
Kurebahkan tubuh besarku pada ranjang kesayangan setelah sampai di apartemen dari makan malam bersama Mas Arlan. Bola mataku menatap langit-langit kamar sembari melayangkan ingatan mengenang semua yang terjadi hari ini. Terkadang aku terkekeh kecil karena merasa geli pada diri sendiri.
Aku mengoyak-oyak otakku berusaha menghilangkan lukisan wajah tampan Celvin. Jangan sampai hatiku benar-benar menyukainya. Jangan sampai aku melukai diri sendiri.
Jika wajah Celvin sudah menghilang justru terpikir Mas Arlan melayang-layang di pikiran. Aku merasa heran saja. Mengapa pria sebaik dia bisa dikhianati oleh pasangannya. Atau mungkin aku saja yang belum tau sifat aslinya.
Ah sudahlah! Lagipula mereka bukan siapa-siapa bagiku. Mas Arlan hanya teman bagiku tidak sedikitpun aku berfikir menjadikan ia calon suami. Lagipula pasti banyak yang menyukainya dan tentu saja lebih cantik daripada aku.
Sedangkan untuk Celvin yang bagaikan pangeran. Ia adalah bos baruku, idola semua wanita. Jangan sampai aku menyukainya, jika benar aku menyukainya jangan sampai terobsesi padanya. Kalau tidak semua hal tabu ini akan menghancurkanku perlahan.
Begitulah segala pemikiran tidak penting yang mengganggu tidurku. Aku berusaha menguasai diri dan menutup mataku agar tertidur. Yah, meskipun memang susah sekali.
"Tuling... Tuling..."
Ponselku berbunyi menandakan ada pesan masuk di aplikasi chatting. Sebenarnya ingin kuhiraukan saja, namun rasa penasaran tampaknya berkuasa lebih besar.
"Dek udah tidur?" Isi pesan tersebut yang tidak lain dari Mas Arlan.
"Belom mas. Kenapa ya?" Balasku sembari memainkan jariku di atas layar ponsel.
"Tidur geh udah malem kamu besok kerja."
"Iya mas, makasih juga buat semuanya."
"Sama-sama lain kali jangan sungkan mas malah seneng bisa bantuin kamu."
"Ehmm.. jjkssknn."
Akhirnya aku tidak kuasa lagi menahan kantuk yang sudah datang. Sampai-sampai aku tidak bisa membalas pesan dengan benar. Dan sialnya terkirim kepada Mas Arlan. Biarlah mungkin ia hanya tertawa membacanya.
Tidak sampai satu menit aku tidak sadarkan diri dan tertidur pulas.
_____________________________________________
Keesokkan harinya aku terbangun, seperti biasa aku bersiap diri untuk bekerja. Hanya mengisi perut dengan mie instan yang sudah tersedia untuk sarapan.
Karena mobilku masih berada di bengkel mau tidak mau aku harus berangkat lebih awal. Dengan memesan taksi online.
"Drrrrtt.... drrrttt... ddrrrtt..."
Seseorang memanggilku, dan segera aku mengambil ponselku yang masih bermode silence dari tadi malam diatas meja rias.
"Iya Halo selamat pagi mas." Kataku memulai sapaan.
"Pagi juga dek." Jawab pemilik nomor pemanggil tersebut yang tidak lain adalah Mas Arlan.
"Kenapa mas?"
"Mas anter ya?"
__ADS_1
"Ehmm gak usah mas hehe."
"Kan mobil kamu masih di bengkel dek, berangkatnya gimana?"
"Kayaknya mas telat deh, drivernya udah nunggu didepan jadi gak usah ya mas, kasian bapaknya entar."
"Oh naik taksi online?"
"Iya mas."
"Yaudah yang penting hati-hati ya."
"Makasih ya mas, udah dulu."
Panggilan aku matikan, dan mengecek pesan dari driver taksi. Ia sudah di bawah sedang menungguku.
Aku sedikit lega juga driver sudah tiba sehingga aku tidak perlu merepotkan Mas Arlan yang baik hati lagi. Aku hanya masih sungkan saja, lagipula kami teman. Nantinya akan keterlaluan jika banyak menyusahkan.
Dengan langkah cepat aku berjalan keluar tempat tinggal. Dan seperti biasa memakai lift untuk sampai di lantai bawah. Sesampainya disana seseorang melambai padaku, lalu aku menghampirinya.
"Mbak Fanni ya?" Ujar orang tersebut yang tidak lain adalah driver taksi.
"Iya pak sesuai aplikasi ya." Jawabku.
"Siap mbak, silahkan masuk."
