Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Kondisi Riska


__ADS_3

Suatu kekhawatiran itu membuat Mas Arlan terus membawa Selli kemanapun pergi. Bahkan saat ia sedang bercengkerama bersamaku di kamar kami. Biasanya ia tidak mau diganggu saat bersamaku, sekalipun oleh sang putri. Namun, kini ia bersikap lebih posesif terhadap putri kecilnya. Entah dikatakan berlebihan atau bagaimana, yang pasti seorang ayah tidak akan rela jika putri yang ia rawat sejak kecil diambil begitu saja.


Ah ... Nia, aku pikir ia telah banyak berubah. Nyatanya belum sama sekali. Seandainya ia memang benar-benar rindu kepada Selli, seharusnya ia bertanya lebih lembut. Pasti kami akan lebih membuka hati. Namun ucapan ancaman dan ledekan untukku itu, membuktikan bahwa Nia belum berubah. Ya, manusia memang memiliki proses masing-masing dalam hidupnya. Aku hanya miris. Ia memang terbilang cantik untuk usianya yang lebih tua dariku. Namun sepertinya ia malah menghabiskan waktu dalam kesendirian setelah semua yang ia perbuat dimasa lalu.


Mirisnya, Nia tidak menyadari akan hukuman itu. Seandainya aku adalah dirinya, aku pasti akan tergesa-gesa dalam berbenah diri. Tapi entahlah, aku tidak tahu pasti tentang kehidupannya. Aku sudah menjalani biduk rumah tangga sampai satu tahun. Tidak terlintas tentang kehidupan sang mantan istri suamiku selama itu.


"Dek, habis maghrib kita berangkat ya?"


"Iya, Mas. Selli diajak?"


"Harus, Dek."


"O-oke, Mas."


Mas Arlan sangat berhati-hati mulai detik ini. Bahkan semua keperluan Selli, dirinya yang mengurus. Disisi tidak ingin membuatku yang tengah hamil ini kerepotan, ia juga ingin sedikit memanjakan sang putri. Tidak buruk juga, lagipula Mas Arlan selalu sibuk selama ini. Menyempatkan sedikit waktu menurutku tidak ada salahnya.


Aku sendiri mulai mengambil beberapa helai pakaian. Setelahnya keluar dari kamar ini dan hendak mandi. Gerak-gerikku cukup hati-hati. Calon anakku membuat diriku takut kalau salah dalam berbuat sesuatu. Beruntung ada Bi Onah yang menjadi pengingatku, lantaran sudah memiliki anak. Andai aku di rumah ayah dan ibuku, pasti keduanya akan lebih cerewet sekali. Aku bahkan belum memberitahukan hal ini. Mungkin setelah aku bebas dari pekerjaan, supaya ibuku tidak terlalu mendesak lebih cepat.


Kemudian, sesampainya di kamar mandi, aku masuk. Aku mulai melakukan ritual bebersih diri itu. Membelai perutku yang kini bukan hanya buncit karena lemak saja. Ada calon anakku didalamnya. Benakku menerawang jauh. Laki-laki atau perempuan? Tampan atau cantik? Lalu akan mewarisi wajahku atau Mas Arlan nantinya? Aku berharap adalah diriku, maksudnya wajahnya. Karena aku memiliki bola mata yang biru dan tidak dimiliki oleh suamiku.


Aku sampai terkekeh kecil saat membayangkannya. Ternyata menjadi ibu hamil seperti ini rasanya. Dulu aku sering merasa iri kepada Nike. Namun sekarang aku akan mendapatkannya. Semoga kandunganku selalu terjaga sampai ia terlahir nanti. Aku sungguh sangat tidak sabar. Keluargaku dan Mas Arlan akan lebih komplit dengan memiliki dua anak. Apalagi kalau janin ini ber-gender laki-laki.


"Dek, jangan sampai terpeleset lho. Dijaga ya? Mas tungguin didepan nih. Atau Mas ikut masuk aja?" tanya Mas Arlan dari luar.


"Eh?! Enggak, enggak usah, Mas." Beruntung aku sedang mandi didalam kamar mandi atas. Sehingga Bi Onah tidak mendengar.


"Buka, Dek. Mas bantu. Lagian disini, nggak ada siapa-siapa."


"Enggak, Mas. Aku udah mau beres, tinggal pake baju."


"Yaaaaah."


Nada suaranya terdengar kecewa. Astaga! Dalam kondisi istri yang sedang hamil saja, ia akan berbuat usil. Sepertinya kami harus berkonsultasi mengenai hal ini. Supaya Mas Arlan tidak berbuat sembarangan. Apalagi kehamilanku masih berusia muda. Aku harus menjaganya, bahkan dari keusilan suamiku.


