
Dihari libur, aku sibuk berkemas beberapa barang dan pakaian untuk dipindahkan ke tempat orangtuaku. Barang yang kubawa tidaklah banyak, namun cukup merepotkan. Aku sendiri masih belum tau, setelah menikah nanti, apakah akan langsung pindah atau masih menetap disini. Jujur saja, aku tidak rela untuk meninggalkan apartemenku yang nyaman ini. Namun, apapun keputusan Mas Arlan nantinya, aku wajib mengikuti.
Tak lupa kurapikan setiap sudut ruangan. Sehingga tidak akan terlihat kumuh sewaktu ditinggalkan. Mungkin, sepulang kerja pun aku masih harus pulang ketempat ini. Guna meniliti, agar tidak ada satupun debu yang menempel di barang-barangku. Apartemen yang banyak menyimpan kenangan. Tempat pertamaku yang dikunjungi seorang pria. Banyak momen sedih maupun bahagia yang berlangsung disini. Hasil dari tabunganku dan juga ayahku. Haruskah aku menjualnya? Aku masih belum rela.
Tak terasa linangan air mata kembali mengalir di pipiku. Ah... aku cengeng sekali! Tapi, seperti itulah diriku. Aku tidak sekuat dan sekokoh besarnya tubuhku. Sebagai seorang wanita, aku memang lemah hati dan mental. Kuakui dalam bahagia seperti ini, pasti ada rasa khawatir yang sedikit terselip. Kekhawatiran tentang hidupku di masa depan.
Aku takut, diriku tidak bisa menjadi istri dan ibu yang baik. Apalagi gangguan psikologisku mengenai ketakutan berlebihan, kadangkala masih muncul. Meski rasa percaya diri terus meningkat, perubahan hidup tidak bisa seketika datang, bukan? Atau hal ini memang dirasakan oleh calon pengantin wanita pada umumnya? Ah... apapun itu, yang pasti aku sedang khawatir kepada diriku sendiri.
Semua aktivitas yang kulakukan saat inipun terhenti, tatkala bunyi bel pintu terdengar oleh gendang telinga. Sontak saja, kukernyitkan dahiku keheranan. Masih pagi seperti ini sudah ada tamu yang datang. Jika menilik waktu pada jam dinding, jarumnya masih menunjukkan pukul enam kurang.
Karena rasa penasaran semakin bergelayut, akhirnya aku segera memapah kakiku untuk mendatangi pintu. Langkahku cukup tergesa karena sang pelaku bukan hanya memencet bel pintu, melainkan mengetuknya berkali-kali juga. Lalu, setelah sampai disana, aku mengintip melalui door viewer yang terpasang. Lelaki tak asing nampak disana. Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung membukakan pintu untuknya.
"Hai, Dek. Selamat pagi calon istri," ujar Mas Arlan, yang tak lain adalah pelakunya.
"Ngapain? Masih pagi lho?" tanyaku heran.
"Udah kangen, Dek."
Tanpa aku persilahkan masuk, Mas Arlan melangkah sendiri ke dalam apartemenku. Baju yang ia kenakan hanya kaos berwarna putih dengan setelan celana olahraga panjang. Wajahnya memang telah segar, namun rambut masih acak-acakan.
Apa-apaan ini?
Mas Arlan membaringkan tubuhnya diatas sofa milikku. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang ia lakukan. Datang tak diundang, masuk tak dipersilahkan dan tidur secara sembarangan. Masih sepagi ini, hatiku seperti sedang diuji. Padahal subuh tadi, aku sengaja pulang awal dari rumah orangtuaku demi membereskan isi apartemenku. Dan kini kekasihku malah datang tiba-tiba, tanpa memperdulikan lelah yang menderaku.
Kok kesel ya?
"Mas, bangun!" seruku kepadanya.
Mas Arlan membuka matanya sedikit untuk menatapku. Lalu ia mengangguk dan berkata, "Entar, Dek. Masih ngantuk."
"Terus ngapain datang kesini kalau masih ngantuk, Mas?"
"Pengen ketemu kamu aja, Dek."
"Kamu ini lho, udah tua juga ih! Terus Selli gimana coba? Masa' anak kecil dititipin sama orang lain terus sih, Mas? Kasian lho."
"Selli dari semalem belum pulang, nginep tempat mama. Makanya, Mas kesepian. Udah ya, jangan bawel Mas masih ngantuk."
