
Kubuka perlahan pintu kamarku. Aku mendapati punggung suamiku. Ia menghadap ke arah luar melalui jendela kamar kami seperti yang aku lakukan beberapa saat yang lalu. Canggung, itulah rasa yang sedang didera oleh hatiku. Seharusnya aku tidak melarikan diri begitu saja. Namun perasaan kesal lebih mendominasi diriku daripada berpikir secara sehat. Kini Mas Arlan pasti sangat khawatir. Tampaknya pun, ia tidak mencariku ke rumah orang tuaku.
Kuberanikan diri untuk masuk semakin dalam kamar ini. Pelan sekali langkahku, bahkan aku sampai menelan salivaku karena takut sekaligus canggung. Aku menduga, ketika Mas Arlan berbalik badan, pasti ia akan memarahiku. Bisa saja, sekarang ia sudah mengetahui kedatanganku. Mana ada ditengah kesunyian tempat ini, orang tidak menyadari ketika pintu terbuka.
Benar saja, Mas Arlan berdeham tiba-tiba. Ia pun berkata, "dari mana kamu?"
Glup! Lagi-lagi aku hanya bisa menelan salivaku. Langkahku terhenti dan mematung di satu titik tempat ini. Kudapati Mas Arlan tampak berbalik badan, hal itu membuat tubuhku tiba-tiba bergetar. Baru kali ini, aku kabur darinya pada saat bertengkar. Biasanya aku hanya tidur tanpa keluar rumah sekalipun. Nah, perlahan ia sampai dihadapanku. Aku menundukkan wajahku seketika. Bingung, itulah perasaan hati yang menggantikan rasa canggung.
Tak lama setelah Mas Arlan terdiam, kini tangannya mengangkat kepalaku perlahan. Aku terpejam meski wajahnya pasti sudah bisa aku lihat. "Dek?" Ia menyebut namaku dengan panggilan kesayangannya itu.
"...." Aku masih diam sembari terpejam semakin erat di kelopak mataku.
Mas Arlan terdengar sedang menghela napas dalam lalu ia hembuskan kembali. "Udah ashar-an, Dek?"
Mendengar pertanyaan itu, aku membuka mata seketika. Kuanggukkan kepalaku dengan gerak kaku. "U-udah, Mas," jawabku.
"Ya udah, mandi dulu. Bi Onah udah siapin air hangat buat kamu. Nggak baik kalau mandinya kemaleman buat ibu hamil." Mas Arlan menangkup dan mengusap wajahku dengan halus menggunakan kedua telapak tangannya. Bahkan, ia memberikan kecupan manis di keningku seketika itu juga.
Tentu saja, aku terbengong-bengong keheranan. Muncul pertanyaan dari dalam benakku, mengapa ia tidak memarahiku? Ataukah ia sedang menahan emosinya untuk nanti? Ah, lupakan! Mungkin Mas Arlan memang tidak ingin membebani diriku yang tengah mengandung anak keduanya ini.
"Mas, aku mau bicara," ujarku sembari menggenggam telapak tangan Mas Arlan yang sudah diturunkan dari wajahku.
Mas Arlan tampak menelan saliva, dengan bukti gerak tenggorokannya yang sedang naik turun. "Mandi dulu, Dek. Udah sore," jawabnya. Ia berusaha menghindari pembahasan mengenai masalah tadi.
"Enggak, aku butuh sekarang."
"Soal Nia? Jangan, Dek. Nanti kita bertengkar lagi, kamu pergi secara tiba-tiba."
"Ma-maaf, aku cuma mau nenangin diri dulu kok."
"Kamu pasti paham kekhawatiran Mas kayak gimana 'kan, Dek? Kamu hamil, marah, dam harus mengemban semua beban sakit hati sendirian. Mas nggak mau sampai kamu kenapa-napa, Sayang."
Aku kembali menundukkan kepalaku. Dugaanku memang benar. Lagipula mana ada suami yang membiarkan istrinya keluyuran sendiri, terlebih saat hamil seperti ini. Kulangkahkan kakiku untuk menghampiri ranjang. Sesampainya disana, aku mengambil posisi duduk lantaran kakiku sudah mulai pegal.
Tak hanya diam setelah mengatakan itu semua, Mas Arlanpun datang menghampiriku lagi. Ia duduk di sebelahku sembari menarik kepalaku supaya tersandar di badannya. "Maaf, Dek. Mas masih ngasih beban kamu sampai kamu semarah itu. Tapi ... jangan kabur-kaburan lagi. Mending kalau kamu sehat, kamu udah berbadan dua. Mas nggak tahu kalau sampai kamu kenapa-napa."
