
Dulu, banyak yang bertanya, kapan aku akan menikah. Kini, kapan aku memiliki seorang anak. Beberapa pertanyaan yang terkadang menjadi momok tersendiri bagi beberapa orang. Terlebih, untuk pengantin baru yang usia pernikahannya masih seumur jagung. Bahkan, pertanyaan tersebut bisa menjadi sebuah sumber sakit hati untuk seorang istri yang belum juga mengandung. Yah, itulah salah satu tradisi sepele yang masih tumbuh subur di negara ini.
Beberapa saat yang lalu, tiba-tiba saja tengkukku kaku. Aku mengira yang tidak-tidak, sampai nama Nia terngiang di kepalaku. Karena khawatir, aku sampai berlari, tunggang-langgang demi menghampiri Selli. Aku takut, Selli dibawa pergi. Bukan aku saja, Mas Arlan pun melakukan hal yang sama. Bodohnya kami, kami terlalu cepat dalam menyimpulkan sesuatu. Sehingga terjadi hal yang tidak terduga, yaitu mendapat timpukan cukup menyakitkan di kepala kami. Hal itu terjadi, karena tanpa sengaja kami meneriaki ibuku yang ternyata pemilik tas tersebut.
"Kalian ini lho, mentang-mentang udah menikah. Kok ya lupa, kalau masih punya orangtua!" omel ibuku. "Emangnya, Mama kalian ini dianggap apa sebenarnya? Baru datang udah dibentakin?"
"Maaf, Ma. Kirain nenek lampir yang dateng hehe," jawabku sampai membuat Mas Arlan cengengesan.
"Sembarangan kamu! Emm... jadi gimana? Udah berhasil belum?"
Aku dan Mas Arlan saling manatap, berpura-pura tidak mengerti. "Maksud Mama apa ya?" tanya Mas Arlan.
"Gimana? Udah ngasih calon cucu belum?" tanya ibuku.
"Ma, sebulan ini, baru kemarin lho malam pertamanya hehe."
Sontak saja aku terperanjat. Mas Arlan begitu gmblangnya berbicara seperti itu. Kucubit pinggangnya diam-diam, sampai ia terlonjak kaget dan mengaduh sakit. "Ngawur banget sih, Mas...!" bisikku kepadanya.
Ia terkekeh. Sedangkan ibuku menatap kami penuh rasa curiga. Sepertinya beliau merasa aneh dengan ucapan Mas Arlan tersebut. Yah, siapa sih yang tidak merasa aneh? Jika seorang suami istri baru mengalami malam yang indah diusia satu bulan pernikahan. Kesannya, sangatlah ambigu dan mengada-ada.
Netra hitam legam di mata ibuku yang dihiasi garis-garis keriput, menatap tajam. Seolah ada harapan yang ingin segera terkabulkan. Yang pasti keinginan hati ingin menimang cucu dari kami. Mengingat usia yang sudah semakin menua, hampir mencapai 67 tahun lamanya hidup di dunia ini. Tak cukup dari Kak Febi dan Kak Pandhu, karena aku dan Mas Arlan tetap anggota keluarga yang penting untuk beliau.
Desiran darahku seakan tersendat jika membahas tentang itu. Aku pun ingin memiliki seorang anak, apalagi usiaku juga sudah cukup dewasa dan pantas menjadi seorang ibu. Selama satu bulan ini, sebenarnya ibuku sering menanyakan hal ini. Entah melalui pesan atau telepon, karena kami juga jarang berkunjung. Keinginan yang membuatku risau kembali. Sebenarnya bukan tidak mau mengandung, hanya saja waktu yang belum memberikan kesempatan. Kesibukanku dan Mas Arlan masih sering datang. Tak jarang, kami pulang langsung tidur tanpa berbincang. Apalagi melakukan ritual khusus, bahkan tidak sempat.
Helaan napas yang ibuku terdengar oleh gendang telingaku. Aku rasa, beliau tengah membuang rasa gusar. Aku yakin ibuku paham akan kondisi kami, beliau berusaha tidak menambah beban pikiran. Sehingga, aku merasa bersalah atas semua itu. Lagi-lagi, aku belum bisa membahagiakan orangtuaku lagi.
"Maaf, Ma," ujar Mas Arlan. "Kami akan berusaha lebih keras lagi."
Ibuku menatap Mas Arlan sembari memberikan jawaban, "Sebenarnya Mama nggak mau ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian. Tapi, yang namanya orangtua pasti ingin cepat-cepat menimang seorang cucu. Arlan, Fanni?"
