Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Hari Pertama


__ADS_3

Malam itu Mas Arlan ikut tertidur didalam kamarku. Namun, bukan di ranjang melainkan pada kursi santai yang ada disana. Disaat aku ingin memastikan, aku hanya bisa menatapnya dari ambang pintu kamar.


Melihat wajah lelah seorang ayah yang membesarkan anaknya sendiri. Rasa salut serta iba merasuk kedalam hatiku. Sehingga aku tidak tega untuk membangunkannya. Beruntung tepat jam delapan malam mereka terbangun, lebih tepatnya Selli merengek sampai Mas Arlan tersadar.


Mas Arlan meminta maaf kepadaku malam itu. Ia ragu-ragu ingin mengajakku keluar sesuai rencana awal karena sudah malam. Sampai akhirnya aku memilih memberikan saran supaya Mas Arlan segera pulang, aku kasihan melihat Selli yang masih terkantuk-kantuk.


Dan di pagi hari ini, aku sangat gugup melihat diriku sendiri dari pantulan cermin rias. Semua akan dimulai dari detik ini. Bekerja dengan atasan yang sangat tampan, menjalani pekerjaan baru, lalu menghadapi semua tatapan iri dengki dari beberapa orang.


Benar saja, ketika di kantor masih ada beberapa orang yang bersikap seperti perkiraanku. Namun, tentunya tidak semua orang seperti itu.


"Pagi Fanni," Sapa Nike dari arah belakangku ketika aku berjalan dari arah parkiran menuju gedung.


"Pagi juga Nike," Jawabku.


"Kok loyo sih Fann semangat hari pertama lho."


"Sebenarnya gue takut."


"Jangan takut, bosnya ganteng lho hihi."


"Apa sih Ke, justru itu yang bikin takut."


"Hmm... pikirin bapaknya Selli aja Fan hihi."


"Nike!"


Sebelum aku mendaratkan cubitan pada bahunya, Nike berlari lebih dulu. Sungguh wanita satu ini membuatku benar-benar tengsin.


Akhirnya kami memasuki lift yang sama. Masih saling bercanda dan berbincang bersama. Mulai hari ini, aku tidak bisa bekerja bersama Nike. Namun, aku masih mengharapkan untuk makan siang atau kemana pun bersamanya.


"Fanni sedih tauk disampingku bukan kamu lagi," Ujar Nike.


"Sama Ke, makanya agak khawatir gue," Jawabku.


"Yang penting semangat ya, jangan minder lagi yang penting kita kerja bener jangan denger kata orang."


"Makasih ya Ke udah selalu support gue."


"Kamu sahabat aku Fann jangan sungkan kalo butuh apa-apa ya."


"Emm... salam buat Tomi. Gue takut nggak sempet ketemu."


"Iya Fann disampein. Semangat ya, good luck!"


Aku membalasnya dengan tersenyum. Aku dan Nike berpisah ketika keluar dari lift. Kami menuju kearah yang berbeda.

__ADS_1


Sialnya, aku masih saja berjumpa dengan Mita. Tampaknya ia baru saja dari ruangan Celvin. Aku cukup heran juga, tidak biasanya seorang Mita sudah di kantor dijam sekarang.


"Hei--" Kata Mita yang belum selesai sembari menghadangku.


"Ohh bawahan!" Ujarku tajam untuk memotong perkataan buruknya yang akan ditujukan kepadaku.


"Jangan sok loe."


"Bukan sok, tapi memang saya sudah menjadi atasan anda. Jadi, mulai detik ini jangan pernah mengganggu saya atau saya akan adukan anda pada Pak Celvin."


"Loe ngancem gue?"


"Nggak, itu peraturan yang tertera pada perusahaan untuk tidak menyebabkan masalah bagi sesama karyawan apalagi atasan. Toh kalo saya aduin, seorang atasan tetap akan mempercayai sekretaris sekaligus asisten pribadinya kan?


"Sial! Awas loe ya!"


Mita mendengus kesal sambil berjalan meninggalkanku. Sedangkan aku masih berdiri sembari menghela napas lega. Jujur saja, aku masih sangat gemetaran menghadapi Mita. Apalagi ia merupakan manusia yang tidak akan tinggal diam.


Namun, aku berusaha untuk tidak terlalu khawatir. Aku berharap semua ancaman maksudku perkataan tegas yang aku lontarkan dengan segala keberanian kepada Mita bisa memberi efek jera. Semoga saja.


