
Delapan hari berlalu, dimana acara tahlil sudah berakhir. Namun bukan berarti rasa pilu kami usai begitu saja. Pastinya beberapa dari kami masih merasa tidak menyangka. Ibu kami telah tiada. Seolah memberikan rasa sepi tersendiri didalam rumah besar milik keluarga Harsono ini.
Dan selama satu minggu, aku dan Mas Arlan beserta Selli menginap disini. Bahkan kedua orang tuaku datang setiap hari untuk membantu segala keperluan untuk malam. Untuk Pak Ruddy dan Celvin, mereka pun sempat datang untuk melayat Bersyukur tidak ada satupun anggota keluarga yang membahas perselisihan yang belum menemui titik temu. Setidaknya mereka semua masih bisa memposisikan diri sebagaimana mestinya.
Hari ini aku dan Mas Arlan akan bersiap untuk kembalu pulang. Sudah cukup kami menginap, karena aku memang merasa kurang nyaman. Dan wajar masih dalam suasana duka, hampir semua orang lebih memilih diam. Bahkan, nyaris tidak mengajak diriku untuk sekedar berbincang. Rasanya keberadaanku masih belum bisa diterima. Namun tak apa, aku tidak ingin menerka terlalu dalam. Takutnya malah timbul fitnah dan memperkeruh suasana hatiku. Apalagi dalam kondisi yang tengah hamil seperti ini, aku tidak boleh menambah beban pikiran lagi.
Lalu, aku dan Mas Arlan sudah berada didalam kamar. Aku dengar, kamar ini adalah kamar milik Mas Arlan sebelum pindah. Berada di lantai kedua dari tiga lantai rumah ini. Megah sekali, bak istana. Rumah milik orang tuaku tidak ada apa-apanya. Bahkan rumah milik suamiku pun masih jauh jika dibandingkan rumah yang luasnya seperti satu komplek ini.
"Udah rapi kan, Dek? Kita harus pulang," ujar suamiku sembari memandangku yang masih sibuk dengan helaian baju yang sempat aku bawa.
Aku mengangguk pelan diiringi jawaban, "udah, Mas. Ini doang, tiga helai lagi."
Kemudian Mas Arlan berjalan menghampiriku setelah menutup resleting koper kecilnya. Sesampainya dihadapanku, ia tampak menghela napas, "kita harus cepat pulang. Mas udah nggak nyaman."
"Nggak nyaman? Kenapa?"
"Entahlah, rasanya ada beban tersendiri pada mereka semua mengenai keberadaan kita."
"Emm ... iya sih, aku juga merasakan itu. Tapi kita kan nggak boleh berprasangka buruk, Sayang. Jangan sampai ada perselisihan baru lagi, ibu kita baru saja meninggal. Pilu hati belum sembuh."
"Mas tahu, Dek. Mas juga milih diem kok. Mas baru bilang sama kamu aja. Dan kita bisa cepat pulang tanpa membuat masalah lagi."
"Hmm ... iya, Mas. Kamu harus ada omongan dulu sama mereka."
"Nanti Mas pamit sama Mas Gun secara pribadi. Lalu semuanya."
"Iya, Mas."
Ternyata tidak hanya diriku yang merasakan ketidaknyamanan. Nyatanya suamiku merasakan hal yang sama. Baiklah, orang lain memang tidak mudah dalam memberikan kata maaf. Bahkan diriku saja seperti itu. Dan lupakan semua itu terlebih dahulu, lebih baik aku mengikuti intruksi suamiku.
Kini tinggal satu helai pakaian yang perlu aku lipat. Setelah itu, aku memasukkannya ke dalam tas pakaian. Sudah seperti orang pergi liburan saja. Namun begitulah yang terjadi, akan sangat tidak sopan jika kami tidak menginap. Meskipun tanggapan mereka memang tidak wajar. Atau mungkin hanya perasaanku saja? Ah ... yang penting aku sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik.