Aku menggenggam tangan Mas Arlan. "Makasih, Mas. Kamu udah khawatir sama aku dan anak kita. Aku juga manusia yang kadang habis kesabarannya."
"Hmm ... iya, Dek. Mas tahu kok. Nanti malem, kita batalin rencananya aja."
"Nggak! Utamain Selli. Beri dia kesempatan untuk bersama ibu kandungnya."
"Dek?"
"Nurut aku untuk kali ini, Mas. Kamu rencana mau kemana?"
Mas Arlan mengernyitkan dahinya. Bahkan, mengangkat kepalaku seketika. "Kenapa kamu malah tanya soal itu dan nggak mau usaha batalin rencana itu, Dek?!"
"Tenang, woles! Jangan ngegas. Nanti aku kabur lagi."
"Y-ya jangan. Tapi 'kan kamu tahu, Dek. Mas nggak mau."
"Tolong kali ini. Aku nggak bakalan salah paham sama kamu lagi. Aku janji kok. Demi Selli, demi anak kita, Mas."
Tersirat sebuah keraguan dari wajah Mas Arlan, antara mau dan tidak mau. Namun aku membutuhkan hal ini disetujui, supata Mita bisa menggelar aksinya. Meski aku tidak tahu rencana apa yang akan ia pakai nanti. Menurutku tidak ada salahnya selama itu untuk Nia. Why? Aku jahat? Kata sebagain orang tidak masalah selama masih dalam batas kewajaran. Bahkan kata Mita sendiri, aku tidak boleh terlalu lembek seperti ini.
Kutilik waktu pada jam dinding yang terpasang didalam kamar ini. Sudah pukul empat sore lebih lima belas menit, waktu untuk istirahat akan semakin sedikit jika Mas Arlan tidak kunjung memutuskan. Akhirnya aku berupaya untuk mendesaknya dengan mencubit pipinya.
"Ya, Mas? Nanti kalian mau kemana?" tanyaku. Sungguh, aku tidak pandai dalam hal seperti ini. Entahlah, Mas Arlan menyadari sesuatu atau tidak. "A-aku nggak mau kalau kita dibenci sama Selli gara-gara Nia. A-aku yakin kok, suatu saat Selli bisa menilai sendiri gimana sifat ibunya. Tapi, bukan sekarang. Selli masih terlalu kecil. Berilah dia kesempatan, Mas."
Mas Arlan menghela napasnya dan mengembuskannya kembali. Ia mendekatkan dirinya lagi kepadaku. Kemudian, merangkul pinggangku yang penuh akan tumpukan lemak. "Empuk, Dek. Favorite ini," ujarnya sembari menekan pinggangku bersama senyumannya.
__ADS_1
"Mas, aku serius . Jawab!"
"Hmm ... biar agak cair dikit sih. Mas kalau habis berantem sama kamu, jadinya rindu."
"Ada-ada aja. Heran! Jadi, gimana?"
"Kenapa sih, nanyain mulu?"
Deg! Benar saja, pasti ia akan menyadari sesuatu. Sepertinya aku salah langkah karena terus mendesaknya. Tentu saja, aku salah tingkah dibuatnya. Aku menggigir bibir bawahku, sedangkan otakku sedang berputar mencari alasan.
"Hei? Kok diem sih, Dek? Iya, iya, Mas turutin. Tapi ... kamu jangan marah ya nanti. Jangan cemburu, jangan kesel, Mas bakalan selalu kabarin kamu. Mungkin nanti ke mall yang biasa kita kunjungi. Selli suka main disitu."
Ternyata Mas Arlan tidak menanyakan alasan dibalik desakanku lebih lanjut. Aku mengucapkan syukur dalam hati. Aku tersenyum dan berlaku manja terhadapnya. "Iya, Mas. Aku janji dan aku percaya sama kamu kok. Emm ... kamu mau berangkat jam berapa?"
"Nggak tahu, habis maghrib mungkin. Jujur, Mas nggak mau ngelakuin ini. Tapi, Selli dan kamu malah mau. Kamu lagi ngetes kesetiaan suami kamu ya, Dek?"
Aku mengangguk pelan. "Iya, aku masih pengen tahu se-berapa cintanya kamu sama aku. Apakah kamu nggak akan tergoda sama masa lalu dan lebih cantik dari aku."
"Percayalah, Dek. Mas cuma sayang dan cinta sama kamu sebagai seorang pendamping hidup. Mas bukan tipikal om-om hidung belang. Suer! Serius! Sumpah!"
"Hmm ... Alhamdulillah kalau gitu."
"Ya udah mandi sana, Dek. Udah sore lho."
"Nggak mau, aku mau tidur dulu. Nanti kalau mau maghrib bangunin ya. Eits! Jangan ceramah, aku mau tidur bentaran. Aku capek."
