
Waktu sudah menunjukkan pukul 08.30 WIB, rencana untuk pindah hari ini harus tertunda karena Mas Arlan yang belum bersedia pulang. Setelah menyantap soto pagi tadi, ia kembali merebahkan dirinya diatas sofaku. Meski kesal, namun aku tetap membiarkannya. Mau bagaimana lagi, jika ia menginginkan tinggal lebih dulu. Aku pun juga sangat paham akan perasaannya. Apalagi kami hampir setiap hari bersama. Hanya beberapa kesibukan yang memisahkan.
Rencana pernikahan yang akan diselenggarakan satu bulan lagi, tidak membuat Mas Arlan tahan akan kerinduan. Meski ia tidak pernah menghalangiku untuk pulang ke rumah orangtuaku, namun rengekan manjanya seringkali bermakna agar aku tetap disini bersamanya. Sebagai bentuk ketidakrelaannya melepas diriku selama satu bulan. Padahal, kami masih bisa bertemu. Entahlah, kadangkala sikap Mas Arlan yang seperti itu membuatku lupa akan usia yang sudah ia capai. Aku merasa, kami adalah manusia yang kembali pada fase remaja. Disisi lain, aku merasa bangga karena makna diriku sangat berarti untuk dirinya.
Mas Arlan membangunkan dirinya. "Dek? Udah beres ya?" tanyanya.
"Daritadi, Mas," jawabku.
"Yah, padahal Mas mau bantuin."
"Wacana doang, gerak mah enggak. Dasar!"
"Hehe... ngantuk, Dek."
"Pulang gih, mandi lho udah siang sayang."
"Nggak mau."
"Jorok banget sih."
"Biarin."
Mas Arlan beranjak berdiri. Ia berjalan ke arah dapur. Sedangkan aku masih bersantai dengan meluruskan kedua kakiku ke depan sembari menyaksikan televisi. Mungkin hari ini adalah hari bebas sebelum aku disibukkan dengan berbagai pekerjaan dan juga persiapan pernikahan. Maka dari itu, aku ingin memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Kalau bisa, aku ingin menghabiskan waktu dengan mendatangi beberapa tempat spa. Tapi, aku masih ragu karena masih malu akan bentuk badanku.
Aku rasa tak buruk juga, menghabiskan seharian ini bersama calon suami. Karena setelah aku pindah ke tempat orangtuaku pasti kami akan sulit bertemu. Dalam artian sulit bertemu dengan bebas.
Masalahnya, Mas Arlan benar-benar tidak mau bergegas mandi sampai sekarang. Bukannya jijik, hanya saja agak risih. Ia pun tetap tidak mau pulang, karena khawatir aku tinggalkan.
Ada-ada saja!
Tiba-tiba saja Mas Arlan sudah berada disampingku lagi. Rambut bagian depannya terlihat basah dengan wajah yang sudah segar. Aku rasa ia usai membasuh wajahnya. Yah, meski belum mandi, kuakui pancaran paras manisnya masih saja menawan hati. Ia terbilang awet muda diusianya yang hampir separuh baya.
"Mandi sih, sayang," pintaku kepadanya.
"Iya iya, Dek. Nanti beli pakaian dalam dulu ya," jawabnya.
Sontak saja, aku membelalakan mataku dan menganga lebar. Aku tidak menyangka ia begitu terang-terangan mengatakan hal itu. "Oh...," ujarku lirih.
"Haha... kok oh doang?"
"Terus gimana? Nggak sopan sih kamunya!"
"Nggak apa-apa sih, entar kalau udah nikah juga ada yang lebih nggak sopan lho."
"Ya... ya itukan nanti, Mas."
"Hahaha... gemes Mas tuh kalau lihat kamu malu-malu gini."
"Bukan malu, tapi risih!"
"Apa aja deh, mukanya tetep sama-sama merah. Uuhhh.... Mas sayang banget sama kamu, Dek."
Kutepis gerakan tangan Mas Arlan yang hendak meraih wajahku. Aku rasa, ia hendak mencubit dan mencium habis pipiku. Maka dari itu, aku mencegah sebelum tindakannya terlaksana. Karena, seringkali wajahku memerah dan sakit karena cubitan yang ia lakukan. Mungkin ini salah satu hal yang bisa diambil dari orang gendut yaitu pipi gembul nan menggemaskan.
