Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Tes?!


__ADS_3

****


"Kita ke apartemen saja," ajak Celvin kemudian.


Riska terdiam. Aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa.


"Fanni kamu juga ikut," lanjut Celvin lagi.


"Hah?" Aku terkejut. "Nggak bisa dong. Ini kan masalah kalian, nanti aku malah menganggu."


"Riska butuh kamu, lagipula aku takut hal itu terjadi lagi. Aku juga butuh bantuan kamu, kamu kan sudah menikah. Kamu bisa kan, membeli sebuah tes kehamilan?"


"Bi-bisa sih. Tapi, kita keluarnya gimana? Karyawan lain kalau tau gimana? Pasti jadi gosip buat kalian."


Celvin mulai berpikir keras. Yah, aku juga mengkhawatirkan akan hal ini. Bukan karena ikut campur, melainkan untuk suamiku. Jika terjadi gosip tidak sedap tentang hubungan Celvin dan Riska pasti akan berpengaruh pada perusahaan mereka. Apalagi Mas Arlan tidak bisa tinggal diam begitu saja. Entah si aki-aki sang vampir kesayanganku itu bodoh atau terlalu baik hatinya. Aku heran dan tidak habis pikir saja.


Celvin menatap Riska penuh dengan ketulusan. Ah... aku menjadi terbawa suasana pada akhirnya. Seolah masuk ke dalam sebuah drama Korea. Namun bukan diepisode bahagia, melainkan kepiluan tiada terkira. Andai Mas Arlan ada disini, aku pasti memeluk dirinya sangat erat, lantaran terharu. Namun, aku malah memeluk keponakan iparku yang sedang berduka lara. Oh... kali ini aku bukan pemeran utama, melainkan tokoh figuran didalam drama cinta mereka berdua.


"Fann!" seru Celvin kepadaku.


Aku tersentak seketika. Lantas menjawabnya, "i-iya!"


"Kamu ngapain? Senyum-senyum gitu?"


"Ehh? Haha... nggak apa-apa kok."


Celvin mengernyitkan dahinya karena keheranan. Aku sendiri malu akan reaksi yang baru saja aku tampilkan. Betapa bodohnya diri ini, bukannya ikut membantu mencari jalan keluar, malah berkhayal tentang sinetron cinta-cintaan. Sepertinya aku sudah gila.


Kembali kepada Riska, wanita ini masih mengbungkam bibirnya. Hanya sisa sesenggukkan yang terkadang muncul dan terdengar. Aku mengerti, semua situasi sekarang tidaklah mudah ia jalani. Namun, semua memang harus dituntaskan. Sebuah resiko yang harus mereka tanggung. Meski terdengar kejam dan sadis, tapi inilah akibat dari perbuatan yang dilarang.


"Jangan terlalu pusing, Riska," ujarku kemudian. "Semua pasti akan selesai dengan tuntas."


Riska hanya mengangguk pelan. Sepertinya ia masih enggan untuk membuka bibirnya. Tak mengapa, aku harus memahami dirinya.


"Fanni?" ujar Celvin kepadaku. "Aku ada satu ide."


"Apa itu?" tanyaku kemudian.


"Kumpulkan semua karyawan yang sudah datang. Beri pengumuman, hari ini kantor diliburkan."


"Haah? Haruskah sejauh itu?"


Riska yang terdiam sejak tadi, kini tiba-tiba saja berdiri. Sehingga terlepas dari pelukanku. Ia menatap nanar kearah Celvin penuh arti penolakan. Yah, aku memang merasa ide ini berlebihan. Sangat disayangkan sekali, apalagi kondisi perusahaan sekarang sedang sibuk-sibuknya mencari cara pemasaran yang tepat.


Aku hanya bersender santai menatap kedua insan itu saling berdebat. Bukannya tidak ingin membantu, hanya saja otakku sedang tidak berfungsi sebagai mana mestinya. Bisa dikatakan, bahwa aku tidak terlalu pintar dalam mencari jalan keluar untuk masalah semacam ini. Mungkin, jika mengenai pekerjaan, aku bisa maju paling depan tanpa diintruksikan.


"Nggak bisa gitu dong, Vin! Dampaknya besar bagi perusahaan kamu. Dan lagi... gimana kalau papa kamu tau?" ujar Riska yang terdengar oleh gendang telingaku.


"Aku nggak peduli. Semua memang sudah hancur. Tidak ada cara lain, selain menanggung resiko." Celvin masih bersikeras akan idenya.


