Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Extra Part]-Kebiasaan Tidur


__ADS_3

Arlan dan Fanni merebahkan diri mereka di atas ranjang milik hotel. Malam memang telah datang lagi. Rasa lelah yang kini tinggal tersisa, sekaligus menorehkan semacam rasa bahagia. Perjalanan mereka di negeri kincir angin ini begitu mengesankan. Bukan hanya mereka berdua yang bahagia, juga kedua putri mereka dan baby sitter yang disewa. Bahkan liburan itu, membawa mereka bertemu dengan kerabat lain yang asli dari Belanda. Menjadi suatu kerhormatan tersendiri bagi Arlan Mahendra.


Ya, bagi Arlan--anggota keluarga dari sang istri adalah seseorang yang termasuk berharga. Bahkan, sampai sekarang ia percaya tidak percaya bisa mendapatkan seorang istri yang memiliki darah blasteran. Hal itu juga yang membuatnya memiliki keturunan bermata biru semu abu-abu. Yang paling sering terjadi adalah wanita lokal bertemu pria bule dan pria lokal bertemu wanita bule adalah satu banding sepuluh orang yang ada di Indonesia.


Arlan menghela napas dalam, lalu ia hembuskan lagi di detik berikutnya. Tatapannya yang sejak tadi mengarah ke langit-langit kamar, kini berpindah ke wajah Fanni yang juga sedang memandangi langit-langit kamar itu. Ia merasa sangat beruntung, lagi-lagi kata beruntung yang muncul di benaknya. Bahkan, ribuan syukur ia gumamkan di dalam hatinya karena hal itu. Setiap kali menatap sang istri, membuat jantungnya kembali berdebar--rasanya setiap saat ia jatuh cinta terhadap Fanni. Jika sudah seperti itu, biasanya Arlan tidak bisa menahan segala hasrat alaminya. Kecupan manis, selalu ia berikan di pipi, bibir bahkan hampir sekujur wajah bule sang istri.


"Uh! Gemes, Dek." Arlan mencubit kedua pipi Fanni dengan perasaan gemas yang meluap-luap.


Namun, hal itu malah membuat Fanni merasa sebal. Ia merengut dan mencoba melepaskan cengkeraman jari-jari Arlan di pipinya. "Jangan gitu, Mas! Sakit tauk!" tegasnya.


Arlan tertawa lebar, bak mendapatkan suatu kemenangan. Selain gemas, ia juga merasa sangat puas jika Fanni sampai mendengkus kesal. Ia menilai bahwa sang istri sangat imut, jika sudah seperti itu. Hal itu menjadi alasan--mengapa ia selalu berbuat usil kepada Fanni.


Beruntungnya Fanni tidak melebihi rasa kesal itu, ia sudah sangat hapal dengan sikap dan sifat Arlan. Justru, jika Arlan masih berlaku seperti itu berarti Arlan belum berubah, masih manis dan penuh perhatian kepadanya. Pun meski, ia harus merasakan pedihnya cubitan nakal dari sang suami itu.


"Bobo' hayuk, Mas." Fanni merubah posisinya yang tadi terlentang, dan kini menghadap Arlan.


Arlan memeluk tubuh Fanni dengan penuh kasih sayang. Bahkan, kecupan manis tidak tertinggal untuk dilakukan. "Kamu bobo' duluan aja, Sayang," jawabnya.


"Sama kamu-lah, Mas."


"Mas mau lihatin kamu dulu, Dek."


"Ih, jangan. Nanti aku jelek pas tidur."


"Emang iya kok."


"Iya?"


Arlan tersenyum. Memang, Fanni bukanlah orang yang bisa cantik ketika tidur. Hanya saja, ia cukup tenang dan tidak bergerak seperti Arlan. Namun, ekspresi yang ia pasang ketika tidur seharusnya menjadi aib bagi dirinya, aib yang tidak boleh diketahui siapapun, meski oleh sang suami. Namun, yang namanya suami istri pasti akan saling bertemu dan melihat. Sehingga, ia tidak bisa menyembunyikan jati tidurnya yang bahkan tidak ia sadari.

__ADS_1


Fanni menatap Arlan seketika. "Emangnya, aku tidurnya kayak gimana, Mas?" tanyanya kemudian.


Arlan tersenyum lagi. "Mangap, Dek," jawabnya.


"Hah?! Masa' sih? Emm ... bohong pasti kamu!"


"Mau bukti?"


"Emang ada?"


"Ada dong."


"Mana?"


"Bentar, Dek."


"Apaan sih, Mas?" Fanni berusaha merebut ponsel milik Arlan. Namun, sayangnya tidak berhasil karena gerakan suaminya begitu gesit. "Ih, apaan sih?"