Aku memakai gaunku yang panjangnya tepat dibawah lutut. Dengan gaya yang mekar dibagian bawahnya. Karena kata orang tua, lebih disarankan memakai pakaian seperti ini disaat hamil daripada celana. Tampaknya celana-celana jeans-ku harus dianggurkan selama beberapa bulan sampai bayiku terlahir.


Aku keluar. Tidak kusangka Mas Arlan masih menungguku didepan pintu kamar mandi.


"Kamu ngapain, Mas?"


"Jagain kamu, Dek."


"Haah? Haha ... lebay amat deh."


"Orang khawatir. Apalagi kamu baru pertama kali."


"Nggak gitu juga kali. Aku yang hamil kamu yang panikan sih?"


"Mas kan sayang kamu dan anak-anak kita, Dek."


"Yalah, terserah kamu, Mas. Tapi makasih lho, udah diperhatiin sebanyak ini hehe."


Dibalik semua masalah yang menerpanya, Mas Arlan sebisa mungkin tidak menampilkan wajah stress-nya. Begitu banyak cobaan hidup yang ia dapatkan tidak membuatnya melampiaskan segala amarah kepada anggota keluarga. Dan aku merasa bersyukur, sejauh ini tidak ada masalah yang menerpa hubungan kami. Mungkin hanya pertengkaran kecil yang menghiasinya. Yah, Tuhan masih bersikap adil, bukan? Meski masalah hidup begitu banyak, rumah tangga kami selalu baik-baik saja.


Lantas, ia menggandeng tanganku dengan lembut. Seolah tidak ingin aku terpeleset sekecil apapun. Hidupku bagaikan nyonya besar di rumah ini. Aku wajib bersyukur. Ah ... aku sampai terlena oleh perlakuan suamiku. Aku mencari keberadaan Selli.


"Selli dimana, Mas?"

__ADS_1


"Lagi disuapin Bi Onah, Dek."


"Kamu udah nggak khawatir lagi?"


"Masihlah, Dek. Tapi tadi belum tenang aja, jadi agak berlebihan hehe."


"Hmm ... iya deh, Sayang. Kamu mandi gih, aku udah siap nih. Tinggal nungguin waktu maghrib."


"Tadinya Mas mau bareng sama kamu. Nggak tahunya malah udah kelar."


"Dasar!"


Kami berjalan bersama menuju kamar. Tangannya masih tidak melepaskan jeratannya di jari jemariku. Usia Mas Arlan yang sudah teramat dewasa tidak membuatnya mengikis romantisme seperti pasangan muda. Mohon maaf, jika aku terlalu banyak memuji sifat-sifat suamiku. Karena memang begitu adanya, nyaris tidak ada cacatnya. Mungkin malas bangun adalah yang paling buruk. Sedangkan keseriusan bisa ia tunjukkan pada saat-saat tertentu.


Sampai di kamar, Mas Arlan membantu mengeringkan rambutku yang basah. Sedangkan aku sibuk memandangi wajahku yang semakin chubby. Apa Mas Arlan tidak pernah merasa geli melihatku berfisik seperti ini? Ah ... tidak! Aku tidak boleh berprasangka kepada suamiku sendiri.


"Dek, kamu cantik. Selalu cantik." Mas Arlan tiba-tiba saja mengatakan hal itu, seolah ia tahu akan apa yang sedang aku pikirkan


"Haha. Makasih, Mas." Aku menjawab sekenanya. Meskipun aku tahu itu hanya gombalan semata. Mungkin jika aku lebih kurus, aku bisa cantik seperti yang ia katakan. Namun fokusku bukan lagi ingin kurus, aku hanya ingin calon anakku selalu sehat sampai proses persalinan.


Hingga tak lama kemudian, Mas Arlan menghentikan gerakan tangannya pada rambutku. Ya, rambutku telah berhasil ia keringkan. Aku berdiri dari dudukku. Mas Arlan merangkulkan tangannya di pinggangku.


Sepertinya ada sesuatu yang ia inginkan. Tanpa pikir panjang, aku segera memejamkan mataku. Dan benar saja, tak lama kemudian ia mendaratkan kecupan manis nan hangat di bibirku. Kesibukan kami seringkali melupakan satu hal romantis ini. Sampai membuat Mas Arlan sedikit lebih memburu. Durasinya pun cukup panjang. Aku hanya mengikuti irama selama dalam batasan. Karena kami belum tahu efeknya pada kehamilanku jika lebih dari ini.