Setelah mendapatkan penolakanku, Mas Arlan tersenyum kecut. Namun, ia tidak menyerah dengan melakukan hal yang lain. Ia membaringkan tubuhnya diatas lantai, sedangkan kepalanya diatas pangkuanku. Untuk yang satu ini, aku masih bisa terima.
Kubelai perlahan kepala dan dahi Mas Arlan. Mata kami saling bertatapan membaur dengan suasana hangatnya kasih sayang. Sesekali kami menyunggingkan senyuman satu sama lain. Seolah bunga-bunga asmara muncul dan bermekaran di ruangan ini. Tidak ada lagi penghalang untuk menyatukan hati. Rasa bahagia tak tergambar. Semua perjuangan kami tinggal selangkah lagi menuju pelaminan yang halal.
"Janji beneran ya, Dek. Jangan pernah tinggalin Mas," pinta Mas Arlan.
"Enggaklah Mas, kalau aku. Siapa juga yang mau sama aku, selain kamu. Malah aku khawatir kamu yang ninggalin aku," jawabku.
"Enggaklah, nggak bakalan. Ngapain Mas berusaha keras? Kalau cuman mau ninggalin kamu."
"Yah, siapa yang tau. Kamu kan banyak yang suka pasti, Mas. Anak konglomerat, lumayan gantenglah."
"Selain temen-temen, Mas. Cuma kamu yang tau kalau Mas ini anggota keluarga Harsono, Dek. Lagian Mas ini udah tua, udah punya Selli dan kamu. Mas juga tau diri. Kalaupun masih muda, Mas juga nggak bakalan selingkuh."
"Iya iya, percaya deh. By the way, kamu nikah sama Nia dulu umur berapa, Mas? Kok Selli masih kecil banget?"
__ADS_1
"Tiga lima kalau nggak tiga enam, Dek. Terus Mas nggak tau kalau Nia nunda kehamilan, yaudah Selli lahir pas Mas hampir umur empat puluh."
"Wow!"
"Mas sendiri terlalu sibuk ngurus sekolah, perusahaan saat itu. Makanya nikahnya ketuaan."
"Kalau aku sibuk diam. Karna masih nungguin kamu cerai, Mas. Makanya pas mau nikah juga ketuaan hahaha."
"Isshh... ketawanya kenceng banget?"
Aku segera menutup mulutkan dan menjawabnya, "Ooppsss.... kelepasan Mas."
Perbincangan kami terus berlanjut. Celoteh, curahan hati, kekhawatiran, keusilan dan keromantisan merupakan komposisi yang ada didalamnya. Aku berharap hubungan kami yang hangat ini berlangsung selama-lamanya. Karena Mas Arlan adalah satu-satunya pria yang aku cintai selain ayahku dan Kak Pandhu. Dari dirinya, aku belajar banyak hal yang tidak pernah aku tahu. Rasa minder pun bisa berkurang.
Kami memang bukan pasangan yang sempurna. Namun dari ketidak sempurnaan itu, kami menemukan celah untuk saling mengisi.
****
"Dek, kamu mau konsep pernikahan yang seperti apa?" tanya Mas Arlan.
"Sederhana dan hanya keluarga yang datang, Mas," jawabku.
"Itu mah buat akadnya, Dek. Resepsinya?
"Resepsi juga gitu, aku nggak mau muluk-muluk. Paling nggak sahabat dekat aja yang dateng."
"Tapi, Mas pengen yang besar-besaran dan mewah."
"Nggak mau! Pokoknya sederhana aja."
"Lho kenapa? Kan ini buat kamu seumur hidup sekali lho sayang."
Aku terdiam. Memang benar ini adalah pesta seumur hidup sekali untukku. Sedangkan Mas Arlan adalah kedua kalinya. Namun, tetap saja aku tidak mau terlalu mewah apalagi besar-besaran. Aku tidak cukup nyali untuk itu. Sehari penuh akan disaksikan oleh para tamu undangan. Lalu bagaimana perasaanku nanti? Apalagi jika kalangan atas yang datang. Bisa saja, mereka membandingkan diriku dengan orang lain yang lebih cantik. Ah... nyaliku menciut lagi.
