Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Dia Tahu


__ADS_3

Betapa manisnya sepasang kekasih yang tengah berbunga-bunga hatinya itu. Manisnya Tomi, lalu malu-malunya Rara ketika berbicara. Tatapan mata mereka penuh dengan ketulusan cinta. Aku menduga, jika mereka akan bahagia nantinya. Keluarga yang harmonis, bahkan bisa melebihi keluargaku dan Mas Arlan. Apapun nantinya, setiap pasangan pasti memiliki cara masing-masing untuk berbahagia.


Ah, sampai saat ini pun aku masih terbayang-bayang akan mereka berdua. Sesekali aku bisa tersenyum, ketika mengingatnya. Betapa Tomi begitu tanggung jawab dam sopan kepada sang wanita. Masih tidak kusangka, ia bisa berlaku demikian. Pria yang dianggap sedikit memiliki gangguan, namun bisa membuktikan pesonanya. Astaga! Saking gemasnya, aku sulit melupakan raut kedua insan itu.


"Mama Fanni." Gadis kecilku masuk ke dalam kamar dimana aku sedang duduk santai. Bah! Jangan merasa heran, aku memang selalu di tempat ini kalau tidak di balkon. Selli melangkah pelan untuk menghampiriku dengan gemulai centilnya itu.


"Hai, Sayang. Papa mana? Belajarnya udah selesai?" tanyaku kepadanya sembari merengkuh wajahnya lalu keberikan kecupan manis di keningnya.


"Papa ke kamar mandi, Ma. Udah selesai kok belajarnya, Selli juga udah kerjain PR." Setiap kali bersamaku, ia selalu terfokus pada perutku yang kian membesar. Dengan tingkah manisnya, ia selalu menyanyangi anak yang belum aku lahirkan.


Pada hal ini, senyumku selalu mengembang. Bahagia, itulah perasaan yang tersemat didalam hatiku. Dan hal yang menumbuhkan rasa itu adalah hal yang sudah aku katakan sebelumnya. Masalah selesai dan keluargaku harmonis penuh rasa manis. Lalu, aku menatap Selli kembali. "Kamu kok belum bobo', emang nggak ngantuk? Besok masih sekolah lho."


Ia menggelengkan kepalanya. Masih dengan tangan yang membelai halus perutku yang besar. "Selli belum ngantuk. Malam ini mau bobo' sama Mama Fanni dan Papa, boleh ya?"


"Tentu, Sayang. Nanti tidur disini aja."


"Makasih, Mama."


"Sama-sama, Sayang."


Selli pun seketika riang gembira, bak mendapatkan hadiah emas permata. Tingkahnya lucu, sedikit menjauh dariku lalu meloncat gembira sembari menyanyikan lagu anak-anak. Lalu, ia tidak lagi menggubris diriku dan memilih menuju kasur di atas ranjang yang sangat empuk itu. Melihat seorang anak yang tertawa pastinya menumbuhkan rasa senang didalam hati.


Selang beberapa menit kemudian, giliran Mas Arlan yang membuka pintu kamar. Kaos oblong beserta celana kolor membalut tubuhnya yang perkasa. Seperti itulah penampilannya ketika berada di rumah, terlihat seperti bapak-bapak biasa. Sangat berbeda ketika hendak berangkat ke kantor.


"Ciwi-ciwinya, Papa. Lagi ngapain?" tanyanya sembari berjalan menghampiri sang putri. Namun ia menilik sekilas dan memberikan kecupan jarak jauh kepadaku. Genit!


Selli semakin bungah, ditemuinya sang ayah dan ia meloncat ke atas pangkuan Mas Arlan. "Kata Mama Fanni, Selli boleh bobo' disini, Pa," ujarnya memberitahukan atas persetujuan dariku mengenai permintaannya beberapa saat yang lalu.


Mas Arlan tersenyum. "Ya udah, bobo' disini. Nanti Papa puk-puk nyampe mimpi indah."


"Iya, Pa."


"Ya udah, bobo' disana. Udah malem, besok sekolah."


Mas Arlan merebahkan tubuh Selli tepat dibagian tengah ranjang. Ia membelai halus wajah sang putri untuk membuatnya tidur. Hari memang semakin malam, aku sendiri sudah merasa sedikit mengantuk. Namun masih enggan untuk tidur. Kesibukan Mas Arlan hari ini membuat kami nyaris tidak berbincang. Oleh karena itu, aku ingin sedikit berbincang disaat ini.


