Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
End--Akhir kisah sang Nyonya


__ADS_3

"Mas?" panggil Fanni kepada suaminya yang tengah pulang untuk makan siang.


"Iya, Sayang," jawab Arlan.


"Aku bosen."


"Terus?"


"Berangkat, ya?"


"Enggak ada! Kan, udah sepakat tiga hari dalam seminggu. Selasa, Rabu sama Jum'at."


Bibir Fanni mengerucut. "Kasihan Mita ih. Si Riska lagi hamil juga masih kerja!"


"Riska suaminya enggak sebaik dan semanis Mas, Dek. Yakin! Lagian, pegawai kalian banyak. Kamu tuh lagi hamil, awas aja nanti kalau Mas balik, kamunya kabur. Dooo?"


"Saaaa!"


"Itu tahu."


Fanni hanya bisa menggerutu diam-diam. Keinginannya untuk berangkat ke salon mendapatkan penolakan keras dari suaminya, alasannya karena sedang hamil. Selli di tempat Nia, Sella ada pengasuhnya, membuat Fanni merasa sangat jenuh.


Sebenarnya, ia bisa bermain bersama Sella, tetapi gadis kecil itu sedang aktif-aktifnya. Ingin berjalan kesana kemari dan kondisi Fanni yang sedang hamil tidak memungkinkan untuk menuruti permintaan sang gadis cilik.


"Mas, kamu jahat sama aku!" tegas Fanni kepada suaminya itu.


"Kok bisa lho, Dek?" tanya Arlan sembari mengunyah makanan.


"Aku dibiarin kesepian."


"Kan, ada Sella, Sayang."


"Sellanya jalan-jalan melulu'."


"Ya bagus dong, Sayang. Berarti putri kita aktif!"


"Iya sih, aku bersyukur banget buat itu."


Percuma saja. Arlan sudah memutuskan agar Fanni tetap diam menuruti permintaannya untuk lebih sering di rumah. Ia hanya ingin menilik sekilas saja, lalu pulang. Karena merasa tidak enak hati kepada Mita, tetapi ia juga harus memikirkan kehamilannya dan juga sang putri.


Fanni berpikir. "Emm ... gimana kalau kamu bolos aja dulu?"


"Hus! Suami kerja kok suruh bolos, jangan ngaco deh," tolak Arlan.


"Maunya si bayi, Mas."


"Halah, maunya kamu itu. Masa' anak Mas dijadiin alesan mulu'?"


"Ih, enggak percaya ya udah!"


"Percaya itu sama Allah."


"Sama aku juga dong!"


"Emm ...."


"Ih! Kok mikir dulu? Kamu enggak percaya sama aku?"


"Emm ...."


Fanni mencubit lengan Arlan. "Nyebelin!"


"Aiss! Kebiasaan, sakit, Sayang. Kamu mah nyakitin suaminya mulu', KDRT ini namanya."


"Bodo'!"


Fanni berdiri dari duduknya dan berlalu begitu saja. Ibu hamil memang tidak boleh lawan apalagi dibuat kesal. Namun, Arlan tetaplah Arlan yang memiliki banyak ide tentang keusilan.


"Muach ... love you, Mas berangkat dulu," ujar Arlan setelah menyelesaikan santap siangnya.


Fanni yang sebenarnya masih kesal, kini menarik kerah bajunya. Dan dikecupnya bibir suaminya tercinta itu.


"Lagi, Dek?"


"Udah cukup."


"Kurang! Biar awet nyampe pulang lagi."


"Enggak mau!"


"Dasar istri pelit!"


"Biarin!" Fanni memberikan cibiran.


Setelah itu, mereka berjalan bersama menuju teras rumah. Fanni akan mengantarkan sang suami sampai di tempat itu. Kecupan manis ia dapatkan dari sang suami, juga di perut yang ada anak jagoan mereka. Sampai akhirnya, Arlan bergegas untuk kembali ke kantornya.


****


Jelita mengembuskan napasnya, setelah sebelumnya ia menyelesaikan ujian dalam kelas khusus designer. Rasa lelah, penat dan tentu saja pusing sekali. ingin rasanya segera merabahkan diri di kasur tercinta. Namun, itu tidak mungkin karena ia masih berada di dalam area kampus. Ia menunggu Janne dari kelas musik yang belum kunjung datang, membuatnya semakin dirundung rasa bosan. Ingin kembali, tetapi tidak enak hati jika meninggalkan sang adik begitu saja. Akhirnya, ia memutuskan untuk bersantai di kantin kampus itu.