Hingga semuanya tuntas dan siap. Aku berencana untuk mencari Selli, yang mungkin sedang bermain bersama sepupunya yang lain. Lalu, kuambil langkah untuk keluar dari kamar ini. Sepi, itulah suasana yang tergambar didalam rumah bak istana ini. Sudah seperti rumah yang tiada penghuninya saja. Sumpah! Kalau aku diminta untuk tinggal disini pasti tidak mau. Kenapa? Entahlah rasanya tidak nyaman. Rumah Mas Arlan jauh lebih nyaman.
Aku menghela napas dan melanjutkan langkahku yang sempat terhenti. Menuruni tangga perlahan-lahan sembari menopang perutku menggunakan satu telapak tanganku. Baru di lantai satu, banyak pembantu rumah tangga yang lalu lalang membersihkan ruangan. Tampaknya kinerja perusahaan yang menurun, tidak membuat Mas Gunawan mengurangi para pekerjanya. Yah, namanya juga orang kaya, pastinya banyak menyimpan. uang-uang untuk keadaan darurat.
"Nona Fanni?" Seseorang memanggilku, sesaat setelah aku sampai di lantai satu.
Aku menoleh ke arah sang pelaku. "I-iya, Nyonya?" tanyaku.
"Saya istrinya Mas Dian, Dahlia."
"Saya Fanni, Nyonya."
"Kenapa memanggil saya dengan embel-embel nyonya? Sepertinya anda cukup tahu diri ya?"
Deg! Ucapan Nyonya Dahlia sungguh sangat pedas, sampai membuat jantungku seolah ditancap sesuatu. Aku menelan salivaku dengan ngilu. Apa-apaan sambutan itu? Tampaknya sifat beliau sama saja dengan sang suami. "Ya, Nyonya Dahlia. Jauh sebelum ini saya sudah tahu diri."
Beliau tersenyum, bukan! Beliau menyeringai. "Baguslah kalau begitu. Saya harap kamu juga tidak mengharapkan satu peser pun warisan ibu mertuaku."
"Hah? Tidak akan, Nyonya. Jangan khawatir. Karena saya memiliki harta yang tidak terkira lagi harganya."
Nyonya Dahlia mengernyitkan dahi. "Ck! Jangan sok kaya."
"Hehe, tentu tidak, Nyonya. Harta saya berupa suami yang baik dan penuh kasih sayang, bukan kepalsuan. Beserta anak dan calon anak saya."
Nah loe!
Seketika itu juga, Nyonya Dahlia yang tidak tahu harus kupanggil apalagi, beliau salah tingkah. Bahka wajah beliau bersemu merah lantaran malu. Sedangkan diriku masih bersikap semanis mungkin dan berlaku sopan. "Mohon maaf, saya masih harus mencari anak tercinta saya. Karena suami tercinta sudah menunggu, Nyonya."
__ADS_1
Selepas pamit, aku melanjutkan tujuanku dalam mencari Selli.
"Tunggu!" Seruan Nyonya Dahlia kembali menghentikan langkahku. Aku berhenti dan membalikan badan seketika itu juga. "Nona Fanni! Ka-kamu sengaja, kan? Sengaja menyindir saya, kan? Kamu tidak memiliki hak melakulan seperti itu terhadap saya! Ingat! Suamimu yang menjebloskan suami saya ke penjara!"
Aku tersenyum. "Mohon maaf sebelumnya. Ini masih dalam suasana duka. Akan tidak pantas jika Nyonya sudah marah-marah. Takutnya nanti malah menyusul almarhum Mama lho."
"Kamu?!"
"Iya, ini saya. Dan saya ingatkan untuk selalu menjaga kesehatan. Apalagi lagi marak pemberitaan soal virus. Emm ... satu lagi, perlu diingat, suami saya adalah adik ipar Nyonya Dahlia. Suami saya melakulan hal yang amat mulia untuk keluarga. Lebih baik Nyonya mengurus diri sendiri, siapa yang tahu kalau warisan mertua kita malah diberikan pada anak dari Mas Dian dengan istri yang lain!"
