mantan badboy?


Begitulah kiranya pertanyaan yang muncul dalam benakku. Terkadang rasa cemburu pada masa lalu memang muncul dalam hatiku. Mungkin, itulah alasan Mas Arlan tidak ingin membahasnya denganku. Namun tetap saja, aku sangat amat penasaran. Setidaknya aku perlu tahu masa lalunya, meskipun secuil biskuit.


"Nggak, nggak apa-apa," jawabku ketus.


"Lah... ngambek lho. Kenapa sih, harus bahas masa yang udah lalu? Ya ampun, Dek. Imutnya."


"Ya nggak apa-apa. Tapi kan, setidaknya aku tau, gimana masa muda kamu, Mas. Apakah seorang yang baik hati? Atau badboy or playboy?"


"Haha... Dek, Dek. Iya iya. Sebenarnya Mas dulu culun banget, pake kacamata dan kutu buku. Tapi tetap aja ganteng. Banyak yang suka kirim bunga, surat terus cokelat."


"Bunga? Hahaha."


Mas Arlan mencubit hidungku cukup keras dan aku rasa menimbulkan warna merah diujungnya. Karena aku tertawa cukup keras dan terkesan menertawakan dirinya. Dan itu memang benar adanya. Yah, siapa yang tidak akan tertawa jika seorang lelaki dikirimi setangkai bunga. Kalau untuk cokelat dan surat itu masih wajar. Apalagi di masa lalu, ponsel belum cukup tenar seperti sekarang.


Aku memasang wajah berharap, supaya Mas Arlan meneruskan ceritanya. Sepertinya akan seru jika digali lebih dalam. Lagipula, aku cukup penasaran dengan hubungannya dan Nia bisa sampai ke jenjang pernikahan. Memangnya Mas Arlan dulu sebodoh apa, sampai tidak bisa mengenali sifat asli wanita licik itu?


"Kamu dulu pernah kena bully ya, Dek?" tanya Mas Arlan.


Aku mengangguk pelan. Lalu menjawabnya, "Iya Mas. Coba aja, aku dulu ketemu kamu. Pasti aku lebih berani sama mereka-mereka, Mas. Tepatnya pas kuliah, karna beasiswa, akhirnya aku bisa masuk kampus elit. Jadi, resikonya ketemu sama orang-orang cantik dan kaya, plus julid."


"Yaudah yang sabar. Semua udah lalu, sekalipun kamu ketemu Mas juga sia-sia, Dek. Mas ini juga korban bully lho, sayang."


Aku terkejut seketika. "Kok bisa, Mas?"


"Mas kan kuper, Dek. Nggak separah kamu sih, tapi Mas dijauhin anak-anak cowok gara-gara nggak seru. Mainnya buku, walaupun masih ada yang naksir. Tapi kan, reputasi Mas udah jelek. Pernah dikatain banci malah."


"Kok Mas nggak pernah bilang?"

__ADS_1


"Ngapain? Toh, udah lalu Dek. Sakit hati sih ada, tapi Mas coba buat tenang. Nggak peduli, daripada masalahnya panjang. Apalagi dulu perusahaan Mas belum sebesar sekarang. Mereka lebih berani."


Sangka tak disangka, ternyata suamiku pernah mengalami pembullyan juga. Ini sulit dipercaya, lantaran ia tidak terlihat seperti itu. Selama inipun, Mas Arlan tidak pernah membahasnya. Kini aku sadar, sifat Mas Arlan yang selalu mengalah bukan karena bodoh. Melainkan kebiasaannya bersikap lebih tenang dan tidak ingin membuat masalah.


Pradugaku salah kaprah. Ia bukan badboy ataupun playboy. Melainkan goodboy yang sangat pintar. Namun, kebaikan hatinya tidak membuatnya lebih mujur. Pada akhirnya, ia mengalami perceraian, dikucilkan oleh keluarga dan baru memiliki seorang anak diusia yang tidak lagi muda. Mengapa, Mas Arlan selalu tabah dalam menghadapi hidupnya? Padahal, diriku sempat frustasi bahkan hampir mati karena kisah hidupku. Harus dengan apa lagi, aku mengungkapkan kekagumanku kepada suamiku ini?


"Hei? Kok nangis?" tanyanya lagi.


Tak sadar aku sampai menitikkan air mataku. "Oh... enggak kok, Mas," jawabku.