"Iya Ma," jawab kami bersamaan.
"Jangan terlalu berfokus pada pekerjaan saja. Rezeki manusia tidak akan kemana, rezeki anak pun ada sendiri. Sekali-kali, carilah waktu agar kalian bisa berkumpul. Terlebih, ada Selli. Apa kalian nggak kasian, kalau gadis kecil itu kurang perhatian?"
Aku dan Mas Arlan hanya diam. Mencoba tidak menyangkal, lantaran ucapan beliau memang benar adanya. Kami sibuk dengan pekerjaan masing-masing, bahkan melupakan sang putri kecil. Disisi lain, kami harus memikirkan tanggung jawab yang sedang melipat-gandakan pekerjaan. Tidak mungkin tiba-tiba keluar disaat-saat genting. Belum lagi perekonomian kami tidak terbilang tinggi. Harus membayar dua orang pembantu dan satu orang pengasuh.
Sebenarnya, bisa saja kami tidak menggunakan jasa pembantu. Namun, situasiku yang jarang di rumah, masih mengharuskan menahan mereka untuk bekerja di rumah ini. Belum lagi, Mas Arlan merasa tidak tega untuk memberhentikan mereka, terlebih pada Bi Onah yang sudah bertahun-tahun menjadi rewang dapurnya.
"Kalian juga harus memikirkan orangtua Nak Arlan. Apa nggak ingin, kalian memberikan cucu selama beliau masih sehat seperti sekarang?" tanya ibuku.
"A-aku sebentar lagi juga habis masa jabatannya kok, Ma. Tinggal beberapa bulan lagi, jadi kami bisa program kehamilan dengan tepat," jawabku.
"Sebenarnya Mama juga ingin kamu berhenti saja, sayang. Sebagai seorang wanita, kamu sudah membuang waktumu bertahun-tahun untuk bekerja dibawah naungan atasan. Tapi, kembali lagi, apa perekonomian kalian cukup untuk membina rumah tangga ini?"
Mas Arlan mengangguk mantap. Lantas ia menjawab pertanyaan ibuku, "Cukup Ma. Tapi, Fanni ingin menghabiskan sisa waktu jabatannya. Arlan udah pernah bilang, sebagai seorang suami, Arlan nggak ingin terlalu mengekang istri. Arlan takut kehilangan lagi."
Hening. Ibuku kini memilih diam. Tanpa persetujuan kami, beliau mengambil langkah. Aku menatap gerakan kaki ibuku. Sepertinya akan naik ke lantai dua dan menghampiri cucu tirinya. Tidak seperti biasanya yang penuh emosi meluap, kini beliau cukup tenang. Namun, mampu menorehkan beberapa kegusaran di hatiku.
Mas Arlan merengkuh kepalaku ke dalam pelukannya. Ia membelai lembut di rambutku. Tanpa kata, tanpa bicara. Hati kami dirundung kebimbangan akan keinginan orangtua. Padahal usia pernikahan masih sangat muda. Menurutku masih dalam batas wajar untuk kami belum memiliki calon bayi. Tentunya masih banyak kesempatan untuk berjuang lebih keras lagi.
"Bikin yuk," ajak Mas Arlan tiba-tiba.
Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya. Lantas memberikan jawabanku, "Masih sore, Mas. Kita bahkan belum mandi."
__ADS_1
"Biar cepet jadi, sayang."
"Kamu kepikiran ya, Mas?"
"Pastilah Dek."
"Kamu udah pengen punya anak lagi?"
Mas Arlan menatapku ragu. "Sebenarnya Mas belum terlalu mikir kesitu. Maksudnya bukan nggak ingin. Cuma lebih ngikutin arus aja, kalau udah dikasih ya pasti bahagia. Kalau belum ya mau gimana lagi."
"Tapi kalau aku hamil sekarang. Pekerjaanku belum tuntas, Mas. Nggak mungkinkan, kalau aku hamil masih kerja dan lembur?"
"Iya Mas paham kok. Itungannya berapa bulan lagi sih kamu habis kontraknya?"
"Emm... se-sebenarnya masih satu tahun lebih beberapa bulan hehe."
"Oh... jadi dua tahun ya? Kenapa kamu ngomongnya setahun?"
"Yah, itu kan cuma uji coba kemampuan aja. Setahunnya lagi kayak otomatis gitu lho perpanjangannya."