Lalu aku benar-benar mengambil langkah lagi, lebih cepat. Aku khawatir dipanggil lagi, atau bahkan diserang oleh Nyonya Dahlia yang dipenuhi amarah itu. Mengapa aku sampai mengatakan semua itu? Ya, karena aku geram dalam keadaan duka seperti ini, beliau masih saja memikirkan soal warisan. Bahkan masih menyalahkan Mas Arlan atas nasib miris yang menimpa Mas Dian. Ah ... benar-benar s*nting kalau dipikirkan lagi. Parah!
Lupakan hal bodoh yang baru saja terjadi, aku harus cepat-cepat menemukan Selli. Supaya cepat pergi dari istana megah yang penuh nestapa ini. Eh ...? Tunggu dulu, bukankah aku tadi terlalu berani? Mungkinkah anak didalam kandunganku yang memberiku keberanian itu? Tampaknya emosi ibu hamil memang luar biasa. Beruntungnya aku masih bersikap tenang dan tidak meledak-ledak, bahkan aku tidak merasa gemetaran. Yah, kalau bukan karena suasana duka yang masih menerpa, bisa jadi si ibu hamil satu ini marah sejadi-jadinya.
"Kak Fanni?" Lagi-lagi seseorang memanggil namaku. Tampaknya hari ini orang-orang sedang rindu padaku.
"Ya, Riska," jawabku tatkala melihat Riska berjalan menghampiriku.
"Good job!"
Aku mengernyitkan dahiku lantaran merasa heran. "Apanya?"
"Hehe, tadinya aku mau bantu. Ternyata Kak Fanni malah lebih berani. Sadis lho kata-katanya. Sumpah! Dari dulu aku juga nggak suka sama Tante Dahlia. Bawel, sok berkuasa. Bahkan Mama dipengaruhi banyak hal sampe segalak itu sama aku."
"Iyakah? Aku pikir kamu deket sama beliau."
"Ih, enggaklah, Kak. Najis."
"Hei! Nggak boleh ngomong gitu. Najis buat sesuatu yang dilarang, bukan manusia. Ngawur kamu."
"Yah, ibarat kata aja. Kalau bukan karna orang tua sepupu aku, aku males hormat."
"Hehe, biar awet muda, Kak."
Sepertinya Riska benar-benar tidak menyukai Nyonya Dahlia, istri dari Mas Dian dan ibu dari si kembar Ajeng dan Diandra itu. Mengulas ke masa lalu, tepatnya dihari lamaranku, anak-anak mereka terbilang ramah dan lucu(episode waktu). Pastinya juga cantik. Tidak menyiratkan sedikit pun sifat judes dari kedua orang tuanya. Yah, begitu lebih baik.
Disini lain, aku berpikir wajar atas sikap Mas Dian kepada William dan ibu Leny. Lantaran William adalah anak laki-laki satu-satunya yang beliau miliki, dari wanita pertama yang tidak beliau nikahi secara resmi. Sekaligus hasil dari hubungan gelap, diluar pernikahan. Anak itu sungguh bernasib malang. Ah ... gara-gara memikirkan mereka, aku sampai melupakan tujuan utamaku.
"Emm ... Ris? Lihat Selli?"
"Ada di ruang bermain, Kak. Dia lagi sama anaknya Om Roby yang sepantaran."
"Sepupu kamu banyak banget, Ris. Malah jadi yang tertua."
"Seru, Kak. Papa aku kan emang udah tua, bahkan usia Papa nggak terlalu jauh dari Nenek, emm ... maksud aku almarhum Nenek."
"Ya, orang jaman dulu, nikahnya muda-muda. Nggak kayak aku, kalau nggak ketemu Om kamu, pasti aku jadi perawan tua."
