
Welcome to my novel
"Aku GENDUT!!!" (Extra Part)
#POV by Author#
Oke, Guys. Di Part bonus ini, aku selaku penulis yang akan membawakan ceritanya ya. Hehe
****
Fanni merebahkan diri di samping Arlan saat ini. Setelah perjalanan yang seharian mereka lakukan, tentu membuat kedua kaki dari masing-masing insan terasa pegal. Hotel yang mewah menjadi tempat penginapan bagi mereka di negara Belanda yang tengah mereka kunjungi, juga kedua anak perempuan dan seorang baby sitter handal.
Kedua orang yang telah sah menjadi suami istri selama tiga tahun ini memilih untuk memisahkan diri ketika malam tiba dari kedua putrinya. Bukan karena sebab, jutru karena ingin memadu kasih selama di sini. Tentu bukan sesuatu yang mudah. Pun meski telah memesan dua kamar, sang putri pertama masih sering menganggu atau Fanni--selaku ibu merasa tidak tega jika membiarkan kedua putrinya begitu saja, pun sudah menyewa seorang suster.
"Mas, anak-anak udah tidur belum, ya?" Fanni mengubah posisi rebahannya menjadi miring sekaligus ingin menghadap sang suami. Hatinya merasa khawatir, juga rindu kepada kedua putrinya, terutama Sella yang masih balita. Pun meski, ia sudah menyediakan susu sebagai pengganti ASI-nya atau sudah dijadwalkan jam berapa ia akan menemui sang putri tercinta.
Arlan menghela napas. Keinginan adalah quality time bersama istrinya yang bertubuh gempal itu. Bukan karena tidak peduli dengan kedua putrinya, namun ia ingin sekali-sekali memiliki waktu sendiri. Namun tidak dengan Fanni yang notabene-nya adalah seorang ibu. Ya, sang istri tidak bisa tenang jika tidak bersama kedua putrinya. "Mereka kan udah sama suster, Sayang. Dan jam segini, biasanya udah tidur, kan?" tanya Arlan sembari mengubah posisi tidurnya dan menatap wajah berparas bule milik sang istri.
"Iya, aku tahu, Mas. Aku cuma enggak biasa pisah sama mereka."
"Dek? Kamu yang tenang, ya? Mereka aman kok sama suster, lagian kalau ada apa-apa pasti suster telepon kita."
Fanni menatap Arlan, sekilas saja. Kendati, ia telah diberikan suatu perhatian dan kata-kata penenang, ia tetap merasa cemas. Namun di sisi hati yang lain, ia justru sangat paham tentang keinginan Arlan. Bukan hanya itu, bahkan ia pun tidak ingin jika sampai suaminya merasa kecewa. Hanya saja, ia adalah seorang ibu. Dan pasti semua ibu akan merasakan hal yang sama.
Fanni membangunkan dirinya dari posisi tidurnya. Ia menghela napas dalam dan ia hembuskan kembali. Ia menilik ke arah jam terpasang di dalam kamar ini, pukul sepuluh waktu Belanda. Hatinya semakin gusar, ia benar-benar ingin bertemu kedua putrinya. Namun, ia tidak enak hati kepada sang suami.
"Mas," panggil Fanni kepada Arlan yang sebenarnya sejak tadi mengawasi gerak gerik istrinya, bahkan dengan tatapan tajam. "Aku, mau lihat Selli dan Sella dulu, ya?" pamit wanita berusia 33 tahun itu. Tentu dengan perasaan sangat tidak tenang.
Arlan melenguh. Pasti malas mendengarnya, karena terhitung sudah empat hari mereka sampai di sini. Dan selama itu pula, Fanni selalu membiarkannya sendiri. Ya, sang istri lebih memilih bermalam dengan kedua putri mereka atau membawa Sella--putri kedua ikut ke dalam kamar yang dipesan khusus mereka berdua.
"Terserah, Dek," jawab Arlan pasrah. Setelah itu, ia membalik posisinya menjadi membelakangi Fanni.
"Bentar aja kok, Mas. Nanti aku balik lagi."
"Ya."