Mas Arlan yang tadinya ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba berhenti karena ucapanku. Ia hanya bergeleng-geleng kepala, sedangkan diriku malah tersenyum-senyum saja. Kemudian, aku naik ke atas ranjang dan mengambil posisi tidur yang cukup nyaman. Aku harus menabung tenaga untuk nanti malam. Oh, untuk makan, aku sudah makan siang sebelum berangkat ke mall beberapa saat yang lalu.
****
Maghrib telah tiba, kumandang adzan terdengar merdu di telingaku. Aku sudah terbangun dari tidurku, sekaligus sudah bebersih diri. Mungkin hanya satu jam waktu yang aku gunakan untuk beristirahat. Soal Mita, aku telah mengirimkan alamat mall, plat mobil suamiku dan juga waktu keberangkatan mereka nanti.
Kami telah berkumpul bersama untuk menunaikan ibadah maghrih. Dan jujur, jantungku berdebar ketika membayangkan aksiku dan Mita nanti. Berharap tidak ada sesuatu yang buruk kepadaku maupun anak didalam kandunganku. Lupakan soal itu terlebih dahulu, aku harus beribadah.
"Selli pake baju dari Mama ya?"
"Yang mana, Ma? Selli belum buka."
"Tuh, udah Mama taruh di meja belajar kamu."
"Iya, Ma. Selli mau lihat dulu."
Aku mengambilkan pakaian yang masig terkemas rapi didalam paper bag itu. Kemudian, aku menunjukkannya kepada Selli. Ia tersenyum, tampaknya merasa tertarik dengan hadiah dariku. Namun, aku kembali berpikir. Tidak! Ini bukan hal yang tepat. Aku tidak boleh memanfaatkan Selli untuk menjatuhkan Nia.
"Pake baju yang hangat aja, Sayang. Ini terlalu ribet buat jalan-jalan."
"Tapi bagus kok, Ma."
"Iya, nanti buat pas acara pesta aja ya, Sayang."
"Iya udah, Mama Fanni. Selli nurut aja."
"Gadis pintar."
Kutarik keputusanku tentang pakaian itu, meski tadi aku berencana ingin membuat Nia iri karena Selli menggunakan hadiah dariku. Apalagi Selli adalah tipikal gadis yang banyak bicara, ia pasti akan menceritakannya. Namun, kali ini aku merasa itu bukanlah hal yang tepat. Secara tidak langsung aku akan menggunakan Selli untuk mencapai tujuanku, bukan? Aku tidak ingin sejahat itu.
Kemudian, sebuah sweater dan celana jeans sesuai ukuran putriku ini, terbalut di tubuhnya. Imut dan tentu saja cantik. Ia bermata agat sipit seperti Mas Arlan. Yah, aku akui ada kemiripan dengan wajah Nia. Setelah selesai mendandaninya, aku mengajaknya keluar demi menemui sang ayah dan ibu kandungnya. Aku rasa, Nia sudah datang.
Kami berjalan bergandengan untuk mencapai lantai bawah. Satu persatu anak tangga kami tapaki beriringan dengan debaran jantungku yang tidak karuan. Sesekali kuambil napas dalam supaya lebih tenang. Aku yakin dan percaya bahwa ini adalah keputusan yang tepat. Tinggal nanti menyaksikan apa yang direncanakan oleh Mita.
Bismillah, maafin aku kalau aku jahat Ya Allah.
__ADS_1
Benar saja, pintu utama telah terbuka. Ada Mas Arlan dan Nia disana. Aku menahan Selli yang hendak berlari menghampiri sang ibu dan memintanya untuk diam terlebih dahulu. Selli pun bingung, namun aku membohonginya untuk membuat kejutan kepada mereka. Kami berdua sembunyi di balik daun pintu yang tertutup.
"Jangan bangga, Nia. Aku terpaksa melakukan ini. Kalau bukan untuk anak, aku pasti tidak akan mau. Terlebih istriku sangat baik, tentu saja dia memikirkan Selli daripada egonya sendiri. Bisa disimpulkan, bukan? Fanni jauh lebih baik daripada kamu." Ucapan Mas Arlan berkata demikian dan sampai di telingaku. Aku tertegun sekaligus haru dibuatnya. Ia membelaku, ia memujiku dihadapan Nia. Aku benar-benar harus mempercayainya.
"Cihh! Aku tidak peduli, Arlan. Yang pasti aku ingin bersama Selli. Sekalipun kamu tidak ikut, juga bukan masalah bagiku," jawab Nia.
"Tapi masalah bagi kami. Karna kami adalah orang tua Selli yang pantas untuk dia miliki. Bukan kamu yang hanya ingin memanfaatkan dia saja."