Mas Arlan merengkuh kepalaku lagi. Kami masih duduk berdua diatas sofa dengan beberapa macam sembilu dalam hati. Entah, akan merencanakan bagaimana lagi. Jika dipikir-pikir, aku terlalu banyak menyulitkan Mas Arlan. Meski bukan materi, namun di hati.
Seandainya dulu, aku tidak menyepakati penawaran dari Celvin. Seandainya aku masih menjadi karyawan biasa. Mungkin tidak akan sesulit sekarang. Aku bisa keluar kapan saja, tanpa merasa tidak enak hati. Berada didalam keadaan seperti ini, benar-benar tidak membuatku nyaman. Aku tahu bahwa uang bukanlah segalanya, tapi hampir segalanya menggunakan uang. Jika saja uang penalti tidak sebanyak itupun, pasti aku berani keluar dari pekerjaanku.
Namun, dengan satu resiko lain yaitu rasa kecewa dari Celvin. Ia akan marah besar dan bahkan tidak ingin bertatap muka lagi denganku. Dalam kondisi perusahaan sekarang, tidak mungkin kubiarkan dirinya kewalahan sendiri. Meski bukan siapa-siapa bagiku, aku tetap khawatir Celvin putus asa kembali. Prosedur untuk keluar yang tepat adalah menunggu masa jabatan habis serta memberitahu dari jauh-jauh hari. Dengan begitu, Celvin bisa mencari pengganti diriku. Resikonya adalah aku harus menunda beberapa hal untuk hidupku sendiri. Begitulah kerasnya dunia kerja, lebih tepatnya bekerja di perusahaan besar.
"Dek?" panggil Mas Arlan.
"Iya Mas. Kenapa?" tanyaku.
"Kenapa?"
"Sebenarnya, Mas ada rada sedikit kewalahan. Mas boleh curhat nggak? Tapi, kamu perlu diam aja, nggak boleh melakukan apapun."
"Silahkan sayang. Aku akan dengarkan."
Berat sekali, seolah udara malam ini sangat menyesakkan hati Mas Arlan. Entah apa yang ingin ia bicarakan denganku. Tampaknya bukan hal biasa, karena beberapa kali ia menatapku sendu dan ragu. Sedangkan aku hanya bisa diam menunggu. Mencoba menguasai diri supaya tidak terlalu mendesak suamiku.
Sampai akhirnya, Mas Arlan mengenggam tanganku. Sebuah kecupan manis pun didaratkan di keningku. Jujur saja, ini membuatku bertambah gusar. Aku khawatir Mas Arlan menyimpan masalah yang besar. Sampai sulit, walau sekedar diucapkan.
"Gimana ya? Hehe," ujarnya kemudian. "Mas sebenarnya nggak mau bahas ini sama istri. Tapi yah, kamu juga berhak tau."
"Kenapa Mas? Jangan berbelit," ujarku.
"Emm... tabungan Mas sudah menipis Dek. Kamu inget kan, penggelapan dana waktu itu?"
"Oh iya, Mas."
"Yah, karna merugikan perusahaan pusat. Uangpun udah raib, akhirnya mau tidak mau Mas yang bertanggung jawab."
"Eh? Kenapa baru bilang sekarang?"
"Baru tadi terjadi transaksi, Dek. Walau sebenarnya bukan kewajiban Mas, tapi Mas kan ada di kantor sana. Dan... perusahaan keluarga kan masih banyak polemik. Mas nggak mau tambah masalah dan beban untuk keluarga lain aja. Akhirnya Mas mutusin buat ganti rugi."
__ADS_1
Betapa ibanya hatiku mendengar penjelasan suamiku. Laki-laki ini terlalu baik atau bodoh? Bahkan, ia tidak pernah meminta harta warisan apapun dari mendiang sang ayah. Tetap saja, ia berjuang mempertahankan perusahaan peninggalan sang ayah. Padahal, Mas Arlan bukan pemegang saham ataupun dewan direksi. Ia hanya seorang manager biasa dan hanya mengambil mobil dan rumah ini.
Karena haru, aku sampai menitikkan air mata saat menatap suamiku. Aku bangga sekaligus iba. Seharusnya ia cukup diam dan bekerja sebagai manager seperti biasanya. Toh, selama kami menikah, tidak ada satupun keluarganya yang datang berkunjung atau sekedar mengundang makan malam. Seolah, ia benar-benar dikucilkan. Atau mungkin memang benar begitu? Yah, pertikaian antar perusahaan terjadi akibat Nia yang dulu merupakan istrinya. Wajar saja, jika ada yang kecewa terhadap Mas Arlan.
