
****
"Kamu hebat, Mas," ujarku sembari merebahkan diriku di samping Mas Arlan. Ia sibuk memandang langit-langit kamar.
Ia menoleh ke arahku. "Hebat apanya, Dek?" tanyanya kepadaku.
"Kamu bisa bersikap bijak demi orang lain dan anak kamu sendiri."
"Tapi Mas masih takut, Dek."
Aku tersenyum dan membelai pipi Mas Arlan. "Aku siap jadi bodyguard Selli, Mas. Kali ini, Nia enggak bisa macem-macem."
"Makasih, Sayang. Jujur, baru pertama kali Mas lihat Nia kayak gitu, Dek. Dulu, dia egois banget dan enggak ada ngalahnya sama sekali."
"Berarti, hidayah itu emang udah dateng di hatinya, Mas. Kalau Tuhan aja kasih dia kesempatan buat berubah. Kenapa kita enggak? Lagian, cuma sebulan kok dia di sini."
"Iya, Sayang. Mas tahu kok."
Mas Arlan tersenyum. Hal itu membuatku sangat gemas, sehingga aku bergegas mengecup bibirnya. Malam yang semakin dingin, ditambah udara AC membuat kami mengeratkan pelukan satu sama lain di atas ranjang ini.
Hatiku begitu lega dan bahagia. Aku seseorang yang memiliki fisik gendut, mendapatkan suami yang tampan dan manis. Ia sangat bertanggung jawab, bahkan memberikan perhatian lebih kepadaku, juga kedua putriku. Setiap masalah yang menerpa juga bisa kami singkirkan satu persatu. Luar biasa, bukan?
"Dek, makasih ya."
"Makasih kembali, Mas."
"Ngomong-ngomong, kamu mau usaha apa jadinya?"
"Salon, Mas. Aku udah pikirin, tinggal telepon Mita dan bicarain bareng nanti."
"Salon?" Mas Arlan membangunkan dirinya dan setelah itu, ia menatapku dengan heran. "Sejak kapan kamu tertarik sama salon?"
Aku turut membangunkan diriku. "Sejak saat ini, Mas. Aku pinter dandan, kan? Dan aku juga pinter merias rambut? Mungkin itu salah satu manfaat punya anak cewek, aku jadi rajin cari video styling."
"I-iya sih."
"Dan kata Mita, dia ingin bekerja sama denganku, Mas. Bikin usaha yang bermanfaat dan menghasilkan uang. Emm ... kamu tahu kan, Mas? Masa lalu aku gimana? Aku minder banget karna badan aku ini. Kenapa aku ingin buka salon? Aku ingin menunjukkan kalau siapapun bisa cantik, aku ingin menumbuhkan rasa percaya diri mereka. Bahkan jika harus menggunakan make up."
Mas Arlan manggut-manggut.
"Kalau pemiliknya aja PD, meski gendut. Tentu, bisa membuat mereka juga PD meski punya kekurangan, Mas. Aku ini pinter merangkai iklan dan slogan. Aku ingin mereka semua tahu, bahwa cantik fisik bisa dipoles dengan make up, tapi kecantikan hati harus dipoles dengan akhlak."
"Waow! Luar biasa!"
Mas Arlan tampak terpana kepadaku, mungkin setelah mendengar penjelasanku yang terkesan berbelit-belit. Intinya, aku ingin menunjukkan bahwa semua orang bisa tampil cantik, itu saja! Namun, aku tetap seorang manusia yang memiliki kekurangan, lemah akan makanan dan tidak bisa berdiet. Aku sangat melarang keras jika seseorang meniru gaya hidupku pada hal ini. Ah, aku bingung sekali bagaimana menjelaskannya.
"Dek? Mas mau ajak kalian ke suatu tempat."
__ADS_1
"Emm?" Dahiku mengernyit. "Kemana, Mas?"
"Ke Belanda?"
"Hah?!"
Mas Arlan mengenggam tanganku. "Mas tahu, selama kita menikah Mas enggak sempet ajak kamu liburan. Tapi, selama ini Mas selalu sisihin uang buat liburan. Cuma cari waktunya susah banget. Mas udah bilang sama kenalan Mas di bidang travelling. Setelah pernikahan Nia kita berangkat ke Belanda, ya? Mas akan ambil cuti selama satu bulan."
"Be-beneran? Tapi, kantor?"
"Diurus sama Celvin tenang aja."
"Tapi, kamu habis ke Canberra juga lho."
"Itu kan beda uangnya. Dan udah diganti sama Mas Gun. Terus kantor kan diurus sama kamu, dengan kata lain Mas belum ambil cuti lagi. Kalau khusus liburan kita, Mas sisihin sendiri uangnya juga. Tapi Mas minta maaf karna enggak bilang sama kamu."
"Modal aku?"
"Ya, ganti dari Mas Gun itu, Sayang."
"Tapi, uang kita habis nanti, Mas. Ke Belanda itu, biayanya mahal banget lho."
"Uang bisa dicari, Dek. Yakin aja, waktu bersama keluarga itu juga penting, Mas udah siapin semuanya dengan baik. Tapi Mas minta maaf, baru setelah tiga tahun Mas bisa kumpulin uang itu. Mas juga mau ketemu sama kerabat dari papa kamu, Dek. Ya, jadi selama tiga tahun ini, Mas bohongin kamu soal uang liburan itu. Mas minta maaf, Sayang."