Seperti biasa, ia hanya memesan roti tawar yang terbalut selai srikaya dan minuman mineral saja. Ia masih menjalani program diet, bukan tidak puas dengan hasil yang sekarang ia capai, ia hanya lebih menjaga diri saja. Beberapa mahasiswa kini telah memberika sapaan untuknya, terlebih Jelita merupakan selebgram yang sedang naik daun. Memiliki konten bagus yang mengedukasi. Visualnya saat ini pun jauh lebih menarik dan canti, jujur, melebihi Jane. Namun, Jane lebih kurus dari dirinya.


"Hai? Boleh aku duduk di sini?" sapa salah seorang mahasiswa yang tidak ia kenal sama sekali.


Awalnya, Jelita merasa ragu, tetapi karena tempat ini adalah tempat umum, ia memberikan izin kepada mahasiswa itu. "Silahkan."


"Terima kasih." Sang mahasiswa duduk di sampingnya. Setekah itu, mereka saling terdiam. Sepertinya memang butuh bangku saja, buka ada maksud apa-apa.


Mata Jelita justru terpaku pada buku tebal yang mahasiswa itu bawa dan saat ini sedang di baca. Tampaknya, ia dari jurusan hukum. Buku itu merupakan buku tentang politik yang pasti membuat kepala pening.

__ADS_1


"Emm ... kamu dari kelas hukumkah?" tanya Jelita memberanikan diri untuk bertanya, alasannya untuk membuang rasa canggung yang melanda.


Sang mahasiswa menatapnya sembari mengulas senyuman di bibirnya, diiringi anggukan kepala. "Ya, gue dari kelas hukum. Loe?" tanyanya kembali.


"Emm ... gue designer fashion."


"Wah! Anak baju mah cantik-cantik, ya?"


"Masa' sih? Keseringan dandan mungkin hehe."


"Ngomong-ngomong nama loe siapa?"


"Jelita. Loe sendiri?"


"Reza, mm ... Lita?" Mahasiswa yag bernama Reza itu melirik tas Jelita yang tertulis nama 'Lita'.


"Ya, Lita."


Samar, Reza merasa seperti tidak asing dengan paras yag dimiliki oleh Jelita. Ia seperti pernah melihat gadis itu, tetapi di mana? Dan kapan? Ia segera menepisnya, menganggap mungkin hanya salah ingat saja. Padahal yang ia temui sekarang adalah seorang selebritas. Dan Reza tidak menyadarinya sama sekali.


Sementara itu, Jane yang sedang ditunggu-tunggu malah kesulitan dalam memikirkan aransemen lagunya. Meski kelas sudah selesai dari tadi, ia tetap berada di dalam sembari berpikir keras. Bagaiamana bagusnya dan bagaimana agar lebih mengena di hati para pendengar. Ia melupakan bahwa sang kakak tengah merasa kesal akibat dirinya. Setiap kali sibuk seperti ini, ponselnya selalu sengaja dimayikan, alasannya agar bisa lebih tenang.


Jane melenguh cukup keras, merasa sudah tidak bisa berpikir lagi. Padahal kompetisi akan dilaksanakan sebentar lagi, ia tidak ingin mengecewakan hati Nur Imran itu saja. Sudah diberi makan, sekolah dan berbagai fasilitas, masa' iya ia tidak bisa menorehkan kemenangan?


"Gimana dong?" Raut wajahnya melemah. Dulu, ketika Riris masih ada, ia pasti ditekan untuk terus berlatih dan berlatih. Hal itu yang membuatnya menjadi jenius, tetapi dalam waktu yang singkat. Sedangkan, sekarang? Hidupnya lebih bebas, ia sering membolos latihan. Sebenarnya bukan membolos, melainkan merasa letih dengan berbagai kursus yang ia ikuti. Ingin mengutarakan diri untuk keluar dari salah satunya, ia sama sekali tidak berani. Itulah Jane, yang posisinya bukan siapa-siapa, meski sudah diakui. Serba tidak enak hati ketika ingin bergerak dan berpendapat.


Akhirnya, ia memutuskan untuk menyudahi aktivitasnya. Keadaan sudah cukup sepi, membuatnya bergidik juga. Ia melangkahkan kaki untuk berlalu dari tempat itu, setelah sebelumnya menutup pintu ruangan itu.