Kupeluk tubuh suamiku. Lantas berkata, "Nggak masalah Mas. Kalau itu yang terbaik, lagipula niat kamu juga bagus kok."
"Maaf ya, Dek? Padahal belum lama ini, Mas malah sok-sokan ingin manjain kamu. Tapi, sekarang malah begini," jawabnya.
"Manjainnya nggak perlu materi, Mas. Disayang sama kamu aja, aku udah bahagia banget."
"Mas janji, tabungannya akan dikumpulin lagi. Buat bulan madu sama kamu."
"Nggak perlu bulan madu. Toh, apartemenku masih nganggur hehe. Buat tabungan biaya sekolah Selli aja, sayang."
"Hmm... Mas bingung harus berkata apa. Mas terlalu beruntung bisa sama kamu, Dek. Kamu bisa diajak susah, kamu ngertiin keadaan Mas terus."
"Aku kan cinta sama kamu, Mas. Kita harus berjuang bareng dong."
Mas Arlan tersenyum. Ia merengkuh wajahku menggunakan kedua telapak tangannya. Perlahan tapi pasti, desiran napasnya yang hangat semakin mendekat. Sontak saja, aku menutup mataku. Aku mengerti akan apa yang ingin ia lakukan.
Namun, kami terhenti saat seseorang menjatuhkan sesuatu. Aku mendorong tubuh Mas Arlan jauh-jauh. Kutilik siapa pelakunya yang ternyata adalah ibuku bersama Selli. Beliau menutup mata putriku, dan akhirnya sesuatu yang beliau bawa terjatuh begitu saja.
"Oooppsss... maaf nggak sengaja hehe. Lanjutkan di kamar aja," ujar beliau.
Karena malu, aku dan Mas Arlan saling membelakangi satu sama lain. Tubuhku gemetar, wajahku memerah padam dan telinga yang panas seakan terbakar. Bagaimana bisa, kami tidak menyadari langkah ibuku yang menuruni tangga rumah ini?
Ya ampun! Malu gue.
Ibuku tampak berbalik dan hendak membawa Selli kembali keatas. Namun Mas Arlan segera mencegah langkah beliau, "Nggak Ma. Udah beres kok hehe."
"Yang bener?" tanya ibuku dengan gaya menggoda.
"Iya Ma. Udah jangan dibahas lagi, malu aku," sambungku.
Ibuku terkekeh. Kemudian beliau membatalkan rencana untuk kembali. Dengan membawa Selli, beliau datang menghampiri kami. Oh... aku beruntung sudah memiliki rumah sendiri. Aku tidak bisa membayangkan jika tinggal satu atap dengan keluarga. Tentunya, sikap khilaf kami akan sering tertangkap oleh mereka.
Sesampainya disini, beliau menatap aku dan Mas Arlan secara bergantian. Lantas beliau tersenyum penuh kegelian. Aku tidak percaya ini, diusia yang sudah tua, beliau masih saja gemar menggoda. "Udah masuk aja ke kamar. Bikinin Mama cucu hehe...," ujar beliau lirih.
"Ihh... udah sih jangan dibahas Ma. Fanni malu," jawabku.
"Emang tadi Mama Fanni dan Papa lagi ngapain, Nek?" tanya Selli tiba-tiba.
"Mau bikinin kamu seorang adik, sayang."
"Mama!" seruku dan Mas Arlan secara bersamaan.
Astaga! Orangtua satu ini.
Karena cerdas, Selli bertanya lebih lanjut kepada ibuku. Mereka saling berbisik, sampai aku tidak mengetahui apa saja yang dibahas. Hanya dengusan kesal dan menyesal yang bisa aku lakukan sekarang. Untuk mendekati suamiku saja, aku masih enggan. Khawatir, jikalau ibuku memberikan kalimat yang meledek lagi.
Disisi lain, sebenarnya aku ingin tertawa dengan keras. Jika diingat lagi, memang sangat menggelikan. Hanya karena terbawa suasana, kami benar-benar nyaris tuli dan buta. Langkah ibuku dan Selli sama sekali tidak kami sadari.
Selang beberapa menit kemudian, hatiku kembali normal. Mas Arlan pun sudah berani mendekatkan dirinya dengan diriku lagi. Sepanjang malam, kami terus berbincang. Meski ada beberapa yang tidak jelas, namun banyak nasehat dari ibuku yang kami dapatkan.
__ADS_1
Bersambung...
Like+komen