"Mas mau, Dek ...," bisik Mas Arlan sesaat setelah ia menghentikan hal itu.


"Jangan dulu. Kita belum tahu, lagian sebentar lagi maghrib, Sayang," jawabku.


"Hmm ... masa' ditahan sampai melahirkan?"


Mas Arlan terdiam kecewa. Ia melepaskan pelukannya dariku. Ia bergerak ke arah almari demi mengambil beberapa helai baju. Setelah itu, ia berlalu keluar dari kamar ini. Aku rasa, ia akan bebersih diri. Sedangkan diriku duduk di tepian ranjang sembari memainkan ponselku. Sambil menunggu maghrib tiba lalu berangkat ke apartemenku dimana Riska berada.


****


Waktu yang berjalan membuat kami saat ini berada disini. Di apartemen yang masih milikku dimana keponakan iparku sedang bersembunyi. Bersama si kecil--Selli, aku dan Mas Arlan membawanya turun dari mobil ini. Mas Arlan membawa dua kantong berisi beberapa bahan makanan ataupun cemilan tanpa mau aku bantu. Sedangkan putri kami berlarian kecil dengan pengawasan kami.


Lantai yang dulu sering aku tapaki terus kami lewati. Melalui lift, kami naik ke atas demi mencapai salah satu kamar. Sudah lama juga aku tidak ke tempat ini. Rasa-rasanya aku sedikit geli pada saat mengingat sesuatu yang manis. Tentang malam pertamaku dan Mas Arlan yang baru didapatkan pada usia pernikahan satu bulan dan terpaksa berlangsung di tempat ini. Pasangan pengantin baru yang pada saat itu terlihat sangat miris.


Namun itu dulu, karena sekarang lebih manis. Masalah yang menerpa malah membuat kami saling menguatkan satu sama lain. Meyakinkan bahwasanya setiap kejadian pasti ada hikmah dibaliknya. Yah, namanya juga kehidupan manusia.


Sesampainya di tempat yang dituju, aku menekan bel pintu untuk memberitahukan sang nyonya rumah bahwa ada tamu yang datang. Dan tak lama kemudian, pintu terdengar tengah dibuka dari dalam. Muncullah sosok Riska yang kini terlihat berbeda. Rambut diikat asal-asalan dengan kacamata yang menghiasi kedua bola matanya. Baju kaos oblong dengan bawahan celana kolor panjang. Dimanakah Riska yang selalu tampil prima? Aku sedikit terkejut dibuatnya, meski begitu ia tetap terlihat cantik menawan. Hanya saja, lebih kurus daripada dulu.


"Om, Kak, dateng nggak bilang-bilang sih? Didalem berantakan banget," ujarnya.


"Om tahu kebiasaan kamu Tuan Putri. Nggak ada pembantu disini, jadi pahamlah," jawab Mas Arlan.


"Halo, Kakak Riska," sapa Selli.


Riska tersenyum malu-malu. Kemudian ia merengkuh tubuh mungil putriku. Ia bahkan lupa untuk mempersilahkan kami untuk masuk. Lalu tanpa persetujuannya, aku dan Mas Arlan melenggang begitu saja. Mas Arlan menaruh dua kantong berisi makanan itu di dapur. Sedangkan aku duduk di sofa yang masih sama seperti sebelum aku pindah.


Dan yeah, agak berantakan. Tampaknya orang cantik belum tentu membuatnya lebih rajin. Aku mengakui bahwa diriku jauh lebih rapi meskipun terkadang malas. Apalagi aku selalu ditekan untuk hidup mandiri oleh ibuku.


"Kak Fanni, lama nggak kelihatan?" tanya Riska sembari meletakkan secangkir kopi untukku.


"Mas Arlan selalu mencegahku datang, Ris. Emm ... maaf, aku lagi mengurangi kopi hehe," jawabku dengan sopan.


"Eh? Ma-maaf, Kak. Aku nggak tahu, aku ganti yang lain ya. Bentar deh."

__ADS_1


Aku mencegah niat Riska dengan meraih tangannya. "Nggak perlu. Nanti aja, Ris. Kamu duduk aja."


Riska duduk kembali. Aku mengamatinya diam-diam. Tampaknya ia jauh lebih baik sekarang. Wajahnya yang ayu jauh lebih segar walaupun badannya menjadi lebih kurus. Sepertinya pengakuannya sebagai seorang penulis yang ia katakan kepada Celvin memang benar.


"Kakak Riskaaaa!" Seru Selli seketika. Membuatku menjadi mengurungkan niat bertanya. Gadis kecil itu datang dengan berlarian kecil lalu memeluk Riska. Keduanya saling bercanda seperti sepasanga teman yang sudah lama tidak bertemu.