"Mas ... jangan marah ya?"
"Enggak kok, Dek."
Fanni terdiam, ia menarik tangan yang sebenarnya ingin membelai wajah sang suami. Namun ia urungkan seketika karena mendengar nada bicara Arlan yang jutek dan terkesan dingin. Namun, karena sudah terlanjur meminta izin, Fanni tetap pada rencananya. Ia segera turun dari ranjang bernuansa merah muda itu. Ia bergegas meninggalkan kamar dan Arlan untuk menuju di kamar lain di mana kedua putri mereka berada.
Arlan menggeliat. Waktu ini seharusnya menjadi malam yang hangat baginya dan Fanni. Namun, ternyata sang istri begitu lembut hatinya, ia menjadi seorang ibu yang teramat baik. Kali ini, Arlan hanya bisa diam. Karena bagaimanapun kedua putri yang sedang dikhawatirkan oleh Fanni adalah juga anak kandungnya.
Arlan menghela napas dalam, detik berikutnya ia hembuskan. Ia membangunkan dirinya dari posisi tidurnya lalu turun dari ranjang itu. Ingin sekali menyusul Fanni menuju kamar kedua putrinya berada, namun ia tidak ingin membawa wajah muram ke sana. Arlan memilih menyendiri, membuang kegusaran. Lalu, ketika suasana hatinya membaik, ia akan segara menyusul Fanni.
__ADS_1
Pemandangan di luar sana sangat indah. Gemerlap lampu kota dari bangunan yang menjulang tinggi dan bergaya Eropa begitu terang. Pun meski langit semakin gelap pekat dan tanpa bintang, bak mengerti apa yang ada di dalam hati suami dari seorang Fanni.
"Apa aku egois? Aku kan udah sewa suster, masa' istri masih egois sih?" gumam Arlan kepada dirinya sendiri, atau mungkin kepada angin malam yang berhembus menyapu wajahnya. Ia berdiri di balkon hotel. "Padahal, ... aku ingin mengajak istri buat refreshing. Kasihan dia jaga anak-anak setiap hari. Apa aku salah langkah? Aku juga butuh waktu istimewa bersama istri. Tapi, ... kayaknya aku yang salah. Malah ngambek begini."
Ia tahu, semua yang dilakukan oleh Fanni adalah demi kedua anaknya, bahkan Selli--selaku putri pertama yang bukan anak kandung sang istri. Ketika Arlan mengingat posisi Selli, ia semakin merasa tidak enak hati. Ya, seharusnya ia tidak uring-uringan sendiri, padahal Fanni sedang berusaha menjadi ibu yang terbaik. Bahkan, Fanni tidak pernah memikirkan status Selli yang sejatinya adalah anaknya dengan Nia--sang mantan istri.
"Ah! Tapi, hati masih kesel banget. Belum bisa ketemu anak-anak kalau kayak gini." Arlan mengeluh. Memang, ia masih sangat kesal dengan sikap Fanni, pun ketika ia sadar apa yang dilakukan sang istri adalah demi suatu kebaikan. Hanya saja, ia butuh waktu untuk membuat hatinya kembali tenang.
Di kamar lain, Fanni tengah memangku Selli. Tadi, saat pertama kali ia masuk ke dalam kamar itu, ia mendapati betapa repotnya sang baby sitter. Terlebih ketika Selli belum ingin terlelap dan Sella yang rewel. Siapa yang tidak akan terenyak iba melihatnya?
"Mbak Fanni, balik aja. Saya enggak apa-apa kok. Anak-anak cukup mudah ditangani," ujar Suster itu. Ia merasa bersalah karena Fanni harus turun tangan di dalam pekerjaan dan itu tidak hanya sekali.
"Nanti, Sus. Saya senggang kok. Lagi pula,
sepertinya anak saya butuh saya," jawab Fanni. Ia masih memberikan ASI kepada Sella. Senyumnya terlukis penuh kelegaan karena bisa menatap wajah putrinya.
