
Aku menjabat tangan Pak Nur selaku investor baru untuk perusahaan ini. Beliau sangat kagum dengan visi dan misi yang dibangun oleh Mas Arlan dan aku katakan sesuai dengan pernyataannya.
"Saya, harap ke depannya bisa lebih baik lagi," ujar Pak Nur kepadaku. Detik berikutnya, kami saling melepaskan telapak tangan yang sempat menjabat.
Aku tersenyum ramah, namun tetap elegan. "Semoga saja. Terima kasih atas kepercayaannya, Pak," jawabku.
"Baiklah, Bu. Saya harus undur diri terlebih dahulu. Terima kasih kembali."
"Oh, baik. Selamat jalan dan hati-hati, sampai jumpa lagi, Pak."
Pak Nur tersenyum. Setelah itu, beliau mengajak sekretaris pribadinya untuk meninggalkan ruang meeting ini. Aku bisa bernapas lega akhirnya, dari pagi sampai sekarang jadwal pertemuanku begitu padat. Aku menilik waktu pada jam tangan yang aku pakai. Hampir setengah dua belas siang. Baru beranjak setengah hari, rasanya sudah lelah sekali.
Kemudian, aku menoleh ke arah Rose yang masih merapikan beberapa berkas di meja. "Ada jadwal lagi enggak, Ros? Saya harus pulang, buat anak juga nih," ujarku.
Rose menatapku. Sebelum menjawab pertanyaanku, ia memeriksa lagi di suatu berkas yang berisi jadwal pekerjaanku. Rose menggeleng, kemudian berkata, "enggak ada kok, Mbak."
"Baiklah, saya senggang. Terima kasih karena sangat pengertian dan menata jadwal dengan baik."
Rose mengangguk. "Sama-sama, Mbak."
Belum lama ini, ia sudah aku anjurkan agar memanggilku dengan santai saja. Apalagi usia kami tidak terpaut jauh. Rasanya sangat aneh jika dipanggil dengan embel-embel ibu, mungkin aku hanya belum terbiasa. Yah, aku hanya wanita biasa jika tanpa Mas Arlan, sehingga wajar jika merasa seperti itu.
Selanjutnya, aku mengajak Rose kembali ke ruang kerja masing-masing. Ia membawa berkas-berkas yang telah dirapikan. Kami berjalan beriringan tanpa memandang jabatan. Perlahan pun, Rose bisa lebih akrab denganku. Wanita manis yang selalu memakai kacamata ketika bekerja ini, sudah tidak terlalu segan lagi denganku. Namun bukan berarti ia kelewat batas dalam bersikap, maksudku ia tidak terlalu gugup dalam menghadapiku.
Sejauh ini, aku menilai Rose tidak berbeda jauh dengan diriku di masa lalu. Sosok wanita yang kurang percaya diri, namun memiliki kelebihan di otak. Aku rasa, kepintarannya-lah yang membuat Mas Arlan mengangkatnya sebagai sekretaris. Namun, kendati demikian, Rose sangat takut terhadap Mas Arlan. Bukan hanya tegas, katanya Mas Arlan begitu galak. Meski sebenarnya demi kebaikan. Mas Arlan bersikap biasa saja ketika tidak ada masalah.
Aku berdeham, membuat Rose spontan menatapku. Hanya senyum simpul yang aku berikan kepadanya. "Ngomong-ngomong, soal suami saya. Emm, ... jadi faktor itu yang menyebabkan para karyawan bersyukur pada saat dia pergi?" tanyaku untuk menggali informasi perihal tingkah Mas Arlan ketika berada di kantor ini.
"Sebenarnya, iya, Mbak." Rose tersenyum kecut, tampaknya ia merasa tidak enak ketika membicarakan Mas Arlan di hadapanku. Terlebih aku merupakan istri darinya. "Pak Arlan hanya tegas. Cuma kan, ya. Anak-anak ada saja yang enggak suka."
"Iya, sih. Hukuman yang diberikan pun enggak enteng menurutku."
"Tapi, ... kalau proyek berhasil, penjualan meningkat, Pak Arlan jadi ramah, Mbak."
"Iyalah, pasti."
"Beliau terlalu jutek kalau di sini. Saya pikir pas di rumah juga begitu."
"Itu rahasiaku."
"I-iya sih, Mbak."
"Ambil positifnya saja ya, Ros. Lagipula, dia enggak bakalan begitu kalau enggak ada alasannya. Dan, ... kalau semua bisa taat aturan, pasti dia enggak akan marah."