"Kamu bisa dihajar habis oleh papa kamu! Kamu ngerti nggak sih?! Tiba-tiba aja liburin jam kerja kantor, alasan apa yang bakalan kamu berikan?"


"Terus bagaimana, Sayang? Kalau ada orang yang melihat kamu ada disini, berita macam apa lagi yang bisa menghebohkan?"


"A-aku bakalan nunggu disini. Bahkan sampai malam sekalipun."


"Terus kalau, perusahaan kamu. Emm... tidak, kalau karyawan kamu nyari atasannya gimana? Semua harus diketahui saat ini juga, biar kamu bisa kembali bekerja."


Bukankah ini kisahku? Mengapa masalah pelik dihadapi mereka? Lantas, aku harus membantu dengan cara apa?


Melihat Celvin dan Riska frustasi, aku menjadi enggan berada diantara mereka saat ini. Namun, kalau ingin keluar pun masih tidak enak hati. Sedangkan otakku juga belum kunjung mendapatkan jawaban guna membantu permasalahan mereka berdua. Hampir semua cara terasa tidak tepat untuk diterapkan. Mereka harus terjebak didalam ruangan ini.


Aku pribadi sangat menyayangkan atas kedatangan Riska ke gedung kantor ini. Menurutku, seharusnya ia tidak kemari. Kalau demi bertemu Celvin, seharusnya banyak cara lain yang lebih kecil resikonya. Namun apa daya, sekali lagi semua sudah terjadi. Aku paham, apa saja bisa dilakukan disaat kondisi hati sedang tidak tenang dan bahkan hampir putus asa.


"Emm... tunggu sampai jam kerja saja. Kemudian adakan rapat dari masing-masing divisi. Toh, hal ini juga menguntungkan. Dengan begitu kesepakatan bagus bisa didapatkan oleh perusahaan. Dengan catatan tidak boleh ada satu orang pun yang keluar dengan alasan rapat yang sangat amat penting," usulku. Entah darimana ide ini muncul.


"Begitu ya?" balas Celvin sembari manggut-manggut. "Aku setuju. Oke setengah jam lagi, kamu harus bertahan disini Riska. Fanni kamu yang jaga, jangan sampai ada yang masuk. Halangi saja pintu itu menggunakan kursi atau semacamnya."


"Nggak. Aku aja yang memberikan intruksi itu."

__ADS_1


"Lho? Kenapa?"


"Karna ini tugasku. Akan aneh jika seorang atasan yang memberikannya secara langsung. Aku usahain secepat mungkin mereka terkumpul."


"Fann?"


"Ya?"


"Terima kasih."


Aku tersenyum tipis. Lantas, segera mengambil langkah untuk keluar dari ruangan ini. Sebelum itu aku telah memeriksa adanya orang atau tidak. Bisa berabe urusannya nanti. Apalagi kaum perempuan gemar membuat gosip tidak jelas.


Setelah merasa cukup aman, aku segera bergegas. Aku mendatangi setiap manager semacam Mita disemua divisi. Kuberikan arahan kepada mereka dengan jelas tanpa kurang sedikitpun. Bahkan kuberikan beberapa materi yang tiba-tiba saja muncul dibenakku. Sudah kubilang, aku cukup pintar jika mengenai pekerjaan.


"Tumben amat sih? Kayaknya serius?" tanya Mita, sesaat setelah aku sampai ditempatnya.


"Yah, loe tau kan situasi sekarang. Banyak penurunan, jadi harus diadakan rapat serius disetiap divisinya," jawabku menjelaskan.


Mita mengerutkan dahinya, tanda keheranan. Biasanya tugasnya hanya menyampaikan, menandatangani dan ikut rapat dengan para atasan saja. Untuk karyawan bawah, biasanya hanya sebuah intruksi singkat yang ia berikan. Aku berharap Mita tidak curiga.


"Loe halau aja dengan materi beberapa strategi pemasaran. Minta pendapat mereka, ibarat kata saling sharing ajalah."


Mita manggut-manggut. "Iya sih, wajar. Biasanya kalau udah sepenting ini harus begitu. Tapi ya agak berlebihan, kalau keluar aja nggak boleh. Tapi, okelah, gue kerjain."


Kuhembuskan napas legaku. Akhirnya Mita percaya dengan ucapanku. Lantas, aku segera pamit pergi. Sedangkan, ia mulai mengambil langkah untuk mempersiapkan. Aku menilik jam pada ponselku, kira-kira tinggal sepuluh menit lagi jam kerja dimulai. Aku tidak menyangka bisa mengerjakannya secepat dan seberani ini. Sepertinya aku pantas berbangga hati.