"Tahu apa kamu?! Jangan bicara sembarangan kamu, Arlan! Pers*tan dengan ucapanmu. Aku ingin rencana jalan ini tetap dilanjutkan terserah jika kamu tidak mau! Aku akan membawa Selli!"
Entah apa respon Mas Arlan sekarang, tidak ada balasan ucapan lagi. Sedangkan Selli malah menggenggam erat tanganku. Astaga! Aku melupakan putriku. Seharusnya ia tidak mendengarkan ucapan tegas itu. Pasti akan menorehkan luka di hatinya.
"Mama Fanni, kok Mama Nia bentak-bentak ke Papa?" tanyanya.
"Emm ... oh, i-itu. U-udah jangan dengerin ya, Sayang. Udah buka pintu terus bilang ke Papa kalau kamu udah siap," jawabku.
"Tapi, Ma. Kalau Mama Nia masih marah gimana?"
"Terus Selli maunya gimana?"
"Emm ... iya deh, Ma. Selli mau bilang ke Papa kalau udah siap."
"Hmm ... ya udah, berangkat sekarang, Sayang. Keburu malem."
Selli menarik diriku supaya lebih menunduk. Aku menurutinya. Aku pikir ia akan melakukan apa, ternyata untuk mengecup pipiku. "Selli sayang sama Mama Fanni. Tungguin Selli dan Papa ya, Ma. Nanti Selli beliin oleh-oleh."
Aku tersenyum dan mengangguk pelan. Kemudian, kubuka pintu dengan lebar. Nia dan Mas Arlan menatap kami. Aku menghampiri suamiku dan memeluk manja tubuhnya. "Hati-hati ya, Mas. Manjain Selli malem ini. Emm ... kamu nggak ganti baju? Kaos sama kolor panjang doang? Yakin?" ujarku.
Mas Arlan memberikan kecupan manis di keningku. Ia menjawabku, "yakin dong, Dek. Selli nggak akan malu kok hehe. Lagian bukan sama kamu keluarnya. Buat apa rapih-rapih. Emm ... Papa ganteng kan, Sell?"
Selli mengangguk pelan. "Papanya Selli selalu ganteng."
"Ck! Udah kelar? Udah malam nih, berangkat nggak? Aku bawa Selli aja kalau begitu," celetuk Nia. Aku rasa ia sedang kesal karena melihat kehangatan kami. Masa bodoh!
Sekali lagi, Mas Arlan mengecup pipiku dan memintaku untuk menunggu kepulangannya. Ia bahkan tidak mengizinkan Nia untuk menumpang di mobil miliknya. "Mohon saudari Nia, pakai mobil sendiri. Aku takut banyak virus yang menempel. Dan Selli harus bersama saya."
Nia pun menganga, terkejut itu sudah pasti. Dengan begitu mereka berangkat dengan mobil masing-masing. Segini saja hatiku sudah merasa senang. Entah, ketika Mita melaksanakan rencananya nanti. Jahatkah diriku? Biarlah, untuk hal ini sepertinya bisa dikatakan suatu kewajaran.
Setelah siap, mereka berangkat. Sedangkan aku segera membuka ponsel yang sejak tadi aku bawa. Aku mencari keberadaan nomor ponsel Mita dan memanggilnya.
"Mit, mereka berangkat," ujarku melalui panggilan suara ini setelah Mita mengangkat telepon dariku.
"Yo'i, gue tahu. Gue lihat, gue samperin loe sekarang. Kalau yakin mau ikut."
"Iya, gue yakin."
"Oke, pelan-pelan aja. Kita udah dapet tempat mereka pergi. Siap-siap sewajarnya, kagak usah dandan kelamaan."
"Siap, gue ambil tas dulu."
"Hati-hati, Fann. Inget kandungan loe. Gue matiin telponnya."
Panggilan selesai, aku bergegas masuk ke dalam kamar. Dengan langkah yang wajar karena masih memikirkan anak didalam kandunganku. Sesampainya di kamar, aku mengambil tasku dan keluar lagi untuk menemui Mita tanpa pamit kepada Bi Onah.
Ketika melihat satu mobil yang terparkir didepan gerbang rumah ini, aku menghampirinya.
"Mbak Fanni, mau kemana?" tanya Pak Edi tiba-tiba.
"Keluar, cari cemilan, Pak. Bentaran sama temen kok, aku udah bilang sama Mas Arlan," jawabku berbohong.
Tanpa mendengar jawaban dari beliau lagi, aku melanjutkan langkahku. Setelah itu, kubuka pintu mobil milik Mita dan masuk ke dalamnya. Tanpa pikir panjang, Mita segera melaju mobilnya.
__ADS_1
Bersambung ...
Like+komen please.