Aku teringat pada saat aku datang ke kantor ini. Kala di mana ibu mertuaku sedang kritis, dan aku sendiri dalam keadaan hamil. Waktu itu, Rose berbicara soal meeting selanjutnya. Mas Arlan sontak membentaknya karena ia tidak melihat situasi. Aku tengah lemas dan hampir pingsan karena kelelahan dan stress. Kalau mengingat hal itu dan menatap Rose, rasanya sangat iba. Bagaimana tidak, semua terjadi karena diriku.
Meski citra Mas Arlan yang begitu kejam--katanya, aku tetap mempercayai dirinya. Selama karyawannya tidak berulah, maka ia tidak akan memberikan sangsi, bahkan secara tegas. Jika tentang sikap cuek, justru itu yang aku inginkan. Boleh jahat sedikit, bukan? Seorang wanita yang memiliki kekurangan seperti diriku, pasti rasa cemas dan cemburunya jauh lebih besar. Aku rasa, Mas Arlan bersikap demikian karena memikirkan diriku juga.
"Oke, kita kembali kerja. Enggak usah terlalu ngebut, sebentar lagi jam makan siang," ujarku kepada Rose pada saat kami sampai di dua ruang kerja yang saling berdekatan.
Rose menganggukkan kepala. "Iya, Mbak."
"Bu Fanni!" Seseorang sedang memanggilku dengan suara yang lantang. Saat ia sampai di hadapanku, napasnya begitu terengah-engah sehingga membuat aku dan Rose terheran-heran. Kami berdua membatalkan tujuan untuk masuk ke dalam ruang kerja.
__ADS_1
"Ada apa?" tanyaku sembari menatap salah satu karyawan di sini dengan tajam, namun cemas. "Kenapa kamu lari-lari."
Ia mencoba mengatur napas. Setelah merasa tenang, ia menjawabku, "ada yang bertengkar."
"Bertengkar?" Perasaan heranku semakin besar. "Siapa?"
"Itu, Pak Celvin."
"Hah? Celvin? Di mana?"
"Di ruang kerja kami."
Celvin?!
Aku dan sang pemberi kabar langsung tancap gas menuju ruang kerjanya, di mana Celvin sedang bertengkar. Bahkan tidak terkecuali dengan Rose, ia mengikuti langkah kami. Aku tidak tahu apa masalahnya, namun aku menduga Celvin tengah bertengkar dengan Riska. Siapa lagi, kalau bukan Riska. Bahkan ruang yang dituju adalah divisi di mana Riska bekerja.
Ketika langkah kami semakin dekat, aku melihat karyawan yang sedang berkumpul. Kuperlambat laju kakiku dan memastikan mereka semua. Rekan kerja Riska? Apa ini? Kantorku dikacaukan oleh Celvin. Aku menggigit bibir bawahku sembari menggelengkan kepala. Tidak mengerti dengan hubungan mereka berdua. Tampaknya kejujuran dan keterbukaan belum ada di dalam hubungan mereka. Astaga!
"Kalian kenapa di luar begini?" tanyaku kepada semua karyawan yang berkumpul.
Salah seorang karyawati maju dan menatapku. "Disuruh sama Pak Celvin, Bu," jawabnya untuk pertanyaanku.
"Disuruh keluar? Lalu, ... Riska di dalam?"
Ia mengangguk pelan. "Iya, Bu."
Mendadak darahku terasa mendidih, tubuhku bergetar dan jantungku berdegup kencang. Meskipun perusahaan ini milik Sanjaya Group, tetap saja rasanya aku sangat tidak dihargai. Apa karena aku yang menjabat menjadi direktur untuk saat ini dan bukan Mas Arlan, sehingga Celvin berbuat demikian? Padahal mau bagaimanapun, Mas Arlan memiliki saham di sini yang berarti ia memiliki sedikit hak atas perusahaan.
"Baiklah, enggak apa-apa. Tolong rahasiakan kejadian ini, jangan buat status apapun yang akan menjatuhkan nama perusahaan dan Sanjaya Group, termasuk Pak Celvin. Kita baru saja mendapatkan investor baru, proyek baru saja selesai. Jadi, diharap tidak mencoreng nama perusahaan hanya karena insiden ini dengan cara berkicau di sosial media!" tegasku kepada semua karyawan. "Satu lagi, ... jika ada yang melanggar maka saya tidak akan segan dalam memberikan sangsi. Terlebih suami saya telah kembali, saya bisa laporkan. Perkara mencari identitas itu sangat mudah. Saya juga minta maaf atas ketidaknyamanan kalian dalam bekerja."
