Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Lega Rasanya


__ADS_3

"Akan ada saatnya, dimana kamu dipertemukan dengan seseorang yang bisa menerima segala kekuranganmu. Bersabarlah dahulu, untuk kamu yang sedang patah hati. Karena cinta sejati sudah menanti, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk bertemu. Rajutlah kembali asa yang sempat terputus. Persiapkan dirimu sebaik mungkin, agar kamu pantas berada disisinya." -Fanni.


_____________________________________________


Tubuh beliau begitu ringkih karena sudah menua. Wajah beliau terlihat sayu, seolah sudah pasrah dengan takdir yang akan datang. Takdir tentang kematian. Mungkin, untuk seseorang yang berusia senja bisa merasakan hal itu. Aku rasa setiap manusia memiliki kelelahan dalam menghadapi kehidupan ini. Ada saatnya kita semua ingin istirahat dengan tenang disamping Tuhan.


Jika menatap Ibu Darsi dan mengingat hal itu, aku masih saja sesenggukkan. Air mataku keluar tanpa seizinku. Sampai Mas Arlan keheranan, ia mempertanyakan alasan apa yang membuatku menangis. Namun, aku masih enggan menjelaskan. Aku tidak sanggup mengulangi ucapan yang disampaikan sang Ibu padaku. Karena, akupun tau, Mas Arlan juga tidak akan sanggup mendengar semua itu.


Hingga pukul sepuluh malam telah tiba. Karena tak enak hati, akhirnya aku mohon izin untuk undur diri dari pertemuan haru ini. Kukecup kembali tangan Ibu Darsi sebelum pulang. "Ibu saya mohon diri untuk pulang," pamitku.


"Pulanglah, sudah malam. Tidak baik juga kalau terlalu larut baru pulang, terima kasih untuk malam ini. Tolong tepati janjimu ya, Nak," jawab beliau.


"Saya berjanji akan menepatinya, Ibu."


Beliau tersenyum lembut. Sangat sanggup untuk meneduhkan setiap insan yang menatap. Lalu berkata lagi, "Bagus, Nak. Saya yakin kamu bisa. Arlan antar Nak Fanni pulang ya?"


Mas Arlan yang sudah berada disini sejak tadi, menoleh kepada kami. "Baik, Ma," jawabnya.


Kuraih telapak tangan Ibu Darsi lagi. Aku kecup untuk kedua kalinya disertai ucapan salam. Beliau masih saja tersenyum. Lalu aku dan Mas Arlan meninggalkan beliau di rumah ini. Kami berjalan bersama untuk keluar rumah. Menghampiri mobil Mas Arlan yang masih terparkir tenang.


Setelah sampai, Mas Arlan membukakan pintu mobil untukku. Aku tersenyum padanya sebagai tanda terima kasihku. Kami sudah berada didalam mobil, lalu Mas Arlan mulai melajunya meninggalkan rumah. Tentunya dengan membawa sejuta kelegaan serta kerisauan. Aku bahagia, namun ada sisi khawatir yang muncul.


Yah, semoga saja beliau selalu sehat sampai kami bisa merajut sebuah keluarga nantinya.


Suasana perkotaan memang tidak pernah mati. Meskipun sudah larut malam, ada saja orang-orang yang masih berjualan. Mobil masih lumayan ramai walau tidak penuh. Anak muda terlihat dibeberapa tempat sedang menongkrong dengan gitar dan sepeda motornya. Inilah yang menjadi salah satu kehangatan kehidupan di kota.


"Dek, tadi bahas apa sih?" tanya Mas Arlan.


Aku masih pura-pura tidak tau. Lalu menjawabnya, "Nggak bahas apa-apa kok, Mas."


"Serius sayang, kok kamu nangis nyampe segitunya. Mama nggak bilang sesuatu yang menyakitkan kan?"


Aku tersenyum padanya dan berkata, "Tidak sayang, kamu tenang aja."


"Hmm..."


Mas Arlan kembali diam. Namun, raut wajahnya masih terlihat tegang saat aku meliriknya. Sebisa mungkin ia berfokus pada perjalanan ini. Demi memecah kesunyian ini, aku memberanikan diri untuk memutar lagu kesukaanku dimobil Mas Arlan. Suara musik bergenre rock mengalun kencang, sampai Mas Arlan terkejut.


Aku rasa ia tidak terlalu menyukainya. Ia hanya berpura-pura menikmati demi membuatku nyaman. Pria yang baik. Padahal, ia tidak perlu seperti itu. Karena aku paham, akan ada perbedaan diantara kita. Namun, herannya Mas Arlan terus memaksakan diri. Membuatku tak enak hati, lalu terpaksa mematikan musik tersebut.