****


Beberapa saat kemudian, kondisi kantor sudah sepi, tidak ada satupun karyawan yang keluar. Setelah mengunci pintu ruang kerja, aku dan Celvin segera membawa Riska menuju parkiran. Bahkan beberapa security sudah kuintruksikan untuk pergi terlebih dahulu. Yah, siapa yang tahu jika petugas keamanan juga memiliki sifat julid.


Sesampainya dihadapan mobil milik Celvin, kami bertiga melangkah masuk. Kali ini, Celvin tidak menggunakan jasa sang sopir. Ia ingin membawa kami ke apartemennya secara pribadi. Herannya, dari semua orang yang ada, Celvin begitu mempercayaiku. Wajar tidakkah hal ini? Sebagai manusia, aku menjadi tersanjung karenanya.


Deru mobil semakin terdengar kencang. Menurutku, Celvin sudah tidak sabar akan kondisi kandungan Riska saat ini. Yah, bagaimana tidak? Ini menyangkut nasib dirinya dan orang tercinta. Jika aku dalam posisi Riska pun, aku akan menangis lebih keras daripada dirinya. Aku bersyukur, kesepian Mas Arlan saat dulu, tidak membuatnya gelap hati. Meski kami tahu, kami masih melanggar aturan itu, setidaknya ia tidak pernah memperlakukan diriku secara sembarangan. Suamiku memang lebih sempurna hatiku.


Celvin menghentikan laju mobilnya tiba-tiba. Lebih tepatnya didepan sebuah apotik. Aku mengerti maksud dirinya. Tanpa pikir panjang lagi aku segera beranjak turun dan melangkah mendekati pintu masuk apotik tersebut.


Kugaruk kepalaku yang tidak gatal karena merasa malu. Lantas, aku mengutarakan maksud kedatanganku, "i-itu. Saya mau beli alat tes."


"Tes? Tes buat apa ya?"


"Emm... tes kehamilan."


"Owalah, banyak kok. Mau cari yang merk apa, Mbak?"


"Yang paling bagus aja."


"Baik, silahkan ditunggu."


Sang pegawai bergerak menuju rak dimana benda tersebut tersimpan. Beliau mengambil tiga macam merk benda tersebut. Aku menelan ludahku karena tidak terbiasa dengan hal semacam ini. Bahkan, aku tidak mengerti akan memilih yang mana, lantaran belum pernah hamil.


Akhirnya aku memutuskan untuk mengambil semua merk dan masing-masing dua buah. Yah, aku juga bisa menyimpannya jika membutuhkannya suatu saat nanti. Setelah melakukan pembayaran, aku segera berlalu pergi dari tempat ini. Aku menghampiri mobil Celvin dan masuk ke dalamnya. Setelah itu kuberikan alat tersebut kepada Riska.


Ia tertegun sebentar. Jari-jarinya tampak gemetaran. "Aku nggak siap," ujarnya kemudian.


"Ayolah, Sayang. Kamu harus pakai, biar kita tau hasilnya secara pasti," jawab Celvin sembari melaju mobilnya kembali.


"Iya, Ris. Ini sudah konsekuensinya," selaku.


"Tapi, aku takut Kak. Pegang benda ini aja, aku gemetaran luar biasa. Apalagi kalau menggunakannya. Kalau positif gimana nantinya? Hiks..."


Air mata Riska mengalir lagi membasahi pipinya yang halus. Mendengar keluh kesahnya, aku tidak bisa menyergahnya. Begitupun juga Celvin. Namun, kembali lagi pada hasil, ia tetap harus menggunakan benda tersebut. Terlebih, tanggal bulanannya sudah terlambat dua hari.


Dalam kondisi seperti ini, tiba-tiba saja ponselku berdering. Aku meraihnya dari dalam kantongku. Mas Arlanku tersayang adalah pelakunya. Aku menatap Celvin dan Riska seketika.


"Angkat saja, Fann," usul Celvin.


"Baiklah. Tapi aku minta, Riska tenang dulu. Aku nggak mau ketahuan sama Mas Arlan kalau kamu ada disini."


Riska menghela napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Kemudian diusapnya air mata yang keluar. Ia membekap bibirnya dengan telapak tangan agar tidak bersuara barang sekali saja.

__ADS_1


Setelah dirasa cukup, aku segera mengangkat telepon Mas Arlan yang sudah dilakukan kedua kalinya. "Ha-halo, Mas," ujarku.


