Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Haaaah?


__ADS_3

Ayahku terkejut saat beliau mulai membuka pintu kamar rawatku. Pandangan tertuju pada sosok Celvin, yang masih duduk bersama Tomi di sofa. Kemudian Ayahku menghampiri atasanku tersebut.


Diperhatikan sekali lagi, sosok Celvin oleh Ayahku. Seperti ada rasa tidak percaya. "I-ini bukannya CEO perusahaan Sanjaya itu ya?" tanya beliau.


"Benar Om, perkenalkan nama saya Celvin," jawab Celvin sembari mengarahkan telapak tangannya untuk bersalaman.


"Duhh... maaf Pak, saya tidak bawa sesuatu buat suguhan. Sa-saya keluar sebentar saja ya? Saya carikan minum dulu."


"Ehh... tidak usah repot-repot, Om. Saya cuma mampir sebentar kok. Hehe..."


"Nggak bisa gitu Pak. Saya ayahnya Fanni, Hendrick Van Houten Geraldine."


"Wahh... panjang sekali ya Om. Benar-benar turis hehe. Panggil saya Celvin saja, Om...?"


"Om Drick saja, Pak. Maksud saya Nak Celvin. Yasudah saya carikan hidangan dulu. Sebentar saja ya."


Celvin meraih tangan Ayahku. Lalu menggelengkan kepalanya dengan sopan. "Tidak perlu repot-repot Om, lagipula ini di rumah sakit. Bukan di rumah hehe."


Ayahku menoleh padaku. Kuberikan respon yang sama seperti Celvin. Tidak tega juga jika membiarkan beliau kesana kemari. Pasti terlalu lelah juga. Belum lagi, baru beberapa menit yang lalu beliau datang. Akhirnya Ayahku menuruti kami. Beliau berlaku sangat sopan sekali terhadap Celvin. Aku sampai tersenyum-senyum dibuatnya.


"Wah Om Drick, ada yang istimewa. Saya sama Nike dicuekin gitu aja ya?" ujar Tomi berkelakar.


Ayahku tertawa mendengar itu. Lalu menjawabnya, "Bukan gitu Tomi, kalau sama kamu sih, Om udah terbiasa. Kalau sama petinggi gini kan jarang-jarang hehe."


"Berasa didatengin Presiden ya Om? Hehe," sela Nike.


"Bukan lagi, bintang Hollywood idola Om, Neng hehe."


Celvin tersenyum dengan kharisma yang sangat penuh. Ia tidak lagi bersikap sembarangan. Aku rasa, ia pintar dalam menempatkan diri. Saat bertemu dengan orang-orang yang memiliki usia. Ahh... Celvin, sebenarnya ia sudah berubah. Hanya saja, ia masih terbayang dosanya kala itu.


Akan lebih lengkap, jika Riska pun memaafkan dirinya. Tapi, keluarga Riska belum tentu menerima dirinya. Seperti diriku, yang diambang ketidakjelasan. Menatap Celvin, yang masih mencintai sosok Riska. Membuatku haru. Ia begitu pintar menyembunyikan perasaan itu, namun sangat lemah dihadapan wanita cantik itu.


Berbicara tentang itu. Bagaimana jadinya jika Mas Arlan tiba-tiba datang? Bertemu Celvin disini. Apakah ia akan emosi lagi? Tapi, kapan ia akan datang kemari? Sudahlah! Tunggu saja.


Kelakar yang saling dilemparkan mereka berhasil menghangatkan suasana hatiku. Sejenak melupakan tentang kegalauanku. Mengikuti alur canda yang mereka celotehkan. Tawaku pun tak tanggung-tanggung untuk pecah.


"Untung Mama kamu nggak ada disini Fann," ujar Ayahku.


Aku menoleh seketika. "Emang kenapa, Pa?"


"Kan Mama nge-fans sama Nak Celvin, masih usia muda seperti ini sudah menjabat jadi CEO."


"Hmm... kalau ke Mas Arlan mah nggak gitu ya, Pa?"


"Ya... itu beda cerita sayang."


Entah Nike, Tomi maupun Celvin menampakkan raut wajah penuh tanda tanya. Namun, aku segera menyudahi itu. Mencoba mencari topik pembicaraan yang lain. Sehingga kami bisa berbincang lagi. Tentunya penuh kehangatan.


Namun, waktu terus berjalan. Dua jam sudah berlalu. Memaksa kunjungan mereka untuk selesai. Celvin dan juga kedua karyawannya bergegas kembali ke kantor. Sebenarnya, aku merasa tidak enak juga. Sampai Celvin datang kemari sebagai atasanku dengan membawa Nike dan Tomi. Entah apa yang menjadi tranding topik di Kantor mengenai hal ini sekarang. Pasti banyak orang yang berpikir macam-macam.


