Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Sadar


__ADS_3

Dua hari sudah berlalu, pada akhirnya Mas Arlan memilih home schooling untuk Selli dalam sementara waktu. Tentu saja untuk menghindari ancaman dari Nia lagi. Dan selama itu pula, aku masih memilih diam. Maksudku dalam masalah itu, aku terkesan dingin daripada biasanya. Bahkan, aku selalu buru-buru untuk tidur dengan alasan kelelahan. Mengapa? Aku masih merasa kecewa kepada Mas Arlan. Sampai saat inipun, ia masih enggan membahas hal tersebut. Entahlah, aku tidak mau ikut campur lagi.


"Mas berangkat ya, Dek." Mas Arlan pamit kepadaku. Ia merengkuh diriku dan mengecup lembut di keningku. Sebagai seorang istri, aku harus tersenyum. Tentunya dengan segala kegetiran didalam hatiku.


"Hati-hati, Mas." Kusambut telapak tangan Mas Arlan dan mengecup punggung tangannya.


"Kamu hati-hati ya di rumah. Mas nitip Selli dan anak kita."


"Iya."


"Hmm ... senyum lagi dong, Dek. Udahan ya marahnya."


Aku menilik waktu pada ponsel yang kebetulan aku bawa. "Ah ... udah siang, kamu harus berangkat."


"Dek?"


"Udah ya, aku masuk masih ada kerjaan. Hati-hati."


Aku berbalik badan dan segera mengambil langkah untuk masuk ke dalam rumah kembali, bahkan tanpa melihat suamiku berlalu pergi. Dan begitulah yang aku lakukam selama dua hari ini, lebih tepatnya setelah kita bertengkar karena Nia. Entah mengapa aku sampai sekecewa ini kepada Mas Arlan. Mungkin kata orang memang benar, seorang mantan bisa sangat mempengaruhi hubungan. Lantas, bagaimana aku membuang perasaan buruk ini? Aku masih tidak mengerti.


Sudahlah, sepertinya aku lebih baik membuat kesibukan baru yang cukup ringan. Namun sebelum itu, aku perlu meminum vitaman dan beberapa obat anjuran dari Dokter Wisnu. Dengan langkah yang semakin cepat, aku bergerak ke belakang, maksudku ke dapur. Disela langkahku, aku melihat pemandangan rumah yang sudah rapi, membuat hati ini menjadi tenang. Aku selalu rajin dalam membantu Bi Onah dalam hal ini, sedangkan kemampuan untuk memasak, aku sama sekali belum mencoba. Istri macam apa diriku ini? Bahkan mengiris bawang merah saja, sudah kepedasan sampai bulir air mengalir dari mata dan membasahi pipi.


Sesampainya di dapur, aku melihat Bi Onah sedang bersenandung merdu menyanyikan sebuah lagu Jawa. Hal itu membuatku tersenyum tipis, sedangkan benakku terbayang akan ibuku. Ah, ibu. Setelah kunjungan dari keluargaku, aku belum sempat bertemu lagi.


"Mbak Fanni, ini tadi Den Arlan buatin susunya." Bi Onah memanggil diriku yang masih termenung diam di pintu masuk dapur. Beliau mengambilkan segelas susu menggunakan nampan untuk diberikan kepadaku.


"Mas Arlan? Kenapa nggak kasih ke aku langsung, Bi?" Heran, karena harus melalui Bi Onah, Mas Arlan menitipkan segelas susu untukku. Sepertinya aku sudah keterlaluan dalam menghindari diri suamiku itu. Yah, hatiku belum bisa lega saja. Entah akan sampai kapan. Sejauh ini, aku masih bisa melakukan kewajiban sebagai seorang istri, terkecuali dalam konteks satu itu.


"Mbak Fanni tadi lagi ngapain gitu deh. Terus Den Arlan buru-buru kayaknya. Jadi, dititipin sama Bibi."


"Emm ... ya udah, Bi. Makasih ya."


"Sama-sama, Mbak." Bi Onah menghela napas, ada suatu keraguan yang tergambar di wajah beliau. Sepertinya ingin mengatakan sesuatu namun masih enggan.


"Bicara aja, Bi. Nggak perlu sungkan sama Fanni," pintaku sembari menebak apa yang ada didalam benak beliau. Maybe, mengenai Nia atau hubunganku dengan Mas Arlan yang tidak seperti biasanya.