"Sabar dong, Dek," jawab Arlan dengan halus. Ia kembali memainkan ponselnya. Menekan tombol file di mana ada gambar keluarganya. "Nih, bukti yang enggak bisa diganggu gugat."


Fanni membelalakkan mata. Ia tidak menyangka bahwa ekspresi tidurnya tidak jauh berbeda dengan Arlan yaitu bibir yang menganga. Pastinya, ia merasa sangat malu. Bahkan, sekujur wajahnya memerah seketika. "K-kok kamu jahat sih? Pake difoto-foto gitu!"


Arlan tertawa. Kemudian berkata, "ya enggak apa-apa, Dek. Ini tuh suatu momen. Jadi pas dapet, ya cekrek."


"Hapus, Mas! Malu ih."


"Enggak mau. Biar jadi simpenan di HP. Entar kalau BT pas lagi kerja, bisa senyum-senyum kalau lihat ini."


Fanni mendengkus kesal. Kemudian, ia mencoba merebut lagi ponsel itu--berniat ingin menghapus foto yang menurutnya sangat jelek. "Mas, hapus ih!"

__ADS_1


"Enggak mau!" Tangan Arlan di angkat supaya Fanni tidak mampu merebut ponsel itu.


Fanni membangunkan dirinya, ia terus mencoba. Namun, Arlan tidak kalah gesit. Gerakan dan kekuatan Arlan sebagai seorang pria, justru melebihi kekuatan Fanni yang notabene-nya seorang wanita, pun meski memiliki badan yang gempal. Di akhir perebutan ponsel itu, Arlan mampu mengalahkan Fanni. Ia bergerak ke belakang Fanni, dan dipeluk erat tubuh sang istri dengan erat. Kedua tangan Fanni dicengkeram, alhasil ia tidak bisa berkutik lagi.


Fanni menghela napas dalam, lalu kembali ia hembuskan. Ia melemaskan otot-ototnya dan memilih menyerah. Apa daya tubuhnya yang besar, namun kekuatannya cukup lemah. Arlan selalu menang, ya, dengan segala keusilan. Namun, kendati seperti itu, Arlan selalu memanjakan dirinya dengan belaian halus pada wajahnya. Hal itu, membuatnya semakin betah di dalam pelukan sang suami.


"Kamu usil banget sih, Mas? Enggak boleh gitu lho, aib itu," ujar Fanni sembari mendongak hampir ke belakang untuk bisa menatap wajah Arlan.


Arlan tersenyum, ia kembali mencubit gemas pipi Fanni. "Kamu imut, Dek. Kalau lagi ngambek gini, tuh bibir bisa dikuncir," jawabnya tanpa peduli sedikit pun perihal foto Fanni yang tengah tidur dengan bibir menganga.


Fanni mendengkus kesal, tidak ada habisnya akal suaminya untuk membuatnya sebal. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia merasa senang. Terlebih, ia dikatakan sebagai wanita yang imut. Pun meski, hanya sebatas hoax saja. "Hmm ...."


"Kenapa, Dek?"


"Kamu pun juga gitu kok. Bibir menganga, matanya enggak terpejam penuh. Terus kayak helikopter muter-muter. Selalu nindihin badan aku, selalu ambil jatah kasur aku nyampe aku mau jatuh. Pokoknya, kamu lebih parah dari aku, Mas!"


Arlan justru tertawa, bahkan lebih keras daripada sebelumnya. Ia tidak menyangka Fanni akan menghapal secara detail mengenai perilaku tidurnya. Ia pun juga tidak menyangka bahwa ia seburuk itu dalam keadaan tidur. Ya, karena tidur cantik dan tampan hanya ada di dalam sosok pelaku utama sebuah drama. Mereka hanya manusia biasa. Tidak mungkin untuk tidak memiliki kebiasaan buruk.


Mereka hanyut dalam candaan, saling melempar kesalahan yang justru terdengar lucu saat ini. Pada kenyataannya--bahagia tidak serumit itu di antara cinta mereka berdua. Setiap pertengkaran kecil akan menjadi manis ketika mereka bisa saling membicarakan dengan baik. Pun meski sering merasa kesal karena kebiasaan buruk satu sama lain, selalu saja ada topik untuk menggiring kebiasaan itu menjadi hal yang lucu untuk dibahas.


****


Hayo siapa yang pernah difoto waktu tidur?


Guys, aku masih agak sibuk. Jadi sgini dulu ya.


Jngan lupa jempolnya ya. Aku bakal munculin kisah2 tokoh lain di extra part ini.


Terima kasih~

__ADS_1


__ADS_2