"Fanni, aku pamit dulu ya?" pamit Nike padaku.


"Aku juga ya Fanni, semoga cepat sembuh," sambung Celvin.


Tomi pun tak ketinggalan. "Semoga cepet sembuh ya Ndut," katanya.


"Makasih semua ya, emm... tapi Vin, gimana kata yang lain kalau kamu kesini?" tanyaku.


"Tenang saja Fanni, tidak ada yang tau kami mengunjungi kamu kok."


"Syukurlah, kalian hati-hati ya dijalan."


Akhirnya aku bisa bernapas lega tentang masalah itu. Celvin memang cerdas! Kemudian mereka bertiga bergantian menyalami Ayahku. Namun, ada yang membuatku heran. Lagi-lagi tentang Celvin. Aku rasa ia tidak terbiasa mencium tangan orang tua.


Dasar orang kaya!


Mereka berlalu pergi. Meninggalkan aku dan Ayahku. Hening kembali menerpa. Mataku terasa perih karena tidak bisa tidur dengan nyenyak semalaman. Melihat Ayahku yang membersihkan tempat ini, membuatku tidak tega untuk tidur. Pasti beliau akan kesepian.


"Papa istirahat aja, Pa," ujarku.


"Ini juga istirahat lho sayang, kamu tidur dulu. Mata kamu merah banget, Nak," jawab Ayahku.


"Bentar dulu Pa, aku mau nanya sesuatu."


"Nanya apa sayang?"


"Soal Mas Arlan, Pa."


"Kenapa dia?"


"Apa Mas Arlan nggak pernah dateng ke rumah Pa?"


"Pernah. Lho? Kalian sedang bertengkar?"


Aku diam sejenak sebelum menjawab itu. Lalu menghela napas lagi, "Iya Pa. Kami bertengkar sekitar dua minggu yang lalu."


Ayahku mendekatiku. Beliau tampak mengerutkan dahinya. Merasa heran tentang hal ini. Lalu beliau duduk di sebuah kursi dekat dengan ranjangku. Meraih telapak tanganku.

__ADS_1


"Ada apa sayang?"


"Aku... aku yang salah, Pa."


"Kamu kenapa?"


"Aku terlalu nggak percaya diri, setelah tau siapa Mas Arlan yang sebenarnya, Pa."


"Memangnya dia siapa?"


"Anak dari keluarga Harsono. Konglomerat nomor empat atau lima gitu, di Indonesia ini."


"Wow!"


"Ya kan? Papa aja terkejut. Tapi, Mas Arlan kapan terakhir datang, Pa?"


"Hmm... kapan ya?"


Ayahku berpikir keras. Mengingat lagi terakhir kalinya, Mas Arlan datang berkunjung. Sepertinya, sudah lama sekali Mas Arlan tidak kesana. Membuat harapanku pupus seketika. Kami telah benar-benar berakhir.


Ya Tuhan! Apakah ini jawaban-Mu atas do'aku dulu. Mendekatkan jika berjodoh. Lalu menjauhkannya jika tidak.


"Sudah ya, kamu tidur dulu. Biar cepet sembuh sayang," ujar Ayahku lagi.


"Pa, Papa bener-bener nggak inget?" tanyaku.


"Papa ini sudah tua sayang, sudah hampir pikun. Tapi seinget Papa, memang belum lama ini kok. Makanya kamu tenang dulu, mungkin Nak Arlan lagi sibuk."


"Tapi ini udah dua minggu lebih, Pa."


"Hmm... Papa tau perasaan kamu. Papa dulu pun begitu. Apalagi jaman dulu alat komunikasi belum secanggih sekarang, memperjuangkan Mama kamu. Menunggu kepastian dari Nenek Kakek kamu. Jadi, asal yakin semua pasti baik-baik aja sayang. Papa minta kamu istirahat dulu, jangan kelelahan lagi. Kamu nggak mau kan disini terus?"


"I-iya Pa, kalau gitu aku tidur ya. Fanni ngantuk, Papa juga istirahat ya?"


"Iya sayang."


Sebuah kecupan manis mendarat dikeningku. Ayahku menjauhkan diri dariku dan menuju sofa. Sedangkan aku, membaringkan diri lagi. Mencoba memejamkan mata. Namun, bayangan Mas Arlan terus saja muncul. Jengah sekali. Mata perih, namun jiwa enggan tertidur.


Terus berpikir dan menerka. Hingga waktu terus saja berjalan. Seorang Dokter masuk, mengecek kondisiku dengan suntikan obat dikulitku. Lalu keluar kembali. Berganti dengan petugas yang mengantarkan makanan. Aku membiarkannya, tak kusentuh sama sekali hidangan rumah sakit itu. Rasanya yang hambar tak menggugah selera. Beruntungnya Ayahku tertidur, sehingga aku tidak kena omel.