Tak sengaja, ia melihat sang kakak yang tengah asyik berbincang dengan Reza. Membuatnya enggan untuk menghampiri dan tampaknya kakaknya menikmati perbincangan itu.


"Jane!" Seruan itu membuat Jane terkejut. Saat ia menoleh ke arah sumber suara, ternyata kakaknya. "Udah kelar emang? Kenapa enggak ngomong?"


"Kak Lita masih sibuk bermesraan," jawab Jane polos sekali.


"Ih, ngawur mana ada! Ayok pulang."


"Siap, Bos!"


Akhirnya sepasang kakak dan adik itu bergegas menuju area parkir kampus elite itu. Tentu saja, untuk menghampiri mobil milik Jelita. Gadis yang dulu menderita, kini bisa melakukan banyak hal, termasuk menyetir. Sesampainya di sana, mereka segera mencari mobil. Dan lantas masuk ke dalam. Baru setelah itu, Jelita melaju mobilnya perlahan menjadi lebih cepat.


Hiruk pikuk keramaian kota masih sama seperti biasanya. Ada macet ada juga jalan yang lapang, tidak menentu. Kalau masih siang seperti ini, lebih nyaman karena cukup sepi.


"Mau makan enggak? Mumpung masih jam segini?" tanya Jelita kepada adiknya.


"Boleh, Kak. Mau makan apa?"


"Aku mah salad hehe. Resto yang ada saladnya deh."


"Ya udah, aku ngikut."


"Jane?"


"Kenapa kamu selalu menuruti apa maunya aku?"


Jane terdiam. Entah apa yang pantas untuk dipakai sebagai alasannya. Alasannya tetap sama, karena posisi asli dirinya yang bukan siapa-siapa. Hal itu yang membuatnya selalu menuruti keinginan Jelita, juga Nur Imran. Meski kedua orang itu, sama sekali tidak memberikan larangan apa pun.


Jane mengulas senyuman di bibirnya. "Sudah sepantasnya, Kak," jawabnya kemudian.


Jelita tahu maksud dari adiknya itu. Tadi, ia hanya memancing saja. Ia ingin agar Jane menunjukkan keinginanya, bukan yang diinginkan olehnya. Ia sudah menganggap Jane seperti adik kandung. Namun, sepertinya, Jane masih bersikap tidak bisa biasa saja. Jelita tahu, jiwa sang adik sempat terguncang hebat, ia tahu bahwa Jane sangat ingin bertemu dengan Riris--sang ibu.


Entahlah, Jelita juga tidak tahu harus berbuat apa lagi mengenai adiknya itu. Hati manusia tidak bisa berubah dalam sekejap mata, ia tidak bisa memaksakan kehendak sang adik.


"Kita pulang aja deh," ujar Jelita kemudian.


"Kok pulang? Katanya mau ke resto?" tanya Jane.


"Kalau dijadiin, aku mau kamu yang pilih di mana tempatnya."


"Nanti, Kak Lita enggak bisa dapet salad gimana?"


"Enggak apa-apa. Sekali-kali bandel enggak masalah. Kamu mau ke mana?"


"Apa bener enggak apa-apa?"


Jelita mengangguk mantap. "Ke mana?"


"Aku mau chicken pinggir jalan aja."


"Hah?!"


Jane tertawa kecil. "Hihi, enggak kok becanda. Aku tahu Kak Lita, udah sangat terkenal. Kita ke mal aja yuk, yang deket sama salon Tante Fanni. Di sana kan ada resto ayam."


"Hmm ... boleh."


Setelah mendengar permintaan sang adik, Jelita bergegas memutar setirnya untuk berbalik arah. Begitu saja permintaan Jane, sebenarnya sudah membuatnya sangat lega. Namun, itu jarang terjadi lantaran sang adik yang selaku enggan meminta apa pun selama ini. Ada rasa heran yang terkadang muncul, mengapa sifat Jane sangat berbeda dengan Riris? Siapa ayah kandung dari anak itu? Namun, Jelita segera menepis pertanyaan semacam itu.


Suara deru mobilnya terdengar sangat bising, bergabung dengan suara mobil milik orang lain. Masih membutuhkan waktu sekitar lima belas menit untuk sampai di tujuan. Namun, saat ini ada keheningan yang menerpa kebersamaan mereka. Berfokus pada pikiran masing-masing, yang sebenarnya tidak penting.