"Nyebelin banget sih! Bantuin kek seenggaknya!"
"...."
Mas Arlan benar-benar tertidur dengan pulas. Entah, mimpi apa yang hadir dalam tidurnya malam tadi. Aku rasa ia datang ke apartemenku dalam kondisi setengah sadar. Ajaibnya, ia bisa selamat sampai tujuan.
Melihat Mas Arlan yang tengah tertidur pulas, akhirnya aku melunak meski masih sebal. Aku kembali membersihkan ruangan apartemenku sembari menggerutu beberapa kali. Rasa lapar pun turut merusak moodku pagi ini. Tak ada makanan sama sekali, sampai rasanya sebal. Hanya beberapa butir biskuit yang tersisa. Kesalku semakin memuncak sampai ingin menangis dan berteriak keras.
Aaarrrrgggg!!! Gue kenapa sih???
Namun, hanya batin yang mampu berteriak. Aku sendiri bingung, mengapa pagi ini merasakan mood yang sekacau ini. Padahal tidak ada masalah dan tidak ada sesuatu yang mengesalkan. Ataukah tanggal datang bulanku sudah tiba? Mungkinkah begitu?
"Sebel! Sebel! Sebel! Kenapa sih gue? Heran deh!" gerutuku sembari menjatuhkan diriku diatas lantai. Lalu kutekuk kedua kakiku dan menunduk diatasnya.
"Kenapa sih, sayang?" tanya Mas Arlan tiba-tiba dari posisi keberadaannya yang masih sama.
Akupun diam tak menjawab. Namun, segera membangunkan diriku karena malu. Kusadari bahwa tingkahku sudah seperti anak kecil.
"Dek?" ujar Mas Arlan lagi.
Mau tak mau, aku akhirnya menjawabnya, "Nggak apa-apa, Mas."
"Beneran?"
"Iya."
"Hmm..."
Aktivitas beberesku, kuhentikan. Lalu mengambil langkah untuk menuju kamarku. Sesampainya disana, aku membaringkan diriku. Mataku terpejam sembari menutupkan kedua telapak tanganku diatasnya. Sepertinya aku memang terlalu lelah dan masih mengantuk, jadi situasi pikiran juga ikut kacau.
Namun, aku enggan terlelap kembali karena Mas Arlan sudah ada disini. Tak enak juga rasanya, jika membiarkan dirinya. Biarlah kutenangkan diriku terlebih dahulu. Hanya karena alasan tidak jelas, jangan sampai kami bertengkar. Apalagi dalam situasi bahagia ini, tentu tidak akan pantas. Lalu, kupejamkan mataku dalam kondisi yang masih sadar sembari menarik napas perlahan dan menghembuskannya kembali.
Tiba-tiba dahiku tersentuh oleh belaian lembut dari tangan seseorang. Saat kubuka mataku kembali, Mas Arlan sudah masuk ke kamar ini. Sontak saja, aku akan segera membangunkan diriku. Namun, ia mencegah gerakanku tersebut.
"Kalau capek istirahat dulu, sayang," ujar Mas Arlan.
__ADS_1
Aku mengangguk kepadanya. "Iya, Mas. Tapi nggak capek kok," jawabku.
"Nggak capek gimana? Pagi-pagi udah marah-marah, nih Mas bikinin coffe latte kesukaan kamu."
"Emang dapet darimana?"
"Mampir warung tadi. Tapi coffe latte ala-ala doang."
"Makasih ya, Mas."
"Iya sayang, sama-sama. Kamu udah mandi?"
"Udah Mas, ditempat Mama tadi."
"Yaudah, minum dulu aja kalau gitu."
Aku kembali membangunkan tubuhku. Lalu duduk ditepian ranjang bersama Mas Arlan. Kuambil secangkir coffe latte yang ia hidangkan untukku. Aromanya begitu harum, menyeruak masuk ke dalam hidungku. Seolah sel-sel ketenangan kembali bangkit setelah tersentuh dengan aroma khas minuman tersebut.
Mas Arlan terus menatapku dengan ekspresi datar. Sampai membuatku sedikit tidak nyaman. "Ke-kenapa sih, Mas?" tanyaku.
"Nggak apa-apa, Dek. Kamu makin hari makin cantik," gombalnya.
"Kata siapa?"
"Kata Mas dong. Akhirnya kamu udah resmi jadi calon istri Mas ya, Dek. Setelah restu, lamaran, semoga lancar lagi sampai pernikahan."