Lalu, aku menghampiri dirinya. Dengan langkah pelan aku menuju tempat mereka berada. Sesampainya disana, aku duduk dibagian ranjang tempatku tidur malam. Mas Arlan hanya tersenyum. Dan tak lama kemudian, ia meraih tanganku dan diberikan kecupan manis di punggung telapak tanganku.


"Tidur, Dek. Udah malem," ujarnya sembari menatapku penuh kelembutan.


Lantas, aku hanya tersenyum. "Iya, Sayang. Tapi aku masih kangen kamu," jawabku sama lembutnya.


"Maaf ya, tadi Mas pulang telat. Kerjaan banyak, Sayang. Mas harus selesain sama si Celvin. Nggak enak sama Pak Ruddy kalau nggak kelar."


"Iya, nggak apa-apa kok. Kan kerja, nggak kemana-mana."


Kemudian, aku merebahkan diriku sendiri dengan pinggang yang ditopang sebuah bantal dari belakang agar tidak merasa pegal. Sedangkan posisiku tengah menghadap Mas Arlan dan Selli yang sudah terpejam, entah sudah nyenyak atau belum tidurnya.


Tangan Mas Arlan yang tadi sempat meraih tanganku, kini berpindah pada wajahku. Perlahan ia membangunkan dirinya. Aku pikir hendak melakukan apa, ternyata hanya untuk mengecup setiap bagian wajahku. Setelah puas, ia kembali pada posisi rebahannya tadi. Ia menatapku dari sana dengan senyuman yang tidak mereda.

__ADS_1


"Mas, aku takut tauk," ujarku sembari menatap perutku.


"Kenapa? Deg-degan ya, Dek? Tenang ya, Sayang. Jangan banyak pikiran jelek," jawab Mas Arlan.


"Ini pertama kali buat aku, jadi agak takut. Kadang kalau mikirin bikim gemeteran. Tapi, bisa sembuh kalau udah mikirin si jabang bayi."


"Itulah kenapa Mas selalu salut sama wanita. Kalian tuh sebenarnya bebannya lebih berat. Harus melahirkan anak, pekerjaan rumah yang setiap hati selalu ada. Apalagi buat mereka yang nggak punya asisten rumah tangga, terus punya pekerjaan."


"Emm ... aku beruntung karna punya Bi Onah dan Pak Edi disini. Ada kamu juga dan Selli. Aku nggak bisa bayangin mereka-mereka yang selalu kerjain semuanya sendiri. Pasti berat banget, kan?"


Mas Arlan mengangguk pelan. "Bener, Dek. Makanya kamu harus lebih bersyukur. Jangan terlalu capek, dan fokus sama persiapan persalinan. Tugas kamu sekarang itu aja, yang lain di-pending dulu. Ada Bi Onah dan Pak Edi kok. Jangan terlalu khawatir ya, Sayang. Mas yakin nanti kamu bisa. Toh banyak ibu hamil yang berhasil melahirkan dengan selamat, kamu juga nggak punya gangguan apapun."


Aku menghela napasku dalam-dalam. Setidaknya merasa sedikit tenang karena ucapan dari Mas Arlan. Ya! Aku pasti bisa. Akhirnya aku memberikan anggukan pelan supaya Mas Arlan juga tidak merasa khawatir kepadaku. "Iya, Mas. Aku pasti bisa!"


Tidak ada jalan lain kecuali yakin, tawakal dan semangat. Tentunya dengan berusaha sebaik mungkin untuk anakku nanti. Segera kuhalau pergi rasa getir dan khawatir. Benar kata Mas Arlan, aku adalah wanita yang sangat beruntung. Ada banyak orang yang menyayangi diriku. Ada pula wanita yang tidai se-beruntung diriku, namun mereka pantang menyerah. Mengingat kedua hal itu, aku benar-benar dibuat sadar. Kini tugasku hanya fokus pada kehamilan dan juga detik-detik menuju persalinan.


Wajahku perlahan mulai ceria, karena hatiku bisa menunjukkannya. Semburat senyum pun terlukis melalui bibirku. Kantuk yang menyerang kini menjadi hilang, meskipun hari sudah semakin malam. Selli sudah tertidur pulas, bahkan suara dengkurannya sudah terdengar. Namun tidak dengan Mas Arlan, ia masih asyik menatapku dengan kelembutan.