Aku meraih tangan Mas Arlan. Ia kini sudah dalam posisi duduk disampingku. "Mas, yang sederhana aja ya?" desakku kepadanya.
Mas Arlan menggelengkan kepalanya sembari menatapku. Ia pun menjawab, "Nggak Dek. Kita harus buat resepsi."
Kukecup pipi Mas Arlan untuk merayunya. Berharap apa yang aku lakukan bisa mempengaruhi keinginannya. Sehingga ia bisa menuruti permintaanku. Namun, apa daya, Mas Arlan tetap menggelengkan kepala sebagai tanda tidak setuju. Seketika aku memanyunkan bibirku karena sebal sembari menggerutu.
"Harusnya cowok tuh seneng lho, Mas. Kalau pihak cewek nggak banyak permintaan. Lagian uang darimana? Nggak mungkinkan kamu minta dana sari keluarga?" tanyaku tegas.
"Tabungan Mas, Dek," jawab Mas Arlan singkat.
"Kan bisa buat masa depan kita, Mas. Jangan dihamburkan hanya demi pesta sehari. Ayolah, Mas."
"Dek, coba pikir deh, kalau Mas nggak bisa ngasih resepsi yang bagus. Gimana respon orangtua kamu? Mereka malah akan benci sama, Mas. Udah duda gini, pas nikah nggak bisa meriah."
"Aku yang bakalan ngomong sama mama papaku, Mas. Aku yang bakalan jelasin, kalau ini permintaanku."
Mas Arlan membuang napasnya dengan kasar. "Kamu ini gimana sih? Harusnya kamu dukung, Mas dong! Ini juga demi kamu lho, alasan apalagi sih? Sampai kamu nolak niat baik aku?"
"Ya pokoknya aku nggak mau, kamu jangan maksa dong! Permintaanku juga nggak merugikan kamu dan keluarga kok."
"Nggak kata kamu? Jelas rugi, Dek. Bukan materi, tapi sosial. Apa kata orangtua kamu nanti sama Mas. Kata tetangga kamu, kakak kamu, teman kamu? Jangan egois dong, selalu aja mikirin diri sendiri!"
"Uuuhhh... terserah!!! Pulang sana! Aku mau pindah."
Kami saling membuang muka dan membelakangi. Padahal belum ada dua jam, kami saling melempar canda yang romantis. Tapi, kini malah kembali bertengkar. Mengapa setiap orang menganggap pesta resepsi itu penting? Mengapa tidak cukup ijab sah saja? Padahal aku pribadi tidak pernah memikirkan acara seperti itu. Aku merasa semua terlalu membuang-buang waktu, uang dan tenaga. Apakah jika aku berpikir seperti itu, aku yang paling egois disini?
Menjadi bridesmaid untuk Kak Febi saja, aku tidak punya nyali kala itu. Bahkan aku sengaja tidak menghadiri fitting baju dengan berbagai alasan untuk menolaknya. Dan sekarang aku harus menjadi pajangan sebagai pengantin dalam waktu seharian. Apa aku pantas? Apa aku bisa secantik pengantin wanita yang lain? Lalu, bagaimana jika para stylish tidak memiliki ukuran baju yang pas untuk kupakai?
Sial! Pada akhirnya aku tetap menjadi diriku yang minder dan terlalu banyak khawatir lagi. Rasa percaya diri kembali hilang, saat kuingat acara besar akan terjadi. Suara manusia julid masih saja terngiang-ngiang. Sudah sejauh ini, apa aku benar-benar tidak bisa berubah lebih maju?
"Aaaaarrrrrrgggghhh!!!! Hiks... kesel banget!" gerutuku kencang sembari sesenggukan.
Mungkin Mas Arlan mendengarnya atau bahkan terkejut. Namun, ia tidak merespon gerutuku sama sekali. Aku kesal, sepertinya Mas Arlan juga kesal. Perbedaan pendapat muncul kembali, disaat aku sudah merasa tenang. Seharusnya aku lebih berhati-hati lagi, siapa yang tau kalau ini adalah salah satu bentuk ujian sebelum pernikahan.
Dalam beberapa saat kami memang harus terdiam. Mencari solusi masing-masing dari dalam benak, agar pertengkaran paham ini cepat berakhir.
