
*DISARANKAN MEMBACA SEMBARI MENDENGAR LAGU MELOW*
"Disaat aku mulai membaik, mengapa selalu ada masalah yang menghempaskan diriku lagi?"
_____________________________________________
****
"Oke, kita sambung besok lagi," ujar Celvin. "Kita pulang dulu, Fanni."
Tanganku masih sibuk membereskan beberapa peralatan kerja dan berkas yang berserakan di meja. "Iya, Vin," jawabku.
"Emm... Fann, aku duluan ya? Ada sedikit urusan."
"Silahkan, Pak Celvin. Hati-hati dijalan."
"Terima kasih ya, kamu juga."
Aku tersenyum kepada atasanku tersebut. Setelah ia berlalu, aku menjadi sendirian didalam ruangan ini. Meski sudah letih, namun aku enggan untuk pulang ke rumah. Apalagi, jika bertemu Mas Arlan. Rasa sakit hati dan kecewa belum juga menghilang. Disaat seperti ini, aku selalu saja ingin sendiri. Lantas, aku harus kemana? Bagaimana kalau ibuku mendesakku untuk segera pulang? Apa aku harus ke apartemen dulu?
Setelah dipikir-pikir, mungkin itu adalah pilihan yang tepat. Setidaknya, aku memiliki alasan untuk bebersih tempat itu, seandainya ibuku memintaku pulang. Miris sekali, aku harus seperti ini. Menghindari calon suamiku sendiri. Semua kejadian tak terduga tadi siang benar-benar menghempaskan diriku secara tiba-tiba, dan tanpa rasa iba sedikitpun. Lalu, apa Mas Arlan sudah berbaikan dengan Nia? Bagaimana jawabannya untuk mantan istrinya tersebut? Aku rasa, Mas Arlan tengah bimbang. Karena, mau bagaimanapun mereka memiliki seorang anak kecil yang sangat membutuhkan figur komplit kedua orangtua.
Yasudahlah! Apapun itu, semoga yang terbaik untuk kami semua. Terutama untuk Selli yang sudah kuanggap sebagai anak sendiri. Lagipula, aku sudah terbiasa menerima perlakuan seperti ini. Mungkin, kali inipun aku lebih tahan banting. Yah, aku sudah cukup lelah untuk berjuang. Ada batasan dalam diriku, dimana aku lebih memilih menempuh jalan tawakal. Dalam artian, aku sudah memasrahkan segala sesuatu kepada Tuhan.
Denting jam yang berjalan, kini menunjukkan pukul 16.30 WIB. Kalau, jika tidak segera keluar dari ruangan ini, pasti akan semakin petang dan seram. Oleh karena itu, aku segera mengambil langkah untuk meninggalkan tempat ini. Jika, biasanya Celvin yang mengunci, kini giliranku. Karena, aku pulang lebih lama daripada dirinya. Keamanan ruang kerja seorang CEO memang harus dijaga dengan ketat. Semua dilakukan demi menjaga sebuah data rahasia didalamnya.
Kemudian, aku melangkah lebih jauh, menyusuri lantai-lantai gedung ini. Dalam langkahku, benakku masih terbayang dengan raut harap dari Nia kala itu. Aku tidak habis pikir dengan wanita itu, apa yang membuatnya ingin kembali ke pelukan Mas Arlan secara tiba-tiba? Apakah demi Selli dengan kesungguhannya?
Ah... perasaanku semakin kacau balau. Mau bagaimanapun, aku sudah menjatuhkan hatiku untuk Mas Arlan. Meski, sudah aku katakan bahwa aku bisa saja merelakannya. Pasti, tetap ada proses untuk melupakannya. Terlebih, hampir setiap hari aku bersama dirinya. Mengingat wajahnya yang selalu tersenyum manis kepadaku. Mengingat perjuangannya untuk mendapat restu dari ibuku. Meyakinkanku bahwa aku menyukainya bukan Celvin. Menjelaskan segala sesuatu, jika aku sedang salah paham padanya.
Tetesan air mata kembali mengucur deras di pipiku. Bahkan, langkahku terhenti seketika. Aku tidak cukup kuat untuk berdiri dalam beberapa saat, sampai akhirnya menjatuhkan diri diatas lantai gedung ini. Suara sesenggukan yang terdengar tertahan, sungguh memilukan. Padahal, aku sudah mengatakan akan memilih jalan tawakal. Dan nyatanya, aku belum cukup sanggup untuk melakukan itu. Rasa khawatir berlebihan, kini datang kembali. Aku takut rencana pernikahan kami gagal. Bagaimana, perasaan orangtua dan keluargaku nanti? Yang lebih aku takutkan adalah emosi Kak Pandhu. Mengingat ia adalah orang yang tidak akan tinggal diam begitu saja, saat salah satu anggota keluarganya dipermalukan.