"Amin, Mas."
"Hmm... kok kamu kayak nggak semangat?"
"Semangat kok. Masih agak ngantuk aja, Mas. Keluar aja yuk, nggak enak di kamar berduaan."
"Yaudah ayo."
Kami berdiri dari duduk lalu berjalan keluar dari kamar ini. Tiba-tiba saja, Mas Arlan merangkulkan kedua tangannya dari arah belakang di tubuhku. Ia sangat manja sekali jika sedang seperti ini. Sedangkan langkah kami masih berjalan kembali ke ruang sofa apartemenku.
Sesuai karakternya yang usil, beberapa kali Mas Arlan mencubit kedua pipiku yang gembul. Tanpa segan lagi, ia bahkan mengecupnya tanpa permisi. Untukku diriku sendiri, lambat laun aku mulai terbiasa dengan sikap manja yang Mas Arlan lakukan. Karena dalam batas wajar, aku masih membiarkan. Yah, meski kutahu dosa kami akan mengalir setelahnya. Semoga Tuhan mengampuni serta diperlancar pernikahan kami, agar tidak ada lagi dosa seperti ini.
"Kamu kok udah dateng sapagi ini sih, Mas?" tanyaku sesaat setelah kami duduk di sofa.
"Udah mandi?"
"Belum, tapi udah sikat gigi kok. Sumpah!"
"Tetep aja jorok! Iihh... bauk!"
"Alaaahh... bauk bauk. Daritadi dipeluk, kamunya juga biasa aja."
"Ya... ya tadikan nahan baunya, Mas."
"Bohong deh."
"Nggak percaya, dasar! Pulang dulu geh, mandi terus bantuin aku pindahan."
"Pindahan?"
"Iya. Sebelum kita nikah, aku pengen nginep di rumah Papa dan Mama selama sebulan ini."
"Yah, nggak bisa ketemu gini dong selama sebulan?"
"Anggep aja, aku lagi dipingit, Mas."
"Nggak nahan kangennya, Dek."
"Biarin, biar kangennya membludak."
"Hmm... sebulan Dek, Dek. Lama banget lho. Duh, pengen loncatin waktu ke depan rasanya."
Aku pun tertawa setelah mendengar ucapan Mas Arlan yang disertai wajah memelas. Ada raut kecewa namun tidak ada pencegahan sama sekali. Aku rasa Mas Arlan mencoba memahami keinginanku dan keluargaku. Meski ia harus menahan diri untuk bertemu denganku selama satu bulan. Sebenarnya bukan ia saja yang merasa sulit, aku pun pasti akan merasakan hal yang sama.
Namun, ingatanku tentang ibu dan ayahku saat ini adalah ingatan yang paling kuat. Aku tidak ingin menyesal untuk kesekian kalinya. Sehingga tekadku sudah membulat, aku tetap akan menginap selama sisa waktu yang ada sebelum pernikahanku. Toh, aku masih bisa mencuri waktu untuk bersama Mas Arlan meskipun tidak akan lama. Dan sebulan lagi, kami akan bersama disetiap harinya. Jadi, bersabar untuk sekarang bukanlah keputusan yang buruk.
"Dek, tadi kamu kenapa?" tanya Mas Arlan
__ADS_1
Kukernyitkan dahiku keheranan. "Kenapa? Yang mana?" tanyaku kembali.
"Tadi pas Mas masih tidur, kenapa kamu teriak gitu?"
"Oh... nggak tau juga, Mas. Tiba-tiba pengen nangis aja."
"Hati-hati, Dek. Ujian orang mau nikah itu sering datang tiba-tiba. Kadang ada pikiran nggak baik muncul dalam ingatan. Kalau nggak dialami yang cowok, pasti yang cewek."
"Iyakah?"
"Iya, Dek. Nggak tau mitos atau fakta, tapi emang sering terjadi. Makanya sering baca istigfar kalau perasaannya tiba-tiba nggak jelas ya. Mas tau kok, sebagai cewek yang baru akan menikah, pasti ada beberapa hal yang bikin pikiran dan kekhawatiran. Bahkan di cowok pun begitu."
Kuangguk-anggukkan kepalaku tanpa mengerti perkataan yang diucapkan oleh Mas Arlan. Meski sukar dipercaya, namun aku rasa ada benarnya. Suatu ujian sebelum menikah akan tetap ada bagi siapapun dan ini tentunya belum seberapa dibanding ujian didalam rumah tangga nantinya.