"Fann masuk," Ujar seseorang memanggilku dari arah ambang pintu sebuah ruang.


"Iya Pak," Jawabku.


Dengan cepat aku melangkah kesana. Menuju sebuah ruang milik orang tersebut yang tidak lain adalah Celvin.


"Sini," Pinta Celvin.


"Baik Pak," Jawabku sembari menuruti perintahnya.


"Nih ruangan kamu."


"Ha... harus disini ya Pak?"


"Iyalah, Pak Ruddy kan dulu juga gitu dan karena papa saya sudah pensiun asisten beliau pun ikut pensiun karena memang sudah cukup berumur."


Aku menatap sebuah ruangan kecil yang diberikan Celvin kepadaku. Ruangan ini hanya bersekat kaca dan bersebelahan dengan Celvin. Mungkin karena Celvin maupun Pak Ruddy adalah tipe orang yang sama. Makanya mereka menginginkan asisten pribadi sekaligus sekretaris memiliki ruang yang sangat dekat untuk kelancaran dalam bekerja.


Wanita mana yang tidak iri denganku jika seperti ini. Dan wajar saja, jika sekarang semua wanita dari divisi manapun menatap gemas kepadaku. Namun, yang lebih aku takutkan sekarang adalah kefokusan. Aku takut tidak bisa bekerja dengan baik seperti yang selama ini aku pikirkan. Sekali lagi, aku takut grogi bekerja bersama seorang pangeran. Apalagi belakangan ini, fokusku terganggu karena wajah Celvin yang terus muncul dalam benakku.


"Hei kenapa kok bengong?" Celetuk Celvin membuyarkan lamunan gelisahku.


"A.. anu Pak," Jawabku tergagap.


"Anu anu, udah gih sana duduk soal proposal kemarin sudah dipelajari kan?"

__ADS_1


"Sudah Pak."


"Saya ingin kamu buatkan daftar pertemuannya dengan klien yang masuk daftar dalam proyek itu."


"Baik Pak."


"Emm... satu lagi jangan lupa disiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan ya. Soal strategi entar saya minta Mita aja dari orang-orang divisinya."


"Baik Pak."


"Fann?"


"Ya? Ada lagi Pak?"


"Please panggil aku Celvin aja ya manis hehe."


Ya Tuhan! aku butuh air dingin sekarang. Wajahku, leherku, telingaku, tengkukku, dan seluruh tubuhku terasa panas. Aku bagaikan melayang mendengar ucapan Celvin yang terakhir sebelum ia kembali ke meja kerjanya.


Entah sengaja meledekku atau bagaimana. Yang pasti tingkahnya sama seperti saat pertama kali kami bertemu. Dan kini malah terlihat lebih tengil. Namun, kharisma dan ketampanannya semakin terpancar.


"Hei Fanni?" Panggil Celvin lagi dari arah mejanya berada.


"I... iya Pak," Jawabku salah tingkah.


"Ngapain? Udah sana duduk."


"Iya Pak iya saya duduk."


Bertambah parah saja rasa maluku. Aku tidak sadar jika tubuhku masih terpaku ditempatku berdiri sejak tadi.


"Celviiiinnnnn gimana gue bisa fokus?????" Gumamku dalam hati.


Di hari pertama, aku sangat bekerja keras. Selain berusaha mengumpulkan semua fokusku yang kadang kala terpecah karena sosok atasanku tersebut. Aku juga ingin dinilai bisa bekerja dengan baik.


Semua aku lakukan tentunya untuk diriku sendiri. Jangan salah paham, aku tidak akan mencari perhatian. Karena memang selama ini aku selalu bekerja dengan tulus, karena aku merasa semua gaji yang diberikan perusahaan ini sangat cukup.


Selain itu, aku masih sadar diri. Aku hanya secuil debu jika dibandingkan dengan Celvin. Aku tidak mau berharap terlalu banyak. Dari perasaanku yang masih belum jelas antara suka atau hanya sekedar kagum. Bahkan jika benar aku menyukai Celvin, pasti aku akan memendam rasa itu sendirian sampai mati.


Bersambung...


Selamat membaca, tetap baca, tetap like, tetap komen, janjiiii lhoooooo yaaaaa!!


SILAHKAN MAMPIR JUGA DI NOVELKU, jika berminat โ˜บ๏ธ


Who is My Love

__ADS_1


INI COCOK YA JADI NIKE SAMA SUAMINYA MAS RONI ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜



__ADS_2