Sedangkan Mas Arlan menyusul kami. Ia memberikan segelas susu untukku. Ia menukarnya dengan kopi yang sempat Riska berikan kepadaku. "Riska, Tantemu ini lagi hamil sekarang. Jadi jangan diberi kopi dulu," ujarnya.


Sontak Riska menghentikan celotehnya bersama Selli. Ia menampilkan wajah terkejut. "Wah! Aku bakal punya sepupu kecil lagi dong. Senengnya, selamat ya Om dan Tante hehe."


"Ya, makasih, Ris. Tapi jangan panggil Tante deh. Aku belum setua Om kamu hehe," jawabku.


"Haha ... iya sih, Ka. Rada aneh manggilnya. Kalau Om Arlan emang udah pantes."


Mas Arlan mendengus kesal. "Dasar kalian!"


Aku menyesap minumanku yang diberikan oleh Mas Arlan. Namun mataku tidak terlepas dari sosok Riska. Ia memang terlihat lebih ceria. Namun, apa benar Riska baik-baik saja? Mengapa ia tidak kunjung pulang? Bahkan belum bersedia memberitahukan keberadaannya kepada Celvin. Bodohnya Celvin tidak memikirkan tempat ini, meski ia sempat mendatangi.


Lalu, keluarganya? Apa benar tidak mencari Riska setelah menuduh Mas Arlan? Posisi ponsel Riska seharusnya bisa dilacak oleh kepolisian atau seseorang yang mempunyai wewenang. Masalah yang rumit.


"Emm ... Ris, kamu jadi seorang penulis ya sekarang?" tanyaku demi mengurangi rasa penasaranku.


"Iya, Ka. Alhamdulillah naskahku diterima penerbit dan ada yang mengajak bekerja sama. Lagipula cara kerjanya tidak terlalu banyak keluar rumah," jawabnya.


"Apa kamu belum ingin pulang?"


Riska terdiam sejenak. Lalu kembali bersuara, "belum, Kak. Maaf ya kalau masih numpang gratis disini. Aku masih belum yakin dengan respon Papa. Aku takut dikurung lagi. Makanya sekarang lebih baik mengurung diri sendiri sambil mencegah upaya Celvin."


"Upaya apa?"


"Upaya untuk mendapatkan restu. Aku nggak mau Celvin terus-terusan dihajar sama Papa."


Mas Arlan berdeham. Ia menatap sang keponakan. "Tapi, dia belum berhenti datang. Om mendengarnya dari sang ayah, walaupun nggak sesering dulu. Niatnya untuk menikahimu masih besar."


Riska terdiam lagi. Ia menundukkan kepalanya sembari memeluk tubuh Selli yang ada di pangkuannya. Mungkin ada kegetiran tersendiri didalam hatinya. Oh .... sungguh malangnya. Kapan ia bisa keluar dari situasi semacam ini? Aku merasa gemas sendiri, tapi tidak bisa membantu apapun.


"Riska, besok Om dan pihak Sanjaya akan melakukan pertemuan," ujar Mas Arlan.


"Pertemuan? Untuk apa?" tanya Riska.


"Kami belum tahu. Pak Ruddy menawarkan perdamainan. Berlebihan, kan? Udah kayak dua kerajaan aja. Tapi langkah itu perlu dicoba."


"Kapan dan dimana, Om?"


"Disalah satu gedung milik Papa kamu yang paling dekat dengan kantor pusat Harsun. Jam sembilan pagi."


"Oh ... semoga berjalan lancar. Tapi, apa Om akan baik-baik aja? Nggak dianggap pengkhianat?"


Mas Arlan terkekeh. "Om udah teramat kebal, Nak."


Riska hanya memberikan senyuman tipis. Ia tampak sedang berpikir. Bahkan diriku, tidak sabar untuk datang keesokan harinya. Mengenai apa? Perjanjian kedua belah pihak atau mengenai keberadaan Riska. Esok hari, aku harus berjaga-jaga dan waspada serta menjaga emosi suamiku.


Sedangkan aktivitas kami dilanjutkan dengan berbincang banyak hal. Terkadang sesuatu yang lucu atau sesuatu yang cukup serius. Tentang perusahaan ataupun nasehat dari kami untuk Riska. Sampai-sampai pembicaraan kami terdengar bagaikan dongeng di telinga Selli. Gadis itu tertidur pulas di pelukan Riska.


Bersambung ...


Hayo komen dan like yuk

__ADS_1


__ADS_2