Aku memasuki taksi online tersebut. Sudah lama sekali aku tidak memesan angkutan online seperti ini. Sebenarnya bisa saja aku memakai jasa ojeknya. Namun, entah mengapa aku merasa tidak nyaman naik sepeda motor. Entah sudah terbiasa naik mobil atau canggung karena gemuk. Siapa tau ban sepeda motor bisa mendadak kempes karena tubuhku.
Aku menikmati hiruk pikuk kota di pagi hari. Pedagang-pedagang kecil sedang menjajakan barang dagangannya dipinggiran jalan. Sepintas terbesit si nenek penjual pecel yang pernah aku hampiri kala itu. Ada rasa penasaran juga bagaimana kabarnya sekarang. Yah, semoga bisa bertemu lagi nantinya, apalagi pecelnya lumayan enak juga.
"Mbak kantornya yang itu ya?" Tanya bapak driver sembari menunjuk gedung tempatku bekerja.
"Iya pak, nanti di depan gerbangnya ya turunnya." Ujarku.
"Siap mbak."
Setelah kurang lebih lima belas menit sampailah di kantor. Lumayan cepat juga mungkin karena tidak macet. Setelah membayar biaya ongkos aku segera melangkah masuk.
"Selamat pagi." Ucap sapa pagi salah seorang security padaku.
"Pagi pak." Jawabku sambil tersenyum semanis mungkin.
Aku kembali melangkah setelah menjawabnya. Suasana perkantoran masih sangat sepi. Bahkan yang datang bisa dihitung jari.
Aku melongok jam yang menghiasi tangan kiriku. Wajar saja jika masih sepi. Jarum jam belum menunjukkan angka tujuh. Ia masih berdiam diri di antara angka enam dan tujuh lebih tepatnya pukul tujuh masih kurang dua puluh menit.
"Buseeettt pagi amat gue datengnya." Gumamku pelan.
Seram juga jika kantor sesepi ini. Tidak mungkinkan ada hantu di pagi hari, lagipula kata Mas Arlan mereka ada didunianya sendiri dan mataku tidak mungkin bisa melihatnya.
__ADS_1
Aku tidak mau memikirkan hal macam-macam lagi. Takutnya aku akan sial dam malu seperti kemarin.
Aku menuju ke sebuah lift dimana penghubung dan pengantar ke ruangan tempatku bekerja.
Aku memasuki lift sendirian. Namun sebelum menutupnya seseorang menghentikan pintu lift dengan tangannya. Spontan aku terkejut. Dan lebih kaget lagi ketika mengetahui siapa dia.
Masih sepagi ini mengapa Celvin sudah berangkat? Mengapa juga ia sering sekali memakai lift karyawan. Bukankah ada lift yang dikhususkan untuk para petinggi perusahaan? Aduh!
"Sorry ya kaget ya?" Ujar Celvin.
"Selamat pagi pak, sedikit kaget." Jawabku tengsin.
"Aiissh pagi juga, jangan panggil pak deh Fanni saya masih muda."
"Loh? Bapak tau nama saya?"
"Kan udah dibilang jangan panggil pak, Celvin aja."
"Maaf pak maksud saya Cel... Celvin."
Tentu saja aku salah tingkah mendengar permintaan Celvin. Yang lebih mengherankan lagi dia sudah tau namaku. Aku berharap lift cepat berhenti di tempat yang aku tuju. Agar Celvin tidak menyadari kegelisahanku.
"Emang gak boleh ya aku tau nama karyawan sini?"
"Ehmm boleh kok hehe kaget aja sampe apal nama setiap orang."
"Gak kok gak setiap orang, taunya kamu doang di divisi kamu."
"Eh?"
"Haha, udah ya keluar gih udah nyampe."
Glupp!
Aku menelan ludah. Tengkukku kaku seketika. Bahkan pintu lift sudah terbuka pun aku tidak sadar jika Celvin tidak memberitahuku. Aku cepat-cepat meninggalkan lift dan Celvin yang berjalan kearah yang berlawanan.
Sial! Jangan sampai fokusku hilang lagi hari ini. Aku tidak boleh merasa spesial. Mungkin saja memang Celvin mengetahui namaku secara tidak sengaja.
Bersambung...
Jangan lupa buat yang baca like dan komennya yaaaaa ...
Visual Kak Pandhu yaaa,, ganteng kan mirip lah sama Fanni yang kebule-bulean. ππ
BESOK ADA EVENT BAGUS KARENA FANNI ULANG TAHUN SESUAI NAMANYA OKTAVIANI ..BTW SIAPIN KADONYA ππ
__ADS_1