Aku bandel sekali, membuang separuh hidangan itu kedalam kantong kosong. Setelah itu membuangnya ketempat sampah. Sebagai bukti bahwa aku telah makan. Aku hanya berharap Tuhan memaafkan diriku yang nakal ini.


Kubaringkan tubuhku kembali menghadap kiri lebih tepatnya berhadapan dengan dinding. Sebelum itu, kutengok sekilas jam pada ponselku. Ternyata sudah hampir jam dua siang. Lelah sekali beberapa hari ini. Kepalaku pusing, mataku tak kuasa untuk dibawa terjaga. Tanpa kusadari aku tidur dengan pulasnya.


****


"Uuhh... uhuk... uhuk.. haus,"


"Astagfirullah! Jam sembilan malam! Gilak! Edan gue!" Sontak saja aku membelalakkan mata.


Ternyata selama itu aku tertidur. Sampai Dokter datang pun, aku tidak menyadarinya. Mungkin ini sebab dari begadang yang kulakukan semalaman. Baiklah! Mari bangun!


"Waaaaa!!!"


Aku terkejut saat kudapati sebuah kepala diatas ranjangku. Aku kira kepala hantu. Namun, setelah kucermati lagi. Itu adalah seseorang yang tengah tertidur sembari duduk dikursi. Siapa itu? Aku rasa bukan Ayahku. Mana mungkin rambut Ayah berubah seketika, dari putih ke hitam legam.


Kuturunkan diriku dengan hati-hati dari ranjang ini. Takut membangunkan lelaki itu. Aku menyadari sesuatu yang selama ini kunantikan. Membuat jantungku berdebar tidak karuan. Meski ia menunduk diatas kedua tangan yang dilipatnya, aku masih bisa mengenalinya. Mas Arlanku telah datang. Lelaki yang aku idam-idamkan. Apa ini hanya mimpi? Tidak, aku tidak mau bangun. Jika ini mimpi.


Ahh... aku sampai menitikkan air mata haru. Selalu kupandangi punggung dari Mas Arlan. Ini bukan mimpi, ini nyata. Luapan rasa bahagia seolah sedang pasang dalam lubuk hatiku. Bergejolak menandakan warna haru.


Setelah selesai menangis haru. Aku masih membiarkan Mas Arlan tertidur. Karena terlihat begitu nyenyak. Sampai bunyi dengkur terdengar. Satu hal baru yang aku ketahui saat ini. Menggelitik ditelingaku. Kutinggalkan Mas Arlan sebentar dengan membawa selang infuseku yang masih menancap ditanganku serta sikat dan pasta gigi.


Aku berjalan kearah toilet untuk mencuci wajah dan sikat gigi. Walaupun belum sempat mandi setidaknya aku harus membasuh diri. Tak lupa juga aku ambil beberapa helai pakaian yang dibawakan Ayahku tadi siang. Aku rasa Ibuku lah yang telah menyiapkannya.


Sungguh Ibu yang perhatian. Bukan hanya baju, beliau juga membawakan pakaian dalam dan sapu tangan kecil. Mungkin, jika aku tidak tertidur seperti orang mati. Aku sudah dibantu membersihkan diri oleh beliau. Tidak mungkinkah Mama tidak datang sore tadi?


Aku terlihat seperti pasien yang mandiri karena berjalan sendiri. Berbasuh sendiri, dan berganti pakaian sendiri. Untuk sekarang tidaklah terasa miris. Karena aku tau orang tuaku juga lelah. Lagipula toilet juga tidak terlalu jauh. Staminaku pun sudah mulai stabil walau masih lemas. Aku hanya malu jika bau badan dihadapan Mas Arlan.


Setelah selesai membasuh beberapa anggota tubuhku menggunakan sapu tangan, aku segera kembali. Khawatir jika Mas Arlan hilang lagi. Akhirnya, tubuhku segar juga. Walaupun belum mandi beberapa hari ini. Setidaknya tidak terlalu bau badan, itu saja.


Aku lihat Mas Arlan masih terlelap dengan posisi yang sama. Ingin sekali membangunkan dirinya, namun aku masih enggan. Sejujurnya, aku ingin memeluknya segera. Namun, enggan juga karena masih risih atas badanku yang belum mandi dengan benar.


Dahaga hatiku seolah tersiram air dari kutub utara. Kegelisahanku perlahan menghilang. Napas yang tadinya terasa berat, kini lega sekali saat aku menghisap oksigen yang telah disediakan oleh Tuhan. Kekasih yang kutunggu-tunggu telah tiba. Menutup bekas luka dan sesal dengan perban cinta.


"Lho Dek, Dek. Kamu dimana???" ujar Mas Arlan, sesaat setelah ia meraba ranjang rawatku dan tidak menemukan diriku disana.


"Aku disini Mas," jawabku.