"Hei, Kesayangan!" pekik Mita kepada Jelita yang saat ini tengah masuk ke dalam salonnya bersama Jane.


"Hai, Kak Mita," sapa mereka berdua.


"Ayo, masuk, masuk. Mau pada nyalon kagak? Gue deh yang layanin."


Keduanya menggelengkan kepala.


"Mau nyari ayam, Kak," jawab Jelita.


Mita melenguh. "Loe pikir ini KFC apa?"

__ADS_1


Mereka tergela ketika mendengar ucapan Mita. Ya, mereka hanya ingin memberikan sapaan saja. Ramainya resto yang dituju membuat keduanya memilih datang ke salon ini terlebih dahulu. Bahkan, di hari kerja seperti ini, salonnya ramai pengunjung. Pantas, menambah kuota pekerja.


Lalu, Mita mempersilahkan mereka agar masuk ke dalam office saja, karena takut mengganggu para pengunjung yang datang. Perbincangan pun akan lebih asyik untuk dilakukan.


"Tante Fanni mana, Kak?" tanya Jane yang sudah mengenal mereka berdua.


"Ada di rumah, disimpen sama om galak," jawab Mita sekenanya.


Jelita tergelak. "Dasar si om galak. Tapi, kok dia begitu banget ya sama Tante Fanni?" tanyanya.


"Begitu gimana, maksud loe?"


"Romantis, manis, lemah lembut, bucin deh pokoknya."


"Cinta, Lit. Cowok itu kalau udah cinta ya begitu. Nantu kalau kalian dapet orang yang beneran sayang, gue jamin juga begitu."


Jane cukup penasaran. "Kak Mita sendiri gimana, suaminya?"


"Hmm ... kagak usah tanya deh. Namanya juga polisi, sibuk."


"Berarti enggak sayang kali," timpal Jelita.


"Sayanglah, kalau kagak sayang, kagak bakalan punya anak."


"Oke, oke."


Perbincangan berlanjut mengenai salon, fashion, dan juga makanan. Mereka bahkan berencana untuk jalan bersama. Tiga orang ini, sebenarnya memiliki selera fashion yang sama, sehingga sangat cocok untuk berbincang bersama.


Setelah merasa cukup lama dalam berbincang, akhirnya Jelita dan Jane pamit undur diri kepada Mita. Mau tidak mau, Mita melepaskan mereka berdua. Tidak lupa mereka berdua mampir membeli makanan yang diingan oleh Jane. Setelah itu, baru kembali mencari keberadaan mobil.


Setelah berhasil menemukan kendaraan roda empat itu, keduanya masuk ke dalam. Jelita mulai melaju mobilnya untuk meninggalkan tempat ini.


****


Seseorang tampak berdiri di depan pintu gerbang istana milik Nur Imran. Hal itu menghadang laju mobil yang Jelita kendarai. Orang itu seperti orang gila. Penampilannya sangat berantakan dan kotor sekali. Tidak ada petugas keamanan yang mengusir orang itu, padahal kawasan perumahan elit. Ia rasa, orang itu menyusup diam-diam.


"Ih, takut, Kak. Kok di depan rumah kita sih?" tanya Jane kepada Jelita meski sama-sama tidak mengetahui jawabannya.


"Enggak tahu, lagian security pada ke mana sih?" ujar Jelita.


"Istirahat kali, Kak."


"Kan, gantian, Dek. Kita gimana bisa masuk coba?"


"Ya, salah satu dari kita harus turun dan usir dia."


"Yang bener aja."


"Tapi aku takut, Kak."


"Sama-sama aja yuk."


Meski awalnya merasa enggan, mereka berdua tetap turun untuk mengusir orang gila tersebut. Tentu saja dengan sejumlah rasa takut yang ditekan agar tidak mencuat keluar.


Tampilan orang itu benar-benar sudah tidak beraturan. Ketika diamati lagi, tampaknya seorang wanita. Rambutnya panjang tetapi sudah menjadi gimbal. Bajunya compang-camping, tetapi ada tulisan sebuah brand terkenal di bagian belakang. Itu yang membuat Jelita merasa heran.


"Dek, kok bajunya merknya bagus? Meskipun udah terkoyak," ujar Jelita pelan. Namun tidak ada jawaban apa pun dari Jean.