Aku menutup wajahku karena air mata yang tiba-tiba keluar. Memang, harus butuh waktu selama tiga tahun dulu sampai Mas Arlan bisa mengumpulkan dana untuk sesuatu yang mengejutkan ini. Sebenarnya aku merasa sayang jika harus membuang uang secara cuma-cuma. Namun, aku tidak ingin mengecewakan Mas Arlan. Aku ingin menerimanya.
"Aku mau anak laki-laki, Dek ...," bisik Mas Arlan tepat di telingaku. Tangannya sibuk menyingkap pakaianku.
"Jangan!" Aku memundurkan wajahku seketika dan menghentikan ulah tangannya. "Kalau aku hamil, enggak jadi ke Belanda dong?"
"Hmm." Mas Arlan tampak berpikir. "Berarti ditunda, nanti di sana aja ya? Tapi, boleh kan special service buat suami malem ini? Mas bakalan hati-hati."
"Dasar!"
Dan yeah, ia melanjutkan aksinya.
****
Beberapa hari terakhir Nia datang berkunjung. Sampai waktu menentukan hari pernikahannya. Ia terbalut gaun putih yang manis bergaya duyung, di sampingnya ada seorang pria gagah berkulit sawo matang yang kini bisa menerima Nia apa adanya, bahkan masa lalunya.
"Terima kasih, Fanni dan Arlan," ujar Nia kepadaku dan Mas Arlan saat kami datang menghampirinya.
"Sama-sama, Nyonya Ridwan," jawabku.
"Semoga kamu dan Ridwan bahagia, Nia," timpal Mas Arlan.
Nia tersenyum. Selanjutnya kami melakulan prosesi pemotretan bersama. Ada Selli di antara Nia dan Ridwan. Ia begitu cantik sebagai pendamping ibundanya. Pada akhirnya, kami semua benar-benar akur dan terjalin perdamaian kedua belah pihak dengan baik. Aku lega sekali.
__ADS_1
Setelah pemotretan selesai. Nia memeluk tubuhku. "Fanni, sekali lagi terima kasih. Dan ... lagi-lagi, aku harus titip Selli sama kamu. Setelah menikah, aku dan Ridwan harus kembali ke Nevada," ujar Nia kepadaku.
"Mbak tenang aja, aku bakalan jaga Selli kok. Selli itu juga anak pertamaku," jawabku.
Nia menyentil pipi Sella yang tengah ada di gendongan Mas Arlan dan mengecup pipinya. "Anak kamu cantik sekali. Aku senang, karna kamu enggak beda-bedain anak kamu sendiri dan Selli. Kamu ibu yang baik, Fanni."
"Maka dari itu, jaga dirimu baik-baik, Nia. Jadilah istri dan ibu yang baik pula," sela Mas Arlan.
"Akan aku usahakan, Arlan. Terima kasih."
"Terima kasih, Mas," timpal Ridwan. Setelah itu, ia memeluk Mas Arlan dengan gaya pria.
Aku dan Mas Arlan serta Sella minggir ke tempat lain. Ada kursi yang spesial disediakan untuk kami. Kami menunggu sampai acara pernikahan ini selesai, karena harus membawa pulang Selli. Karena Mas Arlan juga memberikan kesempatan kepada Nia untuk membawa Selli khusus hari ini.
Hubungan Mas Arlan dengan mantan ibu mertua dan adik ipar juga kian membaik. Intinya semua menjadi damai, semua karena Nia yang memulainya. Indah sekali, bukan?
"Mas dua hari lagi, berarti kita ke Belanda?" tanyaku kepada Mas Arlan.
"Iya, Dek. Persiapkan dirimu," jawab Mas Arlan.
"Persiapkan apanya? Kan ada anak-anak."
"Mas udah sewa baby sitter dong. Jadi, kalau malam kamu khusus sama Mas aja."
"Hah?! Duit lagi, Mas!"
"Duit bisa dicari, Dek. Yang penting ...."
"Ah, baiklah. Terserah kamu, dan aku juga siap-siap aja kok."
"Kali ini anak cowok ya?"
"Ssssttt ... ada tamu lain lewat."
"Nggak bakalan denger. Kan suasananya rame."
"Hmm."
Begitulah kiranya, hubungan kami semua. Terutama hubunganku dengan suamiku. Tak apa, aku akan mempersiapkan diri untuk besok. Jika berhasil, maka anak kami akan bertambah. Rasa lelah seorang ibu akan terasa lebih nikmat lagi. Itu semua karena suamiku menginginkan anak laki-laki.
Terima kasih karena telah mengikuti cerita hidup diriku yang gendut ini. Awalnya, aku sangat trauma untuk menjalin pertemanan kecuali dengan Nike dan Tomi, awalnya aku selalu minder dan tidak percaya diri. Bahkan, aku selalu iri dengan kakakku yang tampan rupawan itu. Namun ... Tuhan tidak pernah tidur, Tuhan memberikan anugerah terindah kepadaku. Aku memiliki suami yang rupawan meski duda beranak satu, namun ia sangat perhatian, bahkan melebihi para pria muda. Aku memiliki anak-anak yang baik dan cantik, lalu temanku bertambah. Bahkan, aku bersahabat dengan CEO tampan bernama Celvin Hariawan Sanjaya. Lalu, CEO cantik bernama Riska telah menjadi keponakan iparku.
Aku sungguh berterima kasih.
Sekian ....
Terima kasih juga dari aku penulisnya.
__ADS_1
Vhy'dHeavy.