Semua karyawan manggut-manggut.
"Baiklah, karena tinggal lima belas menit lagi, kaliam boleh makan siang. Makan di kantin saja, sudah mendapat kupon, kan? Kalau ada yang tertinggal di dalam, biar Rose yang atur." Aku menoleh ke arah Rose. "Tolong atur ya, Rose?"
Ia mengangguk. "Baik, Mbak."
Lima belas menit, sungguh waktu yang teramat panjang untuk menjadi sia-sia. Jika dimanfaatkan, maka bisa mengerjakan beberapa tugas bagi mereka. Mood-ku sudah hancur, rasa bangga karena berhasil menjalin kerja sama dengan Pak Nur mendadak sirna. Semua karena Celvin.
Sementara itu, para karyawan divisi perencanaan strategis ini sudah bubar. Semoga mereka bersedia mendengar ucapanku. Jika tidak, aku takut hanya karena sebuah status di sosial media mampu menyuguhkan bahan gosip dan berakibat fatal pada perusahaan. Terlebih, masih dalam nauangan Sanjaya Group, sudah pasti efeknya besar. Dan lagi, ... bagaimana respon Mas Arlan jika sampai itu terjadi? Pasti ia akan menyalahkan diriku.
Aku menghela napasku. Hari ini, aku berpuasa, namun ada saja yang membuatku naik pitam.
"Celvin? Riska?" Aku berusaha memanggil mereka sebelum masuk ke dalam ruangan itu.
Hening, tidak ada jawaban.
"Jangan kayak bocah deh!" tegasku kembali. Namun sayang, mereka tetap bungkam.
Emosiku kembali meluap. "Keluar! Keluaaar!" Aku sudah tidak bisa bersabar lagi. Sembari memberikan penegasan, aku menggebrak pintu sampai berkali-kali.
Oh, Ya Allah. Aku lagi puasa.
Mereka masih tidak merespon. Sedangkan pintu ruang itu, sepertinya dihalangi menggunakan sesuatu. Mengingat kuncinya hanya ada diluar dan itupun menggunakan kunci manual bukan tempel.
__ADS_1
Aku mendengkus kesal. Upayaku tidak berhasil. Memang, jika dipikirkan lagi aku memang bukan siapa-siapa. Namun tidak seperti ini. Diriku bak tidak dihargai sama sekali. Mengapa mereka berdua begitu egois? Di sini bukan tempat untuk bertengkar. Apalagi sampai memaksa semua karyawan untuk keluar demi urusan pribadi itu. Aku sudah tidak bisa menahan gejolak emosi di dalam hatiku yang tidak menentu.
Sampai akhirnya aku terduduk sembari meraung. Aku menangis saking kesalnya. Bak semua yang aku upayakan menjadi sia-sia. Pak Nur bukan orang sembarangan. Ketika bertemu dengan beliau di suatu pertemuan, aku sangat berambisi untuk menjalin kerja sama. Bahkan aku sudah berhasil, sesuatu yang bisa aku banggakan di hadapan Mas Arlan. Tentunya juga sangat menguntungkan, bahkan beliau bersedia berinvestasi dalam jumlah yang besar. Namun jika Celvin tetap seperti ini, apa jadinya?
Belum tentu semua karyawan menuruti keinginanku. Mereka bisa membuat opini-opini yang melebihkan fakta. Jika Pak Nur mendengar dan membatalkan perjanjian, bagaimana?
"Kak Fanni?" Suara Riska terdengar tengah memanggilku. Namun aku masih tidak bergerak sama sekali. Aku masih duduk, namun raungan tangisku berangsur hilang menjadi sebuah isakan pelan.
"Maaf, Fann. Kami ada urusan," ujar Celvin selanjutnya.
Seketika aku berdiri. Kuhampiri keduanya sembari menatap tajam ke arah mereka. Emosiku sudah tidak bisa terkontrol lagi. Kutarik kerah kemeja Celvin yang berwarna biru. "Urusan katamu?!" tanyaku tegas.
Celvin menelan salivanya. "Iya, Fann. Penting."
"Kamu ini mikir enggak sih, ini di mana?! Urusan penting katamu?! Apa? Hubungan kalian? Dan harus kayak gini, harus keluarin semua karyawan? Hah?!"
Riska memegang tanganku. "I-itu karna Riska tadi menolak ajakan Celvin untuk keluar."