"Kenapa sih, gue harus kayak gini? Kan gue udah bilang, akan siap menghadapi segala kemungkinan. Tapi, kenapa rasanya sesakit ini juga?" Aku bertanya kepada diriku sendiri, diiringi tangisan yang enggan berhenti. Bahkan, kini napasku tersenggal-senggal. Lantas, aku harus bagaimana?
"Hei!" seru seseorang kepadaku. Dengan segera kuusap air mataku. Aku kalang kabut dan juga malu. Aku pikir, sudah tidak ada orang yang berada di kantor.
Karena penasaran, akhirnya aku mengangkat kepalaku dan menatap seseorang tersebut. "Mita?" Aku terheran-heran. "Oh... maaf, gue lupa soal janji tadi."
"Pantes, ditungguin daritadi nggak nongol-nongol. Bangun gih."
Mita? Nungguin? Abis, makan apa dia?
Tanpa pikir panjang lagi, akhirnya aku berusaha berdiri. Kemudian, Mita mengajakku berjalan lebih cepat. Suatu hal yang sangat-sangat langka. Manusia yang selalu kusebut dengan istilah "Setan Cantik" kini berjalan bersamaku tanpa perdebatan seperti biasanya.
Tanpa bicara sedikitpun, kami memasuki lift untuk turun. Lagi-lagi, didalam kotak penghantar ini, kami saling diam. Perasaan sakitku terganti dengan rasa canggung untuk sementara waktu. Raut wajah Mita masih terlihat sendu. Mungkin, kami adalah dua insan yang sedang ditakdirkan bersedih hati.
Lambat laun, kami telah sampai di lantai dasar. Kami masih berjalan bersama menuju tempat parkir.
"Mobil loe dimana, Fann?" tanya Mita.
"Ehh?" ujarku. "Gue lupa, gue nggak bawa mobil."
"Yaudah nebeng gue aja. Kita ke cafe."
"Haah?"
"Katanya mau nemenin gue, kan?"
"I-iya sih."
Ini sih, namanya luar biasa tak terduga. Kayaknya Mita emang salah makan sesuatu deh.
__ADS_1
Dengan malu-malu, aku bersedia naik ke dalam mobil Mita. Setelah siap, Mita langsung memacu mobilnya untuk meninggalkan gedung kantor ini. Kami melewati likukan jalan aspal yang memanjang. Suasana sore sudah sangat padat dan ramai. Sehingga, kemacetan terjadi dibeberapa titik jalan.
Hening sekali, Mita dan aku tidak bersuara sekali saja. Tentunya dengan ketegangan yang membelenggu didalam jiwa. Ironisnya, aku masih tidak bisa mempercayai apa yang telah terjadi saat ini. Seorang Fanni bisa menumpang di mobil sang musuh bebuyutan. Suatu hal yang bahkan sama sekali tidak terpikirkan. Karena hubungan buruk itu, aku sampai berpikiran, kalau kami memang tidak akan pernah berbaikan untuk selamanya. Namun, lagi-lagi takdir Tuhan berkata lain.
Wanita cantik yang berada disampingku, memutar perlahan-lahan stir mobil. Ia mengarahkan kendaraan ini untuk masuk ke dalam area sebuah cafe. Lalu, memarkir mobilnya dengan tenang. Kami beranjak turun kemudian masuk. Sang pelayang datang, kemudian kami memesan. Sesuai dengan kebiasaanku selama ini, aku memesan coffe latte demi mencapai ketenangan.
"Jadi," ujar Mita. "Gu-gue ma-mau, emm..."
"Apa?" tanyaku.
"Ti-tidak jadi."
"Terus? Loe kenapa tadi siang?"
"Loe sendiri kenapa tadi jongkok melas gitu?"
"Lah? Kok malah nanya balik? Kan gue yang nemenin, Mit."
"Gue nanya doang, biasa aja!"
"Yah, terserah. Gue juga nemenin doang, soal urusan loe bukan urusan gue."
Mita terdiam setelah mendengar perkataanku. Namun, aku menangkap raut ragu-ragu di wajah cantiknya. Aku rasa, ia ingin mengatakan sesuatu kepadaku, tapi enggan dan malu. Yah, seorang Mita memang memiliki harga diri yang tinggi. Pasti akan sangat sulit baginya. Tidak masalah. Toh, aku hanya berjanji untuk menemaninya, bukan untuk mengetahui masalahnya. Lagipula, aku juga menjadi beruntung. Karena Mita, aku tidak terbelenggu rasa kecewa untuk sementara waktu.