Jelita menatap ke arah Jane. Gadis itu menitikkan air mata yang entah untuk apa. Rahangnya menganga seakan tidak percaya. Jelita semakin bingung dibuatnya, mengapa Jane berlaku seperti itu? Hingga akhirnya, air mata Jane mengucur semakin deras.


"Hei, kamu kenapa?" tanya Jelita dengan nada masih berbisik, karen takut jika orang gila itujl justru mengamuk.


"Mama," jawab Jane tanpa diduga-duga.


Dahi Jelita mengernyit. "Apa?"


"Itu mama, itu mama."


"M-maksud kamu d-dia?"


"Mamaaa!" Jane berlari begitu saja. Hatinya hancur berkeping-keping ketika menyadari sang ibunda telah menjadi orang gila. Gadis itu benar-benar tidak peduli lagi. Ia membuang rasa takutnya. Ia memeluk tubuh Riris yang sudah rusak, kurus dan tidak terawat. Benar-benar kotor sekali.


"Mama, ini aku, Ma. Mama sadar, Ma. Ini Jane, Ma, huuu. Mama." Jane berusaha menyadarkan sang ibunda, tetapi yang ia dapatkan malah amukan dan jeritan. Ia tetap berusaha keras untuk itu dan tetap memeluk tubuh Riris.


"Siapa kamu?! Kamu siapa?! Kembalikan uangku! Siapa kamu?! Kamu siapa?! Jangan, jangan, jangan, jangan, jangan usir aku. Jangan, uang aku huuu. Aaaaaaaaaa!" ronta Riris.


Riris begitu histeris layaknya orang gila kebanyakan. Ia tidak mengenali anaknya sama sekali. Kali ini, akal sehatnya sudah benar-benar hilang. Dulu, ia begitu tamak akan jabatan dan posisi di keluarga Nur Imran, ia mengabaikan rasa kemanusiaan. Keserakahannya yang berlebihan akhirnya menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Itulah mengapa manusia tidak boleh berlebihan dalam segala sesuatu, jika sudah kehilangan, sudah pasti menjadi stress dan gila, bahkan ada yang sampai membunuh dirinya sendiri.


Sementara itu, kaki Jelita seolah terpaku. Bibirnya menganga lebar. Apa benar orang gila itu adalah mantan ibu tirinya yang merupakan ibu kandung dari adiknya? Ia berusaha menyadarkan dirinya. Setelah itu, ia merogoh ponsel dari dalam tasnya. Ia melakukan panggilan keluar kepada sang ayahanda.


"Pa, ada Riris di sini," ujar Jelita kepada sang ayahanda.


Tidak ada jawaban dari Nur Imran dari sana. Pengusaha besar itu segera bergegas, ketika mendengar nama Riris. Ia melaju cepat mobilnya dengan tangannya sendiri. Ia khawatir jika Riris berani menganggu putri-putrinya lagi. Setelah selama ini, mengapa wanita itu muncul kembali.


Betapa terkejutnya Nur Imran dengan keadaan di depan rumahnya. Banyak warga sekitar yang berhenti menyaksikan. Salah satu tetangganya menahan gerak Jane yang hendak memeluk Riris lagi. Sedangkan Riris, ditahan oleh para security dengan tangan yang diikat ke belakang.


"Apa yang terjadi, Lita?" tanya Nur Imran kepada anaknya.


"Tante Riris menyusup ke sini, Pa. Dia udah kena penyakit itu, dan sekarang sedang menunggu petugas rumah sakit jiwa. Jane syok banget, Pa, kasihan dia," jawab Jelita.


Nur Imran mengembuskan napasnya dengan kasar. "Bawa adik kamu masuk, biar Papa yang urus."


"Baik, Pa."


Jelita meminta bantuan para pelayannya untuk membawa Jane masuk. Jika saja, Riris dalam keadaan waras, ia pasti akan membiarkannya bertemu sang ibunda. Tangisan Jane terdengar begitu memilukan. Bagaimana tidak, ibu yang selalu ia tunggu, kini sudah seperti itu.


"Jalani karma ini, Riris," ujar Nur Imran di hadapan Riris, sebelum akhirnya wanita itu dibawa masuk ke dalam mobil khusus dari rumah sakit jiwa.


Extra Part--END

__ADS_1


Makasihh semuaaaaaaaaaaa. Sampai jumpa lagih


__ADS_2