"Kok dimatiin, Dek?" tanya Mas Arlan padaku.


"Berisik, Mas," jawabku.


"Bukannya kamu suka?"


"Suka sih, tapi ada orang yang terpaksa menikmati. Jadi, aku nggak enak Mas sama orang tersebut."


"Si-siapa maksud kamu? Mas?"


Kuanggukkan kepalaku tanda mengiyakan pertanyaannya. Sedangkan Mas Arlan hanya tertawa.


"Kata siapa kamu, kalau Mas tidak suka?" tanyanya lagi.


"Aku taulah Mas, nggak perlu nanya siapapun. Tapi, Mas kamu nggak perlu jadi orang lain. Apapun diri kamu, aku siap menerima kok," ujarku.


"Duhh... manisnya pacarku. Tapi, Mas cuma berusaha samain selera, Dek. Supaya kita kompak aja."


"Jangan, kita saling lengkapi perbedaan aja ya?"


Mas Arlan menoleh kepada diriku, kemudian tersenyum lagi. Ia menghentikan mobilnya tiba-tiba, dipinggir jalan. Sampai aku keheranan. Apalagi waktu sudah semakin malam. Tentu saja, membuat hatiku risau. Bagaimana jadinya, kalau Ibu Darsi bertanya-tanya? Kalau sang anak belum juga kembali?


Pria ini memang selalu usil dan juga nekat. Sampai aku tidak bisa menghentikannya. Aku masih diam saja, sedangkan Mas Arlan meraih tanganku. Ia menggenggamnya sembari memberikan tatapan lembut padaku. "Dek, tadi mamaku bilang apa?" tanyanya.


"Pengen tau banget sih, Mas? Udah malem lho sayang, entar ibu bakal bilang apa? Kalau kamu nggak pulang-pulang?" tanyaku kembali.


"Ngomong dulu makanya, Mas kan juga perlu tau, Dek."


"Hmm... urusan wanita kok pengen tau sih, Mas?"


"Ayolah, Dek. Kamu sempet nangis gitu kan, Mas khawatir jadinya."

__ADS_1


"Yaudah, dengerin baik-baik ya. Alhamdulillah Ibu ngasih kita restu, Mas. Kita boleh menikah, asal masalah perusahaan keluarga kamu cepat selesai."


"Beneran? Jadi, kita sudah resmi sebagai calon pengantin dong? Ya Allah, Dek. Mas seneng banget, akhirnya usaha kita membuahkan hasil."


Bola mata Mas Arlan berbinar-binar, seolah sebuah cahaya bersinar dari dalamnya. Ia kegirangan bukan kepalang. Meski, ia sudah memperkirakan tentang ini. Akupun begitu, hatiku seolah bermekaran bunga-bunga mawar berwarna pink kemerahan. Terlebih menyaksikan kekasihku bahagia seperti ini.


Aku memiliki rasa bangga tersendiri. Dengan kondisi diriku yang seperti ini, sosokku bisa membuat ia bahagia. Padahal, aku tidak pernah berbuat banyak untukknya. Mas Arlanlah yang selalu gigih demi hubungan ini. Aku sendiri tak menyesal, sudah memilih duda beranak satu tersebut. Tak mengapa soal usia kami yang terpaut jauh, aku akan berusaha lebih dewasa untuk mengimbangi sikap Mas Arlan.


Tapi, ada hal yang perlu kubicarakan dengan dirinya terlebih dahulu.


"Mas, boleh aku ngomong sesuatu?" tanyaku.


"Ehh? Mau ngomong apa, Dek?" tanyanya kembali.


"Tapi jangan marah ya?"


"Iya, Dek."


Aku terdiam sebentar.


Lalu berkata, "Mas, bisakah kamu bantu perusahaan keluarga kamu?"


"Aku sedang membantu, Dek. Mau bagaimanapun itu peninggalan ayahku."


"Maksudku, tidak bisakah keluarga kalian berdamai dengan keluarga Sanjaya?"


"A-apa maksud kamu, Dek? Jangan konyol!"


Raut wajah Mas Arlan berubah seketika. Tampaknya, ia tidak bisa menerima saranku. Tapi, aku merasa harus berbuat ini. Menurutku, selain menguntungkan perusahaan. Kamipun bisa segera menikah, lalu hubungan Celvin dan Riska juga bisa membaik.


Meski, aku tahu. Tidaklah mudah merajut silahturahmi kembali. Bukan hanya kasus Celvin saja, tapi juga perselingkuhan Nia dengan kerabatnya. Kurasa tidak ada cara lain, selain berdamai. Dengan begitu perusahaan Harsono tidak akan mengeluarkan kerugian yang terlalu banyak.