Tentu saja ucapanku membuat Bi Onah gelagapan seketika. Tampaknya, beliau masih malu untuk ikut campur ke dalam masalah keluargaku. Namun, beliau tetap manusia biasa yang pastinya memiliki rasa simpati terhadap kami. Bahkan, dalam keadaanku yang tengah hamil seperti ini.


Aku menyesap susu itu perlahan sembari duduk disebuah kursi plastik yang ada di dapur ini. Manis, itulah rasa yang didera lidahku karena susu hamil ini. Membuat hatiku menumbuhkan rasa tidak enak hati kepada Mas Arlan. Apa aku sudah benar-benar keterlaluan kepadanya? Begitulah pikirku. Sepertinya aku perlu meminta maaf dengan benar. Itupun jika hatiku sudah kembali seperti biasanya terhadapnya.


Kemudian Bi Onah mengambil satu kursi plastik dan duduk disana. Tampaknya, mau tidak mau beliau ingin sedikit berkata. Pastinya karena tidak tega melihat diriku seperti ini. Tiada senyuman seperti biasanya.


"Mbak, Mbak Fanni yang sabar." Dan benar saja, Bi Onah sudah memulai pembicaraan yang mungkin akan mengarah pada permasalah Nia. "Bibi enggak nyangka, kenapa nyonya-nyonya itu datang lagi dalam keadaan seperti ini. Pasti amat berat untuk dilalui. Tapi, Bibi cuma bisa bantu saran aja, Mbak. Jangan dipikirkan terlalu berat, kasihan anak didalam kandungan Mbak Fanni."


Aku menghela napas panjang, kemudian mengembuskannya kembali. "Nggak mungkin, aku nggak mikirin, Bi. Nia berencana mengambil Selli dari kami. Yah, aku sadar kok. Aku bukan ibu kandung dari Selli. Tapi ... rasanya nggak rela aja, Bi," jawabku.


"Kata orang, usia pernikahan satu tahun pasti pasangan bisa mengalami kesulitan perekonimian. Dua tahun, muncul masalah yang enggak terduga, Mbak. Tiga tahun dan berikutnya biasanya soal hati. Mengapa banyak orang bercerai, karna ketiga tahun itu mereka enggak lolos ujian dalam rumah tangga."


"Hmm ...."

__ADS_1


"Nggak tahu ya, kalau misal Bibi salah. Tapi semoga ada yang bisa Mbak Fanni ambil dari ucapan Bibi. Jangan sampai gara-gara Nyonya Nia, hubungan Mbak Fanni dan Den Arlan jadi nggak baik. Dua hari ini, saya lihat Mbak Fanni dan Den Arlan beda dari biasanya. Jujur, Bibi miris lihatnya. Bibi tahu Bibi hanya seorang pembantu. Tapi, karna Mbak Fanni dan Den Arlan adalah majikan yang baik, rasanya Bibi nggak rela jika terjadi sesuatu nggak benar."


Deg! Jantungku seperti ditusuk oleh sesuatu. Bukan karena hal yang menyakitkan, namun karena sesuatu yang belum aku sadari. Apa yang dikatakan Bi Onah sedikit mempengaruhi hatiku. Ini tahun kedua pernikahanku dan Mas Arlan, pastinya akan banyak halang rintang yang datang. Seharusnya aku tetap bersabar dan tidak termakan pengaruh Nia yang bisa saja disengaja untuk merusak pernikahan kami.


Pada kenyataannya, seorang Fanni belum cukup dewasa. Aku terlalu terburu-buru. Seharusnya aku memberikan kesempatan kepada Mas Arlan. Tampaknya apa yang terjadi kepadanya dan Nia dimasa lalu, masih memberikan bekas sakit hati yang luar biasa. Dan begitu egoisnya, aku ingin mengorek kehidupan mereka. Padahal, dengan sangat jelas Mas Arlan sudah mengusir Nia dan melindungi diriku. Lantas, apa yang aku ragukan lagi? Tak pantas aku seperti ini, malah menebar kecemburuan tidak jelas didalam hatiku. Rasanya ingin menangis pada saat ini juga. Namun, aku enggan karena ada Bi Onah.


"Menangis aja, Mbak. Biasanya kalau perempuan menangis, malah bisa membuat hati lega lho. Tapi habis itu, Mbak Fanni harus bangkit lagi."


"Aku, aku keliru, Bi. Aku malah menduga hubungan Mas Arlan dan Nia dimasa lalu terus cemburu. Aku kesal karna Mas Arlan nggak mau menceritakan tentang Nia. Seperti ada yang disembunyikan."