"Yang penting sekarang udah bahagia. Dan sebentar lagi akan menjadi ibu dari dua anak. Semoga lancar sampai persalinan, Kak."
"Amin, makasih, Ris. Tapi antar aku cari Selli ya? Aku bingung arah rumah sebesar ini."
"Wah! Haha."
Riska malah tergelak mendengar kejujuranku. Ya, aku memang norak atau lebih disebut kampungan. Bagaimana tidak, rumah ini sudah seperti mall saja. Bahkan ada elevator alias lift. Aku menjadi menantu dari konglomerat. Hebat, bukan? Namun, sumpah! Aku tidak ada niat untuk meminta sepeser pu. warisan. Bahkan kalau nanti Mas Arlan mendapatkannya, maksudku beberapa persen saham di perusahaan Harsun, aku ingin ia menolaknya. Itupun kalau suamiku bersedia mendengarku. Entahlah, rasanya tidak nyaman saja. Aku sudah terbiasa hidup dengan bekerja keras dan sederhana sesuai didikan dari orang tuaku.
Lalu, langkahku dan Riska berhenti tepat di ruang bermain untuk anak-anak di sudut ruangan lantai satu ini. Aku jadi berpikir, memangnya ada anak kecil di rumah ini? Bukankah Ajeng dan Diandra sudah masuk SMA? Atau Roby beserta istrinya juga tinggal disini? Entahlah, mungkin aku akan menanyakannya pada Mas Arlan setelah kepulangan kami ke rumah sendiri.
"Mama Fanni!" Seru gadis kecilku sembari berlari kecil menghampiriku.
__ADS_1
"Hup! Dapat deh," ujarku sembari menangkap tubuh kecilnya. Tentunya dengan penuh hati-hati agar tidak menekan perutku. "Makasih, Ris."
"Sama-sama, Kak," jawab Riska. Namun ia tidak berlalu pergi, melainkan menemui bocah laki-laki kecil--anak dari Roby. Bocah itu seusia Selli, mungkin beda hitungan bulan saja. Ia bernama Kafa, kalau tidak salah.
"Mama, aku tadi main sama Kafa."
"Oh ya? Main apa, Sayang?"
"Main banyak banget. Soalnya Selli kangen, udah lama enggak ketemu Kafa."
"Emm ... gitu ya? Tapi kita mau pulang, Sayang. Nanti yah, nanti Mama dan Papa ngajak Selli ketemu Kafa lagi ya?"
"Yaaaah, pulang ya, Ma? Selli pasti kesepian lagi di rumah. Kapan sih si Dede keluar dari perut Mama."
"Oh ... Sayang, maafin Mama dan Papa ya? Karena sering ninggalin Selli sampai Selli kesepian. Mama janji, mulai besok Mama akan temani Selli. Kita bakalan nunggu si Dede bareng-bareng ya?"
"Beneran? Selli mau. Emm ... boleh panggil Mama Nia juga?"
"Eh? A-apa? Ah ... pokoknya kita pulang dulu ya, Sayang. Ris, aku naik dulu."
Riska menolehku. "Iya, Kak."
Kemudian kuturunkan Selli dari pangkuanku. Aku berdiri dan mengajaknya berjalan ke kamar--tempat kami menginap. Namun pikiranku kembali menghadirkan pertanyaan, kenapa Selli membahas Nia lagi? Apa yang wanita itu lakukan selama kami tidak ada? Sepertinya wanita itu tengah mencari celah untuk masuk ke dalam rumah tanggaku. Atau mungkin berupaya mengambil Selli dari tanganku dan Mas Arlan. Tampaknya diperceraian mereka, hak asuh soal Selli sudah diberikan pada Mas Arlan dengan suka rela. Bisa-bisa ia menggugatnya kembali.