Tapi...


"Mas, coba pikirin deh. Kalau perusahaan kalian bisa berdamai, pasti banyak berbagai keuntungan yang bisa didapat," ujarku.


"Nggak! Demi apapun saya tidak akan bersedia berdamai dengan mereka semua." Mas Arlan masih saja menolak. "Maksud kamu apa, meminta demikian? Ini bukan urusanmu, Dek. Jangan ikut campur, Mas bisa urus bareng keluarga besar! Kamu tinggal diam menunggu saja. Setelah itu keluar dari sana."


Deg! Apa-apaan? Jadi, maksudnya aku terlalu ikut campur?


Sumpah! Aku langsung terdiam malu. Ada rasa sakit tertanam dihati. Namun, kuakui sepertinya aku memang terlalu ikut campur. Hanya saja, kemarahan Mas Arlan yang demikian membuatku berpikir jauh. Sepertinya ada dendam yang tidak bisa ia buang. Atau Mas Arlan masih mencintai Nia?


Sontak saja, aku membuang pandanganku keluar jendela mobil. Ke sebuah ruko yang telah tutup. Hari semakin malam, membuatku semakin risau. Aku menyesal telah meminta semua itu. Hari yang seharusnya bahagia, malah kucoreng dengan kesalahanku.


Sedangkan, Mas Arlan kembali melaju mobilnya. Tak ada satu patah katapun yang terucap diantara kami. Hanya deru mobil dan keramaian kota yang mengisi kesunyian ini. Aku masih terlalu gengsi untuk meminta maaf padanya. Raut wajah yang dipasang Mas Arlan pun tidak aku ketahui.


Hingga beberapa saat kemudian, sampailah kami di gedung apartemenku.


"Makasih, Mas. Kamu hati-hati dijalan." Aku mengucap demikian diiringi gerakanku untuk turun dari mobilnya.


"Sama-sama, Dek," jawab Mas Arlan.


Karena masih kesal kepada Mas Arlan, aku tidak menunggunya sampai hilang dari pandangan mataku. Bahkan sebelum, ia pergi aku sudah berjalan masuk lebih dulu. Mungkin Mas Arlan juga merasa kecewa kepadaku.


Baiklah! Jangan ikut campur lagi! Tapi, bagaimana dengan pesan Ibu Darsi untuk membantu keluarga itu? Hanya diriku yang masih memiliki hubungan baik dengan Celvin sekarang.


Setelah sampai diatas, dimana kediamanku berada, aku membuka kunci pintu dan masuk kedalam. Meletakkan barang-barangku, lalu berganti pakaian. Tak lupa, kutunaikan ibadahku yang belum sempat terlaksana. Setiap do'a-do'a kupanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah Ta'ala.


Mungkin hanya delapan atau sembilan menit, durasi yang termakan untuk rutinitas tersebut. Ketika hendak merebahkan diri, suara bel pintu berbunyi beberapa kali. Sehingga, aku terpaksa menunda waktu tidurku. Aku mengambil langkah untuk menuju pintu. Entah siapa yang datang semalam ini.


Aku terperanjat lagi. Sepertinya jantungku perlu olahraga yang seperti ini. "Ma-Mas Arlan? Kenapa balik lagi? Nanti ibu marah lho," ujarku.


"Boleh masuk? Mas, udah bilang mau mampir ke suatu tempat dulu, Dek," jawabnya.


"I-iya boleh, silahkan masuk. Tapi, jangan lama-lama ya, udah malem."


"Iya Dek."


Mas Arlan masuk ke dalam apartemenku. Ia menungguku selesai menutup pintu, namun tidak aku kunci. Lalu, digandenglah tanganku menuju sofa.


Aku sendiri bingung. Kecuali menurutinya terlebih dahulu. Aku rasa ia akan memarahiku lagi. Rasa gelisah kembali bergelayut, rasanya cemas. Aku takut kami bertengkar lebih hebatm

__ADS_1


"Dek," panggil Mas Arlan kepadaku.


"Iya Mas," jawabku.


"Maaf ya soal yang tadi, Mas kelepasan."


"Enggak, aku kok yang salah. Aku yang seharusnya minta maaf, Mas. Benar kata kamu, seharusnya aku nggak ikut campur urusan keluarga kamu."


"Enggak kok, Mas yang udah berkata yang tidak-tidak. Kamu sakit hati kan?"


"...."


Kutundukkan kepalaku. Kuakui, aku memang sakit hati mendengar ucapan Mas Arlan beberapa saat yang lalu. Namun, tetap saja. Mau bagaimanapun, aku tidak pantas untuk ikut campur. Hanya karena ingin cepat menikah, aku malah memberanikan diri seperti itu.