"Duh, Mbak. Saya yang enggak enak sama Mas Arlan." Baby Sitter yang bernama Sima itu, seperti memohon dengan ekspresinya. Ia berharap Fanni bisa kembali ke dalam kamarnya. Bukan hanya citra kerjanya yang bisa dianggap buruk oleh Arlan, ia juga tahu alasan mengapa Arlan menyewa dirinya.
"Suami aku enggak marah kok."
Sima semakin gelisah. Ia paham, bahkan sangat paham apa yang menjadi sebab Fanni ingin menemui Sella. Ya, karena Fanni seorang ibu. Ibu manapun pasti akan secemas itu, terlebih jika setiap harinya bersama anak-anak. Rasanya akan aneh dan takut jika terpisah, pun meski hanya waktu yang amat sebentar.
Sedangkan Fanni begitu asyik menyanyikan lagu anak kepada Sella yang masih saja terjaga. Tampaknya, suasana baru membuat balita berusia hampir satu tahun ini merasa tidak nyaman. Pun meski di bulan Juli, masih dalam musim panas yang tidak jauh berbeda dengan Indonesia.
"Mbak, maaf kalau saya lancang. Tapi, ... ini kan seharusnya menjadi waktu yang spesial Mbak Fanni dengan Mas Arlan. Enggak seharusnya Mbak Fanni di sini. La-lagi pula, Selli juga udah tidur kok. Jadi, saya bisa jaga Sella," jelas Sima, tentunya dengan segala keberanian yang ia kumpulkan.
"Tapi, Mbak. Ini dari pengalaman saya. Saya pernah menikah, namun bercerai. Semua karena kesibukan masing-masing." Sima terdiam. Ia melirik ke arah Fanni yang ia pikir akan marah besar. Namun, tampaknya Fanni justru merasa penasaran. Sima kembali berkata, "saya bekerja jadi perawat bayi sejak enam tahun yang lalu. Saya menikah, namun kami memiliki banyak kesibukan. Ketika berbulan madu, dia malah sibuk sendiri. Urusan bisnis katanya."
"Emm ... saya turut prihatin, Sus."
"Saya paham, Mbak. Mbak Fanni adalah seorang ibu. Pasti merasa cemas dengan anak-anak. Tapi, ... sekarang ada saya, Mbak. Saya akan jaga anak-anak dengan baik. Saya akan memberitahu jika ada masalah. Mbak, ... jangan kecewakan Mas Arlan seperti mantan suami saya mengecewakan saya."
Fanni terdiam. Ia mencoba mencerna perkataan dari Sima. Mantan suami Sima yang sibuk, meski di dalam suasana bulan madu. Dan Fanni yang sibuk sendiri, meski dengan anak-anaknya sendiri. Ia menatap Sella yang perlahan terlelap dalam tidurnya. Ia teringat jika selama berasa di sini, ia terlalu fokus dengan kedua putrinya, bahkan nyaris melupakan Arlan.
Fanni sangat merasa bersalah. Seharusnya, ia mempercayakan anak-anaknya kepada Sima terlebih dahulu. Apa lagi, semua keperluan sudah dipersiapkan, bahkan cadangan ASI-nya. Ia malah membiarkan Arlan seorang diri di dalam kamar lain.
****
Arlan menghela napas dalam, ia hembuskan napas itu lagi. Lalu, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Arlan merasa menyesal karena telah bersikap dingin kepada Fanni. Ya, kali ini ia benar-benar menyesal. Setelah dalam beberapa saat mencoba membuat hatinya lebih tenang, ia sudah mendapatkan ketenangan itu. Ya, seharusnya Arlan memberikan dukungan kepada sang istri yang bahkan tidak bisa menikmati momen liburan ini.
Arlan bergegas, ia berbalik badan dan beranjak pergi dari balkon itu. Tidak lupa, ia menutup pintu yang menghubungkan balkon dengan ruang dalam. Setelah itu, ia segera mengambil celana kolor panjang untuk menutupi celana pendeknya. Arlan bergegas keluar. Ia berjalan lebih cepat, setelah berhasil mengunci kunci kamar hotel.