"Kamu nggak tidur, Mas?" Kuberikan pertanyaan demikian dengan tanganku yang membalas belaiannya.


"Mas nungguin kamu dulu, Sayang. Kamu juga harus tidur dong," jawabnya. Dengan dibatasi tubuh Selli, tidak membuat kemesraan diantara kami tidak terjadi. Masih saja berlanjut, meski hanya sebuah sentuhan tangan yang saling membelai halus dimasing-masing pipi.


"Aku belum ngantuk, Mas. Kamu jangan nungguin aku, entar juga merem sendiri kok."


"Kamu masih kepikiran, Dek?"


"Alhamdulillah. Mas yakin kamu pasti bisa. Makasih ya, Sayang. Kamu bersedia mengandung anak dari Mas, dan mau menghadapi semuanya."


"Anak dari kamu adalah anak yang aku nantikan sejak dulu, Mas. Kita orang tuanya dia."


"Dari dulu? Hmm ... berarti belum nikah pun, kamu udah berkhayal punya anak dari Mas dong?"


"Hih! Bukan gitu, Mas! Maksudnya sejak kita nikah dan malam pertama. Ngerti?!"


Mas Arlan malah terkekeh. Padahal yang aku maksud adalah anak yang selalu aku nantikan karena rasa iri kepada orang lain yang sudah menikah dan menimang balita. Tidak kusangka, akhirnya aku mengandung darah daging Mas Arlan. Lelaki yang kini sangat aku cintai, padahal pertemuan kami sungguh sesuatu yang tidak disengaja. Yah, siapa yang tahu dengan takdir yang dibuat oleh sang Maha Kuasa. Kala itu pun, bisa-bisanya aku menceritakan perihal pertengkaranku dengan ibu dan Kak Pandhu kepadanya.


Yah, skenario telah dibuat se-demikian rupa. Aku yang selalu tertutup tiba-tiba menjadi lebih terbuka dengan orang yang baru aku kenal. Seorang duda beranak satu dan bisa se-kebetulan itu, aku berpikir bahwa menceritakan kisah kepadanya tidak akan menimbulkan masalah, toh kami tidak akan bertemu lagi. Namun ternyata jalan kami berbeda dengan pikiranku. Tuhan memang sangat lihai dalam memberikan jalan terbaik untuk hamba yang sempat putus asa.


"I love you, Mas."


"Love you to, Sayang. Kenapa nih? Tumben ngomong duluan, akhir-akhir ini suka gitu?" Meski menjawab pernyataanku, dahinya berkerut karena heran atas ucapan manisku.


Aku tersenyum sekilas. Kemudian kembali menjawab, "ya karna aku cinta kamu, Mas. Emang nggak boleh? Aku juga mau tunjukin perasaanku sama kamu."


"Iya, iya boleh. Apa sih yang enggak buat istri bule-ku yang cantik sekali. Sexy lagi."


"Halah! Eh, ngomong-ngomong, kamu pernah ketemu Nia?"


"Enggak, Dek. Dia juga nggak pernah ke sini lagi gitu. Emang dia ngelakuin apa lagi?"

__ADS_1


Aku menggelengkan kepala. Cukup enggan untuk bertanya tentang apa yang terjadi dimasa lalu mengenai pertemuan mereka saat Nia hendak pulang. Aku takut hal itu malah membuat Mas Arlan merasa tidak nyaman. Mungkin sebaiknya kami memang harus melupakan, meski aku merasa ingin sekali berkata jujur.


"Hei, Sayang. Kenapa?"


"Emm ... enggak kok, Mas."


"Beneran?"


Aku kembali terdiam bimbang. Niat hati ingin melupakan, namun malah rasa ingin tahu pun semakin besar. Dari Nia aku mengetahui semuanya dan bukan dari Mas Arlan. Jujur, rasanya sedikit kurang. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk bertanya, "kamu ketemu Nia ya, Mas? Pas dia pulang dari rumah ini, kalian ketemu di jalan, kan?"


"Oh."


"Maaf ya, Mas. Seharusnya aku minta izin sama kamu waktu itu. Tapi, aku malah membuat kesepakatan dengan Nia dibelakang kamu, dan bahkan mengunci mulut semua orang yang ada disini. Tapi akhirnya kebuka juga."