Sontak saja Mas Arlan segera menoleh padaku. Ia menghela napas begitu lega. Membuatku menyunggingkan senyum diam-diam.


"Apa?" tanyaku.


"Kok apa?" tanya Mas Arlan kembali. Ia menghampiriku yang tengah duduk di sofa.


"Kemana aja?"


"Maaf Dek."

__ADS_1


"Kenapa minta maaf."


"Mas nggak ada saat kamu sakit kayak gini."


"Iiihhhhh... hiks... jahat banget sih!"


Kupukul dada Mas Arlan berkali-kali saat ia duduk dilantai. Tepatnya dihadapanku. Tetesan air mata, muncul lagi dipipiku. Aku cengeng sekali. Sedangkan Mas Arlan hanya pasrah saja menerima perlakuanku. Kemudian, ia menggenggam tanganku. Menatapku dalam-dalam.


Mas Arlan beralih duduk tepat disamping. Mas Arlan mengambil kepalaku untuk direngkuhnya. Ditariknya kedalam pelukan dadanya. Menenangkanku yang tengah menangis.


"Maaf sayang, maafin Mas," ujar Mas Arlan.


"Apa kita udah bener-bener putus Mas?" tanyaku.


"Apaan? Kata siapa?"


"Abis Mas Arlan ngilang gitu aja."


"Hmm... Maafin Mas dekku sayang. Tadi Mas udah dihukum kok sama Mama kamu."


"Dihukum?"


"Iya. Diomelin habis-habisan sama beliau. Katanya kamu kayak gini karna Mas ya? Kamu beneran diet?"


Aku mengangguk pelan. "Terus Mama dan Papaku sekarang dimana?"


"Mas suruh pulang Dek. Kasihan mereka, keliatan capek."


"Mama nggak ngamuk?"


"Enggak sih, ngamuk tentang alesan itu doang. Tapi yang Mas dengar tadi, beliau ngucap syukur pas Mas dateng hehe."


"Iya Mas, Mama udah mulai melunak kayaknya."


"Alhamdulillah sayang. Mas kangen banget sama kamu."


"Jangan deket-deket, aku bauk."


"Bodo amat!"


Tanpa memperdulikan ucapanku, Mas Arlan tetap mendekati diriku. Merengkuh kepalaku lagi kedalam pelukannya. Terkadang memberikan kecupan manis dikeningku. Meski ia masih memiliki hutang penjelasan padaku.


Namun, aku masih membiarkannya. Hari ini adalah hari pertama ia datang. Tidak pantas aku memberondong berbagai pertanyaan. Aku khawatir kami bertengkar lagi, dan ia menghilang lagi.


Sebuah ketenangan seolah datang dari berbagai arah.


"Mas, a-aku cinta kamu. Jangan pergi lagi," ujarku.


"Apa? Nggak denger." jawab Mas Arlan.


"Halah... kebiasaan!"


"Hehe... ulangin lagi dong, Dek."


"Nggak mau!"


"Kalau nggak mau, Mas pulang nih."


"Ya jangan dong! Kan baru dateng Mas-ku sayang."


"Cie... mulai berani nih."


"Jangan ngeledek gitu dong. Aku malu lho Mas."


"Ulangin dong. Please."


"Nggak mau!"


"Pelit banget sih, pacarku."


"Biarin!"


"Hadap sini dong?"


Duhh... aku terperangkap jebakan batman. Mas Arlan mendapatkan bibirku. Ia mengecupnya begitu lama. Melampiaskan rasa rindunya padaku. Aku terlena. Baiklah izinkan saja, saat ini. Jatuh kedalam keromantisan ini lagi. Lebih satu menit, aku rasa.


Setelahnya aku menarik kepalaku karena sudah kehabisan napas. Wajahku merona merah dibuatnya. Aku menunduk, namun berusaha tak menutup wajahku dengan telapak tanganku.


"Maafin Mas, Mas bakalan jelasin alesannya Dek. Tapi jangan pernah kepikiran soal putus hubungan lagi ya?" ujar Mas Arlan.


Kutatap dalam wajah kekasihku tersebut. "Iya Mas. Aku janji, nggak mikir gitu lagi," jawabku.


"Makasih ya udah berusaha sekeras ini hanya buat Mas. Tapi jangan dilakuin lagi ya sayang. Kamu nggak terlalu gendut kok, mungkin emang nggak kurus. Tapi Mas nggak pernah mempermasalahkan tentang hal itu. Jangan pernah dengerin kata orang, sekalipun itu kerabat dari Mas. Cukup percaya sama Mas jangan yang lain ya?"


Aku tersenyum disertai anggukan yang mantap. Tanda aku menyetujui perkataan Mas Arlan.


Bersambung...

__ADS_1


Budayakan tradisi like+komen...


Sorry guys akhir-akhir ini selalu up malem2 ..... hehehe


__ADS_2