Tidak! Aku harus lebih berhati-hati dalam menjaga Selli. Tidak akan aku serahkan begitu saja, walau Nia adalah ibu kandungnya. Enak saja! Putriku bukan barang yang bisa dibuang lalu diambil kembali. Putriku bukan barang yang seenaknya saja bisa dijadikan alat untuk dimanfaatkan demi kepentingannya. Ya, aku harus hati-hati.
"Dek?" Mas Arlan tampak menuruni tangga sembari membawa koper kecil dan tas besar milikku yang berisis pakaian. "Mas udah siap, kita tinggal pulang."
"Iya, Mas. Kalau udah beres, kita bisa langsung berangkat. Selli gini ajalah, nggak perlu ganti baju," jawabku.
"Emm ... tinggal pamit doang, Dek."
Aku tersenyum lega. Akhirnya kami akan pulang dan menemui ranjang penuh keromantisan milik kami itu. Setidaknya rumah kami memiliki atmosfer yang dingin dan udara yang segar. Tidak penuh dengan tekanan seperti di rumah ini. Namun bukan berarti kami melupakan akan kepiluan ini secara cepat. Sebagai anak, kami akan mendo'akan mendiang ibu kami setiap saat.
Lalu, tak lama kemudian, seisi rumah muncul satu persatu. Yang membuatku fokus adalah Roby dan istrinya yang menenteng tas dan koper seperti kami. Ternyata ia tidak tinggal disini. Karena suasana tidak menentu beberapa hari belakang, membuatku tidak memperhatikan mereka.
"Kalian duduk dulu, saya mau bicara," ujar Mas Gunawan memberikan intruksi.
Kami semua hanya mengangguk pelan. Para tetua keluarga ada disini, bahkan Nyonya Dahlia dan istri dari Mas Gunawan. Membuatku memutar bola mata dengan sinis lantaran tatapan Nyonya Dahlia sungguh menusuk dan tajam. Sedangkan istri dari Mas Gunawan yang baru-baru ini aku ketahui beliau bernama Kelly, beliau bersikap lebih ramah daripada sebelumnya.
Tampaknya memang benar adanya, Nyonya Dahlia yang mempengaruhi beliau. Setelah semua kebusukan itu terbongkar, tidak ada lagi kepercayaan dari Nyonya Kelly pada Nyonya Dahlia. Ah ... entah aku harus memanggil apa kecuali Nyonya. Mungkin "mbak", namun kami tidak dekat. Dan semua yang aku katakan hanyalah pradugaku sesuai fakta yang aku dengar.
"Apa kalian benar-benar akan pulang?" tanya Mas Gunawan setelah memastikan semua orang duduk di ruang keluarga yang memiliki banyak kursi ini.
"Benar, Mas. Roby dan istri masih banyak kerjaan di restoran," jawab Roby. Benakku kembali penasaran dengan kata restoran. Namun tidak mungkin aku bertanya, bukan?
"Ya, aku, anak dan istri juga harus pulang," jawab Mas Arlan.
Mas Gunawan menghela napas berat. "Saya mau menyampaikan soal perusahaan. Emm ... Roby pasti tidak akan bersedia. Lalu, lalu Arlan?"
"A-aku? Untuk apa?"
"Bersediakah kamu kembali mempimpin perusahaan? Saya sudah membuat perjanjian dan menandatangi kerja sama dengan Ruddy. Dan sampai saat ini, saya yang mengatur pekerjaan di perusahaan. Saya sudah pensiun, saya harap kamu bisa kembali."
Brak! Seketika meja dihadapan kami digebrak dengan keras oleh seseorang. Kami menoleh pada sang pelaku yaitu Nyonya Dahlia. "Saya tidak setuju. Dia, dia, dia pengkhianat! Suamiku di penjara gara-gara dia!"
Oh ....
Bersambung ....
__ADS_1
Wah, kira-kira calon anaknya Fanni ini cewek atau cowok ya? Atau malah kembar? hehe