"Terus? Aku peduli gitu? Harusnya enggak gini dong. Ini tuh kantor! Mikir enggak sih kalian?!" Aku kembali tersedu-sedu. "Bisa enggak sih kalian mikir sehat?! Jangan jadi orang bodoh!"
"Terus aku harus gimana?!" Suara Celvin terdengar tegas. Tampaknya ia tidak terima dengan ucapanku. "Di belakangku kalian menyembunyikan apa? Kenapa enggak bilang aku, hah? Dan dengan begitu, kalian lepasin si k*parat itu dengan seenaknya aja gitu?"
"Apa?" Aku menatap Celvin. "Lepasin? Kalian? Kamu nyalahin aku? Apa enggak cukup aku bantu, hah?"
"Iya! Kamu emang terlibat, kan?! Emang aku salah? Malah bodoh-bodohin orang. Kalian sendiri pintar, enggak? Stress iya! Bisa-bisanya penjahat seperti itu dilepas. Gila!"
Plak! Sebuah tamparan keras aku jatuhkan di pipi Celvin. Setelah semua yang aku lakukan untuk membantu calon istrinya, ia malah mengataiku dengan kata itu. Stress? Bahkan jauh lebih kasar daripada bodoh. Benar kata Riska, ketika sedang marah Celvin sudah seperti monster. Wajar jika Riska ingin melindungi Ivan.
Aku dan Celvin saling menatap tajam. Sedangkan Riska sibuk menarik tangan Celvin supaya bersedia pergi. Namun tampaknya ia benar-benar kesal terhadap diriku. Ia terlihat sangat ingin membalas tamparan tanganku. "Ini, yang dinamakan seorang teman, Nona Fanni? Setelah semua yang saya percayakan kepada Anda, bahkan suami Anda," ujarnya pelan namun menusuk.
"Celvin! Ayok! Jangan begini!" timpal Riska
"Jangan bawa-bawa suamiku. Kepercayaan yang dia punya adalah dari ayahmu bukan kamu! Bahkan aku tidak akan mengembalikan jabatan dan saham jika hanya kamu yang meminta. Dan, setelah semua yang aku lakukan untuk membantu kalian, bahkan nyaris dihajar oleh Ivan. Ini balasan kamu? Padahal aku sudah menyerahkan semuanya kepada Riska, supaya dia bisa membuat keputusan sendiri."
Celvin menunduk. Ia menekan rahang, yang entah sedang menahan perasaan apa.
"Asal kamu tahu, Tuan Celvin. Dalam waktu satu bulan kurang ini, saya mengupayakan banyak hal yang terbaik untuk perusahaan ini. Bahkan Bapak Nur Imran bersedia memberikan investasi yang sangat luar biasa. Perlahan Sanjaya Group akan semakin berjaya dengan penambahan anak perusahaan yang bisa merambah naik."
"Nur Imran?" Celvin mengernyitkan dahi.
"Pengusaha kedua terkaya di Indonesia setelah Sanjaya. Pengusaha di bidang lain, yang bahkan bisa merambah ke bidang ini karena kepercayaan yang diberikan kepadaku dan Mas Arlan. Tapi, ... dengan keegoisan kamu yang membawa masalah pribadi dan masuk ke dalam kantor ini. Bahkan melibatkan beberapa karyawan, aku tidak bisa menjamin Pak Nur tetap ingin bekerjasama. Bisa jadi kami harus membayar ganti rugi, jika dia membatalkan semuanya karena kamu!"
Celvin terdiam. Bukan hanya perusahaan ini yang terkena imbasnya. Namun juga Sanjaya, karena perusahaan yang diberi nama PT. Gemilang ini masuk ke dalam Sanjaya Group. Semua orang akan langsung menyebutkan PT. Sanjaya. Parahnya, si pembuat onar adalah si Tuan Muda Celvin Hariawan Sanjaya.
Aku mengembuskan napasku. "Itu hanya kemungkinan yang belum terjadi. Aku udah ngasih tahu ke mereka agar tetap menjaga nama baik perusahaan termasuk nama kamu. Semoga saja, tidak ada berita apapun." Aku berbalik dan hendak pergi.
"Fanni, maafkan aku." Celvin mengatakan itu.
Mood-ku sudah buruk. Betapa banyaknya yang membuatku kesal. Serasa tidak dihargai, belum lagi kepikiran rumah dan kedua anakku. Belum lagi memikirkan puasa yang entah batal atau tidak.
Bersambung ...
Budayakan like+komen.
__ADS_1