"Mungkin, Den Arlan nggak mau Mbak Fanni terluka. Namanya mantan istri, pasti mereka pernah bersikap manis satu sama lain, Mbak. Bagi laki-laki, mengulik masa lalu itu seperti menumbuhkan masalah baru dalam hubungan. Yang sabar ya, Mbak. Saya yakin Den Arlan punya alasan lain kenapa nggak mau bicara."


Aku menghela napasku lagi, kuusap air mata yang menetes sedikit. Kemudian, aku tersenyum. Aku menatap Bi Onah yang begitu banyak memberikan nasehat. "Makasih, Bi. Nanti aku akan minta maaf sama Mas Arlan."


"Hmm ... Alhamdulillah, kalau gitu, Mbak. Sama-sama, tapi maaf kalau Bibi malah terkesan lancang dan nggak benar. Begini aja, nanti Bibi masakin bekal, Mbak Fanni antar ke kantor Den Arlan."


"Eh? Iya boleh. Tapi, masak masakannya dari Bibi. Malu aku hehe."


"Ya nggak apa-apa, Mbak. Kan Mbak Fanni lagi hamil, pasti masih mabok bumbu hehe. Ya sudah, saya mau kelarin cuci piring ya, Mbak."


Aku mengangguk pelan dan Bi Onah berdiri dari duduknya. Beliau kembali membereskan sisa cucian piring di washtafel. Sedangkan diriku, beranjak pergi dari tempat ini setelah menghabiskan sisa susu hamilku. Kuambil langkah untuk menuju kamarku.


Dalam seketika waktu, hatiku bak disiram dengan bunga-bunga. Aku merasa lega, sekaligus bersalah. Seandainya aku tidak memendamnya, mungkin aku bisa lega sejak kemarin. Aku tahu Mas Arlan juga tidak benar, namun benar apa yang dikatakan oleh Bi Onah. Ada alasan dibalik sikap Mas Arlan. Dan bisa jadi ini adalah manipulasi dari Nia untuk menghancurkan pernikahanku. Aku tidak boleh termakan keegoisanku kembali.


Sesaat setelah sampai di lantai dua, aku mengintip pelan ke dalam kamar Selli yang pintunya masih terbuka sedikit. Ia tampak ketiduran lagi. Aku membiarkannya saja, beberapa jam lagi ia akan melakukan pembelajaran di rumah. Walau sebenarnya, aku tidak tega. Lingkup pertemanannya pasti sangat terbatas, dan ia bisa merindukan teman-temannya. Namun mau bagaimana lagi, hal ini ditempuh oleh Mas Arlan demi menghindari hal-hal tidak baik dari ibunya.


Sesampainya di kamar, aku segera mencari keberadaan ponselku. Waktu masih menunjukkan setengah delapan pagi, masih ada setengah jam lagi kebebasan Mas Arlam diluar pekerjaan. Meski aku tahu, ia pasti sudah disibukkan macam-macam pekerjaan sama halnya seperti Celvin kala itu. Ah, Celvin, aku melupakan kabarnya. Entah bagaimana sekarang hubungannya denga Riska. Sudah lama aku tidak bertukar kabar dengan mereka berdua, bahkan Mita, Nika maupun Tomi. Aku menjadi rindu.


"Udahlah, nanti pasti bisa ketemu." Aku bergumam lagi karena lintasan bayangan teman-temanku itu. Kemudian, berusaha melupakan lagi. Tanganku kembali sibuk mencari keberadaan ponselku. Sampai tidak lama kemudian, aku mendapatinya diatas lemari berlaci.


Kuambil benda kotak tersebut. Memainkan kedua ibu jariku di atas layarnya. Kemudian, aku mencari nomor kontak milik Mas Arlan. Dan yeah, aku menekan tombol berwarna hijau untuk menghubunginya.


"Iya, selamat Pagi. Dengan siapa?" sapa Mas Arlan dari kejauhan sana. Tampaknya ia tidak mengecek siapa pemanggilnya pada saat mengangkat telepon dariku


"Hai, Mas. Selamat pagi juga, Sayang," jawabku. Aku menebak, ia tengah mengernyitkan dahi disana. Mungkin tidak menyangka aku menghubunginya pagi ini. Apalagi aku masih marah.


"Emm ... ada yang bisa saya bantu? Pasti anda sedang kesulitan karena rindu, kan?"


"Ih??? Enggak."


"Hehe ... kenapa, Sayang? Udah nggak marah nih?"