Tak lama kemudian, seorang pelayan datang. Ia menyajikan dua minuman yang telah kami pesan. Kemudian, ia kembali setelah selesai. Sedangkan kami, mulai meneguk minuman tersebut. Aroma coffe latte yang khas menusuk, menyeruak ke dalam hidungku yang panjang. Rasanya pun bercampur antara manis dan pahit. Seperti halnya kehidupan ini, terkadang berada didalam zona nyaman, namun tak lantas membuat manusia selalu bahagia.
Dalam beberapa saat, aku maupun Mita masih saja saling diam. Sampai akhirnya, ia mulai membuka bibir cantiknya. "Ma-maaf...," ujarnya lirih sekali.
"Apa?" tanyaku.
"Nggak jadi."
"Apa sih? Maaf? Buat?"
"Tak masalah," jawabku.
"Pada akhirnya loe yang menang, iri dengki memang tidak pernah-"
"Tidak ada kalah dan menang. Karena gue nggak pernah berkompetisi sama loe, Mit."
"Gue heran sama loe, kenapa loe nggak pernah bales perbuatan gue? Bahkan, loe nggak pernah ngadu sama Kak Celvin."
"Karena nggak ada untungnya buat gue. Ngapain juga ngadu, gue nggak bisa bikin hancur hubungan kalian yang mungkin udah terjalin lama."
Bola mata Mita berkaca-kaca seketika. Sedangkan aku berdebar tidak menentu. Aku takut, jika ada perkataanku yang salah. Apalagi, sampai membuat orang lain menangis. Kutelan salivaku saat mendapati air mata wanita cantik ini semakin mengalir deras. Namun, aku tidak bisa berbuat apa-apa karena takut dan canggung.
Kuberikan waktu untuknya, tanpa bertanya apapun lagi. Aku pikir, aku adalah manusia paling menyedihkan di dunia ini. Nyatanya, wanita cantik dan kuat sepertinya bisa sepilu ini.
"Fann, asal loe tau. Gue benci sama loe, karna loe selalu menjadi perbincangan didalam keluarga Sanjaya," ujar Mita tiba-tiba. "Dan dulu, kalau Om Ruddy nggak punya sekretaris. Mungkin loe bakal diangkat, jadi Kak Celvin sekarang yang ngangkat loe."
Aku mengernyitkan dahiku, "Om Ruddy? Gue? Ah... masa' sih? Jadi, loe iri hati?" tanyaku bertubi-tubi.
"Iya, kalau diluar kantor, gue manggilnya Om dan Kak."
"Tapi kenapa? Loe kan juga pinter, mungkin rada malesan aja. Loe lebih cantik dan jauh lebih baik dibanding gue, Mit. Kenapa loe harus iri?"
Mita terdiam sebentar, lalu menjawabku, "Karna hidup gue selalu ditekan buat sempurna. Gue udah gagal memikat hati Kak Celvin, nyatanya dia cuman nganggep gue sebagai seorang adik. Setelah itu, bokap gue terus menekan agar gue dapet jabatan bagus di perusahan Sanjaya. Tapi, malah loe yang bukan siapa-siapa. Pada akhirnya, gue nggak punya siapa-siapa untuk bicara."
Rahangku terjatuh, bibirku menganga lebar. Seperti inikah jalan hidup seorang Mita? Aku mengatup kembali bibirku. Kupandangi wajah Mita yang semakin lesu. Kupikir, ia adalah manusia yang jahat sekali. Namun, yang namanya manusia pasti memiliki satu titik kebaikan. Dan aku rasa, ia sudah lelah menjalani semuanya. Betapa beruntungnya diriku, aku memiliki keluarga yang hangat dan selalu mendukungku.
Mita menangis lagi, "Gue... gue hampir dilecehkan, Fann," katanya.
__ADS_1
"Haah? Ma-maksud loe? Si-siapa?" tanyaku terkejut luar biasa.
"Gue dapet misi dari Kak Celvin, pertemuan dengan relasi pun terjadi. Tapi, gue nggak nyangka, si kolot itu kurang ajar."
"Celvin tau?"
Mita menggeleng, "Nggak, gue nggak mau dianggap gagal. Kalau gue gagal, apa yang bakalan bokap gue lakuin ke gue? Ngebuang gue? Karna gue anak yang nggak berguna. Gue bahkan nggak punya temen satupun, di otakku gue malah muncul nama loe. Gue bingung, gue harus berhasil. Tapi gue takut sama si kolot menjijikkan itu."
"Harusnya loe bilang sama Celvin, Mita."
"Nggak, gue mohon loe jangan bilang. Kalau gue gagal, gue nggal bisa naik jabatan. Gue takut sama bokap. Gue harus gimanaaa?"