Sesuai perkataan Mas Arlan, aku harus lebih waspada dalam menyikapi segala sesuatu yang berpengaruh dalam hubungan kami. Jangan sampai ada masalah sebelum kami melangsungkan akad. Semua perjuangan kami bukanlah hal yang mudah. Maka dari itu, aku ingin cinta kami terjaga dengan baik. Sebelum maupun setelah menikah.
"Jadi, kamu mau balik ke rumah mama jam berapa, Dek?" tanya Mas Arlan lagi.
"Kalau kamu udah pulanglah, Mas," jawabku.
"Katanya Mas suruh bantuin?"
"Nggak mungkin, Mas. Aku bawa kamu dengan penampilan kamu kayak gini, nanti mamaku malah mikir yang enggak-enggak."
"Hehe... iya juga ya. Entar Mas malah dikira abis aneh-aneh sama kamu."
"Nah, itu tau."
"Tapi, bolehlah dikit aja."
"Apaan?"
"Ciumm yaa..."
"Nggak mau, belom mandi. Bauk! Sana pulang dulu."
"Halah!"
Sial! Lagi-lagi aku kalah oleh tenaganya. Ia berhasil mendapatkan wajah dan bibirku. Rontaanku pun sudah tidak berguna. Sampai akhirnya aku diam ikut menikmati saja. Bibir kami saling menaut satu sama lain. Pagi hari yang dingin berubah menjadi hangat seketika. Mataku terpejam rapat karena masih takut. Perilaku ini benar-benar tidak pantas dicontoh. Jangan sampai Selli mempelajari sifat buruk dari sang ayah.
Sampai diakhir batas, Mas Arlan menarik dirinya menjauh dariku. Sedangkan aku menatapnya dengan nanar. Aku kesal karena ia selalu saja tidak pernah mendengar penolakanku. Oh... aku membayangkan bagaimana jadinya kalau kami sudah menikah. Pasti aku sudah dilahapnya habis.
"Jangan manyun dong, Dek," pinta Mas Arlan kepadaku.
"Bodo' ah! Males!" jawabku.
"Maaf, maaf. Nggak lagi deh sayang, kan besok-besok kamu udah di rumah mama."
"Lagian kamu, Mas. Kebiasaan banget jadi orang, nggak boleh kelepasan terus sayang."
"Iya, iya sayang. Ini yang terakhir sebelum kita menikah ya?"
"Halah... entar kalau ada kesempatan berdua lagi pasti kayak gini lagi."
"Ya itu, Mas nggak tau Dek. Hehe."
"Dasar! Nyebelin bangeeeettt!"
"Kamu jangan ngomong gitu. Entar Mas jadi gemes lagi lho."
"Nggak jadi! Yaudah pulang sana."
"Nyari sarapan dulu ya? Mas laper pengen sarapan bareng kamu, dirumah nggak ada temen. Selli belum mau pulang dari semalam."
"Yaudah kalau itu, aku mau. Beliin soto aja ya Mas."
"Iya sayang. Siap!"
Mas Arlan beranjak dari duduknya. Ia mengambil langkah menuju pintu, ia hendak keluar mencari sarapan untuk kami. Saat ia berlalu, aku kembali membereskan beberapa sudut yang masih berantakan. Lalu kukemas rapi pakaian yang kuperlukan didalam sebuah koper berukuran sedang, beberapa map, alat elektronik yang berupa laptop serta barang berharga yang berupa perhiasan dari Mas Arlan ataupun milikku pribadi.
Hingga beberapa saat berlalu, Mas Arlan telah kembali. Kuhidangkan soto ke dalam dua mangkuk beserta nasinya. Lalu kami menyantap hidangan tersebut sebagai sarapan.Berbeda dengan orang kaya ataupun orang Belanda asli yang menggunakan roti dan semacamnya sebagai asupan gizi dipagi hari, sebagai orang biasa, aku tidak puas jika tidak menyantap nasi. Tampaknya darah Indonesia jauh lebih kental mengalir didalam tubuhku, meskipun wajahku lebih dominan kearah orang Belanda. Yah, namanya lahir di negara ini, dibesarkan pula oleh ibuku yang notabene berdarah Jawa asli.
Bersambung...
__ADS_1
Budayakan tradisi like+komen