"Kamu udah sibuk banget ya, Mas?"


"Iya, Dek. Banyak banget yang perlu ditanda tangani. Ini perusahaan udah setara dengan milik Celvin sekarang. Makanya kesibukannya juga sama."


"Alhamdulillah dong. Berarti kamu Direktur yang jenius. Lancar rezeki." Aku merubah posisiku yang masih berdiri untuk duduk di sebuah kursi santai dekat dengan jendala yang berada di kamar ini.


Sedangkan Mas Arlan beberapa kali menghela napasnya dari sana. Tampaknya pekerjaannya memang luar biasa banyak. Aku menjadi tidak enak hati lantaran sudah menganggunya.

__ADS_1


"Ya udah, Mas. Aku tutup dulu deh."


"Jangan! Ganti video call aja. Biar Mas ada yang nemenin."


Tut! Selepas mengatakan itu, Mas Arlan mematikan panggilan ini. Bahkan, sebelum aku menyetujui usulannya itu. Namun sepertinya tidak buruk juga. Setidaknya aku bisa menatap wajahnya pada saat bekerja.


Benar saja, tidak lama kemudian muncul panggilan video dari ponselku. Aku tersenyum-senyum dibuatnya, siapa lagi kalau bukan dari Mas Arlan. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera mengangkatnya. Kuangkat ponselku sampai bisa menangkap wajahku yang berpipi chubby ini. Tampilan pertama adalah wajah Mas Arlan dengan senyuman manisnya.


"Cantik banget, Dek. Kangen Mas sama kamu," ujarnya dari sana. Setelah itu, ia tampak memposisikan ponselnya pada suatu tempat yang tidak aku ketahui. Namun wajahnya masih terlihat, meski dari samping bawah.


"Semangat ya, Mas. Aku bantu do'a dari sini."


"Hmm ... makasih, Dek. Lihat senyuman kamu aja, Mas udah semangat banget. Heran deh. Kamu cantik banget kalau senyum gitu. Matanya biru memberikan cahaya keteduhan hehehe."


"Ish! Geli aku dengernya lho. Beneran ini aku enggak ganggu?"


"Enggak, Sayang. Mas masih bisa kerjain kok ini. Emm ... Selli dimana?"


"Ketiduran lagi, Mas."


"Ya udah, nggak apa-apa. Yang penting kalau jadwal gurunya mau dateng, jangan lupa dibangunin."


"Siap, Mas. Emm ... Mas maafin aku ya, aku udah ngambek selama dua hari. Terus nyuekin kamu. Kesel sendiri dan egois. Aku nggak mikirin perasaan kamu, maaf."


Mendengar permintaan maaf dariku, Mas Arlan seketika menatapku. Ia tampak mengernyitkan dahinya dari dalam panggilan video ini. Bahkan, ia menghentikan pekerjaannya sejenak dan mengambil ponselnya untuk menatap wajahku dengan jelas dari sana.


Astaga! Begini saja, sudah membuatku malu sampai menunduk dan menutupi wajahku dengan satu telapak tanganku. Suamiku terlalu manis untuk dipandangi. Bagaimana jika aku tidak bisa menahan rasa rinduku karenanya? Seperti inikah rasanya kalau baru berbaikan setelah marahan? Canggung, sumpah!


"Hei, Sayang. Lihat sini dong," pintanya dari sana. Aku menelan saliva diiringi helaan dan hembusan napas supaya lebih tenang dalam menghadapi pesonanya.


Aku mengangkat wajahku lagi agar tertangkap oleh kamera. "Ma-maaf," jawabku.


"Mas yang minta maaf, Dek. Mas bingung aja nggak bisa ngatasin semuanya secara cepat dan malah menyulitkan kalian."


"Kamu nggak salah kok, Mas. Aku terlalu buru-buru."


"Ya, mungkin kita sama-sama ada kesalahan. Tapi, saling memaafkan ya. Kamu maafin Mas, Mas maafin kamu. Oke?!"


Aku mengangguk pelan. "Iya, Mas. Nanti aku kirim bekal ke kantor ya."


"Eh?! No! Enggak boleh, kamu sedang hamil. Stay at home, Mas yang pulang. Sekalian nagih jatah yang tertunda."


"Ja-jatah? Ma-maksud kamu."


"Hehehe ... tunggu aja, Sayang. Mas kerja dulu dengan semangat, jam makan siang Mas pulang. Persiapkan diri kamu!"


Oh, sial! Aku sedang hamil, Mas.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2