Kuhela napasku dengan berat. Sepertinya Mita sudah diambang putus asa. Mungkin, selain diriku, ia tidak tahu harus kemana. Aku pun tak sampai hati untuk menertawakannya. Padahal, hal ini bisa menjadi hal yang lumrah untuk diriku membalas dendam kepadanya. Namun, aku juga manusia biasa yang memiliki hati. Terlebih saat ini, hatiku juga sedang meratap perih sama halnya dengan Mita, meski dalam konteks yang berbeda.
Kudekati dirinya, lalu kuusap lembut punggungnya. Mita menunduk sembari menangis. Kini, aku sudah tahu, alasan dibalik kebenciannya kepadaku. Yah, semoga saja setelah ini hubungan kami menjadi lebih baik dan setiap masalah terselesaikan dengan mudah.
****
Waktu berlalu, kini aku telah berada didepan rumah orangtuaku. Tentunya Mita yang mengantarkanku. Aku lega, karena ia bisa sedikit mengangkat beban hatinya setelah mencurahkan segalanya kepadaku. Ia pun tak segan lagi untuk mengucapkan terima kasih dan permintaan maaf berulang kali.
Aku pun melangkah mendekati pintu utama, setelah wanita cantik itu hilang dari pandangan mataku. Ah... mobil Mas Arlan sudah terparkir diam disisi kanan pekarangan rumah ini. Sampai aku terdiam sejenak karena ragu-ragu. Haruskah aku masuk? Tapi, rasa kecewa belum juga hilang. Lantas, aku harus bagaimana? Kontak mobilku pun berada didalam kamar. Sehingga aku tidak bisa kabur begitu saja.
Baiklah! Hadapi saja, jangan melarikan diri!
Kuberanikan diri untuk mengambil langkah menuju pintu utama. Setelah sampai disana, aku mengetuk pintu sebanyak tiga kali disertai salam islam. Tak butuh waktu lama, seseorang terdengar membuka pintu dari dalam.
"Hai Pa," sapaku kepada ayahku.
"Hai sayang, kok baru pulang?" tanya beliau.
"Ada sedikit urusan, Pa. Aku juga harus balik apartemen dulu, buat ambil beberapa berkas yang ketinggalan."
"Duh... istirahat dulu. Nanti malam Papa antar."
"Nggak, Pa. Ini darurat soalnya, Mama mana?"
"Mama pengajian sore, mungkin habis maghrib baru pulang, terus bahas pernikahan kamu. Noh, nak Arlan sudah nungguin kamu."
"Oh... oke, Dad."
Dengan langkah malas, aku masuk lebih dalam. Sesampainya di ruang tengah, aku mendapati Mas Arlan seorang diri. Aku rasa Kak Pandhu dan Kak Febi juga tidak ada. Lelaki itu menatapku, sontak saja aku memutar bola mataku dengan sinis. Aku meninggalkannya untuk menuju kamarku.
Setelah sampai di kamar, aku segera mencari keberadaan kontak mobilku. Setelah didapat, aku melangkah keluar lagi. Kulewati Mas Arlan kembali.
"Mau kemana, Dek?" tanyanya.
Aku diam seribu bahasa. Sampai ayahku merasa keheranan. Langkahku semakin cepat, sampai akhirnya aku mendapati mobilku. Tanpa pikir panjang lagi aku segera memacunya meninggalkan rumah ini. Sedangkan waktu semakin petang, lalu lalang kendaraan semakin sedikit. Kondisi jalanan pun terbuka lebar, sehingga lajuku semakin cepat.
Beberapa saat kemudian, aku telah sampai di apartemenku. Aku melangkah keatas seperti biasanya. Aku merebahkan diriku diatas ranjangku yang sudah beberapa hari ini, aku tinggalkan. Nyaman sekali, pikiranku pun terbentang luas disaat sendiri. Setidaknya, aku bisa lebih leluasa untuk berpikiran jernih.
Sialnya, hal mengejutkan menggangguku tiba-tiba. Aku rasa, Mas Arlan telah membuntutiku. Tidak mungkin ada orang lain yang ke tempat ini selain dirinya. Bel pintuku pun berbunyi berkali-kali, sampai aku jengah dan memutuskan untuk membukanya.
"Apa?!" tanyaku tegas.
Mas Arlan terkejut dengan kata sambutanku, "Maafin Mas, Dek," ujarnya.
"Pulanglah, Mas. Aku butuh waktu sendiri."
"Tapi, Mas pengen bicara. Penting!"
"Aku tidak mau dengar. Ji-jika demi Selli, aku rela."
__ADS_1
"...."
Bersambung...