"Assalamu'alaikum, Sayang," jawabnya bersalam dengan nada menyindir.


"Iya maaf. Wa'alaikumssalam, kenapa?"


"Rindu hehe."


"Serius, Mas? A-aku masih sibuk kerja."


Mas Arlan tiba-tiba saja terdiam. Entah apa yang ia pikirkan disana. "Kerja dimana? Kok ada deru mobil?" tanya lagi.


"O-oh... i-ini. Ini Mas, aku lagi perjalanan meeting diluar."


"Nggak berdua aja kan?"


"Enggak kok, tenang aja. Sama Pak Sopir. Pft... hehehe."


"Kenapa ketawa?"


"Enggak, Mas. Siapa yang ketawa?"


"Hmm... awas ya kalau kamu sampe aneh-aneh. Mas nyoba-nyoba telpon aja, mumpung nggak terlalu sibuk. Nanti siang Mas jemput, kita makan siang bareng ya."


"Ehh... ta-tapi?"


"Pokoknya Mas jemput. Bye, Dek. I love you, Assalamu'alaikum Sayang."


Mas Arlan mematikan panggilannya. Hatiku mulai bimbang, aku khawatir masalah ini belum selesai sampai jam makan siang tiba. Aku takut Mas Arlan mengetahui keberadaan Riska.


"Aku pantes ya jadi sopir?" tanya Celvin tiba-tiba.


"Ma-maaf, aku nggak tau harus bicara apalagi hehehe," jawabku.


"Tapi, Om Arlan nggak tau kan Kak?" sela Riska.


Kugelengkan kepalaku mantap. "Dia nggak tau. Makanya kamu harus berani mencoba benda ini. Dengan begitu, kamu bisa segera kembali ke kantor kamu tanpa masalah. Dan... aku bisa dijemput Mas Arlan nanti siang tanpa kebingungan."


"Makasih Kak."


"Sama-sama."


Perlahan tapi pasti, laju mobil ini semakin melambat. Aku rasa Celvin sudah hampir mendekati keberadaan apartemennya yang tidak aku ketahui. Ia bahkan sudah mempersiapkan topi dan masker yang entah untuk siapa.


Dan benar saja, tidak sampai lima menit dari pradugaku, Celvin membelokkan mobilnya ke suatu gedung apartemen yang sangat elit. Apartemen milikku sangat jauh jika dibandingkan kemewahan bangunan ini. Orang kaya memang tidak bisa dilawan.


"Pakai ini, Ris. Demi mencegah hal yang tidak diinginkan keluarlah lebih dulu bersama Fanni," ujar Celvin.


Riska mengambil kedua benda tersebut. Sedangkan aku bertanya-tanya dalam hati. Jika sekarang Riska sedang dilindungi wajahnya. Lantas, saat kejadian itu terjadi, apakah mereka datang menggunakan kedua benda ini juga? Beginikah sulitnya menjadi selebritis, meskipun bukan artis. Namun, nama mereka telah dikenal banyak orang. Sekali saja muncul skandal, jangan tanya resiko berat yang akan ditanggung.


Aku bersyukur Mas Arlan tidak lagi menjabat jabatan tinggi itu. Setidaknya, tidak akan banyak yang tahu akan pasangannya yang gemuk sepertiku. Mungkin, aku akan dihujat habis-habisan jika itu terjadi.


Riska telah menggunakan kedua benda tersebut. Lalu, ia menggandeng tanganku dengan erat. Ia menunjukkan arah jalan dan lift yang perlu kami lewati demi mencapai salah satu kediaman yang Celvin miliki. Sedangkan Celvin, ia mengikuti kami dari belakang dengan jarak yang cukup panjang.


Sesampainya ditempat yang dituju, kami menunggu Celvin terlebih dahulu. Setelah pria itu sampai, ia membuka pintunya dan mempersilahkan kami untuk masuk. Ketika didalam, Riska menatap alat tes tersebut dengan ragu-ragu diiringi tatapannya kepadaku dan Celvin.


"Pakailah, Sayang. Kita perlu tau," pinta Celvin.


"A-aku takut," jawab Riska.


"Ayolah. Aku berjanji apapun hasilnya tetap akan bertanggung jawab. Tapi, setidaknya kita perlu tau akan hasilnya. Kalau benar-benar positif, kita harus merawatnya."


"...."


Bersambung...


Budayakan like+komen..


Kira-kira hamil gak ya? hehehhehe.

__ADS_1


__ADS_2