Namun, langkahnya berhenti. Ia menatap sosok orang yang ia cintai nyaris bertabrakan dengan dirinya, tepatnya di pertengahan jarak kamar mereka dengan kamar untuk kedua putrinya bersama Sima.
Arlan mendadak salah tingkah. Ia mengusap tengkuknya. Tidak seperti biasanya yang penuh gombalang, kali ini ia merasa sangat canggung sekali. Pun meski kepada sang istri. Begitu pun dengan Fanni, ia merasa bersalah namun masih enggan untuk menyapa duluan. Keduanya merasa heran, mengapa ketika di negara orang malah seperti dua orang ABG yang baru mengenal cinta?
__ADS_1
"D-dek?" Akhirnya, setelah satu menit berlalu, Arlan memberanikan diri untuk memanggil sang istri dengan panggilan sayangnya itu.
Fanni menengadah. Ia menatap wajah sang suami. "Iya, Mas," jawabnya.
"Anak-anak?"
"Udah tidur kok, Mas."
"Kamu mau kemana sekarang?"
"... mau balik ke kamar kita. Kemana lagi emang?"
"Anak-anak?"
"Udah tidur, Mas. Kan udah aku jawab tadi."
"Oh, iya ya."
"Kenapa sih?"
"Enggak apa-apa, Dek. Ya udah masuk yuk, udah malem."
Fanno tersenyum. Setelah itu, ia merangkul lengan Arlan. Tentu saja, Arlan merasa terkejut, namun berganti senang di detik berikutnya. Langkah mereka terlihat kompak menuju kamar inap yang akan menjadi saksi keromantisan mereka. Itu jika berhasil terjadi
Jika tidak, maka Arlan harus bersabar lagi. Kalau Fanni, mungkin tidak terpengaruh karena di pikirannya lebih didominasi oleh anak dan anak. Mungkin jika bukan perkataan dari Sima, ia tidak akan tersadar dan akan lebih lama di kamar itu.
Mereka duduk di tepian ranjang di dalam kamar itu. Telapak tangan saling bertumpuk di atas pangkuan Fanni. Arlan tersenyum, lalu ia berkata, "maafin Mas, ya, Dek. Tadi sempet kesel sama kamu."
Fanni tersenyum. "Iya, Mas. Aku maafin kok. Lagian, aku juga salah. Harusnya aku adil antara kamu dan anak-anak," jawabnya.
Arlan terkesiap seketika. Ia tidak menyangka bahwa Fanni akan meminta maaf kepadanya, bahkan ia berpikir Fanni akan marah dan mengomelinya.
"I-iya, Dek." Arlan tergagap. Terlebih, malam ini Fanni terlihat sangat cantik. Pun meski hanya menggunakan dress polos berbahan scuba murah, bahkan rambut Fanni terikat secara asal di belakang.
Fanni menggeragap. Tepatnya, saat Arlan menarik wajahnya seketika. Ia merasa belum siap, namun bukan berarti tidak akan siap. Ia memejamkan matanya, mengikuti irama ulah suaminya. Debaran jantung keduanya terdengar jelas di kesunyian malam ini. Napas saling beradu.
Akhirnya, setelah empat hari sampai di Belanda, Arlan bisa mendapatkan special service yang ia mau. Kali ini terbebas dari tangisan Sella atau gangguan si kakak--Selli. Arlan ingin ini, waktu malam sunyi dengan kesyahduan yang hakiki.
"Mas mau anak laki-laki." Sekali lagi, Arlan mengatakan itu. Keinginan yang tetap sama seperti beberapa waktu yang lalu.
"Jangan lupa berdo'a, Mas," jawab Fanni. Sedangkan di lubuk hatinya, ia benar-benae berharap; jika kali ini berhasil mengandung lagi, ia ingin memberikan anak laki-laki kepada sang suami.
Ya, semoga dikabulkan oleh Tuhan sang maha pemberi.
****
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen. Bantu aku naik ke 50 besar sekali-kali dengan poin kalian . hehhehe.
Akan ada 20an bab untuk extra part ini. Terima kasih telah membacanya, mohon hargai saya dengan jempolnya ya.