__ADS_1
"Mas?" ujarku yang pada akhirnya jengah dalam kediaman ini. "Maaf ya?"
"Hmm..." jawab Mas Arlan lirih dan sekenanya saja.
Sampai akhirnya aku memutuskan untuk menarik salah satu pundaknya, sehingga ia langsung menghadapku. Kutatap tajam wajahnya dengan ekspresi memelas seperti anak kucing yang meminta makan.
"Jangan diem aja," kataku lagi.
"Terus gimana?" tanya Mas Arlan kembali.
"Kok gimana sih?"
"Iya iya, Mas nggak marah."
"Tapi mukanya masih kecut banget. Masalah ini dibahas entar aja deh, kalau bareng orangtua. Kalau kita doang jadinya begini."
"...."
"Maaasss!"
"Hmm..."
"Ihhh!!!"
Karena terlalu kesal, aku sampai berbuat nekat. Kuraup wajah Mas Arlan untuk mengecup pipinya sampai tiga kali. Namun, apa daya, usahaku masih sia-sia. Mas Arlan hanya mengangkat satu alisnya, kemudian bersikap diam lagi. Rengekan kembali terucap untuk meluluhkan hati Mas Arlan yang sedang kecewa.
Tiba-tiba ia mencubit gemas kedua pipi gembulku. Aku pun meraung kesakitan karena ulahnya. Kini, ia berbalik mengecup pipiku beberapa kali. Sampai aku kesulitan untuk menghentikannya. Meski begitu, aku bersyukur Mas Arlan sudah tidak marah lagi.
"Kenapa sih, kamu susah banget kalau mau dibahagiain Dek?" tanya Mas Arlan.
Aku melempar tangannya setelah pipiku sudah terasa perih. "Sama kamu aja, aku udah bahagia lho Mas. Aku cuman pengen kita jalani hidup sederhana aja, itu yang mamaku ajarkan sejak kecil," jawabku.
"Hmm... giliran dapet yang suka uang, dulu sampe serakah banget. Giliran sekarang dapet cewek irit banget."
"Yah, setimpal dong Mas. Jadi kamu nggak perlu khawatir aku ninggalin kamu, kalau kamu lagi nggak punya uang hehe."
"Padahal setelah Mas kenal kamu, Mas sengaja nambahin uang tabungan setiap bulannya."
"Yaudah nanti buat Selli dan anak kita aja. Gimana?"
"Anak kita?"
Aku mengangguk.
"Bikin yuk." Usulan gila Mas Arlan.
"Sembarangan kalau ngomong lho? Nikah aja belum," jawabku tegas.
"Hehe... becanda sayang."
"Becanda terus. Nggak lucu."
"Kecup lagi, Dek?"
"Nggak mau! Kamu belum mandi Mas!"
"Berarti kalau udah, mau ya?"
"Ng-nggaklah!"
"Hahaha... mukanya merah lagi. Dasar buleku sayang."
Aku selalu bersyukur, pertengkaran kecil kami selalu teratasi dengan baik. Tidak harus menunggu berhari-hari, mungkin durasi paling lama ketika saling diam hanyalah satu jam saja. Kadangkala bukan aku saja yang menyudahi dan merayu Mas Arlan, ia pun sering berlaku seperti itu. Yah, inilah cinta kami.
Tak lama kemudian, Mas Arlan berdiri dan berjalan keluar. Ia pamit kepadaku, ia hendak membeli beberapa pakaian yang hendak digunakan. Aku rasa, ia akan menumoang mandi di apartemenku juga. Niatnya untuk menghabiskan hari ini bersamaku, sepertinya memang tidak main-main. Aku sendiri tidak merasa keberatan. Asal masih dalam batas-batas wajar.
Sembari menunggu kekasihku tersebut, aku masuk ke dalam kamarku kembali. Kurebahkan tubuhku diatas ranjang seperti biasa. Sedang pandangan mataku asyik memandang langit-langit kamar ini. Benakku melayang jauh, bernostalgia dengan beberapa memori indahku bersama Mas Arlan. Mulai dari pertemuan awal, perjuangannya lalu lamarannya. Aku merasa tenang jika sudah mengenang masa-masa indah itu.
Bersambung....
__ADS_1
Budayakan tradisi like+komen.