Mas Arlan menghela napas dalam. Dalam beberapa saat ia terdiam. Kemudian, ia membangunkan dirinya dan duduk bersandar pada papan ranjang. Menatapku sekilas, lalu menghadap ke arah dinding yang kosong. Apakah kali ini ia kecewa? Aku rasa memang begitu. Oh, aku menyesal telah membuka hal itu saat ini.


Ketika aku ingin terbangun, Mas Arlan mencegahku. Sepertinya ia ingin agar aku merebah saja karena kondisiku yang memang harus beristirahat. Entah apa yang ia pikirkan saat ini. Aku rasa, ia enggan membahas masalah tersebut lagi. Namun aku malah menanyakan hal tersebut.


"Maaf." Hanya kata itu yang bisa terlontar dari bibirku. Bahkan aku tidak berani untuk sekedar menatap wajahnya.


Mas Arlan terdengar menghela napas lagi. Tangannya kembali membelai halus kepalaku diikuti suara deham dari tenggorokannya. "Tadinya Mas mau ngomel sama kamu, waktu itu sih. Tepatnya pas Nia bilang, dia dateng ke rumah atas izin dari kamu," jawabnya. "Tapi Nia udah jelasin semuanya. Semua yang kamu putuskan, Dek."


"Terus kenapa enggak ngomelin aku, Mas?"


"Lah? Emang mau diomelin? Mas ganti sekarang nih."


"Ya jangan dong. Aku cuma penasaran aja, sekaligus merasa bersalah karna udah bohongin kamu, Mas."


"Hmm ... iya, mau gimanapun bohong sama suami. Nggak minta izin dari suami itu nggak boleh. Kalau bukan semua niat baik kamu, pasti Mas udah marah waktu itu. Apalagi Nia orangnya kayak gitu, kamu lagi hamil. Gimana kalau terjadi apa-apa sama kalian berdua, plus Selli juga?"


"Iya sih. Tapi kan nggak kenapa-napa."


"Iya, Sayang. Itu untuk hasil baik sekarang ini, kalau dulu kan kita juga wajib waspada. Tapi Mas nggak telan mentah-mentah apa yang baru didenger, untungnya waktu itu Mas mau dengerin penjelasan dari Nia." Mas Arlan menghela napasnya lagi. "Coba kalau nggak, pasti Mas udah termakan emosi, kita bisa bertengkar lagi hanya karna salah paham. Jadi, sebaik apapun alasan kamu atau bahkan Mas buat bohong, tetep suatu hal yang salah."


"Iya, maaf."


"Dek, maaf Mas agak keras ya? Mas cuma mau ingetin soal itu. Buat semua yang kamu lakuin dan akhirnya bisa membuat Nia sadar, Mas sangat berterima kasih. Ternyata nggak harus dengan cara jahat, supaya dia bisa sadar. Bahkan hanya melihat kamu yang senantiasa menjada Selli, nyampe ngantuk-ngantuk, Nia bisa malu sendiri. Mas bangga banget sama kamu."


Aku mengangguk. Disini aku tahu, apapun alasan dibalik kebohongan tetap saja akan menimbulkan suatu yang tidak benar atau kesalahpahaman. Seharusnya waktu itu aku merundingkan kesepakatanku dengan Nia bersama Mas Arlan, sehingga tidak akan ada rasa kecewa diantara kami. Beruntungnya, suamiku ini orang yang tetap bijak dalam menyikapi sesuatu. Aku rasa, waktu itu Nia juga sudah menyampaikan rasa penyesalan kepadanya. Sehingga Mas Arlan pun bisa menerimanya dan juga tidak memarahiku.


Baiklah, lain kali aku akan meminta izin kepadanya dalam melakukan hal apapun dan aku akan pastikan bahwa tidak ada lagi kebohongan diantara kami. Ya, semua itu demi menghindari kesalahpahaman. Meski akan tetap ada, setidaknya mengurangi segala kemungkinan itu. Namanya juga rumah tangga, kalau tidak ada masalah justru terdengar aneh. Yang penting, orang-orang yang menjalaninya tetap bisa berusaha lebih baik dan bersedia memperbaiki segala kesalahan yang dilakukan hari yang lalu.


Terima kasih, suamiku.


Bersambung ....


BTW, AKU MAU TAHU DONG. KALIAN KETEMU NOVEL INI DI RAK MANA? TULIS DIBAWAH, JANGAN ENGGAK! hehehe.


Budayakan like+komen ya

__ADS_1


__ADS_2