Sejujurnya, bukan hanya ingin segera menikah. Namun, juga membantu Celvin dan Riska. Aku merasa bersalah. Semua kekacauan terjadi karena ulahku. Jika saja saat itu, aku tidak meminta Mas Arlan untuk datang ke restoran, pasti hal ini tidak akan terjadi. Dan perusahaannya tidak perlu membayar ganti rugi. Tapi, Mas Arlan tidak akan paham tentang ini. Jika kukatakan maksudku yang sebenarnya, pasti segala macam prasangka buruk akan tersemat dalam benaknya.


"Mas, jangan salah paham ya? Aku berkata demikian, bukan karena intruksi dari Celvin. Malah dia nggak mau aku terlibat. Aku hanya merasa tidak enak saja, karna semua terjadi gara-gara aku," ujarku.


Mas Arlan mengernyitkan dahinya. "Gara-gara kamu?" tanyanya.


"Iya, karna aku yang minta Mas Arlan buat jemput aku pada saat itu."


"Jadi kamu merasa bersalah setelah mengungkap kebenaran itu, Dek? Jadi, menurut kamu Mas juga penyebabnya dalam masalah ini?"


Duhh! Kacau! Aaaarrrrrggghh!!!


"...."


"Dek???"


Aku hanya menelan saliva dengan kelu. Seperti yang aku duga sebelumnya, pasti Mas Arlan menerka yang tidak-tidak. Jika aku menjawab lagi, pasti akan semakin kacau. Mungkin, lebih baik diam dan tidak ikut campur lagi. Rasanya sekarang aku mengerti dengan sifat jelek dari Mas Arlan yaitu ia begitu cepat menyimpulkan segala sesuatu.


Kami kembali terdiam untuk beberapa saat. Sedangkan jarum jam sudah menunjukkan waktu semakin malam. Ingin rasanya kusarankan, agar Mas Arlan segera pulang. Namun, aku masih takut. Aku takut jika ia berpikir kalau kau sedang mengusirnya.


"Maaf Mas, aku yang salah," ujarku memberanikan diri untuk memecah kesunyian ini.


Mas Arlan menghela napasnya dengan berat. Lalu ia mendekatkan diri padaku. Diraihlah tanganku olehnya. "Seharusnya kita tidak bertengkar seperti ini, Dek. Kamu Mas maafin kok, tapi kamu juga harus maafin Mas ya?" katanya.


Aku mengangguk, lalu berkata, "Iya Mas, sudah pasti aku maafin kamu."


"Untuk hari bahagia ini, kamu nggak usah bahas hal itu dulu ya. Mas bisa bantu selesaiin urusan itu kok, sayang."


"Iya Mas, aku harap kamu dan keluarga bisa mencari jalan yang terbaik. Minimal tidak menimbulkan kerugian pada siapapun."


"Iya Dek. Aku nginep sini ya?"


"Haaah??? Jangan konyol! Pulang sana!"


"Kan aku calon suami kamu sendiri, Dek. Mas tidur disofa, kamar kamu kunci. Udah malem gini, mager tauk."


"Apaan sih?! Aneh-aneh aja! Pulang sekarang, cepet! Atau aku marah lagi?"


"Ya jangan dong, iya iya. Mas pulang. Becanda kok yang tadi."


"Becandanya nggak lucu!"


"Hehe... jadi nggak sabar buat satu atap sama kamu, Dek. Pasti lucu, bisa godain kamu setiap hari."


Kuabaikan kelakar dari bibir Mas Arlan. Tangannya kutarik dan kubawa ia untuk keluar dari kediamanku. Beberapa candaannya terdengar aneh dan kadangkala menakutkan. Tentu saja, aku masih was-was. Apalagi kami belum menikah.


"Nggak usah dianter kebawah, Dek. Kamu langsung tidur aja," ujarnya.


"Dihh... emang siapa yang mau nganterin? Nggak tuh, aku nggak ada rencana buat anter turun," jawabku sengit.


"Ya ampun, blak-blakan banget sih Dek?"


"Hehe... aku mager, Mas. Kamu hati-hati ya dijalan. Jangan mampir-mampir, udah malem. Entar ada begal lagi."


"Iya sayang."


Cupp! Sebuah kecupan manis didaratkan oleh Mas Arlan pada pipi gembulku. Seperti biasa, aku tersipu merah dibuatnya. Mas Arlan mulai mengambil langkah untuk turun dan menghampiri mobilnya. Lalu pulang.

__ADS_1


Selepas itu, aku segera masuk kembali. Bersiap diri untuk tidur dengan sejuta kelegaan ini.


Bersambung...


__ADS_2