"Haha... kamu kenapa? Ngenes banget ya, kisah hidup suami kamu ini?"


"Iya. Kok kamu bisa kuat sih, Mas?"


"Ya mau gimana lagi, Dek. Kalau udah digariskan kayak gini, wajib bersyukur. Toh, Mas masih bisa hidup, makan dan membesarkan Selli. Apalagi sekarang ada kamu."


"Aaaaa... kamu sweet banget sih?"


"Iya dong. Mas Arlan gitu loh!"


Tanpa persetujuannya, aku mengecupnya. Untuk beberapa saat, ia tertegun. Namun, kemudian membalas perbuatanku itu. Kami jatuh ke dalam keromantisan lagi. Penuh kasih sayang dan cinta yang mengiringi. Akhirnya, ia sudah tidak bisa membendung rasa khususnya. Dan kami mengulanginya lagi.


****


Pukul 00.30 WIB, mataku dan Mas Arlan masih saja segar. Padahal, sudah cukup lelah, namun mata masih enggan terpejam. Mungkin besok akan kewalahan jika kesiangan.


"Kamu nggak tidur, Mas?" tanyaku.


"Mas masih syok, Dek," jawabnya. "Kamu ganjen banget sekarang sama Mas?"


"Hehe... aku gemes sama kamu, Mas. Emang nggak boleh?"


"Boleh sih. Mas malah seneng, sering-sering ya sayang."


"Kalau ada waktu, Mas hehe."


"Dasar bininya Arlan. Cantik banget sih kamu, Dek. Gini ya rasanya punya istri dari Belanda, montok lagi haha."


Aku mencubit lengan Mas Arlan seketika. Kesal dengan ungkapan katanya. Bukan karena tersinggung, hanya sebal saja. Sepertinya, aku perlu membuat sebutan khusus untuk suamiku. Namun, untuk saat ini aku tidak tahu, kata yang tepat untuk memanggilnya. Ia terlalu sempurna, nyaris cacat. Yah, kecuali soal usia. Mana mungkin, aku memanggilnya aki-aki tua. Kedengaran konyol dan tidak pantas. Meskipun berumur, suamiku masih cukup manis dan awet mudah. Lantas, sebutan apa yang tepat untuk dirinya?


Masa' si manis? Ah... konyol. Jatuhnya kayak hantu jembatan hihi.


Memikirkan hal semacam itu saja, benakku melayang-layang. Ternyata aku tidak cukup jenius dalam hal semacam itu. Berbeda sekali dengan suamiku. Tanpa kusadari, Mas Arlan sudah terlelap pulas dengan posisi yang menghadapku. Sama seperti sebelumya, ia sedikit menganga sembari mendengkur. Memandang tidurnya, aku bertanya dalam hati tentang bagaimana rupaku saat tidur. Apakah, lebih jelek dari Mas Arlan? Akan tetapi, suamiku masih saja tampan, meski seperti itu. Aku berharap tidak seburuk itu, reputasi bisa hancur. Sudah gendut, masa' iya tidurnya jelek, ngorok atau bahkan seperti baling-baling helikopter.


Kupandangi wajah suamiku terlebih dahulu, sebelum aku pejamkan mata. Aku mengucap pujianku kepada sang Pencipta, kemudian dirinya. Rasa syukurku sungguh tiada terkira.


Aku mencintaimu, Mas. Kemarin, hari ini, lusa dan nanti. Bahkan selamanya. Tidurlah suamiku, mimpi yang indah dalam lelapmu. Bangunlah esok hari dengan harapan yang baru. Demi bahagia kita. Bahagianya kamu, aku dan anak kita. Semoga, segera ditiupkan juga satu nyawa dalam rahimku. Supaya keluarga kita lengkap bersama anak-anak yang lucu.Termasuk putri kita, Selli.


Tak lama kemudian, kantuk luar biasa mulai menerpa. Tanpa kusadari, aku tertidur nyenyak dengan harapan baru di esok hari nanti.


Bersambung...


...HAIGUYSS.. BALIK LAGI SAMA FANNI DAN ARLAN. JADI GIMANA? BANTU FANNI DONG, NYARI SEBUTAN TERSAYANG BUAT SUAMI TERCINTAA... HEHEHEHE..


LIKE+KOMEN...

__ADS_1


akhir2 ini like menurun. coz, aku sedih bnget sumpeh deh


__ADS_2